• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Politik UNHCR Dalam Menangani Etnis Rohingya di Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Politik UNHCR Dalam Menangani Etnis Rohingya di Medan"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II PROFIL UNHCR

2.1 UNHCR Sebagai Organisasi Internasional

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah suatu organisasi internasional

terbesar di dunia yang beranggotakan hampir semua negara di dunia. Sejak berdiri

hingga saat ini, PBB telah memiliki 193 negara anggota yang juga merupakan

Negara Berdaulat dan diakui oleh dunia Internasional. Saat ini PBB memiliki

beberapa badan organisasi yang bergerak di berbagai aspek kehidupan manusia,

yaitu:

• Food and Agriculture Organization (FAO)

• International Atomic Energy Agency (IAEA)

• International Civil Aviation Organization (ICAO)

• International Labour Organisation (ILO)

• International Fund for Agricultural Development (IFAD)

• International Monetary Fund (IMF)

• InterGovernmental Maritime Consultative Organization (IMCO)

• International Telecommunication Union (ITU)

• United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD)

• United Nations Development Programme (UNDP)

(2)

• United Nations Environment Programme (UNEP)

• nited Nations Educational, Scientific and Cultural Organization

(UNESCO)

• Fund for International Partnerships (UNFIP)

• United Nations Population Fund (UNFPA)

• United Nations Human Settlements Programme (UN–HABITAT)

• United Nations Children's Fund (UNICEF)

• United Nations Industrial Development Organization (UNIDO)

• United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in

the Near East (UNRWA)

• World Tourism Organization (WTO)

• United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)

Salah satu badan organisasi PBB yang saat ini sangat diakui dan

kinerjanya tampak jelas adalah UNHCR atau (United Nation High Commisioner

for Refugee/ Komisariat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi).

UNHCR adalah sebuah organisasi internasional yang merupakan badan PBB

untuk urusan pengungsi. Badan itu diberi mandat untuk memimpin dan

mengkoordinasikan langkah-langkah internasional untuk melindungi pengungsi

dan menyelesaikan permasalahan pengungsi di seluruh duniaUNHCR didirikan

pada 14 Desember 1950 oleh Majelis Umum PBB dan resmi mulai bekerja pada

(3)

Organisasi ini memiliki tugas untuk memimpin dan mengkoordinasikan

kegiatan internasional dalam melindungi pengungsi, pencari suaka maupun

orang-orang tanpa kewarganegaraan dan menyelesaikan permasalahan pengungsi di

dunia. UNHCR ini juga memastikan setiap pengungsi mendapatkan hak untuk

memperoleh perlindungan. Dalam melaksanakan fungsinya, UNHCR berpedoman

kepada Konvensi Jenewa tahun 1951 dan Protokol Tambahan 1967 sebagai

pedoman acuhan.

2.2 Sejarah Berdirinya UNHCR

UNHCR atau Komisariat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Uursan

Pengungsi merupakan organisasi internsional yang berlandaskan asas

kemanusiaan (humanity). Sesuai dengan namanya organisasi ini didirikan untuk

membantu para pengungsi-pengungsi yang menjadi korban akibat adanya perang,

bencana alam, penganiayaan, kekerasan dan lainnya yang membuat seseorang

harus mengalami penderitaan dan membutuhkan perlindungan.

Sejak awal didirikan sebenarnya organisasi ini hanya difokuskan pada

penanganan terhadap orang-orang yang menjadi korban pengungsi akibat konflik

Perang Dunia II, dimana wilayah penanganannya hanya terkonsentrasi di kawasan

Benua Eropa saja. Pada dasarnya organisasi ini hanya diberi mandat selama 3

tahun untuk menjalankan tugasnya dalam membantu korban-korban pengungsian

(4)

membantu dalam melindungi umat manusia yang membutuhkan perlindungan

dikarenakan konflik-konflik negara yang terjadi.

Setelah lewat masa kerja UNHCR yang awalnya hanya dimandatkan 3

tahun, PBB merasa badan organisasi ini cukup penting mengingat semakin

banyaknya konflik-konflik yang terjadi di dunia, semakin banyaknya perang,

penganiayaan, pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang menjadikan rakyat

yang tidak bersalah menjadi korban, maka UNHCR tidak dibubarkan melainkan

tetap menjalankan tugasnya dalam memberikan perlindungan kepada orang-orang

yang menjadi korban pengungsian akibat adanya konflik maupun perang.

2.3 Perkembangan UNHCR

• 14 Desember 1950 Majelis Umum PBB mendirikan organisasi Komisaris

Tinggi untuk Pengungsi (UNHCR). Sesuai dengan kepengurusan nya,

organisasi ini bersifat kemanusiaan dan sosial guna membantu

orang-orang yang menjadi pengungsi.

• Tahun 1951 Majelis Umum PBB mengadakan konferensi dengan

Wakil-Wakil Negara Berkuasa Penuh untuk menyusun suatu dokumen tentang

kepengurusan pengungsi dan menandatangani dokumen tersebut yang

dirangkum dalam Konvensi Mengenai Status Pengungsi. Konvensi ini

dilatarbelakangi banyaknya korban pengungsi pasca Perang Dunai II di

(5)

• Tahun 1954, UNHCR berhasil memenangkan penghargaan Nobel Peace

atas peran dan kerja kerasnya ikut andil dalam membantu pengungsi di

Eropa.

• Tahun 1956, terjadi peristiwa runtuhnya Revolusi Hungaria yang

disebabkan oleh penyerangan Soviet. Karena peristiwa tersebut jumlah

korban-korban pengungsi mengalami penaikan drastis, hal ini membuat

UNHCR kesulitan dalam menangani banyaknya jumlah pengungsi saat itu.

Melalui peristiwa tersebut, peran UNHCR dalam menangani pengungsi

semakin tidak dapat dipandang sebelah mata, karena organisasi ini

sangatlah dibutuhkan.

• Tahun 1960, peristiwa Dekolonisasi di Afrika menyebabkan krisis

pengungsi dalam jumlah yang besar sehingga membutuhkan intervensi dan

peran langsung dari UNHCR.

• Tahun 1967, dilakukan revisi terhadap Konvensi 1951 yang dikenal

dengan Protokol Tambahan 1967. Dalam isi Protokol 1967 memperluas

penerapan Konvensi 1951. Protokol 1967 menghapuskan batasan-batasan

letak geografis dimana yang awalnya Konvensi 1951 membatasi

pengakuan Konvensi atas pengungsi hanya kepada orang-orang di Eropa

yang menjadi korban pengungsi dikarenakan kejadian pasca Perang Dunia

II. Hal ini berlandaskan atas semakin banyaknya terjadi

(6)

hanya di Eropa namun juga di berbagai wilayah seperti kawasan Asia dan

Afrika.

• Tahun 1980 terjadi peperangan di wilayah Asia-Afrika yang menimbulkan

banyak korban pengungsi (Libanon, Somalia, Srilanka, Afghanistan,

Urganda). UNHCR melalui Konvensi 1951 dan Protokol 1967

melaksanakan fungsinya dalam penanggulangan pengungsi di kawasan

Asia-Afrika tersebut.

• Tahun 1981 UNHCR kembali mendapatkan penghargaan atas

kontribusinya berupa bantuan global dalam membantu para pengungsi.

• Selama 2 dekade dari tahun 1980an sampai awal tahun 2000an UNHCR

membantu mengatasi pergerakan manusia di Asia dan Latin Amerika.

• Tahun 2000an UNHCR tetap terus menjalankan tugas untuk membantu

para pengungsi di berbagai wilayah. Saat itu juga UNHCR dimintai

bantuannya untuk membantu para pengungsi internal yang disebabkan

oleh konflik. Peran UNHCR semakin meluas tidak hanya sebatas

membantu pengungsi namun juga ditunjuk oleh Sidang Umum PBB agar

UNHCR dapat menangani bantuan bagi orang-orang tanpa

kewarganegaaran yaitu dengan memberikan bantuan hukum kepada

orang-orang yang tidak berkewarganegaraan dan membantu menghindari serta

menghapus adanya orang tanpa status kewarganegaraan di dunia.

Dalam penanganan orang tanpa kewarganegaraan, bertolak dari Konvensi

(7)

bantuan kepada individu dengan membantu menyelesaikan masalah

hukum mereka dan membantu memperoleh dokumen yang diperlukan,

membantu negara untuk melaksanakan dan meperkuat hukumnya,

menyebarkan informasi terkait serta menyusun dokumen pengawasan

global.34

• Sampai saat ini UNHCR tetap menjalankan fungsinya dalam membantu

pengungsi maupun orang-orang tanpa kewarganegaraan. Akhir tahun 2014

tercatat sekitar 9330 orang yang tergabung sebagai karyawan UNHCR

yang tersebar di 125 negara di dunia, baik di daerah pusat maupun daerah

terpencil, termasuk 702 orang yang bekerja di kantor pusat UNHCR di

Geneva,Swiss. Saat ini UNHCR mengurus 36,4 juta orang yang

diantaranya terdiri dari: 15,6 juta pengungsi internal, 10,4 juta pengungsi,

sekitar 2,5 juta orang yang kembali ke negara asalnya, 6,5 juta orang tanpa

kewarganegaraan, lebih dari 980,000 orang yang mencari suaka

(perlindungan) dan lebih dari 400,000 orang yang menjadi perhatian

UNHCR lainnya.35

2.4 Fungsi dan Wewenang UNHCR36

Dalam praktiknya, UNHCR di bawah naungan PBB memiliki fungsi

memberikan perlindungan internasional kepada para pengungsi serta pencarian

34

UNHCR. September 2006. Orang Tanpa Kewarganegaraan di Seluruh Dunia. Hlm. 14

35

History of UNHCR. Diakses dari laman

(8)

solusi permanen masalah pengungsi dengan bekerja sama dengan

pemerintah-pemerintah negara dalam menangani urusan pengungsi. Jika di dalam

melaksanakan fungsinya, UNHCR menemukan kesulitan misalnya tentang suatu

kontroversi mengenai status internasional orang tersebut, maka UNHCR akan

meminta kominte penasehat pengungsi jika komite itu dibentuk.

Selama bekerja UNHCR akan selalu mengikuti petunjuk-petunjuk

kebijakan yang diberikan oleh Majelis Umum atau Dewan Ekonomi dan Sosial

PBB. Dewan Ekonomi dan Sosial nantinya dapat memutuskan setelah mendengar

pendapat UNHCR terkait pokok yang bersangkutan guna membentuk sebuah

komite penasehat tentang pengungsi yang akan terdiri dari wakil-wakil negara

Anggota dan Negara-negara bukan anggota PBB yang nantinya akan diseleksi

oleh Dewan Ekonomi dan Sosial atas dasar perhatian nyata dan pengabdian

negara-negara tersebut pada solusi masalah kepengurusan pengungsi.

Yang menjadi wewenang UNHCR dalam penanganan pengungsi meliputi:

A. (i) Seseorang yang telah dianggap sebagai pengungsi menurut Pengaturan

12 Mei 1926 dan 30 Juni 1928 atau menurut Konvensi 20 Oktober 1933

dan 10 Februari 1938. Protokol 14 September 1939 atau Konstitusi

Organisasi Internasional.

(ii) Seseorang yang sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi

sebelum 1 Januari 1951 dan yang disebabkan oleh kecemasan yang

(9)

alasan-alasan ras, agama, kebangsaan, atau opini politik, berada di luar

negara kewarganegaraannya dan tidak dapat atau karena kecemasan

tersebut atau karena alasan-alasan yang bukan alasan-alasan kenikmatan

pribadi, tidak mau memanfaatkan perlindungan negara itu; atau seseorang

yang tidak bekewarganegaraan dan berada di luar negara dimana ia

sebelumnya bertempat tinggal tidak dapat atau karena kecemasan itu atau

karena alasan-alasan yang bukan alasan-alasan kenikmatan pribadi tidak

mau kembali ke negara itu.

Keputusan mengenai terpenuhinya persyaratan yang diambil oleh

organisasi pengungsi internasional dalam periode kegiatannya tidak akan

mencegah status pengungsi yang diberikan kepada orang-orang yang

memenuhi syarat-syarat paragraf ini;

Wewenang UNHCR akan berhenti berlaku bagi seseorang yang ditetapkan

dalam seksi A di atas jika:

a.) Ia secara sukarela telah memanfaatkan kembali perlindungan negara

kewarganegaraannya; atau

b.) Setelah kehilangan kewarganegaraannya ia secara sukarela telah

memperolehnya kembali; atau

c.) Ia telah memperoleh kewarganegaraan baru, dan menikmati

(10)

d.) Ia secara sukarela telah menetap kembali di negara yang telah

ditinggalkannya atau di luar negara itu dimana ia tetap tinggal karena

kecemasan akan perskusi; atau

e.) Ia tidak dapat lagi lebih lama karena keadaan-keadaan yang

berhubungan dengan pengakuan atas dirinya sebagai pengungsi sudah

tidak ada lagi, mengajukan alasan-alasan yang bukan alasan-alasan

kenikmatan pribadi untuk tetap menolak memanfaatkan perlindungan

negara kewarganegaraannya. Alasan yang semata-mata bersifat

ekonomis tidak dapat diajukan; atau

f.) Sebagai seorang yang tidak mempunyai kewarganegaraan, ia tidak

dapat lagi dan ia dapat lagi kembali ke negara dimana ia sebelumnya

biasa bertempat tinggal, karena keadaan-keadaan yang berhubungan

dengan pengakuan atas dirinya sebagai pengungsi sudah tidak ada lagi

bertempat tinggal, mengajukan alasan-alasan yang bukan alasan

kenikmatan pribadi untuk tetap menolak kembali ke negara tersebut.

B. Seseorang lain yang berada di luar negara kewarganegaraanya atau

ia tidak mempunyai kewarganegaraan dimana ia sebelumnya bertempat

tinggal, karena ia mempunyai atau pernah mempunyai kecemasan yang

sungguh-sungguh berdasar akan persekusi karena alasan ras, agama,

kebangsaan atau opini politik dan tidak dapat atau karena kecemasan

(11)

kewarganegaraannya, atau jika ia tidak mempunyai kewarganegaraan

kembali ke negara dimana ia sebelumnya biasa bertempat tinggal.

Dengan ketentuan bahwa wewenang UNHCR sebagaimana ditetapkan di

atas tidak akan meliputi:

a.) Yang merupakan warga negara lebih dari satu negara kecuali pabila ia

memenuhi ketentuan paragraf terdahulu dalam hubungannya dengan

tiap negara dimana ia adalah warga negara; atau

b.) Yang diakui oleh instansi-instansi yang berwewenang dari

negara-negara itu dimana ia telah bertempat tinggal mempunyai hak-hak dan

kewajiban-kewajiban yang terkait pada kewarganegaraan yang dimiliki

negara itu; atau

c.) Yang tetap menerima dari organ-organ atau badan-badan Perserikatan

Bangsa-Bangsa lainnya perlindungan atau bantuan; atau

d.) Yang mengenai dirinya terdapat alasan-alasan serius untuk

menganggap bahwa ia telah melakukan tindak pidana yang diliput oleh

ketentuan-ketentuan perjanjian-perjanjian ekstradisi atau tindak pidana

yang disebut dalam Pasal VI Piagam London dari Mahkamah Militer

Internasional atau oleh ketentuan-ketentuan Pasal 14, paragraf 2, dari

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

UNHCR akan memberikan perlindungan kepada para pengungsi yang

(12)

a.) Menggalangkan pembuatan dan pengesahan konvensi-konvensi

internasional bagi perlindungan para pengungsi, mengawasi

pelaksanaan konvensi-konvensi tersebut dan mengusulkan

amandemen-amandemen terhadap konvensi itu;

b.) Menggalangkan melalui persetujuan-persetujuan khusus dengan

pemerintah-pemerintah pelaksanaan tiap tindakan yang diperkirakan

akan memperbaiki keadaan pengungsi dan untuk mengurangi jumlah

yang membutuhkan perlindungan;

c.) Membantu upaya pemerintah dan swasta untuk menggalangkan

repatriasi sukarela dalam komunitas-komunitas nasional baru.

d.) Menggalangkan diterima masuknya para pengungsi, tidak terkecuali

mereka yang termasuk dalam kategori-kategori paling kekurangan ke

dalam wilayah-wilayah Negara-negara;

e.) Berusaha keras untuk memperoleh izin bagi para pengungsi untuk

memindahkan aset mereka dan terutama aset yang perlu bagi

pemukiman mereka;

f.) Memperoleh dari pemerintah-pemerintah informasi mengenai jumlah

dan kondisi-kondisi para pengungsi dalam wilayah-wilayah mereka

serta undang-undang dan peraturan-peraturan mengenai para

pengungsi tersebut;

g.) Berhubungan erat dengan pemerintah-pemerintah dan

(13)

h.) Membina kontak dengan cara yang dianggapnya terbaik dengan

organisasi-organisasi swasta yang menangani masalah-masalah

pengungsi;

i.) Memudahkan koordinasi upaya-upaya organisasi-organisasi swasta

yang memperhatikan kesejahteraan para pengungsi.

UNHCR akan melakukan kegiatan-kegiatan tambahan termasuk

repatriasi dan pemukiman, yang mungkin ditetapkan oleh Majelis Umum

dalam batas-batas sumber-sumber yang disediakan baginya. Juga akan

mengelola tiap dana, publik atau privat, yang diterimanya untuk bantuan

bagi para pengungsi dan akan membagikannya diantara badan-badan

privat dan apabila dianggap tepat, badan-badan publik yang dianggapnya

mempunyai kemampuan terbaik untuk mengelola bantuan termaksud.

UNHCR dapat menolak setiap tawaran yang tidak dianggapnya

tepat atau yang tidak dapat dipergunakan. UNHCR juga tidak akan

meminta dana kepada pemerintah-pemerintah atau menyampaikan

permintaan umum, tanpa persetujuan lebih dulu dari Majelis Umum.

UNHCR akan memasukkan ke dalam laporan tahunannya

pernyataan-pernyataan dari kegiatannya di bidang ini.

UNHCR akan berjak menyampaikan pandangan-pandangannya di

depan Majelis Umum, Dewan Ekonomi dan Sosial dan badan-badan kedua

(14)

Umum melalui Dewan Ekonomi dan Sosial; laporannya akan dibahas

sebagaimana acara terpisah dalam agenda Majelis Umum. UNHCR juga

dapat meminta kerjasama berbagai badan khusus.

2.5 Sistem Keorganisasian dan Keuangan UNHCR37

1. Komisaris Tinggi (pemimpin) UNHCR akan dipilih oleh Majelis Umum

PBB atas pencalonan dari Sekretaris Jenderal. Persyaratan pengangkatan

Komisaris Tinggi akan diusulkan oleh Sekretaris Jenderal dan disetujui

oleh Majelis Umum. Komisaris Tinggi akan dipilih untuk masa jabatan 3

tahun terhitung mulai 1 Januari 1951.

2. Komisaris Tinggi akan mengangkat (untuk masa jabatan yang sama)

seorang Wakil Komisaris Tinggi yang bekewarganegaraan lain dari

kewarganegaraannya sendiri.

3. a.) Dalam batas-batas penyediaan anggaran yang diberikan, staf

Komisariat Tinggi (UNHCR) akan diangkat oleh Komisaris Tinggi dan

akan bertanggung jawab kepadanya dalam pelaksanaan fungsi-fungsi

mereka.

37

(15)

b.) Staf termaksud akan dipilih dari orang-orang yang setia pada

tujuan-tujuan Komisariat Tinggi.

c.) Kondisi-kondisi pengerjaan mereka adalah kondisi-kondisi pengerjaan

yang diatur menurut peraturan staf yang diterima oleh Majelis Umum dan

ketentuan yang ditetapkan berdasarkan peraturan tersebut oleh Sekretaris

Jendral.

d.) Ketentuan dapat juga dibuat untuk memperkerjakan personel tanpa

kompensasi.

4. Komisaris Tinggi akan berkonsultasi dengan pemerintah negara-negara

tempat tinggal para pengungsi mengenai perlunya pengangkatan

wakil-wakil di negara-negara tersebut. Di negara yang mengakui keperluan

termaksud dapat diangkat seorang wakil yang disetujui oleh pemerintah

negara itu. Dengan ketentuan sebagaimana disebut terdahulu, wakil yang

sama dapat bertugas di lebih dari satu negara.

5. Komisaris Tinggi dan Sekretaris Jenderal akan membuat pengaturan yang

tepat bagi penyelenggaraan hubungan dan konsultasi mengenai

masalah-masalah yang merupakan kepentingan bersama.

6. Sekretaris Jenderal akan memberikan kepada Komisaris Tinggi segala

(16)

7. Komisaris Tinggi akan berkedudukan di Jenewa Swiss.

8. Komisaris Tinggi akan dibiayai dari anggaran Perserikatan

Bangsa-Bangsa, kecuali Majelis Umum kemudian memutuskan lain, tidak ada

pengeluaran selain pengeluaran administratif yang berkaitan dengan

pelaksanaan fungsi Komisariat Tinggi akan dibebankan pada anggaran

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan segala pengeluaran lain yang berkaitan

dengan kegiatan Komisaris Tinggi akan dibiayai oleh sumbangan sukarela.

9. Administrasi Komisariati Tinggi akan ditundukkan pada Peraturan

Keuangan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pada ketentuan keuangan yang

ditetapkan atas dasar itu oleh Sekretaris Jenderal.

10.Transaksi-transaksi yang berkaitan dengan dana Komisaris Tinggi akan

dikenakan audit oleh dewan Auditor Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan

ketentuan bahwa Dewan tersebut dapat menerima laporann-laporan yang

sudah diaudit dari badan-badan yang mendapat alokasi dana. Pengaturan

administratif bagi penahanan dana termaksud dan alokasinya akan

disepakati antara Komisaris Tinggi dan Sekretaris Jenderal sesuai dengan

peraturan Perserikatan Bangsa-Bangsa serta ketentuan yang ditetapkan

(17)

Daftar nama-nama Orang yang menjabat sebagai Komisaris Tinggi (Ketua)

UNHCR:

NO Nama Awal Jabatan Akhir Jabatan Asal Negara

1

1951 1956 Belanda

2 1956 1960 Swiss

3 1960 1965 Swiss

4 Sadruddin Aga Khan 1965 1967 Iran

5 1978 1985 Denmark

6 1986 1989 Swiss

7 Jan 1990 November 1990 Norwegia

8 1991 2000 Jepang

9 2001 2005 Belanda

10 2005 Sekarang Portugal

Tabel 1. Komisaris Tinggi UNHCR

2.6 Instrumen Hukum Dalam Perlindungan Pengungsi

Sepanjang abad ke-20 masyarakat internasional secara terus menerus

berusaha untuk menciptakan seperangkat pedoman, hukum, dan konvensi untuk

(18)

hak asasi mereka.38 Realita akan adanya konflik, kekerasa, penganiayaan serta

perkusi di berbagai wilayah menjadikan angka pengungsi semakin meningkat.

Perlindungan terhadap hak-hak daripada kaum pengungsi telah diatur dalam

berbagai instrumen hukum internasional. Instrumen hukum utama yang bersifat

secara global mencakup segala aspek kehidupan pengungsi diatur dalam dokumen

The 1951Convention Relating to the Status of Refugee (Konvensi Pengungsi

1951) dan 1967 Protocol Relating to the Status of Refugee (Protokol Tambahan

1967).39

1. Pengertian dasar pengungsi.

Selain Konvensi 1951 dan Protokol 1967, juga ada beberapa Konvensi

dan Dekklarasi yang relevan terkait pengungsi di wilayah tertentu, ada beberapa

instrumen hukum yang berlaku di Afrika, Amerika Latin dan Uni Eropa, serta isi

hukum hak asasi manusia internasional yang melengkapi hak pengungsi dalam

Konvensi 1951. Konvensi 1951 dan Protokol 1967 pada prinsipnya hampir sama.

Ada tiga hal pokok yang merupakan isi konvensi tersebut, yaitu :

Pengertian dasar Pengungsi diartikan dalam Konvensi 1951 dan Protokol

1967 penting diketahui sebab diperlukan untuk menetapkan status

pengungsi seseorang (termasuk pengungsi atau bukan). Penetapan ini

ditetapkan oleh negara tempat orang itu berada dan bekerja sama dengan

38

UNHCR. September 2011. Konvensi 1951 dan Protokol 1967 Tentang Status Pengungsi

39

Direktorat HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI. 2015. Penanganan Pencari

(19)

UNHCR (United Nation High Commissioner For Refugee), yang

menangani masalah pengungsi dari PBB.

2. Status hukum Pengungsi, hak dan kewajiban pengungsi di negara tempat

pengungsian (hak dan kewajiban berlaku di tempat pengungsian itu

berada).

3.Implementasi (pelaksanaan) perjanjian, terutama menyangkut administrasi

dan hubungan diplomatik. Di sini titik beratnya administrasi dan hubungan

diplomatik. Di sisni titik beratnya ialah pada hal-hal yang menyangkut

kerja sama dengan UNHCR. Dengan demikian, UNHCR dapat melakukan

tugasnya sendiri dan melakukan tugas pengawasan, terutama terhadap

negara-negara tempat pengungsi itu berada.

Ada sekitar 146 negara di dunia yang setuju dan ikut menandatangani

Konvensi 1951 dan Protokol Tambahan 1967 terkait urusan pengungsi.

Negara-negara Pihak tersebut nantinya akan menjadi Negara-negara tujuan akhir dari para

pengungsi atau yang biasa disebut negara ketiga. Negara ketiga berkewajiban

untuk menampung para pengungsi yang telah ditempatkan di negara ketiga

tersebut setelah pengungsi tersebut melewati berbagai proses yang dilakukan oleh

UNHCR sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tertulis di dalam Konvensi

(20)

2.6.1 Konvensi Pengungsi 1951

Konvensi pengungsi 1951 merupakan sebuah dokumen mengikat secara

global yang di dalamnya berisikan tentang urusan pengungsi. Konvensi ini

disahkan di Jenewa, Swiss pada 28 Juli 1951 dan mulai diberlakukan pada 22

April 1954. Awalnya Konvensi Pengungsi 1951 dibuat secara khusus hanya

sebagai penanganan terhadap orang-orang yang menjadi pengungsi pasca

terjadinya Perang Dunia II. Tetapi seiring berjalannya waktu semakin disadari

bawa jumlah pengungsi akibat konflik di berbagai belahan dunia semakin

meningkat. Isu pengungsi tidak hanya menjadi permasalahan di kawasan Eropa

namun juga telah menjadi masalah global di seluruh dunia

Dalam isi Konvensi 1951 ini selain menerangkan hak-hak pengungsi, juga

dijabarkan kebebasan beragama dan kebebasan untuk bekerja, memperoleh

pendidikan dan dokumen-dokumen perjalanan. Konvensi juga menggaris bawahi

kewajiban-kewajiban pengungsi terhadap pemerintah negara tuan rumah yang

ditempatinya. Persyaratan penting yang menjadi kunci perjanjian ini adalah bahwa

pengungsi tidak boleh dikembalikan atau diperlakukan salah dan dikirim ke suatu

negara dimana ia takut diganggu keselamatannya. Konvensi juga menjelaskan

tentang golongan orang atau kelompok yang tidak berhak memperoleh

perlindungan Konvensi.40

Isi Pasal 1 dari Konvensi mendefenisikan pengungsi sebagai;

40

(21)

“orang yang berada di luar negara asalnya atau tempat tinggal aslinya;

mempunyai dasar ketakutan yang beralasan akan diganggu keselamatannya

sebagai akibat kesukuaan, agama, kewarganegaraan, keanggotaan dalam

kelompok sosial tertentu atau pendapat politik yang dianutnya; serta tidak mampu

atau tidak ingin memperoleh perlindungan bagi dirinya dari negara asal tersebut,

ataupun kembali kesana, karena mengkhawatirkan dirinya.”

Konvensi menjabarkan dengan rinci pokok-pokok dasar hak asasi manusia

yang setidaknya harus sama dengan kebebasan yang dinikmati kaum ekspatriat

yang hidup dengan sah di suatu negara dan juga dalam banyak hal harus sama

dengan penduduk negara itu sendiri. Selain secara garis besar menerangkan arti

istilah pengungsi dan menjabarkan hak-hak pengungsi termasuk kebebasan

beragama dan kebebasan untuk bekerja, memperoleh pendidikan dan

dokumen-dokumen perjalanan, konvensi juga menggaris bawahi kewajiban-kewajiban

pengungsi terhadap pemerintah negara tuan rumah yang ditempatinya.41

Adapun negara-negara pihak yang telah meratifikasi Konvensi 1951 ini

(22)

3 Algeria 21 Feb 1963 d 75 Lesotho 14 Mei 1981 a

4 Angola 23 Jun 1981 a 76 Liberia 15 Okt 1964 a

5 Antingua and

Barbuda

07 Sept 1995 a 77 Liechteinsein 08-Mar-57

6 Argentina 15 Nov 1961 a 78 Lithunia 28 Apr 1997 a

7 Armenia 06 Jul 1993 a 79 Luxemburg 23-Jul-53

8 Australia 22 Jan 1954 a 80 Madagaskar 18 Des 1967 a

9 Austria 01 Nov 1954 81 Malawi 10 Des 1987 a

10 Azeirbaijan 12 Feb 1993 a 82 Mali 02 Feb 1973 d

11 Bahamas 15 Sept 993 a 83 Malta 17 Jun 1971 a

12 Belarus 23 Aug 2001 a 84 Mauritania 05 Mei 1987 a

13 Belgium 22 Jul1953 a 85 Mexico 07 Juni 2000 a

14 Belize 27 Jun 1953 a 86 Monaco 18 Mei 1954 a

15 Benin 4 Apr 1962 d 87 Montenegro 10 Okt 2006 d

16 Bolivia 9 Feb 1982 a 88 Morocco 07 Nov 1956 d

17 Bosnia and

Herzegovina

1 Sept 1993 d 89 Mozambique 16 Des 1983 a

18 Botswana 06 Jan 1969 a 90 Nambia 17 Feb 1995 a

19 Brazil 16 Nov 1960 91 Nauru 28 Jun 2011 a

20 Bulgaria 12 Mei 1993 a 92 Netherlands 03-Mei-56

(23)
(24)

40 Dominica 17 Feb 1994 a 112 Senegal 02 Mei 1963 d

41 Dominican

Republic

04 Jan 1978 a 113 Serbia 12 Mar 2001 d

42 Equador 17 Aug 1955 a 114 Seychelles 23 Apr 1980 a

43 Egypt 22 Mei 1981 a 115 Sierra Leone 22 Mei 1981 a

44 El Salvador 28 Apr 1983 a 116 Slovakia 04 Feb 1993 d

45 Equatorial

Guinea

07 Feb 1986 a 117 Slovenia 06 Jul 1992 d

46 Estonia 10 Apr 1997 a 118 Solomon Island 10 Okt 1978 a

47 Ethiopia 10 Nov 1969 a 119 Somalia 12 Jan 1996 a

48 Fiji 12 Jun 1972 d 120 South Afrika 14 Aug 1978 a

49 Finland 10 Okt 1968 a 121 Spain 14 Aug 1978 a

50 France 23 Jun 1954 122 St. Kitts and

Navis

01 Feb 2002 a

51 Gabon 27 Apr 1964 a 123 St. Vincent 03 Nov 1993 a

52 Gambia 07Sept 1966 d 124 Sudan 22 Feb 1974 a

53 Georgia 09 Aug 1999 a 125 Suriname 29 Nov 1978 d

54 Germany 01 Des 1953 126 Swaziland 14 Feb 2000 a

55 Ghana 18 Mar 1963 a 127 Sweden 26 Okt 1954

56 Greece 05 Apr 1960 128 Switzeland 21 Jan 1955

(25)

58 Guinea 28 Des 1965 d 130 The Yugoslav

Macedonia

18 Jan 1994 d

59 Guinea Bissau 11 Feb 1976 a 131 Timor Leste 07 Mei 2003 a

60 Haiti 25 Sept 1984 a 132 Togo 27 Feb 1962 d

61 Holy See 15 Mar 1956 133 Trinidad Tobago 10 Nov 2000 a

62 Honduras 23 Mar 1992 a 134 Tunisia 24 Okt 1957 d

63 Hungary 14 Mar 1989 a 135 Turkey 30 Mar 1962

64 Iceland 30 Nov 1955 a 136 Turkmenistan 02 Mar 1998 a

65 Iran 28 Jul 1976 a 137 Tuvalu 07 Mar 1986 d

66 Ireland 29 Nov 1956 a 138 Urganda 27 Sept 1976 a

67 Israel 01 Okt 1954 139 Ukraine 10 Jun 2002 a

68 Italy 15 Nov 1954 140 UK of Great

Britain&Nort

Ireland

11 Mar 1954 a

69 Jamaica 30 Jul 1964 d 141 United Republic

of Tanzania

12 Mei 1964 a

70 Japan 03 Okt 1981 a 142 Uruguay 22 Sept 1970 a

71 Kazakhstan 15 Jan 1999 a 143 Yemen 18 Jan 1980 a

72 Kenya 16May 1966 a 144 Zambia 24 Sept 1969 d

145 Zimbabwe 25 Aug 1981 a

(26)

Konvensi 1951 berisikan sejumlah hak-hak yang diperoleh pengungsi

juga menekankan kapa saja yang menjadi kewajiban-kewajiban bagi para

pengungsi terhadap negara penerimanya. Dasar utama dari Konvensi 1951 ini

adalah prinsip non-rerefoulement yang tertuang dalam Pasal 33 Konvensi 1951.

Pasal 33: Larangan Pengusiran atau Pengembalian (“Refoulement”)

1.Tidak ada negara Pihak yang akan mengusir atau mengembalikan (refouler)

pengungsi dengan cara apapun ke perbatasan wilayah-wilayah dimana hidup atau

kebebsannya akan terancam karena ras, agama, kebangsaan, keanggotaan pada

kelompok sosial tertentu atau opini politiknya.

2. Namun, keuntungan ketentuan ini tidak boleh diklaim oleh pengungsi dimana

terdapat alasan-alasan yang layak untuk menganggapnya sebagai bahaya terhadap

keamanan negara dimana ia berada, atau karena telah dijatuhi hukuman oleh

putusan hakim yang bersifat final atas tindak pidana sangat berat ia merupakan

bahaya bagi masyarakat negara itu.

Menurut prinsip ini jelas dikatakan bahwa seorang pengungsi sebaiknya

tidak dikembalikan ke negara dimana ia akan menghadapi ancaman serius

terhadap kelangsungan hidupnya, tetapi perlindungan seperti ini bisa tidak

didapatkan oleh pengungsi yang dirinya terbukti dianggap sebagai ancaman,

teroris, orang jahat yang merupakan suatu ancaman bahaya bagi keamanan

negara, atau orang tersebut telah didakwa/tersangka melakukan kejahatan serius

(27)

Beberapa pasal yang penting terkait keberadaan pengungsi yang

dituliskan dalam Konvensi 1951 adalah43

• Hak untuk tidak dihukum karena masuk secara ilegal ke negara tertentu. :

(Pasal 31: Pengungsi yang Berada Secara Tidak Sah di Negara

Pengungsian)

1. Negara-negara Pihak tidak akan mengenakan hukuman pada para

pengungsi, karena masuk atau keberadaannya secara tidak sah, yang

datang langsung dari wilayah dimana hidup atau kebebasannya terancam

dalam arti Pasal I, masuk ke atau berada di wilayah negara-negara pihak

tanpa izin, asalkan mereka segera melaporkan diri kepada instansi-instansi

setempat dan menunjukkan alasan yang layak atas masuk atau keberadaan

mereka secara tidak sah.

2. Negara-negara pihak tidak akan mengenakan pembatasan-pembatasan

terhadap perpindahan para pengungsi termaksud kecuali

pembatasan-pembatsan yang perlu dan pembatasan-pembatasan demikian hanya akan

diberlakukan sampai status mereka di negara itu disahkan atau mereka

mendapat izin masuk ke negara lain. Negara-negara Pihak akan

memberikan waktu yang layak dan segala kemudahan yang perlu kepada

para pengungsi tersebut untuk medapatkan izin masuk ke negara lain.

43

(28)

• Hak untuk bekerja

(Pasal 17: Pekerjaan yang Menghasilkan Upah)

1. Negara Pihak akan memberikan kepada para pengungsi yang tinggal

secara sah di wilayah negara tersebut, perlakuan yang paling baik yang

diberikan kepada warga negara dari negara asing dalam keadaan yang

sama mengenai hak untuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan upah.

2. Biar bagaimanapun, tindakan-tindakan pembatasan yang diterapkan pada

orang-orang asing atau pada penggunaan tenaga kerja orang asing untuk

melindungi pasar kerja nasional tidak akan diterapkan pada pengungsi

yang sudah bebas dari tindakan-tindakan pembatasan tersebut pada tanggal

mulai berlakunya Konvensi ini bagi Negara Pihak yang bersangkutan, dan

atau yang memenuhi salah satu dari syarat berikut :

a. Ia telah bertempat tinggal selama 3 tahun di Negara Pihak

tersebut.

b. Ia mempunyai suami atau istri yang bekewarganegaraan negara

setempat tinggalnya. Seorang pengungsi tidak boleh memohon

keuntungan-keuntungan dari keuntungan ini jika ia telah

meninggalkan istri atau suaminya.

c. Ia mempunyai seorang anak atau lebih yang memiliki

kewarganegaraan negara tempat tinggalnya.

3. Negaranegara Pihak akan mempertimbangkan secara simpatik asimilasi

(29)

dengan hak-hak warga negara mengenai hal tersebut, dan terutama

pengungsi yang masuk ke dalam wilayah Negara-negara Pihak sesuai

dengan program-program perekrutan pekerja atau berdasarkan

rencana-rencana keimigrasian.

(Pasal 18: Swakarya)

Negara-negara Pihak akan memberikan kepada pengungsi yang berada

secara sah di wilayahnya perlakuan yang sebaik mungkin dan biar

bagaimanapun tidak kurang baiknya daripada perlakuan yang diberikan

kepada orang-orang asing pada umumnya dalam keadaan yang sama,

mengenai hak untuk melakukan usaha sendiri dalam pertanian, industri \,

kerajinan dan perdagangan dan untuk mendirikan perusahaan dagang dan

perusahaan industri.

(Pasal 19: Profesi Bebas)

1. Tiap negara Pihak akan memberikan kepada pengungsi yang tinggal

secara sah di wilayahnya yang mempunyai ijazah yang diakui oleh

instansi yang berwewenang Negara tersebut, dan yang ingin

menjalankan profesi bebas perlakuan yan sebaik mungkin dan biar

bagaimana pun tidak kurang baiknya daripada perlakuan yang

diberikan kepada orang-orang asing umumnya dalam keadaan yang

sama.

2. Negara-negara Pihak akan berusaha sebaik-baiknya sesuai dengan

(30)

termaksud di wilayah-wilayah, selain wilayah metropolitan yang

hubungan internasionalnya menjadi tanggung jawab Warga negara

tersebut.

• Hak atas rumah

(Pasal 21: Perumahan)

Mengenai perumahan, negara-negara Pihak sejauh masalah itu diatur oleh

undang-undang atau peraturan-peraturan atau ditempatkan di bawah

pengawasan instansi-instansi publik, akan memberikan kepada para

pengungsi yang tinggal secara sah di wilayahnya perlakuan yang sebaik

mungkin dan biar bagaimanapun tidak kurang baiknya daripada perlakuan

yang diberikan kepada orang-orang asing umumnya dalam keadaan yang

sama.

• Hak atas pendidikan

(Pasal 22: Pendidikan Umum)

1. Negara-negara Pihak akan memberikan kepada para pengungsi perlakuan

yang sama dengan perlakuan yang diberikan kepada warga negara

mengenai pendidikan dasar.

2. Negara-negara Pihak akan memberikan kepada para pengungsi perlakuan

yang sebaik mungkin dan bagaimana pun tidak kurang baiknya daripada

(31)

keadaan yang sama, mengenai pendidikan selain pendidikan dasar dan

terutama mengenai akses ke studi, pengakuan sertifikat-setifikat sekolah

asing, ijazah dan gelar, pembebasan baiaya-biaya dan pungutan-pungutan

suara pemberian beasiswa-beasiswa.

• Hak atas bantuan dan pertolongan publik

(Pasal 23; Pertolongan Publik)

Negara-negara Pihak akan memberikan kepada para pengungsi yang

tinggal secara sah di wilayahnya, perlakuan yang sama mengenai

pertolongan dan bantuan publik seperti yang diberikan kepada

negara-negaranya.

• Hak kebebasan beragama

(Pasal 4: Agama)

Negara-negara Pihak akan memberikan kepada para pengungsi yang

berada di dalam wilayahnya, perlakuan yang setidak-tidaknya sama

dengan perlakuan yang diberikan kepada warganegaranya mengenai

kebebasan-kebebasan menjalankan agama dan kebebasan tentang

(32)

• Hak untuk mengakses pengadilan.

(Pasal 16: Akses ke Pengadilan)

1. Seorang pengungsi akan mempunyai akses bebas ke

pengadilan-pengadilan di wilayah semua Negara Pihak.

2. Seorang pengungsi akan menikmati di Negara Pihak dimana ia biasanya

bertempat tinggal perlakuan yang sama seperti warga negara dalam hal-hal

yang berkaitan dengan akses ke Pengadilan-pengadikan termasuk bantuan

hukum dan pembebasan dari cautio judicatum solvi.

3. Seorang pengungsi akan diberikan dalam hal-hal sebagaimana disebut

dalam ayat 2 di negara-negara selain negara dimana ia biasanya bertempat

tinggal perlakuan yang diberikan kepada warga dari negara dimana ia

biasanya bertempat tinggal.

• Hak atas kebebasan bergerak dalam suatu wilayah.

(Pasal 26; Kebebasan Berpindah Tempat)

Tiap Negara Pihak akan memberikan kepada para pengungsi yang berada

secara sah di wilayahnya hak untuk memilih tempat tinggal mereka dan

untuk berpindah tempat secara bebas dalam wilayahnya sesuai dengan

peraturan-peraturan yang berlaku bagi orang-orang asing umumnya dalam

(33)

• Hak untuk diberikan dokumen identitas dan perjalanan.

(Pasal 27: Surat Identitas)

Negara-negara Pihak akan mengeluarkan surat-surat identitas untuk tiap

pengungsi di wilayahnya yang tidak memiliki dokumen perjalanan yang

berlaku.

Pasal 28: Dokumen Perjalanan)

1. Negara –negara Pihak akan mengeluarkan untuk para pengungsi yang

tinggal secara sah di wilayahnya, dokumen-dokumen perjalanan untuk

maksud bepergian keluar wilayahnya, kecuali apabila alasan-alasan

keamanan nasional atau ketertiban umum yang memaksa mengharuskan

lain, dan ketentuan-ketentuan skedul yang terlampir pada Konvensi ini

akan berlaku bagi dokumen-dokumen termaksud. Negara-negara pihak

dapat mengeluarkan dokumen perjalanan termaksud untuk tiap pengungsi

lain yang berada di wilayahnya yang tidak dapat memperoleh dokumen

perjalanan di negara tempat tinggal mereka yang sah.

2. Dokumen-dokumen perjalanan yang dikeluarkan untuk pengungsi

berdasarkan persetujuan-persetujuan internasional sebelumnya oleh

pihak-pihak pada persetujuan-persetujuan Internasional tersebut akan diakui dan

diperlakukan oleh negara-negara Pihak secara seakan-akan perjalan itu

(34)

2.6.2 Protokol 1967

Protokol Tambahan 1967 merupakan penyempurnaan dari Konvensi

1951 yang telah ada. Pada Konvensi mengenai Status Pengungsi yang

ditandatangani di Jenewa tanggal 28 Juli 1951 tersebut hanya mencakup

orang-orang yang menjadi pengungsi sebagaiakibat dari dampak peristiwa-peristiwa

yang terjadi di tahun 1950-an tepatnya di wilayah Eropa, dimana saat itu telah

terjadi Perang Dunia II yang menimbulkan banyak para pengungsi yang

membutuhkan perlindungan.

Dalam isi dokumen Protokol Tambahan 1967 menghilangkan faktor

keterbatasan lokasi secara geografis dimana awalnya hanya mencakup kawasan

Eropa saja yang khususnya terlibat dalam peristiwa di Eropa saat itu. Sehingga

dalam dokumen Protokol 1967 ini tidak lagi membatasi perlindungan wilayah

keberadaan para pengungsi. Semua orang yang dikategorikan sebagai pengungsi

dan membutuhkan perlindungan atas adanya ancaman terhadap hidupnya di

wilayah negara manapun, maka orang tersebut harus dilindungi sesuai dengan

ketentuan Konvensi 1951 dan Protokol 1967 sebagai penyempurnaan konvensi

(35)

Adapun negara yang telah meratifikasi Protokol 1967 ini antara lain44

(36)

11 Bahamas 15 Sept 1993

a

84 Mauritania 05 Mei 1987 a

12 Belarus 23 Aug 2001 a 85 Mexico 07 Jun 2000 a

13 Belgium 08 Apr 1969 a 86 Monaco 16 Jun 2010 a

14 Belize 27 Jun 1990 a 87 Montenegro 10 Okt 2006 d

15 Benin 06 Jul 1970 a 88 Morocco 20 Apr 1971 a

16 Bolivia 9 Feb 1982 a 89 Mozambique 01 Mei 1989 a

17 Bosnia and

Herzegovina

1 Sept 1993 d 90 Nambia 17 Feb 1995 a

18 Botswana 06 Jan 1969 a 91 Nauru 28 Jun 2011 a

19 Brazil 07 Apr 1972 a 92 Netherlands 29 Nov 1968 a

20 Bulgaria 12 Mei 1993 a 93 New Zealand 06 Aug 1973 a

21 Burkina Faso 18 Jun 1980 a 94 Nicaragua 28 Mar 1980 a

22 Burundi 15 Mar 1971 a 95 Niger 02 Feb 1970 a

(37)

24 Cambodia 15 Okt 1992 a 97 Norway 28 Nov 1967 a

25 Cameroon 19 Sept 1967

a

98 Panama 02 Aug 1978 a

26 Canada 04 Jun 1969 a 99 Papua New

Guinea

17 Jul 1986 a

27 Central

African

Replubic

30 Aug 1969 a 100 Paraguay 01 Apr 1970 a

28 Chad 19 Aug 1981 a 101 Peru 21-Des-64

29 Chili 27 Apr 1972 a 102 Philiphines 22 Jul 1981 a

30 China 24 Sept 1982

a

103 Poland 27 Sept 1991 a

31 Columbia 04 Mar 1980 a 104 Portugal 22 Des 1960 a

32 Congo 10 Jul 1970 a 105 Korea 03 Des 1992 a

33 Costarica 28 Mar 1978 a 106 Moldova 31 Jan 2002 a

(38)

35 Croatia 12 Okt 1992 d 108 Russian

Federation

02 Feb 1993 a

36 Cyprus 09 Jul 1968 a 109 Rwanda 03 Jan 1980 a

37 Czech

Republic

11 Mei 1993 d 110 Samoa 21 Sept 1988 a

38 Democratic

Rep of

Chongo

13 Jan 1975 a 111 Sao Tome and

Principe

01 Feb 1978 a

39 Denmark 29 Jan 1968 a 112 Senegal 02 Mei 1963 d

40 Djibouti 09 Aug 1977

d

113 Serbia 12 Mar 2001 d

41 Dominica 17 Feb 1994 a 114 Seychelles 23 Apr 1980 a

42 Dominican

Republic

04 Jan 1978 a 115 Sierra Leone 22 Mei 1981 a

43 Equador 06 Mar 1969 a 116 Slovakia 04 Feb 1993 d

44 Egypt 22 Mei 1981 a 117 Slovenia 06 Jul 1992 d

(39)

46 Equatorial

Guinea

07 Feb 1986 a 119 Somalia 10 Okt 1978 a

47 Estonia 10 Apr 1969 a 120 South Afrika 12 Jan 1996 a

48 Ethiopia 10 Nov 1969 a 121 Spain 14 Aug 1978 a

49 Fiji 12 Jun 1972 d 122 St. Vincent 03 Nov 2003 a

50 Finland 10 Okt 1968 a 123 Sudan 23 Mei 2003 a

51 France 03 Feb 1971 a 124 Suriname 29 Nov 1978 d

52 Gabon 28 Aug 1973 a 125 Swaziland 28 Jan 1969 a

53 Gambia 29 Sept 1967

a

126 Sweden 04 Okt 1976 a

54 Georgia 09 Aug 1999 a 127 Switzeland 20 Mei 1986 a

55 Germany 05 Nov 1969 a 128 Tajikistan 07 Des 1993 a

56 Ghana 30 Okt 1968 a 129 The Yugoslav

Macedonia

18 Jan 1994 d

57 Greece 07 Aug 1968 a 130 Timor Leste 07 Mei 2003 a

(40)

59 Guinea 16 Mei 1968 a 132 Trinidad and

Tobago

10 Nov 2000 a

60 Guinea Bissau 11 Feb 1976 a 133 Tunisia 16 Okt 1968 a

61 Haiti 25 Sept 1984

a

134 Turkey 31 Jul 1968 a

62 Holy See 08 Jun 1967 a 135 Turkmenistan 02 Mar 1998 a

63 Honduras 23 Mar 1992 a 136 Tuvalu 07 Mar 1968 d

64 Hungary 14 Mar 1989 a 137 Urganda 27 Sept 1976 a

65 Iceland 26 Apr 1968 a 138 Ukraine 04 Apr 2002 a

66 Iran 28 Jul 1976 a 139 UK of Great

Britain&Nort

Ireland

04 Sept 1968 a

67 Ireland 06 Nov 1968 a 140 United Republic

of Tanzania

04 Sept 1968 a

68 Israel 14 Jun 1968 a 141 United State of

America

01 Nov 1968 a

(41)

70 Jamaica 30 Okt 1980 a 143 Venezuela 19 Sept 1968 a

71 Japan 01 Jan 1982 a 144 Yemen 18 Jan 1980 a

72 Kazakhstan 15 Jan 1999 a 145 Zambia 24 Sept 1969 a

73 Kenya 13 Nov 1981 a 146 Zimbabwe 25 Aug 1981 a

Tabel 3. Negara Pihak Protokol Tambahan 1967

Ada beberapa pasal yang terdapat di Protokol 1967 sebagai bentuk

penyempurnaan terhadap Konvensi 1951, yaitu :

• Pasal I (Ketentuan Umum)

1. Negara-negara Pihak pada Protokol ini berjanji untuk menerapkan

Pasal 2 sampai dengan Pasal 34 Konvensi pada para pengungsi

sebagaimana didefenisikan berikut ini.

2. Untuk maksud Protokol ini, istilah “pengungsi” kecuali mengenai

pelaksanaan ayat 3 Pasal ini akan berarti tiap orang yang termasuk

dalam definisi Pasal 1 Konvensi seakan-akan kata-kata”Sebagai akibat

peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum 1 Januari 1951dan...” dan

kata-kata “... sebagai akibat peristiwa-perisstiwa termaksud”, dalam

pasal 1A (2) ditiadakan.

3. Protokol ini akan dilaksanakan oleh Negara-negara Pihak pada

Protokol ini tanpa suatu pembatasan geografis, kecuali apabila

(42)

telah menjadi pihak pada Konvensi sesuai dengan Pasal 1B Konvensi,

kecuali apabila; diperluas berdasarkan Pasal 13 Konvensi, akan

berlaku juga berdasarkan Protokol ini.

• Pasal V (Aksesi)

Protokol ini akan terbuka untuk aksesi bagi semua negara Pihak pada

Konvensi dan tiap Negara Anggota Perserikatan Bangsa-bangsa lainnya

atau tiap anggota badan khusus atau tiap negara yang mungkin diundang

oleh Majelis Umum PBB untuk beraksesi. Aksesi akan diakukan dengan

penyimpanan piagam aksesi pada Sekretari Jenderal PBB.

• Pasal VI (Klausul Federal)

Dalam hal Negara Federal atau Negara yang bukan negara kesatuan akan

berlaku ketentuan-ketentuan berikut:

a.) Mengenai pasal-pasal Konvensi yang akan diterapkan sesuai

dengan Pasal 1 , ayat 1 Protokol ini yang termasuk dalam

yuridiski legislatif kekuasaan legislatif federal,

kewajiban-kewajiban Pemerintah Federal pada Tingkat ini sama dengan

kewajiban-kewajiban Negara-negara Pihak yang bukan

negara-negara Federal.

b.) Mengenai pasal-pasal Konvensi yang akan diterapkan sesuai

(43)

yuridiksi legislatif negara-negara bagian, provinsi-provinsi atau

kantor, yang menurut sistem konstitusional federasi,

Pemerintah Federal akan menyampaikan pasal-pasal termaksud

dengan rekomendasi yang baik kepada instansi-instansi yang

cocok dari Negara-negara bagian, provinsi-provinsi atau kanton

secepat mungkin untuk diperhatikan;

c.) Negara Federal Pihak pada Protokol ini atas permintaan Negara

pihak lain pada Protokol ini yang disampaikan melalui

Sekretaris Jenderal PBB akan memberikan keterangan tentang

undang-undang dan praktik Federasi dan unit-unit bagiannya

mengenai ketentuan tertentu Konvensi yang akan dilaksanakan

sesuai dengan Pasal I ayat 1 Protokol ini yang menunjukkan

jangkauan berlakunya ketentuan itu yang ditentukan oleh

tindakan legislatif atau tindakan lain.

2.6.3 Kewajiban dan Tanggung Jawab Negara Pihak45

45

Direktorat HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI.Op.cit. Hal 11-12

Negara-negara yang telah mengesahkan Konvensi Pengungsi dan

Protokol wajib melindungi pengungsi di wilayah mereka sesuai dengan ketentuan

(44)

• Kerjasama dengan UNHCR – Pasal 35 Konvensi Pengungsi dan Pasal 11

Protokol 1967 memuat kesepakatan bagi Negara Pihak untuk bekerjasama

dengan UNHCR dalam melaksanakan fungsinya dan terutama untuk

membantu UNHCR mengawasi pelaksanaan ketentuan yang terdapat

dalam konvensi tersebut.

• Informasi tentang Peraturan Perundang-Undangan Nasional – Negara

Pihak pada Konvensi Pengungsi sepakat untuk menginformasikan

Sekretaris Jenderal PBB undang-undang dan Peraturan yang mungkin

mereka buat untuk memastikan pelaksanaan Konvensi itu.

• Pengecualian dari Resiprositas – Apabila menurut hukum suatu negara

pemberian hak kepada orang asing tunduk pada pemberian perlakuan yang

sama oleh negara kewarganegaraan orang asing tersebut (resiprositas),

ketentuan ini tidak akan berlaku bagi pengungsi.

Konsepsi resiprositas tidak berlaku bagi pengungsi karena mereka tidak

memiliki perlindungan negara asal mereka.

2.7 Orang-orang yang Dibantu oleh UNHCR

Selayaknya ada beberapa golongan orang-orang yang menjadi perhatian

(45)

1. Pengungsi (refugee)

Pengungsi adalah orang-orang yang terpaksa untuk meninggalkan

negara asalnya karena adanya berbagai ancaman dari dalam negaranya

yang membahayakan kelangsungan hidup dan kebebasannya, biasanya

karena faktor adanya perbedaan ras, suku, agama, opini publik yang

mengharuskan orang tersebut keluar dari negara tempat ia tinggal dan

tidak bisa kembali lagi ke negara tersebut karena adan rasa ketakutan akan

ancaman yang mebahayakan dirinya.

Sampai saat ini UNHCR membantu lebih dari 33 juta orang dan ada

sekitar 7.446 jiwa pengungsi yang terdaftar di kantor UNHCR Indonesia.

2. Pencari suaka (asylum seeker)

Pencari suaka adalah seorang atau sekelompok individu yang mencari

perlindungan internasional secara individu maupun berkelompok melalui

pengajuan permohonan untuk mendapatkan status pengungsi. Golongan

pencari suaka belum tentu semuanya dapat dimasukkan ke dalam kategori

pengungsi, namun pengungsi sudah pasti sebelumnya berasal dari

golongan pencari suaka.

Dalam mendapatkan status sebagai pengungsi, pencari suaka akan

diseleksi dengan berbagai prosedur oleh UNHCR, apakah pencari suaka

tersebut dapat dikategorikan pengungsi (sesuai dengan ketentuan

pengungsi dalam Konvensi) atau tidak. Sampai saat ini di Indonesia,

(46)

3. Pengungsi dalam negara sendiri ( Internally Displaced Persons, IDP’s)46

IDP’s adalah orang-orang atau kelompok individu yang telah dipaksa

atau terpaksa pergi meninggalkan rumahnya atau tempatnya biasa tinggal,

terutama sebagai akibat atau untuk menghindari dampak dari konflik

bersenjata, kekerasan umum, pelanggaran terhadap hak asasi manusia atau

bencana yang disebabkan oleh alam atau manusia, dan mereka yang belum

melintasi perbatasan negara yang diakui secara internasional.

Sekitar 24,5 juta jiwa pengungsi internal di 52 negara. UNHCR telah

memberi bantuan kepada 12 juta jiwa dari kelompok ini, disamping 9,9

juta pengungsi yang ditanganinya. Dalam menangani IDP’s UNHCR

memimpin tanggung jawab untuk mengambil peran khusus untuk

melindungi, menyediakan, dan mengkoordinasi penampungan darurat dan

kamp bagi orang-orang IDP’s.

4. Orang Tanpa Kewarganegaraan (Stateless Person)

Orang tanpa kewarganegaraan adalah orang-orang yang menurut

hukum setempat tidak menikmati hak sebagai warganegara, yaitu ikatan

hukum antara pemerintah dengan individu manapun. Pada keadaan

tertentu seorang warga tanpa kewarganegaraan bisa juga menjadi

pengungsi jika orang tersebut dipaksa meninggalkan negara tempat

asalnya karena dianiaya.

46

(47)

Diperkirakan ada sekita 9 juta orang di seluruh dunia yang tidak

memiliki negara yang dapat dikatakan mereka sebagai negaranya. Dalam

penanganannya UNHCR akan memberikan kepada individu dengan

membantu menyelesaikan masalah hukum, membantu mempersiapkan

dokumwn yang diperlukan untuk memperoleh hidup yang baru. Pada

tingkat pemerintahan, UNHCR membantu negara untuk

melaksanakan/memperkuat hukum negaranya, melatih para petugas,

bekerjasama dan berkoordinasi dengan organisasi lain, menyebarkan

informasi terkait dan menyusun dokumen pengawasan global.

2.8 UNHCR di Indonesia

Keberadaan dari organisasi internasional UNHCR ini di Indonesia

disresmikan melalui sebuah perjanjian antara Pemerintah Indonesia dengan

UNHCR pada tanggal 15 Juni 197947

47

Direktorat HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI. Op.cit. Hlm.62

. Awalnya UNHCR diberikan tanggung

hawab khusus dalam menangani membanjiri pengungsi dari Indochina yang

masuk ke dalam kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Saat itu UNHCR

membantu permasalahan pengungsi di Indonesia ketika pada tahun 1979

Indonesia mendirikan penampungan bagi 170.000 pengungsi di Pulau Galang saat

itu. Kasus tersebut terselesaikan dengan jalan keluar semua pengungsi berhasil

(48)

Setelah krisis pengungsi akibat konflik di Indochina di akhir tahun

1990an, tidak diduga ternyata arus masuk para pencari suaka (asylum seeker) dan

pengungsi (refugee) mulai menunjukan peningkatan jumlah yang terus meningkat

di periode tahun 2000-2002. Setelah tahun 2002an tersebut angka pengungsi di

Indonesia mengalamai penurunan, sampai kepada periode tahun 2003-2008

jumlah orang-orang yang mengungsi ke Indonesia meningkat kembali dimana

sekitar 3.230 orang telah mengajukan permohonan perlindungan di bawah

UNHCR. Angka tersebut semakin meningkat hingga mencapai berkisar 10.000

orang dalam beberapa tahun terakhir. Kebanyakan mereka berasal dari negara

Afghanistan, Myanmar dan Somalia.

Melihat arus masuk pengungsi ke Indonesia pada hakikat nya Indonesia

sampai saat ini belum meratifikasi/ belum termasuk ke dalam Negara Pihak

(negara ketiga) Konvensi Pengungsi 1951 dan Protokol 1967. Sehingga Indonesia

tidak mempunyai sistem nasional untuk penentuan status pengungsi (refugee

status determination/RSD) dan sebenarnya tidak mempunyai kewajiban untuk

menampung para pengungsi.Namun karena adanya rasa sosial dan menjunjung

tinggi hak asasi manusia, UNHCR diberikan izin operasional oleh Pemerintah

Indonesia guna menjalankan tugasnya sebagai perlindungan terhadap pengungsi

dan solusi penyelesaian permasalahan pengungsi di Indonesia.

UNHCR di Indonesia membangun kantor pusatnya di Jakarta, dan

menempatkan perwakilannya di Medan, Tanjung Pinang, Surabaya, Makasar,

(49)

tahun di Indonesia. Hingga saat ini, UNHCR memiliki lebih dari 60 staff di

seluruh Indonesia. Menurut data UNCHR hingga 31 Oktober 2015 jumlah pencari

suaka yang terdaftar di kantor UNHCR Indonesia mencapai 13.244 orang, yang

terdiri dari 5.798 pencari suaka dan 7.446 pengungsi.

2.9 UNHCR di Medan

UNHCR di Indonesia membangun beberapa kantor dan menempatkan

perwakilan-perwakilannya di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya adalah

di Medan, Sumatera Utara. Kantor UNHCR Medan terletak di Jalan Imam Bonjol

no.8 Medan tepatnya berada di Gedung CIMB Niaga. Kantor UNHCR Medan ini

juga berada satu lokasi dengan kantor IOM (International Organization for

Migration). IOM ini merupakan organisasi internasional yang juga menjalin

kerjasama dengan UNHCR dalam menangani keluar masuknya imigran gelap ke

Indonesia.

Yang menjadi perwakilan UNHCR di Medan adalah Bapak Ardi Sofinar.

Dalam melakukan tugasnya Bapak Ardi Sofinar dibantu oleh beberapa staffnya.

Penanganan terhadap para pencari suaka dan pengungsi yang dilakukan oleh

UNHCR di Medan dibantu dengan berbagai lembaga lainnya, antara lain IOM,

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Medan dan Kantor Imigrasi Kelas I Polonia, serta

(50)

Tidak terdapat perbedaan tugas dan fungsi maupun wewenang UNHCR

yang berada di Medan maupun UNHCR pada umumnya di wilayah lain. Saat ini

UNHCR Medan. Saat ini ada sekitar 2000an lebih orang pencari suaka dan

pengungsi yang ditangani oleh UNHCR Medan yang bekerjasama dengan IOM

maupun Kantor Imigrasi Medan yang menangani Kepengungsian. Orang-orang

tersebut berasal dari berbagai negara, antara lain: Somalia, Afghanistan,

Gambar

Tabel 1. Komisaris Tinggi UNHCR
Tabel 2. Negara Pihak Konvensi Pengungsi 1951
Tabel 3. Negara Pihak Protokol Tambahan 1967

Referensi

Dokumen terkait

Minyak atsiri rimpang jeringau ( Acoruscalamus L.) memiliki aktivitas antibakteri sehingga dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam sabun transparan.Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model kesiapsiagaan menghadapi bencana gunung api dengan menggunakan media sosial Facebook, dimana yang menjadi fokus penelitian adalah

Ialah sikap batin pelaku perbuatan pidana yang sama sekali tidak memiliki dugaan atau pikiran bahwa perbuatannya dapat menimbulkan akibat tertentu yang dilarang hukum. Sikap tidak

Seiring dengan perkembangan dunia kesehatan dan kedokteran yang maju diikuti dengan perkembangan dunia farmasi yang terus â menerus meneliti tentang obat â obatan untuk berbagai

Dalam setiap bidang usaha, pelayan kepada konsumen baik dari segi fasilitas dan informasi, merupakan salah satu hal yang sangat penting yang harus diperhatikan.. Untuk

Abdul Rahman, S.Ag,

Saya bertanda tanda tangan dibawah ini selaku Pejabat Pembuat Komitmen memerintahkan Bendahara Pembantu Pengeluaran agar melakukan pembayaran sejumlah

Akan lebih mudah jika pengolahan data tersebut menggunakan sistem yang terkomputerisasi, baik dalam hal pencatatan, pencarian data maupun dalam hal pembuatan losmen. Permasalahan