• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERADILAN BERBASIS HARMONI DALAM DALAM GUYUB BUDAYA LAMAHOLOT - FLORES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERADILAN BERBASIS HARMONI DALAM DALAM GUYUB BUDAYA LAMAHOLOT - FLORES"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERADILAN BERBASIS HARMONI DALAM

DALAM GUYUB BUDAYA LAMAHOLOT - FLORES

Karolus Kopong Medan

Fakult as Hukum Universit as Nusa Cendana Kupang E-mail : komed2001@yahoo. com

Abst r act

Thi s st udy t r ied t o of f er a new t heor et i c per spect i ve about set t l ement f or m of cr i minal case. Thr ough l aw ant hr opol gy st udy by usi ng et nogr aphy appr oach and her meneut i c anal ysi s met hod, t hi s st udy mor e st r engt hen t he f ai t h t hat t he f i nal goal of ever y cour t pr ocess i s not onl y t o det er mi ne who i s wr ong and who i s r i ght , but al so t o f i nd out t he j ust i ce and t he t r ut h. But , addi t i onal l y j udi ci al pr ocess has t o make a har mony or r ebui l d a soci al r el at ion among t he vi ct i ms of conf l i ct . Even, a social har mony t hat was bui l t is managed gener al l y as i ndivi dual , and col l ect ive cont ext , and as al so ver t i cal l y t o t he Al mi ght y God. The j udi ci al or i ent at ion wi t h r i ch phi l osophy of har mony can be appl i ed t o soci al spher e, because act ual l y t he har mony val ue i s ever ybody’ s dr eam in t he wor l d.

Key wor ds: j udi ci al , cr i mi nal , har mony, adat t r adit i on, Lamaholot societ y.

Abst rak

Kaj ian ini mencoba menawarkan sebuah wawasan t eoret ik baru t ent ang pola penyelesaian kasus kriminal. Melalui st udi ant ropologi hukum dengan menggunakan pendekat an et nograf is dan met ode analisis hermeneut ika, st udi ini semakin memperkuat keyakinan bahwa sasaran akhir dari set iap proses peradilan t idak hanya unt uk menent ukan siapa yang salah dan siapa yang benar at au pun j uga t idak hanya menemukan kebenaran dan keadilan. Melainkan, lebih j auh dari it u proses peradilan harus sedapat mungkin mendamaikan at au membangun kembali relasi sosial para pihak yang rusak sebagai akibat dari pert ikaian. Bahkan, harmoni sosial yang dibangun it u dikelola dalam kont eks yang lebih luas, baik secara individual, kolekt if , dan secara vert ikal dengan Sang Ilahi. Orient asi peradilan yang sarat dengan f ilosof i harmoni it u t ampaknya dapat dit erapkan dalam berbagai ruang sosial, karena nilai harmoni it u sesungguhnya merupakan dambaan dari semua manusia di belahan dunia mana pun.

Kat a Kunci: peradilan, kriminal, harmoni, t radiasi adat , masyarakat Lamaholot .

Pendahuluan

Dewasa ini inst it usi peradilan yang dit e-t apkan oleh negara sebagai inse-t ie-t usi resmi da-lam menyelesaian berbagai kasus sengket a yang dihadapi oleh masyarakat sudah mulai diragu-kan ket erandalan dan kesahihannya. Keraguan it u semakin mengemuka karena inst it usi pera-

Tul isan ini merupakan sari dari Penel it ian Hibah Kom-pet ensi t ahun I & II(2010, 2011) berj udul “ Menuj u Model Per adi l an Ber basi s Har moni dal am Penyel esai an Kasus Kr i mi nal Menur ut Tr adi si Masyar akat Lamahol ot di Fl o-r es Bagi an Ti muo-r ” . Penel it i an ini merupakan pengemba-ngan l ebih l anj ut dari Di sert asi berj udul “ Per adil an Re-konsil i at i f : Konst ruksi Penyel esaian Kasus Kri minal Menu-rut Tradisi Masyar akat Lamahol ot di Fl ores, Nusa Tengga-ra Timur (NTT)” di PDIH Undi p Semar ang t ahun 2006 di bawah Promot or Prof . Dr. Sat j ipt o Rahardj o, S. H. , dan Prof . Dr . Esmy War assih, S. H, M. S.

dilan negara ini belum sepenuhnya menyent uh esensi yang sesungguhnya dari suat u proses hu-kum yang berorient asi pada perwuj udan perda- maian di ant ara para pihak, t ermasuk ant ara (para) pelaku dengan (para) korban besert a se-luruh keluarganya. Kebanyakan orang lebih ber-pikir bahwa dengan adanya keadilan diput uskan oleh hakim dan dilanj ut kan dengan proses ekse-kusi maka dianggap sudah selesai urusannya. Proses hukum yang demikian it u j ust ru masih

menyimpan suat u dendam kusumat yang

(2)

sema-kin kompleks dan memperburuk hubungan so-sial di ant ara mereka.1

Persoalan subst ansial yang lain yang mela-t ari mela-t ulisan ini adalah bahwa sekalipun peradil-an negara sudah dit et apkperadil-an sebagai wadah res-mi unt uk menyelesaikan sengket a yang dihada-pi oleh masyarakat , namun t idak menut up ke-mungkinan bagi masyarakat di t ingkat lokal un-t uk menyelesaikan sengkeun-t anya melalui wadah peradilan adat yang dikemas mengikut i t radisi masing-masing daerah (kelompok suku). Bah-kan, t erkadang pula t erj adi perpaduan ant ara kedua pola t ersebut , baik dilakukan secara t e-rang-t erangan maupun secara diam-diam dalam prakt ik penanganan kasus sengket a.

Suat u hal yang pat ut dicermat i dalam proses penanganan kasus sengket a, t ermasuk kasus kriminal di t ingkat lokal adalah soal ba-gaimana pola-pola peradilan yang dikemas me-nurut t radisi masyarakat lokal mampu mem-bangun harmonisasi di ant ara para pihak yang bert ikai (berperkara). Persoalan ini semakin menarik unt uk dikaj i ket ika dit emukan bahwa t ernyat a pada masyarakat yang masih bersaha-j a sepert i masyarakat Lamaholot di Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki t radisi perdamaian yang dikemas dalam rit ual adat mel asar e at au t apan holo.2 Tradisi perda-maian ini t ampaknya merupakan salah sat u “ kunci” bagi masyarakat Lamaholot unt uk

1

Tragedi pengrusakan gedung Pengadil an Neger i Rut eng dan penikaman Ket ua Pengadil an H. A. Par dede yang menangani perkara sengket a t anah suku Tenda dan

Kumba di Manggar ai-Fl ores pada bul am Mei 1991 sil am

merupakan sebuah cont oh yang bagus unt uk menj el as-kan l emahnya inst i t usi hukum negara dal am menangani kasus sengket a, t erut ama yang t erj adi pada masyarakat l okal [ Ant o Achdi at , “ Penyel esaian Sengket a dan Han-curnya Hubungan Keker abat an: Kasus Sengket a Tanah pada Masyarakat Rut eng di Kabupat en Manggar ai , Fl ores Barat , Nusa Tenggara Ti mur” dal am T. O. Ihromi (ed), 1993. Ant r opol ogi Hukum, Sebuah Bunga Rampai, Ja-kart a: Obor Indonesia.

2

Secar a har af i ah i st il ah “ mel a sar e” t er dir i dar i dua kat a yang memil iki makna hampir sama, yakni “ mel a” dan

“ sar e” (sar eka). “ Mel a” ber art i baik at au menj adi baik kembal i, sedangkan “ sar e” di maknakan sebagai damai at au berbaik kembal i dal am suasana hat i yang ber sih, t iada dendam dan t i ada amar ah. Ist il ah “ mel a sar e” di -sepadankan dengan i st il ah “ t apan hol o” yang t er dir i da-ri dua kat a, yakni “t apan” dan “hol o” . Ist il ah “t apan” di maknakan sebagai t ambah (menambah), membuat at au memper baiki kembal i, sedangkan “hol o” ber art i sambung, t er sambung, t erhubung kembal i (t er masuk rel asi sosi al yang t erganggu akibat konf l ik at au seng-ket a yang dihadapi.

membangun kembali relasi sosial di ant ara para pihak yang bert ikai. Masyarakat Lamaholot da-lam menyelesaikan kasus sengket a apa pun j enisnya dan melalui inst it usi peradilan mana pun (baik peradilan lokal maupun peradilan ne-gara), selalu mengupayakannya hingga ke t a-hapan perdamaian dengan menyelenggarakan rit us adat mel a sar e (perdamaian).3

Berbagai lat ar t emat ik sebagaimana di-uraikan secara sepint as di at as menj adikan f e-nomena yang dit ampilkan oleh masyarakat La-maholot ini semakin urgen unt uk dikaj i lebih j auh unt uk menemukan landasan f ilosof is dan t eoret ik dari pola-pola peradilan yang dikons-t ruksikan oleh masyarakadikons-t Lamaholodikons-t dalam menyelesaikan kasus sengket a secara damai. Secara lebih spesif ik, kaj ian t erhadap konst ruk-si peradilan yang demikian it u akan lebih dif o-kuskan pada prakt ik penyelesaian kasus krimi-nal. Fokus kaj ian yang demikian didasarkan pada pert imbangan bahwa pada dasarnya t ra-disi perdamaian ini sudah sangat lazim dalam prakt ik penyelesaian kasus perdat a. Bahkan da-lam penyelesaian kasus perdat a, langkah-lang-kah perdamaian sangat dianj urkan unt uk dit em-puh pada saat -saat awal proses berlangsung. Hal ini sangat berbeda dengan proses penyele-saian kasus kriminal (pidana) di mana t radisi perdamaian t idak menj adi t it ik pij ak pert ama dan t erut ama. Oleh karena it u, t radisi penyele-saian kasus kriminal yang diprakt ikkan oleh ma-syarakat Lamaholot akan sangat bermanf aat dalam rangka pengembangan sist em peradilan pidana di Indonesia maupun sist em peradilan pada umumnya.

Permasalahan

Minimal ada dua permasalahan mendasar yang menj adi f okus kaj ian ini. Per t ama, bagai-mana proses perdamaian adat mel a sar e at au t apan hol o it u berlangsung dalam f orum-f orum peradilan agar kasus kriminal yang dit angani dapat diselesaikan secara damai? Domain yang

3 Karol us Kopong Medan dkk, 2002 & 2004, “

Pengem-bangan Pol a Peradil an Semi -ot onom Menurut Budaya Lokal Lamahol ot di Fl ores, Provi nsi Nusa Tenggara Ti -mur” , Lapor an Ri set Unggul an Kemasyar akat an dan

Kemanusi aan (RUKK) III, Kerj asama Kant or Kement er ian

(3)

menj adi f okus t ulisan ini t erut ama mengenai pola-pola konst ruksi peradilan berbasis harmoni dalam kerangka budaya Lamaholot .

Kedua, apakah f orum-f orum peradilan ber-basis harmoni yang dikemas dengan memadu-kan t radisi adat mel a sar e at au t apan holo it u dapat diandalkan unt uk menyelesaikan kasus kriminal secara damai? Persoalan kedua ini paling t idak berf okus pada dua domain ut ama: (a) keut amaan at au keunggulan dari f orum per-adilan berbasis harmoni, (b) orient asi yang hen-dak dicapai oleh f orum-f orum peradilan t erse-but dalam menyelesaikan kasus kriminal.

Hasil dan Pembahasan

Basis Harmoni dalam Peradilan: Belaj ar dari Kearifan Masyarakat lamaholot

Sekalipun sudah ada kerangka umum yang berlaku secara nasional dan secara unif ikat if di-t uangkan dalam di-t adi-t a adi-t uran hukum di-t endi-t ang sis-t em peradilan di Indonesia, namun dalam prak-t iknya masyarakaprak-t Lamaholoprak-t dapaprak-t mengkons-t ruksikan secara berbeda menurumengkons-t lamengkons-t ar sosio-kult ural yang dimiliki. Masyarakat Lamaholot t i-dak saj a mengandalkan pola peradilan negara yang disiapkan oleh negara, t et api j ust ru me-nampilkan j uga pola-pola peradilan versi lain, sepert i pola peradilan adat dan pola peradilan campuran (baik campuran ant ara peradilan adat dengan peradilan negara maupun ant ara peradilan adat dengan lembaga pemerint ahan modern: RT, RW, Dusun, Desa, dan lain se-bagainya).

Sekalipun pola peradilan berbasis harmo-ni dit ampilkan beragam, namun pola-pola per-adilan t ersebut selalu memanf aat kan inst it usi adat mel a sar e at au t apan holo (perdamaian) sebagai sarana unt uk mendamaikan at au mem-perbaiki relasi sosial para pihak yang bert ikai.4 Selama Inst it usi adat ini belum bekerj a maka hubungan at au relasi sosial di ant ara pihak-pi-hak yang bert ikai belum dipulihkan secara adat karena masih dibat asi oleh “ sekat adat ”

4 Sel ain inst it usi adat per damai an mel a sar e, i nst it usi

so-ga sumpa (sumpah adat ) sebagai sar ana penunt ut bagi

semua pihak yang t erl ibat dal am proses penyel esaian sengket a unt uk menemukan keadil an dan kebenaran yang hakiki ). Karol us Kopong Medan, dkk, op ci t.

t un-bewot en sebagai simbol yang membat asi “ para pihak sebagai musuh” .5

Per t ama, mengenai model konst ruksi per-adilan berbasis harmoni melalui f orum adat . Realit as yang dapat dit angkap dari kehidupan hukum pada masyarakat Lamaholot adalah bah-wa f orum-f orum peradilan adat (f orum suku dan f orum kampung) t ernyat a masih t et ap di-pert ahankan, sekalipun “ peradilan swapraj a” dan “ peradilan adat ” sudah dinyat akan t idak berlaku lagi sej ak dikeluarkan UU No. 19/ 1964 t ent ang Ket ent uan-Ket ent uan Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan UU No. 13/ 1965 t ent ang Peng-adilan dalam Lingkungan PerPeng-adilan Umum dan

Mahkamah Agung.6

Proses penyelesaian kasus-kasus kriminal melalui f orum peradilan adat pada prinsipnya berupaya agar para pihak yang t erlibat dalam kasus kriminal, baik sebagai pelaku maupun korban, dapat berdamai dalam suasana persau-daraan (mel a sar eka at au sar e dame). Baik di Adonara, Lembat a, Flores Darat maupun di So-lor dit emukan t ipologi peradilan adat yang hampir mirip, sekalipun di sana sini ada sedikit perbedaan, t erut ama dalam hal ist ilah at au ungkapan adat yang digunakan karena perbe-daan dialek kebahasaan.

Proses penyelesaian kasus kriminal mela-lui f orum adat dimulai dengan laporan dari ma-syarakat at au pengaduan dari pihak yang men-j adi korban at au keluarganya kepada Bel en Suku Onen (pembesar dalam suku, kepala su-ku), kalau pelaku dan korbannya bersasal dari sat u suku at au klen, dan dampak dari kasus kri-minal t ersebut t idak t erlalu luas sehingga bisa dit angani oleh kepala suku dalam lingkup ke-lompok warga yang masih kecil. Jika pelaku dan korban kasus kriminal berasal dari suku yang

5

Masyarakat Lamahol ot berkeyakinan bahw a apabil a se-kat pemi sah adat kenet un bewot ene ini dil anggar maka yang ber sangkut an dan sel ur uh kerabat nya akan meng-al ami musibah berupa sakit , cel aka, dan bahkan me-ninggal duni a.

6

Penj el asan yang rel at if memadai t ent ang pergeseran kebij akan pemerint ah t ent ang t ent ang si st em peradil an di Indonesia, yakni Sudikno Mer t okusumo, 1983, Sej ar ah Per adi l an dan Per undang-undangannya di Indonesi a dan

apakah Kemanf aat annya bagi Ki t a Bangsa Indonesi a.

Yogyakart a: UGM, Cet akan II; dan R. Tresna, 1957,

(4)

berbeda, dan memiliki dampak yang diperkira-kan adiperkira-kan mengganggu sendi-sendi kehidupan dalam kampung (l ewot ana), maka kasus t erse-but langsung dibawa ke Kebel en Lewot ana

(pembesar kampung, kepala kampung).7

Pihak Kepala Suku (Kebel en Suku Onen) at au Kepala Kampung (Kebel en Lewot ana) da-lam proses penanganan kasus kriminal, t idak bert indak sendiri dalam mengambil keput usan, melainkan semua t okoh adat dan t okoh masya-rakat dalam kampung dihadirkan unt uk bersa-ma-sama mencarikan j alan keluar yang t erbaik unt uk menyelesaikan kasus t ersebut . Selain it u, t erdapat pula pihak yang disebut l i ma l ei uhu wanan at aul ei r ar an(mediat or adat ), yakni pi-hak yang dipercayakan menj adi mediat or ant a-ra pelaku dan korban bersama keluarganya ma-sing-masing agar dampak dari kasus ini t idak meluas dan menimbulkan persoalan baru yang lebih rumit .

Unt uk mengawali proses penanganan ka-sus (kriminal) di hadapan sidang suku (si dan su-ku) yang dipimpin oleh Kepala Suku (Kebel en Suku Onen) maupun di hadapan sidang kampung (si dan l ewot ana) yang dipimpin oleh Kepala Kampung (Kebel en Lewot ana), dilakukan rit ual adat bau l ol on8 unt uk memohon t unt unan dari Dewa Rer awul an Tanaekan, Leluhur (Ama Opo Koda Kewokot) dan seluruh kekuat an Dewa dari seluruh penj uru mat a angin agar semua pihak yang t erlibat dalam proses it u dapat menyele-saikan kasus ini secara benar dan adil. Semua pihak yang t erlibat dalam rit ual adat it u - pe-mimpin sidang, para pihak (pelaku dan korban), dan para saksi - secara bergilir menuangkan se-dikit t uak9 ke at as t anah seraya mengucapkan

7 Dal am st rukt ur pemeri nt ahan adat At awat un di

Keca-mat an Il e Ape mi sal nya, Kebel en Lewot anayang yang bert ugas menangani kasus sengket a, t er masuk kasus krimi nal adal ah para pembesar adat yang t er dir i dar i

Lewo Ni mun Tana Al awan, Tar an Neki n, Tar an Wanan,

Kapi t an Lake dan Kapi t an Wae.

8

Bau l ol on merupakan sebuah bent uk r it ual adat Lamahol ot unt uk mendahul ukan, menghadirkan dan menyer -t akan Dewa Rer aw ul an Tanaekan dan para l el uhur da-l am set iap peri st iw a adat . Rit uada-l bau l ol on ini biasanya di padukan dengan upacara pao boe yakni pemer ian sesaj en bagi Dew a dan l el uhur .

9 Terkadang t uak yang di pakai dal am rit ual adat bau l o-l on ini dicampur dengan t anah yang sudah diri t ual kan secara adat ol eh At amua Rer aw ul an Al apen (w akil Re-r awul an Tanaekan di dunia). Rit ual adat bau l ol on ini

mant ra adat memohon kehadiran Dewa Rer a-wul an Tanaekan dan Leluhur Ama Opo Koda Ke-wokot unt uk menyaksikan sekaligus menunj uk-kan kebenaran dan keadilan at as kasus yang se-dang dit angani.

Set elah rit ual adat bau l ol on, dimulailah pemeriksaan unt uk mendapat kan ket erangan, baik dari pelaku, korban maupun para saksi. Ti-dak ada t at a cara yang pat en dalam pemeriksa-an ini sepert i ypemeriksa-ang t erj adi dalam proses peradi-lan modern. Proses yang berperadi-langsung dalam peradilan adat ini, yang paling pent ing adalah kej elasan inf ormasi yang disampaikan oleh se-mua pihak, dan berupaya agar persoalan ini t i-dak menimbulkan semakin rusaknya hubungan kekerabat an dan persaudaraan di ant ara para pihak (pelaku dan korban) dan masyarakat pada umumnya. Jadi, proses penye-lesaian kasus kri-minal melalui f orum peradilan adat lebih meng-ut amakan aspek harmonisasi at au keseimbang-an10 dalam kehidupan masyarakat secara kese-luruhan, bukan semat a mengadili dan menghu-kum para pihak yang t erlibat dalam kasus kri-minal t ersebut .

Sekalipun orient asinya lebih diarahkan kepada t ercipt anya perdamaian demi harmoni-sasi at au keseimbangan, namun dalam proses peradilan adat ini pun sampai pada penent uan sanksi bagi pelaku yang t erbukt i melakukan t in-dak kriminal yang dit uduhkan kepadanya, yang disebut dengan ist ilah nedhan dei (membayar denda/ kewaj iban adat ) dan pat e helo ele kir i n (gant i rugi). Dalam ref erensi-ref erensi t ert ent u kedua bent uk sanksi adat ini disebut dengan ist ilah “ Reaksi adat ” at au “ reaksi masyarakat adat ” , yait u segala reakasi (koreksi) adat t er-hadap segala t indakan unt uk menet ralisir pe-langgaran hukum, dan bert uj uan unt uk memu-lihkan keseimbangan, baik keseimbangan dunia lahir dan dunia gaib, keseimbangan dalam kehi-dupan masyarakat pada umumnya,

di pi mpin pul a ol eh At amua Rer awul an Al apen (wakil Dewa Rer awul an Tanaekan di duni a).

10 Orient asi per adil an adat Lamahol ot ini sej al an dengan

(5)

an ant ara kelompok masyarakat dan orang per-orangan.11

Kedua, pola konst ruksi peradilan rekon-siliat if melalui f orum negara. Selain peradilan adat , masyarakat j uga masih memiliki alat erna-t if lain unerna-t uk menyelesaikan kasus sengkeerna-t a yang dihadapinya, t ermasuk kasus-kasus krimi-nal, yakni f orum peradilan negara. Oleh karena masyarakat Lamaholot memiliki dan menj adi-kan “ nilai harmoni” sebagai salah sat u unsur pent ing dalam menj aga keseimbangan dunia so-sialnya, maka sekalipun f orum yang digunakan adalah f orum peradilan negara, masyarakat masih t et ap memanf aat kan inst it usi adat mel a sar e (inst it usi adat perdamaian) sebagai j alan keluar unt uk t et ap menj aga harmonisasi kehi-dupan sosial.

Menyadari akan karakt erist ik peradilan negara dalam menangani kasus-kasus kriminal (kasus pidana) memiliki daya paksa dari negara, proses adat perdamaian it u dilakukan secara diam-diam, dan hal ini dipandang sangat f ungsi-onal dalam menyelesaikan kasus sengket a pada umumnya secara damai. Dengan demikian, pro-ses rekonsiliasi yang berlangsung dalam wadah peradilan negara t elah mencipt akan “ area ge-lap” , yakni area yang t idak menj adi perhat ian ut ama para penegak hukum f ormal (penyidik, j aksa, hakim, dan pet ugas pemasyarakat an). “ Area gelap” it u sesungguhnya sengaj a dicipt a-kan oleh masyarakat Lamaholot unt uk menga-t asi kemenga-t idak-memadaian insmenga-t imenga-t usi peradilan ne-gara.

Pola konst ruksi peradilan rekonsiliat if da-lam f orum negara sepert i it u sekaligus meng-isyarat kan, bahwa soal diakui at au t idak secara f ormal oleh negara t erhadap proses adat perda-maian yang dilaksanakannya it u, bukan meru-pakan sesuat u yang pent ing bagi masyarakat Lamaholot . Bagi mereka, yang paling pent ing dan t erut ama adalah t erj alinnya kembali relasi sosial para pihak yang berperkara dalam sua-sana damai. Ket erbat asan peradilan negara

11 R. Soepomo, 1977, Bab Bab t ent ang Hukum Adat di Ke-mudi an Har i. Jakart a: Pr adnya Par amit a, hl m. 115. Ju-ga dal am B. Ter Haar. 1981, Azas-Azas dan Sususnan Hukum Adat. , edi si t erj emahan ol eh K. Ng. Soebakt i Poesponot o, Jakart a: Pradnya Par amit a, Cet . Ke-6, hl m. 256.

lam menangkap rasa keadilan dan kebenaran masyarakat Lamaholot it u pulalah yang t erka-dang membuat mereka menolak put usan peng-adilan negara.12 Dalam kont eks yang demikian it u, masyarakat Lamaholot t ampaknya t idak ha-nya sekedar memandang kehadiran hukum ne-gara (peradilan nene-gara) sebagai beban,13 t et api mereka pun t erus berusaha agar beban budaya yang dit imbulkannya it u t idak t erlalu berat . It ulah sebabnya, masyarakat Lamaholot dengan penuh kesadaran berusaha keluar dari “ rel-rel” hukum modern dengan mengopt imalkan inst it u-si adat perdamaian mel a sar e at au t apan hol o.

Model ini memperlihat kan, bahwa ket ika kepolisian mendapat laporan at au pengaduan dari masyarakat dan/ at au korban t ent ang t elah t erj adi t indak kriminal, maka sej ak saat it u pula perangkat sist em peradilan pidana mulai bekerj a. Pihak penyidik kepolisian mulai men-cari t ahu dan mengumpulkan bukt i-bukt i t er-masuk menangkap dan menahan orang yang di duga kuat melakukan t indak kriminal t ersebut . Proses yang berlangsung dalam sist em peradilan pidana bergulir t erus, mulai dari pemberkasan berit a acara pemeriksaan perkara (BAP) dan menyerahkannya kepada Jaksa Penunut Umum (JPU), selanj ut nya JPU membuat dakwaan un-t uk dikirimkan kepada pihak pengadilan unun-t uk disidangkan.

Melalui sidang pengadilan kemudian dit e-t apkan, apakah orang yang die-t uduhkan ie-t u e-t er-bukt i secara sah dan meyakinkan melakukan t indak kriminal at au t idak. Pada set iap t ahapan pemeriksaan, bisa saj a t erj adi dua kemungkin-an bagi orkemungkin-ang ykemungkin-ang diskemungkin-angka at au didakwa, yait u dibebaskan karena t idak cukup bukt i at au

12 Deskri psi yang rel at i f l engkap mengenai hukum negar a

(peradil an negara) sebagai “ beban budaya” bagi masya-rakat t r adisional dapat dit emukan dal am Ber nar d L Tanya, 2000, Beban Budaya Lokal Menghadapi Hukum Negar a: Anal i si s Budaya At as Kesul i t an Sosi o-kul t ur al

Or ang Sabu Menghadapi Regul asi Negar a, Di sert asi

Dokt or Il mu Hukum, Semarang: PDIH Undi p.

13

Harus diakui pul a bahwa kehadiran hukum negar a sebagai konsekuensi l ogis dar i adanya pemer int ahan modern memang t el ah menyebabkan sebagi an peran yang di mainkan ol eh kebel en suku onen (kepal a suku),

kebel en Lewot ana (kepal a Kampung), l embaga adat

(6)

diproses t erus sampai mendapat kan penet apan hukuman dari pengadilan unt uk dij alani di Lem-baga Pemasya-rakat an at au dikenakan hukuman j enis lain sepert i denda, dan lain sebagainya.

Secara f ormal, klimaks dari proses hukum yang berlangsung melalui sist em peradilan pi-dana adalah ket ika hakim menet apkan put usan-nya dan dilanj ut kan dengan proses eksekusi pe-laku unt uk menj alani hukuman, baik di Lemba-ga Pemasyarakat an maupun menj alani hukuman j enis lain. Pihak penyelenggara peradilan pida-na t idak mau t ahu lagi t ent ang bagimapida-na kon-disi dan keberadaan si pelaku di masyarakat , t ermasuk bagaimana relasi sosial ant ara pelaku dengan korban dan lingkungan sosialnya.

Menyadari akan kelemahan pola peradilan negara it u, maka “ secara diam-diam” t anpa se-penget ahuan pihak penyelenggara peradilan pidana, pihak pelaku dan keluarganya secara t ahu dan mau unt uk memenuhi kewaj iban adat (nedhan dei dan pat e el e kir i n) dan melaksana-kan rit ual adat mel a sar eka at au rit ual t apan hol o (rit ual adat perdamaian) demi menj aga harmonisasi at au keseimbangan di dalam ma-syarakat . Keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan sosial secara menyeluruh dalam komunit as Lewot ana (kampung) dan komunit as suku, maupun secara personal ant ar para pihak dan keluarga. Pihak yang mengat ur pemenuhan kewaj iban adat dan perayaan rit us adat mel a sar eka at au t apan hol o ini adalah pembesar su-ku dan pembesar l ewot ana, At a Mol an (Tabib Adat ), At amua Rer awul an Al apen (wakil Dewa Rer awul an Tanaekan di dunia), dan para pihak besert a seluruh keluarganya.

Ket i ga, f enomena lain yang menunj ukkan kreat ivit as masyarakat Lamaholot dalam meng-konst ruksi model penyelesaian kasus kriminal secara damai adalah “ per adi l an ber basi s har -moni ver si campur an” . Model ini t ampil dalam dua varian model peradilan yang merupakan campuran ant ara peradilan adat dengan me-kanisme penyelesaian oleh pemerint ahan mo-dern (RT, RW, Kepala Desa).

Konst ruksi yang demikian bisa saj a t er-j adi sebagai konsekuensi logis dari semakin mendominasinya sist em pemerint ahan modern sej ak diberlakukan undang-undang No. 5 Tahun

1974 t ent ang Pokok-Pokok Pemerint ahan di Daerah. Gambaran t ent ang pola peradilan cam-puran ini sekaligus menunj ukkan bahwa t ernya-t a sudah ada unsur baru (unsur lain) yang digu-nakan dalam proses penyelesaian kasus krimi-nal. Dalam kasus-kasus t ert ent u aparat peme-rint ahan desa (modern) sepert i: RT (Rukun Te-t angga), seperTe-t i RW (Rukun Warga), Dusun, Ke-pala Desa ikut dilibat kan dalam proses penyele-saiannya. Bahkan, di sej umlah desa dit emukan adanya perat uran desa yang mengat ur t ent ang t at a cara penyelesaian kasus-kasus sengket a, t ermasuk kasus-kasus kriminal besert a pedom-an penet appedom-an spedom-anksi-spedom-anksi desa.

Hasil t emuan sebagaimana dideskripsikan pada bagian-bagian t erdahulu memperlihat kan adanya “ varian-varian f orum penyelesaian ka-sus kriminal” . Tampak bahwa dari penelit ian yang dilakukan secara t erbat as di kawasan bu-daya Lamaholot saj a, dit emukan adanya kera-gaman cara yang dit empuh oleh masyarakat La-maholot unt uk menyelesaikan kasus kriminal yang dihadapi. It u berart i, dapat lah dibayang-kan bahwa dalam kont eks Indonesia adibayang-kan t am-pil begit u beragamnya f orum penyelesaian sengket a yang dikonst ruksikan oleh masyarakat di seluruh belahan Indonesia dengan mengikut i pola budayanya masing-masing.

Realit as yang demikian membenarkan t e-sis Sat j ipt o Rahardj o,14 bahwa f orum peradilan negara yang disiapkan oleh negara bukan sat u-sat unya f orum bagi masyarakat unt uk menyele-saikan kasus sengket a yang dihadapi. Opt ik so-sio-ant ropologis j ust eru memperlihat kan begit u banyak f orum yang bisa dipakai oleh masyara-kat unt uk menemukan keadilan dan kebenaran.

Keut amaan Peradilan berbasis Harmoni

Pola peradilan berbasis harmoni yang di-konst ruksikan oleh masyarakat Lamaholot de-ngan memadukan inst it usi adat mel a sar e da-lam penyelesaian kasus kriminal it u sesungguh-nya berorient asi kepada upaya unt uk

memba-ngun harmoni at au keseimbangan dalam

kon-t eks yang lebih luas, baik harmonisasi dalam lingkungan sosial secara keseluruhan maupun

14 Sat j i pt o Rahar dj o, 1991, Il mu Hukum. Bandung: Cit r a

(7)

harmonisasi secara personal ant ara para pihak yang bert ikai. Bahkan, proses penyelesaian ka-sus kriminal it u pun memiliki aspek religiust ias unt uk membangun harmonisasi secara vert ikal ant ara manusia dengan Sang Ilahi. Singkat nya, Inst it usi adat mel a sar e merupakan sarana penghubung unt uk menghant ar para pihak yang bert ikai beralih dari dunia penuh konf lik menu-j u dunia penuh bahagia, aman dan damai.

Oleh karena proses rekonsiliasi yang dij a-lankan oleh masyarakat Lamaholot it u j uga se-cara religius-magis dengan mengikut sert akan Dewa Rer awul an Tanaekan dan para Leluhur Ama Opo Koda Kewokot, maka proses rekon-siliasi yang dilaksanakan it u memiliki daya ikat yang sangat kuat ant ara para pihak yang bert i-kai. Kekuat an daya ikat dari proses peradilan berbasis harmoni it u sangat diresapi oleh ma-syarakat Lamaholot yang menj alaninya, sehing-ga hubunsehing-gan sosial di ant ara mereka pasca-rekonsiliasi benar-benar berada dalam suasana baru, yait u suasana penuh bahagia, aman dan damai. Suasana bat in dan suasana kehidupan sosial pasca-rekonsiliasi memang sungguh ber-beda dengan suasana sebelumnya, karena su-dah t idak ada lagi “ sekat pemisah” berupa ke-net un bewot enen (pemut usan hubungan secara adat ) yang melarang para pihak unt uk mem-bangun relasi sosial dalam bent uk apapun.

Bagi masyarakat Lamaholot , proses re-konsiliasi merupakan salah sat u bagian dari pro-ses penyelesaian sengket a yang sangat menen-t ukan masa depan para pihak. Menyadari akan hal ini, dalam berbagai kasus yang berhasil di-himpun di lokasi penelit ian menunj ukkan bah-wa inst it usi rekonsiliasi mel a sar e at au t apan hol o it u merupakan bagian dari proses hukum yang dilakukan secara adat . Bahkan, konsep rekonsiliasi yang dipahami oleh masyarakat La-maholot t idak sekedar rekonsiliasi individual, melainkan j uga rekonsiliasi dalam art ian yang lebih luas meliput i: berdamai dengan lingkung-an sosial (l ewot ana), berdamai dengan Sang Dewa Rer awul an Tanaekan, dan berdamai de-ngan Leluhur Ama Opo Koda Kewokot.

Persoalannya sekarang adalah apakah po-la-pola peradilan berbasis harmoni yang dikons-t ruksikan idikons-t u mampu membangun relasi sosial

para pihak ke arah yang lebih baik? Pert anyaan penunt un ini menunt ut unt uk dicari t ahu lebih j auh t ent ang bagaimana proses menuj u per-damaian yang berlangsung dalam wadah pera-dilan berbasis harmoni. Hal ini secara t ersirat akan menj elaskan t ent ang bagaimana masyara-kat Lamaholot berusaha unt uk menat a suat u kehidupan dalam dunia yang penuh konf lik me-nuj u sebuah dunia baru yang penuh damai me-lalui wadah peradilan berbasis harmoni.

Ket ika suat u kasus kriminal t erj adi dan berdampak pada t ercipt anya sit uasi sosial yang penuh konf lik, maka saluran hukum yang dit em-puh adalah bervariasi, baik melalui f orum per-adilan adat , perper-adilan negara maupun peradil-an campurperadil-an. Forum-f orum peradilperadil-an t ersebut , t idak hanya mengadili dan menj at uhkan pidana bagi para pelakunya, melainkan dapat membu-ka ruang yang lebih luas unt uk membangun kembali dunia sosial yang rusak dan menghan-t ar para pihak (pelaku, korban, keluarga) sermenghan-t a masyarakat secara keseluruhan menuj u dunia yang penuh bahagia, aman, damai dan sej ah-t era.

Inst it usi yang dipakai unt uk memperbaiki dunia sosial yang penuh konf lik menuj u dunia penuh bahagia it u adalah inst it usi adat perdamaian mel a sar e at au t apan hol o. Taha-pan-t ahapan rit ual adat yang berlangsung da-lam inst it usi adat perdamaian mel a sar eka it u bolehlah dipandang sebagai “ t angga” yang ha-rus digunakan oleh lembaga peradilan unt uk menyelesaikan kasus-kasus kriminal secara

da-mai.15 Dalam pandangan yang lebih umum

“ t angga perdamaian” t ersebut berf ungsi unt uk menghubungkan dua dunia dengan kondisi dan sit uasinya yang amat berbeda at au bert olak belakang. Dunia yang pert ama adalah “ dunia yang penuh dengan konf lik”, yakni dunia di ma-na selalu t erj adi pert ikaian, peperangan, pem-bunuhan, penganiayaan, dan kasus-kasus krimi-nal lainnya. Sebaliknya, dunia yang kedua ada-lah “ dunia yang aman dan damai”, yakni dunia di mana masyarakat hidup dengan aman dan

15 Tahapan-t ahapan r it ual adat t ersebut , menurut

masya-rakat Lamahol ot merupakan suat u keharusan unt uk dil aksanakan, karena kal au t idak maka rel asi sosi al di ant ar a par a pihak yang bert ikai masih t et ap t erput us

(8)

damai t anpa ada permusuhan, t anpa ada keke-rasan dan perang, t anpa ada penipuan, korupsi, dan lain sebagainya.

Proses rit ual adat perdamaian mel a sar e yang harus dilaksanakan unt uk mebangun kem-bali relasi sosial para pihak adalah pert ama-t ama dimulai dengan melaksanakan riama-t us adaama-t get un l i ko pet i n pepa, yakni t ahapan rit ual adat unt uk mempert egas garis pemisah ant ara pihak pelaku t indak kriminal dengan pihak kor-ban. Secara adat relasi sosial kedua belah pihak dibat asi, dan sekaligus digunakan oleh kedua belah pihak unt uk merenungkan kembali secara lebih t enang t ent ang kebenaran dari perist iwa it u. Selama masa ini pun pihak mediat or adat (l ei r ar an) mulai bekerj a unt uk mempert emu-kan kedua belah pihak agar bisa berdamai kem-bali. Kedua t ahapan rit ual t ersebut merupakan t ahapan awal menuj u perdamaian (pra-perda-maian).

Apabila usaha mediat or adat ini berhasil, maka kedua belah pihak lalu memasuki t ahapan rit ual adat berikut , yait u uku l oyak gat u gat an unt uk merekonst ruksi kebenaran melalui pem-bicaraan t erbuka ant ara kedua belah pihak de-ngan dipandu oleh At amua Rer awul an Al apen sebagai wakil Dewa di dunia. Peran At amua Re-r awul an Al apen dalam hal ini sangat besar art i-nya, t erut ama unt uk menent ukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh kedua belah pi-hak.16 Set elah masing-masing pihak menget ahui dan menyadari kesalahan-kesalahannya maka kedua belah pihak biasanya saling memaaf kan.

Rit ual adat selanj ut nya adalah haput el e ki r i n, yakni menghapus kesalahan-kesalahan yang sudah t erident if ikasikan t ersebut oleh At amua Rer awul an Al apen. Ket ika segala kesa-lahan para pihak dihapuskan secara adat , maka dengan sendirinya sudah t idak ada lagi beban adat yang menghalangi para pihak unt uk berda-mai. Para pihak dengan suasana bat in yang ber-sih dan dengan semangat yang baru mulai me-masuki t ahapan t erakhir dari rit ual adat perda-maian mel a sar e sebagai sarana menuj u dunia

16 Dal am menent ukan kesal ahan-kesal ahan par a pihak,

At amua Rer aw ul an Al apen biasanya di dampingi at au di

-bant u ol eh seorang Tabib Adat (At a Mol an) yang memi -l iki kemampuan khusus unt uk menent ukan kesa-l ahan seseor ang.

baru yang diidealkan sebagai “ dunia penuh aman dan damai” .17

Sekalipun masih sangat t radisional dan penuh dengan unsur religius-magis, namun apa yang dilakukan oleh masyarakat Lamaholot it u meru-pakan inf ormasi yang sangat berharga da-lam menat a kembali kelembagaan peradilan di negeri ini ke arah yang lebih baik, t erut ama ba-gi masyarakat Lamaholot yang menj adi f okus dari st udi ini. Apa yang dilakukan oleh masyara-kat Lamaholot it u bolehlah dipandang sebagai bahan permenungan yang bagus bagi para pem-buat dan peneyelenggara kebij akan peradilan negara unt uk mulai memikirkan kembali orien-t asi peradilan yang selama ini dianuorien-t di Indo-nesia.

Wawasan Teoret ik Peradilan Berbasis Harmo-ni

Pola-pola penyelesaian kasus kriminal (t ermasuk j uga kasus non-kriminal) yang ber-orient asi pada pencipt aan harmoni sebagaima-na dikonst ruksikan oleh masyarakat Lamaholot it u sesungguhnya diprakt ikkan j uga oleh masya-rakat lain di Indonesia. Sekalipun pola-pola yang dikembangkan it u berbeda karena dise-suaikan dengan kont eks sosial dan budaya ma-syarakat set empat , namun kalau dilacak ide dasar yang ingin diwuj udkan maka akan dit e-mukan adanya orient asi yang sama, yait u mem-bangun kembali harmonisasi at au keseimbang-an.

Hal ini dapat dicermat i dari penganut an t erhadap nilai dasar “ harmoni” oleh masyara-kat di daerah lain. Pola pencermat an yang de-mikian didasarkan pada pert imbangan, bahwa nilai-nilai budaya – t ermasuk nilai harmoni – merupakan aspek kognit if yang membent uk po-la pikir dan popo-la peripo-laku seseorang at au seke-lompok orang dalam kehidupan sehari-hari, Apabila diket ahui bahwa masyarakat t ersebut memiliki nilai harmonisasi, maka pola-pola yang dipakai dalam menyelesaikan kasus sengket a

17 Sebagai si mbol par a pihak disat ukan kembal i dal am sat u

(9)

yang dihadapi pun diyakini akan ikut t erpola oleh nilai harmonisasi t ersebut .18

Beberapa riset yang dilakukan di bebera-pa daerah di Indonesia menunj ukkan bahwa ni-lai harmonisasi sangat menyemangat i proses penyelesaian sengket a pada umumnya. Bebera-pa di ant aranya adalah yang diprakt ikkan oleh: hal an dalam menyelesaikan set iap sengket a;21 (d) masyarakat di Flores sepert i di Manggarai berbasis harmoni, namun j ika dilihat dari aspek subst ansi at au muat an yang dihasilkan dari pro-ses-proses penyelesaian sengket a, maka t am-pak bahwa konsep t ent ang peradilan berbasis harmoni bukan merupakan sesuat u yang khas dan hanya dimiliki oleh masyarakat Lamaholot . Jiwa dan semangat dari peradilan yang sarat dengan nilai harmoni t ersebut dapat dit emukan di semua daerah di Indonesia.

Sekalipun t erdapat semangat yang sama, namun pola-pola peradilan berbasis harmoni yang dikonst ruksikan oleh masyarakat di ma-sing-masing daerah j elas akan berbeda-beda, karena sangat t ergant ung pada kont eks sosial dan pandangan dunia dari masyarakat yang ber-sangkut an. Kont eks sosial dan pandangan du-nialah yang membuat pola peradilan berbasis harmoni versi Lamaholot berbeda dengan yang dikonst ruksikan oleh masyarakat lain.

Dari pelacakan lebih j auh t erhadap t at a-nan hukum yang dikonst ruksikan oleh masyara-kat di Jepang misalnya, t ernyat a orient asi yang ingin dit uj u dari sebuah proses hukum adalah sama, yakni berusaha membangun kembali har-monisasi at au keseimbangan dalam kont eks yang lebih luas. Semangat harmonisasi yang di-t ampilkan oleh masyarakadi-t Jepang dalam di-t adi-t a-nan hukumnya it u sesungguhnya disemangat i oleh konsep hidup amaer u, yakni konsep hidup yang berusaha unt uk meraj ut kehidupan yang penuh bahagia dalam suasana kebersamaan.

Pada t at aran t eoret ik, dat a hasil st udi yang dit emukan dari masyarakat Lamaholot it u t ernyat a memiliki seperangkat konsep t eoret ik yang merupakan dasar bagi peradilan berbasis harmoni, yakni konsep kriminalit as, peradilan (pidana), rekonsiliasi, kebenaran dan keadilan, dan konsep harmonisasi. Apabila sekalian kon-sep t eoret ik t ersebut dihubung-hubungkan an-t ara saan-t u dengan yang lain, maka akan

24 Hil man Hadikusuma, 1989, Per adi l an di Indonesi a.

(10)

kan sej umlah proposisi (pernyat aan t eoret ik), yang kebenarannya dapat dipert anggungj awab-kan secara ilmiah. Per t ama, munculnya t indak kriminal at au kasus sengket a pada umumnya akan mengakibat kan chaos at au ket idakt erat ur-an yur-ang menggur-anggu keharmonisur-an kehidupur-an sosial; kedua, j alinan ant ara peradilan at au po-la-pola penyelesaian sengket a pada umumnya dengan proses rekonsiliasi akan membant u pi-hak-pihak yang bert ikai unt uk menghilangkan khaos dan sekaligus menghant ar mereka menu-j u t at anan kehidupan sosial yang harmonis; ket i ga, harmonisasi t at anan kehidupan sosial yang diupayakan melalui proses peradilan ber-basis harmoni it u t idak hanya dikembangkan at au diusahakan secara individual (ant ara para pihak), melainkan dalam t at anan kehidupan so-sial secara menyeluruh dalam sebuah komuni-t as; keempat, harmonisasi yang diupayakan melalui peradilan berbasis harmoni dimaksud-kan j uga unt uk memperbaiki kembali sekaligus memperbaharui relasi ant ara manusia dengan Yang Ilahi; kel ima, seluruh proses hukum yang berlangsung dalam f orum peradilan berbasis harmoni berada di bawah t unt anan dan kont rol kekuat an sosial (kekuat an duniawi) maupun ke-kuat an adikodrat i (keke-kuat an Ilahi); keenam, ke-benaran, keadilan, dan rekonsiliasi yang diupa-yakan melalui proses peradilan merupakan kun-ci bagi para pihak dan masyarakat secara kese-luruhan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis; dan ket uj uh, harmonisasi kehi-dupan sosial yang dibangun melalui proses per-adilan berbasis harmoni it u t idak hanya dimak-sudkan unt uk membangun keselarasan secara horisont al dalam kehidupan nyat a (kehi-dupan duniawi), melainkan j uga membangun kesela-rasan hubungan secara vert ikal dengan Sang Ilahi.

Harmonisasi kehidupan sosial yang diba-ngun melalui peradilan berbasis harmoni Dalam t at aran yang paling abst rak, sesunnggunya dile-t akkan di adile-t as dasar dile-t eoredile-t ik yang kokoh yang disebut t eori hukum “ mel a sar e”, yakni t eori hukum yang lebih mengut amakan keselarasan at au keharmonisan dalam t iga dimensi (dimensi individual, sosial dan imanen).

Mencermat i karakt erist ik t eori hukum “ mel a sar e” yang menj adi landasan bekerj anya peradilan berbasis harmoni, t ampak adanya ke-sej aj arannya dengan t eori (hukum) “ kosmovi-sion” , yakni t eori (hukum) yang berorient asi pada keselarasan kosmos secara t ot al. Teori peradilan yang demikian j elas akan menopang proses peradilan yang berusaha unt uk mem-bangun keseimbangan kosmos besert a seluruh isinya. Peradilan yang dibangun di at as landas-an t eori t ersebut , t idak hlandas-anya memikirklandas-an na-sib pelaku at au korban t indak kriminal secara individual, melainkan memikirkan keseimbang-an lingkungkeseimbang-an sosial secara keseluruhkeseimbang-an, dkeseimbang-an keselarasan hubungan dengan Sang Ilahi.

Kerangka t eoret ik yang demikian it u pun t ampaknya sej alan dengan pandangan Filsaf at Timur pada umumnya yang lebih bersif at sot e-reologis (soot er i a art inya keselamat an). Filsa-f at Timur lebih menaruh perhat iannya kepada upaya unt uk mencapai keselamat an dengan melepaskan diri dari ikat an dunia ini, dan j alan unt uk menuj u keselamat an it u bersif at religius dan askese.25 Pandangan yang sepert i it u pula-lah yang mungkin mendorong pula-lahirnya pola-pola perilaku ekspresif masyarakat Lamaholot dalam mengkonst ruksi pola-pola penyelesaian sengke-t a dan proses-proses rekonsiliasi yang sarasengke-t de-ngan nilai-nilai religiusit as.

Apabila pandangan sot ereologis it u dihu-bungkan dengan dunia peradilan (pidana), ma-ka dapat lah dima-kat ama-kan bahwa peradilan yang baik at au peradilan yang benar ialah peradilan yang mampu menyelamat kan. Proses-proses yang berlangsung dalam suat u sist em peradilan (pidana) harus mampu menghant ar semua pihak yang t erlibat secara langsung dalam proses pe-radilan pidana (pelaku dan korban besert a ke-luarganya masing-masing), dan seluruh warga masyarakat secara keseluruhan menuj u kesela-mat an (soot er i a). Keselamat an yang diusahakan melalui proses peradilan (pidana) adalah “

25 Hasrat unt uk menuj u per adil an yang menyel amat kan

(11)

bahagiaan sej at i” . Kebahagiaan sej at i dalam pandangan Buddhisme, misalnya, dapat t erwu-j ud ket ika seseorang mencapai “ Nirvana” (pe-niadaan at au kekosongan t ot al). Pe(pe-niadaan at au kekosongan t ot al yang dimaksudkan di sini adalah peniadaan penderit aan-penderit aan, ke-put usasaan, penyakit , dan kesedihan selama hi-dup. Melalui meniadaan penderit aan-penderi-t aan semacam iaan-penderi-t u maka muncullah kemudian ket e-nangan dan kedamaian (absolut ).26

Memang apa yang berlangsung dalam se-buah proses hukum t idak akan mungkin meng-gapai kebahagiaan sej at i sebagaimana yang di-idealkan oleh para penganut Buddhisme, namun dengan berlandaskan pada t eori hukum kosmo-vision, lembaga peradilan semakin menemukan semangat nya unt uk memperbarui at au mende-konst ruksi orient asinya menuj u harmonisasi secara ut uh. Kalau selama ini pikiran kalangan yuris hanya t erpusat pada upaya-upaya unt uk menemukan kebenaran dan keadilan, maka su-dah saat nya berpikir lebih maj u lagi unt uk membangun harmonisasi secara ut uh. Dengan demikian, proses-proses rekonsiliasi yang sela-ma ini diupayakan dipandang sebagai bukan ba-gian dari proses hukum, melainkan merupakan sat u kesat uan yang t idak bisa dipisahkan begit u saj a dari sebuah proses hukum secara keselu-ruhan.

Masuknya dimensi imanen at au spirit uali-t as ke dalam bangunan uali-t eori hukum seperuali-t i ini mengisyarat kan bahwa sist em at au t eori hukum yang sesungguhnya diidealkan t idak lagi bersf at sekuler, melainkan bersibersf at holist ik yang t i-dak memisahkan hukum dari aspek spirit ualit as at au moralit as keagamaan. Karakt erist ik t at an-an hukum yan-ang bersif at holist ik it u, oleh Owen Haley, diindet if ikasikan sebagai sebuah prinsip f undament al yang membedakan t radisi-t radisi hukum Asia Timur dengan yang berlaku di Ero-pa. Dari “ Kit ab Hammurabi” sampai “ Hindu Dharmais” , misalnya, t ersirat bahwa semula undang-undang yang dibuat secara eksplisit mencant umkan “ sumber Ilahi” sebagai pedom-an bagi para pembuat dpedom-an penegak hukum. Demikian pula dalam konsep agama Yahudi j uga

26 Adel bert Snij ders, i bi d., 2006, hl m. 44-45.

t idak memisahkan secara t egas ant ara Tuhan sebagai pemberi hukum dan hakim sebagai pe-laksana hukum, dan dengan demikian hukum it u sendiri merupakan sebuah ekspresi dari norma-norma agama dan sosial yang mengat ur hubungan ant ara Tuhan dengan manusia, dan ant ara manusia di dalam masyarakat .27

St oic sebagaimana dikut ip oleh Schiller menyat akan, bahwa para pembuat hukum Yu-nani dan romawi kuno t elah mengenal sebuah “ hukum alam” yang berakar dalam kepercayaan akan adanya agama, dan dari sanalah konsep keadilan muncul sebagai seperangkat st andar kej uj uran yang berlaku secara universal. Oleh karena it u pulalah almahrum Ulpianus, seorang yurist Romawi, selalu mengingat kan, bahwa “ orang yang ingin mempelaj ari hukum harus pert ama-t ama menget ahui dari mana nama “ i us” (hukum) it u berasal. Sekarang, nama it u diambil dari kat a i ust i t i a yang oleh Celsus dide-f inisikan secara baik sebagai seni dari kebaikan dan kej uj uran (ar s boni et aequl)” .28 Bert olak dari pandangan yang demikian it u, maka apa yang diupayakan melalui peradilan berbasis harmoni j elas t idak t erlepas dari aspek imanen, karena selalu mendapat t unt unan dari Sang Ilahi.

Penut up : Beberapa Implikasi

Hasil kaj ian sebagaimana diuraikan di at as secara langsung maupun t idak langsung berimplikasi kepada kehidupan hukum pada t a-t aran a-t eorea-t ik maupun pada a-t aa-t aran praka-t is. Per t ama, pada t at aran t eoret ik hasil st udi ini berimplikasi pada kerangka pemikiran t eoret ik yang selama ini dikembangkan dalam peradilan pidana yang lebih berorient asi kepada penet ap-an kesalahap-an dap-an penghukumap-an (pemidap-anaap-an). Memang t idak ada salahnya kalau dalam sebuah proses peradilan pidana diorient asikan unt uk mencari orang at au kelompok orang guna mem-pert anggungj awabkan suat u perist iwa pidana yang t erj adi, t et api yang paling pent ing j uga

27 John Owen Hal ey, 1991, Aut hor i t y Wi t hout Power : Law

and Japanese Par adox, New York: Oxf ord Universit y

Press, Hl m. 24.

28 Pendapat St oi c t er sebut dikut ip ol eh A. Art hur Schil l er,

(12)

adalah bagaimana agar relasi sosial dari para pihak yang t erlibat dalam kasus kriminal t erse-but dapat dipulihkan kembali dalam lingkup so-sial yang lebih besar.

Peradilan pidana di Indonesia memang sudah mulai memikirkan masalah perlindungan korban, t erut ama dalam hal pemberian gant i rugi at au kompensasi, namun relasi sosial da-lam kont eks yang lebih besar perlu mendapat perhat ian serius. Hal ini menj adi pent ing, kare-na baik pelaku maupun korban t idak akan per-nah menghidarkan diri dari kehidupan sosial dalam komunit asnya. Oleh karena it u, harmoni-sasi sosial sangat perlu dibangun kembali agar para pihak yang bert ikai dapat kembali ke ling-kungan sosialnya secara aman dan damai.

Pada t at aran t eoret ik ini pula t emuan st udi ini secara t idak langsung memperkuat ar-gument asi para pengerit ik t eori soci al def ence -nya Marc Ancel, yang berusaha memasukan as-pek “ pemulihan keseimbangan sosial” dalam kebij akan kriminal. Jika dicermat i t eori soci al def ence yang digagas oleh Marc Ancel lebih me-ngut amakan kepent ingan-kepent ingan secara individual dalam lingkup pelaku dan korban t in-dak kriminal, maka peradilan berbasis harmoni yang dikembangkan ini memiliki landasan pij ak yang j ust ru lebih luas, mencakup harmonisasi dalam lingkup kehidupan sosial secara t ot al. Wawasan peradilan berbasis harmoni yang de-mikian it u sebagai konsekuensi logis dari t eori hukum “ mela sare” at au kosmovision yang lebih mengedepankan keselarahan dalam sebuah kos-mologi sosial.

Kedua, apabila t emuan t eoret ik dalam st udi ini dit arik masuk ke dalam ranah praksis maka j elas akan memberikan beberapa impli-kasi t erhadap kebij akan peradilan pada umum-nya, t erut ama berkait an dengan pola dan pro-sedur peradilan pidana di Indonesia. Temuan dari st udi ini akan merombak at au mendekons-t ruksi sismendekons-t em peradilan pada umumnya, mendekons-t erumendekons-t a-ma sist em peradilan pidana (SPP). Apabila a- ma-salah rekonsiliasi dimasukan sebagai bagian in-t egral dari sebuah proses peradilan (pidana), maka diperlukan sebuah t ahapan baru dalam sist em peradilan (pidana), yakni t ahapan

rekon-siliasi unt uk membangun kembali relasi sosial para pihak yang bert ikai.

Apabila peradilan berbasis harmoni di-angkat dan dilembagakan dalam sebuah proses peradilan pada t at aran yang lebih luas dalam kont eks Indonesia yang sangat beragam aspek sosio-kult uralnya ini, maka langkah it u harus di-t unj ang pula oleh polidi-t ik hukum yang bersif adi-t “ mult i-sent ralist ik” . Polit ik hukum yang demiki-an it u akdemiki-an memungkinkdemiki-an masing-masing dae-rah memiliki kebebasan unt uk menat a dan ngembangkan peradilan rekonsiliat if versi me-reka dengan memanf aat kan secara maksimal kearif an-kearif an lokal milik mereka. Implikasi t emuan t ersebut mengisyarat kan bahwa peran-peran adat (t ermasuk menj alankan kewaj iban adat dan perdamaian adat ) t idak bisa direduksi begit u saj a menj adi peran-peran yang dij alan-kan oleh aparat penegak hukum f ormal dalam sist em peradilan pidana. Apabila inst it usi adat perdamaian mel a sar e dit arik masuk sebagai bagian dari sist em peradilan (pidana) unt uk di-t erapkan di Lamaholodi-t , maka hal ini akan ber-konsekuensi pada ket erlibat an f ungsionaris adat dalam proses penyelesaian kasus kriminal unt uk memf ungsionalkan inst it usi adat perdamaian.

Daft ar Pust aka

Achdiat , Ant o. “ Penyelesaian Sengket a dan Hancurnya Hubungan Kekerabat an: Kasus Sengket a Tanah pada Masyarakat Rut eng di Kabupat en Manggarai, Flores Barat , Nusa Tenggara Timur” dalam T. O. Ihromi (ed). 1993. Ant r opol ogi Hukum, Sebuah Bunga Rampai. Jakart a: Obor Indonesia; Haley, John Owen. 1991. Aut hor i t y Wi t hout

Power : Law and Japanese Par adox, New York: Oxf ord Universit y Press;

Hilman Hadikusuma. 1989. Per adi l an di Indo-nesi a. Jakart a: CV. Miswar;

Kopong Medan, Karolus, dkk. 2002 & 2004. Pe-ngembangan Pol a Per adi l an Semi -ot onom Menur ut Budaya Lokal Lamahol ot di Flo-r es, PFlo-r ovinsi Nusa TenggaFlo-r a TimuFlo-r. La-poran Riset Unggulan Kemasyarakat an dan Kemanusiaan (RUKK) III, Kerj asama Kant or Kement erian Riset dan Teknologi, LIPI, dan Lemlit Undana, Kupang;

(13)

Tanah di Nusa Tenggar a Ti mur . Laporan Hasil St udi. Kupang: Kerj asama BAPPEDA NTT & Laborat orium Hukum FH Undana; Mert okusumo, Sudikno, 1983. Sej ar ah Per adi l an

dan Per undang-undangannya di Indonesi a dan Apakah Kemanf aat annya bagi Ki t a Bangsa Indonesi a. Yogyakart a: UGM, Cet akan II;

Munir, Mochamad. 1996. Eksi st ensi Pengadi l an Neger i Sebagai Lembaga For mal unt uk Penyelesai an Sengket a dal am Masyar a-kat : St udi Sosio-hukum yang Ber kait an dengan Penyel esai an Sengket a Tanah di Kabupat en Bengkal an Madur a. Disert asi Dokt or Ilmu Hukum, Surabaya: Program Pascasarj ana Universit as Airlangga; Nawawi Arief , Barda. Beber apa Aspek

Pengem-bangan Il mu Hukum Pi dana: Menyongsong Gener asi Bar u Hukum Pi dana Indonesia. Pidat o Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hukum, Semarang: Fakult as Hukum Undip, 25 Juni 1994;

Rahardj o, Sat j ipt o. Il mu Hukum. Bandung: Cit -ra Adit ya Bakt i, 1991;

Raj a, Blasius. 2002. Tur a Jaj i : Per j anj i an Adat sebagai Pedoman Kohesif dal am Membi na Kehi dupan Sosi al Masyar akat Suku Li o di Fl or es. Laporan Hasil Riset Unggulan Ke-masyarakat an dan Kemanusiaan (RUKK) III Tahun I. Kupang: Kerj asama Kant or Kement erian Riset dan Teknologi – LIPI – Unika Widya Mandira Kupang;

Schiller, A. Art hur. 1978. Roman Law, New York: Mout on Publisher;

Snij ders, Adelbert . 2006. Manusi a dan Kebenar -an: Sebuah Fi l saf at Penget ahuan. Yogya-kart a: Penerbit Kanisius;

Soepomo, R. 1977. Bab Bab t ent ang Hukum Adat di Kemudi an Har i. Jakart a: Pradnya Paramit a;

Sri Ut ari, Indah. 2004. Makna Sosi al Hukum Ba-gi Masyar akat Pet ani dan Nel ayan di Tu-ban: Kaj i an t ent ang Al asan Sosi al dal am Memi l i h at au Ti dak Memi l i h Pengadi l an Sebagai For um Penyelesai an Sengket a Tanah. Disert asi Dokt or Ilmu Hukum, Semarang: PDIH Universit as Diponegoro, Tanya Bernard L. 2000. Beban Budaya Lokal

Menghadapi Hukum Negar a: Anal i si s Bu-daya At as Kesul i t an Sosi o-kul t ur al Or ang Sabu Menghadapi Regul asi Negar a. Diser-t asi DokDiser-t or Ilmu Hukum, Semarang: PDIH Undip;

Ter Haar. B. 1981. Azas-Azas dan Sususnan Hu-kum Adat. , edisi t erj emahan oleh K. Ng. Soebakt i Poesponot o, Jakart a: Pradnya Paramit a;

Tresna, R. 1957. Per adi l an di Indonesi a dar i Abad ke Abad. Amst erdam-Jakart a: W. Versluys N. V;

Referensi

Dokumen terkait