PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
PADA MATERI BANGUN RUANG SISI LENGKUNG
DI KELAS IX MTs AL-WASHLIYAH TEMBUNG
TAHUN AJARAN 2014/ 2015
Chairul Riva’i
FMIPA, Universitas Negeri Medan, Medan, Indonesia
Edy Surya
FMIPA, Universitas Negeri Medan, Medan, Indonesia
ABSTRACT
This study aims to determine whether the increased student learning outcomes with realistic mathematics education on the material side of the curved geometry in class IX MTs Al-Washliyah Tembung Academic Year 2014/2015. This type of research is a classroom action research. Subjects in this study were 32 students of class IX-D MTs Al-Washliyah Tembung and the object of this study is an effort to improve student learning outcomes with realistic mathematics education. The instruments used in the study was the observation and tests. The result is an average 2,9 observations of category realistic mathematics learning process on the material side of the curved geometry including well, data obtained average percentage be 75.01125%, aspects of student activity number 1, 2, 3 and 4 are also achieved. An increase in the percentage achieving the ideal time active activity of 11.32375% between cycle I and II, and through the provision of test results obtained by 30 students studying II (93.75%) of 32 student have achieved mastery learning (value 65), while 2 students (6.25%) has not been completed. Based on the descriptions above concluded that increased student learning outcomes with realistic mathematics education on the material side of the curved geometry in class IX MTs Al-Washliyah Tembung Academic Year 2014/2015.
Keywords: realistic mathematics education, learning, secondary school, classroom action research, activity.
1. PENDAHULUAN
Peserta didik sekolah yang masih menganggap matematika adalah pelajaran yang bikin stres, membuat fikiran bingung, menghabiskan waktu dan cenderung hanya mengotak-atik rumus yang tidak berguna dalam kehidupan. Akibatnya, matematika dipandang sebagai ilmu yang tidak perlu dipelajari dan dapat diabaikan. Selain itu, hal ini juga didukung oleh proses pembelajaran di sekolah yang masih hanya berorientasi pada pengerjaan soal-soal latihan saja. Jarang dijumpai proses pembelajaran matematika dikaitkan langsung dengan kehidupan nyata. Sedangakan Palling (dalam Abdurrahman, 2009) mengatakan:
Ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan
pengetahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali, bagi; tetapi ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri, dan trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan berfikir logis.
monoton dimana murid hanya menghadap ke papan tulis, dan pembelajaran kelas kurang dinamis. Rutinitas seperti inilah yang membuat siswa menjadi bosan belajar matematika. Bahkan materi matematika yang diajarka jauh dari konteks dunia nyata. Sebagau ilmu pasti, matematika justru memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia, bukan hanya teori.”
Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran matematika dan pendidikan matematika, yaitu tentang perencanaan kegiatan pembelajarannya. Terutama kualitas pengajarannya, tiap guru matematika harus diberi pelatihan dan pengenalan model, metode serta pendekatan pembelajaran yang baik dan benar demi mencapai hasil belajar matematika yang baik pula.
Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap Wahyudi sebagai guru matematika MTs Al-Washliyah Tembng, diperoleh bahwa hasil belajar siswa masih sangat rendah pada pelajaran matematika secara keseluruhan. Dalam keseharian siswa, hanya beberapa siswa yang antusias terhadap pelajaran matematika. Siswa masih kurang aktif dalam proses pembelajaran. Mereka hanya mendengar ceramah guru dan mengerjakan soal tanpa adanya kritik , komentar ataupun pertanyaan kepada guru. Jika mereka kurang mengerti penjelasan guru, merekapun enggan bertanya kepada guru. Hal ini terjadi hampir pada setiap materi matematika termasuk bangun ruang sisi lengkung, ketika siswa diberikan masalah, mereka kesulitan menuliskannya ke dalam bahasa matematika.
Hal ini sejalan dengan tes yang diberikan peneliti kepada siswa kelas IX D di sekolah tersebut. Tes yang diberikan mengenai materi prasyarat bangun ruang sisi lengkung yaitu bangun ruang sisi datar dan lingkaran. Banyak siswa masih melakukan kesalahan misalnya tidak memahami konsep juring dan tidak mampu menerapkan pengetahuan mereka dalam memecahkan soal. Berikut kesimpulan tes awal siswa kelas IX-D :
Tabel 1. Ketuntasan Klasikal Kelas IX-D
Kriteria klasikal IX D 68,75 % 31,25% Tidak Tuntas
Sampai saat ini masih banyak guru menggunakan pembelajaran secara langsung dimana pembelajaran berpusat terhadap guru dan kurangnya variasi pembelajaran yang dilakukan guru. Hal ini membuat siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Siswa hanya terbiasa menerima dan menghafal apa yang disampaikan guru tanpa termotivasi untuk memahami materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, akibatnya siswa kurang memahami konsep matematika tersebut, siswa hanya dapat menyelesaikan soal yang sama persis dengan contoh soal yang diberikan oleh guru.
Merupakan tantangan bagi guru matematika untuk senantiasa berpikir dan bertindak kreatif untuk memilih model, metode, serta pendekatan pembelajaran demi memenuhi peran tersebut. Sejalan dengan kata-kata Subandi (2013) “ materi matematika yang diajarkan jauh dari konteks dunia nyata. Sebagau ilmi pasti, matematika justru memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia, bukan hanya teori”.
Dari gambaran-gambaran di atas, disimpulkan bahwa untuk mempertahankan pengetahuan berdiam lebih lama di ingatan siswa, perlu diadakan pebelajaran yang melibatkan aktivitas maksimal siswa. Untuk itu sebaiknya guru memberikan pembelajaran yang melibatkan pengalaman siswa yang berkaitan dengan materi yang disertai arahan terbimbing dari guru.
Seperti yang dikatakan Zainurie (dalam Soviawati, 2011):
Matematika realistik adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.
Jadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan meninjau bagaimana aktivitas belajar siswa selama berlangsungnya pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Matematika Realistik.
Pembelajaran Matematika
Sutiyono (dalam Wijayanti, 2009) mengatakan “pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada siswanya, yang didalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara sisea dengan siswa dalam mempelajari matematika tersebut”.
Berdasarkan PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006, mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berikut:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akutrat, efisien, dan tepat, dalam pemacahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simnbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan masalah. Hasil Belajar
Menurut Benjamin S. Bloom (dalam Abdurrahman, 2009) ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut A.J. Romiszowski (dalam Abdurrahman, 2009) hasil belajar merupakan keluaran (output) dari suatu sistem pemrosesan masukan (input). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macan informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance).
Dalam pembelajaran, hasil belajar diketahui dengan adanya evaluasi. Alat evaluasi yang dimaksud di sini adalah tes. Menurut Norman (dalam Asmin dan Mansyur, 2012) “tes adalah salah satu prosedur evaluasi yang komprehensif, sistematik dan obyektif yang hasilnya dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan atas proses pengajaran yang dilakukan oleh guru”. Menurut Gronlund & Linn (dalam Asmin dan Mansyur, 2012) “tes merupakan suatu alat ukur atau instrumen berupa suatu prosedur sistematis untuk mengukur suatu sampel perilaku”.
Aktivitas Belajar
Sardiman (2011), menyatakan “aktivitas belajar adalah kegiatan yang bersifat fisik/jasmani maupun mental/rohani yang berkaitan dengan kegiatan belajar”. Belajar dengan beraktivitas sendiri kesannya tidak akan mudah berlalu melainkan akan dipikirkan dan diolah kemudian akan dikeluarkan lagi dalam bentuk yang berbeda. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus menimbulkan aktivitas siswa baik dalam berfikir maupun berbuat.
terjadinya perubahan dalam individu seutuhnya.
Pembelajaran Matematika Realistik Pembelajaran matematika realistik (PMR) dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human activity) dan harus dikaitkan dengan realitas. Berdasarka pemikiran tersebut, PMR mempunyai ciri bahwa, dalam proses pembelajaran peserta didik harus diberikan kesemmpatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru dan penemuan kembali (reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan “dunia riil”.
Karakteristik Matematika Realistik Treffers (dalam Wijaya, 2012) merumuskan lima karakteristik Pendidikan Matematika Realistik, yaitu:
a) Penggunaan konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan, penggunaan alat peraga, atau situasi lain seelama hal tersebut bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.
b) Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Dalam pendidikan matematika realistik, model digunakan dalam melakukan matematisasi secara progresif. Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal.
c) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa Mengacu pada pendapat freudenthal bahwa matematika tidak diberikan kepada siswa sebagai suatu produk yang siap dipakai tetapi sebagai suatu konsep yang dibangun oleh siswa maka dalam pendidikan matematika realistik siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.
d) Interaktivitas
Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu melainkan juga secara
bersamaan merupakan suatu proses sosial. Proses belajar akan menjadi lebih singkat dan bermakna ketika siswa saling menkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka.
e) Keterkaitan
Konsep-konsep dalam metematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep metematika yang memiliki keterkaitan. Langkah-Langkah Matematika Realistik
Amin (dalam Warli, 2009) memaparkan langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran matematika realistik sebagai berikut:
1. Mengkondisikan siswa untuk belajar. Guru mengkondisikan siswa untuk belajar dengan menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai, memotivasi siswa, mengingatkan materi prasyarat yang harus dimiliki siswa, dan mempersiapkan kelengkapan belajar/alat peraga yang diperlukan dalam pembelajaran.
2. Mengajukan masalah kontekstual. Guru selalu mengawali pembelajaran dengan mengajukan masalah kontekstual. Masalah kontekstual tersebut sebagai pemicu terjadinya penemuan kembali matematika oleh siswa. Masalah kontestual yang diajukan oleh guru hendaknya masalah yang divergen. Masalah tersebut juga memberi peluang untuk memunculkan berbagai strategi pemecahan masalah.
3. Membimbing siswa untuk menyelesaikan masalah kontekstual. Dalam memahami masalah, mungkin ada siswa yang kesulitan. Guru hanya memberi petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian situasi dan kondisi masalah (soal) yang belum dipahami siswa. Dengan demikian terdapat keesatuan pemahaman terhadap masalah kontekstual. Guru juga dapat meminta siswa menjelaskan atau mendeskripsikan masalah kontekstual dengan bahasa mereka sendiri.
sehingga mungkin terjadi perbedaan dalam penyelesaian masalah antara siswa yang satu dengan yang lain. Guru mengamati dan memotivasi siswa memperoleh penyelesaian soal.
5. Membandingkan dan mendiskusikan penyelesaian atau selesaian masalah. Guru memberikan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban soal secara berkelompok, untuk selanjutnya dibandingkan dan didiskusikan dalam kelas. Kemudian guru sebagai fasilitator dan moderator mengarahkan siswa berdiskusi dan membimbing siswa sehingga diperoleh jawaban yang benar. 6. Bernegosiasi. Berdasarkan hasil diskusi
kelompok atau diskusi kelas yang telah dilakukan, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep matematika yang terkait dengan masalah kontekstual yang baru diselesaikan. Kerangka Konseptual
Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar adalah penerapan strategi pembelajaran yang kurang tepat. Masalah timbul dikarenakan pembelajaran yang diterapkan selama ini menitikberatkan guru sebagai sumber informasi dalam jumlah besar. Kurangnya peran siswa dalam pembelajaran mengakibatkan siswa kurang memahami konsep-konsep matematika. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi rendahnya hasil belajar tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran yang sesuai, sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Metode pembelajaran dalam penelitian ini adalah Pembelajaran Matematika Realistik.
Pembelajaran Matematika Realistik adalah salah satu pembelajaran yang dapat mendorong siswa lebih aktif belajar matematika melalui soal-soal yang disajikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari yang dekat dengan siswa, sehingga siswa dimungkinkan lebih mudah memahami konsep materi karena menemukannya sendiri. Sebab pada hakekatnya, Pembelajaran
Matematika Realistik mengutamakan proses pembelajaran pada keaktifan siswa menemukan konsep matematika dari masalah-masalah kontekstual. Dimana hal ini tanpa disadari siswa, perlahan namun pasti akan meningkatkan hasil belajar matematika siswa itu sendiri.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan dan kerangka berfikir di atas, hipotesis dari penelitian ini adalah bahwa hasil belajar siswa kelas IX MTs Al-Washliyah akan lebih meningkat dengan menggunakan model pembelajaran matematika realistik.
2. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Al-Washliyah Tembung. Sedangkan waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester I (Ganjil) Tahun Ajaran 2014/2015.
Subjek Penelitian.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX-D MTs Al-Washliyah tahun ajaran 2014/ 2015. Dimana jumlah siswa yaitu 32 orang. Objek Penelitian.
Objek penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika pada materi bangun ruang sisi lengkung dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik.
Defenisi Operasional.
Penelitian ini berjudul “Penerapan Pembelajaran Matematika Realistik untuk MeningkatkanHasil Belajar Siswa pada materi bangun ruang sisi lengkung di kelas IX MTs Al-Washliyah Tembung TahunAjaran 2014/2015. Istilah-istilah yang memerlukan penjelasan adalah sebagai berikut:
mempresentasikannya. Kemudian setiap kelompok diberi kesempatan untuk saling mengajukan pertanyaan mengenai kesulitan-kesulitan yang dialami dalam memahami bahan ajar.
2. Hasil belajar adalahnilai siswa dalam mata pelajaran matematika pada materi bangun ruang sisi lengkung yang diperoleh melalui tes yang diberikan pada sampel penelitian.
Jenis Penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik dengan tujuan memperbaiki mutu proses pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kendala dan kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan permasalahan bangun ruang sisi lengkung serta menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang sisi lengkung.
Prosedur Penelitian.
Sesuai dengan jenis penelitian ini, yaitu penelitian tindakan kelas makapenelitian ini memiliki beberapa tahap yang merupakan suatu siklus. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang akan dicapai. Pada penelitian ini jika siklus pertama tidak berhasil, yaitu proses belajar mengajar belum meningkatkan hasil belajar siswa. Sebelum melaksanakan penelitianpeneliti memberi tes materi prasyarat kepada siswa mengenai materi prasyarat kubus dan balok yaitu materi persegi dan persegi panjang. Permasalahan yang diperoleh dari tes prasyarat tersebut adalah hanya terdapat 52,5% dari 32 orang yang tuntas (mendapat nilai ≥ 65%). Target peningkatan yang kedua dalam penelitian ini adalah meningkatkanjumlah siswa yang tuntas menjadi ≥ 85%. Untuk mencapai target itu, adapun langkah-langkahnya:
SIKLUS I
a. Tahap Perencanaan Tindakan I.
Tahap perencanaan tindakan I dilakukan setelah tes awal diberikan.Pada tahap perencanaan tindakan ini, hal-hal yang dilakukan adalah :
1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran yang menggunakan pembelajaran matematika realistik. 2. Mempersiapkan sarana pendukung
pembelajaran yang mendukung pelaksanaan tindakan, yaitu (1) Lembar aktivitas siswa, (2) buku mata pelajaran untuk peneliti.
3. Mempersiapkan instrumen penelitian, yaitu (1) tes untuk melihat hasil belajar siswa, (2) lembar observasi untuk mengamati bagaimana peran guru ketika proses belajar mengajar berlangsung. 4. Menyusun daftar pertanyaan wawancara
untuk mengetahui letak kesulitan memecahkan masalah siswa setelah dilakukan kegiatan pembelajaran. b. Pelaksanaan Tindakan I.
Setelah tahap perencanaan tindakan I disusun, maka tahap selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan I, yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik. Dalam hal ini, peneliti bertindak sebagai guru, sedangkan guru mata pelajaran matematika kelas IX Al-Washliyah Tembung bertindak sebagai pengamat yang akan memberi masukan selama pembelajaran berlangsung.
2. Pada akhir tindakan, diberikan tes hasil belajar kepada siswa untuk melihat letak kesulitan belajar siswa dan untuk mengetahui peningkatan kemampuan hasil belajar siswa.
c. Observasi I
a. Membuka pelajaran.
b. Menyajikan materi dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
c. Melibatkan siswa dalam pembelajaran. d. Berkomunikasi dengan siswa.
e. Mengelola waktu dan metode pembelajaran.
f. Menutup pelajaran.
d. Analisis Data.
Data penelitian bersumber dari peneliti dan siswa. Data kuantitatif (dari siswa) diperoleh dari hasil tes hasil belajar. Sedangkan data kualitatif yang diperoleh melalui observasi kemudian dianalisis dan kemudian peneliti menarik kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian.
e. Refleksi I.
Tahap ini dilakukan untuk mengambil keputusan perencanaan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil analisis data dari pemberian tindakan pada siklus I yang mencakup :
a. Kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan materi bangun ruang sisi lengkung.
b. Hasil observasi terhadap guru dan siswa. Dalam refleksi ditariklah kesimpulan yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk tahap perencanaan pada siklus berikutnya.
SIKLUS II
Setelah dilaksanakan siklus I dan hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai terhadap tingkat penguasaan yang telah di tetapkan peneliti maka tindakan masih perlu dilanjutkan pada siklus II. Siklus II dilaksanakan di kelas yang sama namun dengan materi yang berbeda. Siklus II diadakan perencanaan kembali dengan mengacu pada hasil refleksi pada siklus I. Pada siklus II ini peneliti merencanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaaran matematika realistik dengan membagi siswa dalam beberapa kelompok yang memiliki kemampuan bervariasi. Hal ini bertujuan agar dapat menigkatkan hasil belajar siswa. Sama halnya dengan siklus I, dalam siklus II juga terdapat penentuan
masalah, perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, analisis data serta refleksi. Instrumen Pengumpul Data
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah tes dan nontes.
Tes
Tes yang diberikan berbentuk tes esai agar bisa melihat kesulitan siswa Pemberian tes dilakukansetelah pemberian tindakan.
Hal yang diperhatikan oleh peneliti sebelum menyusun naskah tes, yaitu :
Menentukan ruang lingkup pertanyaan.
Menentukan apa yang diukur meliputi aspek kognitif, yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3)
Menyusun kisi-kisi tes
Dalam kisi-kisi tampak ruang lingkup materi yang diujikan, bentuk soal, dan jumlah soal.
Menyusun soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat dan penyelesaian soal.
Observasi
Observasi yang dilakukan merupakan pengamatan terhadap aktivitas dan proses yang terjadi pada saat diberikan tindakan. Terdapat dua observasi yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu:
Observasi terhadap Proses Pembelajaran Dalam hal ini yang bertindak sebagai guru adalah peneliti. Adapun observasi terhadap guru ini dilakukan oleh guru matematika kelas IX D MTs Al-Washliyah Tembung yang bertujuan untuk memberikan masukan terhadap pembelajaran yang berlangsung. Aspek yang menjadi fokus observasi ini adalah:
a. Keterampilan membuka pelajaran b. Penyajian materi lewat LAS c. Strategi pembelajaran d. Pengelolaan kelas
e. Komunikasi dengan siswa
f. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika realistik
g. Keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab dan mengemukakan ide h. Melaksanakan evalalusi terhadap hasil
kerja kelompok
Observasi Aktivitas Belajar Siswa
Untuk mengetahui bagaimana aktivitas belajar siswa dilakukan observasi. Dalam hal ini, observasi dilakukan oleh dua orang observer.Observer melakukan pengamatan setiap 5 menit selama proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran matematika realistik. Tujuan dari observasi ini adalah untuk melihat persentase waktu aktivitas. Aktivitas yang akan diobservasi pada penelitian ini adalah :
a. Aktivitas Belajar Aktif
Aktivitas belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalam setiap kegiatan, seperti :
Membaca buku siswa, LAS dan sumber lain
Menulis penjelasan guru, mencatat dari guru atau dari teman menyelesaikan masalah pada LAS, merangkum hasil kerja kelompok
Berdiskusi/bertanya/berpendapat antara siswa dengan temannya dan kepada guru b. Aktivitas Belajar Pasif
Aktivitas belajar pasif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajar, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan, seperti :
Mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru
Melakukan sesuatu yang tidak relevan dengan pembelajaran misalanya percakapan diluar pembelajaran, mengerjakan sesuatu di luar topik dan berjalan-jalan di luar kelompoknya Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
Ketuntasan hasil belajar siswa diukur dari tes hasil belajar.
Ketuntasan belajar siswa (individual)
%
(Depdikbud dalam Trianto, 2009)
Ketuntasan Belajar Klasikal
Untuk melihat apakah proses belajar telah dicapai, maka dapat dilihat melalui kriteria ketuntasan belajar secara klasikal.
%
Menganalisis hasil observasi kegiatan pembelajaran
Untuk mengetahui proses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran matematika realistik pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung dilaksanakan dengan baik, digunakan lembar observasi sebagai alat penilaian yang diisi oleh observer yaitu guru matematika ditempat penelitian. Proses pembelajaran dapat dinilai per-pertemuan setelah skor hasil pengamatan observator diolah dengan menggunakan
rumus:
= Hasil pengamatan pada pertemuan ke-i
Untuk menentukan rata-rata penilaian :
Keterangan : R = rata-rata penilaian N = jumlah nilai akhir B = banyaknya observasi Menganalisis aktivitas siswa
Aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran dianalisis secara deskriptif melalui hasil observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk mencari rata – rata frekuensi nilai dan rata-rata frekuensi waktu yang digunakan siswa melakukan aktivitas selama kegiatan pembelajaran berlangsung ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menentukan frekuensi hasil pengamatan
kategori aktivitas belajar siswa dalam satu kali pertemuan.
b. Mencari persentase rata – rata frekuensi setiap kategori aktivitas dengan cara membagi rata – rata frekuensi untuk semua kategori aktivitas dengan banyak frekuensi pengamatan untuk setiap pertemuan selanjutnya ditentukan persentase waktu untuk banyaknya pertemuan dan menyediakannya dalam tabel.
Untuk menghitung persentase aktivitas dapat digunakan rumus :
Selanjutnya dihitung jumlah persentase waktu untuk aktivitas aktif siswa satu siklus :
per temuan jumlah
aktif aktivitas waktu
per sentase jumlah
Interpretasi Data
Interpretasi Tes hasil Belajar
Ketuntasan belajar siswa (individual)
Dengan Kriteria Peningkatan Hasil Belajar sebagai berikut:
%
65
%
0
KB
siswa tidak tuntas dalam belajar%
100
%
65
KB
siswa sudah tuntas dalam belajar(Depdikbud dalam Trianto2009) Ketuntasan Belajar Klasikal
Untuk melihat apakah proses belajar telah dicapai, maka dapat dilihat melalui kriteria ketuntasan belajar secara klasikal. Seorang siswa dikatakan tuntas jika KB ≥ 65%, sedangkan suatu kelas dikatakan tuntas jika PKK ≥ 85%.
(Depdikbud dalam Trianto, 2009)
Interpretasi Hasil Observasi
Kriteria Hasil Observasi Pembelajaran
Tabel 2. Kriteria hasil observasi belajaran
Skor Kriteria Proses
Belajar Mengajar Sangat buruk Buruk Baik Sangat baik
Pembelajaran dikatakan efektif jika pembelajaran termasuk dalam kategori baik atau sangat baik.
(Suryo Subroto dalam Fitriana 2006) Kriteria Hasil Observasi Aktivitas
Siswa
Penentuan kriteria keefektivan aktivitas berdasarkan pencapaian waktu ideal berpedoman sebagai berikut :
1. Waktu ideal yang digunakan untuk mendengar/memperhatikan penjelasan guru dengan aktif adalah 25% dari waktu yang tersedia untuk setiap pertemuan. Dengan batas toleransi 5% maka keefektifan aktivitas siswa ditetapkan antara 20% sampai 30%.
2. Waktu ideal yang digunakan untuk membacabuku siswa, LAS dan sumber lain adalah 15% dari waktu yang tersedia untuk setiap pertemuan. Dengan batas toleransi 5% maka keefektivan aktivitas siswa ditetapkan antara 10% sampai 20%.
3. Waktu ideal yang digunakan untuk menulis penjelasan guru, mencatat dari guru atau dari teman menyelesaikan masalah pada LAS, merangkum hasil kerja kelompokadalah 30 % dari waktu yang tersedia untuk setiap pertemuan. Dengan batas toleransi 5% maka keefektivan aktivitas siswa ditetapkan antara 25% sampai 35%.
5. Waktu ideal yang digunakan untuk perilaku yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar adalah 0 % dari waktu yang tersedia untuk setiap pertemuan. Dengan batas toleransi 5 % maka keefektivan aktivitas siswa ditetapkan antara 0% sampai 5%.
Dalam penelitian ini digunakan dua kategori untuk aktivitas siswa dalam pembelajaran yaitu aktif dan tidak aktif. Waktu ideal aktivitas siswa adalah
75% dari total waktu pembelajaran digunakan untuk melakukan aktivitas aktif yaitu: Membaca buku siswa, LAS dan sumber lain
Menulis penjelasan guru, mencatat dari guru atau dari teman menyelesaikan masalah pada LAS, merangkum hasil kerja kelompok Berdiskusi/bertanya/berpendapat
antara siswa dengan temannya dan kepada guru
Penarikan Kesimpulan.
Indikator keberhasilan dalampenelitian ini adalah:
1. Hasil Belajar Siswa
Secara individu seorang siswa dikatakan tuntas dalam belajar jika KB siswa tersebut telah mencapai paling sedikit 65%.
Ketuntasan belajar klasikal tercapai jika ≥ 85% siswa memperoleh nilai ≥ 65% 2. Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Hasil observasi pembelajaran termasuk dalam kategori baik atau sangat baik.
3. Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Tiga dari kelima aspek aktivitas siswa dipenuhi serta aspek nomor 3 dan 4 harus dipenuhi. Kriteria pencapaian waktu ideal aktivitas siswa tercapai, yaitu jika persentase waktu yang digunakan siswa untuk melakukan aktivitas aktif minimal 75% dari total waktu pembelajaran dan terdapat peningkatan waktu ideal sebanyak 10% dari siklus I ke siklus berikutnya.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
SIKLUS I
Berdasarkan hasil observasi dan tes hasil belajar siklus I, berikut ini diuraikan kegagalan dalam pelaksanaan tindakan selama pembelajaran siklus I yaitu:
1. Penggunaan pembelajaran matematika realistik pada materi luas permukaan tabung dan kerucut selama kegiatan pembelajaran berlangsung masih belum dilaksanakan secara maksimal. Contohnya pada kegiatan inti, guru kurang memanajemen waktu selama proses kegiatan pembelajaran sehingga waktu untuk diskusi kelompok cukup singkat. Pelaksanaan waktu pada pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan RPP
2. Dari 5 aspek aktivitas siswa yang diamati hanya 2 aspek yang tercapai sedangkan 3 aspek lainnya belum tercapai yaitu mendengar atau memperhatikan penjelasan guru atau teman, berdiskusi/bertanya/berpendapat antara siswa dengan temannya maupun dengan guru, melakukan sesuatu yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar seperti percakapan di luar pembelajaran, berjalan - jalan di luar kelompoknya. Jumlah aktivitas aktif siswa juga belum mencapai 75%, sehingga aktivitas belajar siswa masih perlu ditingkatkan lagi.
3. Siswa yang aktif masih didominasi oleh siswa yang pandai. Siswa juga masih kurang berani untuk bertanya ataupun menyatakan pendapatnya kepada guru atau temannya.
5. Dari hasil observasi guru selama proses pembelajaran pada siklus I memiliki nilai rata-rata 2,6 yaitu masuk dalam kategori baik, namun hasil belajar belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Hal ini tentu bertentangan dengan idealnya, yaitu ketika proses pembelajaran berjalan baik, maka hasil belajar juga akan baik. Adapun hal-hal penyebabnya adalah:
Guru tidak menguasai materi dengan baik, sehingga ketika menyampaikan tidak maksimal.
Guru masih kurang dalam mengkondisikan diskusi yang kondusif, sehingga hanya siswa-siswa yang aktif yang menonjol.
Siswa terkendala di soal yang berbentuk soal cerita.
Waktu yang digunakan untuk tes hasil belajar 1 kurang karena terpakai oleh jam mata pelajaran sebelumnya.
Guru merasa masih banyak memiliki kekurangan dalam proses pembelajaran, seperti kemampuan menguasai kelas, pengelolaan waktu yang masih kurang baik, dan hubungan komunikasi dengan siswa yang masih kurang.
Disamping kegagalan yang diperoleh selama pembelajaran siklus I, ternyata ada diperoleh peningkatan hasil belajar dari tes materi prasyarat, dimana terdapat 22 siswa (68,75%) yang mencapai ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata kelas yaitu 59,278 menjadi 25 orang (78,125%) yang mencapai ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata kelas yaitu 67,875 pada siklus I.
Karena tes hasil belajar I belum mencapai ketuntasan hasil belajar secara klasikal yaitu
85% siswa mempunyai daya serap 65%, maka perlu perbaikan program pengajaran hingga tercapai target penelitian. Karena ada kekurangan dalam pembelajaran selama siklus I dilaksanakan, maka perlu diadakan perbaikan tindakan di siklus selanjutnya. Oleh karena itu penelitian dilanjutkan ke siklus II.SIKLUS II
Berdasarkan hasil observasi dan data hasil tes hasil belajar siklus II, berikut diuraikan keberhasilan dalam pelaksanaan tindakan II, yaitu :
1. Dari data hasil belajar siklus II, diperoleh 30 siswa (93,75%) dari 32 siswa telah mencapai ketuntasan belajar (nilainya
65) dan hanya terdapat 2 siswa (6,25%) belum tuntas, sehingga ketuntasan belajar secara klasikal sudah tercapai.2. Dari observasi aktivitas siswa yang dilakukan persentase waktu yang digunakan siswa untuk melakukan aktivitas aktif pada siklus II mencapai 75,01125% dari total waktu pembelajaran, terjadi peningkatan rata - rata pencapaian waktu ideal aktivitas aktif dari siklus I ke siklus II sebesar 11,32375%. Aspek aktivitas siswa nomor 3 dan 4 pada siklus II telah terpenuhi, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa pada siklus II sudah memenuhi waktu ideal dan terjadi peningkatan.
3. Guru telah mampu meningkatkan pengelolaan pembelajaran matematika dengan menerapakan pembelajaran matematika realistik pada pokok bahasan luas permukaan dan volume tabung dan kerucut. Hal ini disimpulkan berdasarkan data hasil pengamatan terhadap kinerja guru dalam pengelolaan pembelajaran yaitu mengalami peningkatan rata – rata dari 2,6 yang dikategorikan baik pada siklus I menjadi 2,9 yang dikategorikan baik pada siklus II.
lebih tinggi dengan mudah tanpa malu harus bertanya kepada guru. Karena siswa lebih berani bertanya kepada teman sekelompoknya daripada kepada guru.
5. Pemberian reward berpeluang membuat masing-masing siswa dalam kelompoknya masing-masing menjadi aktif dalam berdiskusi kelompok dan memotivasi siswa untuk sukarela menjadi kelompok yang presentasi di depan kelas.
Karena ketuntasan belajar siswa secara klasikal sudah tercapai dan aktivitas siswa sudah memenuhi waktu ideal, kegiatan pembelajaran termasuk dalam kategori baik serta terjadi peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa maka pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pembelajaran matematika realistik disimpulkan telah memenuhi indikator keberhasilan dan tindakan berhenti dilaksanakan.
Penelitian yang Relevan
Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Otto Manurung yaitu Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Matematika Realistik pada Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bagi Siswa 1 Kelas XI-A SMK PGRI 2 Salatiga Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012. Hasil belajar pada ulangan harian belum memenuhi standar sekolah yaitu 70. Dari hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan hasil belajar siswa dari setiap siklus yang dijalankan, dimana setiap siklus presentase ketuntasan berturut-turut siklus I 94,60 %, Siklus II 97,30 %, dan Siklus III 100 %. Pada siklus I terdapat 2 siswa yang mendapat nilai < 70 dengan nilai rata-rata 86,22, siklus II terdapat 1 siswa yang mendapat nilai < 70 dengan nilai rata-rata 92,65, dan pada siklus III tidak ditemukan siswa yang mendapat nilai <70 dengan nilai rata-rata 81,32.
4. KESIMPULAN
Setelah dilakukan analisis data, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah:
1. Kategori proses pembelajaran matematika ralistik pada materi banugn ruang sisi lengkung termasuk baik. Hal
ini dilihat dari hasil pengamatan pada siklus penelitian. Pada siklus I diperoleh rata-rata hasil pengamatan sebesar 2,6 (kategori baik) dan pada siklus II diperoleh rata-rata hasil pengamatan sebesar 2,9 (kategori baik).
2. Hasil belajar matematika siswa meningkat dengan pembelajaran matematika realistik pada materi bangun ruang sisi lengkung di kelas IX MTs Al-Washliyah Tembung T.A 2014/2015. Dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik tersebut, pada siklus I diperoleh nilai rata – rata kelas 67,84375 dengan tingkat ketuntasan klasikal 78,125 %. Pada siklus II nilai rata – rata kelas meningkat menjadi 74,85 dengan ketuntasan klasikal 93,75%. Terjadi peningkatan persentasi ketuntasan klasikal sebesar 15,625% 3. Aktivitas belajar Matematika siswa
dengan pembelajaran matematika realistik pada materi bangun ruang sisi lengkung di kelas IX MTs Al-Washliyah Tahun Ajaran 2014/2015 sudah mencapai waktu ideal. Dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik tersebut diperoleh hasil rata - rata pencapaian waktu ideal aktivitas aktif siklus I adalah 63,6875%, aspek aktivitas siswa nomor 4 tidak tercapai dan hanya dua aspek saja yang tercapai. Pada siklus II, pencapaian waktu ideal aktivitas aktif sebesar 75,01125 %, aspek aktivitas siswa nomor 3 dan 4 juga tercapai. Terjadi peningkatan persentasi pencapaian waktu ideal aktivitas aktif sebesar 11,32375 % dari siklus I.
5. REFERENSI
Abdurrahman, M. (2009). Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Daryanto. (2013). Inovasi Pembelajaran Efektif. Bandung: Yrama Widya.
Djamarah, S., (2011), Psikologi Belajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Ekawati, S.(2011). Peran, Fungsi, Tujuan,
dan Karakteristik Matematika
Sekolah.Jakarta: PPPPTK Matematika (diakses 22 Januari 2014) Fauzan, A. 2002. Applying Realistic
Mathematics Education (RME) in
Teaching Geometry in Indonesian
Primary School. Enschede: University of Twente.
Fauzy. (2013). http://nasional.sindonews .com/read/2013/11/11/15/804091/ pembelajaran-matematika-di-indonesia-masuk-peringk at-rendah (diakses 22 Januari 2014)
Fitriana, (2011), Upaya Meningkatkan HasilBelajar Siswa dengan Metode Inkuiri pada Pokok Bahasan Teorema Pythagoras di kelas VIII SMP Negeri 1 Tebing Tinggi Tahun ajaran 2011/2012, Skripsi, FMIPA,
Unimed, Medan.
FMIPA Unimed. (2010). Pedoman Penulisan
Proposal dan Skripsi Mahasiswa
Program Studi Kependidikan. Medan: FMIPA Unimed.
Hamalik, Oemar. (2009). Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara : Bandung. Juari. (2011). Upaya Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Melalui
Pembelajaran Matematika Realistik pada Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bagi Siswa 1 Kelas XI-A SMK PGRI 2 Salatiga Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Kristen Satya Wacana.
Ismail. (2008). Contextual Teaching and Learning Matematika SMP & MTs Kelas IX Edisi 4. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Kunandar. (2007). Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nandari, R. (2013). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Pendekatan
Matematika Realistik pada Pokok
Bahasan Pecahan di Kelas VII SMP Swasta Dwi Tunggal Tanjung Morawa
T.A 2013/2014. Skripsi. Medan:
Universitas Negeri Medan.Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran : Sebagai Referensi Bagi Pendidikan
Dalam Implementasi Pembelajaran
Yang Efektif & Berkualitas. Kencana : Jakarta.
Sagala, S. (2009). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Sani, R., (2013), Inovasi Pembelajaran,
Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media.
Sardiman, (2011), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,Penerbit Wali Pers,
Jakarta.
Setyosari, P. (2012). Metodologi Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Sinaga, B., (2008),Pengembangan Model Pe mbelajaran Matematika Berdasarkan
Masalah Berbasis Budaya Batak (PBMB3), Disertasi, UniversitasNegeri
Surabaya, Surabaya.
Soviawati, E. (2011). Pendekatan Matematika Realistik (PMR) Untuk Meningakatkan Kemampuan Berfikir Siswa Di Tingkat Sekolah Dasar (diakses 20 maret 2014)
Subandi. (2013)
http://www.beritasatu.com/pendidikan/1
44143-kualitas-pendidikan-di-indonesia-masih-rendah.html. (diakses 22 Januari 2014)
Sudijono, A. (2011). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Sudjana, N. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Trianto, 2009, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif
Konsep, Landasan, dan
Implementasinya pada Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Penerbit Kencana, Jakarta.
Turmudi. 2009. Students’ Responses to the Realistics Teaching Approach in Junior
Secondary School in Indonesia.
Indonesia University of Education. van den Heuvel-Panhuizen, M. (1996).
Assessment and Realistic Mathematics Education. Den Haag: Koninklijke Bibliotheek.
Warli. (2009). Pembelajaran Matematika Realistik Materi Geometri Kelas IV MI (diakses 20 maret 2014)
Webb, D.C, van der Kooij, H, and Geist, M.R. (2011). Design Research in the Netherland: Introducing Logarithms Using Realistic Mathematics Education. Journal of Mathematics Education at Teachers College. Volume 2. New York: Columbia University.
Wijaya, A. (2012). Pendidikan Matematika Realistik: Suatu Altenatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu
Wijayanti, A.D. (2009). Meningkatkan Hasil Belajar Pokok Bahasan Kubus dan Balok dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas VIII A Semeeter I SMP N 1 Banjarejo Tahun 2009/2010. Semarang: IKIP PGRI Semarang