• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA GEOGRAFI PADA PENDIDIKAN DI IND

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DINAMIKA GEOGRAFI PADA PENDIDIKAN DI IND"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA GEOGRAFI PADA PENDIDIKAN DI INDONESIA Oleh : Hastuti, FIS, Universitas Negeri Yogjakarta

Abstrak

Keunikan kajian geografi sebagai disiplin tentang geosfer adalah mengintegrasikan aspek yang dikaji ilmu-ilmu alam dan sosial dengan memperhatikan ruang, tempat, dan waktu, bahwa unsur-unsur geosfer tersebut dikaji dalam geografi secara komprehensif (De Blij dan Murphy, 2003). Geografi secara komprehensif diyakini para geograf akan tetap eksis dibelantara disiplin ilmu yang mengarah pada spesialisasi. Terbukti jejak pemikiran geografi komprehensif ini diikuti oleh disiplin lain dengan dikembangkannya pemikiran inter-disiplin karena disadari makin kompleksnya persoalan yang harus diurai ilmu pengetahuan. Geografi sebagai kajian pendidikan sesungguhnya termasuk dalam mix geography (Kitchin dan Tate, 1999). Salah satu cara pengembangan geografi melalui pendidikan diharapkan dapat dilahirkan manusia berdedikasi dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai dan rasional dalam memahami dan memanfaatkan geosfer. Melalui kajian geografi diharapkan mampu membawa anak bangsa memiliki wawasan kebangsaan dan kebhinekaan untuk memajukan kehidupan bangsa meskipun dalam pendidikan di Indonesia masih harus diperjuangkan agar seluruh peserta didik pada pendidikan dasar menengah memperoleh materi geografi.

Kata Kunci: Geografi - Pendidikan

Pendahuluan

Di Indonesia terdapat perbedaan pengembangan geografi pada pendidikan tinggi

sebagai ilmu murni disamping pendidikan tinggi yang menghasilkan guru-guru untuk

pendidikan dasar menengah. Geografi dikembangkan mulai dari pendidikan dasar,

menengah hingga perguruan tinggi (mantan IKIP) berada pada konsorsium ilmu sosial.

Geografi dikembangkan sebagai ilmu murni masuk konsorsium ilmu alam.

Membincangkan geografi terkait pendidikan dasar dan menengah di Indonesia telah

diketahui bersama bahwa geografi erat bersentuhan dengan ilmu sosial lainnya. Geografi

pada pendidikan dasar masuk dalam wadah ilmu pengetahuan sosial, sedangkan pada

pendidikan menengah dikembangkan berdampingan dengan ilmu sosial lain seperti sejarah,

sosiologi, antropologi, ilmu politik, dan ekonomi.

Perdebatan terkait ontologi, epistemologi, dan metode hingga saat ini masih

berlangsung dalam geografi, seperti tertuang pada Questioning Geography Fundamental

(2)

perdebatan geografi hingga abad ini. Perdebatan geografi sebagai disiplin natural atau

human science masih berlangsung mengiringi dinamika pemikiran geografi. Geografi telah

dikembangkan dalam disiplin terpisah pada beberapa negara seperti Inggris, Australia, dan

Belanda (Villes, 2005). Negara tersebut telah memisahkan pengembangan geografi menjadi

dua sub-devisi berbeda, geografi dengan aspek kajian fisik sebagai physical geography

lekat dengan natural science dan geografi dengan kajian manusia sebagai human

geography, dikembangkan dibawah konsorsium human science (Castree, N, Roger, A, dan

Sherman, D, 2005). Pemikiran geografi sejak lama dikembangkan untuk pemecahan

persoalan geosfer melalui analisis komprehensif. Kritikan terhadap geografi komprehensif

ini muncul karena dianggap sebagai pendangkalan geografi sementara disisi lain belantara

ilmu dikembangkan semakin spesialis. Pengembangan ilmu dihadapkan pada persoalan

yang semakin kompleks sehingga diperlukan analisis inter-disiplin dalam pemecahan

berbagai persoalan yang dihadapi. Gagasan ini justru senafas dengan pemikiran geografi

yang sejak awal bertahan sebagai ilmu komprehensif.

Geografi mengkaji manusia hingga menempatkan disiplin ini dekat dengan ilmu

sosial, teori sosial dikembangkan untuk kajian kependudukan, kebudayaan, dan kegiatan

manusia terkait ekonomi, sosial, politik dan psikologi (Fielding, 1984). Pembelajaran

geografi pada pendidikan dasar dan menengah di Indonesia dikembangkan antara lain

dengan adopsi teori sosial untuk memberi pemahaman kepada peserta didik agar mampu

menyesuaikan dengan dinamika dan perkembangan manusia sebagai makhluk sosial dalam

perspektif ruang dan tempat. Sebagai contoh kajian geografi yang menekankan aspek sosial

wilayah tertentu, dimulai dengan sejarah yang mewarnai bentuk pemukiman, antropologi

sosial, dan ekonomi (Park dalam Smith Pamela Shurmer, 2002). Pada dasarnya geografi

dikembangkan pada pendidikan dasar, menengah, dan LPTK yang mendidik guru-guru

geoggrafi dalam bidang ilmu sosial.

Kurikulum 2013 menempatkan geografi melekat dalam IPS pada pendidikan dasar,

sedangkan pada pendidikan menengah hanya diberikan di kelas IPS sebagaimana mata

pelajaran sosiologi dan ekonomi. Pendidikan geografi memiliki peran strategis dalam

(3)

geografi berperan untuk mengenalkan Indonesia secara utuh agar dapat sebagai wahana

pemersatu bangsa, dan menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Sayang di

Indonesia geografi masih dipandang dengan sebelah mata hal demikian nampak dalam

kurikulum sekolah tahun 2013 pendidikan. Mata pelajaran pada pendidikan dasar geografi

melekat dalam mata pelajaran IPS dan pada pendidikan menengah geografi hanya diberikan

pada peserta didik kelompok IPS.

Dinamika Geografi

Sejarah menunjukkan bahwa geografi pernah dikembangkan oleh ahli dengan latar

belakang ilmu bervariasi mulai dari F. Ratzel yang ahli botani, kemudian C. Sauer dengan

latar belakang sosiologi, ketertarikan terhadap geografi untuk mengkaji muka bumi

kemudian menerbitkan exemplar geografi berbeda paradigm yakni determinisme dan

posibilisme. Ketertarikan ahli dari disiplin lain lumrah terjadi dalam perjalanan

pengembangan ilmu tentu saja akan berpengaruh pada teori yang dibangun sebagaimana F.

Ratzel sebagai pelopor determisme dan C Sauer dengan aliran posibilisme. Geosfer sebagai

objek studi geografi meliputi fenomena muka bumi, adanya relasi timbal balik, interaksi,

dan interdependensi antar fenomena (Harvey, D, 1986). Geografi memiliki sub-devisi

geografi fisik yang mempelajari faktor fisik yang menjadi lingkungan hidup manusia dan

geografi manusia mengkaji perilaku dan aktifitas manusia (Viles, H dalam Castree, N;

Rogers,A; dan Sherman, D, 2005).

Sub-devisi geografi di Indonesia dikembangkan dalam ranah ilmu alam dan ilmu

sosial, implementasi pada pendidikan dasar dan menengah geografi dikenal sebagai studi

tentang geosfer dengan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan. Knox, P L

dan Marston SA (2004) serta de Blij dan Murphy (2003) mengemukakan pentingnya

perspektif keruangan sebagai ranah epistemologi untuk membedah fenomena geosfer.

Objek formal geografi yang menekankan pendekatan dan prinsip keruangan sebagai inti

dalam analisis geografi meliputi pola dari sebaran gejala tertentu di permukaan bumi

(Spatial Pattern), keterkaitan atau hubungan antar gejala dan membangun struktur tertentu

(4)

(Spatial Procces), disamping pendekatan kelingkungan dan kewilayahan (Hagget, P, 1984).

Analisis keruangan geografi dikembangkan oleh Masyarakat Geografi Jerman menjadi

konsep dasar dalam analisis keruangan geografi sebagai dilihat di skema berikut.

Konsep Dasar Dalam Analisis Keruangan Geografi. Sumber: German Geographical Society (Ed.), 2012

Human geography dan physical geography dianalisis melalui struktur, fungsi dan proses

dalam sistem hubungan manusia dengan lingkungannya pada skala lokal, regional, national,

international, dan global. Namun demikian ranah ini belum perlu disampaikan pada tingkat

pendidikan dasar dan menengah mengingat ranah ini masuk dalam ranah filosofi yang

penuh perdebatan.

Analisis geografi yang lain yakni dengan tema geografi dikenalkan de Blij dan

Murphy (2003), kerangka kerja geografi menggunakan tema yakni location, interaction

human and the enviroment, regions, place, movement, dan landscape. Knox dan Marston

(2004) menjelaskan analisis keruangan dalam geografi dengan memperhatikan lima konsep

yakni lokasi, jarak, ruang, aksesibilitas, dan keruangan.

Geografi pada pendidikan dasar dan menengah merupakan subject matter yang

mengintegrasikan ilmu-ilmu alam dan sosial sejajar dengan mata pelajaran ilmu

pengetahuan alam dan sosial seperti biologi, kimia dan fisika, sosiologi, ilmu politik, dan

(5)

dan epistemologi sebagai patokan yang mendasari salah satu cara pengembangan ilmu

melalui penelitian geografi. Pengembangan ilmu yang dilakukan ilmuwan tentu saja harus

memperhatikan aspek kemanfaatan baik secara teori atau terkait kemaslahatan kehidupan.

Kompetensi geografi tampak pada skema berikut.

Kompetensi Geografi. Sumber: Susan Bliss, 2005

Geografi dikembangkan dengan kompetensi lintas budaya, kompetensi ini juga

ditemukan dalam kompetensi ilmu sosial lainnya yang memperhatikan aspek budaya

sebagai kajiannya. Aspek budaya merupakan komponen penting dalam kehidupan

bermasyarakat. Kompetensi geografi terkait dengan planet sebagai tempat kelangsungan

hidup, maka perhatian geografi juga tertuju pada pembangunan, trends, dan

persoalan-persoalan terkait terorisme, globalisasi, lingkungan, degradasi, rasisme, pengungsi, dan

kemiskinan. Kompetensi lain yakni kesadaran terhadap kesempatan yang dimiliki manusia

sehingga mengasah kepekaan mereka dalam pengambilan keputusan terkait generasi di

masa depan agar manusia dapat hidup bermasyarakat dalam konteks lokal dan global.

Kompetensi terkait dengan dinamika global dibidang ilmu pengetahuan bahwasanya dunia

ini saling berhubungan secara lokal dan global sehingga pemecahan persoalan yang

kompleks diperlukan dengan mencari relasi sebab akibat dalam konstalasi lokal dan global.

Kompetensi geografi yang menjalankan interkoneksi masing-masing kompetensi menjadi

(6)

bahwasanya analisis ruang saling terkait tidak terisolasi satu sama lain merupakan kerangka

untuk pemecahan masalah dalam konteks geografi secara komprehensif.

Geografi tidak perlu risau dan terus menerus memperdebatkan kedudukan geografi

dalam struktur keilmuan, tantangan yang harus dihadapi justru mencari format sebagai ilmu

yang mampu menjawab persoalan kehidupan manusia di muka bumi. Spesialisasi dalam

pengembangan ilmu memang diperlukan agar mampu memberikan kontribusi semakin

berarti dan mendalam untuk pemecahan persoalan muka bumi yang kian kompleks

sehingga kerangka kerja sama antar disiplin ilmu senantiasa diperlukan. Geografi sebagai ilmu yang “mengklaim” komprehensif dituntut dapat menunjukkan jati diri keilmuannya. Komprehensif bukan berarti pendangkalan pemikiran atau jauh dari ketuntasan untuk

pemecahan persoalan namun komprehensif diharapkan mampu mengurai kompleksitas

permasalahan dimuka bumi secara utuh baik dari aspek alam maupun manusia.

Pendidikan Geografi di Indonesia

Geografi terus dikembangkan dalam suasana perdebatan, anggaplah semua ini justru

menjadi peluang bagi penguatan geografi sebagai ilmu agar memiliki kontribusi nyata

sesuai dengan peran keilmuan yang dijalankan. Menilik yang terjadi di negara-negara maju,

geografi dianggap penting dalam pendidikan sebagaimana di Inggris. Analisis keruangan

(dan tempat), menjadi fokus penelitian pendidikan sehingga disertakan dalam konstalasi

pendidikan nasional termasuk pengembangan kurikulum di Inggris, dengan demikian peran

pendidikan geografi dalam pembangunan bangsa semakin nyata di Inggris (Bliss, S, 2005).

Dibanding Indonesia, United Kingdom memiliki wilayah relatif lebih sempit dengan

keanekaragaman yang tak begitu kompleks justru mengedepankan betapa pentingnya

geografi dalam kurikulum pendidikan di negeri tersebut. Ironis memang ketika pada

kurikulum 2013, geografi masih kurang mendapat tempat signifikan pada pendidikan di

Indonesia. Sebagai contoh pada kurikulum 2013 geografi pada pendidikan dasar menengah

hanya diberikan untuk peserta didik IPS. Kritik berkembang di kalangan masyarakat

geografi yang diwadahi MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) geografi, dan IGI

(Ikatan Geografiwan Indonesia) terjadi pelemahan kajian geografi pada pendidikan dasar

(7)

boleh jadi dengan waktu yang tersedia pada kurikulum saat ini begitu berat, untuk mengkaji

objek material apalagi masih disisipkan kajian objek formal geografi dalam kurikulum yang

berlaku. Standard pendidikan geografi dengan contoh di negara maju dapat dilihat pada

skema berikut.

Standard pendidikan geografi di USA. Sumber: Kaufhold, Tammy M, 2004

Objek material seharusnya lebih diutamakan pada kurikulum pendidikan dasar menengah,

sementara ranah objek formal untuk kurikulum pendidikan tinggi. Kajian objek material

geografi (geosfer) memerlukan waktu dalam proses pembelajaran yang lebih panjang agar

peserta didik memiliki kompetensi sesuai yang diharapkan.

Standard pendidikan geografi diatas berlaku di USA mulai dari pendidikan dasar

sampai pendidikan tinggi. Komitmen negeri adikuasa terhadap geografi cukup beralasan

karena negeri yang sangat besar tersebut harus melahirkan anak-anak negeri yang memiliki

pemahaman tentang negerinya secara komprehensif. Diyakini bahwa geografi mampu

untuk mengakomodasi cita-cita tersebut. Seluruh aspek geosfer apabila dicermati kemudian

dijelaskan dengan memperhatikan perspektif geografi seperti tema, prinsip, dan pendekatan

sebagaimana tercakup pada delapan belas standard dalam pendidikan geografi diatas

(8)

Indonesia merupakan negeri dengan 256 juta penduduk yang terdiri dari 300

kelompok etnik tersebar di hampir 17 000 pulau dikelilingi hampir 155 vulcan aktif dan

non aktif, tentu saja didalamnya terkandung kekayaan alam yang tersebar bervariasi (BPS,

2010). Disisi lain kondisi alam Indonesia tersebut juga menyimpan ancaman yang harus

selalu diwaspadai oleh penduduk negeri ini seperti ancaman gunung meletus, longsor,

banjir, serta kebakaran hutan. Fenomena alam ini merupakan kajian penting dalam

geografi, seharusnya dikenalkan kepada seluruh anak bangsa melalui kurikulum

pendidikan. Pendidikan geografi memiliki peran strategis dalam pendidikan di Indonesia

untuk mengenalkan variasi dan distribusi sumberdaya, mengenalkan Indonesia secara utuh

sebagai modal pemersatu bangsa, dan menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Tak kenal maka tak sayang, melalui pendidikan geografi diharapkan mampu untuk

mengenalkan Indonesia secara utuh kepada seluruh anak bangsa sehingga menumbuhkan

kecintaan dan rasa memiliki Indonesia sebagai satu negara yang memiliki keanekaragaman

suku bangsa, bahasa, budaya, sosial, dan sumberdaya.

Memahami pengembangan geografi melalui pendidikan di Indonesia sebagai negara

kepulauan yang memiliki kekayaan sumberdaya alam dan variasi sosial, ekonomi dan

budaya, geografi memiliki peran penting untuk memahami kekayaan bumi dan

keanekaragaman sosial-budaya Indonesia. Kajian geografi tentang Indonesia juga

disandingkan dengan konteks keruangan dan kelingkungan dalam ranah pergaulan pada

tataran wilayah regional, Asia Tenggara, Asia, Asia Pasific, Asia Africa, dan wilayah yang

lebih luas pada skala global. Memahami Indonesia dihadapkan dengan dinamika global

merupakan salah satu aspek kajian dalam pembelajaran geografi. Mengingat hal tersebut

seharusnya pengembang kurikulum di Indonesia mempertimbangkan betapa pentingnya

geografi untuk diketahui dan dipahami segenap elemen anak bangsa melalui pendidikan.

(9)

Kecenderungan pembelajaran geografi yang berlangsung di Negara-negara Asia saat ini

adalah bagaimana membawa peserta didik lebih sensitif terhadap kondisi masyarakat dan

lingkungannya mulai dari tingkat lokal, regional, dan global. Laboratorium alam dapat

dimanfaatkan dalam pembelajaran geografi meliputi aspek terkait alam, sosial, budaya di

berbagai tempat (Lise Halvorsen, Anne, 2009). Pendidikan geografi dengan kajian aspek

geosfer meliputi alam dan manusia memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat

secara aktif dengan lingkungan (lokal, regional, dan global) dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran geografi diharapkan mampu membawa peserta didik memiliki wawasan

dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran, membawa peserta didik mampu

mengaplikasikan secara terampil GIS untuk kehidupan yang lebih luas, serta membawa

peserta didik memiliki kemampuan dan kemauan untuk selalu berorientasi berkompetisi di

tingkat global (Suleyman, Incekara, 2010).

Pendidikan geografi menekankan kajian kehidupan masyarakat dalam lingkungan

alam, sosial budaya, ekonomi dan politik, tentu saja berbeda dengan kajian ilmu sosial lain.

Ilmu sosial pada umumnya kurang memperhatikan aspek alam sebagai lingkungan hidup

manusia, sementara lingkungan menjadi aspek pembelajaran yang penting dalam kurikulum

geografi. Studi tentang geosfer lebih mudah digunakan untuk memberikan pemahaman

kepada peserta didik tentang cara beradaptasi terhadap lingkungan, mengingat struktur

kurikulum pendidikan geografi berbasis pada lingkungan alam maupun masyarakat.

Geografi dengan standard yang ditawarkan diharapkan mampu mengakomodasi

kepentingan guna membangun masyarakat yang lebih baik saat ini hingga masa depan.

Geografi seharusnya dijadikan komponen penting dalam pendidikan melalui

kurikulum yang responsif, kajian geografi terkait langsung dengan lingkungan oleh karena

itu selayaknya geografi diberikan pada seluruh peserta didik tanpa pengecualian agar

segenap elemen masyarakat memiliki modal tentang kepedulian terhadap lingkungan.

Mengapa demikian agar seluruh anak bangsa ini dapat mengenal dan memahami kondisi

fisik dan kondisi non fisik (sosial, budaya, dan ekonomi), memahami tentang kehidupan

mereka terkait kondisi alam, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Mengapa geografi

(10)

diketahui, tanpa pemahaman tentang interkoneksi antar aspek geosfer sulit kiranya manusia

dapat mengenali, memanfaatkan, bahkan menjaga lingkungan dengan baik. Pengembangan

kurikulum untuk ilmu sosial lain seperti sejarah, sosiologi, politik, dan ekonomi masih

sedikit mengkaji lingkungan sebagai aspek kajian ilmunya. Geografi dengan fokus kajian

geosfer, maka aspek lingkungan dapat disesuaikan dengan pemahaman siswa tentang

transisi lingkungan kehidupan mereka di masyarakat dari lingkungan keluarga, lingkungan

rukun tetangga, lingkungan desa, dan seterusnya sampai pada lingkungan global sesuai

dengan usia peserta didik (Lise Halvorsen, Anne, 2009).

Studi geografi juga mengkaji fenomena geosfer terkait globalisasi, perubahan iklim,

gempa bumi, banjir, badai, gunung meletus, migrasi, kesenjangan pendapatan, kemiskinan,

konflik sumberdaya, dan unsur-unsur yang membentuk kehidupan masyarakat di muka

bumi. Peningkatan peran geografi dalam pendidikan di Indonesia perlu mendapat perhatian

pemerintah agar seluruh peserta didik terutama pada jenjang pendidikan dasar dan

menengah memiliki kompetensi terkait topik tersebut mengingat Indonesia yang kaya

sumberdaya dan memiliki kebhinekaan ini berada di kawasan ring of fire maupun pada

jalur lalu lintas perdagangan dunia. Mengingat pendidikan geografi memiliki peran

strategis untuk mengenal Indonesia secara utuh dalam rangka menumbuhkan rasa

kebangsaan dan cinta tanah air seharusnya geografi mendapat tempat yang penting dalam

kurikulum pendidikan di Indonesia. Melalui pendidikan geografi maka akan dikenalkan

tentang Indonesia dengan segala kekayaan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia dan

bagaimana relasi antara keduanya dalam konteks keruangan, kelingkungan dan

kewilayahan melalui tema-tema geografi serta bagaimana mengelola dan memanfaatkan

sumberdaya tersebut agar secara berkelanjutan memberikan kesejahteraan bagi

kelangsungan hidup anak bangsa. Pertanyaan yang saya kira masih terus menggelayut

adalah mengapa di negeri seperti United Kingdom dan USA geografi dianggap penting

sehingga ditempatkan sangat memadai dalam kurikulum di sekolah, justru di Indonesia

geografi kurang mendapat tempat pada kurikulum di sekolah?. Jangan salahkan para

geograf dan guru geografi apabila di masa depan, anak-anak negeri ini semakin tak

(11)

Bagaimana mereka akan mencintai negeri ini sementara mereka tak dikenalkan tentang

negerinya, sehingga pepatah tak kenal maka tak sayang boleh lah untuk ungkapan ini.

Penutup

Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan

antara lain melalui peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik dan kependidikan,

penyediaan sarana prasarana (hardware dan software) pendidikan, perbaikan kurikulum

agar memadai, serta menciptakan suasana kondusif untuk proses pembelajaran. Diperlukan

perhatian dari pemerintah sebagai pemegang regulasi dalam meningkatkan peran geografi

melalui pendidikan di Indonesia. Melalui pendidikan geografi yang diberikan pada jenjang

pendidikan dasar dan menengah bahkan hingga pendidikan tinggi diharapkan mampu

membawa seluruh peserta didik memiliki kompetensi membangun wawasan kebhinekaan

dalam rangka mewujudkan kemajuan kehidupan bangsa dalam NKRI (Negara Kesatuan

Republik Indonesia). Khusus untuk pendidikan dasar dan menengah belum perlu

disampaikan objek formal, karena ranah tersebut sangat debatable dan memerlukan diskusi

lebih panjang. Upaya telah banyak dilakukan pemerintah untuk membawa seluruh anak

bangsa memahami dan mengenal Indonesia secara utuh. Upaya tersebut akan semakin

lengkap apabila ada goodwill untuk menempatkan geografi sebagai kajian yang wajib

diberikan pada peserta didik pada pendidikan dasar menengah tanpa kecuali. Pendidikan

sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan dan memberikan pemahaman tentang negeri

ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap tumpah darah Indonesia dengan

keanekaragaman sumberdaya (alam dan manusia), perlu dipahamkan tentang aspek geosfer

(12)

Pustaka

Agnew John and Livingstone David N Rogers, 1999. Human Geography, an essential Anthology. Blackwell Publishers. USA

De Blij, H.J. dan Murphy, Alexander B, 2003. Human Geography Culture, Society, and Space, John Wiley & Son, Inc, Wiley

Bliss, Susan, 2005, Global Perspectives Integrated In Global and Geography Education, Teachers’ Association of New South Wales for Geography Bulletin, 2005, 37(4), pp. 22-38 ISSN 0156-9236.

Castree, N; Rogers,A; dan Sherman, D, 2005. Questioning Geography Fundamental debate, Blackwell Publish, USA

Fielding, Gordon J, 1984. Geography As Social Science. Harper and Row Publishers: London

Gomez, Basil and John Paul Jones III, 2010, Research methods in geography, John Wiley & Sons Ltd, The Atrium, Southern Gate, Chichester, West Sussex, United Kingdom Hagget, Peter, 1984. Geography: A Modern Synthesis. New York: Harper and Row

Hagerstrand, 1999. Diorama, Path, and Project dalam Agnew, John, Livingstone, David N, dan Rogers, Alisdair, 1999, Human Geography An Essential Anthology, Blackwell Publish, Oxford

Johnston, R.J, 2003. The Dictionary of Human Geography. Oxford: Brasil Blackwell. Kaufhold, Tammy M, 2004, Geography Education: Where Is Geograaphy’s Location In

Our Scholls’ Curriculum?, Middle States Geographer, 2004, 37: 90-99

Kitchin Rob and Nicholas J. Tate, 2000. Conducting Research in Human Geography : Theory, Methodology and Practice. Addison Wesley Longman, Singapore (Pte) Ltd: Singapore

Knox, PL dan Marston SA, 2004. Human Geography Places and Regions in Global Context, Pearson Edc, New Jersey

Lise Halvorsen, Anne, 2009, Back to the Future: The Expanding Communities Curriculum in Geography Education, Heldref Publications

O’Brien, Karen, 2010, Responding to environmental change: A new age for human geography?, Progress in Human Geography 35(4) 542549

Peet, Richard, 1998. Modern Geographycal Thought. Blackwell Publisher, USA

Sauer, Carl, 1999. The Morphology of Landscape dalam Agnew, John, Livingstone, David N, dan Rogers, Alisdair, 1999, Human Geography An Essential Anthology, Blackwell Publish, Oxford

Smith Pamela Shurmer, 2002. Doing Cultural Geography. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Viles, Heather, 2005, A Devided Discipline?, dalam Castree, N; Rogers,A; dan Sherman, D, Questioning Geography Fundamental Debate, 2005, Blackwell Publish, USA Suleyman, Incekara, 2010, Geography Education In Asia: Samples From Different

Countries, Education Fall 2010, 131,1 Po Quest Ed Journal pg 220

Referensi

Dokumen terkait

Untuk poin (2) penulisan Berita Acara Tim Penilaian Kinerja sudah tepat dan tidak perlu diubah, pemenggalan kata pos yandu adalah tidak benar kerena itu alaonim

Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang

Menurut Rizal (2015), perubahan pekerjaan dapat berupa penambahan, pengurangan, bahkan penggantian lingkup pekerjaan yang telah disepakatai bersama dalam kontrak kerja

Komunikasi antara siswa dengan guru adalah yang terpentingselama PBM karena dengan komunikasi yang baik, PBM akan menjadi9lancar. Komunikasi yang dimaksud adalah terjadinya

Penelitian deskriptif adalah suatu metode yang bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan perusahaan secara sistematis, aktual dan akurat dengan cara mengumpulkan

Dan ditambahkan dengan proses kuantisasi untuk mengecilkan nilai pixel, sehingga proses DCT(Discrete Cosine Transform) bekerja dengan lebih baik pada pemampatan

[r]

Menurut Assauri (1999:4) mendefinisikan pemasaran: “Sebagai usaha menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu