KARAKTERISTIK PENCAHAYAAN TERKAIT PENERAPAN
ELEMEN EKO-ARSITEKTUR PADA RUMAH TINGGAL
Yon Permana Putra
Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara Jl. Perpustakaan Gedung D Kampus USU Padang Bulan, Medan
Email : [email protected]
ABSTRAK
Di Kota Medan terdapat beberapa bangunan arsitektur modern yang telah menerapkan pendekatan ekologis sebagai upaya membangun keseimbangan antara manusia, ruang, dan lingkungan. Konsep/ide tentang eko-arsitektur ini sangat relevan mengingat bahwa saat ini bangunan yang ramah lingkungan banyak digemari oleh masyarakat. Trend eko-arsitektur lebih mengarah pada optimalisasi bukaan untuk mendapatkan pencahayaan yang alami. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pencahayaan terkait penerapan elemen eko-arsitektur pada rumah tinggal. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan karakteristik pencahayaan yang terdapat pada rumah tinggal di jl.bahagia no.15, medan. Hasil analisa menunjukan bahwa pencahyaan berpengaruh pada suasana di setiap ruangan hal ini dikarenakan bukaan yang berbeda di setiap ruangan pada rumah tinggal. Berdasarkan studi, pencahayaan merupakan elemen eko-arsitektur yang paling berpengaruh pada kenyamanan penghuni di dalam rumah. Pencahayaan yang ekologis terjadi pada waktu tertentu dan membuat beberapa ruangan pada rumah tinggal ini terasa nyaman.
Kata Kunci : Eko-arsitektur, Pencahayaan Ekologis
ABSTRACT
In Medan there are some modern architectural buildings that have implemented an ecological approach as an effort to establish a balance between people, space, and environment. Concept / idea of eco-architecture is particularly relevant given that the current environmentally friendly building much loved by the people. Trend eco-architecture is more directed at optimizing the openings to get natural light. Therefore, this study aimed to identify how the application of openings in residences and their effects on occupant comfort. The method used is qualitative research methods to describe the kind of openings that are in residences in the city of Medan. Analiasa results showed that lighting effect on the atmosphere in every room of this is due to the different openings in every room in the residence. Based on studies, the lighting is eco-architectural elements that most influence on the comfort of the occupants in the house. Ecological lighting occurs at certain times and make some room in this house feels comfortable.
Keyworsds : Eco-architecture, Ecological Lighting
PENDAHULUAN
Pemahaman, pengembangan ilmu dan upaya terapan pembangunan yang ekologis di negara maju sudah cukup tinggi. Di Indonesia, hal tersebut telah menjadi wacana dan rencana strategis, meskipun kesadaran pembangunan modern yang ekologis dan terapan konkritnya belum cukup. Bangunan dengan konsep arsitektur ekologis yang selalu diidentikkan dengan stigma “back to nature“ dan penggunaan material kayu pada bangunan telah
mengalami perkembangan trend arsitektur ekologis yang mengarah pada optimalisasi dari teknologi bangunan, terutama dalam hal efisiensi penggunaan energy salah satunya dengan pencahayaan alami di dalam rumah.
langsung akan menentukan taraf kesejahteraan dan kualitas hidup manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, suatu hunian pada hakekatnya dapat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan orang-orang yang tinggal didalamnya. Oleh karena pencahayaan matahari di daerah tropis mengandung gejala sampingan dengan sinar panas, maka di daerah tropis tersebut manusia sering menganggap ruang yang agak gelap sebagai sejuk dan nyaman. karena pencahayaan buatan dengan lampu dan sebagainya mempengaruhi kesehatan manusia, maka dibutuhkan pencahayaan alam yang terang tanpa kesilauan dan tanpa sinar panas.
Objek yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah sebuah rumah tinggal berlokasi di Jl. Bahagia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana penerapan bukaan pada rumah tinggal dan apakah konsep pencahayaan tersebut berpengaruh terhadap kenyamanan penghuninya. didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dan lingkungannya.( Frick, 2007). Atas dasar pengetahuan dasar-dasar ekologi maka arsitektur dikembangkan supaya selaras dengan alam dan kepentingan manusia sebagai penghuninya
Pembangunan rumah atau tempat tinggal sebagai kebutuhan hidup manusia dalam hubungan timbal balik dengan lingkungan alamnya dinamakan arsitektur ekologis atau eko-arsitektur (Frick, 2007). Eko-arsitektur meliputi keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya. Seluruh lingkungan alam berada dalam suatu keseimbangan ekologis. Hubungan antara makhluk hidup, lingkungan biotik dan lingkungan abiotik harus seimbang agar tercipta suatu hubungan yang harmonis dan stabil. Mutu lingkungan yang baik adalah bilamana lingkungan tersebut dapat membuat orang merasa nyaman hidup di dalam
lingkungan itu. Perasaan nyaman itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain iklim, suhu dan factor alamiah lainnya yang sesuai (Frick,2007).
Sementara itu Satwiko (2005) dalam Handayani (2010) menyimpulkan dari hasil pengamatannya bahwa banyak bangunan baru mengabaikan aspek-aspek fisika bangunan dan lebih menitikberatkan pada segi penampilan visual saja. Akibatnya banyak bangunan yang indah tetapi tidak nyaman dihuni. Lebih lanjut Satwiko (2005) menjelaskan bahwa perancangan ventilasi, pencahayaan, dan akustika adalah salah satu cara mengusahakan agar bangunan-bangunan kita tidak saja indah, namun juga sehat dan nyaman. Contohnya: bangunan sedapat mungkin berada di tengah lahan sehingga semua sisi terkena oleh hembusan angin; usahakan ventilasi dapat berlangsung 24 jam; hindari bangunan berdenah rumit; bukaan diusahakan selebar-lebarnya untuk memberi keleluasaan angin bergerak di dalam ruang, namun bukaan ini harus terlindung dari sinar langsung matahari yang akan memanaskan udara ruangan.
PENCAHAYAAN PADA RUMAH TINGGAL
Selain pencahayaan alami, pencahayaan buatan juga mempengaruhi kesehatan manusia. Maka dibutuhkan pencahayaan alami yang terang tetapi tidak menimbulkan silau. Pencahayaan memungkinkan pengalaman ruang melalui mata dalam hubungannya dengan pengalaman perasaan. Pencahayaan (penerangan alami maupun buatan) dan pembayangan mempengaruhi orientasi di dalam ruang
.
Gambar 8. Pencahayaan dan bayangan mempengaruhi orientasi di dalam ruang
Oleh karena pencahayaan matahari di daerah tropis mengandung gejala sampingan dengan sinar panas, maka di daerah tropis tersebut manusia sering menganggap ruang yang agak gelap sebagai sejuk dan nyaman. Akan tetapi, untuk ruang kerja ketentuan tersebut melawan kebutuhan cahaya untuk mata manusia. Karena pencahayaan buatan dengan lampu dan sebagainya mempengaruhi kesehatan manusia, maka dibutuhkan pencahayaan alam yang terang tanpa kesilauan dan tanpa sinar panas.
Untuk memenuhi tuntutan yang berlawanan ini, maka sebaiknya sinar matahari tidak diterima secara langsung, melainkan dicerminkan/dipantulkan sinar tersebut dalam air kolam (kehilangan panasnya) dan lewat langit-langit putih berkilap yang menghindari penyilauan orang yang bekerja di dalam ruang (Susilowati dan Ramanadhia).
Gambar 1. Gedung perkantoran atau industri bertingkat yang menggunakan pencahayaan alam tanpa
sinar panas dan tanpa penyilauan
(Sumber : Heinz Frick. Fx Bambang Suskiyanto, 2007)
Pencahayaan pada ruang dalam bangunan umumnya diperoleh dari atas (lubang dinding). Dalam prakteknya perlubangan cahaya dari atap sangat bervariasi tergantung dari fungsi bangunan yang ada. Demikian pula pelubangan lubang pada dinding (perletakan pada jendela) bervariasi dipengaruhi oleh bentuk bangunan yang ada. Bagaimanapun juga pelubangan bangunan untuk cahaya alam akan berdampak pada kesilauan, untuk itu pemilihan bahan transparan penutup lubang seperti kaca atau bahan lain perlu diperhitungkan untuk mereduksi kesilauan tersebut.
Gambar 2. Pencahayaan Dari Lubang Atap (Sumber : Heinz Frick. Fx Bambang Suskiyanto, 2007)
Cahaya dari samping, melalui jendela, sering tidak optimal karena keterbatasan jangkauannya. Semakin dalam ruangan semakin jauh dari jendela, maka semakin gelap. Delam hal ini ada kemungkinan mempertinggi jendela atau memberi cahaya dari dua arah sebagai berikut.
Gambar 3. Pencahayaan Dari Lubang Jendela (Sumber : Heinz Frick. Fx Bambang Suskiyanto, 2007)
METODE PENELITIAN
Untuk mengetahui karakteristik pencahayaan pada rumah tinggal di Jl. Bahagia digunakan metode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan pencahayaan ekologis yang terdapat pada rumah tinggal dan menganalisanya. Data diperoleh melalui dua cara yaitu, data primer dengan observasi lapangan dan data sekunder berupa data literatur terkait penelitian. Adapun variabel yang diteliti adalah penerapan elemen eko-arsitektur pencahayaan yang digunakan dengan analisa data deskriptif yang mengolah dan mengembangkan informasi yang diperoleh dari data primer dan sekunder.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dulam yang berusia 61 tahun dan Ethika Ashari yang berusia 57 tahun. Alasan pemilik rumah mengkonsep rumah ialah ingin mendapatkan pencahayaan yang merata dan tidak terlalu gelap serta sirkulasi udara yang alami dan baik untuk kesehatan rumah. Rumah ini terdiri dari 3 kamar tidur anak, 1 kamar tidur utama, 1 kamar tidur tamu, ruang makan, pantry, dapur, mushola. Rumah ini memiliki 2 lantai yang luas pada site ini berukuran 27 m x 12 m.
Gambar 4. Peta Lokasi Jl. Bahagia No. 15
Posisi bangunan Rumah Tinggal di Jl. Bahagia ini menghadap dari timur ke barat dimana posisi bangunan menguntungkan karena posisi depan rumah mengarah ke arah timur. Orientasi bangunan ini mengarah dari timur ke barat karena posisi terbit nya dimulai dari timur menuju ke barat.
Gambar 5. Orientasi Bangunan Rumah Tinggal Jl. Bahagia
Gambar 6. Pembagian Ruang Berdasarkan Orientasi Matahari Pada Lantai I
Gambar 7. Pembagian Ruang Berdasarkan Orientasi Matahari Pada Lantai II
Pencahayaan pada bangunan Rumah Tinggal ini memiliki suasana yang berbeda pada setiap jam dikarenakan orientasi matahari pada rumah tinggal ini mengarah ke setiap ruangan yang berbeda pada letak posisi tiap ruang yang membuat orientasi matahari pada rumah tinggal ini terbit dari bagian depan ruangan (timur) hingga tenggelam pada bagian belakang ruangan (barat).
Dengan demikian peneliti melakukan objek pencahayaan pada ruang tertentu. Ruang yang dipilih sebagai objek pencahayaan adalah :
Kamar tidur utama, yang letakGambar 8. Pencahayaan Terkait Sinar Matahari Pada Kamar Utama
Ruang tamu, yang letak ruangan ini berada pada bagian paling belakang ruangan yang mengarah ke barat dan berada di lantai 1Gambar 9. Pencahayaan Terkait Sinar Matahari Pada Ruang Tamu
Kamar tidur anak1, yang letak ruangan ini berada pada bagian paling belakang ruangan yang mengarah ke barat dan berada di lantai 2 dan bersebelahan dengan kamar tidur anak 2.
Gambar 10. Pencahayaan Terkait Sinar Matahari Pada Kamar Tidur Anak 1
PENCAHAYAAN PADA KAMAR TIDUR UTAMA
Pencahayaan pada kamar tidur utama memiliki 2 jendela yaitu jendela yang mengarah ke bagian timur dan jendela yang mengarah pada bagian selatan. Menurut dari teori yang ada, pencahayaan pada bagian timur menggunakan pencahayaan lewat lubang pintu di tengah dinding dan pada pada bagian selatan menggunakan pencahayaan lewat sudut ruang.
Gambar 11. Penjelasan dan Arah Jendela Kamar Tidur Utama
Untuk mengetahui pencahayaan pada kamar tidur utama melalui orientasi matahari menurut jam tertentu, peneliti melakukan sebuah objek berupa sebuah gambar dan sebuah ilustrasi sebagai berikut:
Pencahayaan Ruang Tamu Pada Jam
9 Pagi
Gambar 13. Ilustrasi Suasana Pencahayaan Pada Kamar Tidur Utama
Pencahayaan pada kamar tidur utama jam 9 menerangi hampir keseluruhan ruang tersebut. Hal tersebut terjadi karena orientasi matahari pada jam 9 masih berada di bagian timur, sehingga cahaya yang pada ruangan ini masuk dengan sepenuhnya.
Pencahayaan Ruang Tamu Pada Jam
4 Sore
Gambar 14. Suasana Pencahayaan Pada Kamar Tidur Utama
Gambar 15. Ilustrasi Suasana Pencahayaan Pada Kamar Tidur Utama
Pencahayaan pada kamar tidur utama jam 4 sore menjadi lebih gelap terhadap ruang tersebut. Hal tersebut terjadi karena orientasi matahari pada jam 10 sudah berada di bagian barat, sehingga pada jam 4 sore
ruangan ini menjadi gelap dan kurang bercahaya.
Gambar 16. Pencahayaan Dari Ruang Sirkulasi
Pencahayaan juga terdapat pada ruang sirkulasi yang juga berfungsi sebagai ruang pengudaraan. Pencahayaan di ruang sirkulasi menerangi ruangan dengan baik apabila orientasi matahari berada pada siang hari.
PENCAHAYAAN KAMAR RUANG TAMU
Pencahayaan pada ruang tamu melalui 4 jendela yaitu 1 jendela yang mengarah ke bagian barat, 2 jendela yang mengarah pada bagian selatan dan 1 jendela pada ruang transisi. pencahayaan pada bagian timur menggunakan pencahayaan lewat lubang pintu di tengah dinding dan pada pada bagian selatan menggunakan pencahayaan lewat sudut ruang dinding.
Gambar 17. Penjelasan dan Arah Jendela Ruang Tamu
sebuah objek berupa sebuah gambar dan sebuah ilustrasi sebagai berikut:
Pencahayaan Ruang Tamu Pada Jam 9
Pagi
Gambar 18. Suasana Pencahayaan Pada Ruang Tamu
Gambar 19. Ilustrasi Suasana Pencahayaan Pada Ruang Tamu
Pencahayaan ruang tamu jam 9 pagi kurang cahaya dan terasa gelap terhadap ruang tersebut. Hal ini terjadi karena orientasi matahari pada jam 9 berada di depan bangunan, sedangkan ruang ini berada di bagian belakang atau menghadap ke barat dan akibatnya ruangan ini menjadi gelap pada waktu tersebut.
Pencahayaan Ruang Tamu Pada Jam 4
Sore
Gambar 20. Suasana Pencahayaan Pada Ruang Tamu
Gambar 21. Ilustrasi Suasana Pencahayaan Pada Ruang Tamu
Pencahayaan pada ruang tamu jam 4 sore menjadi lebih terang dan menerangi hampir seluruh bagian ruangan tersebut karena orientasi matahari akan tenggelam pada bagian barat, sehingga ruang tamu tamu yang menghadap bagian barat menjadi terang dari waktu sebelum nya.
PENCAHAYAAN KAMAR TIDUR ANAK 1
Pencahayaan pada kamar tidur anak hanya memiliki 1 jendela yaitu jendela yang mengarah ke bagian barat. Menurut dari teori yang ada, pencahayaan pada bagian barat menggunakan pencahayaan lewat lubang pintu di tengah dinding dan bagian atas pintu dinding.
Gambar 22. Penjelasan dan Arah Jendela Kamar Tidur Anak 1
Pencahayaan Ruang Tamu Pada Jam 9
Pagi
Gambar 23. Suasana Pencahayaan Kamar Tidur Anak 1 pada Jam 9 pagi
Gambar 24. Ilustrasi Pencahayaan Kamar Tidur Anak 1 pada Jam 9 pagi
Pencahayaan kamar tidur anak jam 9 pagi kurang bercahaya dan terasa gelap terhadap ruang tersebut. Hal ini terjadi karena orientasi matahari pada jam 9 berada di depan bangunan, sedangkan ruang ini berada di bagian belakang atau menghadap ke barat dan akibatnya ruangan ini menjadi gelap pada waktu tersebut.
Pencahayaan Ruang Tamu Pada Jam 4
Sore
Pencahayaan kamar tidur anak jam 4 sore menjadi lebih bercahaya dan hampir menerangi ke seluruhan pada ruangan tersebut. Hal ini dikarenakan orientasi matahari sudah berpindah menuju ke arah barat atau belakang bangunan ini yang letak ruangan ini berada di belakang bangunan sehingga ruangan tersebut berhadapan langsung dengan posisi matahari.
Gambar 25. Suasana Pencahayaan Kamar Tidur Anak 1 pada Jam 4 sore
Gambar 26. Ilustrasi Pencahayaan Kamar Tidur Anak 1 pada Jam 4 sore
Dengan demikian pencahayaan yang ekologis pada ketiga objek penelitian tersebut terjadi pada saat jam tertentu dan tidak setiap waktu hal itu terjadi karena perubahan orientasi matahari pada rumah tinggal ini mengubah rasa kenyaman pada pemilik rumah tinggal.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA