Karta Tulis Ilmiah
KAJIAN PEMANFAATAN LAHAN PASCA
PENAMBANGAN PASIR DI JALAN MAHIR MAHAR
KERENG BANGKIRAI PALANGKA RAYA
KALIMANTAN TENGAH
Disusun oleh:
FAHMI YAHYA
DBD 111 0022
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2014
ABSTRACT
Environment is an important aspect of life for the interplay of objects around him . One result of the destruction of the state of the environment that may affect the state of the natural environment and socio-economic conditions in the sand mining at Mahir Mahar road, Kereng Bangkirau Sebangau Palangkaraya.
Checklist Method is the basic method used in conducting environmental impact studies based estimation methods than environment , we can know about damage that occurs due to sand mining .
Components that disrupted by the prose of sand mining are air , water , soil , ecosystems both biotic and abiotic , sosial. Control can be done against the sand mining activities at Mahir Mahar road, Kereng Bangkirai Sebangau Palangkaraya varies by ecosystem damage , but overall control can be done with the utilization of land dug excavation of pond fish.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya sehingga karya tulis dengan judul “Kajian Pemanfaatan Lahan Pasca Penambangan Pasir Dengan Metode Check List Uraian Dan Matrik Leopold Yang Dimodifikasi“ dapat terselesaikan. Pada karya tulis ini, penulis menganalisis kerusakan lingkungan yang terjadi akibat penambangan pasir di jalan Mahir Mahar Palangkaraya menggunakan metode checklist berskala dan uraian beserta dengan penanggulangan. Penulis tidak lupa mengucapkan terimakasi kepada:
Lisa Virgiyanti, ST.,MT. Neny Sukmawatie, S. Hut.
Selaku pembimbing dalam penulisan karya tulis ini.
Penulis berharap karya tulis ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca maupun penulis. Dengan penjelasan yang dipaparkan oleh penulis, diharapkan pembaca dapat mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat adanya penambangan pasir secara tidak benar dan cara penanggulangan dampak tersebut.
Palangkaraya, 2 April 2014
Penulis
IV
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
KATA PENGANTAR... iii
ABSTRAK... iv
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR... vii
BAB I PENDAHULUAN... 1.1. Latar Belakang Masalah... 1
1.2. Tujuan Penulisan... 1
1.3. Rumusan Masalah ... 2
1.4. Metode Penulisan... 2
1.5. Batasan Penulisan... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA... 2.1. Analisis Dampak lingkungan (AMDAL)... 3
2.2. Gambaran umum lokasi penelitian, kegiatan penambangan 3 2.3. Komponen – komponen lingkungan... 4
2.4. Metode Check list berskala dan uraian... 7
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN... 3.1. Hasil... 9
3.2. Pembahasan... 16 BAB VI PENUTUP... DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1. Debu di jalan tambang... 8 Gambar 3.2 Kondisi Air... 9 Gambar 3.3 Kondisi Tanah
... ... 9
Gambar 3.4 Kondisi Flora dan Fauna ... ... 10
Gambar 3.5. Kolam Ikan... 14 Gambar 3.6. Budidaya Keramba ikan... 14
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Kategori ISPU... 7 Tabel 2.2. Pembobotan Kondisi Komponen Lingkungan... 7 Tabel 2.3. Klasifikasi Kondisi Lingkungan... 8
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Lingkungan merupakan aspek penting dalam kehidupan yang saling mempengaruhi bagi objek disekitarnya. Manusia adalah salah satu objek lingkungan yang menentukan baik dan tidaknya suatu lingkungan tersebut. Manusia dalam pemanfaatan lingkungan sering kali menyebabkan kondisi lingkungan dan bahkan sekitar lingkungan terganggu akibat dari aktifitas kegiatannya. Salah satu akibat rusaknya keadaan lingkungan yang dapat mempengaruhi keadaan lingkungan alam yakni tambang pasir di jalan Mahir Mahar, Kecamatan Kereng Bangkirai Kelurahan Sebangau Palangkaraya. Kegiatan penambangan khususnya pasir dikenal sebagai kegiatan yang dapat merubah permukaan bumi. Karena itu penambangan sering dikaitkan dengan kerusakan lingkungan. Untuk itulah perlu dilakukan studi analisis mengenai dampak lingkungan dan upaya penanganan terhadap kerusakan yang ditimbulkannya, dan upaya untuk menanggulangi kerusakan khususnya bekas lubang bukaan pada tambang pasir yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui komponen yang mengalami gangguan akibat proses penambangan pasir di jalan Mahir mahar, kecamatan Kereng Bangkirai Kelurahan Sebangau Palangkaraya.
2. Mengetahui tingkat keparahan akibat proses penambangan pasir di jalan Mahir mahar, kecamatan Kereng Bangkirai Kelurahan Sebangau Palangkaraya.
1.3. Rumusan Masalah
1. Komponen apa saja yang terganggu akibat proses penambangan pasir di jalan Mahir Mahar, Kecamatan Kereng Bangkirai Mahir Mahar Kecamatan Kereng Bangkirai Kelurahan Sebangau Palangkaraya?
1.4 Metode Penulisan
Dalam membuat karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Observasi (pengamatan)
Metode ini dilakukan dengan mengamati kondisi dan kegiatan penambangan pasir dijalan Mahir mahar kota Palangkaraya.
2. Metode Interview (Wawancara)
Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab kepada operator lapangan yang menangani kegiatan penambangan pasir.
3. Metode Pustaka
Metode ini dilakukan dengan studi literatur terhadap kasus pencemaran, kompnen-komponen yang terganggu serta solusi.
1.5. Batasan Penulisan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)
Analisis dampak lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup di sini adalah aspek abiotik, biotik, dan kultural. Dasar hukum AMDAL di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 2012 tentang "Izin Lingkungan Hidup" yang merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999 tentang Amdal.
2.2 Gambaran Umum Lokasi Penelitian dan Kegiatan Penambangan Lokasi penelitian berada di sebelah kiri dari arah kota Palangkaraya menuju lingkar luar di jalan Mahir mahar, kecamatan Kereng Bangkirai Kelurahan Sebangau Palangkaraya Tambang pasir ini dikelola oleh pihak swasta dimana lahan tambang merupakan lahan rakyat yang diambil tanah dan pasirnya dengan bantuan alat berat excavator menuju truk pembawa pasir untuk dibawa kepemakai pasir.
Tambang pasir yang berada dijalan mahir mahar ini telah beroperasi kurang lebih 1 tahun. Terdapat dua kategori yakni pasir uruk dan pasir bangunan.
2.3 Komponen-komponen Lingkungan 1. Bentang Alam
Bentang alam adalah suatu unit geomorfologis yang dikategorikan berdasarkan karateristik seperti elevasi, kelandaian, orientasi, stratifikasi, paparan batuan, dan jenis tanah. Jenis-jenis bentang alam antara lain adalah bukit, lembah, tanjung, dll. Sedangkan samudra dan benua adalah contoh jenis bentang alam tingkat tertinggi.
2. Air
PH air minum mineral yang sesuai standar DEPKES : 6,5 s/d 8,5 PH air minum Demineral / murni / Reverse Osmosis : 5,0 s/d 7,5. PH air minum yang paling ideal adalah 7,0 (PH netral). PH air hujan berbeda beda di setiap kota, antara 3,0 s/d 6,0 PH air laut adalah sekitar 8,2.
Table 2.1. Standar Skala Air pada Kualitas Lingkungan Komponen Nilai dan Rentangan
Komponen – komponen tanah antara lain :
Table 2.2. Standar Skala Ph Tanah pada Kualitas Lingkungan
Pencemaran udara dapat diartikan sebagai adanya satu atau lebih pencemaran yang masuk dalam udara atmosfir, yang dapat berbentuk debu, uap, gas, kabut, bau atau embunyang dicirikan bentuk jumlahnya, sifatnya dan lamanya. Pencemaran ini dapat menggangu kesehatan manusia, tanaman dan binatang. Pengaruh penting adanya pencemaran udara pada manusia adalah kesehatan, kenyamanan, keselamatan, estetika dan perekonomian. salah satu
bahan pencemar udara yakni debu. Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin. Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran
besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi.
Tabel 2.1. Kategori ISPU untuk partikulat udara ambien berdasarkan standar US EPA – NAAQS ( National Ambient Air
Quality Standards) dan KABAPEDAL
5. Flora dan F auna
Fauna, dari bahasa Latin, atau alam hewan artinya adalah khazanah segala macam jenis hewan yang hidup di bagian tertentu atau periode tertentu. Sedangka Flora, berasal dari bahasa latin, alam tumbuhan atau nabatah adalah segala jenis tanaman atau tumbuhan.
Kategori ISPU EFEK
Baik Tidak ada efek
Sedang Terjadi penurunan pada jarak pandang
Tidak sehat Jarak Pandang turun dan terjaddi pengotor udara dimana-mana
Sangat tidak sehat Sensivitas meningkat pada pasien berpenyakit asma dan bronchitis
2.4 Metode Check List Berskala dengan uraian dan Matrik Leopald yang Dimodifikasi
Merupakan metode dasar yang digunakan dalam melakukan pendugaan dampak lingkungan berdasarkan studi lapangan. Metode ini dikembangkan oleh Adkins dan Burke untuk pendugaan dampak lingkungan dari beberapa alternatif dari proyek
Tabel 2.2. Skala Pembobotan Bobot Pesentas
e (%)
Kondisi Komponen Lingkungan
1 1 – 20 Sangat buruk
2 21 – 40 Buruk
3 41 – 60 Sedang
4 61 – 80 Baik
5 81 – 100 Sangat Baik
Kondisi Lingkungan(PH)
¿Kumulatif Bobot PerKomponen Lingkungan
Kumulatif Bobot Tertinggi x100
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. HASIL
5.1.1. Komponen – komponen yang terganggu akibat penambangan pasir
A. Udara (Debu)
Dengan kondisi buruk pada badan jalan, dikarenakan jalan tambang kering.
Gambar 3.1. Debu di jalan tambang
B. Air
(3) air di void / lubang bukaan Gambar 3.2 Kondisi Air C. Tanah
(1) tanah di jalan tambang, (2) tanah disekitar void
(3) tanah dilahan sekitar (4) tanah di kontruksi Gambar 3.3 Kondisi Tanah
D. FLORA DAN FAUNA
sekitar tambang disekitar kontruksi
(3) kondisi flora dan fauna di parit
(4) kondisi flora dan fauna dijalan
Gambar 3.4 Kondisi Flora dan Fauna
3 Tanah
a. PH 3 3 3 4
5.1.2. Skala Tingkat Keparahan dan Kriteria
b. Humus 2 2 4
-c. Bentuk Lahan 1 1 3 4
4 Ekosistem
a. Fauna 2 3 4 4
b. Flora 2 2 4 4
5.1.3. Pengelolaan Lahan Bekas Tambang A. Kolam Pemancingan
Gambar 3.5 Kolam Ikan B. Budidaya Keramba Ikan
Gambar 3.7 Budidaya Keramba Ikan
5.2. PEMBAHASAN
5.2.1. Komponen yang terganggu akibat kegiatan penambangan Pasir
A. Udara
dan menutup dengan terpal bak truk dengan menggunakan terpal.
B. AIR
Terkait air dilokasi penambangan pasir jalan Mahir Mahar cukup baik dalam arti tidak adanya pencemaran zat – zat berbahaya. Ph air di tempat Kontruksi, Jalan, parit dan sekitar lahan relatif baik yakni berkisar antara 5-6. Akan tetapi, dilahan sekitar tambang, air pada kontruksi air tercemar, hal ini dikarena terjadinya pencampuran BBM yang diletakkan disembarang tempat hal ini dapat mempengaruhi bau air. Sehingga BBM mencemari air di sekitar lahan. Warna air pada kontruksi buruk, hal ini karena aktifitas pengambilan pasir.
Pengendalian yakni, membuat tempat khusus BBM agar tidak mencemari air di sekitar lahan dan area penambangan agar bau dan warna tidak berubah. Untuk warna yang terlalu keruh diharapkan perusahaan ketika mengambil pasir memperhatikan lapisan tanah disekitar, karena jika lapisan pasir diambil terlalu dalam, mengakibatkan lapisan tanah yang terdapat dibawah pasir akan terkontaminasi dengan air.
C. Tanah
mengambil tanah mulai dari lapisan penutup, pasir, hingga lapisan dibawahnya untuk diangkut, perlu dilakukan pengendalian dan perawatan tanah, agar kandungan humus masih dapat terjaga, yaitu dengan menerapkan good mining practice (pertambangan yang berwawasan lingkungan).
Keadaan bentuk lahan pada tempat kontruksi dan void sangat rusak, kerusakan dapat dilihat berdasarkan rona awal lahan tempat penambangan semula rata, sekarang menjadi berlubang atau meninggalkan void (lubang bukaan). Lubang bukaan inilah yang mengakibatkan bentuk lahan tidak dapat dikembalikan kebentuk semula. Pengendalian yang dapat dilaksanakan yakni menjadikan bekas galian menjadi tempat kolam perikanan, karena tidak mungkin untuk menutup kembali. Hal ini dikarenakan tanah dan pasir di area tambang dibawa untuk dijual.
D. Ekosistem ditandai masih terlihat tanaman yang tumbuh subur. Untuk jalan, kondisi biotik abiotik rusak, jalan bergelombang karena dilewati truk yang mengangkut tanah dan pasir dari lokasi tambang menuju jalan raya.
5.2.2. Skala Tingkat Keparahan dan Kriteria A. Udara
Udara yakni memiliki komponen debu dengan kriteria baik, memiliki tingkat skala 75 %.
B. Air
Berdasarkan pengamatan air dilapangan serta pengambilan sampel pada void, parit, kontruksi dan sekitar lahan untuk dihitung Ph dan perhitungan menggunakan rumus 2.4.1. dihasilkan rata-rata 83,75 % dengan kriteria sangat baik.
C. Tanah
Berdasarkan kondisi bentang alam dan tanah di tempat galian seperti gambar 3.3 serta perhitungan Ph didapatkan nilai checklist rata-rata sebesar 68,33 % dengan kriteria baik.
D. Ekosistem
Ekosistem yang memiliki komponen flora dan fauna, berdasarkan pengamatan di sekitar lahan tambang dan tempat tambang menghasilkan nilai checklist rata-rata sebesar 72,5 % dengan kriteria baikk.
5.2.3. Pengelolaan
tambang pasir, karena lahan bekas tambang pasir tidak dapat ditutup kembali, hanya meninggalkan lubang bukaan yang relatife lebar dan banyak. Hal ini didukung dengan kondisi air berdasarkan penelitian menggunakan metode checklist dan Leopold bahwa kondisi air sangat baik, meskipun air tidak berwarna bening. Hal yang mempengaruhi warna adalah struktur tanah di kota Palangka Raya merupakan tanah gambut. Hal itulah yang menjadikan warna air kemerahan.
BAB IV tanah, ekosistem baik biotik dan abiotik sekaligus sosial.
b. Skala dan kriteria tingkat keparahan yang terjadi pada komponen – komponen tempat penambangan pasir yakni :
- Udara (debu) 75 % dengan kriteria baik.
- Air dengan koponen Ph, warna, bau dan fauna air dan kekeruhan dengan rata – rata 83,75 % dengan kriteria sangat baik.
- Tanah dengan komponen ph, humus, dan bentuk lahan memiliki rata-rata 68,33 % dengan kriteria baik.
- Ekosistem dengan komponen flora dan fauna memiliki rata-rata 72,5 % dengan kriteria baik.
c. Pengendalian yang dapat dilakukan terhadap aktifitas penambangan pasir yakni pemanfataan budidaya kolam ikan bekas galian yang dapat dimanfaatkan warga sebagai bentuk reklamasi lahan dan pemanfaatan alih fungsi lahan bekas galian.
4.2. Saran
- Perlu dilakukan penelitian kembali sebagai tindak lanjut mengatasi dampak lingkungan dan meneliti lebih lanjut terhadap dampak yang ditimbulkan melalui uji laboratorium secara rinci.
DAFTAR PUSTAKA
Fandeli, Chafid., 2007. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip Dasar Dalam Pembangunan. Liberty Offset. Yogyakarta
Http://airpollution8.wordpress.com/2013/02/23/debu/ Http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF
Indriyanto., 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Narmodo., Kualitas Air. http://www.narmodo.com/artikel-9-kualitas-air.html
Raharjo, Mursid., 2007. Memahami Amdal. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Soemarwoto, Otto., 2003. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada Universsity Press. Yogyakarta.
Soerianegara, I dan Indrawan, A., 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suratmo, FG., 1998. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wikipedia., Eakosistem.http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem
Wikipedia., Ekologi. http://id.wikipedia.org/wiki/Ekologi
Wikipedia., Konservasi Tanah. http://id.wikipedia.org/wiki/Konservasi_tanah