Fattah Hidayat Universitas Negeri Malang
fattah[email protected]
Abstrak
Teacher performance assessment can be categorized in accordance with the interests of the application of psychology. This include; personal development, training, examination organization, teacher selection, measurement, research and development. Teacher certification regarding the competence focuses on psychological function associated with teacher performance, but has not been associated with the organization, group. Therefore, use of the instrument used should be attributed to the interest groups and organizations, purpose of the use of instruments of psychology is the ease in improving perceptions of themselves, to facilitate a better understanding of themselves, and to improve self-concept and performance in the organization.
Kata kunci: assessment, performance, organizational psychology
A. Pendahuluan
Organisasi sekolah di Indonesia mempunyai struktur dan deskripsi jabatan sebagai tuntutan organisasi pendidikan massal. Struktur dan deskripsi jabatan di sekolah membantu individu mengerjakan tugas sesuai dengan fungsi pokok dalam mendidik subjek didik. Potensi dan kemampuan subjek didik diberi rangkaian stimulus dan respon berulang-kali dan hasil respon dinilai sebagai prestasi subjek didik dan keberhasilan organisasi sekolah bersangkutan.
pada individu. Organisasi sekolah mendukung hubungan stimulus respon yang sehat dengan mengembangkan penilaian atas kemampuan prestasi dan sikap guru yang tepat. Guru akan mengembangkan hubungan stimulus respon berdasarkan karakteristik subjek didik kalau didukung penilaian prestasi dan sikap yang menguatkan perilaku positif dan prestatif guru.
Pengembangan organisasi sekolah dengan menggunakan manajemen mutu tapi tidak dibarengi dengan pengembangan sistem penilaian perilaku akan menghasilkan pengendalian jasa pendidikan yang tidak sesuai dengan standar. Banyak sekolah menerapkan manajemen mutu tidak memperhatikan filosofi dan prinsip manajemen mutu yang mulanya untuk organisasi militer kemudian diterapkan di organisasi bisnis. Ada perbedaan yang sangat signifikan antara penerapan manajemen mutu untuk bisnis dan pendidikan yang harus diperhatikan oleh organisasi sekolah. Manajemen mutu tidak selalu identik dengan mutu tinggi, karena manajemen mutu hanya menjaga agar manajemen berlangsung sesuai dengan standar tidak peduli mutu tinggi atau rendah yang telah ditetapkan. Organisasi pendidikan tidak dapat mengendalikan subjek didik dalam homogenitas sama seperti organisasi bisnis produk bahkan jasa sekalipun.
menyebabkan guru melakukan PBM tidak sesuai tuntutan siswa. Untuk mengurangi bisa dan menyesuaikan jenis organisasi pendidikan yang berbeda dengan organisasi bisnis jasa dan barang maka pendekatan pengukuran menjadi penting. Kalibrasi kemampuan dan sikap guru dapat menggunakan instrumen penilaian guru berdasar jenis jenis instrumen psikologis.
B. Kinerja Guru
Untuk menjadi profesional, seorang pekerja termasuk pendidik harus bisa menunjukkan kinerjanya secara optimal berdasarkan kriteria dan standar komptnsi yang ada. Kinerja adalah performance atau unjuk kerja diukur oleh Mitchell (dalam Toto Toharudin, 2002) dari empat hal, yaitu:
a. Quality of work kualitas hasil kerja
b. Promptness ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan
c. Initiative prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan
d. Capability kemampuan menyelesaikan pekerjaan
e. Comunication kemampuan kerjasama dengan pihak lain.1
Ukuran standar itu bisa diidentifikasi sebagai kinerja ideal seorang guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya. Kemampuan/kompetensi guru merupakan ukuran/standart bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru yang disertai dengan keahlian (expert), tanggung jawab (responsibility) baik moral maupun intelektual, dan rasa kesejawatan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Ada tiga dimensi kemampuan yang secara tunjang-menunjang membentuk profil guru sebagai tenaga kependidikan, yaitu; (1) kompetensi personal, (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi profesional.
California Council on Teacher Education (dalam Piet A. Sahertian, 1994) menyebut ada 6 (enam) kompetensi guru:
1. Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan belajar siswa. 2. Membimbing siswa agar mereka dapat mengerti diri mereka sendiri. 3. Menolong siswa mengerti dan mewujudkan nilai-nilai budaya bangsa
sendiri.
1 Toto Toharuddin. Kinerja Profesional Guru. (Bandung: Universitas Pendidikan
4. Berpartisipasi secara efektif dalam segala kegiatan sekolah.
5. Membantu memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat. 6. Bekerja atas dasar tingkat profesional.
Kompetensi guru di Indonesia telah pula dikembangkan oleh Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Suryo Subroto, 1996). P3G merumuskan lebih banyak standar bagi guru dibanding yang ditetapkan oleh sejawatnya dari California, bahkan senderung berbeda. Kemampuan Guru dalam versi California Council on Teacher Education telah mencakup ketiga kompetensi guru, yaitu, kepribadian, sosial dan profesi. Adapun 10 (sepuluh) kompetensi guru Indonesia dari P3G meliputi:
1. Menguasai bahan
2. Mengelola program belajar mengajar 3. Mengelola kelas
4. Penggunaan media atau sumber
5. Menguasai landasan-landasan pendidikan 6. Mengelola interaksi belajar mengajar
7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran
8. Mengenal fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah 9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
Kemampuan Guru versi P3G masih merujuk pada kompetensi profesional yang merupakan profil kemampuan dasar yang harus dimiliki guru. Kemampuan ini tidak berbeda dengan yang dimunculkan oleh Edman yang menegaskan kemampuan profesional guru adalah sebagai berikut:
1. Seorang guru yang diharapkan menguasai pengetahuan sehingga ia dapat memberi kegiatan kepada siswa dengan berhasil baik.
5. Seorang pengemban kurikulum yang sedang dilaksanakan
6. Seorang penghubung antara sekolah dengan masyarakat dan orangtua. 7. Seorang pengajar yang terus menerus mencari pengetahuan yang baru
dan ide-ide yang baru untuk memperlengkapi informasinya.
Kemampuan tersebut dikembangkan berdasar pada analisis tugas-tugas yang harus dilakukan oleh guru saat ia sedang menjalankan tugas-tugas utama menjalankan transformasi ilmu pengetahuan kepada para siswa. Secara implisit, P3G berharap melalui pengembangan kompetensi profesi secara terpisah dari kompetensi pribadi dan kemasyarakatan, diusahakan agar guru berfokus pada penguasaan akademis dapat terpadu secara serasi dengan kemampuan mengajar. Hal ini perlu karena seorang guru diharapkan mampu mengambil keputusan yang mengandung wibawa akademis dan praktis.
Selain kompetensi profesional, seorang guru juga dituntut memiliki dua kompetensi lain yaitu kompetensi pribadi dan kompetensi kemasyarakatan (sosial). Menurut Sutan Zanbi Arbi (dalam Suryo Subroto, 1996) kompetensi pribadi adalah sikap pribadi yang dijiwai dengan karakter bangsa, yang akan mengagungkan budaya bangsanya, yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya. Sedang kompetensi kemasyarakatan (sosial) adalah kemampuan guru dalam membina dan mengembangkan interaksi sosial baik sebagai tenaga profesional maupun sebagai warga masyarakat. Guru berkompetensi sosial mampu menciptakan suasana yang serasi, selaras dan seimbang dalam aspek kehidupan di masyarakat.
Pengukuran atribut psikologis guru sulit diukur langsung karena atribut psikologis bersifat tidak tampak (latent). Ketidakmudahan pengukuran atribut psikologis terletak pada proses perilaku yang dipotret (Pfeiffer,1988). Pengukuran atribut psikologis adalah pengukuran terhadap performansi berkarakteristik tertentu yaitu penampilan yang merupakan karakter individu yang akan muncul dalam bentuk respons terhadap stimulus tertentu yang berupa situasi (Cronbach, 1970). Atribut-atribut psikologis tidak mempunyai eksistensi nyata sehingga tidak dapat dikaji atau diketahui secara langsung melalui gejala (Sumadi S., 2000). Dalam proses pengukuran atribut psikologis, kemampuan guru kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan eksistensi atau struktur atribut tersebut secara teoritis (theoritical construct). Konstrak teoritis dilakukan dengan digunakan untuk merumuskan karakteristik gejala-gejala atau tampilan tertentu berkaitan dengan atribut psikologis guru yang diukur (Azwar,2011). Prosedur dilampaui untuk isi yang diukur baru kemudian disusun dalam instrument yang terdiri dari beberapa jenis instrument.
Instrumen guru dapat diadaptasi dari beberapa metode penilaian karyawan dengan modifikasi disesuaikan dengan posisi guru terhadap subjek didik, sekolah dan profesi guru. Telah dikemukakan bahwa tingkatan kemampuan guru dalam aspek afektif dapat dikelompokkan ke dalam kemampuan menerima (receiving), merespons (responding), menilai (valuing), mengorganisasi (organization), dan karakterisasi (characterization). Ada tiga kategori umum ; prosedur subyektif, pengukuran langsung dan tes kemampuan (As ad,2002). Prosedur subyektif adalah penilaian kemampuan guru berdasar atasan, bawahan, kelompok guru, teman guru, pengamat dari luar dan diri sendiri. Prosedur ini sangat dipengaruhi oleh faktor manusia yang sangat subyektif. Instrumen yang digunakan dalam prosedur subyektif beragam antara lain, skala rating, daftar centang, perbandingan guru, peristiwa penting, penilaian kelompok, dan evaluasi esai. Kesalahan yang harus diperhatikan untuk menggunakan instrument adalah
hallo effectdan bias pribadi.
penilaian kinerja secara objektif. Menurut Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008 bahwa indikator penilaian terhadap kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegiatan pembelajaran di kelas yaitu:
1. Perencanaan Program Kegiatan Pembelajaran
Tahap perencanaan dalam kegiatan pembelajaran adalah tahap yang ber-hubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan penggunaan metode serta strategi pembejaran. Semua tu-gas tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam pelaksanaanya menuntut kemampuan guru.
3. Evaluasi/Penilaian Pembelajaran
Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi.
Observasi adalah cara kedua yang bisa digunakan. pengumpulan data mlalui cara itu biasa digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Pengamatan itu bisa dilakukan dalam situasi yang alami (sebenarnya) maupun situasi buatan. instrumen terakhir inilah yang paling banyak digunakan dan disarankan dalam menilai kinerja guru. Penilaian dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung tergantung kepada kondisi penilai dan ternilai. Sebelum melaksanakan penilaian atas kompetensi yang dilakukan oleh guru maka disusun pedoman observasi untuk mengarahkan proses penilaian.
D. Penutup
Penilaian kinerja guru harus dilaksanakan secara menyeluruh menyangkut dengan semua aspek yang terkait, yaitu aspek kualifikasi, kualitas, pembinaan, training profesi, perlindungan profesi, organisasi manajemen, kesejahteraan guru, dan tersedianya fasilitas yang memadai. tugas guru memang menjadi berat dalam konskewensinya, tetapi perlu ada perhatian yang serius kepada para guru, yaitu mereka harus selalu mendapatkan pelatihan dalam bidang pengetahuan dan keterampilan baru yang diperlukan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Sistem peningkatan pengetahuan bagi guru secara tersistem dan berkelanjutan atau ada inservice training yang baik bagi para guru amat dibutuhkan. Para guru harus siap untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu kinerjanya agar memiliki kompetensi yang optimal dalam usaha membimbing siswa agar siap menghadapi masyarakat dan bahkan mampu memberikan contoh tauladan bagi siswanya. Memiliki pribadi dan penampilan yang menarik, mengesankan dan menjadi dambaan setiap orang. Dengan tuntutan dan perhatian sedemikian rupa, instrumen penilaian kinerja guru tidak perlu dipandang sebagai momok melainkan salah satu jalan memajukan mutu pendidikan yang manusiawi bagi semua pihak.
Daftar Pustaka
As ad, M. 2002.Psikologi Industri, Liberty Yogyakarta, Yogyakarta. Azwar, S. 2011.Penyusunan Skala Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Ballew, A, Pfeiffer, J. O.1988.Using Instrumen In Human Resource
Cronbach L.J. 1970. Esentials of Psychology Testing (3rd ed.) New York :
Harper & Row
Sahertian, Piet A. 1994,Profil Pendidik Profesional, Yogyakarta: Andi Offset Salim, Ahmad. Peran Kepala Madrasah Dalam Penilaian Kinerja Guru
Menuju Guru Profesional, Proceedings Seminar Pendidikan Nasional Penilaian Kinerja Guru Dalam Era Sertifikasi. UCY, 4 Juni 2012. H.33-40
Subroto, B. Suryo. 1984, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah, Yogyakarta: Bina Aksara