• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI AKSESIBILITAS PERKOTAAN BAGI PENGG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI AKSESIBILITAS PERKOTAAN BAGI PENGG"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS TARUMANAGARA

Kajian Perancangan Arsitektur

STUDI AKSESIBILITAS PERKOTAAN

BAGI PENGGUNA KURSI RODA

DI HALTE DAN BUS TRANSJAKARTA

Dosen : Ir. Petrus Rudi Kasimun, M. Ars. Pembimbing : Ir. Franky Liauw, M.T.

STEFANIE 315140064

Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga laporan penelitian ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa juga penulis mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari banyak pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan penelitian melalui sumbangan kritik dan saran yang membantu khususnya Bapak Petrus Rudi Kasimun selaku dosen mata kuliah Kajian Perancangan Arsitektur, Bapak Franky Liauw selaku pembimbing mata kuliah Kajian Perancangan Arsitektur, dan semua Bapak/Ibu yang sudah bersedia menjadi sumber.

Harapan penulis dalam pembuatan laporan penelitian ini adalah dapat menambah pengetahuan yang berguna bukan hanya untuk penulis namun juga untuk orang – orang sekitar yang membutuhkan termasuk bagi pengguna kursi roda sendiri. Lewat penelitian ini diharapkan dapat menemukan solusi dan konsep desain sarana dan prasarana transportasi di perkotaan terutama di fasilitas Bus Transjakarta yang sesuai dan ramah bagi pengguna kursi roda.

Karena keterbatasan pengetahuan, waktu, sumber daya informasi, maupun pengalaman, penulis meyakini masih banyak terdapat banyak

kekurangan dalam pembuatan laporan penelitian ini. Penulis mohon maaf jika terdapat kesalahan data, penulisan, maupun jika ada tulisan yang kurang

berkenan. Semoga pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun demi kelengkapan laporan penelitian ini. Terima kasih.

Jakarta, Maret 2017

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1. Latar Belakang ... 1

2. Rumusan Masalah ... 4

3. Tujuan Penelitian ... 4

4. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN TEORI DAN PUSTAKA ... 6

1. Prakarta ... 6

2. Landasan Teori ... 7

3. Studi Kasus ... 13

BAB III METODE PENELITIAN ... 19

1. Teknik Pengumpulan Data ... 19

2. Jenis Penelitian ... 19

3. Ruang Lingkup Penelitian ... 20

a. Waktu ... 20

b. Tempat ... 20

4. Tema Penelitian ... 20

5. Hipotesis ... 20

6. Variabel Penelitian ... 20

a. Variabel Terikat ... 20

b. Variabel Bebas ... 20

c. Variabel Kontrol ... 20

7. Populasi dan Sampel ... 21

(4)

iii

9. Kerangka Penelitian ... 21

10.Kerangka Konsep ... 22

11.Langkah – Langkah Penelitian ... 22

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 25

1. Data ... 25

2. Hasil ... 26

3. Pembahasan ... 28

BAB V PENUTUP ... 37

1. Kesimpulan ... 37

2. Saran ... 37

(5)

1

BAB I PENDAHULUAN

Abstrak

Proposal penelitian ini dibuat untuk mengangkat kepedulian kita terhadap orang – orang penyandang disabilitas terutama pengguna kursi roda dalam masalah fasilitas perkotaan yang masih kurang memadai bagi mereka. Lewat penelitian ini, penulis ingin menemukan solusi konsep desain yang nyaman dan aman bagi pengguna kursi roda terutama pada moda transportasi Bus

transjakarta. Metode penelitian ini akan diukung oleh studi literatur dari buku dan jurnal serta studi lapangan seperti observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini akan terbentuk suatu solusi baru untuk konsep desain pada Halte dan Bus transjakarta yang memadai bagi pengguna kursi roda. Setelah hasil ini didapatkan, penulis berharap solusi tersebut dapat diapliaksikan untuk

memudahkan aksesibilitas pengguna kursi roda di kawasan perkotaan.

Kata kunci : kursi roda, aksesibilitas, halte, Bus Transjakarta.

1. Latar Belakang

Sebagai salah satu faktor penting dalam siklus kehidupan Jakarta, sarana dan prasarana transportasi di Jakarta masih jauh dari standar yang berlaku. Masih banyak ditemukan lubang di jalanan, trotoar yang hancur, jembatan penyebrangan yang tidak dapat dilalui penyandang disabilitas, halte yang tidak memiliki penutup/atap, maupun hal – hal lainnya. Hal ini menyebabkan aksesibilitas mereka terganggu, terutama bagi penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik.

(6)

2

sangat murah dan aksesnya yang sangat luas meliputi hampir seluruh Jakarta dan bahkan sekarang meluas ke daerah JABODETABEK.

Dengan luasnya jangkauan dan murahnya biaya dari Bus Transjakarta, begitu banyak warga Jakarta menggunakan transportasi ini sebagai penunjang kebutuhan mereka sehari – hari seperti kerja, sekolah, wisata, dan lain – lain. Namun tidak semua orang dapat menggunakan sarana dan prasarana

perkotaan terutama fasilitas Bus Transjakarta. Orang – orang inilah yang kita sebut sebagai penyandang disabilitas.

Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia menurut data dari

Kementerian Sosial RI (tahun 2011) mencapai 3,11%, atau sebesar 6,7 juta jiwa. Menurut Kementerian Kesehatan RI, jumlah penyandang disabilitas jauh lebih besar lagi, yaitu 6% dari total populasi penduduk Indonesia. Akan tetapi, bila mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) yang lebih ketat, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 10 % dari total penduduk atau sekitar 24 juta jiwa.

Kesimpulan dari Pendataan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Penyandang Cacat Berdasarkan Klasifikasi ICF Departemen Sosial RI dan Surveyor Indonesia (2008) adalah jumlah penyandang disabilitas tertinggi terdapat dalam usia 18 – 60 tahun (umur produktif) dan jenis kecacatan yang paling banyak dialami adalah sebagai berikut : cacat kaki sekitar (21.86 %), cacat mental retardasi (15.41 %), dan cacat bicara (13.08 %).

(7)

3 Pengertian “disabilitas” adalah seseorang yang termasuk dalam

penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental, ataupun gabungan penyandang cacat fisik dan mental (UUD No.4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat). Menurut World Health Organization atau WHO, disabilitas merupakan istilah umum yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan yang dimaksud meliputi masalah dalam fungsi atau struktur tubuh; keterbatasan aktivitas yang dimaksud berupa kesulitan yang dihadapi oleh individu dalam melaksanan tugas atau tindakan; sementara pembatasan partisipasi berupa masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatan dalam situasi kehidupan.

Definisi dari disabiltas dan difabel sangatlah berbeda. Kata difabel umumnya digunakan untuk menggambarkan seseorang (kata benda), tidak seperti kata disabilitas yang menggambarkan kondisi tertentu (kata sifat). Kaum difabel adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan baik fisik, mental, ataupun keduanya, yang berbeda daripada orang kebanyakan, bukan orang yang memiliki kekurangan. Sedangkan, penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki kondisi yang belum dapat diakomodir oleh lingkungan sekitarnya. Ketika kondisi lingkungan luar sudah akomodatif, maka dia akan

menjadi “orang” seutuhnya tanpa embel – embel disabilitas lagi.

(8)

4

Bus Transjakarta merupakan moda transportasi yang menjadi nodes ke daerah – daerah di Jakarta. Ada yang membutuhkan pergi dari Jakarta Utara ke Jakarta Barat untuk bersekolah, ada yang pergi dari Jakarta Timur ke Jakarta Pusat untuk bekerja, ada yang pergi dari Jakarta Selatan ke Jakarta Barat untuk berobat, dan lain sebagainya.

Nantinya, hasil solusi berupa konsep desain dari observasi pada Halte dan Bus Transjakarta diharapkan dapat diaplikasikan di kawasan Jakarta dan sekitarnya sehingga dapat membantu pengguna kursi roda dalam mengatasi masalah aksesibilitas mereka di kawasan perkotaan dalam bentuk Halte dan Bus Transjakarta yang lebih ramah untuk pengguna kursi roda.

2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang permasalahan di atas, berikut adalah rumusan masalah dari penelitian ini :

Bagaimana standar kondisi agar Halte dan Bus Transjakarta di kawasan Jakarta dan sekitarnya dapat digunakan bagi pengguna kursi roda?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu : tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari penelitian ini adalah menemukan

permasalahan sarana dan prasarana transportasi di perkotaan yang menjadi kendala aksesibilitas bagi pengguna kursi roda. Sedangkan, tujuan khusus dari penelitian ini adalah menemukan solusi berupa konsep desain untuk

permasalahan fasilitas Bus Transjakarta agar dapat digunakan juga oleh pengguna kursi roda.

4. Manfaat Penelitian

Setelah menguraikan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan dari penelitian ini; manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

(9)

5

aktivitas sehari – hari di kawasan Jakarta dan sekitarnya terutama pada fasilitas Bus Transjakarta

b. Manfaat bagi penulis : menemukan solusi berupa konsep desain bagi pengguna kursi roda agar memiliki aksesibilitas yang lebih ramah, aman, dan nyaman di kawasan Jakarta dan sekitarnya terutama pada fasilitas Bus Transjakarta

(10)

6

BAB II TINJAUAN TEORI DAN PUSTAKA

1. Prakarta

Tidak hanya mengacu pada si subyek, tapi penelitian ini juga akan

mengkaji lingkungan tempat si subyek beraktivitas. Sarana dan prasarana

transportasi yang tersedia harus dapat digunakan untuk kedua belah pihak,

baik pihak yang normal maupun pihak yang berkebutuhan khusus. Jangan

sampai lebih memihak kepada satu sisi. Hal itu akan menyebabkan

ketidakseimbangan pemenuhan kebutuhan yang berkibat kesenjangan sosial.

Contohnya Halte Bus Transjakarta Grogol 1 dan Grogol 2.

Meninjau dari Halte Bus Transjakarta Grogol 1, halte ini memiliki akses

yang menyulitkan bagi pengguna jalan dikarenakan jembatan

penyebrangannya memiliki kemiringan tangga yang tidak sesuai standar

kenyamanan manusia. Hal lain yang memprihatinkan dari halte ini adalah

tidak tersedianya ramp di sisi jembatan penyebrangan di Jalan Kyai Tapa yang

menuju arah Kalideres.

(11)

7

Adapula Halte Bus Transjakarta Grogol 2 yang jembatan

penyebrangannya memiliki medan cukup sulit untuk dilalui karena terlalu

panjang dan berkelok – kelok lintasannya. Selain itu, meskipun tangga dari jembatan penyebrangan halte ini tersedia dalam bentuk lurus dan ramp yang

masih cukup nyaman dialui, kondisi dari halte ini cukup memprihatinkan

karena tidak terurus seperti lampu yang mati (bahkan hilang) dan tidak

dibersihkan secara berkala sehingga banyak kotoran menumpuk.

(Gambar 5, sumber : dokumen pribadi)

2. Landasan Teori

(12)

8

1) Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi penyandang

cacat guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek

kehidupan dan penghidupan

2) Bangunan umum dan lingkungan adalah semua bangunan, tapak

bangunan, dan lingkungan luar bangunannya, baik yang dimiliki oleh

Pemerintah dan Swasta, maupun perorangan yang berfungsi selain

sebagai rumah tinggal pribadi, yang didirikan, dikunjungi, dan

digunakan oleh masyarakat umum termasuk penyandang cacat.

3) Penyandang cacat adalah sebab orang yang mempunyai kelainan fisik

dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan

dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya,

yang terdiri dari :

a) penyandang cacat fisik

b) penyandang cacat mental

c) penyandang cacat fisik dan mental

Jalur Pedestrian

Jalur yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi

penyandang cacat, yang dirancang berdasarkan kebutuhan orang untuk

bergerak aman, nyaman dan tak terhalang.

Persyaratan :

1) Permukaan Permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca,

bertekstur halus tetapi tidak licin. Hindari sambungan atau gundukan

pada permukaan, kalaupun terpaksa ada, tingginya harus tidak lebih

dari 1,25 cm. Apabia menggunakan karpet, maka ujungnya harus

kencang dan mempunyai trim yang permanen

2) Kemiringan Kemiringan maksimum 7° dan pada setiap jarak 9 m

(13)

9

3) Area istirahat Terutama digunakan untuk membantu pengguna jalan

penyandang cacat

4) Pencahayaan Berkisar antara 50 – 150 lux tergantung pada intensitas pemakaian, tingkat bahaya dan kebutuhan keamanan

5) Perawatan Dibutuhkan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya

kecelakaan

6) Drainase Dibuat tegak lurus dengan arah jalur dengan kedalaman

maksimal 1,5 cm, mudah dibersihkan dan perletakan lubang dijauhkan

dari tepi ramp.

7) Ukuran Lebar minimum jelur pedestrian adalah 120 cm untuk jalur

searah dan 160 cm untuk dua arah. Jalur pedestrian harus bebas dari

pohon, tiang rambu-rambu dan benda-benda pelengkap jalan yang

menghalang

8) Tepi pengaman Penting bagi penghentian roda kendaraan dan tongkat

tuna netra ke arah area yang berbahaya. Tepi pengaman dibuat

setinggi minimum 10 cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur pedestrian.

Pintu

Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang

merupakan tempat untuk masuk dan keluar dan pada umumnya

dilengkapi dengan penutup (daun pintu).

Persyaratan :

1) Pintu pagar ke tapak bangunan harus mudah dibuka dan ditutup oleh

penyandang cacat

2) Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm, dan

pintu-pintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm

3) Di daaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya

ramp atau perbedaan ketinggian lantai

(14)

10

a) Pintu geser

b) Pintu yang berat, dan sulit untuk dibuka/ditutup

c) Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil

d) Pintu yang terbuka kekedua arah ( "dorong" dan "tarik")

e) Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama

bagi tuna netra

5) Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya

kebakaran. Pintu tersebut tidak boleh membuka sepenuhnya dalam

waktu lebih cepat dari 5 detik dan mudah untuk menutup kembali

6) Hindari penggunean bahan lantai yang licin di sekitar pintu

7) Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat

menutup dengan sempurna, karena pintu yang terbuka sebagian dapat

membahayakan penyandang cacat

8) Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi

pengguna kursi roda.

Ramp

Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan

tertentu, sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan

tangga.

Persyaratan :

1) Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7°,

perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran

ramp (curb ramps/landing) Sedangkan kemiringan suatu ramp yang

ada di luar bangunan maksimum 6°

2) Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7°) tidak boleh

lebih dari 900 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah

(15)

11

3) Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman, dan 120

cm dengan tepi pengaman. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus

untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus

dipertimbangkan secara seksama lebarnya, sedemikian sehingga bisa

dipakai untuk kedua fungsi tersebut, atau dilakukan pemisahan ramp

dengan fungsi sendiri-sendiri

4) Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus

bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk

memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm

5) Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki

tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan

6) Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm, dirancang untok

menghalangi roda kursi roda agal tidak terperosok atau keluar dari

jalur ramp. Apabila berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum

atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak

mengganggu jalan umum

7) Ramp harus diterangi dengan pencahayean yang cukup sehingga

membantu penggunaan ramp saat malam hari. Pencahayaan

disediakan pada bagianbagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap

muka tanah sekitarnya dan bagian- bagian yang membahayakan

8) Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang

dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai.

Tangga

Fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan

mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan

lebar yang memadai.

Persyaratan :

(16)

12

2) Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 60°

3) Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan

pengguna tangga

4) Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) minimum pada

salah satu sisi tangga

5) Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 80 cm

dari lantai, bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu, dan

bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah

lantai, dinding atau tiang

6) Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian

ujung-ujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm

7) Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, harus dirancang sehingga

tidak ada air hujan yang menggenang pada lantainya.

Lift

Lift adalah alat mekanis elektris untuk membantu pergerakan vertikal di

dalam bangunan, baik yang digunakan khusus bagi penyandang cacat

maupun yang merangkap sebagai lift barang.

Persyaratan :

1) Untuk bangunan lebih dari 5 lantai paling tidak satu buah lift yang

aksesibel harus terdapat pada jalur aksesibel den memenuhi standar

teknis yang berlaku

2) Toleransi perbedasn muka lantai bangunan dengan muka lantai ruang

lift maksimurn 1,25 mm

3) Koridor/lobby lift :

a) Ruang perantara yang digunakan untuk menunggu kedatangan lift,

sekaligus mewadahi penumpang yang baru keluar dari lift, harus

disediakan. Lebar ruangan ini minimal 185 cm, den tergantung pada

(17)

13

b) Perletakan tombol dan layar tampilan yang mudah dilihat den

dijangkau

c) Panel luar yang berisikan tombol lift harus dipasang di

tengah-tengah ruang lobby atau hall lift dengan ketinggian 90-110 cm dari

muka lantai bangunan

d) Panel dalam dari tombol lift dipasang dengan ketinggian 90-120 cm

dari muka lantai ruang lift

e) Selain terdapat indikator suara, layar/tampilan yang secara visual

menunjukkan posisi lift harus dipasang di atas panel kontrol dan di

atas pintu lift, baik di dalam maupun di luar lift (hall/koridor)

4) Ruang lift :

a) Ukuran ruang lift harus dapat memuat pengguna kursi roda, mulai

dari masuk melewati pintu lift, gerakan memutar, menjangkau

panel tombol dan keluar melewati pintu lift. Ukuran bersih minimal

ruang lift adalah 140cm x 140cm

b) Ruang lift harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail)

menerus pada ketiga sisinya.

5) Pintu lift :

a) Waktu minimum bagi pintu lift untuk tetap terbuka karena

menjawab panggilan adalah 3 detik

b) Mekanisme pembukaan dan penutupan pintu harus sedemikian

rupa sehingga memberikan waktu yang cukup bagi penyandang

cacat terutama untuk masuk dan keluar dengan mudah. Untuk itu

lift harus dilengkapi dengan sensor photo-electric yang dipasang

pada ketinggian yang sesuai.

3. Studi Kasus

a. Tokyo, Jepang

Jepang juga merupakan negara dengan penataan kota yang sangat rapi dan

(18)

14

rata-rata orang Jepang memang suka berjalan atau jarang yang

menggunakan kendaraan pribadi. Trotoar di Jepang juga sangat lebar

sehingga para pejalan kaki bebas berlalu lalang. Kebanyakan trotoar di

Jepang memiliki batas seperti pagar kecil dengan jalan raya. Hal tersebut

tentunya akan membuat trotoar menjadi lebih aman untuk digunakan.

Selain itu ternyata pagar pembatas tersebut memang memiliki fungsi untuk

memarkir sepeda karena orang Jepang memang sering kali menggunakan

sepeda. Selanjutnya trotoar di Jepang memiliki jalur untuk penyandang

disabilitas yaitu berupa jalur berwarna kuning yang timbul. Bahkan trotoar

di Jepang juga kerap kali dibagi menjadi 2 bagian yaitu untuk pejalan kaki

dan untuk sepeda.

(Gambar 31, sumber : daftar pustaka)

(19)

15 (Gambar 33, sumber : daftar pustaka)

(Gambar 34, sumber : daftar pustaka)

b. Australia

Kepedulian Sydney kepada para penyandang disabilitas sangat tinggi.

Sydney kini memiliki jaringan braille dan tanda tactile paling luas di seluruh

dunia. Tanda-tanda penunjuk jalan ini digunakan untuk membantu para

pejalan kaki yang memiliki gangguan penglihatan atau penyandang

disabilitas.

Panel aluminium penunjuk nama jalan dan nomor bangunan, tidak hanya

dicetak dalam huruf braille, tapi juga berukuran cukup besar dan lebar.

(20)

16 (Gambar 35, sumber : daftar pustaka)

(Gambar 36, sumber : daftar pustaka)

(Gambar 37, sumber : daftar pustaka)

Tak salah jika Melbourne, Ibu Kota negara bagian Victoria, Australia,

sebagai salah satu kota yang dinilai ramah bagi penduduknya.

Tepi trotoar dibuat landai, sehingga orang yang membantu mendorong

tidak harus mengangkat kursi roda kala akan berpindah dari satu trotoar ke

(21)

17

dengan nyaman dan aman bagi pengguna kursi roda. Di depan pintu depan

bus, di bagian lantainya terdapat tambahan lempengan logam yang bisa

dilipat dan dibuka sebagai jembatan antara pintu dan trotoar.

(Gambar 40, sumber : daftar pustaka)

(Gambar 41, sumber : daftar pustaka)

(22)

18 (Gambar 43, sumber : daftar pustaka)

(Gambar 44, sumber : daftar pustaka)

(23)

19

BAB III METODE PENELITIAN

1. Teknik Pengumpulan Data

Data dari penelitian ini akan dikumpulkan dengan cara :

a. Angket (kuisioner)  jenis angket yang akan disebarkan adalah angket

terbuka dan semi terbuka yang akan disebarkan untuk pengguna kursi

roda, komunitas pengguna kursi roda, keluarga/kerabat/pengurus dari

pengguna kursi roda, ahli medis, ahli arsitektur, penjual/pabrik kursi roda,

dan awam (terdapat lampiran daftar pertanyaan)

b. Wawancara  secara langsung dan media sosial (facebook)

c. Dokumen  hasil rapat, peraturan pemerintah, foto, statistik, dll

d. Observasi  pengamatan ke lapangan yang akan dijadwalkan waktunya

baik secara sekilas maupun mendalam dan menggunakan alat indera

serta alat bantu berupa smartphone

2. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif kuantitatif. Definisi

kualitatif yang dimaksud adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dari penelitian ini

akan lebih ditonjolkan dan landasan teori akan digunakan untuk lebih fokus

dalam penelitian yang dilakukan. Sedangkan, definisi kuantitatif yang dimaksud adalah jenis penelitian yang lebih spesifik, sistematis, terencana,

dan juga terstruktur dari awal hingga kesimpulan. Penelitian jenis ini

menekankan pada penggunaan angka – angka, tabel, diagram, dan grafik yang

(24)

20

Metode penelitian yang akan digunakan adalah survei (informasi dari suatu kelompok besar maupun individual yang menjadi sampel), deskriptif

(menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi atau sedang berlangsung pada

masa sekarang maupun pada masa lampau), dan korelasional (kelanjutan dari metode deskriptif dimana hubungan antar variabel diteliti dan dijelaskan).

3. Ruang Lingkup Penelitian

a. Waktu

Lingkup waktu penelitian ini adalah dimulai dari tanggal 9 Februari 2017

sampai dengan 23 Mei 2017 saat Pleno UAS KPA.

b. Tempat

Lingkup tempat penelitian ini adalah seluruh Halte dan Bus Transjakarta

yang beroperasi di daerah Jakarta dan sekitarnya.

4. Tema Penelitian

Tema dari penelitian ini adalah “Aksesibilitas bagi Pengguna Kursi Roda di

Jakarta dan sekitarnya pada fasilitas Bus Transjakarta”.

5. Hipotesis

Dugaan sementara dari penelitian ini adalah sebagai berikut : pengguna

kursi roda enggan dan jarang terlihat menggunakan menggunakan fasilitas

Bus Transjakarta di kawasan Jakarta dan sekitarnya dikarenakan kondisinya

yang belum memadai untuk menunjang aksesibilitas mereka.

6. Variabel Penelitian

a. Variabel Terikat

Variabel terikat dari penelitian ini adalah kondisi Halte dan Bus

Transjakarta.

b. Variabel Bebas

Variabel bebas dari penelitian ini adalah aksesibilitas pengguna kursi roda.

c. Variabel Kontrol

Variabel kontrol dari penelitian ini adalah jenis – jenis kursi roda serta

(25)

21

7. Populasi dan Sampel

Populasi dari penelitian ini adalah semua orang pengguna kursi roda di

beberapa daerah di Indonesia.

Sampel dari penelitian ini adalah semua orang pengguna kursi roda di

daerah Jakarta dan sekitarnya yang akan menggunakan fasilitas Bus

Transjakarta. Berumur produktif (15 – 64 tahun menurut BPS), baik dari lahir

maupun bukan dari lahir, serta karena kecelakaan maupun penyakit/genetik.

Menurut pengamatan, mempunyai ekonomi menengah kebawah karena akan

menggunakan fasilitas transportasi umum (diasumsikan masyarakat

menengah ke atas yang tidak mampu secara fisik beraktivitas dengan normal

tidak akan dibiarkan beraktivitas menggunakan transportasi umum).

8. Kerangka Berpikir

(Tabel 3)

9. Kerangka Penelitian

Fasilitas Bus Transjakarta tidak ramah penyandang disabilitas

•Penyandang disabilitas terbesar adalah cacat fisik

•Gangguan aksesibilitas = cacat kaki (menggunakan kursi roda)

Pemerintah kurang memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas •Pengguna kursi roda jarang

beraktivitas diluar

•Jalur bagi pengguna kursi roda tidak tersedia dengan layak

Stigma buruk masyarackat kepada penyandang disabilitas

•Pengguna kursi roda merasa tersingkir

•Sikap defensif dari pengguna kursi roda kepada orang normal

Pemerintah mulai sadar dan menyediakan kebutuhan penyandang disabilitas •Muncul Transjakarta Care

Masyarakat mulai peduli kepada penyandang disabilitas

•Muncul banyak kegiatan sosial dan komunitas untuk pengguna kursi roda

Perbaikan fasilitas Bus Transjakarta

•Halte dibuat lebih memadai agar pengguna kursi roda dapat melintasinya

•Bus dibuat lebih nyaman agar pengguna kursi roda tidak repot keluar/masuk bus

Kebutuhan aksesibilitas penyandang disabilitas terpenuhi

(26)

22 (Tabel 4)

10. Kerangka Konsep

(Tabel 5)

11. Langkah – Langkah Penelitian Bus Transjakarta adalah

moda transportasi murah dengan jangkauan yang cukup

luas

Penyandang disabilitas terbesar adalah cacat

fisik

Gangguan aksesibilitas = cacat kaki (menggunakan kursi

roda)

Pengguna kursi roda jarang beraktivitas

diluar

Jalur bagi pengguna kursi roda tidak tersedia

dengan layak pada fasilitas Bus Transjakarta Pengguna kursi roda

merasa tersingkir Sikap defensif dari pengguna kursi roda kepada orang normal Halte dibuat lebih

memadai agar pengguna kursi roda

dapat melintasinya

Bus dibuat lebih nyaman agar pengguna

kursi roda tidak repot keluar/masuk bus

Pengguna kursi roda dapat menggunakan

fasilitas Bus Transjakarta dengan

nyaman

Jumlah penyandang disabilitas meningkat setiap tahun di

Jakarta

Tingkat disabilitas tertinggi adalah cacat

fisik (kaki)

Cacat kaki yang parah membutuhkan kursi roda untuk menungjang

geraknya

Sarana dan prasarana transportasi di butuhkan di

Jakarta untuk menunjang aksesbilitas Salah satu sarana dan

prasarana transportasi favorit di Jakarta adalah Bus

Transjakarta Kondisi Halte dan Bus

Transjakarta belum ramah bagi pengguna kursi roda

Padahal, Bus Transjakarta berbiaya murah dan jangkauannya mencakup

Jakarta dan sekitarnya

Hasilnya, pengguna kursi roda enggan menggunakan fasilitas Bus Transjakarta karena tidak dapat "mengayomi" mereka

(27)

23

9 Februari 2017 –

14 Februari 2017

Cari buku design for all,

definisi orang tua/cacat,

peraturan/standar,

accessible design in building

Identifikasi,

pemilihan, dan

perumusan

masalah

14 Februari 2017

– 21 Februari 2017

Batasan kawasan, cari

sumber (missal : panti

jompo), tingkat

ketidakmampuan, standar

21 Februari 2017

– 28 Februari 2017

Klasifikasi, tabel statistik,

batasan sampel,

mengumpulkan data,

komunitas kursi roda

Melakukan studi

pendahuluan dan

kepustakaan

28 Februari 2017

– 7 Maret 2017

menentukan judul dan

membuat kerangka

data yang sudah di dapat

Pemilihan atau

pengembangan

(28)

24

data (instrument

penelitian)

16 Maret 2017 Kritik 1 Perbaikan

23 Maret 2017 UTS Pleno KPA Kumpul 4 April 2017 – 11

April 2017

Perbaikan setiap kesalahan

kerangka dan analisis, mulai

membahas secara

mendalam hasil data

Menentukan

rancangan dan

desain penelitian

11 April 2017 –

18 April 2017

Studi kasus, pembahasan Menentukan

subyek penelitian

Pembahasan data dan studi

kasus

yang punya akses

9 Mei 2017 – 16

Mei 2017

Melengkapi semua yang

belum lengkap

Perbaikan teknis Menyusun laporan

dan melakukan

diseminasi

16 Mei 1017 Kritik 2 Perbaikan

(29)

25

BAB IV HASIL PENELITIAN

1. Data

a. Angket/Kuisioner

Sebagian besar dari pengguna kursi roda yang memberikan

kesediaannya untuk mengisi angket/kuisioner ini dihubungi lewat media

sosial online FB (Facebook).

1) Daftar pertanyaan untuk pengguna kursi roda (lewat pertanyaan ini,

dapat di ketahui informasi langsung dari pengguna kursi roda berupa

kebutuhan – kebutuhan mereka yang tidak semua orang dapat

mengerti/mengetahui dan kondisi mereka serta harapan mereka

dalam penyediaan fasilitas bagi pengguna kursi roda).

2) Daftar pertanyaan untuk komunitas/yayasan online (maupun bukan

online) pengguna kursi roda (lewat pertanyaan ini, dapat diketahui

informasi mengenai kebutuhan – kebutuhan pengguna kursi roda

terutama secara berkelompok dan apa saja kegiatan mereka dan

kondisi mereka serta harapan mereka bagi penyediaan fasilitas untuk

pengguna kursi roda).

3) Daftar pertanyaan untuk masyarakat/awam (lewat pertanyaan ini,

dapat diketahui pandangan masyarakat mengenai pengguna kursi roda

dan perkiraan kebutuhan mereka secara umum, serta harapan mereka

bagi penyediaan fasilitas untuk pengguna kursi roda).

4) Daftar pertanyaan untuk ahli arsitektur (lewat pertanyaan ini, dapat

diketahui mengenai pendapat ahli secara langsung tentang apa saja

(30)

26 mereka mengenai pengguna kursi roda serta harapan mereka bagi

penyediaan fasilitas untuk pengguna kursi roda).

b. Observasi

Observasi akan dilakukan secara langsung (pengamatan lapangan) di

beberapa Halte Bus Transjakarta, yaitu :

1) Halte Asmi (melayani koridor 2)

2) Halte Jelambar (melayani koridor 3 dan 8) 3) Halte Tosari (melayani koridor 1)

4) Halte Sarinah (melayani koridor !)

2. Hasil

a. Angket/Kuisioner

(Lampiran)

b. Observasi

1) Halte yang Belum Memenuhi Standar

a) Halte Asmi

Lokasi : Jl. Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur

Kondisi :

(Gambar 64, sumber : dokumen pribadi)

b) Halte Jelambar

(31)

27 Kondisi :

(Gambar 65, sumber : dokumen pribadi)

5) Halte yang Sudah Memenuhi Standar

a) Halte Tosari

Lokasi : Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat

(32)

28

(Gambar 66, sumber : google)

b) Halte Sarinah

Lokasi : Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat

Kondisi :

(Gambar 67, sumber : google)

3. Pembahasan

(33)

29 1) Pengguna Kursi Roda

Dapat ditarik kesimpulan bahwa fasilitas pendukung adalah yang

paling dibutuhkan bagi pengguna kursi roda. Hal yang termasuk

fasilitas pendukung antara lain adalah lift, eskalator khusus, maupun

mobil bantuan yang menunjang mobilitas mereka dalam menyebrang.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa bahaya terbesar yang dihadapi oleh

pengguna kursi roda adalah terjatuh. Hal ini sangat berbahaya karena

jatuh bukan hanya menimbulkan luka luar, tapi juga dapat

menimbulkan luka dalam. Saat terjatuh, kondisi mereka sangat rawan

baik secara keamanan maupun keselamatan karena mereka sedang

tidak berdaya akibat keterbatasan ruang gerak.

(34)

30 Dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan sehari – hari dari pengguna

kursi roda ada yang diluar rumah dan ada yang di dalam rumah. Di luar

rumah mereka dapat bekerja sebagai auditor, bersekolah, mengikuti

pelatihan, bahkan memancing, dan lain sebagainya. Namun ada juga

yang berkegiatan sehari – hari dirumah seperti usaha fotokopi dan

peternak ayam.

Data ditarik kesimpulan bahwa menurut sebagian besar dari pengguna

kursi roda, fasilitas Bus Transjakarta masih sangat kurang. Salah satu

contohnya adalah jembatan penyebrangan yang tidak dapat diakses

dam jalanan pedestriannya yang berlubang – lubang.

Di Dalam Rumah

50%

Di Luar Rumah 50%

KEGIATAN SEHARI - HARI

Kurang Baik 17%

Sangat Kurang 50% Tidak Tahu

33%

(35)

31 2) Komunitas/Yayasan Pengguna Kursi Roda

Dapat ditarik kesimpulan bahwa aksesibilitas di jalanan adalah yang

paling dibutuhkan menurut komunitas/yayasan pengguna kursi roda.

Hal ini dapat menunjang mobilitas mereka dalam berpindah dari satu

tempat ke tempat yang lain.

Dapat ditarik kesimpulan bawah bahaya terbesar bagi pengguna kursi

roda adalah terjatuh. Hal ini dikarenakan kondisi dari pengguna kursi

roda sangatlah rentan saat terjatuh baik secara keselamatan maupun

keamanan.

Aksesibilitas di Jalanan

33%

Fasilitas yang Lebih Baik

67%

KEBUTUHAN

Kematian 33%

Terjatuh 67%

BAHAYA

Sehat 34%

Membaik 33%

Terbatas 33%

(36)

32 Dapat ditarik kesimpulan bahwa rata – rata pengguna kursi roda

memiliki kondisi fisik yang baik (kecuali kaki) karena sudah terlatih

dalam menggunakannya (mengayuh kursi roda).

Dapat ditarik kesimpulan bahwa rata – rata pengguna kursi roda

sangat down dengan kondisi mereka. Tapi, seiring berjalannya waktu

mereka mulai belajar untuk menerima keadaan sehingga lama

kelamaan mereka terbiasa dengan keadaan mereka dan dapat

beraktivitas dengan normal.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar komunitas/yayasan

pengguna kursi roda menyatakan fasilitas Bus Tranjakarta masih

kurang dari standar yang seharusnya. Contohnya adalah ramp miring

yang belum sesuai.

Down, Normal 34%

Down 33%

Terbiasa 33%

KONDISI PSIKIS

Membaik 33%

Masih Kurang 67%

(37)

33 3) Masyarakat/Awam

Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebutuhan yang dirasakan masyarakat

sangat diperlukan untuk pengguna kursi roda adalah ramp yang lebih

banyak dan landai. Hal ini dikarenakan sangat mudah sekali

menemukan ramp yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku

untuk pengguna kursi roda. Banyak jalanan dan jembatan di Jakarta

yang tidak dilengkapi dengan ramp. Ada juga yang sudah dilengkapi

dengan ramp namun masih tidak ramah untuk pengguna kursi roda

bahkan untuk orang normal.

.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kebutuhan

Sangat Butuh Butuh Kurang Butuh Tidak Butuh

Belum 100%

(38)

34 Dapat diambil kesimpulan bahwa semua sampel masyarakat

menyatakan bahwa fasilitas Bus Transjakarta masih belum memadai

untuk pengguna kursi roda. Contohnya adalah trotoar yang memiliki

perbedaan ketinggian (tidak ada ramp), jalan yang terlalu sempit dan

curam, dan jembatan penyebrangan yang tidak punya lift.

4) Ahli Arsitektur

Dapat diambil kesimpulan bahwa semua ahli arsitektur memiliki

pengalaman dengan pengguna kursi roda maupun pengalaman

mendesain untuk pengguna kursi roda baik secara langsung maupun

tidak langsung. Hal ini sangat penting untuk wawasan mereka dalam

mendesain suatu bangunan/fasilitas yang dapat diakses oleh semua

orang.

Dapat diambil kesimpulan bahwa ramp adalah kebutuhan yang paling

dibutuhkan bagi pengguna kursi roda menurut para ahli ahli arsitektur.

Ada 100%

PENGALAMAN

Ramp 50%

Lift 25%

Railling 25%

(39)

35 Ramp sangat membantu pengguna kursi roda berpindah dari suatu

level lantai ke level lantai yang lain.

Dapat diambil kesimpulan bahwa terdapar banyak bahaya yang

mengancam bagi pengguna kursi roda, yaitu : sulit bergerak, jalanan

licin dan curam, fasilitas yang belum memadai, dan jalanan yang tidak

rata. Tanjakan yang tidak memiliki railing juga berbahaya karena

pengguna kursi roda dapat terjatuh/terguling.

Dapat diambil kesimpulan bahwa menurut para ahli yang menjadi

responden (semua), fasilitas Bus Transjakarta belum memadai.

Terdapat fasilitas lift yang masih belum merata, akses masuk ke bus

yang belum ramah untuk pengguna kursi roda, ramp yang terlalu

curam dan panjang, serta kapasitas yang masih belum memadai.

b. Observasi

Jalanan Licin dan Curam

25%

Jalanan Tidak Rata 25%

Fasilitas yang Belum Memadai

25%

Sulit Bergerak 25%

BAHAYA

Belum 100%

(40)

36 Secara garis besar, halte – halte di daerah Jakarta Pusat lebih

diperhatikan dan lebih ramah terhadap pengguna kursi roda karena

tersedianya lift di halte Bus Transjakarta Koridor 1.

Jika ditarik kesimpulan dari hasil analisis observasi, maka :

Kelebihan Kekurangan

Kemiringan ramp sudah cukup

baik

Meskipun banyak halte yang tidak

menyediakan ramp yang layak

maupun lift

Lebar jembatan cukup luas Namun, jarak jembatan dan halted

an cukup jauh ditambah terdapat

bollard yang menutup akses

Area masuk (ticketing) cukup luas Meskipun banyak halte yang jalur

masuknya hanya satu, contohnya

Halte S. Parman Podomoro City

- Tidak adanya papan maupun alat

bantu untuk melangkah dari dan

ke bus, sedangkan terdapat jarak

langkah yang cukup lebar antara

halte dan bus

- Perbedaan ketinggian antara jalan

aspal dengan trotoar yang tidak

(41)

37

BAB V PENUTUP

1. Kesimpulan

Hal yang dapat diambil mulai bab 1 sampai dengan bab 4 dari penelitian

kajian ini adalah Halte dan Bus Transjakarta masih belum ramah untuk

pengguna kursi roda. Hal ini terbukti dari banyaknya pengguna kursi roda

sendiri, komunitas mereka, para masyarakat, bahkan ahli arsitektur yang

setuju bahwa fasilitas ini masih belum memadai. Hasil observasi juga

memperlihatkan masih banyak halte yang tidak bisa diakses oleh pengguna

kursi roda. Jika ada fasilitas yang baik seperti lift, fasilitas ini tidak selalu

beroperasi. Padahal, moda transportasi ini sangatlah disenangi karena tarifnya

yang murah dan jangkauannya yang luas.

Pengguna kursi roda sekalipun pasti juga membutuhkan sarana dan

prasarana transportasi seperti Bus Transjakarta untuk dapat menunjang

kebutuhan aksesibilitas mereka yang beragam; mulai dari bersekolah, bekerja,

berwisata, dan lain sebagainya. Pengguna kursi roda juga bukan hanya berada

di tempat tertentu, tetapi menyebar dan bisa dimana saja. Oleh karena itu,

penting sekali pemerataan fasilitas yang menunjang bagi pengguna kursi roda

di Halte dan Bus Transjakarta agar semua halte dan bus ini dapat digunakan

oleh pengguna kursi roda secara berkelanjutan.

2. Saran

Saran yang dapat diberikan oleh penulis untuk peningkatan kualitas dari

Halte dan Bus Transjakarta agar dapat digunakan juga untuk pengguna kursi

(42)

38

a. Pemerataan fasilitas pada halte berupa lift pada kedua ujung jembatan

yang dapat beroperasi dan dirawat dengan baik sehingga kapanpun

dibutuhkan oleh pengguna kursi roda maupun orang tua dan ibu hamil

dapat digunakan. Jangan sampai hanya di daerah Jakarta Pusat saja

karena jangkauan dari moda transportasi ini adalah seluruh Jakarta dan

sekitarnya

b. Kemiringan ramp jembatan yang dipertahankan pada besaran 1:12 agar

memudahkan pengguna kursi roda dalam melaluinya, serta jaraknya yang

tidak terlalu jauh atau berliku – liku

c. Menghilangkan bollard yang menghalangi pada awal jembatan sehingga

pengguna kursi roda dapat lewat dan masuk melalui jembatan tersebut

d. Menyediakan ramp untuk perbedaan ketinggian antara jalan aspal dan

trotoar agar pengguna kursi roda dapat melewati trotoar tersebut

e. Menyediakan area masuk (ticketing) dan area halte yang lebih luas untuk

jalur sirkulasi bagi pengguna kursi roda

f. Menyediakan fasilitas papan ataupun alat bantu lain yang memungkinkan

pengguna kursi roda melewati jarak antara halte dan bus, jika

memungkinkan mengganti bus menjadi bus yang memiliki spesifikasi

untuk pengguna kursi roda (bukan hanya pengosongan beberapa bangku

untuk area kursi roda) seperti bus yang digunakan di luar negeri (dapat

memiringkan badan bus dan memanjangkan papan)

g. Menyeleksi narasumber dan mempersiapkan dengan lebih baik agar tidak

terjadi kesalahpahaman saat akan mewawancarai dikarenakan

pertanyaan yang kurang berkenan, ijin yang kurang meyakinkan, maupun

penampilan yang kurang sesuai

h. Membuat daftar pertanyaan yang benar – benar dikhususkan, karena

pada prosesnya akan terjadi seleksi pertanyaan – pertanyaan yang jika

dirasa tidak menghasilkan target yang ditetapkan pada awalnya akan

(43)

iv

Daftar Pustaka

Aisyah, Tifania Roro. 2016. Situasi Penyandang Disabilitas. Jakarta : Kementrian

Kesehatan RI.

Centre for Excellence in Universal Design. 2015. Building for Everyone: A

Universal Design Approach. Dublin : NDA.

Ewing, Reid dan Otto Clemente. 2013. Measuring Urban Design. Washington :

IslandPress.

Firdaus, Ferry dan Fajar Iswahyudi. 2010. Aksesibilitas dalam Pelayanan Publik

untuk Masyarakat dengan Kebutuhan Khusus. Jakarta : Pusat Kajian MPLAN.

http://mynewblogtifaniaroro.blogspot.co.id/2016/03/situasi-penyandang-disabili

tas.html/

http://news.detik.com/internasional/3071363/enaknya-disabilitas-diservis-habis-di-melbourne

http://noren-id.com/life-in-japan/2016/09/9165/

http://www.denpasar.id.emb-japan.go.jp/indonesia/konnichiwa%2013/konnichiwa13_126.html

https://filandrians.wordpress.com/2016/01/19/pedestrian-untuk-disabilitas/

https://hwpcipusat.wordpress.com/2010/08/17/peraturan-perundang-undangan-aksesibilitas-bangunan-umum-bagi-penyandang-disabilitas/

https://nationalgeographic.co.id/berita/2015/12/2015-fasilitas-publik-di-jakarta-belum-ramah-difabel/

https://pramudyawardhani.wordpress.com/2010/10/27/penataan-ruang-bagi-penyandang-cacat/

(44)

v Irwanto, dkk. 2010. Analisis Situasi Penyandang Disabilitas di Indonesia : Sebuah

Desk-Review. Depok : Pusat Kajian Disabilitas FISP UI.

Keputusan Menteri Pekerjan Umum Republik Indonesia Nomor: 468/ KPTS/

1998 Tanggal: 1 Desember 1998 Tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada

Bangunan Umum dan Lingkungan

Komisi Nasional Lanjut Usia. 2010. Aksesibiltas dan Kemudahan dalam

Penggunaan Sarana dan Prasarana. Jakarta : Menteri Perhubungan.

NACTO. 2013. Urban Street Design Guide. New York : Nacto.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 30/PRT/M/2006 Tentang

Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan

Lingkungan

Pusat Data dan Informasi Kementerian Sosial Republik Indonesia Tahun 2012.

Syafi’ie, M.. 2014. Pemenuhan Aksesibilitas Bagi Penyandang Cacat. Yogyakarta :

Jurnal INKLUSI. Vol. 1 No. 2.

UNICEF. 2013. Rangkuman Eksekutif : Anak Penyandang Disabilitas. New York :

UNICEF.

Utami, Risnawati. 2006. Kota yang Berperspektif HAM : Ramah Difabel. Jakarta :

Konas Difabel OHANA.

UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas

World Health Organization. (2011). World Report on Disability. Geneva: World

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

menjalankan usaha mandiri yang dikembangka n • Membuat pembukuan sederhana dan mencatat keadaan keuangan, rugi atau laba • Membuat pembukuan inventaris barang

Sitem produksi atau teknologi apapun yang dipakai, pekerjaan konstruksi pada dasarnya tetap memerlukan lebih banyak tenaga kerja. Pekerja yang lebih banyak

Metode penelitian yang telah dilakukan, yaitu seleksi dan persilangan kelapa kopyor dengan tiga perlakuan, yaitu (1) Tandan bunga di kerodong dan dibantu

Selama malam hari, ada pengubahan yang lambat menjadi bentuk yang tidak aktif; periode gelap yang lebih panjang, bagian fitokhrom yang dalam bentuk tidak aktif menjadi

Ronny Sugiantoro selaku redaktur KR juga mengemukakan bahwa latar belakang pembuatan rubrik Aspirasi Keistimewaan tidak terlepas dari peran KR sebagai koran

Adapun konsep penelitian yang digunakan adalah konsep persepsi BPW, konsep hotel bintang lima, dan konsep produk NDBHS dan empat teori yang digunakan untuk membedah

Sejalan dengan tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh NCTM dan kelima tujuan pembelajaran matematika dari BSNP, jelas bahwa beberapa dari tujuan pembelajaran