STRUKTUR KOMUNITAS DAN REGENERASI TEGAKAN HUTAN DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN MARGASATWA RAGUNAN, JAKARTA
SELATAN
SKRIPSI SARJANA SAINS
Oleh
YULIAN SEPTIYANI
FAKULTAS BIOLOGI
FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL Skripsi, Jakarta Juli 2010
Yulian Septiyani
Struktur Komunitas Dan Regenerasi Tegakan Hutan Di Kawasan Konservasi Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan
x + 58 halaman, 3 tabel, 5 gambar, 6 lampiran
Hutan akan lestari apabila proses regenerasi tegakan berjalan baik, dengan melalui pemudaan alam atau buatan. Pemudaan hutan mutlak dilakukan terhadap setiap kawasan hutan agar dapat berfungsi secara maksimal dan berkelanjutan. Pemudaan merupakan proses regenerasi tegakan hutan, baik mengandalkan proses alam maupun penanganan manusia. Setiap tahap proses perkembangannya, mudah tidaknya pemudaan di suatu kawasan hutan bergantung pada sifat-sifat jenis tegakan, tempat tumbuh, proses-proses daur air dan hara .
Penelitian ini dilakukan pada kawasan hutan di kawasan konservasi yang terdapat di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan selama 1 bulan yaitu bulan November 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, kelimpahan, keanekaragaman jenis dan nilai penting jenis yang ada dengan melihat tingkat regenerasinya dan mlihat urutan dominansi jenis tumbuhan dan perkembangan tingkat pertumbuhan dari jenis tumbuhan yang menyusun hutan konservasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa Hutan konservasi di Taman Margasatwa Ragunan (TMR) tersusun atas 31 suku, yang terdiri dari 46 marga dan 54 jenis tumbuhan dan jumlah jenis, marga, suku pada masing-masing tingkat pertumbuhan jumlahnya bervariasi. Tumbuhan yang memiliki tingkat pertumbuhan lengkap tercatat sebanyak 2 jenis yaitu alkesa (Pouteria campechiana) dan pete (Parkia speciosa), sisanya 52 jenis hanya terdapat pada salah satu tingkat atau dua tingkat atau tiga tingkat, sehingga menunjukan terdapat tumbuhan yang tidak seumur dan adanya proses regenerasi tumbuhan yang ditunjukkan banyaknya tumbuhan fase muda (semai dan pancang). Hal ini menunjukkan bahwa proses regenerasi belum berjalan dengan baik dan maksimal.
STRUKTUR KOMUNITAS DAN REGENERASI TEGAKAN HUTAN DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN MARGASATWA RAGUNAN, JAKARTA
SELATAN
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA SAINS DALAM BIDANG BIOLOGI
Oleh
YULIAN SEPTIYANI 053112620150014
FAKULTAS BIOLOGI
Judul Skripsi : STRUKTUR KOMUNITAS DAN REGENERASI TEGAKAN HUTAN DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN MARGASATWA RAGUNAN, JAKARTA SELATAN
Nama Mahasiswa : Yulian Septiyani
Nomor pokok : 0562010014
Nomor Induk Mahasiswa : 053112620150014
MENYETUJUI
Pembimbing Pertama Pembimbing Kedua
Hasmar Rusmendro, drs Dwi Andayaningsih, dra, MM
Dekan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT atas rahmat dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ”STRUKTUR KOMUNITAS DAN REGENERASI TEGAKAN HUTAN DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN MARGASATWA RAGUNAN, JAKARTA SELATAN” sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di Fakultas Biologi Universitas Nasional.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, khususnya:
1. Kedua orang tua: Ayahanda A. Zaenuddin, Ibunda Sugermiyanti dan Adikku Dwi, yang tetap memberikan semangat, doa dan bantuan baik moril maupun materil kepada penulis.
2. Hasmar Rusmendro, drs dan Dwi Andayaningsih, drs, MM., selaku pembimbing pertama dan kedua yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberi bimbingan, saran,kritik dan dukungan dalam penulisan skripsi ini. 3. Imran SL Tobing, drs, MSi., selaku Dekan Fakultas Biologi Universitas Nasional
4. Sutarno, drs, selaku pembimbing akademik yang telah memberi motivasi dalam penulisan skripsi ini.
5. Seluruh Staf dan Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Laboratorium Botani Fakultas Biologi Universitas Nasional yang telah memberikan bantuan dan motivasi.
6. Teman dekatku, Mochammad Taufiq yang selalu memberikan doa dan membantu penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
7. Staf Taman Margasatwa Ragunan dan Kawasan Konservasi: Bang Edi, Pak Alwi, Mbak Eba dan lainnya yang selalu membantu dan memberikan motivasi yang sangat berharga untuk penulis selama penelitian.
8. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang telah membantu penulis dalam proses identifikasi.
9. Teman-teman Fakultas Biologi angkatan 2005 : Rebina Urfhy Z, Mursyidah, Sarwendah Puji R, Filani, Savitri A., Ika Sugiarti., Windrati, Nusuki Atara, Lucky Arbianto, Sulaiman, Melinda Oktaviana K, Rico Setiawan dan Rama Arya P, atas dukungan dan kebersamaan yang telah kalian berikan.
10. Sahabatku Chiko, yang selalu menyenangkan dan selalu membuat penulis tersenyum.
Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini belum seutuhnya sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk penulisan yang lebih baik lagi di masa depan. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan dan menambah pengetahuan tentang keanekaragaman jenis tumbuhan/ flora di Indonesia.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ……….. v
DAFTAR ISI ………. viii
DAFTAR TABEL ………...ix
DAFTAR GAMBAR ...x
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
A. Komposisi dan Keanekaragaman Jenis ... 4
B. Struktur Komunitas Tumbuhan... 6
C. Taman Margasatwa Ragunan... ... 10
III. METODOLOGI PENELITIAN ... 13
A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 13
B. Alat dan Bahan Penelitian ... 13
C. Cara Kerja ... 14
D. Analisis Data ... 16
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21
A. Komposisi Jenis dan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan ... 21
B. Urutan Dominansi Jenis Pada Masing-Masing Tingkat Pertumbuhan ... 28
C. Distribusi Kelas Diameter dan Tinggi ... 33
DAFTAR TABEL
TABEL Halaman
Naskah
1. Jumlah Jenis, Marga, Suku Komunitas Tumbuhan Pada Masing-Masing Tingkat Pertumbuhan ...
21
2. Jumlah Jenis Berdasarkan Nilai Penting (NP) Pada Masing-Masing Tingkat Pertumbuhan ...
30
3. Jumlah Jenis Berdasarkan Urutan Dominansi Dalam Satuan Vegetasi ... 32
Lampiran
1. Komposisi Jenis Tumbuhan Dari Semua Tingkat Pertumbuhan Di Kawasan Konservasi Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan ... 42 2. Nilai Frekuensi Relatif, Kerapatan Relatif, Dominansi Relatif dan Indeks
Nilai Penting ...48 3. Kelas NP Terhadap Jenis Tumbuhan Pada Masing–Masing Tingkat
Pertumbuhan ... 52 4. Urutan Dominansi Jenis Tumbuhan Keadaan NP Relatif Rata-Rata Pada Masing-Masing Tingkatan Pertumbuhan ... 54 5. Perbandingan H’ Antara Masing-Masing Tingkatan Pertumbuhan Dengan Uji
6. Besarnya Indeks Kesamaan Komposisi Jenis Antar Tingkat Pertumbuhan Komunitas Tumbuhan Di Kawasan Konservasi Taman Margasatwa
Ragunan ... 58 DAFTAR GAMBAR
GAMBAR Halaman
Naskah
1. Plot Linear Untuk Pengamatan Vegetasi ... 15 2. Diagram Batang Indeks Kesamaan Setiap Tingkatan Pertumbuhan .. 22 3. Diagram Batang Indeks Keanekaragaman Setiap Tingkatan
Pertumbuhan ... 24 4. Nilai Indeks Keseragaman (E) Komunitas Tumbuhan Pada Masing Tingkat Pertumbuhan... 26 5. Kurva Kelas Diameter Dan Tinggi Tumbuhan Di Kawasan
BAB I PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Sebagian besar dari pulau-pulau tersebut merupakan pulau-pulau-pulau-pulau berukuran kecil yang memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan, jasad renik yang tinggi. Hal ini terjadi karena keadaan alam yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam pulau yang sama. Sistem perpaduan antara sumber daya hayati dan tempat hidupnya yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem, yang masing-masing menampilkan kekhususan pula dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat didalamnya, diantaranya adalah ekosistem hutan (Irwanto, 2007).
Indonesia terletak di daerah tropik, sehingga hutan yang ada bertipe hutan tropik. Hutan ini sangat beranekaragam terhadap tipe, komposisi maupun strukturnya. Ada hutan yang tumbuh dengan baik sehingga memiliki struktur lengkap mulai dari tumbuhan tingkat bawah sampai pohon yang tingginya mencapai 100 meter (Indriyanto, 2008).
Hutan akan lestari apabila proses regenerasi tegakan berjalan baik, dengan melalui pemudaan alam atau buatan. Pemudaan hutan mutlak dilakukan terhadap setiap kawasan hutan agar dapat berfungsi secara maksimal dan berkelanjutan (Indriyanto, 2008). Pemudaan merupakan proses regenerasi tegakan hutan, baik mengandalkan proses alam maupun penanganan manusia. Setiap tahap proses perkembangannya, mudah tidaknya pemudaan di suatu kawasan hutan bergantung pada sifat-sifat jenis tegakan, tempat tumbuh, proses-proses daur air dan hara (Alikodra, 1997, Indriyanto, 2008).
Taman Margasatwa yang terletak di Ragunan Pasar Minggu Jakarta, berdasarkan Perda No.13 tahun 1998 memiliki tugas pokok diantaranya melakukan konservasi, mempertahankan daerah resapan air, paru-paru kota. Sesuai dengan tugas tersebut, dalam menambah koleksi satwa, menanam dan merawat jenis tumbuhan, juga membangun kawasan konservasi. Atas dasar ini dapat memaksimalkan fungsi dan peranan Taman Margasatwa Ragunan (TMR) dalam mendukung upaya-upaya konservasif, riset dan edukasi, selain disiapkan untuk menjadi tempat tujuan rekreasi atau sebuah kebun binatang yang modern. Untuk memaksimalkan fungsi dan peran tersebut, juga menanam dan merawat jenis-jenis tumbuhan dan bahkan membangun hutan di kawasan konservasi yang luasnya mencapai 6,410 Ha (Jakartazoo.org, 2008).
kawasan konservasi Taman Margasatwa Ragunan. Hal ini tergantung oleh faktor tempat tumbuh yang merupakan gabungan dari iklim dan tanah (Kadri, 1992).
Mengingat hutan di kawasan konservasi ini ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan dan hingga saat ini belum diketahui jenis-jenis apa yang terdapat didalamnya, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan:
1. Mengetahui komposisi, kelimpahan, keanekaragaman jenis dan nilai penting jenis yang ada dari masing-masing tingkat pertumbuhannya.
2. Urutan dominansi jenis tumbuhan dan perkembangan tingkat pertumbuhan dari jenis tumbuhan yang menyusun hutan di kawasan konservasi.
Hipotesis dari penelitian ini adalah:
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Komposisi dan keanekaragaman jenis
Struktur tumbuhan adalah organisasi individu – individu di dalam ruang yang membentuk tipe vegetasi atau asosiasi tumbuhan. Komposisi tumbuhan merupakan jumlah jenis yang terdapat dalam suatu komunitas tumbuhan (Purborini, 2006). Menurut Kershaw (1973), struktur vegetasi terdiri dari 3 penyusun, yaitu:
1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tihang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi.
2. Sebaran horizontal dari jenis-jenis penyusun komunitas yang menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain.
3. Penyusun vegetasi ada 5 aras, yaitu fisiognomi vegetasi, struktur biomassa, life form ( growth form ), struktur floristik dan struktur tegakan ( Mueler-Dumbois & Ellenberg, 1974 ).
Kelimpahan (abundance) setiap jenis dalam suatu komunitas. Struktur suatu vegetasi terdiri dari individu-individu yang membentuk tegakan di dalam suatu ruang. Komunitas tumbuhan terdiri dari sekelompok tumbuh-tumbuhan yang masing-masing individu mempertahankan sifatnya (Dombois, 1974).
Kershaw (1973) menyatakan, stratifikasi hutan hujan tropika dapat dibedakan menjadi 5 lapisan, yaitu : Lapisan A (lapisan pohon-pohon yang tertinggi atau emergent), lapisan B dan C (lapisan pohon-pohon yang berukuran sedang), lapisan D (lapisan semak dan belukar) dan lapisan E (lantai hutan). Komposisi atau kekayaan jenis adalah jumlah jenis pada suatu area/ komunitas. Komposisi jenis suatu komunitas sangat penting karena komunitas sebagian besar ditentukan oleh dasar-dasar floristik (jenis-jenis yang terdapat dalam suatu komunitas). Beberapa komunitas memiliki fisiognomi (kenampakan luar) serupa, tetapi berbeda dalam identitas jenis dominan atas jenis penyusun lainnya (Rusmendro, 2007).
Diversitas atau keanekaragaman merupakan suatu keragaman diantara anggota suatu komunitas (Supriatno, 2001). Deshmukh (1992) mengartikan keanekaragaman sebagai gabungan antara jumlah jenis dan jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu komunitas atau sering disebut kekayaan jenis. Menurut Resosoedarmo dkk (1984), keanekaragaman kecil terdapat pada komunitas yang ada di daerah dengan lingkungan yang ekstrim, seperti daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sementara itu keanekaragaman tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum.
yang tinggi. Lebih lanjut dikatakan, keanekaragaman merupakan ciri dari suatu komunitas terutama dikaitkan dengan jumlah individu tiap jenis pada komunitas tersebut. Keanekaragaman jenis menyatakan suatu ukuran yang menggambarkan variasi jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah jenis dan kelimpahan relatif dari setiap jenis (Latifah, 2004).
Indeks keanekaragaman digunakan untuk mengetahui pengaruh gangguan terhadap lingkungan atau untuk mengetahui tahapan suksesi dan kestabilan dari komunitas tumbuhan pada suatu lokasi (Odum, 1996). Menurut Ariyati dkk (2007), nilai indeks keanekaragaman rendah menunjukkan bahwa terdapat tekanan ekologi tinggi, baik yang berasal dari faktor biotik (persaingan antar individu tumbuhan untuk setiap tingkatan) atau faktor abiotik. Tekanan ekologi yang tinggi tersebut menyebabkan tidak semua jenis tumbuhan dapat bertahan hidup di suatu lingkungan.
Menurut Odum (1993) ada dua komponen keanekaragaman jenis, yaitu kekayaan jenis dan kesamarataan. Kekayaan jenis adalah jumlah jenis dalam suatu komunitas. Keanekaragaman jenis cenderung besar dalam suatu komunitas yang lebih tua. Keanekaragaman jenis cenderung kecil untuk komunitas yang baru dibentuk. Kesamarataan adalah pembagian individu yang merata diantara jenis. Pada kenyataannya setiap jenis itu mempunyai jumlah individu yang tidak sama.
Untuk memudahkan dalam mengenal dan mempelajari makhluk hidup, diperlukan pengklasifikasian dengan dasar dan tujuan tertentu. Klasifikasi memiliki manfaat penting yang dapat langsung diterapkan bagi kepentingan manusia (Syamsuri, 2000).
Komunitas dapat disebut dan diklasifikasikan menurut bentuk atau sifat struktur utama, misalnya jenis dominan; bentuk-bentuk hidup, habitat fisik dari komunitas, sifat atau tanda fungsional, misalnya tipe metabolisme komunitas. Keanekaragaman jenis dan kelimpahan individu masing-masing jenis (kemerataan) tidak berarti satu-satunya hal yang terlibat di dalam keanekaragaman komunitas. Pengaruh populasi terhadap komunitas dan ekosistem tidak hanya tergantung kepada jenis tertentu dari organisme yang terlibat, tetapi juga tergantung kepada jumlahnya atau kerapatan populasinya (Odum, 1993).
Komunitas adalah kumpulan populasi yang hidup pada habitat tertentu. Menurut Odum (1973), komunitas yang merupakan bagian hidup ekosistem dapat diklasifikasikan berdasarkan:
1. Bentuk atau sifat struktur utama, seperti jenis dominan dan bentuk hidup (life form)
2. Habitat komunitas
Tipe komunitas terjadi karena adanya sifat yang berbeda dalam dominansi jenis, komposisi jenis, struktur lapisan tajuk atau juga dominansi bentuk pertumbuhan (Whittaker, 1975). Komunitas hutan merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh karena komunitas terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan dan penguasaan, reaksi terhadap tempat tumbuh dan stabilitasi. Perubahan dalam komunitas atau suksesi selalu terjadi, bahkan dalam komunitas hutan yang stabil pun selalu terjadi perubahan (Indriyanto, 2005).
Pada suatu suatu jenis ditentukan berdasarkan besarnya frekuensi, kerapatan dan dominansi setiap jenis. Penguasaan suatu jenis terhadap jenis-jenis lain ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting, volume, biomassa, persentase penutupan tajuk, luas bidang dasar atau banyaknya individu atau kelimpahan (Soerianegara,1996).
Nilai penting didefinisikan sebagai gabungan dari densitas/ kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dan dominansi relatif (DR). Kondisi ini menyebabkan nilai penting suatu jenis maksimum adalah 300% (KR=100%, FR=100%, DR=100%), bila dalam suatu tegakan hanya terdiri dari satu jenis saja (Curtis dan Mc.Intosh, 1951). Whittaker, 1975, menyebutkan bahwa nilai penting dapat ditentukan berdasarkan salah satu atau dua nilai, tetapi lebih banyak nilai dijadikan dasar akan menjadi lebih baik dan mendekati kebenaran dalam menentukan dominansi atau penguasaan jenis di dalam suatu komunitas (Rusmendro, 2003).
Pertumbuhan tumbuhan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat tumbuh seperti: kerapatan tegakan, karakteristik umur tegakan, faktor iklim (temperatur, presipitasi, kecepatan angin dan kelembaban udara), serta faktor tanah (sifat fisik, komposisi bahan kimia, dan komponen mikrobiologi tanah). Diameter merupakan salah satu dimensi pohon yang paling sering digunakan sebagai parameter pertumbuhan. Pertumbuhan diameter dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis. Pertumbuhan diameter berlangsung apabila keperluan hasil fotosintesis untuk respirasi, penggantian daun, pertumbuhan akar dan tinggi telah terpenuhi (Latifah, 2004).
terhadap pertumbuhan tinggi yaitu kandungan nutrien mineral tanah, kelembaban tanah, cahaya matahari, serta keseimbangan sifat genetik antara pertumbuhan tinggi dan diameter suatu pohon (Davis dan Jhonson, 1987).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya (Greig, 1983).
Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1978) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak.
C. Taman Margasatwa Ragunan
Tujuan umum didirikannya Taman Margasatwa Ragunan, adalah menyelnggarakan perlindungan, pemeliharaan serta melestarikan hidup binatang dan tumbuhan (flora dan fauna) salah satu sarana penunjang pendidikan, media penilitian ilmu pengetahuan dan sebagai sarana rekreasi. Berdasarkan Peraturan Daerah No 13 tahun 1998, Taman Margasatwa Ragunan memiliki tugas pokok untuk melakukan konservasi, pendidikan dan penelitian, promosi, rekreasi, serta mempertahankan daerah resapan air, paru-paru kota dan ruang terbuka hijau. Menurut keputusan Dirjen Kehutanan No.20/kpts/dj/I/1978, Taman Margasatwa Ragunan memiliki beberapa fungsi (Sutomo dkk, 2000), yaitu:
1. Sebagai sarana perlindungan dan pelestarian alam (konservasi) 2. Sebagai sarana pendidikan.
3. Sebagai sarana penelitian.
4. Sebagai sarana rekreasi dan apresiasi terhadap alam.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada kawasan hutan di kawasan konservasi yang terdapat di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Lokasi yang dipilih memiliki luas ± 6,410 Ha. Alasan dipilih lokasi tersebut karena lokasi tersebut adalah sebagai sarana perlindungan dan pelestarian alam, pendidikan, penelitian dan paru-paru kota serta wilayah resapan air, namun sejak dibangunnya hutan ini belum ada informasi tentang kondisi hutannya. Waktu penelitian selama 1 bulan, dimulai pada bulan November 2009 hingga Desember 2009.
B. Alat Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Kompas
9. Buku Identifikasi: Heyne I-III, 1987 dan Stenis, 2003 dan Flora of Java, 1981
C. Cara Kerja
Pengumpulan data vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode plot linear (Linear Sampling) (Indriyanto, 2008). Metode ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai keberhasilan pemudaan hutan secara alamiah, menilai hasil dan keadaan pemudaan yang akan dipelihara dan menilai komposisi tegakan hutan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi:
1. Penentuan jalur pengamatan
a. Jalur pengamatan direncanakan terlebih dahulu dengan menentukan batas-batas yang jelas dari kawasan hutan yang akan diteliti. Penentuannya berdasarkan pagar keliling dari kawasan hutan seluas 6,41 Ha.
b. Pembuatan plot linear sesuai dengan tingkatan pertumbuhan vegetasi yang akan diteliti, diawali dengan pembuatan garis lurus dari satu sisi pagar menuju sisi pagar lainnya sesuai dengan ukuran hutan yang akan diteliti, plot linear ini dibuat sebanyak 4 buah dengan panjang bervariasi (Gambar 1) dengan ketentuan sebagi berikut:
- LS-1/2 (half chain linear sampling), berupa jalur lurus lebar 10 m yang diletakan di dalam jalur 20 m (nested sampling). Jalur ini digunakan untuk menghitung tegakan hutan fase tihang (diameter 10-19 cm) .
- LS-1/4 (quarter chain linear sampling), berupa jalur lurus lebar 5 m yang diletakan di dalam jalur 20 m. Jalur ini digunakan untuk menghitung tegakan hutan fase pancang (diameter 1 - <10 cm, tinggi >1.5 m).
- LSM (linear sampling milliare), berupa jalur lurus lebar 2 m yang diletakan di dalam jalur 20 m. Jalur ini digunakan untuk menghitung tegakan hutan fase semai (diameter <1 cm, tinggi <1.5 m) dan mencatat nama jenis tumbuhan yang ditemukan.
c. Pencatatan data meliputi jenis-jenis tegakan/tumbuhan, jumlah individu tiap jenis, tinggi dan diameter batang dari masing-masing tegakan yang ada di dalam masing-masing plot linear sesuai tingkat pertumbuhan. Tumbuhan yang belum diketahui nama jenisnya di lapang, sampel yang diambil kemudian dibawa ke Laboratorium Botani Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bidang Botani untuk dilakukan identifikasi.
d. Data hasil pengamatan pada setiap jalur ditabulasi dan dianalisis lalu
diinterpresentasikan meliputi Komposisi Jenis, Keanekaragaman Jenis, Tingkat Kesamaan komposisi jenis, Tingkat Keseragaman/ Kemerataan, nilai penting, distribusi Kelas Diameter dan Tinggi
C. Analisis data
a. Indeks kesamaan jenis, IS:
2C
IS = x 100 A+B
Dimana:
C = Jumlah jenis yang sama pada masing-masing tingkat Pertumbuhan
A = Jumlah jenis pada masing-masing tingkat pertumbuhan A B = Jumlah jenis pada masing-masing tingkat pertumbuhan B
b. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (Brower dkk, 1977)
H' =
pi
.
ln
pi
pini/NDi mana :
H' = Indeks keanekaragaman
ni = Jumlah individu suatu jenis dari masing-masing tingkat pertumbuhan
N = Jumlah individu seluruh jenis yang terdapat dalam satu tingkatan pertumbuhan
Michell (1995), mengelompokkan indeks keanekaragaman menjadi 3, yaitu apabila nilai H' ≤ 1,5, maka tingkat keanekaragaman rendah; bila nilai 1,5 < H' ≤ 3,5, maka tingkat keanekaragaman sedang; dan bila nilai H' > 3,5, maka tingkat
Uji ini menggunakan uji “t” dengan peluang 95 % (α = 0,05). Rumus-rumus yang digunakan berdasarkan Magurran (1987) adalah:
2
Hipotesis: t hit < t tabel, tolak Ho (terdapat perbedaan yang bermakna) t hit > t tabel, terima Ho (tidak terdapat perbedaan yang bermakna)
c. Indeks kesamarataan/ keseragaman untuk mengetahui penyebaran jumlah individu tiap jenis.
H maks = ln S E = H' H maks
Dimana: H maks = Keseragaman maksimum
Kerapatan =
Luas petak ukur
Kerapatan satu jenis
Kerapatan relatif = x 100%
Kerapatan seluruh jenis
Jumlah petak penemuan suatu jenis Frekuensi =
Jumlah seluruh petak Frekuensi suatu jenis
x 100% Frekuensi relatif = Frekuensi seluruh jenis
Luas penutupan suatu jenis Dominansi =
Luas petak Dominansi suatu jenis
Dominansi relatif = x 100%
Dominansi seluruh jenis
Nilai penting = Kerapatan relatif + Frekuensi relatif + Dominansi Relatif
digunakan klasifikasi yang seragam. Jumlah kelas nilai penting pada tingkat semai sama dengan jumlah kelas nilai penting pada tingkat pancang, tihang maupun pohon. Klasifikasi nilai penting tersebut didasarkan kepada nilai penting tertinggi dan nilai penting terendah (Whittaker, 1975). Klasifikasi dibuat 5 kelas yaitu kelas nilai penting I yang menunjukkan tingkat penguasaan ekologis/dominansi sangat tinggi, kelas II agak tinggi, kelas III sedang (moderat), kelas IV rendah dan kelas V sangat rendah (Sutisna dan Soeyatman, 1984).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Komposisi Jenis dan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan
Jumlah jenis, marga, suku pada masing-masing tingkat pertumbuhan jumlahnya bervariasi seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah jenis, marga, suku komunitas tumbuhan pada masing-masing tingkat pertumbuhan.
Stratifikasi Takson
Tingkatan pertumbuhan Total
jenis
Pohon Tihang Pancang Semai
Jenis 15 4 17 37 54
Marga 13 4 15 28 46
Suku 9 4 11 23 31
Berdasarkan Tabel 1 di atas, jumlah jenis tertinggi terdapat pada tingkatan semai, diikuti pancang, pohon dan tihang. Perbedaan ini diduga berkaitan erat dengan kondisi habitat yang memberikan pengaruh terhadap semua jenis pada masing-masing tingkatan pertumbuhan (Whitmore, 1986). Kondisi habitat disana menguntungkan tumbuhan dengan tingkatan semai sehingga jumlah jenis yang didapat lebih banyak jika dibandingkan dengan tingkatan pohon, tihang dan pancang. Faktor-faktor lingkungan di habitat tersebut seperti: suhu, pH tanah, kelembaban, dan lain-lain yang sesuai dan menguntungkan bagi tumbuhan tingkat bawah seperti semai dan pancang sehingga sering di temukan.
tumbuhan pionir karena permudaan dan pertumbuhan dibatasi oleh adanya naungan (Bradshaw dkk, 1980).
Meskipun jenis tumbuhan pada tingkat pancang dan semai bukan yang permanen, tetapi masih bisa dikatakan bahwa lingkungan hutan di kawasan konservasi yang ada saat ini paling tidak bisa menopang tingkat pertumbuhan pancang dan semai dibandingkan tingkat pertumbuhan yang lainnya. Hal ini dapat ditunjukkan dengan indeks kesamaan komposisi jenis antar tingkat pertumbuhan yang secara umum adalah <50%, kecuali diantara pancang-semai 50% (Gambar 2).
Gambar 2. Diagram Batang Indeks Kesamaan Setiap Tingkatan Pertumbuhan
relatif sama dengan jenis-jenis didalamnya relatif sama pula. Hal ini diduga faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan seperti kelembaban, pH tanah, suhu di lingkungan hutan di kawasan konservasi sangat cocok dengan pertumbuhan pancang dan semai sehingga memberikan pengaruh yang sama terhadap kedua tingkatan (pancang-semai) tersebut. Sebaliknya IS < 50% didapati tipe komunitas yang berbeda. Berarti faktor lingkungan tidak mendukung pertumbuhan tumbuhan didalamnya sehingga faktor lingkungan memberikan pengaruh yang tidak sama (Lampiran 6).
Perbandingan nilai keanekaragaman jenis (H') dari hasil studi ini menunjukkan tingkat semai paling tinggi, diikuti tingkat pohon, pancang dan tihang. Perbedaan nilai H' antar tingkat pertumbuhan dapat dilihat pada Gambar 3.
Indeks keanekaragaman (H') tingkatan pohon diperoleh sebesar 2.433. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas pohon termasuk dalam kondisi sedang (moderat). Indeks keanekaragaman (H') pada tingkatan tihang diperoleh nilai sebesar 0.838. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas tihang termasuk dalam kondisi rendah dan dalam kondisi tidak stabil. Indeks keanekaragaman (H') pada tingkatan pancang diperoleh nilai sebesar 2.11. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas pancang di sana termasuk dalam kondisi sedang (moderat). Indeks keanekaragaman (H') pada tingkatan semai diperoleh sebesar 2.797. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas semai di sana termasuk dalam kondisi sedang (moderat).
perbedaan yang bermakna.Faktor pembatas keanekaragaman jenis (H') antara lain adalah kondisi geologi, evolusi suatu jenis, sejarah dan penyebaran suatu jenis, kondisi habitat, proses suksesi, pengaruh musim, stratifikasi dan sebagainya (Rusmendro, 2007).
Gambar 4. Nilai indeks Keseragaman (E) komunitas tumbuhan pada masing-masing tingkat pertumbuhan
Pada tumbuhan tingkat pancang, semai dan pohon didapati nilai E keseragaman (E) yang tidak berbeda. Hal ini didukung dari Indeks keseragaman Menurut Krebs (1985), nilai indeks keseragaman (E) digolongkan menjadi 3, yaitu: 0 < E ≤ 0,4, maka keseragaman populasi kecil; bila 0,4 < E < 0,6, maka keseragaman populasi sedang; dan bila E ≥ 0,6, maka keseragaman populasi tinggi. Untuk tingkatan pohon memiliki nilai indeks keseragaman tertinggi pada tumbuhan dengan nilai 0.90, hal menunjukkan bahwa keseragaman populasi pohon di area tersebut tinggi. Nilai indeks keseragaman tertinggi kedua yaitu untuk tingkatan semai dengan nilai 0.77, hal ini menunjukkan bahwa keseragaman populasi semai tinggi. Pada nilai indeks keseragaman tertinggi ketiga yaitu untuk tingkatan pancang dengan nilai 0.74, hal ini menunjukkan bahwa keseragaman populasi pancang juga tinggi. Pada tingkatan tihang memiliki nilai indeks keseragaman terendah dengan nilai 0.60, hal ini menunjukkan bahwa keseragaman populasi tihang sedang.
Berdasarkan pencatatan jenis-jenis tumbuhan di hutan di kawasan konservasi Taman Margasatwa Ragunan sebanyak 2 jenis diantaranya terdapat secara lengkap dari tingkat semai sampai tingkat pohon. Sisanya, 52 jenis hanya terdapat pada salah satu tingkat atau dua tingkat atau tiga tingkat saja. Perincian jumlah jenis tersebut adalah sebagai berikut (Lampiran 4).
Pada Lampiran 4, dapat dinyatakan bahwa jenis alkesa (Pouteria campechiana) dan pete (Parkia speciosa) terdapat pada semua tingkat pertumbuhan (semai sampai pohon). Jenis-jenis pada tingkat tihang terdapat pada tingkat pancang dan semai kecuali mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan bar-bara (Ficus septica Burm.f) yang hanya pada dua tingkat (pancang atau semai). Selain itu dapat ditemukan 13 jenis yaitu angsana (Pterocarpus indicus Willd), apel-apelan (Ficus variegate Bl), bacang (Mangifera foetida Lour), belimbing (Averrhoa bilimbi Linn), benda (Artocarpus elasticus Reinw), beringin (Ficus benjamina L.), kluwek (Pangium
tingkatan pancang dan semai ada 10 jenis. Untuk tingkat semai saja sebanyak 27 jenis (Lampiran 4).
Tingkat pertumbuhan tumbuhan lengkap dan tidak lengkap ini menunjukkan bahwa:
1. Hutan ini berisi tumbuhan yang berumur lebih kurang sama, terutama untuk 10 jenis tingkat pohon yang ada, artinya diantaranya tumbuhan tersebut ditanam pada waktu kurang lebih bersamaan.
2. Hutan ini juga terdapat tumbuhan yang tidak seumur, akibat adanya proses regenerasi tumbuhan yang ditunjukkan banyaknya tumbuhan fase muda (semai dan pancang).
Tegakan hutan seumur ditandai oleh tajuk pohon yang seragam, jumlah terbesar tumbuhan berada pada kelas diameter yang diwakili oleh rata-rata diameter tingkat pohon (> 20 cm), sedangkan kelas diameter di atas atau di bawah tingkat pohon, diameter tegakan hutan lebih sedikit, tegakan hutannya dikatakan tidak seumur (Indriyanto, 2008).
B. Urutan Dominansi Jenis Pada Masing-Masing Tingkat Pertumbuhan Apabila dilihat dari nilai kuantitatif komunitas masing-masing tingkat pertumbuhan (Lampiran 2) dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Frekuensi Relatif (FR)
(Rambutan) dengan nilai 13.636%. Pada tingkatan tihang yang memiliki nilai frekuensi tertinggi yaitu Pouteria campechiana (Alkesa). Untuk tingkatan pancang yang nilai frekuensinya besar/ tinggi yaitu Morinda citrifolia (Mengkudu) dengan nilai 13.333%. Pada tingkatan semai, ada 3 tumbuhan yang memiliki nilai frekuensi tertinggi yang sama yaitu Pouteria campechiana (Alkesa), Plantago lanceolarta L (Oyot-oyotan) dan Elaeis guineensis (Kelapa sawit) dengan nilai 6.897%. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan Salopa/ Mahang, Rambutan, Alkesa, Mengkudu, Oyot-oyotan dan Kelapa sawit memiliki tingkat penyebaran yang tinggi pada jalur-jalur pengamatan (Lampiran 2).
2. Kerapatan Relatif (KR)
Untuk tingkatan pohon, tumbuhan yang memiliki nilai kerapatan relatif tertinggi yaitu Nephelium lappaceum L (Rambutan) dengan nilai 21.94%. Pada tingkatan tihang, tumbuhan yang memiliki nilai kerapatan relatif yaitu Pouteria campechiana (Alkesa) dengan nilai 75.00% dan pada tingkatan pancang dan semai, tumbuhan yang memiliki nilai kerapatan tertinggi yaitu Pachystachys coccinea Nees (Bunga bahagia) dengan nilai 29.53% dan 22.58% (Lampiran 2).
3. Dominansi Relatif (DR)
campechiana (Alkesa) dengan nilai 31.26%. Untuk tingkatan pancang yang memiliki nilai dominansi relatif tertinggi yaitu Schizostachyum blumei Nees (Bambu tali) dengan nilai 22.74% dan untuk tingkatan semai ada 2 tumbuhan yang memiliki nilai dominansi tertinggi yang sama yaitu Solanum melongena (Terong) dan Amarantus spinosus Linn (Bayam) dengan nilai 10.85%. Hal ini menunjukkan bahwa di kawasan konservasi untuk tingkatan pohon di dominansi oleh Artocarpus elasticus Reinw (Benda), untuk tingkatan tihang di dominansi oleh Pouteria campechiana (Alkesa), untuk tingkatan pancang di dominansi oleh Schizostachyum blumei Nees (Bambu tali) dan untuk tingkatan semai di dominansi oleh Solanum melongena (Terong) dan Amarantus spinosus Linn (Bayam) (Lampiran 2).
Klasifikasi nilai penting (NP) jenis tumbuhan pada masing-masing tingkat pertumbuhan, dapat dilihat pada Tabel 2 dan Lampiran 3. Beberapa hal yang perlu diungkapkan adalah hanya beberapa jenis saja yang memiliki NP atau penguasaan ekologis yang sangat tinggi (kelas I), tinggi (II) dan cukup tinggi (III), sedangkan yang lainnya keseluruhan jenis vegetasinya pada kelas penguasaan rendah dan sangat rendah (kelas IV dan V).
Tabel 2. Jumlah jenis berdasarkan nilai penting (NP) pada masing-masing tingkat pertumbuhan.
Kelas Urutan Dominansi
Tingkat pertumbuhan
Pohon Tihang Pancang Semai
I Sangat Tinggi 1 1 4 1
II Agak Tinggi 1 0 0 2
III Cukup 2 0 4 4
IV Rendah 3 0 4 4
Jenis-jenis dengan tingkat penguasaan relatif cukup tinggi seperti:
1. Pada tingkatan pohon yaitu jenis benda (Artocarpus elasticus Reinw), rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan salopa (Macaranga pruinosa Miq).
2. Pada tingkatan tihang yaitu jenis alkesa (Pouteria campechiana).
3. Tingkat pancang yaitu pada jenis bambu ampel (Bambusa vulgaris Schrad), bambu tali (Gigantochloa apus Kurz), bunga merah (Pachystachys coccinea Nees), daun bahagia (Dieffenbachia seguine Schott), bambu hias (Bambusa glaucescens Willd), bambu suling (Schizostachyum blumei Nees), mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan pete (Parkia speciosa).
4. Tingkatan semai yaitu jenis bunga merah (Pachystachys coccinea Nees), alkesa (Pouteria campechiana), syngonium (Syngonium sp), terong terongan (Solanum
melongena), kelapa sawit (Elaeis guineensis) dan lenca-lencaan (Solanum nigrum L.).
Hal ini memberi jawaban secara umum bahwa pemudaan diduga kurang baik. Faktor lingkungan, terutama untuk tingkat pohon, pancang dan semai diduga kurang menguntungkan bagi pertumbuhan jenis tersebut. Jenis yang sukses mencapai tingkat pohon adalah jenis yang tingkat pertumbuhannya yang terwakili oleh masing-masing tingkatan pertumbuhannya (Sutisna dan Soeyatnan, 1984). Di dalam hutan di kawasan konservasi di TMR diduga yang sukses adalah jenis alkesa dan pete.
dan II), tetapi pada tingkatan pohon dan pancang, jenis alkesa tidak mendominansi (IV dan V) sedangkan pada jenis pete pada tingkatan pancang cukup mendominansi (III) tetapi untuk tingkatan tihang, pohon dan semai jenis pete tidak mendominansi (IV dan V). Keadaan ini membuat jenis-jenis ini (alkesa dan pete) menjadi jenis yang sukses pada masa mendatang.
Hal ini didukung dari nilai penting relatif rata-rata jenis alkesa dan pete yang juga memiliki nilai paling tinggi (Lampiran 4). Nilai Penting rata-rata suatu jenis ini merupakan petunjuk proporsi sumberdaya lingkungan yang dimanfaatkan jenis tersebut dari suatu komunitas (Whittaker, 1975). Kondisi ini menunjukkan bahwa di hutan di kawasan konservasi TMR jenis alkesa dan pete memanfaatkan sumberdaya lingkungan paling besar, yaitu pada alkesa 48.54% (I dan II) dan pada pete 23.92% (III) (Tabel 3), sedangkan untuk jenis-jenis lain lebih kecil dalam memanfaatkan sumberdaya lingkungan, sehingga untuk jenis alkesa dan pete mendominansi dalam suatu vegetasi di daerah tersebut. Hal ini juga menunjukan bahwa alkesa dan pete adalah penyusun klasifikasi vegetasi di hutan di kawasan konservasi TMR. Kriteria dalam menyusun klasifikasi vegetasi hutan adalah kombinasi jenis yang memiliki dominansi tinggi dari semua stratum atau tingkat pertumbuhan (Whittaker, 1975). Tabel 3. Jumlah jenis berdasarkan urutan dominansi dalam satuan vegetasi.
Kelas Urutan dominansi Silang(%) Jumlah jenis
I Sangat Tinggi 38.943 – 48.545 1
II Agak Tinggi 29.340 – 38.942 0
III Cukup 19.737 – 29.339 1
C. Distribusi Kelas Diameter dan Tinggi
Hasil studi ini memperlihatkan distribusi kelas diameter dan tinggi yang kurang membentuk kurva huruf J terbalik (Gambar 5). Artinya proporsi jumlah tumbuhan dari kelas diameter atau kelas tinggi yang lebih rendah lebih banyak dibandingkan dengan proposi jumlah tumbuhan dari kelas diameter atau tinggi yang lebih tinggi. Kurva huruf J terbalik mencerminkan komunitas relatif terganggu (Kusumoantono, 1996). Untuk membuktikannya adalah pada kelas diameter tumbuhan lebih dari 50 cm telah mengalami gangguan atau kerusakan cukup tinggi dan dalam tinggi tumbuhan lebih dari 20 meter juga mengalami gangguan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Hutan di kawasan konservasi di Taman Margasatwa Ragunan (TMR) tersusun atas 31 suku, yang terdiri dari 46 marga dan 54 jenis tumbuhan dan jumlah jenis, marga, suku pada masing-masing tingkat pertumbuhan jumlahnya bervariasi.
2. Tumbuhan yang memiliki tingkat pertumbuhan lengkap tercatat sebanyak 2 jenis yaitu alkesa (Pouteria campechiana) dan pete (Parkia speciosa), sisanya 52 jenis hanya terdapat pada salah satu tingkat atau dua tingkat atau tiga tingkat, menunjukan terdapat tumbuhan yang tidak seumur dan adanya proses regenerasi tumbuhan yang ditunjukkan banyaknya tumbuhan fase muda (semai dan pancang).
3. Indeks kesamaan komposisi jenis antar tingkat pertumbuhan secara umum adalah <50% (berbeda), kecuali diantara pancang-semai 50% (relatif sama). 4. Nilai keanekaragaman jenis (H') untuk setiap tingkat pertumbuhan
menunjukkan bahwa pada tingkat semai keragamannya paling tinggi, diikuti oleh tingkat pohon, pancang dan tihang dan keanekaragaman antara pohon-tihang, pohon-semai, tihang-pancang dan pancang–semai berbeda serta pohon-pancang adalah sama.
6. Pada hutan di kawasan konservasi TMR jenis alkesa (Pouteria campechiana) dan pete (Parkia speciosa) memanfaatkan sumberdaya lingkungan paling besar dan diduga regenerasinya tumbuh dengan baik serta menjadi penyusun klasifikasi vegetasi hutan di kawasan konservasi TMR.
B. Saran
1. Perlu dilakukan informasi yang bermanfaat dalam memperbaiki atau meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi di Taman Margasatwa Ragunan.
2. Pengelola Taman Margasatwa sebaiknya meningkatkan program edukasi untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian tumbuhan.
Alikodra, H. S. Nilai Politik, Ekonomis dan Ekologis Keanekaragaman Hayati Sosialisasi INMENDAGRI Nomor 35 Tahun 1997 Tentang Pembinaan Pengelolaan Taman Flora dan Fauna di Daerah, 1997.
Ariyati, R. W., L. Sya’rani, E. Arini. Analisis Kesesuaian Perairan Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan Sebagai Lahan Budidaya Rumput Laut Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Jurnal Pasir Laut. Vol.3 No.1 : 27-45. 2007.
Backer, C.A.D Sc and Brink, R. C.B.V.D. Flora of Java (Spermatopytes Only). Angiospermae, Families 191-238 addenda et corrigenda general indeks to volomes I-III. With the financial support of the ”netherland organisatie voor zuiver-wetewsc hapeluk onderzoek”. (Nedherland Oragnisasion for the advancement of pure research) the hague. Wolter-Noordhoof N.V-Groningae-The Netherlands. 1981
Bradshaw, A.D & M.J. Chadwick. The restoration of land. Studies in ecology vol. 6. Blackwell scientific publication. Oxford. 1980.
Brower, JE dan Zar JH, Field and Laboratory Methods for General Ecology, WM. J. Brown Company Publishing, Dubuque, Iowa.1977.
Curtis, J.T dan McIntosh, R.P. An upland Forest Cntinum In The Pririe-Forest Border Region of Wiscosin. Ecology, 32: 476-496, 1951.
Davis, L.S and K. N. Jhonson. Forest Management. Mc Graw-Hill Book Company. Newyork. 1987.
Deshmukh. Ecology and Tropical Biologi. Terjemahan Kartaminata,K. dan Danimiharja. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1992.
Dombois, D. Aims and Methods of Vegetation Ecology, John Wiley & Sons, New York. 1974.
Greig, S. P. Quantitative Plant Ecology, Blackwell Scientific Publications, Oxford. 1983.
Hartson, GS. Neotropical Forest Dinamics. Dalam : tropical Succesion. John E Suplement biotropica 12 (2), 23-30. 1980.
Heyne. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. 1987.
Heyne. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. 1987.
Indriyanto. Dendrologi. Penerbit Universitas Lampung. Bandar Lampung. 2005. Indriyanto. Pengantar Budidaya Hutan. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta. 2008.
Irwanto. Analisis vegetasi untuk pengelolaan Kawasan hutan lindung pulau marsegu, Kabupaten seram bagian barat, Provinsi maluku. Tesis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana S-2 Program Studi Ilmu Kehutanan Jurusan Ilmu-Ilmu Pertanian. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 2007.
Kadri, W. Manual Kehutanan. Jakarta: Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 1992.
Kershaw,K.A. Quantitative and Dinamic Plant Ecology. Second Edition. London: William clowes and sons. 1973.
Kusumoantono. Komposisi dan struktur Komunitas Pohon di Beberapa Daerah Tepi Taman Nasional Gunung Halimun dan Pengaruhnya Terhadap Tumbuhan Bawah. Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia. Depok. 1996.
Krebs, C. Z. Ecology : The Experimental Analysis of Distribution and Abundance. Third Edition. New York : Harper and Row Publisher Inc. 1985.
Latifah, S. Pertumbuhan Dan Hasil Tegakan Eucalyptus grandis DI Hutan Tanaman Industri. ITI Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. 2004.
Magurran, A. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey : Princeton University Press. 1987.
Odum, E. P. Fundamental of Ecology. N. B. Sounders Company. Washington : 574 pp. 1973.
Odum, E. P. Dasar-dasar Ekologi. UGM Press. Yogyakarta. 1993.
Odum, P. E. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan Ir. Tjahyono Samingan, MSc. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1996.
Purborini, D. H. Struktur dan Komposisi Tumbuhan Di Kawasan Rawa Pening Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Skripsi. Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata I Untuk Mencapai Gelar Sarjana Sains Fakultas: MIPA Universitas Negeri Semarang. 2006.
Resosoedarmo,R.S., Kuswata K, Aprilani S.Pengantar Ekologi. Bandung: CV. Remaja Karya. 1984.
Rusmendro, H. Nilai Penting senagai Indikator Kedudukan Jenis Dalam Komunitas Tumbuhan. Jakarta. 2003.
Rusmendro, H. Komposisi Jenis dan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan. Bahan Kuliah Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi Universitas Nasional. 2007. Septiyani, Y. Interaksi Masyarakat Disekitar Hutan. Karya Ilmiah Fakultas Biologi
Universitas Nasional. Jakarta. 2010.
Soerianegara, I dan A. Indrawan. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 1978.
Soerianegara I. Ekologi, Ekologisme dan Pengelolaan Sumber daya Hutan. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.Bogor. 1996. Supriatno,B. Pengantar Praktek Ekologi Tumbuhan. Bandung: Jurusan Pendidikan
Biologi FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. 2001.
Sutisna, U dan Soeyatman, H,C. Komposisi Jenis Pohon Hutan tebangan di Malili, Sulawesi Selatan (deskripsi dan analisa). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Dephut. Bogaor. 1984.
Steenis, V C.G.G.J. Flora Untuk Sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita. Jakarta. 2007.
Syamsuri, I. Biologi 2000, SMA kelas 1B. Erlangga. Jakarta. 2000. Syamsuri, I. Biologi 2000, SMA kelas 1A. Erlangga. Jakarta. 2000. Syamsuri, I. Biologi 2000, SMA kelas 2A. Erlangga. Jakarta. 2000.
Whittaker, R.H. Communities and Ecosystem. 2nd. Macmillan Publishing Co.Inc.New York. 1975.
Tabel Lampiran 1. Komposisi Jenis Tumbuhan Dari Semua Tingkat Pertumbuhan Pada Masing-masing Lokasi Di Kawasan Konservasi Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan.
1. Tingkat Pohon
Suku Marga Jenis Pohon Tihang Pancang Semai
1 2 3 4 T 1 2 3 4 T 1 2 3 4 T 1 2 3 4 T
Anadendru
L Costac
eae Costus Costus specios us
ae Centrosema Centrosema pubesc
Morace
Piperac
Sapota
Jumlah Marga 13 4 15 28
Tabel Lampiran 2. Nilai Frekuensi Relatif, Kerapatan Relatif, Dominansi Relatif dan Indeks Nilai Penting.
Tingkatan Pohon
Nama lokal Nama Ilmiah FR (%) (%)KR DR (%) INP (%)
Alkesa Pouteria campechiana 9.091 9.09 2.68 20.858
Angsana Pterocarpus indicus Willd 4.545 3.03 4.20 11.778 Apel-apelan Ficus variegate Bl. 4.545 3.03 1.21 8.783 Bacang Mangifera foetida Lour 4.545 6.06 1.23 11.832 Belimbing Averrhoa bilimbi L. 4.545 3.03 5.27 12.847 Benda Artocarpus elasticus
Reinw 4.545 3.03 41.33 48.906
Beringin Ficus benjamina L. 9.091 18.18 4.61 31.881
Karet Ficus elastica Roxb 4.545 3.03 5.12 12.698
Kelapa Sawit Elaeis guineensis 4.545 6.06 3.43 14.040
Keluwek Pangium edule 4.545 3.03 1.64 9.212
Melinjo Gnetum gnemon 9.091 6.06 3.65 18.802
Pete Parkia speciosa 4.545 3.03 1.12 8.695
Sawo Manilkara kauki L. 4.545 3.03 15.88 23.458 Tingkatan Tihang
Nama lokal Nama Ilmiah FR KR DR INP
Alkesa Pouteria campechiana 40.000 75.00 31.26 146.263 Bar-bara Ficus septica Burm.f. 20.000 8.33 16.66 44.990 Mengkudu Morinda citrifolia L. 20.000 8.33 24.80 53.134
Pete Parkia speciosa 20.000 8.33 27.28 55.613
Tingkatan Pancang
Nama lokal Nama Ilmiah FR KR DR INP
Alkesa Pouteria campechiana 6.667 6.31 1.393109 14.370 Bambu
Ampel Bambusa vulgaris Schrad 10.000 1.22 21.70016 32.920 Bambu Hias Bambusa glaucescens
Willd Bambu Tali Gigantochloa apus Kurz 6.667 2.44 22.7388 31.845 Bunga
merah Pachystachys coccinea Nees 6.667 29.53 1.179168 37.376 Cabe Piper sarmentosum Mengkudu Morinda citrifolia L. 13.333 4.68 0.856312 18.870 Pacing Costus speciosus J.
Smith 3.333 2.85 1.283948 7.467
Palem Merah
Cyrtostachys lakka Becc..
3.333 0.20 0.570644 4.104 Pete Parkia speciosa 6.667 1.22 14.98527 22.872 Pisang hias Heliconia collinsiana
R.F.Griggs
6.667 2.04 1.625025 10.332
Merah Terong-terongan
Solanum melongena 3.333 3.05 1.283948 7.667
Tingkatan Semai
Nama lokal Nama Ilmiah FR KR DR INP
- Anadendrum sp 1.724 0.08 2.2079805 4.012 - Centrosema
pubescens Benth
1.724 1.51 0.6814755 3.915 - Dioscorea hispida
Dennst
- Polyalthia longifolia (Sonn.) Hook.f.& Thomson
1.724 1.13 0.2453312 3.099
- Syzygium polyanthum
(Wight) Masam 1.724 0.15 0.4361443 2.310
- Zingiber ottensii Valenton
1.724 0.08 0.6814755 2.485 Alkesa Pouteria
campechiana
6.897 8.23 4.2594534 19.386 Bar-bara Ficus septica Burm.f 1.724 0.08 0.6814755 2.485
Bayam-bayaman Amarantus spinosus Linn 1.724 0.08 10.9036076 12.708 Bidani Quisqualis indica L. 3.448 10.50 2.7258790 16.674 Bunga merah Pachystachys
coccinea Nees
3.448 22.58 3.2923470 29.320 Cabe Piper sarmentosum
Roxb
1.724 0.91 1.6370420 4.271
Ceker ayam Tacca palmata Blume 1.724 0.38 1.1516936 3.256 Daun Bahagia Dieffenbachia
seguine Schott
Daun Mawar Rosa chinensis Jacq 1.724 1.13 0.0272590 2.881 Iles-iles Amorphophallus
variabilis BL. 5.172 2.11 2.2900117 9.572
Karet Ficus elastica 1.724 0.68 1.5333198 3.937
Kelapa sawit Elaeis guineensis 6.897 8.46 0.4927276 15.850
Lenca-lencaan Solanum nigrum L. 5.172 6.87 4.8545321 16.897 Mangga Mangifera indica 1.724 0.08 2.7259019 4.530 Oyot-oyotan Plantago lanceolarta
L.
6.897 0.30 0.3831582 7.580 Pacing Costus speciosus 1.724 1.06 1.3356919 4.120 Pete Parkia speciosa 1.724 1.06 5.7312087 8.515 Pisang Heliconia indica
Lamk
1.724 0.08 1.7445772 3.549
Pletekan ungu Physalis peruviana L. 1.724 0.60 0.6814755 3.005 Rambutan Nephelium Syngonium Syngonium sp. 3.448 6.87 10.9021465 21.220 Talas Colocasia esculenta
Schoot 1.724 0.15 4.6067742 6.481
Talas Hias Colocasia sp. 1.724 0.08 0.4361443 2.240 Talas-talasan Xanthosoma roseum 3.448 1.89 4.9671172 10.305 Talas-talasan
Merah Caladium bicolor 1.724 0.45 1.7445772 3.919
Terong-terongan
Tabel Lampiran 3. Kelas NP terhadap jenis tumbuhan pada masing – masing tingkat pertumbuhan.
Nama Lokal Nama Ilmiah Tingkatan Pertumbuhan
Pohon Tihang Pancang Semai
Alkesa Pouteria campechiana IV I V II
Angsana Pterocarpus indicus Willd IV - -
-Apel-apelan Ficus variegate BL. V - -
-Bacang Mangifera foetida Lour III - -
-Bambu Ampel Bambusa vulgaris Schrad - - I
-Bambu Hias Bambusa glaucescens Willd - - III
-Bambu Suling Schizostachyum blumei Nees - - III
-Bambu Tali Gigantochloa apus Kurz - - I
- Bayam-bayaman
Amarantus spinosus L. - - - IV
Belimbing Averrhoa bilimbi L. V - -
-Benda Artocarpus elasticus Reinw I - -
-Beringin Ficus benjamina L. IV - -
-Bunga merah Pachystachys coccinea Nees - - I I
Cabe Piper sarmentosum Roxb - - V V
(sulur)
Daun Mawar Rosa chinensis Jacq - - - V
Iles-iles Amorphophallus variabilis BL.
- - IV IV
Karet Ficus elastica V - - V
Kelapa Sawit Elaeis guineensis V - - III
Keluwek Pangium edule V - -
-Lenca-lencaan Solanum nigrum L. - - - III
Mangga Mangifera indica - - - V
Melinjo Gnetum gnemon V - -
-Mengkudu Morinda citrifolia - V III
-Oyot-oyotan Plantago lanceolarta L. - - - IV
Pacing Costus speciosus J. Smith - - V V
Palem Merah Cyrtostachys lakka Becc.. - - V
-Pete Parkia speciosa V V III IV
Pisang Heliconia indica Lamk - - - V
Pisang hias Heliconia collinsiana
R.F.Griggs - - V
-Pletekan ungu Physalis peruviana L. - - - V
Rambutan Nephelium lappaceum L. II - - IV
Rumput Gajah Pennisetum purpureum - - - IV
Salopa Macaranga pruinosa Miq III - -
-Sawo Manilkara kauki L. V - -
-- Mikania cordata (Burm.f.) B.L.Robinson
- - - V
- Centrosema pubescens Benth - - - V
- Tacca palmata Blume - - - V
- Zingiber ottensii Valenton - - - V
- Anadendrum sp. - - - V
- Dioscorea hispida Dennst - - - V
- Polyalthia longifolia (Sonn.) Hook.f.& Thomson
Syngonium Syngonium sp. - - - II
Talas-talasan Xanthosoma roseum - - V IV Talas-talasan
Merah Caladium bicolor - - IV V
Terong-terongan
Solanum melongena - - IV III
Tridax Tridax procumbens - - - IV
* Keterangan: I = Sangat Tinggi II = Agak Tinggi III = Cukup IV = Rendah
V = Sangat Rendah
Tabel Lampiran 4. Urutan dominansi jenis tumbuhan keadaan NP relatif rata-rata pada masing-masing tingkatan pertumbuhan.
Nama Lokal Nama Ilmiah Nilai Penting Relatif A*
Pohon Tihang Pancang Semai
Alkesa Pouteria
campechiana
20.858 146.263 7.667 19.386 48.543 Angsana Pterocarpus indicus
Willd
23.458 - - - 5.864
Apel-apelan Ficus variegate BL. 14.04 - - - 3.51
Bacang Mangifera foetida
Lour
31.881 - - - 7.970
Bambu Ampel Bambusa vulgaris
Schrad
Bambu Tali Gigantochloa apus
Kurz
- - 31.845 - 7.961
Belimbing Averrhoa bilimbi L. 8.783 - - - 2.196
Benda Artocarpus elasticus
Reinw
48.906 - - - 12.226
Beringin Ficus benjamina L. 18.802 - - - 4.700
Bunga merah Pachystachys
Daun Mawar Rosa chinensis Jacq - - - 2.881 0.720
Iles-iles Amorphophallus
variabilis BL.
- - 13.029 9.572 5.650
Karet Ficus elastica 12.698 - - 3.937 4.159
Kelapa Sawit Elaeis guineensis 12.847 - - 15.85 7.174
Keluwek Pangium edule 9.212 - - - 2.303
Lenca-lencaan Solanum nigrum L. - - - 16.897 4.224
Mangga Mangifera indica - - - 4.53 1.132
Melinjo Gnetum gnemon 11.832 - - - 2.958
Mengkudu Morinda citrifolia - 53.134 18.870 - 18.001
Oyot-oyotan Plantago
lanceolarta L.
- - - 7.58 1.895
Pacing Costus speciosus J.
Smith
- - 7.467 4.12 2.897
Palem Merah Cyrtostachys lakka
Becc.. - - 4.104 - 1.026
Pete Parkia speciosa 8.695 55.613 22.872 8.515 23.924
Pisang Heliconia indica
Pletekan ungu Physalis peruviana
L.
- - - 3.005 0.751
Rambutan Nephelium
lappaceum L.
40.647 - - 10.269 12.729
Rumput Gajah Pennisetum
purpureum
- - - 9.1 2.275
Sawo Manilkara kauki L. 11.778 - - - 2.944
Syngonium Syngonium sp. - - - 21.22 5.305
Talas Colocasia esculenta
Schoot
- - - 6.481 1.620
Talas Hias Colocasia sp. - - - 2.24 0.56
Talas-talasan Xanthosoma roseum - - 6.754 10.305 4.265
Talas-talasan
Merah Caladium bicolor - - 16.324 3.919 5.061
Terong-terongan Solanum melongena - - 14.370 17.008 7.844
Tridax Tridax procumbens - - - 10.61 2.652
Tabel Lampiran 5. Perbandingan H’ antara masing-masing tingkatan pertumbuhan dengan Uji Hutchcinson.
Tingkatan
Pertumbuhan thitung db ttabel (α=0,05,db=~) Kesimpulan
Pohon - Tihang 5.44 18.75 2.093 Berbeda nyata, tolak H0,
terdapat perbedaan Pohon – Pancang 2.00 39.75 2.021 Tidak berbeda nyata,
terima H0, tidak terdapat
perbedaan
Pohon – Semai 2.30 38.33 2.021 Berbeda nyata, tolak H0,
terdapat perbedaan
Tihang – Pancang 4.28 12.66 2.179 Berbeda nyata, tolak H0,
terdapat perbedaan
Tihang – Semai 7.00 12.52 2.179 Berbeda nyata, tolak H0,
Pancang - Semai 11.00 1146.67 1.960 Berbeda nyata, tolak H0,
terdapat perbedaan
Tabel Lampiran 6. Besarnya indeks kesamaan komposisi jenis antar tingkat pertumbuhan komunitas tumbuhan di kawasan konservasi Taman Margasatwa Ragunan.
Kesamaan jenis Indek Kesamaan
Pohon – Tihang 26.67
Pohon – Pancang 14.82
Pohon – Semai 23.81
Tihang – Pancang 40.00
Tihang – Semai 17.14