BAB III METODOLOGI
Penggunaan metode yang tepat dalam penelitian adalah syarat utama dalam
mencari data. Mengingat penelitian merupakan suatu proses pengumpulan sistematis
dan analisis logis terhadap data atau informasi untuk mencapai tujuan, maka
pendekatan proses pengumpulan data dan analisis data yang dibutuhkan adalah
kegiatan utama dalam pelaksanaan penelitian ini.
III.1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitain yang akan digunakan adalah kualitatif lapangan, karena yang
diteliti adalah sesuai dengan lapangan secara lansung. Menurut Moleong penelitian
dimkasudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek
penelitian.6
Metode penelitian ini dipilih untuk mengetahui pengalaman penumpang yang
mengalami transit dikuala namu serta aktifitas dan fasilitas apa yang dibutuhkan
selagi menunggu penerbangan selanjutnya.
Tujuan akhir dari penelitian ini adalah agar mendapatkan gambaran kasar
aktifitas yang akan diaplikasikan di dalam rancangan Hotel Transit, Ikonik Kuala
Namu
III.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam penelitain ini, peneliti ini mengambil tempat di Bandara Kuala Namu
beralamat Jalan Bandar Udara Kuala Namu, Sumatera Utara. Untuk waktu
penelitiannya adalah mulai tanggal 16 Maret sampai tanggal 19 maret 2016
III.3. Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini diantaranya diambil dari :
1. Pelaksanaan aktifitas transit di Kuala Namu oleh penumpang yang
mengalami transit
2. Perilaku penumpang transit Bandara Kuala Namu
3. Fasilitas eksisting
III.4. Sumber Data
Sumber data dari penelitian kualitatif lapangan adalah orang atau lembaga
yang diteliti.7 Di penelitian ini lokasi yang menjadi obyek penelitian adalah Bandara
Kuala Namu, penumpang transit, dokumen-dokumen, dan fasilitas transit.
III.5. Fokus Penelitian
Fokus penelitian yang akan diteliti adalah pelaksana kegiatan transit di
Bandara KualaNamu.
III.6. Penyajian Data
Dalam penelitia ini data disajikan dengan bentuk grafis yaiut berupa
gambaran besar aktifitas dan fasilitas eksisting dari penumpang transit Bandara Kuala
Namu.
III.7. Tahap Penelitian
Tahap-tahapan dalam pelaksanaan penelitian ini memberikan gambaran
tentang keseluruhan perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan data, sampai dengan
penyusunan pelaporan.
Adapun tahapan tersebut adalah
1. Pengamatan terhadap aktifitas transit
2. Pengumpulan data berupa :
a. Data aktifitas
b. Data kebutuhan pada saat transit
3. Penyelesaian/ Solusi
III.8. Hasil Metodologi
Hasil yang disajikan berupa skema yang akan membantu pemahaman akan
aktifitas transit, dengan meninjau kegiatan transit yang bersifat dinamis.
BAB IV
ANALISA PERANCANGAN IV.1. Analisa Kondisi Tapak dan Lingkungan
IV.1.1. Analisa Lokasi
Gambar 4.1
Analisa Lokasi
Sumber : Google Earth
Lokasi proyek terletak di daerah TOD batangkuis yang merupakan simpul
transportasi regional dan pusat permukiman, perdagangan, rekreasi dan olahraga di
kawasan Mebidangro. Berada pada daerah pengembangan yang terletak di kecamatan
batangkuis. Letak geografis batangkuis berada pada 3O36’ – 3O43’ LS dan 98O48’ –
98°60’ BT. Berada 2.5 meter diatas permukaan laut. Topografi site datar (tidak
berkontur), iklim tropis dengan suhu minimum antara 25,1oC-26,9oC dan suhu
maksimum antara 27,0oC-27,8oC. lokasi berada di jalan besar menuju KNIA yang
merupakan akses utama menuju KNIA. Jalur ini juga memiliki sirkulasi yang lancer
dan tingkat kemacetan rendah.
IV.1.2. Kondisi Eksisiting Lahan
• Lokasi tapak : Jalan Kuala Namu, kecamatan
batangkuis, Kab deli serdang, Sumatera Utara, Indonesia.
• Kontur : Datar
• KDB : 60%
• KLB : 1
• GSB : 12 meter
IV.1.3. Analisa Tata Guna Lahan
Sesuai arahan Struktur Ruang Mebidang dalam Rencana Pusat Kegiatan
dijelaskan bahwa Kawasan Batangkuis ini merupakan kawasan pusat perdagangan
dan jasa, permukiman, rekreasi dan olahraga yang didukung oleh perannya sebagai
jalur transportasi regional di Kawasan Mebidangro, di kawasan ini akan segera
dibangun beberapa infrastruktur untuk memenuhi arahan rencana pusat kegiatan
Mebidang tersebut. Diantaranya adalah Stadion dan kompleks olahraga, Waterfront
sebagai area wisatanya dan penginapan, dan stasiun kereta api Batangkuis.
Beberapa unsur potensial dari lokasi ini yaitu:
• Terletak di kota satelit
• Berada pada kawasan pusat perdagangan/ jasa, pusat pemukiman,
rekreasi dan olahraga
• Transportasi lancer dan baik
Gambar 4.2.
Tata Guna Lahan
IV.1.4. Analisa Peraturan
Gambar 4.3.
GSB depan bangunan = (½ x 22) + 1 = 12 m
GSB kiri, kanan dan belakang bangunan = 10 m, sesuai asumsi untuk sirkulasi
dan juga jalur kebakaran
KDB bangunan menurut RTRW kawasan mebidangro untuk fungsi bangunan yang
melayani jasa = 60%
KLB bangunan = 9 x KDB
IV.1.5. Analisa View/ Orientasi
Gambar 4.4. Potensi View
: View direkomendasikan sebagai orientasi utama bangunan terhadap kegiatan transit.
: View menghadap ke Superblok The HUB Kuala Namu
IV.1.6. Analisa Pencapaian
Site dapat dicapai dengan mudah dari bandara karena selain jaraknya yang
dekat, juga tersedia transportasi dari Hotel yang akan dirancang serta beberapa
angkutan umum yang tersedia seperti Damri, Taxi, sampai mobil pribadi dan motor
pribadi. Site juga dekat dengan tempat – tempat yang di anggap penting seperti
Bandara, jalan fly over yang menghubungkan Batang Kuis dengan Tanjung Morawa,
dan juga dari Medan yang hanya berkisar sekitar 45 menit jika ditempuh dengan
kendaraan.
Berikut beberapa pencapaian menuju site :
Asal Tujuan Jarak
Hotel Stasiun KA Aras Kabu 3,14km
Hotel Bandara Kuala Namu 2,9 km
Hotel Merdeka Walk 17 km
Tabel 4.1. Jarak ke Site
IV.1.7. Analisa Kepadatan Kendaraan
Tingkat Kepadatan kendaraan di sekitar site tergolong bagus karena tidak
terdapat tingkat kepadatan kendaraan yang padat sehingga jalan-jalan di sekitar site
Gambar 4.7.
Kepadatan Kendaraan
IV.1.8. Analisa Sejarah Site
Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, sebagai kota administratif mulai
berdiri sejak tahun 1945.Sebelumnya, sejak sebelum Perang Dunia ke II atau sebelum
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Deli Serdang
merupakan daerah kesultanan, yaitu Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang. Saat
itu, Kesultanan Deli berkedudukan di Medan, dan Kesultanan Serdang berkedudukan
di Perbaungan. Kedua kesultanan tersebut, secara administratif merupakan bagian
dari Karesidenan Sumatera Timur hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia, dimana
saat itu kekuasaan kesultanan berakhir dan struktur pemerintahanan disesuaikan
dengan pemerintahan Indonesia.
Maka pasca kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang
dijadikan daerah Kabupaten Deli Serdang. Sejak tahun 1945 hingga kini, Deli
Serdang yaitu Wunar S. Hamidjojo, Sampoerno Kolopaking, Wan Oemaruddin,
Abdullah Eteng, Abdul Kadir Kendal Keliat, H. Baharoeddin Siregar, H. Abdul Muis
Lubis, H. Tenteng Ginting, H. Wasiman, H. Ruslan Mansyur, H. Maymaran NS, H.
Abdul Hafid, dan yang terakhir adalah Drs. H. Amri Tambunan.
Posisi Kabupaten Deli Serdang terletak di kawasan Pantai Timur Sumatera
Utara. Secara geografis, Deli Serdang terletak 2'57" Lintang Utara, 3'16" Lintang
Selatan dan 98'33"-99'27 Bujur Timur. Karena posisinya tersebut, secara geografis
Deli Serdang mengelilingi Kota Medan, sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara.
Maka bisa dibayangkan, pengurusan administrasi di Kabupaten Deli Serdang, sangat
jauh sekali akses Kecamatan-Kecamatan dibawah wilayah administrasi Kabupaten
Deli Serdang ke Ibu Kota Kabupaten, yaitu Lubuk Pakam.
Umumnya untuk menuju Kota Medan sebagai Ibu Kota Provinsi lebih dekat
dari Kecamatan-Kecamatan yang ada di Deli Serdang, dibandingkan untuk menuju
Kota Lubuk Pakam, sebagai Ibu Kota Kabupaten. Membutuhkan waktu sekitar 45
menit untuk menuju Kota Medan, namun membutuhkan waktu dua kali lipat, atau
sekitar 1,5 jam untuk menuju Kota Lubuk Pakam dengan kenderaan umum.
Topografi wilayah Kabupaten Deli Serdang terletak antara 0–500 meter
diatas permukaan laut (dpl), dengan iklim suhu rata-rata perbulan 27,70 C, dengan
suhu tertinggi 32,30 C dan suhu terendah 24,40 C. Dengan kelembapan 83% dan
curah hujan rata-rata 134 mm, menyebabkan tanaman keras seperti karet, cacao, sawit
dan lain-lain dapat tumbuh dengan baik di Deli Serdang. November merupakan bulan
dengan curah hujan tertinggi yaitu sebesar 248 mm dengan durasi 19 hari.
Luas Kabupaten Deli saat ini adalah sebesar 2.497,72 Km2.. Luas Deli
Serdang tersebut sebenarnya sudah jauh berkurang pasca pemekaran menjadi
Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2004. Dalam
tiga tahun terakhir, penyelenggaraan otonomi daerah tidak melahirkan wilayah
Meninjau batas wilayah Kabupaten Deli Serdang, di sebelah Barat berbatasan
dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Karo, di sebelah Timur berbatasan dengan
Kabupaten Serdang Bedagai, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo
dan Kabupaten Simalungun, dan disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten
Langkat dan Selat Malaka. Terdapat 22 Kecamatan, 380 Desa, dan 14 Kelurahan,
yang di huni 420.305 KK. Dari 22 Kecamatan yang ada di Deli Serdang, Kecamatan
Percut Sei Tuan layak mendapat perhatian, merupakan daerah pesisir yang dihuni
penduduk sangat banyak, yaitu sebanyak 384.672 jiwa, jumlah ini melebihi jumlah
penduduk di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara.
Saat ini, peruntukan lahan terluas di Kabupaten Deli Serdang digunakan untuk
hutan seluas 80.083,68 Ha/Km2, dan peruntukan lahan tersempit adalah untuk
perikanan seluas 2.304,72 Ha/Km2. Hal ini dimungkinkan karena Kabupaten Deli
Serdang terdiri dari kawasan dataran tinggi seluas 44,90%, kawasan dataran rendah
IV.1.9. Analisa Kebisingan
Gambar 4.8.
Sumber Kebisingan pada site
Kebisingan pada site berasal dari kendaraan dan pesawat terbang yang lewat
melintasi site. Kebisingan rata-rata adalah 60-80 db. Ditinjau dari kebisingan di
sekitar site yang relative tenang, site dianggap cocok untuk dijadikan aktivitas
IV.1.10. Analisa Sirkulasi
Gambar 4.9.
Sirkulasi site
Waktu pencapaian ke hotel dan kembali ke bandara adalah 10 menit dicapai
IV.2. Analisa Fungsional IV.2.1. Analisa Ruang
Dalam perancangan Hotel Transit, berikut merupakan Program ruang dari
Ruang Standar Sumber Kapasitas Jumlah
Front offices
fire control, TV, video,
radio operator
function room auditorium 0.9m²/orang NAD 70orang 1 63
foyer 0.65m²/orang asumsi 50 orang 1 32.5
pantry 25m²/unit NAD 10 orang 2 50
function room office 7.5m²/orang HPD 10 orang 1 75
control room, AV, sound
Retail/ Rented Space
fitness and aerobic, sauna,
Arcade Games 100 m² Asumsi 1 unit 20 100
general store and check
House Keeping &
room boys station and
Tabel 4.2.Program Ruang
Keterangan:
NAD = Neufert Architect Data; SBT = Sistem Bangunan Tinggi; HPD =
Hotel Planning and Design;
IV.3. Analisa Teknologi
Utilitas merupakan sarana penunjang dimana dalam kajian ini yang dimaksudkan utilitas bangunan apartemen yang berupa:
1. Sanitasi
2. Listrik
3. Telepon
4. Tata Udara
1. Sanitasi
Sanitasi yang dijadikan literature adalah sanitasi Konvesional. Instalasi
pipa pada bangunan apartemen digunakan untuk mengaliri air bersih, air
untuk keperluan pencegahan dan penangulangan bahaya kebakaran,
pembuangan air kotor, air buangan, air hujan, dan air limba.
Jenis pipa yang digunakan juga beragam jenisnya: air bersih dialirkan
melalui pipa besi (steel pipe). Jaringan pipa diatur menurut arah vertical yang
disembunyikan dalam saluran didalam tembok (shaft)
2. Listrik
Instalasi jaringan listrik berasa dari PLN dan Genset.
3. Telepon
Penggunaan jumlah telepon disesuaikan dengan fungsi bangunan
berupa apartemen dan juga mall (retail)
4. Tata Udara
Sistem Tata udara yang dipakai adalah sistem tata udara HVAC
central
Pelaksanaan bangunan apartemen sebagaimana bangunan tinggi
lainnya, diawali dengan pekerjaam persiapan lahan dan fondasi.
1.Fondasi
Fondasi yang digunakan adalah fondasi tiang dalam dengan basement
(fondasi rakit)
2.Exoskeleton, Core dan Fasad Bangunan
Dengan konsep exoskeleton yang diperkuat oleh core akan
mempertahankan struktur bangunan agar lebih kuat sekaligus juga untuk
menciptakan sebuah fasad bangunan yang modern.
3. Struktur utama
Struktur Utama pada bangunan apartemen ini direncanakan
menggunakan Baja. Selain pembangunan yang cepat dan efisien bangunan
dari baja juga dapat bertahan dari bencana kebakaran.
IV.4. Analisa dan Penerapan Tema
Folding Architecture merupakan Gambaran dinamis dari aktifitas Hotel
Transit yang akan dibangun di Kuala Namu. Mengingat Tamu Hotel hanya berada
dan beraktifitas di Hotel dalam jangka waktu pendek maka dibutuhkan suatu
bangunan ikonik tempat merka berakomodasi. Transit Hotel dengan Folding
architecture ini akan menjadi ikonik bagi Kuala Namu dan kawasan sekitarnya
IV.5. Kesimpulan
Dalam perancangan Hotel Transit di Kuala Namu sangat penting bagi
perancang untuk memperhatikan kondisi site, peraturan, kondisi fisik bangunan, dan
kesesuaian dengan tema.
Ditinjau dari segi ikonik, bangunan Hotel Transit harus bisa mendatangkan
tamu dan meberikan kenyamanan bagi para tamu agar tamu mengingat Hotel Transit
BAB V KONSEP V.1. Konsep Dasar
Penerapan Tema “Ikonik dengan pendekatan Folding Architecture” kedalam bangunan berupa program ruang dan aksen pada tampak.
Folding Architecture sebagai dasar dalam mendesain, hal ini dikarenakan
Folding Architecture pada bangunan menciptakan ruang intuitif dan
lipatan-lipatannya membentuk irama dan menimbulkan sense of place yang berbeda di tiap daerahnya.8
Folding Architecture cocok mengambarkan tema yang ingin dicapai,Ikonik, dengan meninterpretasikan aktivitas penumpang transit yang dinamis.
Gambar 5.1.
Aktivitas dan Suasana ruang di dalam Folding Architecture
8
V.2. Konsep Perancangan Tapak
Pemetakatan tapak pada bangunan berdasarkan Fungsi
Gambar 5.2. Zoning pada site
Sumber : Data Pribadi
Gambar 5.3. Zona Potongan Sumber : Data Pribadi
Berdasarkan gambar 5.2. Konsep ini menjelaskan zona berdasarkan potongan bangunan. Dimana private terdiri atas ruang kamar hotel.Semi public terdiri atas kantor, Front desk, dll. Service terdiri atas parkir, Core, Lift, tangga kebakaran, dll. Ruang publik seperti retail, caffee, pub, restoran, dan fasilitas umum lainnya.
V.3.Konsep Perancangan Bangunan
a. Penataan ruang
Gambar 5.5. Bentukan Massa pada Site Sumber : Data Pribadi
Gambar 5.6. Fungsi berdasarkan Masa bangunan Sumber : Data Pribadi
b. Konsep Sirkulasi
Gambar 5.7. Konsep Sirkulasi Sumber : Data Pribadi
c. Estetika tampak menggunakan tema Folding Architecture
Gambar 5.8. Konsep Folding Architecture pada estetika bangunan Sumber : Data Pribadi
V.4. Konsep Perancangan Struktur Bangunan V.4.1. Konsep Dasar Struktur Bangunan
Konsep Struktur bangunan menggunakan sistem grid utama 8m x 8 m dan disesuaikan kembali pada bagian tower agar tersusun kamar pada lantai atas. Grid dasar 8m x 8 m juga dimanfaatkan sebagai tempat parkir.
V.4.2. Konsep Pemilihan Jenis Struktur, Bahan dan Sistem Konstruksi
Jenis konstruksi yang akan digunakan adalah Baja Komposit. Hal ini mempertimbangkan struktur yang akan ditahan bangunan ditower dan di daerah podium.
V.5. Konsep Perancangan Utilitas Bangunan
Suatu bangunan yang dirancang pada akhirnya harus dapat dipakai dengan nyaman. Hal kenyamanan ini dikaitkan dengan sistem utilitas suatu bangunan. Sistem yang mengatur perangkat keras fungsi bangunan seperti penghawaan, distribusi air, elektrikal, pencahayaan, keamanan, sistem komunikasi, dan sirkulasi vertikal.
1.Utilitas
2. Listrik
Gambar 5.10. Konsep Listrik
Sumber : Data Pribadi
Skema sistem elektrikal pada bangunan adalah :
-PLN/Generator > Panel utama > Panel perlantai> Panel
Diagram 5.2. Diagram Listrik
3. Tata Udara
Diagram 5.3. Diagram Tata Udara
BAB VI
RENCANA SANITASI
Aksonometri Rencana Air Kotor
Non-Scale
Aksonometri Rencana Air Bersih
Non-Scale
=
Air Bersih
=
Air Kotor Padat
RENCANA LISTRIK & HVAC
Aksonometri Rencana HVAC
Non-Scale
Aksonometri Rencana Listrik
Non-Scale
= Air Dingin
= Distibusi Kabel Listrik
RENCANA SISTEM KEBAKARAN & TELEPON
AKSONOMETRI RENCANA SISTEM KEBAKARAN
Non-Scale
AKSONOMETRI RENCANA TELEPON
Non-Scale
= Smoke detactor
= Distibusi Kabel Telepon
= Air Sistem Kebakaran