• Tidak ada hasil yang ditemukan

GLOBALISASI BUDAYA DAN SEJARAH DUNIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GLOBALISASI BUDAYA DAN SEJARAH DUNIA"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

GLOBALISASI BUDAYA DAN SEJARAH DUNIA

Konteks globalisasi pun tidak berkutat di interest, IPTEK dan organisasi internasional saja. Memasuki abad ke-21 ini, semakin dituntut keterbukaan tanpa batas bagi siapa saja yang tidak ingin dibilang ‘ketinggalan zaman’. Termasuk di dalamnya negara, taraf perekonomian, kekayaan budaya, sistem politik hingga gaya hidup masyarakat juga dikategorikan produk globalisasi. Hingga sampai pada satu pertanyaan, adakah bagian atau aspek dari individu maupun negara yang bukan hasil globalisasi? Belum ada yang berani untuk menjawab pertanyaan ini sehingga banyak yang menyimpulkan manusia sekarang tidak bisa lepas dari globalisasi. Setelah melakukan riset kecil tentang globalisasi ekonomi di pasar modern, hasilnya pun tidak lepas dari globalisasi. Sama halnya dengan berita maupun even, yang seharusnya regional, tetap banyak mengupas tentang even global.

Kali ini, globalisasi masuk dalam aspek budaya. Tiap negara punya rakyat dan pasti ada kebudayaan yang menjadi pemersatu diantaranya. Keterbukaan informasi dan ekspansi yang menjadi fokus negara menjadi alasan dibalik melebarnya kebudayaan satu negara tiba-tiba ada di negara lain. Misalnya, tari Reog yang tenar dan diakui di Malaysia padahal asal-muasalnya asli dari Indonesia. Masih banyak lagi kasus yang sama namun tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah, tidak hanya Indonesia-Malaysia. Beberapa negara regional juga memiliki konflik serupa yang berakhir ironi bagi mereka sendiri. Dibutuhkan pihak ketiga untuk menengahi kasus seperti ini, yakni institusi atau rezim.

Isu regional di atas menjadi dasar pemikiran bagi skeptis untuk menjauhi atau ragu akan kekuatan globalisasi. Negara yang terbentuk atas bangsa dan perikebangsaan. Perikebangsaan ituyang menimbulkan rasa ingin membentuk negara berdasarkan persamaan diantaranya. Menuju negara tidak hanya sebesar sosial atau entitas kultural namun lebih seperti ‘komunitas sejarah dan budaya’, menempati teritori partikular dan sering mengklaim atas perbedaan tradisi hak-hak umum dan tanggung jawab bagi anggotanya (Held & McGrew 2003, 27). Dari sini, bangsa-negara lebih erat tali persaudaraan dan kebudayaannya karena runtutan sejarah yang sama. Kaum skeptis melihat hubungan seperti ini tidak pantas untuk disusupi globalisasi. Kesetiaan antara negara dan bangsa-bangsa di dalamnya tentang budaya, bahasa, kekayaan alam dan lainnya menjadi penting bagi negara sekaligus bagi kaum skeptis.

Selain itu, keinginan negara sendiri yang mengaitkan antara identitas politik, penentuan diri, dan kekuatan negara untuk membentuk sumber penting motivasi etik dan politik (Held & McGrew 2003, 29). Adalah ide lain dari kaum skeptis untuk tetap menjaga

(2)

keutuhan bangsa itu sendiri. Ketika semakin terbukanya informasi dan komunikasi antar negara, yang terjadi justru generalisasi perbedaan, tidak ada lagi keunikan tersendiri dari suatu negara. Negara tidak mempunyai ciri khasnya, inilah yang tidak disukai oleh kaum skeptis. Berbeda halnya dengan kaum globalis. Globalis melihat fenomena abad ke-20 ini sebagai sesuatu yang ‘harus’ dan tidak bisa ditolak oleh negara maupun individu sebagai masyarakat dunia.

Keinginan negara untuk saling terbuka didukung oleh globalis. Hal ini juga disampaikan melalui argumen globalis, skala tajam, intensitas, kecepatan dan volume dari komunikasi kultural global tidak dapat dilampaui oleh siapapun (Held & McGrew 2003, 31). Gerakan-gerakan ekspansif dari Uni Eropa menandakan keinginan negara sendiri untuk menambah relasi yang baik antar negara dalam hal budaya maupun kemanusiaan. Perkembangan gaya hidup masyarakat seperti pakaian, musik, perfilman, radio, acara televisi dan permainan yang semakin meluas jangkauannya mendorong negara lain untuk menggunakannya pula. Globalisasi yang menawarkan kemudahan dan kenyamanan membuat masyarakat dunia terlena hingga akhirnya terlibat masuk ke dalamnya. Pendapat tersebut yang sangat disanggah oleh kaum skeptis sebelum masuk abad dua puluh justru terjadi di masa sekarang. Tidak dapat dipungkiri lagi, globalisasi telah berhasil memasuki peradaban manusia untuk menuju ke zaman yang lebih umum, semakin sedikit keunikan dan kemudahan dalam rangkan pemenuhan kebutuhan manusia. Aspek yang dicakup oleh globalisasi pun hingga sedalam-dalamnya informasi negara terlibat, hanya segelintir saja yang tidak ingin termasuk di dalamnya. Harapan kita agar dapat memaksimalkan produk globalisasi ini sebaik-baiknya.

REFERENSI:

Held, David dan Anthony McGrew. 2003. “the Fate of National Culture”, dalam

Referensi

Dokumen terkait