Peluang dan Tekanan untuk Berinovasi dalam Industri Jamu
Opportunities and Pressures to Innovate in Herbal Medicine Industry
Ikbal Maulana
Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (PAPPIPTEK – LIPI) Jl. Jend. Gatot Subroto No. 10
Telp. 021- 5225206, Fax: 021-5201602 Email: [email protected]
Keyword A B S T R A C T
Indonesian jamu industries, testing, innovation,
traditional claim
Industry of herbal medicines has high growth potential in Indonesia, because Indonesian biodiversity provides a huge amount of raw materials for the industry, and a large market which believe in the efficacy and safety of herbal medicine. The lack of requirement of proving the efficacy of herbal medicine, simply relying on the claims of the community, eases the industry to generate new products. But on the other hand, it is also easier for competitors from other industries (e.g. industry of conventional medicine) to enter herbal medicine industry, and in the long run unproven claims will reduce public confidence in the herbal medicine industry. New regulations have been enacted to increase public confidence in herbal medicine. The first regulation expects herbal medicine companies to implement good manufacturing practice. The second one introduces additional categories of preclinically and clinically tested herbal medicines: standardized herbal medicine and phytopharmaca. However, most of herbal medicine companies cannot implement good manufacturing practice. Even producers of conventional medicines are more ready to take advantages of both regulations due to their long experience in fulfilling the requirements of standardized production and testing. While the government's initiative of scientification of herbal medicine, which is expected to improve the reputation of herbal medicine among health practitioners does not attract herbal medicine industry because it only promote herbal medicines in the form of dried plant (simplisia)
Kata Kunci S A R I K A R A N G A N
industri jamu Indonesia, klaim turun-temurun, pengujian, inovasi.
Industri jamu memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi di Indonesia, karena keanekaragaman hayati Indonesia menyediakan sumber bahan baku yang berlimpah bagi industri, serta besarnya pasar yang mempercayai khasiat dan keamanan jamu. Tiadanya persyaratan bagi pembuktian khasiat jamu, cukup hanya mengandalkan klaim dari masyarakat, memudahkan industri menghasilkan produk-produk baru. Namun di pihak lain, hal ini juga memudahkan pesaing dari industri lain (industri obat konvensional) untuk memasuki industri jamu, dan dalam jangka panjang klaim yang tidak terbukti akan menurunkan kepercayaan masyarakat pada industri jamu. Regulasi-regulasi baru sudah ditetapkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat pada jamu. Regulasi pertama menghendaki perusahaan jamu untuk menerapkan cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB). Regulasi kedua memperkenalkan kategori baru dari obat herbal yang sudah diuji secara praklinis dan klinis, yakni obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka. Namun, mayoritas industri jamu tidak bisa menerapkan CPOTB. Bahkan produsen obat konvensional lebih siap mengambil manfaat dari kedua regulasi tersebut dikarenakan pengalaman panjang mereka dalam memenuhi persyaratan produksi baku dan pengujian. Sementara inisiatif pemerintah dalam saintifikasi jamu, yang diharapkan bisa menaikkan citra jamu di kalangan praktisi kesehatan, tidak menarik industri jamu karena ini hanya mempromosikan jamu dalam bentuk bahan tanaman yang dikeringkan (simplisia).
© Forum Tahunan Pengembangan Iptek dan Inovasi Nasional VI, Tahun 2016
1.PENDAHULUAN
Berbagai jenis tanaman telah dimanfaatkan masyarakat di berbagai belahan dunia untuk pengobatan jauh sebelum obat kimia dikenal. Menurut Ramawat et al. (2009), sistem pengobatan Ayurveda dari India diduga dikembangkan antara 2500 dan 500 SM. Sementara sistem pengobatan tradisional Cina seperti Yellow Emperor’s Inner Classic (Hung Di Nei Jing) dikembangkan antara 200 SM sampai 100 M; sedangkan Divine Husband-man’s Classic of Materia Medica (Shen Nong Ben Cao Jing) dikembangkan antara 25-220 M. Di Indonesia sendiri, obat herbal yang kini lebih dikenal sebagai jamu telah digunakan secara luas oleh berbagai suku di Indonesia. Meskipun pendokumentasiannya masih lemah, sehingga asal-usulnya sulit dilacak secara pasti, tapi sudah dikenal naskah-naskah kuno mengenai jamu, antara lain di Jawa disebut husodo, dan di Bali disebut Usada.
Selain pasar dalam negeri yang besar, dan relatif tidak terganggu persaingan dari pemain asing, ekspor industri jamu juga meningkat. Pada tahun 2002 ekspor jamu Indonesia telah mencapai AS$ 29 juta (Indonesian Commercial Newsletter; November 5, 2002 dikutip dalam ITC, 2005). Sedangkan menurut Sampurno (2007) pertumbuhan obat herbal selama 5 tahun terakhir rata-rata 15 persen dan sebagian besar dipasarkan di dalam negeri. Ini dikarenakan ketersediaan bahan baku lokal yang melimpah. Secara internasional peningkatan ekspor jamu atau obat herbal makin terbuka seiring dengan makin populernya di banyak masyarakat, termasuk di negara maju, untuk “kembali ke alam”. Ini bisa dibandingkan dengan ekspor obat moderen yang juga sudah lama dilakukan Indonesia, namun karena persaingan dengan Cina yang merupakan pemasok penting bahan baku obat, dan India yang unggul dalam produksi obat generik, ekspor obat dari Indonesia tidak begitu berarti sehingga BPS memasukkannya ke dalam lain-lain (others) dalam data statistik nasional (ITC, 2005).
Persyaratan yang lebih longgar untuk mendapatkan ijin edar bagi jamu atau obat herbal membuat pengembangan obat herbal lebih mudah dilakukan. Ini bisa dilihat dari jumlah obat herbal
yang sudah diregistrasi di BPOM pada 23 April 2012 sebesar 10.526 yang jauh melampaui obat konvensional yang berjumlah 1.663 (Laporan Tahunan Badan POM 2011), walaupun pada tahun 2013 jumlah obat yang teregistrasi sebesar 2596 melebihi obat herbal yang berjumlah 17562. Dilihat dari pertimbangan ekonomi, obat konvensional merupakan tiruan dari obat Barat yang patennya sudah kadaluarsa namun masih menggantungkan bahan baku impor. Sementara obat obat herbal lebih mengandalkan pada bahan baku lokal.
Pertumbuhan pasar internasional dari obat herbal tidak diimbangi dengan pengembangan standar yang diterima secara internasional dan metoda yang sesuai untuk mengevaluasinya, padahal isu keamanan dan manfaat obat herbal, termasuk masalah pengendalian kualitas menjadi perhatian baik otoritas kesehatan maupun masyarakat (WHO, 2005, hal. iii).
Tidak adanya standar yang diterima secara internasional, membuat pasar obat herbal lebih mengandalkan pertumbuhannya di negara asalnya masing-masing. Di satu sisi, pasar masing-masing jadi terlindungi dari persaingan dengan obat tradisional pihak luar. Namun, di sisi lain perluasan pasar juga sulit dilakukan. Tanpa standar internasional dan metoda pengujian obat herbal, persaingan terbesar bukan antar-obat herbal, tetapi antara obat herbal dengan obat konvensional atau kimia. Jika masalah standar dan metoda evaluasi ini tidak diselesaikan, cepat atau lambat masalah ini akan merugikan industri obat herbal, karena ketiadaan legitimasi dan pembuktian ilmiahnya.
Setiap industri harus bisa bertahan, dan satu cara terpenting dalam bertahan adalah dengan melakukan inovasi. Industri jamu memiliki tantangan besar, yakni belum diterima oleh sistem pelayanan kesehatan nasional. Selain itu, industri jamu tidak akan bisa terus-menerus tumbuh jika hanya mengandalkan formulasi lama. Karena itu inovasi di berbagai aspek industri perlu dilakukan dalam industri ini. Tekanan terhadap industri jamu untuk melakukan
2 Dilihat dari yang ditayangkan di situs Badan POM
(www.pom.go.id) pada 11 Desember 2013.
199
inovasi datang dari pasar, pesaing, baik intra- maupun antar-industri, serta regulator.
Makalah ini akan mengupas peluang serta tekanan terhadap industri jamu untuk melakukan inovasi. Kondisi industri, persaingan di dalam maupun antar-industri, dan regulasi bisa memberi ruang sekaligus ancaman bagi pelaku-pelaku industri jamu. Peluang bagi satu perusahaan, bisa menjadi ancaman bagi perusahaan lain. Peluang yang terjadi saat ini bisa menjadi ancaman di masa mendatang.
2. STUDI PUSTAKA
2.1 Perkembangan Jamu di Beberapa Negara
Jamu telah digunakan cukup lama oleh masyarakat. Cara pembuatan dan apa khasiatnya umumnya diajarkan secara lisan dari generasi ke
generasi. Banyak masyarakat yang
menyimpulkan dari sepanjang pengalaman mereka menggunakannya, jamu tidak memiliki efek samping. Kepercayaan ini lebih kuat lagi pada obat herbal yang pendokumentasiannya lengkap, seperti sistem pengobatan herbal India dan Cina, yang sudah dikembangkan dan dimanfaatkan sejak sebelum Masehi. Ciri utama dari obat herbal ini dibandingkan dengan obat konvensional Barat adalah efek multi-sasaran dari obat herbal ini (pendekatan holistik) yang merupakan basis mendasar dari penggunaannya (Ramawat, 2009, hal. vii). Hal ini dikarenakan “Satu tanaman obat bisa mengandung ratusan penyusun alami, dan produk obat herbal campuran bisa mengandung beberapa kali dari jumlah tersebut. Jika setiap kandungan aktif harus diisolasi dari setiap bahan tanaman, waktu dan sumberdaya yang dibutuhkannya akan sangat besar. Analisis seperti itu dalam praktik adalah tidak mungkin, terutama dalam hal obat herbal campuran”3 (WHO, 2005, hal. iii).
Pengobatan obat herbal yang multi-sasaran menuntut metoda evaluasi yang berbeda dari obat
3 “A single medicinal plant may contain hundreds of
natural constituents, and a mixed herbal medicinal product may contain several times that number. If every active ingredient were to be isolated from every herb, the time and resources required would be tremendous. Such an analysis may actually be impossible in practice, particularly in the case of mixed herbal medicines.”
konvensional yang bersasaran tunggal. Pendekatan obat herbal yang holistik ini di mata pendukungnya dianggap tepat karena sistem biologi dari tubuh manusia juga bersifat holistik. Karena itu pendekatan yang tepat adalah dengan melakukan pengamatan, pengukuran sebanyak mungkin parameter dalam sistem biologi dan sesudah itu menggunakan chemometrics untuk mengungkapkan makna dari data. Pendekatan ini telah berhasil digunakan untuk mempelajari tanaman obat-obatan dan obat-obatan berbasis alam klasik (Verpoorte , 2009).
Pendekatan yang multi-sasaran inilah yang membuat sistem pengobatan Ayurveda menarik perhatian untuk mengobati penyakit yang tidak ada obat moderen yang memadai untuk mengatasinya seperti penyakit yang disebabkan penyimpangan metabolik atau penyakit degeneratif. Penyakit-penyakit seperti ini memiliki penyebab multi-faktor. Dalam kondisi seperti ini kombinasi dari sejumlah obat yang bereaksi secara serentak dianggap lebih efektif daripada obat yang hanya mengarah pada satu sasaran (Ramawat dkk, 2009, hal. 10). Obat tradisional baik Ayurveda, TCM maupun jamu menggunakan pendekatan multi-sasaran, karena setiap tanaman obat memiliki kandungan yang beragam.
Selain karena filosofinya yang berbeda, cara evaluasi yang reduksionis dari metoda pengobatan Barat jika diterapkan pada jamu akan memakan waktu dan biaya yang sangat besar, karena cara pengobatan moderen ini dilakukan dengan mengisolasi senyawa dalam keadaan paling murni dan mengevaluasi sifat-sifat farmakologinya. Cara ini sudah diterapkan pada penemuan obat moderen dari bahan alami, termasuk herbal, yang diperkirakan bisa membutuhkan biaya sampai AS$500 juta, dan sangat memakan waktu 5 sampai 6 tahun pada tahun 1980-an dan menjadi 15 sampai 22 tahun di abad 21 ini (Ramawat et al., 2009, hal. 13). Ketiadaan standar pengujian internasional membuat obat herbal memiliki beragam status regulatory dan istilah. Ada negara yang bersedia menganggapnya sebagai obat untuk diresepkan (prescriptive medicine), ataupun obat yang dijual bebas atau over-the-counter (OTC), namun ada
200 Forum Tahunan Pengembangan Iptek dan Inovasi Nasional VI, Tahun 2016
yang hanya menganggapnya sebagai makanan pelengkap (supplement), makanan kesehatan, makanan fungsional, phytoprotectant, atau istilah lain. Tidak ada konsistensi dalam penggunaan istilah ini dari satu negara ke negara lain (Robinson & Zhang, 2011, hal. 1). Beragamnya pengistilahan ini, menunjukkan beragamnya penerimaan obat herbal oleh otoritas kesehatan di berbagai negara (WHO, 2002):
(1) Ada negara yang memberlakukan sistem integratif, di mana obat herbal dan obat tradisional lainnya, terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan nasional, yang tersedia di rumah sakit dan bisa dibiayai perusahaan asuransi. Juga ada kegiatan litbang maupun pendidikan formal di bidang pengobatan tradisional ini. Negara yang menganut sistem ini adalah Cina, Korsel, Korut dan Vietnam.
(2) Ada negara yang memberlakukan sistem inklusif, yakni mengakui sistem pengobatan
tradisional, namun belum
mengintegrasikannya secara penuh ke dalam semua aspek pelayanan kesehatan, pendidikan maupun pelatihan. Asuransi kesehatan masih belum mengganti perawatan dengan pengobatan tradisional, pendidikan pengobatan tradisional juga belum tersedia sampai tingkat universitas, dan tidak ada regulasi ataupun regulasinya masih parsial. Jadi, berbagai aspek ini masih dalam fase transisi, dan bisa mengarah menjadi sistem integratif. Negara berkembang yang menganut sistem inklusif adalah Equatorial Guinea, Nigeria dan Mali yang memiliki kebijakan pengobatan tradisional nasional namun tidak atau sedikit memiliki regulasinya. Sedangkan negara maju seperti Kanda dan Inggris tidak memiliki pendidikan tingkat universitas di bidang ini, namun membuat upaya terpadu untuk menjamin kualitas dan keamanan pengobatan tradisional.
(3) Ada negara yang menganut sistem toleran, yang sistem pelayanan kesehatannya didasarkan sistem kedokteran moderen, namun tidak melarang penggunaan obat tradisional di masyarakat.
2.2 Perkembangan Jamu di Indonesia
Jamu memiliki sejarah panjang di Indonesia. Di Bali penulisan tentang jamu di daun lontar sudah dilakukan sejak abad 11, dan pada abad 14 dan 15 sudah tersebar luas di masyarakat (Connor, 2008). Penulisan di daun lontar in rentan termakan waktu, karena itu setiap 30 tahun sekali dilakukan penulisan ulang di daun lontar yang baru. Di Jawa, buku yang berisi racikan jamu pertama kali muncul pada tahun 1831, yakni Serat Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi. Buku ini memuat 1700 jenis ramuan pengobatan (Jumarani, 2009). Namun, masyarakat Jawa sudah mengenal jamu jauh sebelum ditulisnya buku ini. Namun, meskipun masyarakat telah terlebih dahulu mengenal jamu, reputasinya sebagai sesuatu yang bisa diandalkan untuk mengatasi masalah kesehatan, akhirnya dilampaui oleh cara pengobatan barat yang diperkenalkan Belanda yang mengandalkan obat kimia.
Indonesia awalnya adalah negara yang menganut sistem toleran, namun kini mulai mengupayakan untuk menggunakan sistem inklusif. Ini ditunjukkan dengan diakomodasinya fitofarmaka dalam sistem kesehatan moderen, serta adanya upaya saintifikasi jamu. Dari segi bahan baku obat herbal, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya dari Cina atau India; secara tradisi penggunaan jamu sudah meluas di masyarakat, sehingga pasar dan industrinya tidak bisa diabaikan oleh pemerintah. Karena itulah, baik dari perspektif pelayanan kesehatan maupun ekonomi, Indonesia harus mengembangkan kebijakan dan strategi untuk mengoptimalkan pemanfaatan jamu. Dari 191 negara anggota WHO hanya 25 anggota yang mengembangkan kebijakan mengenai pengobatan tradisional (WHO, 2002). Manfaat dari kebijakan ini adalah:
“... memberikan dasar yang kuat untuk mendefinisikan peran pengobatan tradisional dalam pelayanan perawatan kesehatan nasional, memastikan agar mekanisme peraturan dan legal diciptakan untuk mempromosikan dan memelihara praktik baik, bahwa akses diperoleh dengan cara yang sama/adil, dan keotentikan, keamanan
201
dan manfaat dari terapi bisa dipastikan. Ini juga bisa membantu meyakinkan penyediaan sumberdaya finansial yang cukup bagi penelitian, pendidikan dan pelatihan” (WHO, 2002, hal.3).
Hal lain yang lebih menekan industri jamu dibandingkan pada industri obat konvensional adalah persoalan kelembagaan. Industri jamu dan obat konvensional ada di dalam lingkup Kementerian Kesehatan, bukan Kementerian Perindustrian. Kementerian Kesehatan lebih berfokus pada penyediaan sistem pelayanan kesehatan – termasuk di dalamnya adalah obat-obatan – yang bisa diandalkan sekaligus terjangkau, bukan pada menumbuhkan industri. Pernyataan “bisa diandalkan” mengimplikasikan adanya cara pengujian yang dianggap sahih, ataupun diterima secara internasional. Cara pengujian seperti ini tidak dimiliki industri jamu, oleh karena itu industri jamu saat ini masih belum menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang menjadi bagian dari kebijakan pemerintah.
2.3 Masalah-Masalah dalam Pengembangan Jamu
Ulasan pustaka menunjukkan bahwa dalam pengembangan industri jamu terdapat masalah-masalah sebagai berikut:
Pertama, tidak adanya standar internasional menyebabkan pengembangan obat tradisional sangat dipengaruhi oleh budaya, tradisi dan bukti empiris yang dikenali masyarakat pengguna, sementara untuk menjadikannya bagian dari sistem pengobatan moderen diperlukan eksperimen dan studi klinis. Sejauh ini obat moderen menjadi fokus utama kebijakan dan regulasi yang menuntut pengembangannya didasarkan pada metoda evidence-based medicine (EBM) (Melzer & Saller, 2009, hal. 116). Bagi negara berkembang fokus pada pengobatan moderen ini tidak menjadi masalah karena obat moderen telah banyak diteliti dan dikembangkan di negara-negara maju dan sebagian besar obat konvensional yang dibutuhkan telah habis masa patennya sehingga negara berkembang tinggal menirunya. Namun, hal ini akan menyisihkan industri obat tradisional atau herbal di negara
berkembang untuk tumbuh menjadi industri yang penting.
Kedua, perlindungan hak kekayaan intelektual dalam pengembangan jamu. Upaya untuk meningkatkan legitimasi ilmiah jamu dilakukan dengan upaya uji pra-klinis, sehingga jamu bisa mendapatkan status sebagai obat herbal terstandar (OHT), dan bisa ditingkatkan lagi dengan uji klinis, sehingga meningkat menjadi fitofarmaka. Namun, biaya uji pra-klinis dan klinis ini cukup mahal, sementara bentuk perlindungan intelektual hanya berupa pemberian label OHT atau fitofarmaka pada kemasan. Padahal pengujian ini memberikan bukti pada ramuan jamu yang ada, sehingga menguntungkan perusahaan lain yang memproduksi jamu yang sama walaupun tidak mendapatkan label OHT atau fitofarmaka. Bahkan, kalaupun perusahaan lain melakukan pengujian pada ramuan jamu sejenis, maka ia bisa melakukannya dengan mudah, dengan hasil yang bisa diduga, karena ramuan ini sudah terbukti berhasil diuji oleh perusahaan sebelumnya. Persoalan ini terjadi dikarenakan “UU paten saat ini menuntut penemuan yang inovatif dan tak terduga, pengembangan pengetahuan lama tidak memenuhi tuntutan ini. Oleh karena itu, untuk mendukung pengembangan obat tradisional berbasis-bukti, akan sangat menarik jika perlindungan bisa didapat perusahaan yang mengembangkan obat-obatan tersebut sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan dari investasi litbang yang besar yang telah mereka keluarkan”4 (Verpoorte, 2009, hal. 1).
Ketiga, tingginya biaya, keahlian dan teknologi yang dibutuhkan. Saat ini industri jamu lebih mengandalkan pada formula yang sudah dikenali khasiatnya sejak lama secara turun-temurun. Keanekaragaman hayati di Indonesia mestinya memungkinkan penemuan jamu yang baru, namun ini membutuhkan kombinasi upaya dari banyak ilmuwan dengan berbagai latar belakang, seperti biologi, biologi molekuler, farmasi, kimia, dan lainnya untuk men-screening produk.
4 ...present-day patent laws require innovative and unexpected findings, the development of old knowledge does not fit this requirement. Therefore, to support the development of evidence-based traditional medicines, it would be of great interest if some sort of protection could be obtained for companies developing such medicines so that they could earn back their huge R&D investments.
Teknik-teknik yang perlu dikembangkan adalah teknik isolasi untuk analisa farmakologi, bagaimana menghasilkan sampel yang cukup banyak dari tanaman yang diidentifikasi secara benar untuk keperluan high-throughput screening (HTS), pengaturan untuk uji pra-klinis (farmakologi, toksikologi, pharmacokinecticsdan drug delivery) dan, terakhir, pengaturan untuk uji klinis, dan keseluruhan proses ini bisa membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun (Ramawat et al., 2009, hal. 13). Lamanya waktu dan juga prosesnya yang lebih rumit dari metoda penemuan obat lainnya membuat banyak perusahaan farmasi yang menurunkan upaya dan pendanaan mereka untuk kegiatan penelitian produk alami.
Keempat, pengembangan industri jamu tidak bisa dilakukan oleh industri jamu sendiri yang kebanyakan industri kecil dan menengah. Apa lagi banyak teknologi canggih yang diperlukan, antara lain teknologi untuk mengisolasi senyawa aktif secara cepat dalam jumlah besar untuk keperluan evaluasi ilmiah serta pengetahuan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati (Ramawat dkk., 2009, hal. 30). Karena hal ini tidak bisa dipenuhi oleh industri maka Ramawat dkk. menyarankan untuk membentuk kerja sama dengan kesepakatan bagi-keuntungan ( profit-sharing agreements) antara lembaga utama (leading institute), perusahaan farmasi di negara maju, organisasi di negara berkembang di mana banyak tanaman obatnya masih belum dieksplorasi.
Masalah-masalah di atas membuat banyak negara kesulitan mendorong pengembangan jamu atau obat tradisionalnya. Walaupun jamu atau obat tradisionalnya telah digunakan secara luas di masyarakatnya masing-masing, sifatnya yang khas, membuatnya membutuhkan sistem pengujian sendiri yang sekaligus tidak melemahkan basis industri tradisionalnya yang umumnya UKM. Rumitnya pengembangan maupun evaluasi jamu membuat perhatian kemudian dialihkan pada pengendalian kualitas di rantai pasoknya. Namun, karena banyak penggiat jamu adalah industri kecil dan tradisional, pengendalian kualitas, keamanan dan manfaat dalam produksi ini cukup sulit dilakukan juga. Untuk itu “... WHO, bekerja sama dengan
WHO Regional Office dan negara-negara anggota, telah menghasilkan seri dokumen teknis dalam bidang ini, termasuk penerbitan Good Agricultural and Collection Practices (GACP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), bersama dengan dukungan teknis lainnya, untuk membantu dengan penetapan standar dan penciptaan produk berkualitas tinggi” (Robinson & Zhang, 2011, hal. 1)
3. METODE PENELITIAN
Penelitian tentang kegiatan inovasi di industri jamu masih jarang dilakukan. Tulisan berkenaan dengan jamu kebanyakan membahas jamu dari segi teknis, seperti mengenai khasiat atau berbagai pengujian lainnya. Ini yang, antara lain, terlihat pada tulisan-tulisan di Majalah Obat Tradisional yang diterbitkan Fakultas Farmasi UGM. Kalaupun ada yang membahas aspek bisnis dari industri jamu, yang dibahas adalah mengenai daya saing bisnis dan kegiatan pemasaran jamu. Ini bisa dimaklumi, karena di Indonesia kajian mengenai inovasi – tidak hanya di industri jamu, tetapi juga industri lainnya – relatif jarang dilakukan.
Unit analisis dari kajian ini adalah industri jamu, bukan perusahaan jamu. Topik yang hendak dieksplorasi adalah peluang dan tekanan untuk berinovasi yang harus dihadapi keseluruhan industri yang disebabkan oleh kondisi pasar, internal ataupun antar-industri, dan regulasi. Terbatasnya pustaka dan data yang bisa diakses publik membuat studi ini harus mengandalkan informasi melalui wawancara dengan para pelaku industri maupun pihak lain – akademisi atau peneliti – yang berhubungan dengan jamu/farmasi, yakni satu pengusaha jamu, dua manajer litbang dari dua perusahaan jamu yang berbeda, dua pengajar dari UGM di mana salah satunya banyak terlibat dalam proses harmonisasi peraturan jamu tingkat ASEAN.
Pengumpulan data dan analisis dilakukan secara iteratif. Isu penting yang diangkat satu narasumber akan digali lebih lanjut dari narasumber lainnya, sehingga bisa dibandingkan dengan konfirmasi dan kontra-argumennya. Dalam melakukan analisa akan dilihat peluang
203
dan tekanan terhadap industri, dan bagaimana para pelaku industri merespon peluang dan tekanan tersebut melalui inovasi.
4. DATA DAN ANALISIS 4.1 Inovasi Produk
Secara tradisional jamu dijual dalam bentuk simplisia, yakni bahan tanaman yang telah dikeringkan, ataupun dijual dalam bentuk cair oleh bakul jamu gendong. Cara pengolahan yang sederhana ini membatasi ekspansi bisnis jamu, karena jamu menjadi cepat kadaluarsa ataupun
ataupun mudah rusak pada saat
pendistribusiannya. Bisnis jamu bisa tumbuh besar setelah jamu bisa diolah dalam bentuk serbuk dan dijual dalam kemasan-kemasan kecil. Di sebagian masyarakatnya awalnya jamu lebih dikenal dibandingkan dengan obat konvensional (kimia), namun dalam perkembangannya, karena program kesehatan dari pemerintah hanya mengandalkan pada obat konvensional ini, penggunaan obat menjadi lebih dominan dibandingkan jamu. Ini yang kemudian mendorong industri untuk melakukan inovasi untuk menghasilkan jamu dalam berbagai bentuk sediaan, sebagaimana bentuk sediaan obat konvensional, seperti tablet, kapsul dan sirup. Selain itu, jamu yang awalnya dikenal memiliki rasa pahit, oleh industri juga telah diubah menjadi memiliki berbagai rasa, terutama untuk produk anak-anak. Dalam perkembangannya, pelaku-pelaku industri obat konvensional yang telah memiliki kemampuan teknologinya, lebih bisa memanfaatkan peluang inovasi produk ini dibandingkan dengan pelaku industri jamu. Misalnya produk andalan Soho Group berasal dari temulawak yang diturunkan menjadi beberapa produk, yaitu Curcuma® & Curvit® (untuk penambah nafsu makan), Curcuma® plus Emulsion & Curvit® CL Emulsion® (untuk pertumbuhan anak), Curmax® & Curliv® (hepato protector), Curcuma Plus Milk (produk susu untuk anak-anak), dan Curcuma plus Imuns (untuk meningkatkan imunitas tubuh).
Persyaratan regulatori yang rendah dalam industri jamu, membuat peluang untuk melakukan inovasi produk lebih terbuka. Kesempatan ini juga dilihat
oleh perusahaan-perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai produsen obat konvensional. Misalnya Soho Group, Kalbe, Dexa Medica yang bisnis utamanya adalah obat konvensional, juga masuk dalam sektor industri jamu dan ternyata sukses dalam memasarkan produk mereka.
Peraturan Kepala BPOM Nomor:
HK.00.05.41.1384 memungkinkan industri untuk mendaftarkan jamu dengan klaim baru dengan cara menyerahkan “dokumen yang mendukung klaim indikasi sesuai jenis dan tingkat pembuktian” (Pasal 16 Ayat (1) hurud b). Karena persyaratan pembuktian ini tidak ketat, maka jamu dengan khasiat baru tetap bermunculan. Menurut Bapak Dr. L.B. Kardono dari LIPI, terjadi siklus 5 tahunan untuk jamu/obat herbal baru. Misalnya di masyarakatnya kita pernah populer virgin coconut oil (VCO), jamu dari buah mengkudu yang diubah dalam berbagai bentuk sediaan, lalu buah merah, dan lain-lain. Apa yang sempat dianggap berkhasiat dan memberikan harapan oleh masyarakatnya setelah sekian periode kehilangan daya tariknya lagi. Namun, kemudian muncul obat herbal baru lagi yang walaupun pembuktiannya belum jelas, tetapi disambut pasar dengan penuh antusias. Misalnya, saat ini berbagai produk herbal yang berasal dari kulit buah manggis beredar di pasaran. Hal ini merupakan mitos yang untuk sementara bisa dianggap sebagai peluang, namun dalam jangka panjang mitos-mitos yang tak terbukti ini bisa menggerus reputasi industri jamu itu sendiri.
4.2 Dari Jamu ke OHT ke Fitofarmaka
Khasiat jamu didasarkan atas klaim masyarakat luas secara turun-temurun yang oleh pelaku industri jamu disebut sebagai bukti empiris. Karena itulah pelaku industri tidak merasa perlu untuk melakukan pengujian pada jamu yang khasiatnya sudah dipercaya masyarakat sejak lama. Namun, dalam praktiknya industri juga menghasilkan jamu-jamu baru dengan klaim-klaim manfaat yang baru, yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat. Ini berarti masyarakat secara turun-temurun belum membuktikannya. Tiadanya keharus pembuktian terhadap jamu yang baru ini bisa merugikan masyarakat, walaupun tidak pernah ada gugatan dari masyarakat terhadap
industri jamu. Dalam jangka panjang, hal ini juga bisa menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap industri jamu.
Untuk mengakomodasi kedua kepentingan, yakni masyarakat dan industri jamu, telah ditetapkan
Peraturan Kepala BPOM Nomor:
Hk.00.05.41.1384 Tentang Kriteria Dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar Dan Fitofarmaka. Masyarakat bisa mengetahui obat herbal dengan berbagai tingkat pengujiannya, mulai dari jamu yang berdasarkan klaim, dan OHT dan fitofarmaka yang sudah dilakukan pengujian. Bagi pelaku industri jamu, hal ini relatif meringankan, jika mereka mampu melakukan pengujian mereka bisa memproduksi OHT dan fitofarmaka, namun, jika tidak, mereka bisa memproduksi jamu yang berdasarkan klaim masyarakat.
Dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Kepala BPOM tersebut dinyatakan ”Jamu adalah obat tradisional Indonesia”. Sedangkan “Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman” (ayat 1). Sementara “Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi” (ayat 3), dan “Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi” (ayat 4).
Saat ini telah ada 6 produk fitofarmaka. Sedangkan jumlah obat herbal terstandar (OHT), menurut Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer Kementerian Kesehatan, Abidinsyah Siregar, ada 38 dari sekitar 19.736 jamu5. Masyarakat memang belum banyak mengetahui perbedaan antara jamu, OHT dan fitofarmaka. Namun, penghargaan Top Brand for Kids 2010 dari
5
http://health.kompas.com/read/2012/07/31/205253 18/Obat.Herbal.Terstandar.Masih.Sangat.Minim.
Frontier Consulting Group pada Stimuno, fitofarmaka yang diproduksi Dexa Medica, menunjukkan obat tradisional yang teruji bisa lebih mudah mendapatkan kepercayaan masyarakat6. Stimuno ini bahkan telah diekspor ke sejumlah negara di Asia.
Namun, kemampuan mengakses pasar bisa lebih penting dari pada khasiat suatu obat tradisional. PT Nyonya Meneer sudah mengembangkan fitofarmaka, yakni Rheumaneer, yang mendapatkan izin edar pada Februari 1999. Menurut Dr. Charles Saerang, CEO dari PT Jamu Nyonya Meneer, perusahaannya membutuhkan biaya sampai 2 miliar untuk menghasilkan fitofarmaka ini. Biaya besar ini diperlukan untuk membiayai uji klinis yang harus dilakukan dokter/rumah sakit terhadap pasien. Yang menjadi masalah, pada akhirnya, adalah pasarnya. “Belum tentu pasarnya ada,” kata Saerang. Dan apa yang diinvestasikannya belum kembali modalnya.
Menurut Saerang, PT Nyonya Meneer satu-satunya perusahaan jamu yang membuat fitofarmaka, lainnya adalah perusahaan obat. Ini bukan karena secara teknologi lainnya tidak mampu, tetapi karena pasarnya tidak ada. Dokter juga tidak meresepkan fitofarmakanya meskipun sudah lulus uji klinis.
Jadi, pertama, perlu dilihat apakah produk tersebut memiliki potensi pasar yang besar, misalnya potensi pasar Rheumaneer yang digunakan untuk mengobat rematik adalah di bawah potensi pasar dari Stimuno yang digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh, khususnya anak-anak. Kedua, pemasaran sangat penting untuk mempromosikan bahwa fitofarmaka ini telah teruji secara klinis, tidak semata-mata berdasarkan klaim sekelompok masyarakat. Jaringan pemasaran, lebih-lebih untuk masuk ke lingkungan medis, sangat berperanan penting. Dexa Medica yang sudah
berpengalaman memproduksi dan
mendistribusikan obat konvensional relatif cukup
mudah dalam mengupayakan agar
fitofarmakanya diresepkan dokter.
6
http://health.kompas.com/read/2010/04/29/18362196/Fitofarmaka.
Semakin.Diakui
205
Ketiadaan jaringan pemasaran yang menjangkau para dokter ini yang membuat Rheumaneer tidak pernah diresepkan dokter. Secara bisnis tidak akan menguntungkan bagi PT Nyonya Meneer untuk membangun jaringan pemasaran tersebut karena perusahaan ini hanya memiliki satu produk fitofarmaka, sedangkan yang lainnya adalah jamu. Ini berbeda dengan Dexa Medica yang memang memiliki banyak obat yang bisa diresepkan dokter.
4.3 Saintifikasi Jamu
Secara resmi Indonesia masih belum meregulasi pengintegrasian jamu dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Namun, dalam skala terbatas program saintifikasi jamu yang dilakukan Kementerian Kesehatan bisa dilihat sebagai upaya ke arah tersebut. Sebagaimana disebutkan
dalam Permenkes Nomor:
003/MENKES/PER/I/2010 Tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan Pasal 2, saintifikasi jamu ini ditujukan untuk “Memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan” dan “Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif melalui penggunaan jamu”.
Namun, upaya ini tidak melibatkan industri jamu karena yang digunakan adalah simplisia. Pelaku utama dalam kegiatan ini adalah Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) yang ada di Tawang Mangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Dr. Charles Saerang menginginkan agar yang digunakan produk dari industri jamu, walaupun tetap harus melalui proses pengujian. Jika saintifikasi jamu tidak melibatkan industri jamu, maka upaya ini tidak akan berkontribusi mendorong pertumbuhan industri jamu. Jika simplisia yang digunakan, maka – menurut Prof.Dr. Suwidjiyo Pramono dari Fakultas Farmasi UGM – marjin keuntungan sangat rendah, sehingga tidak menarik bagi industri jamu.
Kalangan dokter sudah dilibatkan dalam program saintifikasi jamu ini, dan mereka telah membentuk Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) yang dideklarasikan pada tanggal 10 Juni 2009 dan bernaung di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
4.4 Inovasi Proses
Inovasi proses perlu dilakukan karena pengolahan bahan herbal menuntut perlakuan yang lebih rumit daripada bahan obat kimia. Bahan herbal gampang sekali tercemari mikroba. Jika pengendalian mutu pada proses pembuatan jamu ini lemah, maka dampaknya tidak hanya merugikan perusahaan tersebut, tetapi juga industri secara keseluruhan yang diakibatkan oleh menurunnya kepercayaan masyarakat pada industri. Untuk melindungi kepentingan masyarakat inilah industri jamu diwajibkan melaksanakan cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) sebagaimana tertera dalam
Peraturan Kepala BPOM Nomor:
HK.00.05.41.1384. Menurut Dr. Charles Saerang, kewajiban penerapan CPOTB ini diturunkan dari CPOB untuk industri farmasi. Ini sangat memberatkan industri jamu yang mayoritas adalah industri kecil. CPOTB ini memaksa industri memperbaiki fasilitas produksi mereka. Sementara ini bentuk keringanan terhadap industri jamu hanya berupa penundaan penerapan CPOTB. Namun, cepat atau lambat industri jamu harus menerapkannya, karena ini demi kelangsungan hidup mereka sendiri juga.
Menurut R&D Manager PT Sidomuncul Wahyu Widayani industri farmasi konvensional lebih mampu menerapkan CPOTB. Ini dikarenakan CPOTB memang diturunkan dari CPOB. Namun, saat ini Sidomuncul sudah menerapkan CPOB, dan menjadi satu-satunya perusahaan jamu yang mendapatkan sertifikat CPOB.
5. SIMPULAN
Peluang inovasi pada jamu cukup tinggi, karena tingginya keanekaragaman hayati Indonesia, dan masih banyak obat tradisional dari suku-suku terpencil yang belum dipopulerkan secara nasional. Dari pembahasan sebelumnya bisa
disimpulkan beberapa hal yang menjadi peluang sekaligus tekanan untuk berinovasi bagi industri jamu, namun juga bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan bisnis industri ini jika mereka tidak bisa memenuhinya.
Pertama, rendahnya atau tiadanya persyaratan bagi pembuktian khasiat jamu. Di satu pihak hal ini memberi peluang bagi industri jamu untuk menghasilkan produk-produk baru hanya berdasarkan klaim masyarakat saja, ataupun klaimnya sendiri tanpa bukti yang kuat. Namun di sisi lain, hal ini juga menjadikan rintangan memasuki (barrier to entry) industri jamu menjadi rendah, sehingga bisa dengan mudah dimasuki oleh produsen obat konvensional yang memiliki kemampuan produksi maupun pemasaran yang lebih unggul dibandingkan perusahaan-perusahaan yang bisnis intinya adalah jamu. Kerugian lain dari rendahnya persyaratan ini adalah kepercayaan masyarakat yang semakin kritis juga menjadi rendah, khususnya terhadap jamu baru dengan klaim yang baru.
Kedua, dalam rangka meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap obat herbal pemerintah membuat dua kebijakan utama: (i) penerapan CPOTB, dan (ii) pengklasifikasian obat herbal menjadi jamu, OHT dan fitofarmaka. Serta inisiatif saintifikasi jamu yang masih belum dilakukan dalam skala luas. Dengan penerapan CPOTB maka masyarakat bisa mendapatkan produk yang kualitas produksinya terjaga, walaupun khasiatnya belum bisa dibuktikan. Namun, saat ini peraturan yang mengharuskan CPOTB belum dilakukan dengan tegas ke seluruh industri jamu, karena sebagian besar industri jamu berbentuk UKM yang tidak mampu mengadakan fasilitas produksi yang memenuhi persyaratan CPOTB.
Pengklasifikasian dengan peningkatan persyaratan dari jamu ke OHT kemudian meningkat ke fitofarmaka diakui bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap obat herbal. Fitofarmaka, obat herbal yang sudah menjalani uji praklinis dan uji klinis, bahkan bisa diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Namun, peluang dari peningkatan citra obat herbal ini lebih bisa diambil oleh produsen
obat konvensional daripada produsen jamu. Ini dikarenakan produsen obat konvensional lebih memiliki kemampuan produksi dan pengujian dibandingkan produsen jamu. Selain itu pengklasifikasian ini juga menempatkan "jamu" pada ketegori paling rendah - yakni di bawah OHT dan fitofarmaka - dari pengklasifikasian ini. Selain itu yang membuat produsen jamu kurang terdorong untuk meningkatkan produk jamunya menjadi OHT dan fitofarmaka adalah karena kebanyakan masyarakat masih belum mengetahui perbedaan pembuktian dari ketiga jenis produk herbal tersebut. Pengujian yang dipersyaratkan untuk membuat OHT dan fitofarmaka juga tidak bisa dilakukan oleh kebanyakan produsen jamu. Selain itu, meskipun fitofarmaka bisa diresepkan oleh dokter dan telah masuk dalam cakupan asuransi namun untuk mendorong dokter meresepkannya bukanlah hal mudah bagi industri jamu. Hal ini lebih bisa dilakukan oleh produsen obat konvensional yang sudah memiliki jaringan luas dan hubungan yang dekat dengan para dokter.
Kebijakan lain berkenaan dengan peningkatan kepercayaan terhadap jamu namun belum diimplementasi secara luas adalah saintifikasi jamu. Namun, karena sediaan yang digunakan dalam saintifikasi jamu adalah simplisia, maka hal ini tidak menarik bagi industri jamu karena keuntungan dari simplisia adalah sangat kecil, dan simplisia bukanlah produk andalah dari industri jamu, tetapi merupakan bahan baku yang dipasok oleh perusahaan lain.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Trina Fizzanty yang telah menyampaikan koreksi, memberi masukan dan saran yang sangat berarti bagi perbaikan makalah ini. Makalah ini didasarkan atas penelitian yang mendapatkan dana DIPA Pappiptek - LIPI.
PUSTAKA
Connor, N., 2008. Shamans of the World: Extraordinary First-Person Accounts of
207
Healings, Mysteries, and Miracles. Boulder, CO: Sounds True, Inc.
ITC, 2005. Indonesia - Supply And Demand Survey On Pharmaceuticals And Natural Products. International Trade Center, UNCTAD/WTO.
Jumarani, L., 2009. The Essence of Indonesian Spa: Spa Indonesia Gaya Jawa dan Bali. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Melzer, J. & Saller, R., 2009. Proprietary Herbal Medicines in Circulatory Disorders: Hawthorn, Ginkgo, Padma 28. Dalam K.G.
Ramawat (Ed.), Herbal Drugs:
Ethnomedicine to Modern Medicine. Heidelberg: Springer.
Ramawat, K.G. (Ed.), Herbal Drugs: Ethnomedicine to Modern Medicine . Heidelberg : Springer.
Ramawat, K.G. & Goyal, S., 2009. Natural Products in Cancer Chemoprevention and Chemotherapy. Dalam K.G. Ramawat (Ed.), Herbal Drugs: Ethnomedicine to Modern Medicine. Heidelberg: Springer.
Ramawat, K.G., Dass, S. & Mathur, M., 2009. The Chemical Diversity of Bioactive Molecules and Therapeutic Potential of Medicinal Plants. Dalam K.G. Ramawat (Ed.), Herbal Drugs: Ethnomedicine to Modern Medicine. Heidelberg : Springer. Robinson, M.M. & Zhang, X., 2011. The World
Medicines Situation 2011 Traditional Medicines: Global Situation, Issues And Challenges. Geneva: World Health Organization.
Sampurno, 2007. Obat Herbal Dalam Prespektif Medik Dan Bisnis. MOT, Vol 12, No. 42. Verpoorte, R., 2009. Medicinal Plants: A
Renewable Resource for Novel Leads and Drugs . Dalam K.G. Ramawat (Ed.), Herbal
Drugs: Ethnomedicine to Modern
Medicine . Heidelberg : Springer.
WHO, 2002. WHO Traditional Medicine Strategy 2002 – 2005. Geneva: World Health Organization.
WHO, 2005. National policy on traditional m
edicine and regulation of herbal medicines: Report of a WHO global survey. Geneva: World Health Organization.