• Tidak ada hasil yang ditemukan

REALISASI PENDAPATAN NEGARA SEMESTER I 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "REALISASI PENDAPATAN NEGARA SEMESTER I 2012"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN – SETJEN DPR-RI | 1

REALISASI PENDAPATAN NEGARA SEMESTER I 2012

Penerimaan Perpajakan Dalam Semester I Tahun 2012

• Realisasi penerimaan perpajakan sampai dengan semester I 2012 mencapai

Rp456.774,0 miliar, atau 44,9 persen dari target dalam APBN-P 2012, yang berarti lebih tinggi dari pencapaiannya dalam semester I 2011 yang sebesar 44,1 persen dari target APBN-P 2011.

• Berdasarkan komposisinya, 94,6 persen dari penerimaan perpajakan berasal dari penerimaan pajak dalam negeri, yang sampai dengan Juni 2012 mencapai Rp432.177,7 miliar. Sementara itu, penerimaan pajak perdagangan internasional mencapai Rp24.596,3 miliar, atau 5,4 persen dari total penerimaan perpajakan. Perkembangan penerimaan perpajakan pada semester I tahun 2011–2012 disajikan dalam tabel berikut :

Pajak Penghasilan

- Sampai dengan semester I 2012, realisasi penerimaan PPh mencapai Rp233.567,8 Miliar atau 45,5% dari taget APBN-P 2012. Secara lebih rinci, penerimaan tersebut terdiri atas :

Pph Migas : Rp 34.787,0 Miliar (51,2 %) Pph Non Migas : Rp198.780,9 Miliar (44,6%)

(2)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN – SETJEN DPR-RI | 2 Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM)

• Realisasi PPN dan PPnBM sampai dengan semester I 2012 mencapai Rp149.661,4 miliar atau 44,5 persen dari target APBN-P 2012, yang berarti meningkat bila dibandingkan dengan kondisinya dalam periode yang sama tahun 2011 sebesar 37,7 persen terhadap targetnya dalam APBN-P 2011. Penerimaan PPN dan PPnBM tersebut terdiri atas PPN dan PPnBM Dalam Negeri (PPN dan PPnBM DN) sebesar Rp84.642,5 miliar, dan PPN dan PPnBM Impor sebesar Rp65.018,9 miliar. Kondisi tersebut terutama didukung oleh penerimaan PPN dan PPnBM impor yang mengalami kenaikan sebesar 20,8 persen. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya realisasi impor.

• Sementara itu, pencapaian PPN dan PPnBM dalam negeri mengalami kenaikan 36,7 persen bila dibandingkan dengan realisasi semester I tahun 2011. Kenaikan tersebut didukung oleh tetap terjaganya konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang sampai dengan triwulan I 2012 mengalami pertumbuhan dan masing-masing sebesar 4,9 persen dan 5,9 persen.

Pajak Bumi dan Bangunan

• Sampai dengan semester I 2012 realisasi penerimaan PBB mencapai Rp2.296,5 miliar atau 7,7 persen dari target APBN-P 2012. Komponen penerimaan PBB terbesar berasal dari sector perkotaan yaitu sebesar Rp1.563,5 miliar. Sementara itu, penerimaan PBB sektor pedesaan adalah sebesar Rp369,1 miliar, sector pertambangan sebesar Rp254,8 miliar, dan selebihnya Rp109,1 miliar merupakan penerimaan dari sektor perkebunan dan sector kehutanan. Kondisi penerimaan PBB pada semester I 2012 sama dengan semester I 2011 yang mencapai 7,7 persen terhadap targetnya.

Cukai

• Penerimaan cukai sampai dengan semester I 2012 mencapai Rp44.545,3 miliar atau

53,5

persen dari target APBN-P 2012. Kondisi tersebut lebih baik dari kondisi semester I 2011

yang hanya mencapai 51,1 persen dari target APBN-P 2011. Dari total penerimaan Rp44.545,3 miliar tersebut, penerimaan cukai tembakau mencapai Rp42.481,3 miliar, dan sisanya Rp2.064,0 miliar merupakan penerimaan cukai Minuman Mengandung

Ethyl Alkohol (MMEA) dan Ethyl Alkohol (EA), denda administrasi cukai, dan

pendapatan cukai lainnya. Secara lebih rinci, kenaikan tersebut berasal dari penerimaan cukai hasil tembakau, MMEA, dan EA, yang masing-masing, mengalami

(3)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN – SETJEN DPR-RI | 3 peningkatan sebesar 28,3 persen, 21,6 persen dan 40,2 persen. Faktor utama yang mempengaruhi kenaikan penerimaan cukai tersebut di antaranya adalah diterapkannya kebijakan kenaikan tariff cukai tembakau rata-rata 16,3 persen sejak Januari 2012 serta keberhasilan upaya pemberantasan rokok illegal dan cukai palsu. Pajak Lainnya

• Penerimaan pajak lainnya sampai dengan semester I 2012 mencapai Rp2.106,7 miliar, atau 37,4 persen dari target APBN-P 2012. Penerimaan pajak lainnya terutama berasal dari penerimaan penjualan benda materai sebesar Rp1.357,1 miliar. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari penjualan benda materai seiring dengan meningkatnya kegiatan transaksi berdokumen hukum.

Bea Masuk

• Realisasi penerimaan bea masuk sampai dengan semester I 2012 mencapai

Rp13.680,4

miliar atau 55,3 persen dari rencananya dalam APBN-P 2012, yang berarti lebih baik kondisinya dari pencapaian semester I 2011 yang mencapai 54,8 persen dari target APBN-P 2011. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya realisasi nilai impor pada periode Januari-April 2012 yang diperkirakan akan tetap berlanjut hingga semester I tahun 2012, seiring dengan tetap terjaganya kondisi ekonomi makro Indonesia.

Penerimaan Negara Bukan Pajak Semester I Tahun 2012

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terdiri atas penerimaan sumber daya alam (SDA), bagian Pemerintah atas laba BUMN, PNBP lainnya, dan pendapatan badan layanan umum (BLU). Sampai dengan semester I 2012, total PNBP mencapai Rp135.789,0 miliar atau 39,8 persen dari target dalam APBN-P 2012, lebih baik jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2011 yang sebesar 38,2 persen dari targetnya dalam APBN-P 2011. Kondisi tersebut terutama diakibatkan dari lebih tingginya realisasi ICP pada periode Desember 2011–Mei 2012 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, serta penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba BUMN akibat telah selesainya rapat umum pemegang saham (RUPS) pada sebagian besar BUMN.

(4)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN – SETJEN DPR-RI | 4 Penerimaan SDA Migas

• Sebagai penyumbang penerimaan terbesar terhadap PNBP, penerimaan SDA migas dalam semester I 2012 mencapai Rp68.722,4 miliar atau 34,7 persen dari target APBN-P 2012. Dilihat dari komposisinya, penerimaan minyak bumi mencapai Rp47.777,7 miliar atau 31,7 persen dari target APBN-P 2012, sedangkan penerimaan gas bumi mencapai Rp20.944,7 miliar (44,1 persen dari target).

Penerimaan SDA Nonmigas

• Berdasarkan realisasi pada semester I 2012, penerimaan SDA nonmigas mencapai Rp11.255,3 miliar atau 59,7 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012. Sumber utama penerimaan SDA nonmigas tersebut berasal dari penerimaan pertambangan umum Rp9.194,1 miliar dan penerimaan kehutanan Rp1.616,8 miliar. Sementara itu, penerimaan pertambangan panas bumi dan penerimaan perikanan masing-masing mencapai Rp355,2 miliar dan Rp89,2 miliar. Pencapaian penerimaan SDA nonmigas tersebut meningkat bila dibandingkan dengan kondisi dalam periode yang sama tahun 2011 yang mencapai 50,1 persen terhadap target APBN-P 2011. • Secara lebih rinci, realisasi penerimaan pertambangan umum terdiri atas penerimaan

royalti Rp8.993,6 miliar dan iuran tetap Rp200,5 miliar. Pencapaian tersebut terutama didorong peningkatan harga batubara dan lebih tingginya target produksi batubara dalam tahun 2012.

• Selanjutnya hingga akhir Juni 2012, penerimaan kehutanan mencapai Rp1.616,8 miliar atau 52,6 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012. Realisasi penerimaan kehutanan tersebut bersumber dari (1) Iuran hak pengusahaan hutan (IHPH) sebesar Rp74,2 miliar, (2) Provisi sumber daya hutan (PSDH) sebesar Rp596,3 miliar, (3) Dana reboisasi sebesar Rp814,4 miliar, dan (4) penggunaan kawasan hutan sebesar Rp131,9 miliar.

(5)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN – SETJEN DPR-RI | 5

• Sumber penerimaan SDA nonmigas lainnya adalah penerimaan perikanan dan

penerimaan kegiatan usaha pertambangan panas bumi. Sampai dengan Juni 2012, realisasi penerimaan perikanan mencapai Rp89,2 miliar atau 59,4 persen dari targetnya

dalam APBN-P 2012.

• Sementara itu, realisasi PNBP panas bumi dalam periode semester I 2012 mencapai Rp355,2 miliar atau 101,8 persen dari target APBN-P 2012 sebesar Rp348,8 miliar. Kondisi ini jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi pada semester I 2011 yang pencapaiannya hanya sebesar 61,5 persen terhadap target APBN-P 2011. Pencapaian tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan setoran bagian Pemerintah disebabkan oleh Star Energy Geothermal Wayang Windu, Ltd (SEGWWL) mulai menghasilkan setoran bagian Pemerintah, serta adanya penerimaan carbon emission

reduction (CER) dan penurunan biaya drilling dari Chevron Geothermal Indonesia,

Ltd. (CGI). Selain itu, terdapat penundaan kegiatan drilling dari Chevron Geothermal Salak, Ltd. serta peningkatan harga jual uap dari wilayah kerja (WK) Kamojang PT Pertamina Geothermal Energy yang mengakibatkan meningkatnya setoran bagian Pemerintah pada semester I tahun 2012.

Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN

• Realisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN sampai dengan semester I

2012 mencapai Rp14.537,6 miliar atau 47,2 persen dari targetnya dalam APBN-P 2012. Kondisi tersebut lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN pada periode yang sama tahun 2011 yang hanya mencapai 18,0 persen dari target APBN-P 2011. Meningkatnya realisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN tersebut disebabkan karena beberapa BUMN seperti PT Pertamina, PT Telkom, PT PGN, PT Jasa Marga, dan PT Bukit Asam yang menyetorkan dividennya pada semester I, sedangkan pada tahun sebelumnya BUMN tersebut menyetorkan dividennya pada semester II.

PNBP Lainnya

• Sebagai salah satu sumber penerimaan yang berasal dari jasa pelayanan dan pengaturan

yang dilakukan kementerian negara/lembaga (K/L), penjualan hasil tambang, domestic market obligation (DMO) minyak mentah, dan pendapatan lain-lain, realisasi PNBP lainnya sampai dengan semester I 2012 mencapai Rp34.759,0 miliar atau 47,7 persen dari target APBN-P tahun 2012. Kondisi tersebut sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasinya pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 58,4 persen dari targetnya dalam APBN-P 2011.

• Realisasi PNBP lainnya tersebut, sebagian besar berasal dari: (a) pendapatan jasa sebesar Rp11.480,9 miliar atau 33,0 persen dari total realisasi PNBP lainnya; (b) pendapatan bunga sebesar Rp8.123,1 miliar atau 23,4 persen dari total realisasi PNBP lainnya; dan (c) pendapatan dari pengelolaan BMN serta pendapatan dari penjualan sebesar Rp8.206,9 miliar atau 23,6 persen dari total realisasi PNBP lainnya.

(6)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN – SETJEN DPR-RI | 6 Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU)

• Sampai dengan semester I 2012, realisasi BLU mencapai Rp6.514,7 miliar atau 31,9 persen terhadap APBN-P 2012. Pencapaian tersebut masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 23,6 persen dari targetnya. dalam APBN-P 2011. Pendapatan BLU tersebut antara lain berasal dari: (1) pendapatan jasa pendidikan sebesar Rp2.389,3 miliar, (2) pendapatan jasa rumah sakit sebesar Rp2.184,7 miliar, (3) pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi sebesar Rp672,7 miliar, dan (4) pendapatan BLU lainnya sebesar Rp1.268,0 miliar

Referensi

Dokumen terkait

Realisasi Pendapatan untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2021 adalah sebesar Rp 0 atau mencapai 0 persen karena Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan

Pada tahun 2011-2015 terus mengelami penurunan, hanya saja tahun 2016 sudah mengalami kenaikan, bahkan realisasi penerimaan dari laba BUMD hanya mampu mencapai

Kuartal I 2015, perseroan meraup laba bersih sebesar Rp319,80 miliar, lebih rendah sekitar 39,27 persen dibandingkan periode sama tahun sebe- lumnya yang sebesar Rp526,65

Total penerimaan bea dan cukai sampai dengan Triwulan I 2017 sebesar Rp29,63 miliar, mengalami penurunan cukup signifikan mencapai 65,3 persen dibandingkan periode yang

Sebagai informasi, Telkom men- catatkan laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk turun 4,95 persen menjadi Rp10,96 triliun pada 2011

Sebagai informasi, perseroan berhasil mencatatkan kenai- kan laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas (laba bersih) mencapai 107,12 persen pada akhir 2011

Kenaikan laba bersih tersebut disokong pendapatan perseroan yang tercatat mencapai Rp129,80 miliar atau meningkat 18,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya

Sementara itu, dibandingkan dengan pembayaran pada tahun anggaran 2018 - 2020, penerimaan mencapai 100 persen dari target yang telah ditetapkan oleh Bapenda Riau sehingga penerimaan