FINANCIAL PLANNING BAGI IBU-IBU PENERIMA BANTUAN PKH
KEC. BLUTO
1
Agusriyanti Puspitorini, 2Fery Sudarwadi STKIP PGRI Sumenep
ABSTRAK
Masalah kelompok Ibu-ibu penerima bantuan PKH di desa Gilang dan Gingging Kec. Bluto adalah pengelolaan keuangan di mana dijumpai pengeluaran-pengeluaran yang melebihi pemasukan sehingga terjadi defisit keuangan pada akhir bulan atau adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi. Masalah lainnya pada ibu-ibu penerima bantuan PKH, yaitu bantuan yang ditujukan untuk biaya pendidikan dan kesehatan ternyata tidak sepenuhnya digunakan untuk hal itu tetapi digunakan untuk kebutuhan sehari hari. Tujuan yang ingin dicapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah merubah pemikiran masyarakat (khusunya ibu-ibu rumah tangga) agar lebih terarah dalam mengelola keuangan keluarga serta membuka kesadaran tentang pentingnya perencanaan dan pengelolaan keuangan. Metode pelaksanaan dalam IbM ini dilakukan melalui penyuluhan, simulasi dan demonstrasi pelatihan penyusunan rencana anggaran keuangan keluarga, dan evaluasi dan tindak lanjut. Hasil yang diperoleh dari pengabdian ini adalah adanya peningkatan pemahaman pengelolaan ekonomi keluarga, peningkatan kemampuan peserta dalam mengelola ekonomi keluarga, peningkatan pemahaman investasi jangka panjang, peningkatan kemampuan dalam menganalisa pendapatan atau pemasukan keluarga, peningkatan kemampuan dalam menganalisa dan merencanakan kebutuhan pokok dalam rumah tangga, peningkatan pemahaman dalam mengelola hutang dan cicilan, adanya buku pedoman keuangan, buku kas keuangan.
Kata Kunci: financial, planning, bantuan, PKH
1. PENDAHULUAN
1.1. Analisis Situasi
Kesejahteraan masyarakat adalah salah satu tujuan dan cita-cita negara karena masyarakat yang sejahtera, tercukupi kebutuhan hidupnya merupakan salah satu ciri dari bangsa yang maju. Namun untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat tentu bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, butuh usaha dari berbagai pihak baik dari masyarakat itu sendiri ataupun dari pemerintah. Seperti yang telah dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Sosial yang memberikan bantuan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) melalui program PKH. PKH merupakan program keluarga harapan di mana PKH lebih dimaksudkan sebagai upaya membangun sistem perlindungan sosial kepada masyarakat miskin. Adapun tujuan pemerintah dengan adanya PKH, yaitu pengurangan penduduk miskin dan kelaparan, pendidikan dasar, kesetaraan gender, pengurangan angka kematian bayi dan balita, dan pengurangan kematian ibu melahirkan.
Pada pelaksanaan PKH, bantuan akan diberikan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) dan sebagai imbalannya RTSM tersebut diwajibkan untuk menyekolahkan anaknya, melakukan pemeriksaan kesehatan termasuk pemeriksaan gizi dan imunisasi
balita, serta memeriksakan kandungan bagi ibu hamil. Dengan adanya bantuan melalui PKH diharapkan bantuan ini akan membantu mengurangi beban pengeluaran RTSM untuk dalam jangka pendek, sedangkan untuk jangka panjang diharapkan akan memutus rantai kemiskinan antar generasi.
Kemiskinan merupakan masalah yang menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Kemiskinan dapat diartikan sebagai keadaan kekurangan uang, rendahnya tingkat pendapatan dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan adalah dengan memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu atau miskin yang disebut sebagai Bantuan Sosial (Bansos) seperti dana BOS, Jamkesmas, PNPM-Mandiri, Raskin, Bantuan Langsung Tunai dan juga Program Keluarga Harapan.
Bantuan dana PKH menyebar pada semua daerah di seluruh Indonesia termasuk RTSM yang berada di Kec. Bluto. Kecamatan Bluto merupakan kecamatan yang daerahnya merupakan daerah yang memiliki potensi hasil yang cukup besar seperti srikaya, degan, sawu. Selain itu sentra kerajinan seperti batik dan keris juga menjadi keunggulan dari daerah
Bluto. Hasil laut juga menjadi potensi yang dapat dihasilkan oleh masyarakat Bluto seperti rumput laut dan hasil tangkapan ikan. Dengan potensi keunggulan yang dimiliki harusnya masyarakat Bluto mampu menjadi masyarakat yang tingkat kesejahteraannya tinggi. Akan tetapi kenyataan yang sebenarnya, masyarakat Bluto masih banyak masuk dalam data RTSM dan masuk dalam data penerima bantuan PKH. Bantuan PKH yang diberikan oleh pemerintah diharapkan mampu mengatasi kesulitan masyarakat khusunya dalam memberikan pendidikan yang utuh kepada putra-putrinya serta kesehatan yang baik bagi keluarganya. Namun kenyataannya dana yang diberikan oleh pemerintah tidak sedikit yang dipergunakan oleh sebagian keluarga untuk membeli kebutuhan lainnya di luar kebutuhan pendidikan anak-anaknya yakni untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Pada sisi lain, seiring dengan berkembangnya jaman dan derasnya arus globalisasi, menuntut masyarakat harus lebih kreatif dan pandai dalam menemukan peluang dalam ketatnya persaingan ekonomi. Perencanaan yang matang dan usaha yang dilakukukan dituntut lebih giat dan bekerja keras guna meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan keluarga.
Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari membuka usaha secara mandiri maupun kelompok seperti usaha di bidang kuliner, kerajinan, jasa dan usaha-usaha lainnya. Sebesar apapun penghasilan yang didapat namun dengan menajemen yang buruk tentulah berpeluang dalam mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Berdasarkan analisis situasi yang dikemukakan di atas maka dirasa sangat penting untuk mensikapi kesulitan ekonomi dengan pengelolaan ekonomi keluarga yang baik dan mencari usaha alternatif lainnya yang dapat menambah pemasukan keuangan keluarga.
Tidak selamanya kemapanan ekonomi keluarga hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang memiliki penghasilan tinggi. Sebenernya kemapanan ekonomi keluargapun dapat dinikmati oleh siapapun termasuk oleh keluarga yang penghasilannaya rendah atau pas-pasan saja dengan catatan asalkan keluarga tersebut terampil dalam mengelola keuangan yang dimiliki sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sampai jangka panjang. Hal ini yang menjadi permasalahan kedua mitra. Berdasarkan analisis situasi dan
wawancara dengan beberapa penerima bantuan PKH bahwasanya dana yang diterimanya tidak mampu dikelola dengan baik sehingga uang tersebut habis dan tanpa wujud yang berarti.
Kesalahan dalam mengelola keuangan dalam keluarga dapat mengakibatkan pengeluaran dalam rumah tangga akan lebih besar dari pendapatan atau pemasukan sehingga kondisi ini dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal dan masalah bagi dalam keluarga. Kemampuan mengelola keuangan merupakan suatu hal yang penting untuk dimiliki agar hidup lebih terkendali, tidak terbiasa boros dan dapat merencanakan kebutuhan jangka panjang. Dengan demikian ada mainset yang harus tertanam sehingga masyarakat dapat dan mampu menyisihkan pendapatan yang dapat ditabung sebagai bentuk investasi untuk menyiapkan hidup di masa depan agar lebih baik.
Kebiasaan masyarakat Indonesia khusunya masyarakat Madura, pengelolaan keuangan dalam rumah tangga terpusat pada ibu-ibu di mana ibu-ibu yang diberi kewenangan dalam mengatur keuangan rumah tangga dari kebutahan anak, kebutuhan di dapur serta kebutuhan lainnya. Akan tetapi tidak semua ibu-ibu mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik, tidak sedikit dari ibu-ibu rumah tangga yang boros dan tidak memperhitungkan dalam berbelanja, misalnya berbelanja kebutuhan yang tidak menjadi pokok kebutuhan dalam rumah tangga seperti berbelanja baju, tas, sandal atau barang mewah lainnya. Terlebih lagi ketika akan ada hajatan atau pesta pernikahan family atau tetangga, maka kebiasaan hidup berganti-ganti kostum menjadi kebiasaan hidup boros yang tidak berguna. Untuk itu dibutuhkan ilmu dalam perencanaan keuangan keluarga.
1.2. Permasalahan Mitra
Dari analisis situasi di atas, dapat diketahui dan diidentifikasi permasalahan mitra yang dialami. Seperti halnya yang terjadi pada kelompok Ibu-ibu penerima bantuan PKH yang dalam hal ini menjadi mitra dari kegiatan pengabdian ini. Mitra 1 merupakan kelompok ibu-ibu penerima bantuan PKH di desa Gilang Kec. Bluto dan Mitra II adalah kelompok Ibu-ibu penerima bantuan PKH di desa Gingging. Kedua mitra tersebut merupakan kumpulan ibu-ibu rumah tangga penerima bantuan PKH yang selain mengisi kegiatan sehari-harinya dengan melakukan
pengajian atau kegiatan PKK tugas utamanya sebagai istri adalah mengelola semua pendapatan/penerimaan baik penerimaan rutin maupun tidak rutin dan pengeluaran rutin maupun pengeluaran tidak rutin sehari-hari untuk keperluan keluarganya.
Masalah kelompok Ibu-ibu penerima bantuan PKH di desa Gilang dan Gingging yang selalu dibicarakan mengenai pengelolaan keuangan di mana dijumpai pengeluaran-pengeluaran yang melebihi sehingga terjadi defisit keuangan pada akhir bulan atau adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi. Masalah dalam mengatur keuangan keluarga seringkali menjadi penyebab utama perselisihan dalam keluarga. Pada dasarnya, hampir semua orang memiliki arus keuangan yang sama, di mana setiap bulan mereka mendapatkan pemasukan, dan dari pemasukan tersebut mereka mengambilnya untuk membayar pengeluaran-pengeluarannya. Jumlah pemasukan dan pengeluaran itu bisa berbeda-beda pada setiap orang, bergantung pekerjaan dan gaya hidup seseorang. Yang sering menjadi masalah adalah berapapun pemasukan, hal itu tidak menjamin bahwa seseorang bisa mengatur pengeluarannya. Inilah yang menyebabkan seringnya terjadi defisit.
Defisit adalah sumber dari hampir segala masalah keuangan. Dengan adanya defisit, maka lama-lama simpanan akan habis, harta benda akan habis, dan akhirnya berutang yang melebihi kemampuan untuk melunasinya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya permasalahan dalam hidup.
Seperti halnya yang terjadi pada ibu-ibu rumah tangga penerima bantuan PKH di desa Gilang dan Gingging. Ibu-ibu rumah tangga penerima bantuan PKH di desa Gilang menjadi mitra I dan ibu-ibu rumah tangga penerima bantuan PKH di desa Gingging menjadi mitra II dari program pengabdian ini. Adapun permasalahan yang dialami oleh rumah tangga penerima bantuan PKH di dua desa ini adalah kurang produktifnya keluarga dalam mengembangkan kreativitasnya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Bantuan yang mereka terima setiap 3 bulan sekali dengan nominal Rp. 300.000 – Rp 750.000, kurang mampu dikelola dengan baik oleh RTSM penerima bantuan PKH. Hal ini akan menghambat tujuan pemerintah dalam meningkatkan kesejateraan masyarakat dan mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia.
Oleh karena itu pola pemikiran masyarakat harus mampu diarahkan menjadi masyarakat yang kreatif serta mampu dalam mengatur serta merencanakan keuangan dalam rumah tangga sehingga kesejahteraan mereka secara bertahap akan meningkat.
Permasalahan ekonomi yang dihadapi masyarakat pada saat ini semakin beragam dan berat seperti naiknya berbagai harga kebutuhan pokok yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari seperti beras yang sudah mencapai lebih dari Rp.10.000 per kilo gramnya, harga cabe, bahan bakar gas elpiji, gula, minyak goreng yang semakin melambung di pasaran. Naiknya harga-harga tersebut di pasaran tentu mengakibatkan ketidakstabilan pada harga-harga lainnya, terlebih lagi dengan adanya HP tentu menjadi kebutuhan pokok setiap orang yang tidak bisa dihindari lagi. Dengan keadaan dan kondisi ini maka setiap individu atau rumah tangga harus mampu berhemat dan lebih pandai dalam mengelola ekonomi dalam keluarga.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa ibu-ibu yang menjadi mitra dalam pengabdian ini ditemukan beberapa orang ibu rumah tangga yang mengaku mengalami kesulitan dalam merencanakan keuangan rumah tangganya, terlebih kesulitan dalam mengelola hutang dan banyaknya cicilan. Tetapi ada juga sebagian dari ibu-ibu rumah tangga (mitra) mengaku menabung dan berinvestasi rutin setiap bulan, untuk kebutuhan masa depan. Namun sebagian besar dari ibu-ibu belum mampu merencanakan keuangan untuk memenuhi tujuan keuangan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Melalui kegiatan pengabdian inilah digagas adanya kegiatan penyuluhan dan pendampingan mengenai perencanaan keuangan dalam keluarga bagi penerima bantuan PKH yang ada di desa Gilang dan Gingging.
2. METODE PENGABDIAN
Berdasarkan permasalahan mitra yang telah disebutkan di atas, maka tahapan rencana kegiatan yang dilakukan adalah, pertama mengadakan pendekatan dengan pendekatan kepada ibu-ibu penerima bantuan PKH desa Gilang dan Gingging. Kedua adalah pelaksanaan kegiatan penyuluhan. Berdasarkan permasalahan yang telah dianalisis, maka penyuluhan yang dirancang adalah penyuluhan tentang financial planning
dan tentang perencanaan keuangan keluarga sesuai dengan tahapan kegiatan. Selain itu agar solusi yang ditawarkan dari permasalahan mitra dapat mencapai target luaran yang diharapkan, diperlukan suatu metode dan strategi yang tepat dalam melaksanakan program IbM ini.
Untuk memenuhi solusi yang akan diterapkan maka perlu adanya target kinerja yang akan dilakukan. Berikut ini target pencapaian Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat.
Tabel 1. Target Kinerja Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat
Kegiatan Indikator Kinerja Luaran
Penyuluhan
Peserta memahami pentingnya pengelolaan ekonomi keluarga
Peningkatan pemahaman pengelolaan ekonomi keluarga
Wawasan dan kemampuan peserta dalam mengelola ekonomi keluarga
Peningkatan kemampuan peserta dalam mengelola ekonomi keluarga
Peserta memahami tentang pentingnya investasi jangka panjang
Peningkatan pemahaman investasi jangka panjang Simulasi dan Demonstrasi pelatihan penyusunan rencana anggaran keuangan keluarga
Analisa pendapatan atau pemasukan keluarga Peningkatan kemampuan dalam menganalisa pendapatan atau pemasukan keluarga
Analisa kebutuhan pokok dalam rumah tangga Peningkatan kemampuan dalam menganalisa dan merencanakan kebutuhan pokok dalam rumah tangga Pola hutang dan cicilan Peningkatan pemahaman dalam
mengelola hutang dan cicilan
Evaluasi dan tindak lanjut
Peserta dapat menerapkan materi dan teori yang didapatkan pada kegiatan penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari
Adanya buku pedoman keuangan
Kesejahteraan masyarakat dapat meningkat Buku kas keuangan
2.1. Waktu dan Tempat Pengabdian
Kegiatan pengabdian ini dilakukan pada bulan Agustus tahun 2017 yang bertempat di desa Gingging Kec. Bluto.
2.2. Metode dan Rancangan Pengabdian
Adapun metode pelaksanaan dalam IbM ini dapat dilakukan melalui 3 tahapan yakni tahapan persiapan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi
1) Tahapan Persiapan
Pada tahapan ini dilakukan persiapan-persiapan dalam kegiatan penyuluhan dan pelatihan antara lain sebagai berikut:
a) Sosialisasi program IbM pada kelompok sasaran (Kelompok Mitra)
b) Menyiapkan permohonan mengadakan kegiatan penyuluhan
c) Menyiapkan undangan dan materi d) Menyiapkan surat dan administrasi
lainnya seperti daftar hadir dan dokumentasi.
2) Tahapan Pelaksanaan
Dalam tahapan ini pengabdi bersama tim melakukan tahapan sebagai berikut:
a. menjelaskan materi
b. latihan dalam merencanakan pengeluaran
c. tanya jawab dengan pemateri d. pembahasan bersama
e. memberikan umpan balik dari pelaksanaan pendampingan.
3) Tahapan Observasi
Pada tahapan ini pengabdi dan tim melakukan pengamatan terhadap apa yang telah dilakukan oleh mitra. Hal ini dilakukan untuk mengetahui respon dan tindak lanjut dari kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan. 4) Tahapan Evaluasi
Pada tahapan ini pengabdi dan tim mengevaluasi hal-hal yang masih menjadi kendala atau kesulitan selama program ini dilakukan baik dari segi teknis maupun aplikasi yang telah diterapkan kepada mitra. Untuk mengetahui pencapaian dari program ini maka perlu dilakukan suatu evaluasi yaitu evaluasi proses, evaluasi akhir, dan
evaluasi tindak lanjut. Kegiatan evaluasi ini akan melibatkan pihak-pihak terkait dan pakar-pakar ilmuwan lainnya yang memahami tentang program ini. Selain itu juga diperlukan indikator pencapaian dan tolak ukur pencapaian dari program yang akan dilaksanakan dalam IbM ini.
Pada evaluasi akhir ini dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan secara keseluruhan dengan cara melakukan uji kemauan peserta untuk melakukan pencatatan dengan menggunakan buku kas dalam memanajemen keuangan keluarga yang dibuat. Di samping itu, juga akan dilakukan pemantauan khusus tentang penerapan financial planning bagi ibu-ibu rumah tangga penerima bantuan PKH dengan cara menyebarkan kuesioner maupun tanya jawab secara langsung apakah kegiatan ini dapat diterapkan secara maksimal dan dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.
2.3. Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan dalam pengabdian ini adalah Ibu-ibu penerima bantuan PKH di desa Gingging dan Gilang yang berjumlah 56 orang.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sasaran dari kegiatan pengabdian masyarakat adalah para ibu-ibu penerima bantuan PKH yang ada di desa Gingging dan Gilang yang berjumlah 20 orang. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Agusutus 2017 bertempat di desa Gingging Kec. Bluto. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwasanya program ini dilakukan dengan tujuan untuk masyarakat desa Gilang dan Gingging Kecamatan Bluto dalam merubah pola pikir dan sikap masyarakat dalam mengelola ekonomi keluarga sehingga masyarakat dapat mempunyai wawasan dan kemampuan mengelola ekonomi keluarga agar efisien dan efektif. Selain itu tujuan dari kegiatan ini agar Pemerintah pusat dan daerah serta pemerintahan desa agar bantuan dana PKH dapat tepat penggunaan dan tepat sasaran sehingga mampu menaikkan kesejahteraan masyarakat berkategori RTSM.Dalam pelaksanaannya, program ini merupakan kolaborasi antara tim pengabdi STKIP PGRI Sumenep, dengan pendamping PKH di Kec. Bluto. Berikut ini langkah-langkah yang telah dilakukan selama kegiatan IBM.
A. Tahap Persiapan
Kegiatan persiapan pelaksanaan diawali dengan melakukan koordinasi awal dengan pendamping PKH desa Gingging dan Gilang serta koordinator pendamping Kec. Bluto. Selain itu, sebelum tim bergerak ke lapangan, tim melakukan konsultasi dengan P3M STKIP PGRI Sumenep terkait teknis dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan. Selanjutnya Tim pengabdi IbM melakukan pertemuan sekaligus koordinasi dengan pendamping PKH untuk mendapatkan masukan dan saran, dilanjutkan dengan membahas persiapan pelaksanaan pelatihan dengan melibatkan ketua kelompok dari penerima bantuan PKH yang ada di desa Gingging dan desa Gilang. Selain itu tim juga melakukan koordinasi dengan pakar ahli ekonomi bagaimana merancang form budget perencanaan perekonomian dalam keluarga. Dalam koordinasi ini juga disampaikan tujuan yang ingin dicapai serta tahapan-tahapan yang akan dilaksanakan. Selain itu juga dilakukan koordinasi mengenai jadwal kegiatan, peserta yang akan ikut dalam pelatihan, serta teknik pelaksanaan pelatihan di lapangan. Setelah dicapai kesepakatan bersama, tim pengabdi meminta para ketua kelompok untuk mensosialisasikan lebih awal tentang kegiatan yang akan dilakukan. Selanjutnya, program yang ditawarkan disosialisasikan kepada kedua mitra sekaligus mengundang mitra dalam satu forum untuk mengikuti pelatihan tentang perencanaan keuangan dalam keluarga.
B. Tahap Pelaksanaan
Pemilihan target terhadap ibu-ibu penerima bantuan PKH dikarenakan agar mereka adalah dapat merencanakan dan menggunakan keuangan dengan baik. Konteks dari penyuluhan dan pelatihan tersebut adalah: a. Menganalisa pendapatan atau pemasukan
keluarga
b. Menganalisa dan merencanakan kebutuhan pokok dalam rumah tangga c. Manajemen hutang
d. Memberikan pemahaman tentang pentingnya investasi jangka panjang e. Memberikan kesempatan kepada
masyarakat untuk melakukan tanya jawab dengan pemateri
f. Meminta pada masyarakat membagi pengalamannya dalam mengelola ekonomi rumah tangga
g. Mencatat pengalaman masyarakat dan membahasnya bersama
h. Mencatat sumbang saran dari masyarakat dan membahasnya bersama sampai dirasa solusi tersebut dianggap sebagai jalan yang terbaik.
C. Tahap Evaluasi Program
Sebagai bahan kajian untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan yang telah dilakukan dari kegiatan program IbM ini maka dilakukan evaluasi program. Dalam kegiatan evaluasi ini ditemukan beberapa hal yang masih menjadi kendala dari kegiatan IbM ini. Adapun beberapa kendala yang dijumpai dari awal observasi sampai dengan tahapan pelaporan IbM ini adalah :
1. Pemahaman masyarakat tentang perencanaan perekonomian keluarga sangat rendah sehingga masyarakat kurang bisa mengatur perekonomiannya dengan baik
2. Kurangnya kemampuan masyarakat dalam hal melakukan perhitungan keuangan keluarga dan melakukan perencanaan dalam jangka panjang 3. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam
mengembangkan usaha sebagai penopang kehidupan sehari-hari.
Tahapan evaluasi program ini menjadi perbaikan dan catatan bagi tim pengabdi dalam pengabdian selanjutnya sehingga hal-hal yang menjadi kendala untuk periode mendatang dapat diminimalisir sehingga akan terlaksana lebih baik.
4. SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
a. Pelaksanaan IbM dapat diterima dengan baik oleh masyarakat penerima bantuan PKH di desa Gingging dan Gilang b. Tingkat partisipasi yang tinggi dari peserta pelatihan memberikan dampak positif bagi pelaksanaan program IbM sehingga ilmu yang ditransfer lebih mengena pada sasaran pada peningkatan pemahaman dalam perencanaan perekonomian keluarga.
4.2 Saran
a. Tingginya partisipasi masyarakat dalam mengikuti program kegiatan IbM ini diharapkan masyarakat dapat menerapkan perencanaan perekonomian dengan baik b. Diharapkan keberlanjutan program dari kegiatan untuk memantau sejauh mana
keberhasilan dalam menggunakan keuangan dalam rumah tangga
c. Diharapkan dalam kegiatan pengabdian berikutnya dapat disusun suatu buku pedoman dalam penyusunan anggaran keuangan keluarga.
5. DAFTAR PUSTAKA
Sekretariat Tim Nasional. Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Buku Kerja Pedoman Pelaksanaan Program keluarga Harapan. Jakarta : Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Senduk, Safir. 2001. Mengelola Keuangan
Keluarga. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.