• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas Biji Kelor dan Kulit Pisang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Efektivitas Biji Kelor dan Kulit Pisang"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Pengelolaan Limbah

Efektifitas Biji Kelor (Moringa oleifera) dan Kulit Pisang

Sebagai Koagulan dan Absorben Alami untuk Limbah Cair

Di Sungai Gunungsari

Disusun Oleh:

1. Putri Enizs Wahyu R. (103204080) 2. Nitamaya Nursa’diyah (103204213) 3. Sulfainiati (103204214) 4. Fajarina Nurulita (103204216)

Pendidikan Biologi B 2010

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

2014

(2)

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan tepat pada waktunya yang berjudul “Efektifitas Biji Kelor (Moringa oleifera) dan Kulit Pisang Sebagai Koagulan dan Adsorben Alami Untuk Limbah Cair Di Sungai Gunungsari”

Laporan ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah Pengelolaan Limbah, dimana telah dilakukan praktikum sebelumnya. Laporan ini berisikan tentang informasi mekanisme koagulasi dari dari biji kelor dan adsorben alami dari kulit pisang, pengaruh biji kelor dan kulit pisang dalam menjernihkan air dengan cara mengkoagulasi partikel-partikel limbah, uji toksisitas hasil penjernihan air dengan menggunakan ikan mas.

Dharapkan laporan ini dapat memberikan informasi kepada semua mahasiswa atau masyarakat mengenai efektifitas biji kelor dan kulit pisang sebgai koagulan dan adsorben alami.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan laporan ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Surabaya, 15 Januari 2014

Penyusun

(3)

Cover Judul ... i

G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Koagulasi ... 13

(4)

A. Kesimpulan ... 30

B. Saran ... 30

Daftar Pustaka ... 31

Lampiran ... 33

(5)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Roda kehidupan yang terus berputar memaksa manusia dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Salah satu yang nampak adalah adanya urbanisasi penduduk pedesaan ke daerah perkotaan. Penambahan jumlah penduduk yang tinggi inilah yang menyebabkan terjadinya perluasan areal pemukiman, sehingga menyebabkan peningkatan aktivitas manusia di rumah tangga. Peningkatan aktivitas manusia inilah yang menyebabkan terjadinya limbah rumah tangga. Selain aktivitas rumah tangga, kegiatan industri juga merupakan salah satu sumber pencemar yang potensial.. Penurunan kualitas lingkungan akan berpengaruh terhadap kualitas kesehatan penduduk yang tinggal di daerah lingkungan tercemar akan menjadi buruk dan berdampak pada menurunnya daya kreatifitas penduduk. Salah satu penyebab penurunan kualitas lingkungan adalah pencemaran air, dimana air yang digunakan setiap harinya tidak lepas dari pengaruh pencemaran yang diakibatkan oleh ulah manusia, misalnya saja pencemaran di kota Surabaya.

(6)

Lingkungan perairan yang tercemar limbah deterjen dalam konsentrasi yang tinggi dapat mengancam dan membahayakan kehidupan biota air dan manusia yang mengkonsumsi biota tersebut. Menurut surat kabar harian Surabaya pada tanggal 15 November 2013, terjadi kematian ikan di sungai Surabaya akibat pencemaran limbah. Kasus kematian ikan November lalu disebabkan karena turunnya kadar oksigen dalam air akibat tingginya volume limbah yang dibuang ke sungai oleh industri yang ada di sepanjang sungai Surabaya, mulai kawasan Warugunung sampai Gunungsari. Sehingga untuk mengurahi pencemaran limbah yang ada maka harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

Teknologi pengolahan air limbah yang dipilih harus dapat meningkatkan kualitas air efluent dari sistem yang digunakan baik secara fisik, kimia maupun bakteriologis. Metode pengolahan air khususnya air sungia yang umum digunakan adalah pengolahan secara fisika-kimia, yakni koagulasi-flokulasi diikuti dengan sedimentasi. Akan tetapi, metode ini sering mengalami kegagalan karena prosesnya terlalu kompleks seerta memerlukan biaya yang relatif tinggi (Chandra, 1998). Oleh karena itu, para peneliti melakukan penelitian untuk mencari bahan-bahan yang murah, mudah didapatkan serta efektif dalam menanggulangi limbah, seperti biji kelor, arang dan kulit pisang.

(7)

Dari uraian di atas, maka dilakukan penelitian mengenai efektifitas pemberian biji kelor dan kulit pisang sebagai bahan fitoremidiasi air limbah dan uji toksisitas di sungai daerah Gunung sari.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah diantaranya:

1.Bagaimana kualitas air sungai di daerah Gunungsari sebelum dilakukan penjernihan ?

2.Apakah serbuk biji kelor dan kulit pisang memiliki kemampuan sebagai koagulan dan flokulan pada air limbah yang berasal dari sungai Gunungsari?

3.Berapakah dosis penggunaan serbuk biji kelor dan kulit pisang yang optimal untuk memperbaiki kualitas air limbah ?

4.Bagaimana pengaruh pemberian serbuk biji kelor dan kulit pisang pada air sungai terhadap kecepatan membuka dan menutupnya operkulum ikan ?

5.Bagaimana pengaruh pemberian serbuk biji kelor dan kulit pisang pada air sungai terhadap mortalitas ikan mas ?

C. Tujuan

1. Mengetahui kualitas air sungai di daerah Gunung Sari sebelum dilakukan penjernihan.

2. Mengetahui serbuk biji kelor dan kulit pisang memiliki kemampuan sebagai koagulan dan flokulan pada air limbah yang berasal dari sungai Gunungsari. 3. Mengetahui dosis penggunaan serbuk biji kelor dan kulit pisang yang optimal

untuk memperbaiki kualitas air limbah.

4. Mengetahui pengaruh pemberian serbuk biji kelor dan kulit pisang pada air sungai terhadap kecepatan membuka dan menutupnya operkulum ikan

5. Mengetahui pengaruh pemberian serbuk biji kelor dan kulit pisang pada air sungai terhadap mortalitas ikan mas.

D. Manfaat

(8)
(9)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Pencemaran

Manusia melakukan berbagai kegiatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Berbagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut, pada akhirnya akan menghasilkan sisa berupa sampah atau limbah yang dibuang ke lingkungan. Hal ini terjadi karena setiap aktivitas manusia pada dasarnya adalah proses pengubahan zat atau energi dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Setiap proses tersebut tidak dapat sepenuhnya diubah, melainkan selalu ada sisa atau disebut entropi yang kemudian menjadi sampah atau limbah yang masuk atau dimasukkan ke dalam lingkungan.

Salim (1984) menyatakan apabila terjadi gangguan terhadap salah satu tatanan lingkungan hidup karena perbuatan manusia atau proses alam, maka akan terjadi gangguan terhadap keseimbangan ekosistem dalam lingkungan hidup menyeluruh. Oleh karena itu, agar tetap terpelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup demi kesejahteraan hidup manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Pencemaran lingkungan berdasarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup No 32 tahun 2009 adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energy, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia, sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.

Perubahan lingkungan akibat pesatnya perkembangan industri yang menyebabkan pencemarandari hasil limbah buangan industri. Limbah tanpa pengolahan terlebih dahulu yang dibuang ke lingkungan akan mengakibatkan pencemaran air, tanah, dan udara.

B. Air

(10)

Air bersih sangat dibutuhkan oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi kota maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya. Dewasa ini, air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius. Untuk mendapat air yang baik sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal, karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia. Sehingga secara kualitas, sumberdaya air telah mengalami penurunan. Demikian pula secara kuantitas, yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

Setiap tahun berjuta ton partikel padat terlepas di udara melalui cerobong asap pabrik dan knalpot kendaraan sehingga mengkontaminasi awan yang terbentuk, sehingga hujan yang turun pun dari hari ke hari semakin tinggi derajat keasamannya, yang kemudian di dalamnya terkandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh kita. Timbulnya penyakit dari ringan dan instant seperti gatal-gatal di kulit atau timbulnya diare maupun berat dan bersifat akumulasi sehingga berakibat timbulnya potensi penyakit seperti kanker (Achmad, 2004).

C. Pencemaran Air Sungai

Pencemaran sungai dapat terjadi karena pengaruh kualitas air limbah yang melebihi baku mutu air limbah, di samping itu juga ditentukan oleb debit air limbah yang dihasilkan. Indikator pencemaran sungai selain secara fisik dan kimia juga dapat secara biologis, seperti kehidupan plankton. Pencemaran air yaitu masuknya mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

(11)

1) Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan untuk peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegiatan tersebut.

2) Kelas dua, air yang diperuntukannya dapat digunakan untuk prasarna/sarana rekreasi air. pembudidayaan ikan air tawar. peternakan, air untuk mengairi pertanian, dan peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

3) Kelas tiga, yang diperuntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan peruntukan lain yang persyaratan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

4) Kelas empat, air yang diperuntukannya lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Pencemaran yang mengakibatkan penurunan kualitas air dapat berasal dari limbah terpusat (point sources) dan limbah tersebar (non point sources). Limbah terpusat dapat dihasilkan dari limbah-limbah industri, usaha peternakan, perhotelan, rumah sakit, sedangkan limbah tersebar merupakan limbah-limbah yang dihasilkan dari pertanian, perkebunan dan domestik (Santi, 2004).

D. Limbah

Limbah merupakan hasil sampingan dari suatu aktivitas yang sudah merupakan bahan buangan dari proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Limbah juga dapat dikatakan sebagai materi atau komponen yang dapat berupa padatan (solid wastes), cair (liquid wastes), atau gas (gaseous wastes) yang dikeluarkan oleh suatu proses industri yang memiliki efek samping negatif (Sugiharto, 1987:5). Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman. (Peraturan Pemerintah Republik IndonesiaNomor 16 Tahun 2005 Bab I Pasal 1.3)

(12)

buangan/limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu limbah rumah tangga, limbah industri dan limbah rembesan. Air buangan/limbah ini mengandung racun dan membahayakan. Bila air buangan/limbah ini tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai masalah atau dampak pada kehidupan dan pencemaran lingkungan.

1. Limbah Cair

Limbah cair merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dan sebagainya. Komponen utama limbah cair adalah air (99%) sedangkan komponen lainnya bahan padat yang bergantung asal buangan tersebut (Rustama, 1998).

Air limbah merupakan salah satu hasil dari aktifitas hidup manusia. Hal tersebut dikarenakan keberadaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi masyarakat itu sendiridan aktifitas manusia. Sumber air limbah dari aktifitas manusia berkaitan dengan penggunaan air seperti mandi, mencuci, tempat cuci, wc, industri dan lain-lain. Kualitas air limbah yang dihasilkan tersebut sangat beragam, tergantung dari sumber dan sistem pengolahan yang digunakan. Sehingga kualitas air limbah akan semakin baik jika ditangani atau diolah dengan sistem pengolahan yang tepat. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam air dan/atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Dengan itu akan menyebabkan terbentuknya air limbah.

Air limbah adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya, dengan demikian air buangan ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum. (Nuraini S, 2004).

(13)

seperti kualitas air, kepadatan penduduk, flora dan fauna, kesuburan tanah, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain

2. Sifat-sifat Air Limbah

Sesuai dengan sifat dan bahan, maka air limbah dapat diketahui parameter-parameter dalam pengolahan air limbah, antara lain (Prayoga, 2006): a. Suhu

Suhu air limbah sangat berpengaruh terhadap adanya oksigen yang terlarut di dalam air limbah. Suhu yang tinggi dalam air limbah dapat menurunkan oksigen terlarut (DO). Suhu optimum untuk aktifitas mikroorganisme adalah 25oC-35oC.

b. pH (derajat keasaman)

pH adalah kandungan atau konsentrasi ion hidrogen dalam air. Konsentrasi ion hidrogen ini sangat berpengaruh terhadap reaksi kimia juga pada proses biologis. pH yang baik untuk air limbah antara 6,5-8,5. Proses biologis air limbah akan sangat sulit jika pH air limbah tidak netral.

c. BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) BOD adalah banyaknya oksigen yang diperlukan untuk menguraikan benda organik oleh bakteri aerobik melalui proses biologis (Biological Oxidation) secara dekomposisi aerobik.

Semakin banyak zat organik yang diuraikan maka akan semakin banyak pula pemakaian akan menuju keadaan yang aerobik, kemudian akan menyebabkan bau tidak enak karena timbulnya gas-gas. COD atau kebutuhan oksigen kimiawi adalah jumlah kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi zat-zat organik secara kimiawi. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya kandungan oksigen dalam air. Hasil pengukuran COD dapat digunakan untuk memperkirakan BOD. Penguraian bahan organik secara biologis di alam melibatkan bermacam-macam organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir kabon dioksida (CO2) dan air (H2O).

(14)

1) BOD/COD < 0,4, maka air buangan atau limbah mengandung zat-zat yang sulit diuraikan secara biologis.

2) BOD/COD > 0,4, maka air buangan atau limbah mengandung zat zat yang mudah diuraikan secara biologis.

d. TSS (Total Suspended Solid)

Menurut Salvato dalam Khasanah (2008), total suspended solid merupakan sisa padatan yang tertinggal pada penyaringan atau dengan kata lain berat zat padat tersuspensi atau tak terlarut dalam volume tertentu dari limbah cair, masing-masing berupa bahan organik dan mineral. Penetrasi sinar (cahaya) yang masuk ke dalam air bisa berkurang dengan adanya total suspended solid sehingga akan mempengaruhi regenerasi oksigen secara fotosintesis (Prayogo, 2006).

3. Dampak Limbah

Limbah yang dibuang di sungai dapat mengakibatkan pencemaran air. Selain itu, limbah seperti limbah padat akan menghambat aliran air sehingga dapat menyebabkan banjir terutama pada musim hujan. Asian Development Bank (2008) pernah menyebutkan pencemaran air yang ada di Indonesia dapat menimbulkan kerugian sebesar Rp 45 triliun per tahun. Biaya yang dibutuhkan akibat pencemaran air ini mencakup biaya kesehatan, biaya penyediaan air bersih, hilangnya waktu produktif, citra buruk pariwisata dan tingginya angka kematian bayi.

Dampak lainnya yang tidak kalah merugikan dari pencemaran air adalah terganggunya lingkungan hidup, ekosistem, dan keanekaragaman hayati. Air yang tercemar dapat mematikan berbagai organisme yang hidup di air. Dampak pencemaran air akibat limbah antara lain:

a) Berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam air karena sebagian besar oksigen digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses pembusukkan sampah.

(15)

c) Deterjen sangat sukar diuraikan oleh bakteri sehingga akan tetap aktif untuk jangka waktu yang lama di dalam air, mencemari air dan meracuni berbagai organisme yang ada di air.

d) Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau yang merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok.

e) Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.

f) Tumbuhan air yang mati membawa akibat proses pembusukkan tumbuhan ini akan menghabiskan persediaan oksigen.

g) Material pembusukkan air akan mengendapkan dan menyebabkan pendangkalan.

E. Koagulasi dan Flokulasi

Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid karena penambahan bahan sintetik tertentu sehingga partikel-pertikel tersebut bersifat netral dan membentuk endapan karena adanya gaya grafitasi. Koagulasi secara kimia dapat dilakukan dengan penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan dan penambahan koagulan. Salah satu cara pengolahan air adalah melalui proses koagulasi-flokulasi. Pemisahan koloid dapat dilakukan dengan cara penembahan koagulan sintetik atau koagulan alami yang diikuti dengan pengadukan lambat pada proses flokulasi sehingga menyebabkan penggumpalan partikel-partikel koloid yang kemudian sebagian besar dipisahkan dengan sedimentasi. Proses koagulasi merupakan proses destabilasi koloid dengan adanya pembubuhan koagulan.

(16)

1. Flokulasi Perikinetik

Merupakan penggumpalan yang diakibatkan oleh gerak acak Brown dari molekul di dalam larutan. Ketika partikel-partikel bergerak di dalam air akibat derak Brown, maka partikel tersebut saling bertabrakan satu sama lain dan pada saat hubungan itulah terjadi pembentukan partikel yang lebih besar dan menumpuk.

2. Flokulasi Ortokinetik

Merupakan penggumpalan yang diakibatkan oleh gradien kecepatan dalam cairan. Proses ini membutuhkan pergerakan yang lambat dari partikel di dalam air. Partikel akan bertabrakan jika jaraknya dekat atau berada dalam daerah yang masih mempunyai pengaruh terhadap partikel lain.

3. Pengendapan Diferensial

Merupakan terjadinya flokulasi akibat dari kecepatan pengendapan yang berbeda karena adanya perbedaan ukuran partikel. Partikel besar akan lebih cepat mengendap dibandingkan partikel kecil. Hal ini akan membantu flokulasi ortokinetik karena gradien kecepatan yang dihasilkan menyebabkan penggumpalan lebih lanjut.

F. Mekanisme Koagulasi

(17)

yaitu gaya Van Der Waals dan gaya tolakan elektrostatik. Stabilitas suspensi koloid akan tergantung pada keseimbangan gaya tarik dan gaya tolak. Gaya tolakan elektrostatis yang lebih besar daripada gaya Var Der Waals akan meningkatkan stabilitas suspensi koloid (Pararaja, 2008).

Partikel-partikel koloid memiliki muatan sejenis, maka terjadi tolak menolak yang mencegah partikel-partikel koloid bergabung dan mengendap akibat gaya gravitasi. Oleh karena itu, gerak Brown, muatan koloid juga berperan besar dalam menjga kestabilan koloid.

Koagulasi adalah proses destabilisasi koloid dengan bantuan koagulan. Senyawa koagulan adalah senyawa yang mempunyai kemampuan mendestabilisasi koloid dengan menetralkan muatan listrik pada permukaan koloid sehingga terbentuk inti gumpalan (inti flok) dan dapat bergabung satu sama lain membentuk flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga mudah mengendap. Proses koagulasi hanya dapat berlangsung bila ada pengadukan.

G. Faktor-faktor yang mempengaruhi Koagulasi

Gaya antar molekul yang diperoleh dari agitasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap laju terbentuknya partikel flok. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan flokulasi adalah pengadukan secara lambat, keadaan ini memberi kesempatan partikel melakukan kontak atau hubungan agar membentuk penggabungan (agglomeration). Pengadukan lambat ini dilakukan secara hati-hati karena flok-flok yang besar akan mudah pecah melalui pengadukan dengan kecepatan tinggi.

Dalam pengolahan air, untuk mencapai proses koagulasi-flokulasi yang optimum diperlukan pengaturan semua kondisi yang saling berkaitan dan mempengaruhi proses tersebut. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi antara lain adalah pH, suhu, konsentrasi koagulan dan pengadukan.

a.pH

Suatu proses koagulasi dapat berlangsung secara sempurna jika pH yang digunakan berada pada jarak tertentu sesuai dengan pH optimum koagulan dan flokulan yang digunakan.

(18)

Proses koagulasi dapat berkurang pada suhu rendah karena peningkatan viskositas dan perubahan struktur agregat menjadi lebih kecil sehingga dapat lolos dari saringan, sedangkan pada suhu tinggi yang mempunyai kerapatan lebih kecil akan mengalir ke dasar kolam dan merusak timbunan lumpur yang sudah terendap dari proses sedimentasi.

c. Konsentrasi koagulan

Konsentrasi koagulan sangat berpengaruh terhadap tumbukan partikel sehingga penambahan koagulan harus sesuai dengan kebutuhan untuk membentuk flok-flok. Jika konsentrasi koagulan kurang mengakibatkan tumbukan antar partikel berkurang sehingga mempersulit pembentukan flok. Begitu juga sebaliknya jika konsentrasi koagulan terlalu banyak maka flok-flok tidak terbentuk dengan baik dan dapat menimbulkan kekeruhan kembali.

d.Pengadukan

Pengadukan yang baik diperlukan untuk memperoleh koagulasi dan flokulasi yang optimum. Pengadukan terlalu lamban mengakibatkan waktu pertumbukan flok menjadi lama, sedangkan jika terlalu cepat mengakibatkan flok-flok yang terbentuk akan pecah kembali (Pararaja, 2008).

Koagulan digunakan secara umum dalam proses pengolahan air untuk berbagai tujuan. Prinsip kerjanya adalah untuk mendestabilisasi partikel tersuspensi (koloid) dan memperbesar laju pembentukan flok. Koagulan dapat berupa bahan kimia maupun bahan alami. Contoh bahan alami yang dapat digunakan sebagai koagulan adalah biji kelor dan kulit pisang.

1) Tumbuhan Kelor (Moringa oleifera)

(19)

Gambar 2.1 Bagian-bagian Tumbuhan Kelor (Moringa oleifera) Sumber: http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=5&doc=5b5

Tanaman kelor merupakan tanaman dari keluarga Moringacaea. Tumbuhan ini memiliki ketinggian batang 7-11 meter. Daun kelor berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai, dapat dibuat sayur atau obat. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau; bunga ini keluar sepanjang tahun. Biji kelor merupakan alternatif koagulan organik. Penelitian terhadap manfaat tanaman mulai dari daun, kulit batang, buah sampai bijinya, sejak awal tahun 1980-an telah dimulai. Biji kelor sebagai koagulan dapat digunakan dengan dua cara yaitu biji kering dengan kulitnya dan biji kering tanpa kulitnya. Hasil analisis elemen pada biji kelor untuk biji dengan kulit adalah 6,1% N; 54,8% C; dan 8,5% H, sedangkan untuk biji tanpa kulit adalah 5,0% N, 53,3% C, dan 7,7% H (dalam % berat) sedang sisanya oksigen.

Pohon kelor (Moringa oleifera) diketahui mengandung polielektrolit kationik dan flokulan alamiah dengan komposisi kimia berbasis polipeptida yang mempunyai berat molekul mulai dari 6000 sampai 16000 dalton, mengandung hingga 6 asam-asam amino terutama asam glutamat, mentionin, dan arginin. Sebagai bioflokulan, biji kelor kering dapat digunakan untuk mengkoagulasi-flokulasi kekeruhan air.

Efektivitas koagulasi oleh biji kelor ditentukan oleh kandungan protein kationik bertegangan rapat dengan berat molekul sekitar 6,5 kdalton. Zat aktif (active agent) yang terkandung dalam biji kelor yaitu

L-rhamnosyloxy-Daun

Bunga

Biji

(20)

benzyl-isothiocyanate. Koagulan biji kelor yang dicampur dengan air merupakan protein yang bersifat serupa dengan polielektrolit positif. Biji kelor juga mengandung logam alkali kuat seperti K dan Ca, yang menjadi kutub positif.

Gambar 2.3 Struktur logam alkali pada biji kelor

Prinsip utama mekanisme koagulasinya adalah adsorpsi dan netralisasi tegangan protein tersebut (Ndabigengesere dkk, 1995). Dalam proses koagulasinya, biji kelor memberikan pengaruh yang kecil terhadap derajat keasaman dan konduktivitas. Jumlah lumpur yang diproduksi biji kelor lebih sedikit dari jumlah lumpur yang diproduksi oleh ferro sulfat sebagai koagulan. Bahan koagulan dalam biji kelor adalah protein kationik yang larut dalam air. Potensial zeta larutan 5% biji kelor tanpa kulit adalah sekitar +6 mV. Hal ini menunjukkan bahwa larutan ini didominasi oleh tegangan positif, meskipun merupakan campuran heterogen yang kompleks.

Potensial zeta air sintetik adalah sekitar -46 mV. Hal ini menunjukkan bahwa pada pH netral, partikel-partikel bermuatan negatif. Akibatnya, koagulasi partikel tersuspensi dengan biji kelor dipengaruhi oleh proses destabilisasi tegangan negative koloid oleh poli elektrolit kationik.

(21)

berbahaya bagi kesehatan, dapat menjernihkan air lumpur maupun air keruh, dan kualitas air lebih baik karena:

 Mikroorganisme berkurang

 Zat organik berkurang sehingga pencemaran kembali berkurang

 Air lebih cepat mendidih

Tabel 1. Hubungan antara Dosis Biji Kelor dan Kekeruhan Air Baku Kekeruhan air baku (NTU) Dosis (mg/L)

<50 10-50

50-150 30-100

>150 50-200

2) Kulit Pisang

Pisang merupakan tanaman yang memiliki banyak kegunaan, mulai dari buah, batang, daun, kulit hingga bonggolnya. Tanaman pisang yang merupakan suku Musaceae termasuk kedalam tanaman yang besar memanjang. Tanaman pisang sangat menyukai sekali pada daerah yang beriklim tropis panas dan lembab terlebih si dataran rendah. Ditemui pula di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Indonesia serta termasuk pula Papua, Australia Topika, Afrika Tropi. Pisang dapat berbuah sepanjang tahun pada daerah dengan hujan merata sepanjang tahun. Umumnya, kebanyak orang memakan buah pisang kulitnya akan dibuang begitu saja. Seringkali kulit pisang dianggap sebagai barang tak berharga alias sampah. Ternyata dibalik anggapan tersebut, kulit pisang memiliki kandungan vitamin C, B, kalsium, protein dan juga lemak yang cukup baik. Selain itu, kulit pisang menyimpan tegangan tenaga listrik. Kandungan tenaga listrik yang ada pada kulit pisang bisa dimanfaatkan untuk menggantikan tenaga batu baterai (Mashur, 2011).

(22)

terkontaminasi. Hanya butuh sekitar 20 menit untuk konsentrasi Cu dan Pb untuk mencapai keseimbangan. Kulit buah yang salah satunya kulit pisang dapat digunakan sebagai ekstraktor logam berat.

Menurut Castro (2011), kulit pisang dapat dimanfaatkan dalam mengikat tembaga dan timah dari air sungai Parana Brasil yang tercemar dengan tembaga dan timah. Hasilnya pun lebih baik dibandingkan dengan bahan penyaring yang biasa digunakan seperi karbon dan silika. Kulit pisang ini dapat digunakan hingga 11 kali proses penjernihan.

H. Uji Toksisitas

Uji toksisitas merupakan uji pendahuluan untuk mengamati aktivitas farmakologi suatu senyawa. Prinsip uji toksisitas adalah bahwa komponen bioaktif selalu bersifat toksik jika diberikan dengan dosis tinggi dan menjadi obat pada dosis rendah. Larva udang memiliki kulit yang tipis dan peka terhadap lingkungannya sehingga banyak digunakan dalam uji toksisitas. Zat atau senyawa asing yang ada di lingkungan akan terserap ke dalam tubuh secara difusi dan langsung memengaruhi kehidupannya. Larva udang yang sensitif ini akan mati apabila zat atau senyawa asing tersebut bersifat toksik. Uji toksisitas digunakan untuk mengetahui pengaruh racun yang dihasilkan oleh dosis tunggal dari suatu campuran zat kimia pada hewan coba (Hamburger dan Hostettmann, 1991; Mc. Laughlin & Rogers, 1998)

(23)

Uji toksisitas umumnya bertujuan untuk menilai resiko yang mungkin ditimbulkan dari suatu zat kimia atau toksikan. Uji ini pada dasarnya bertujuan unutk menekan resiko bahaya yang ditimbulkan bagi manusia sehinggaumunya uji toksisitas dilakukan pada binatang, hewan bersel tunggal, atau sel kultur. Hambatan etik tidak memungkinkan langsung melakukan uji toksisitas pada manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti Quantitative Structure Activity Relationships (QSAR) tidak cukup untuk memprediksi potensi resiko bahaya suatu zat kimia. Uji toksisitas adalah suatu uji untuk menentukan potensial suatu senyawa sebagai racun, mengenali kondisi biologis atau lingkungan munculnya efek toksik dan mengkarakterisasi aksi atau efek yang terjadi.

Penelitian pengujian tingkat toksik suatu bahan biasanya dinyatakan dengan Lethal Dosage (LD50) untuk bahan yang bersifat padat sedangkan uji toksisitas dengan menggunakan bahan toksik cair yang mengukur besarnya dosis atau konsentrasi sehingga dapat membunuh 50% hewan uji Lethal Concentration (LC50). Bila suatu zat mempunyai waktu paruh biologi yang sangat tinggi diberikan pada organisme dalam jangka waktu lama dengan sendirinya dapat terjadi akumulasi dalam organisme dalam konsentrasi yang rendah. Hal ini terjadi terutama pada zat lipofil dan sulit dibiotransformasi seperti DTT, aldrin, dieldrin atau turunan difenil terklorinasi.

Pelaksanaan uji toksisitas suatu bahan uji dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu empat cara berikut:

1. Teknik statik

Teknik ini menggunakan larutan atau media uji yang ditempatkan pada suatu bejana uji dan digunakan selama waktu uji tanpa diganti.

2. Teknik resirkulasi

Teknik ini menggunakan larutan atau media uji tidak diganti selama waktu uji namun diresirkulasi dari suatu bejana uji ke baejana lain kembali ke bejana uji dengan maksud untuk memberi aerasi, filtrasi dan atau sterilisasi.

3. Teknik diperbarui

Pada teknik ini setiap 24 jam hewan uji akan dipindahkan ke larutan uji yang baru dan sama, serta tetap konsentrasinya dengan larutan sebelumnya.

(24)

Pada teknik ini larutan uji dialirkan masuk maupun keluar dari bejana uji selama masa uji.

Untuk meneliti berbagai efek yang berhubungan dengan masa pejanan, penelitian toksikologi menurut Frank C. Lu (1995) dibagi dalam:

1. Uji toksisitas akut, dilakukan dengan memberikan zat toksik yang sedang diuji sebanyak 1 kali atau beberapa kali dalam jangka waktu 24 jam.

2. Uji toksisitas jangka pendek (penelitian sub akut atau sub kronik), dilakukan dengan memberikan bahan yang mengandung toksik berulang-ulang. Biasanya diberikan setiap hari atau 5 kali dalam seminggu, selama jangka waktu kurang lebih 10% dari masa hidup hewan.

(25)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen karena data-data yang diperoleh berasal dari penelitian secara langsung dan didapatkan data-data menggunakan variabel-variabel yang dapat menunjang penelitian yaitu variabel kontrol, variabel manipulasi dan variabel respon.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan meliputi dua tahap, penyusunan proposal dan kegiatan eksperimen. Kedua langkah tersebut dilakukan di sekitar sungai Gunungsari dan Universitas Negeri Surabaya pada bulan Desemeber 2013.

C. Variabel-variabel Penelitian

1. Variabel manipulasi : jumlah biji kelor dan kulit pisang

2. Variabel kontrol : jenis ikan, jenis biji kelor, volume air untuk

membuat pasta biji kelor dan volume air limbah yang akan dijernihkan.

3. Variabel respon : kualitas air, kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan, dan mortalitas ikan.

D. Sasaran Penelitian

Sasaran dari penelitian adalah air sungai gunung sari di sepanjang jalan utama gunung sari yang diambil dengan volume 1 liter.

E. Definisi Operasional

(26)

2. Kulit pisang yang akan dipakai dalam penelitian ini untuk memurnikan air hanya perlu dicincang kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam air. Dengan sendirinya logam berat seperti timbal dan tembaga akan terserap oleh serat-serat yang terdapat pada kulit pisang. Jenis pisang apapun bisa digunakan dalam penelitian ini.

3. Penelitian dilakukan dengan 3 perlakuan, yaitu perlakuan A terdiri dari 1 gram serbuk biji kelor dan 1 gram kulit pisang; perlakuan B terdiri dari 2 gram serbuk biji kelor dan 2 gram kulit pisang; dan perlakuan C terdiri dari 3 gram serbuk biji kelor dan 3 gram kulit pisang. Pada ketiga perlakuan tersebut digunakan untuk menjernihkan 1 liter air.

4. Kualitas air yang digunakan sebagai respon penjernihan air dengan menggunakan biji kelor dan kulit pisang adalah kejernihan air, warna, dan baunya.

F. Alat dan Bahan

1. Alat

a. Ember atau wadah plastik 6 buah

b. Gayung air 2 buah

c. Kain serbet secukupnya

d. Penumbuk 1 buah

e. Pisau 1 buah

f. Plastik kresek secukupnya g. Alat tulis

h. Kamera 2. Bahan

a. Air secukupnya

b. Air sungai 1 liter

c. Biji kelor @10 gram, @15 gram, dan @20 gram d. Kulit pisang ± 1 sisir dari buah pisang

G. Langkah Kerja

(27)

A2

B1

C1 B2

C2 A1

2. Biji yang sudah bersih dibungkus dengan kain, kemudian ditumbuk sampai halus betul. Penumbukan yang kurang halus dapat menyebabkan kurang sempurnanya proses penggumpalan.

3. Campur tumbukkan biji kelor dengan sedikit air sampai berbentuk pasta dan kulit pisang dicincang kecil-kecil.

4. Masukkan pasta biji kelor dan kulit pisang yang telah dipotong kecil-kecil ke dalam air keruh yang akan dijernihkan kemudian diaduk.

5. Aduklah secara cepat 30 detik, dengan kecepatan 55-60 putaran/menit. 6. Kemudian aduk lagi secara berlahan dan beraturan selama 5 menit dengan

kecepatan 15-20 putaran/menit.

7. Pisahkan air yang jernih dari endapan. Pemisahan harus dilakukan dengan hati-hati agar endapan tidak naik lagi.

H. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor perlakuan berbeda, yaitu menggunakan biji kelor, arang dan kulit pisang yang terdiri atas 3 tingkat yaitu A = 1 gram kelor dan 1 gram kulit pisang; B = 2 gram kelor dan 2 gram kulit pisang; C = 3 gram kelor dan 3 gram kulit pisang.

(28)

Data berupa kualitas air dilihat dari kejernihan air, warna, dan bau yang dianalisis menggunakan analisis varian ANAVA satu arah. Jika ada perbedaan, dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) (Hadiwibowo, 1996).

(29)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 4.1 Data Pengaruh Pemberian Serbuk Kelor dan Kulit Pisang terhadap Kualitas Air di Sungai Rolak

Tabel 4.2. Data Pengaruh Pemberian Serbuk Kelor dan Kulit Pisang terhadap Kecepatan Membuka dan Menutupnya Operkulum Ikan Mas

No

Tabel 4.3. Data Pengaruh Pemberian Serbuk Kelor dan Kulit Pisang terhadap Mortalitas Ikan Mas

No

(30)

1. Air Sungai 2 ikan mati setelah 24 jam

Percobaan penjernihan air dengan menggunakan serbuk biji kelor dan kulit pisang yang dilakukan menggunakan uji toksisitas yaitu berupa ikan mas (Cyprinus carpio). Indikator yang digunakan yaitu kualitas air (meliputi suhu, pH, dan kekeruhan), kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan pada berbagai perlakuan dan mortalitas ikan mas yang ditentukan selama 3 hari pengamatan. Berdasarkan dari tabel 4.1, dapat diketahui bahwa kualitas air sungai Rolak sebelum perlakuan memiliki suhu sebesar 29oC, dengan pH 5,6, dan tingkat kekeruhan sebesar 108 FTU. Setelah perlakuan pertama yaitu ditambah dengan serbuk biji kelor sebanyak 10 gram dan kulit pisang 10 gram didapatkan hasil suhu sebesar 28oC, dengan pH 6,8, dan tingkat kekeruhan sebesar 14 FTU. Perlakuan yang kedua yaitu ditambah serbuk biji kelor sebanyak 15 gram dan kulit pisang 15 gram didapatkan hasil suhu sebesar 29oC, dengan pH 6,8, dan tingkat kekeruhan sebesar 25 FTU. Perlakuan yang kedua yaitu ditambah serbuk biji kelor sebanyak 20 gram dan kulit pisang 20 gram didapatkan hasil suhu sebesar 28oC, dengan pH 7,5, dan tingkat kekeruhan sebesar 11 FTU.

(31)

Sedangkan pada perlakuan yang kedua (air sungai + 15 gram biji kelor + 15 gram kulit pisang), kecepatan membuka dan menutupnya operkulum ikan sebesar 117/menit. Kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan mas yang paling rendah terdapat pada perlakuan yang ketiga (air sungai + 20 gram biji kelor + 20 gram kulit pisang), yaitu sebesar 98/menit.

Uji yang ketiga yaitu uji mortalitas ikan mas yang dilakukan maksimal selama 3 hari. Dari pengamtan pada tabel 4.3 diketahui bahwasanya kemampuan bertahan hidup ikan mas paling rendah ada pada perlakuan air sungai saja tanpa penambahan serbuk biji kelor dan kulit pisang, pada perlakuan ini terdapat 2 ikan yang mati setelah 24 jam dari total ikan 3 ekor. Sedangkan untuk perlakuan pertama (air sungai + 10 gram biji kelor + 10 gram kulit pisang), perlakuan yang kedua (air sungai + 15 gram biji kelor + 15 gram kulit pisang) dan perlakuan ketiga (air sungai + 20 gram biji kelor + 20 gram kulit pisang), ikan mas yang ada dapat bertahan hidup dengan baik. Hal ini terbukti dengan tidak adanya ikan yang mati selama waktu yang ditentukan yaitu 3 hari pengamatan.

C. Pembahasan

(32)

Biji kelor merupakan bahan yang tidak sulit untuk ditemukan karena tanaman kelor adalah salah satu tanaman yang dapat hidup dengan baik di beragam habitat di daerah tropis, seperti Indonesia. Biji kelor yang digunakan disini adalah biji kelor yang sudah kering karena dan kemudian dihaluskan, digunakan biji kelor yang sudah kering karena di dalam biji ini terdapat kandungan senyawa polielektrolit dan flokulan alamiah dengan komposisi kimia berbasis polipeptida yang mempunyai berat molekul mulai dari 6000 sampai 16000 dalton, mengandung hingga asam-asam amino terutama glutamate metionin dan arginin yang tinggi. Senyawa tersebut berperan untuk mengkoagulasi polutasn dan membunuh mikroba negatif yang ada di dalam air limbah. Efektivitas koagulasi oleh biji kelor ditentukan oleh kandungan protein kationik bertegangan rapat dengan berat molekul sekitar 6,5 dalton. Zat aktif (active agent) yang terkandung dalam biji kelor yaitu L-rhamnosyloxy-benzyl-isothiocyanate. Prinsip utama mekanisme koagulasi dari biji kelor adalah adsorbsi dan netralisasi tegangan protein tersebut.

Sedangkan untuk bahan yang kedua yaitu kulit pisang dapat diperoleh secara cuma-cuma karena pada dasarnya kulit pisang merupakan sampah yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain dapat digunakan untuk menjernihkan air, pemanfaatan kulit pisang tersebut juga termasuk usaha dalam mengurangi sampah padat (solid waste). Kulit pisang yang digunakan sebelumnya dipotong kecil-kecil terlebih dahulu. Kulit pisang disini berfungsi untuk menyerap logam-logam berat yang terkandung dalam air yang akan dijernihkan atau air limbah. di dalamnya mengandung beberapa komponen biokimia, antara lain selulosa, hemiselulosa, pigemen klorofil dan zat pektin yang mengandung asama galacturonic, arabinosa, galaktosa dan rhamnosa. Asam galacturonic menyebabkan kuat untuk mengikat ion logam yang merupakan gugus fungsi gula karboksil. Didasarkan hasil penelitian, selulosa juga memungkinkan pengikatan logam berat. Limbah kulit daun pisang yang dicincang dapat dipertimbangkan untuk ekstraksi tembaga dan ion timbal pada air yang terkontaminasi. Kulit buah yang salah satunya kulit pisang dapat digunakan sebagai ekstraktor logam berat (Hewwet, 2011).

(33)

perlakukan dengan pemberian 20 gram serbuk kelor + 20 gram kulit pisang didapatkan kecepatan operkulum ikan yaitu 98/menit. Setelah itu mengalami penurunan ketika diberi perlakuan dengan penambahan serbuk biji kelor dan kulit pisang, kecuali pada perlakuan kedua yang meningkat kecepatannya jika dibandingkan dengan perlakuan pertama. Kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan mas tinggi pada perlakuan air sungai saja tanpa penambahan serbuk biji kelor dan kulit pisang dapat disebabkan karena kualitas air yang buruk, air sungai berwarna coklat pekat dan berbau tidak sedap.

Air yang keruh akan menghalangi penetrasi cahaya ke dalam air, dan pada akhirnya akan berakibat pada menurunnya kadar oksigen terlarut. Karena rendahnya kadar oksigen yang terlarut tersebut, maka ikan mas akan berupaya untuk beradaptasi dengan meningkatkan kecepatan membuka dan menutupnya operculum sehingga dapat memperoleh oksigen yang cukup untuk melangsungkan hidupnya. Kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan mas mengalami penurunan ketika diberi perlakuan dengan menambahkan serbuk biji kelor dan kulit pisang dikarenakan ikan lebih mudah untuk bernafas dan memperoleh oksigen sebab kuaitas air baik, air jernih dan tidak berbau. Pada perlakuan yang kedua terjadi peningkatan kecepatan deibandingkan perlakuan yang pertama walaupun kualitas air telah baik. Hal tersebut dapat dikarenakan berbagai faktor salah satunya adalah kurang tepatnya perhitungan pengamat saat mengamati ikan mas yang digunakan sebagai objek uji coba. Peningkatan kualitas air juga dibuktikkan dari uji toksisitas dengan menempatkan ikan mas di dalam air sungai yang telah dijernihkan. Dari uji ini ikan mas yang diletakkan di dalam air sungai dengan penambahan serbuk kelor dan kulit pisang dapat hidup bertahan selama waktu yang ditentukan yaitu 3 hari pengamatan.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

(34)

1. Kualitas air sungai di daerah Gunungsari sebelum dilakukan penjernihan adalah tidak baik, tercemar dan keruh sekali dengan tingkat kekeruhan mencapai 108 FTU. Sedangkan kualitas sungai setelah dilakukan penjernihan yaitu mulai membaik dan airnya jernih dengan tingkat kekeruhan 14 FTU untuk 10 gr kelor dan kulit pisang, 25 FTU untuk 15 gr kelor dan kulit pisang, dan 11 FTU untuk 20 gr kelor dan kulit pisang.

2. Ya, pemberian biji kelor dan pisang memiliki kemampuan sebagai koagulan dan flokulan pada air limbah yang berasal dari sungai Gunungsari.

3. Dosis yang optimal untuk penjernihan air di sungai yaitu pada dosis 20 gram biji kelor + 20 gram kulit pisang.

4. Pengaruh pemberian serbuk biji kelor dan kulit pisang terhadap kecepatan membuka dan menutupnya operkulum untuk perlakuan 10 gr kelor + kulit pisang sebanyak 106/menit, perlakuan 15 gr kelor + kulit pisang sebanyak 117/menit dan perlakuan 20 gr kelor + kulit pisang sebanyak 98/menit. Dimana sebelum perlakuan mencapai 154/menit.

5. Pengaruh pemberian serbuk biji kelor dan kulit pisang terhadap mortalitas ikan pada ketiga perlakuan berbeda selama 3 hari ikan masih tetap hidup, sedangkan mortalitas ikan sebelum perlakuan ikan yang ada mengalami kematian.

B. Saran

1. Agar praktikan lebih teliti lagi dalam menimbang atau mengukur berat dari serbuk buji kelor.

2. Menggunakan jenis tumbuhan lain dari genus yang sama untuk koagulan alamiserta penambahan parameter yang diuji sehingga kemampuan sebagai biokogulan dapat lebih diketahui untuk parameter lain.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. ANDI: Yogyakarta.

(35)

Azwir. 2012. http://eprints.undip.ac.id/15421/1/Azwir.pdf. Diakses tanggal 6 Desember 2013.

Cara hidup, UM. 2010. http://moringaoleiferaindonesia.blogspot.com/2010/06/khasiat-moringa-oleifera-kelor.html. Diakses tanggal 6 Desember 2013.

Fadhli, Haiyul. 2013. Uji Toksisitas. Dalam situs http://haiyulfadhli.blogspot.com/2013/01/uji-toksisitas-brine-shrimp-lethality.html. Diakses pada tanggal 13 Januari 2014.

Halang. 2004. Toksisitas Air Limbah Deterjen Terhadap Ikan Mas. Dalam situs http://bioscientiae.unlam.ac.id/v1n1/v1n1_halang.PDF. Diakses tanggal 13 Januari 2014.

Khasanah, Uswatun. 2008. Efektifitas Biji Kelor Sebagai Koagulasi Fosfat dalam Limbah Cair Rumah Sakit. Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi: Universitas Islam Negeri Malang.

Kimia lingkungan 2. 2012. dalam http://kimling2x.blogspot.com/2012/11/pemanfaatan-biji-kelor-moringa-oleifera.html. Diakses tanggal 6 Desember 2013.

Kristanto, Philip. 2002. Ekologi Industri. LGM/L. ANDI: Yogyakarta.

Prayogo, Setyo. 2006. Karakteristik Koagulasi Biji Kelor Untuk Menurunkan Kekeruhan Pada Limbah Industri Penyamakan Kulit di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Magetan. Skripsi tidak diterbitkan, Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik: Universitas Brawijaya.

ReposItory IPB.http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/47489/BAB%20II %20Tinjauan%20Pustaka_%20G11rsr.pdf?sequence=5. Diakses tanggal 6 Desember 2013.

Rumidatul, Alfi. 2006. Efektifitas Arang Aktif sebagai Adsorben pada Pengolahan Air limbah. Skripsi tidak diterbitkan. Sekolah Pascasarjana, Istitut Pertanian Bogor. Santi, Devi Nuraini. 2004. Pengelolaan Limbah Cair Pada Industri Penyamakan Kulit

Industri Pulp dan Kertas Industri Kelapa Sawit. Universitas Sumatera Utara, Hal: 1-6.

Siregar A., 2005. Instalasi Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta : Kanisius

Sukadi. 1999. Pencemaran Sungai Akibat Buangan Limbah dan Pengaruhnya Terhadap BOD dan DO. Makalah Seminar Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan: Bandung.

(36)

Widyaningsih, Lumbung Pustaka UNY. 2012.http://eprints.uny.ac.id/9524/2/BAB %201%20-%2007308141020.pdf. Diakses tanggal 6 Desember 2013.

WPSHOWER. 2013. http://moringaoleiferaindonesia.blogspot.com/2010/06/moringa-oleifera-kelor.html. Diakses tanggal 6 Desember 2013.

Yasin, Muhammad. 2013.http://yasiendt.blogspot.com/2013/03/senyawa-kimia-di-dalam-biji-daun-kelor.html. Diakses tanggal 6 Desember 2013.

Yuliastri, R.A. 2010. Penggunaan Serbuk Biji Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Koagulan dan Flokulan Dalam Perbaikan Kualitas Air Limbah dan Air Tanah. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Sains dan Teknologi: Jakarta.

(37)

Gambar 1: Kondisi sekitar sungai yang dipenuhi (a) pabrik dan (b) rumah padat penduduk yang membuang limbah langsung di sungai

Gambar 2: Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum penjernihan limbah di sungai Rolak (a) serbuk kelor, (b) kulit pisang, dan (c) ikan mas

Gambar 3: (a) Warna air sungai Rolak ketika diambil dan (b) ikan-ikan mati mengambang di Sungai Rolak pada Bulan November 2013

(38)

Gambar 4: Air sungai yang diberi dengan serbuk kelor dan kulit pisang (a) 10 gram, (b) 15 gram, dan (c) 20 gram

Gambar 5: Hasil air penyaringan (a) 10 gram, (b) 15 gram, dan (c) 20 gram

Gambar

Gambar 2.1 Bagian-bagian Tumbuhan Kelor (Moringa oleifera)
Gambar 2.3 Struktur logam alkali pada biji kelor
Gambar 3.2 Denah Peletakkan Unit Percobaan
Tabel 4.1 Data Pengaruh Pemberian Serbuk Kelor dan Kulit Pisang terhadap
+3

Referensi

Dokumen terkait

Diduga kadar Sulfat dan Sulfida pada air baku di PDAM Tirtanadi Deli. Tua melebihi batas persyaratan Peraturan Pemerintah

Untuk baku mutu air Kelas III, analisis Indeks Pencemaran menunjukkan kualitas air Sungai Lok Buntar pada Stasiun I masih memenuhi baku mutu air Kelas III (nilai IP

Kandungan kromium yang melebihi baku mutu limbah pada limbah cair yang dihasilkan oleh Industri Elektroplating X, dikarenakan logam yang telah dilakukan pelapisan

61 Tahun 1999 tentang Limbah Cair Rumah Sakit angka keluaran limbah cair masih melebihi baku mutu yang telah ditetapkan, yaitu melebihi kadar maksimal 30 mg/L untuk parameter

Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah rumah sakit yang mengandung fosfat tinggi yang melebihi baku mutu yang akan menyebabkan masalah lingkungan hidup sehingga

Bila dibandingkan dengan dengan baku mutu air limbah industri tahu, ditinjau dari konsentrasi, semua parameter tidak memenuhi baku mutu yang ditentukan.

Kualitas air sungai Blukar dari hulu ke hilir telah mengalami penurunan kualitas air sungai yang ditunjukkan parameter BOD dan COD melebihi baku mutu di titik

pH dan TSS pada air limbah di masing-masing titik pemantauan masih didapati melebihi baku mutu air limbah kegiatan pertambangan bijih besi sehingga memerlukan penanganan tertentu agar