SKRIP KARYA SENI
OLEH :
NI LUH LISA SUSANTI NIM : 2006.01.009
PROGRAM STUDI S-1 SENI TARI JURUSAN SENI TARI
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA
DENPASAR
ii
SKRIP KARYA SENI
Diajukan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai Gelar Sarjana Seni (S1)
MENYETUJUI :
PEMBIMBING PEMBIMBING
Ida Ayu Wimba Ruspawati, SST., M.Sn Ni Wayan Iriani, SST., M.Si
iii
Pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 1 Juni 2010
Ketua : I Ketut Garwa, SSn., M.Sn
NIP. 196812311996031007 (………)
Sekretaris : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum
NIP. 131878137 (………)
Dosen Penguji :
1. I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum
NIP. 131878137 (………) 2. I Ketut Partha, SSKar., M.Si
NIP. 195908051986031004 (………)
3. Drs. Rinto Widyarto., M.Si
NIP. 196604251992031015 (………)
Disahkan pada tanggal :……… Mengetahui :
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Ketua Jurusan Seni Tari
Institut Seni Indonesia Fakultas Seni Pertunjukan
Denpasar Institut Seni Indonesia
Denpasar
I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn I Nyoman Cerita, SST., M.FA
iv
Om Swastiastu,
Puji syukur penata panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang
Hyang Widhi Wasa, karena berkat Asung Kertha Wara Nugraha-Nya sehingga penata
dapat menyelesaikan Skrip Karya Seni Tari Kreasi Palegongan Kembang Ratna ini tepat pada waktunya. Skrip karya seni ini digunakan sebagai laporan pertanggungjawaban mengenai karya yang dibuat dalam penyelesaian Ujian Tugas Akhir (TA) di Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Penata menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah bersedia membantu baik moril maupun spirituil, sehingga skrip karya seni ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya diberikan kepada :
1. Prof. Dr. I Wayan Rai S.,MA, selaku Rektor di Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah bersedia memberikan motivasi yang sangat bermanfaat selama ini.
2. I Ketut Garwa, SSn., M.Sn, selaku Dekan Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah membantu kelancaran persiapan terselenggaranya Ujian Tugas Akhir pada tahun 2010 ini.
3. I Nyoman Cerita, SST., M.FA, selaku Ketua Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah membantu
v
4. Drs. Rinto Widyarto., M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah membantu persiapan Ujian Tugas Akhir dan memberikan segala dukungannya.
5. Gusti Ayu Ketut Suandewi, SST., M.Si, selaku Pembimbing Akademik yang selalu memantau perkembangan akademik dan telah banyak memberikan bimbingan dan masukan terhadap proposal yang diajukan. 6. Ida Ayu Wimba Ruspawati, SST., M.Sn, selaku Pembimbing I yang telah
bersedia memberikan saran dan masukan yang bermanfaat dalam proses penggarapan karya seni dan skrip karya seni.
7. Ni Wayan Iriani, SST., M.Si, selaku Pembimbing II karya tulis dan karya seni yang telah memberikan motivasi dan saran dalam proses terwujudnya skrip karya seni dan karya seni.
8. Dosen Pengajar Mata Kuliah Bimbingan Penulisan Skrip Karya, yaitu Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA dan Dr. Ni Luh Sustiawati., M.Pd yang sebelumnya telah memberikan materi tentang cara penulisan skrip karya yang baik dan sesuai dengan ketentuan yang ada.
9. Tjok. Istri Putra Padmini, SST., M.Sn, yang telah memberikan pertimbangan-pertimbangan dan saran dari mata kuliah Koreografi VI sehingga penata dapat termotivasi untuk melanjutkan penggarapan karya seni ini dalam menempuh Ujian Tugas Akhir.
vi yang dimiliki.
11. Orang tua tercinta, Bapak I Wayan Madia dan Ibu Ni Ketut Bakti serta seluruh keluarga yang telah memberikan doa dan dukungan baik moril maupun materiil.
12. Para pendukung tari, pendukung karawitan, dan segala pihak yang telah bersedia dengan tanggung jawab membantu proses penggarapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna sehingga garapan ini dapat terwujud.
13. Teman-teman angkatan 2006 yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan, semangat, serta masukan sehingga skrip karya seni ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
14. Pacar tercinta, I Wayan Diana Putra yang selalu memberikan segenap dukungan, doa, dan semangat dalam menempuh Ujian Tugas Akhir ini. Penata menyadari tentunya dalam skrip karya seni ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam isi maupun bentuk tampilannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan serta pengalaman yang penata miliki. Untuk itu, penata mengharapkan kritik dan saran yang positif dari pembaca guna lebih menyempurnakan skrip karya seni ini.
Om Çantih, Çantih, Çantih Om
Denpasar, Mei 2010
vii
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PANITIA PENGUJI... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Ide Garapan ... 4 1.3. Tujuan Garapan ... 6 1.4. Manfaat Garapan ... 7 1.5. Ruang Lingkup ... 8
BAB II KAJIAN SUMBER ... 10
2.1 Sumber Tertulis ... 10
2.2 Sumber Audio-Visual ... 12
BAB III PROSES KREATIVITAS ... 13
3.1 Tahap Eksplorasi (Penjajagan) ... 14
3.2 Tahap Improvisasi (Percobaan)... 20
viii
4.2 Analisa Pola Struktur ... 33
4.3 Analisa Simbol ... 38 4.4 Analisa Materi ... 40 4.4.1 Desain Koreografi ... 42 4.5 Analisa Estetis ... 43 4.5.1 Wujud ... 43 4.5.2 Bobot ... 44 4.5.3 Penampilan ... 46 4.6 Analisa Penyajian ... 47 4.6.1 Tempat Pertunjukan ... 48 4.6.2 Kostum/Tata Busana ... 60
4.6.3 Tata Rias Wajah ... 64
4.6.4 Properti ... 66
4.6.5 Musik Iringan Tari ... 67
BAB V PENUTUP ... 74
5.1 Kesimpulan ... 74
5.2 Saran-Saran ... 76
DAFTAR SUMBER/ REFRENSI ... 77 LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Pendukung Tari Lampiran 2 Staf Produksi
ix Tabel
1. Tahap Penjajagan (Eksplorasi)………. 18
2. Tahap Percobaan (Improvisasi)……… 22
3. Tahap Forming (Pembentukan)……… 25
4. Kegiatan Proses Kreativitas……….. 29
5. Pola Lantai, Layar, Suasana, Tata Lampu (lighting), dan Rangkaian Gerak Tari Kreasi Palegongan Kembang Ratna………. 52
x Gambar
1. Denah Stage……… 49
2. Arah Hadap Penari………. 50
3. Foto Busana Tampak Depan………... 62
4. Foto Busana Tampak Belakang……….... 63
5. Foto Tata Rias Wajah Penari……….... 64
1.1 Latar Belakang
Salah satu bentuk tari klasik Bali yang hingga kini tetap menjadi sebuah kreativitas seni tari yang adiluhung adalah tari Legong. Legong terdiri dari dua kata, yaitu leg, yang berarti gerak yang luwes dan elastis, serta gong, yang berarti
gamelan.1 Tari Legong mengutamakan keharmonisan gerak dengan musik
pengiringnya yang ritmis dan kompleks. Tari Legong yang merupakan warisan tradisi budaya kraton, memberikan kontribusi dan sumber inspirasi bagi penciptaan tari Legong inovatif dewasa ini.
Tari Legong sebagai kesenian yang sering dikatakan bermutu tinggi, telah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Terbukti dengan telah diciptakannya berbagai variasi tari Legong oleh seniman-seniman kreatif dalam upayanya menyesuaikan dan mengembangkan kesenian tradisi sesuai perkembangan jamannya. Perkembangan yang diketahui dewasa ini adalah Legong lebih mengandalkan popularitasnya dalam segi tari daripada elemen naratif, dan hasilnya
sangat sesuai menuju suatu komposisi tari murni.2 Keberadaan tari Legong dari
dahulu hingga dewasa ini masih tetap cemerlang karena proses kreativitas oleh seniman kreatif terus berlangsung. Dalam hal ini, seniman kreatif didorong oleh
1 I Made Bandem, 1983, Ensiklopedi Tari Bali, Denpasar: Akademi Seni Tari (ASTI) Denpasar dan Perc. PT “Bali Post” Offset, p. 95.
2 I Made Bandem dan Fredrik Eugene deBoer, 2004, Kaja dan Kelod; Tarian Bali dalam Transisi, Jogjakarta: Institut Seni Indonesia Jogjakarta, p. 100.
keinginan yang kuat untuk menuangkan ide atau gagasan yang dimiliki sesuai potensi dalam diri melalui proses pencarian yang panjang dengan menggunakan penginderaan, curahan hati, serta pikiran untuk mewujudkan hasil karya yang berkarakteristik pribadi. Perwujudan kreativitas ini sangat tergantung dari keinginan seniman kreatifnya untuk sepenuhnya melepaskan diri dari ikatan-ikatan tradisi atau masih menggunakan unsur tradisi.
Berdasarkan uraian sebelumnya, muncul keinginan penata untuk menggarap tari kreasi Palegongan yang terinspirasi pada gerakan-gerakan luwes dalam tari Legong. Keinginan ini muncul dari kecintaan terhadap tari Legong sebagai salah satu
varian tari klasik Bali yang sifatnya luwes, halus, dan gerak-geraknya bersemangat.3
Berbekal modal postur tubuh, penguasaan teknik, dasar dan kemampuan menari Legong yang cukup, penata merasa cukup mantap untuk melangkah ke arah seni Palegongan dalam penyusunan Ujian Tugas Akhir (TA) ini. Pengalaman yang diperoleh selama menjadi penari Legong, baik menarikan tari Legong yang telah ada dan bersifat komersial maupun mendukung Ujian Tugas Akhir (TA) pada tahun-tahun sebelumnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, telah mendorong penata untuk menemukan sesuatu yang baru melalui proses berpikir. Proses berpikir imajinatif dalam mengikuti perasaan batin membuat kita menyadari dimensi pengalaman yang dirasakan dan bayangan yang mendorong terjadinya sebuah karya
baru.4 Karya baru sebagai proses untuk pembentukan jati diri dengan menunjukkan pribadi penata yang sesungguhnya.
Faktor lain yang memotivasi dan melatarbelakangi penata untuk menggarap tari kreasi Palegongan adalah rasa tanggung jawab sebagai masyarakat Bali yang tentunya harus dapat mempertahankan unsur tradisi budaya Bali, terlebih lagi kesenian klasik yang dimiliki, dan selalu berkreativitas untuk mencari alternatif-alternatif baru. Hal tersebutlah yang dijadikan sebagai tolok ukur oleh penata untuk pemilihan tari kreasi Palegongan sebagai karya tari yang akan digarap. Selain itu, Legong merupakan warisan budaya yang sangat luhur, mencerminkan kreasi murni
dari para seniman Bali.5 Hal inilah yang membuat penata semakin tertantang untuk
membuat tari kreasi Palegongan agar dapat menampilkan sesuatu yang berbeda, namun tetap mempertahankan identitas dan ciri karakterisitik Palegongan itu sendiri. Garapan ini dituangkan ke dalam bentuk tari kreasi Palegongan berjudul
Kembang Ratna, yang berarti bunga ratna. Tema dari garapan tari Kembang Ratna ini
adalah perputaran hidup. Tema ini diangkat karena bunga ratna tidak hanya selalu dalam keadaan segar namun juga dapat layu dan rapuh. Demikianlah bunga ratna yang melalui suatu proses yang terus-menerus berputar, tumbuh subur di antara tumbuhan lainnya, memiliki karakter agung karena digunakan sebagai sarana upacara, sederhana, dan indah. Bunga ratna dapat layu dan rapuh seiring berjalannya waktu, namun setelah layu dan rapuhnya bunga ratna tersebut akibat dipetik setelah
4 I Wayan Dibia, 2003, Bergerak Menurut Kata Hati, Metoda Baru Dalam Menciptakan Tari
(Terjemahan dari Moving From Within A New Method for Dance Making oleh Alma M. Hawkins).
Bandung: Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, p. 27.
5 Proyek Pengembangan Sarana Wisata Budaya, 1974/1975, Perkembangan Legong Kraton
digunakan sebagai sarana upacara, bunga ratna dapat tumbuh kembali dari biji bunga ratna yang berserakan menjadi bunga ratna baru.
1.2 Ide Garapan
Ide garapan harus memiliki dasar yang jelas, dan sangat penting adanya, karena merupakan sumber pemikiran untuk mempermudah menuangkannya ke dalam wujud karya. Dalam menentukan ide, kita sendiri menyadari bahwa hal tersebut memerlukan waktu cukup panjang dengan perenungan dan pemikiran yang matang. Ide yang benar-benar matang sangat berpengaruh pada proses terwujudnya karya. Bagi penata, mendapatkan sebuah ide baru sama halnya seperti menangkap ikan di air keruh karena tidaklah mudah untuk mendapatkan sebuah ide. Prinsipnya adalah penata ingin mewujudkan sebuah garapan tari kreasi Palegongan yang terinspirasi pada gerakan luwes dari Legong klasik yang ada. Sebagaimana kebanyakan tari Legong yang menggunakan cerita, dalam tari kreasi Palegongan yang digarap ini merupakan garapan Legong yang abstrak atau dapat dikatakan tidak memuat unsur cerita di dalamnya.
Penggarapan tari kreasi Palegongan ini, muncul berdasarkan ide penata saat melihat salah satu aktivitas umat Hindu menjelang hari suci Agama Hindu, yaitu menjelang datangnya hari raya Galungan, tiap-tiap bangunan suci (pelinggih) baik di Pemerajan maupun di pura-pura dipasangkan bunga ratna. Setangkai bunga ratna yang dipasangkan di setiap bangunan suci tersebut bertujuan untuk menetralisir unsur-unsur negatif atau mengusir bhuta, kala, dan raksasa yang bersemayam pada
bangunan suci karena merupakan stana para Dewata, sebelum menghaturkan suatu
upakara.6
Akhirnya dengan melihat aktivitas tersebut, penata terinspirasi dan memilih wujud serta karakter bunga ratna untuk dicoba ditransformasikan ke dalam garapan tari kreasi Palegongan, karena sebelumnya menurut penata belum pernah ada yang merealisasikan karakter dan wujud bunga ratna ini ke dalam tari kreasi Palegongan. Tari kreasi Palegongan yang digarap ini, menampilkan karakter dan wujud bunga ratna. Karakter dari bunga ratna, yaitu agung, sederhana, dan indah. Sedangkan wujud bunga ratna, yaitu bunga ratna memiliki bentuk yang kecil, namun dapat tumbuh subur di tengah-tengah tumbuhan lainnya, serta dapat layu dan rapuh seiring berjalannya waktu.
Garapan tari ini diberi judul Kembang Ratna, yang berarti bunga ratna. Judul ini dipilih karena menurut penata sesuai dengan ide dan tema yang dipilih. Tema dari garapan ini adalah perputaran hidup. Perputaran hidup yang dimaksud adalah perputaran hidup dari bunga ratna itu sendiri. Seperti halnya dengan mahluk hidup lainnya, bunga ratna melalui siklus kehidupan yang sama.
Garapan Kembang Ratna berbentuk tari kelompok, yang ditarikan oleh 7 (tujuh) orang penari putri. Perbendaharaan gerak dalam garapan Kembang Ratna terdapat adanya pengembangan, seperti pengembangan ruang gerak, namun tidak berpijak pada pakem tari Legong itu sendiri karena garapan ini hanya terinspirasi pada gerakan luwes dalam tari Legong. Selain itu, ide penata adalah adanya
6 Ida Bagus Putu Sudarsana, 2000, Ajaran Agama Hindu; Kotaraning Panca Sembah, Bali: Anom dan Yayasan Dharma Acarya, p. 83.
pengembangan bentuk, serta warna dari segi kostum yang dibuat sesederhana mungkin, dengan menggunakan ciri kostum Legong yang telah ada, seperti penggunaan sesimping, lamak, bancangan, dan properti kipas, sebagai identitas tari Legong. Kostum dalam garapan Kembang Ratna menggunakan kombinasi warna putih susu, ungu, dan hijau.
Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna menggunakan gamelan
Semar Pegulingan Saih Pitu yang diharapkan mampu mendukung suasana sesuai ide
yang diinginkan dari segi kemasan gending yang dibuat untuk iringannya agar hadir dengan nuansa baru.
1.3 Tujuan Garapan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam garapan tari kreasi Palegongan
Kembang Ratna adalah :
1.3.1 Tujuan Umum
1. Untuk menambah repertoar dan varian tari Legong yang telah ada sebagai pelestarian jenis tari kreasi Palegongan dengan mempertahankan unsur tradisinya.
2. Menuangkan daya kreativitas berkesenian melalui penggarapan sebuah tari kreasi Palegongan serta dapat menghasilkan ide dan inovasi baru guna penciptaan karya kreatif yang bermutu serta berkualitas.
3. Untuk menunjukkan kemampuan dan potensi yang dimiliki dalam karya yang inovatif.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk memenuhi syarat sebagai sebuah garapan tari yang layak disajikan untuk menyelesaikan studi Strata 1 (S1) di Institut Seni Indonesia Denpasar.
2. Untuk melahirkan sebuah karya tari baru.
3. Terciptanya sebuah tari kreasi Palegongan Kembang Ratna dengan nuansa yang berbeda, dan dapat menampilkan identitas penata sendiri.
4. Untuk menyampaikan pesan-pesan tentang nilai kehidupan yang terkandung dalam garapan ini agar dapat diaplikasikan oleh penikmatnya. 5. Untuk mewujudkan garapan tari kreasi Palegongan dengan menampilkan
karakter dan wujud bunga ratna.
1.3 Manfaat Garapan
Manfaat yang dapat diperoleh dari karya seni yang dihasilkan dalam tari kreasi Palegongan ini adalah :
1. Menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga karena mendapat kesempatan untuk menggarap tari kreasi Palegongan.
2. Memberikan inspirasi dan pertimbangan bagi penciptaan tari selanjutnya.
3. Agar mampu memberikan rangsangan bagi koreografer-koreografer lain untuk berkreativitas dalam menggali potensi dan kapasitas dalam diri.
1.4 Ruang Lingkup
Menghindari kerancuan atau salah penafsiran mengenai garapan ini, diperlukan adanya batasan-batasan yang terfokus dalam pengungkapan untuk melangkah berikutnya. Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna tidak menggunakan pakem-pakem tari Legong, tetapi terinspirasi pada gerakan luwes dari Legong klasik yang ada, dan telah dikembangkan sesuai kebutuhan garapan. Penggarapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna diharapkan mampu diterima oleh penikmatnya agar antara penari dengan penikmatnya terdapat adanya suatu komunikasi yang baik.
Batasan yang diambil adalah wujud serta karakter bunga ratna yang agung, sederhana, dan indah. Bunga ratna dapat layu, dan rapuh seiring berjalannya waktu, namun setelah layu, dan rapuhnya bunga ratna tersebut akibat dipetik setelah digunakan sebagai sarana upacara, bunga ratna dapat tumbuh kembali dari biji bunga ratna yang berserakan menjadi bunga ratna baru. Garapan tari kreasi Palegongan
Kembang Ratna dituangkan dalam garapan Legong yang abstrak atau tidak
menggunakan unsur cerita di dalamnya dengan menampilkan karakter serta wujud bunga ratna. Garapan ini berbentuk kelompok, yang ditarikan oleh tujuh orang penari putri, dengan alasan penempatan penari dapat memberi kesan dinamis, kontras, asimetris, dan pola lantai dapat lebih bervariasi. Selain itu, penggunaan tujuh orang penari putri didasarkan atas pertimbangan, yaitu postur tubuh penata yang agak kecil agar dapat disesuaikan dengan panggung yang cukup luas.
Struktur garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna ini dibagi menjadi 6 bagian, yang terdiri dari bagian pengawit, pepeson, pengawak, pengecet, pengetog,
dan pekaad. Walaupun garapan Legong ini abstrak, namun tetap memiliki struktur dramatik yang cukup menarik dan dinamis karena di dalamnya terdapat suasana agung, tenang, gembira, sedih (layu), dan gembira yang dituangkan melalui ekspresi gerak, penataan lampu, dan properti yang menjadi kebutuhan garapan. Penataan kostum dalam garapan ini menggunakan ciri kostum Palegongan yang telah ada. Tetapi berdasarkan hal tersebut, tentunya terdapat inovasi-inovasi baru dari segi bentuk dan warna yang disesuaikan dengan tema yang dibawakan dengan konsep minimalis atau didesain sesederhana mungkin. Durasi waktu garapan ini adalah kurang lebih 12 menit dan dipertunjukkan di panggung Prosenium, Natya Mandala, ISI Denpasar.
Musik yang mengiringi garapan ini adalah seperangkat gamelan Semar
Pegulingan Saih Pitu, yang memiliki permainan tujuh nada yang khas atau permainan
patutan dalam sistem tujuh nada dari gamelan Semar Pegulingan, lebih komplek
dilihat dari banyaknya patutan dalam gamelan ini, sehingga lebih mudah untuk mencari mood dari kompleksitas patutan yang sesuai dengan suasana yang ingin disampaikan. Sebagaimana telah kita ketahui, gamelan Semar Pegulingan identik dengan tari Legong.
BAB II KAJIAN SUMBER
Sebuah penulisan terlebih lagi karya tulis ilmiah, terasa kurang berbobot tanpa dilandasi dan didukung oleh sumber-sumber baik tertulis maupun tidak tertulis yang dapat dijadikan acuan dan dasar pijakan untuk melangkah dalam perwujudan garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna. Sumber tersebut tentunya memberikan kontribusi yang cukup, sehingga garapan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Adapun sumber-sumber yang digunakan sebagai bahan acuan, adalah sebagai berikut :
2.1 Sumber Tertulis
Perkembangan Legong Kraton Sebagai Seni Pertunjukan diterbitkan oleh
Proyek Pengembangan Sarana Wisata Budaya, 1974/1975. Buku ini menjelaskan perubahan tari Legong dari dulu hingga sekarang. Buku ini digunakan sebagai acuan untuk mengetahui bentuk-bentuk Palegongan yang telah ada, serta pola-pola gerak Palegongan yang terkait dengan aturan gerak yang ada.
Elemen-Elemen Dasar Komposisi Tari oleh Soedarsono (terjemahan dari
Dances Composition, the Basic Elements oleh La Meri), 1986. Buku ini menjelaskan
pengetahuan dasar tentang komposisi tari, seperti desain-desain koreografi dalam menggarap sebuah tarian. Buku ini digunakan sebagai acuan untuk memberikan wawasan dalam membuat gerak dengan berpedoman pada elemen-elemen dasar komposisi.
Mencipta Lewat Tari oleh Y. Sumandiyo Hadi (terjemahan dari Creating
Through Dance oleh Alma M. Hawkins), 1990. Buku ini menjelaskan tentang proses
kreativitas, yaitu proses eksplorasi (penjajagan), improvisasi (percobaan), dan
forming (pembentukan). Buku ini digunakan sebagai acuan bahwa dalam
menciptakan karya-karya baru tidaklah mudah karena semuanya melalui proses yang cukup panjang disertai pemikiran matang.
Evolusi Tari Bali oleh I Made Bandem, 1996. Buku ini menjelaskan
perubahan-perubahan yang dialami seni tari di Bali yang terjadi secara evolutif bergantung pada masyarakat pendukungnya. Buku ini digunakan sebagai acuan untuk menambah wawasan penata mengenai tari Legong karena di dalamnya terdapat uraian tari Legong dari kesenian istana hingga perubahannya yang pesat dewasa ini.
Ajaran Agama Hindu; Kotaraning Panca Sembah oleh I. B. Putu
Sudarsana, 2000. Buku ini menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan sembah bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi. Buku ini digunakan sebagai sumber dalam penggarapan, karena di dalamnya terdapat uraian tentang makna dari bunga ratna itu sendiri.
Bergerak Menurut Kata Hati, Metoda Baru Dalam Menciptakan Tari oleh
I Wayan Dibia (terjemahan dari Moving From Within: A New Method for Dance
Making oleh Alma M. Hawkins), 2003. Buku ini menjelaskan suatu pendekatan
koreografi yang lebih menekankan kepada masalah isi daripada bentuk, dengan cara bergerak berimprovisasi mengikuti kata hati. Buku ini digunakan untuk menambah pengetahuan penata mengenai koreografer dalam mencipta sebuah karya didasarkan
pada pengalaman dan khayalannya, sehingga pada prinsipnya koreografer bekerja secara kreatif melalui berbagai cara dengan proses pemikiran imajinatif.
2.2 Sumber Audio-Visual
Sumber audio-visual penting digunakan sebagai studi perbandingan selain sumber tertulis yang telah diuraikan di atas. Penata mencari perbandingan-perbandingan dari beberapa pengamatan terhadap seni pertunjukan melalui rekaman kaset audio-visual, antara lain:
Pengamatan terhadap tari kreasi Palegongan Swabhawaning Urip karya Ni Made Ayu Artini tahun 2007, melalui koleksi rekaman video di ISI Denpasar. Isinya mengangkat berbagai ungkapan rasa dari emosi yang pernah dialami dalam kehidupan meliputi marah, sedih, dan gembira. Garapan ini sangat bermanfaat bagi garapan Kembang Ratna karena dapat diketahui mengenai cara mengatur dinamika gerak dengan suasana gerak yang berubah-ubah.
Pengamatan terhadap tari kreasi Palegongan Smara Wisaya karya Ni Luh Putu Wiwin Astari tahun 2008. Isinya mengangkat tentang cerita Sri Tanjung. Manfaat setelah mengamati garapan tersebut adalah bagaimana cara menonjolkan sebuah garapan agar terlihat menarik baik dari segi gerak, kostum, maupun suasana.
BAB III
PROSES KREATIVITAS
Proses kreativitas adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan
sumber-sumber yang ada dalam diri pencipta dan tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa.7
Dalam berkreativitas, penata memerlukan proses yang cukup panjang untuk mewujudkan hasil kreativitas. Saat proses ini dimulai, diperlukan adanya curahan waktu, tenaga, dan pikiran yang memang benar-benar diorientasikan serta difokuskan pada apa yang ingin dilakukan dan diwujudkan hingga akhirnya dapat memperoleh hasil yang maksimal. Ketika berproses, berimajinasi juga penting dilakukan karena dengan berimajinasi penata dapat mengolah apa yang ada dalam pikiran untuk dikembangkan bahkan menemukan ide-ide baru dan pikiran-pikiran kreatif lainnya yang sesuai untuk mencipta sebuah karya tari. Penata memiliki kebebasan sepenuhnya dalam berimajinasi hingga menetapkan ide berdasarkan kreativitas yang
dimiliki. Dasar kreativitas adalah keberanian.8 Tanpa adanya keberanian yang disertai
dengan pengetahuan, karya yang dibuat tidak dapat terwujud, bahkan tidak diketahui serta dimengerti apa yang ada dibalik karya yang dibuat karena tidak adanya pengetahuan.
Terkadang apa yang dilakukan tidak dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan karena pasti ada tantangan dan halangan yang harus dialami, namun inilah
7 I Wayan Dibia, op.cit. p. 78.
8 Soedarsono, 1986, Elemen-Elemen Dasar Komposisi Tari (terjemahan dari Dances Composition,
the Basic Elements oleh La Meri), Yogyakarta: Lagaligo, p. 9.
sebuah proses yang dijalani karena tidaklah mudah untuk mewujudkan sebuah karya seni.
Untuk mewujudkan hasil ciptaan, kita mempunyai ruang kebebasan sendiri dalam penciptaan dan proses tersebut tentunya sesuai dengan apa yang kita alami. Secara teori, proses penggarapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna mengacu pada proses penciptaan menurut Alma M. Hawkins, yang terdiri dari tiga langkah,
meliputi eksplorasi (penjajagan), improvisasi (percobaan), dan forming
(pembentukan).9
3.1 Tahap Eksplorasi (Penjajagan)
Tahap eksplorasi merupakan tahap awal dalam proses penciptaan. Dalam tahap ini, koreografer melakukan segala kemungkinan melalui pencarian dan penjajagan secara terus-menerus hingga koreografer itu sendiri merasakan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan apa yang dicari dan diinginkan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini, antara lain mencari dan menentukan ide, tema, judul, maupun konsep ciptaan melalui proses berpikir, berimajinasi, merenungkan, merasakan, menanggapi, serta menafsirkan. Dalam menunjang garapan ini, diperlukan juga adanya pencarian sumber-sumber melalui studi kepustakaan dengan mencari literatur-literatur yang terkait dengan garapan, informan, maupun studi dokumentasi dengan menonton seni pertunjukan melalui video, seperti video garapan Ujian Tugas Akhir yang telah dipertunjukkan pada tahun-tahun sebelumnya.
9 Y. Sumandiyo Hadi, 1990, Mencipta Lewat Tari (terjemahan buku Creating Through Dance oleh Alma M. Hawkins), Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta, p. 36.
Tahap ini sudah dilakukan sejak perkuliahan Koreografi VI pada semester VII, karena pada mata kuliah ini mahasiswa dituntut untuk dapat menciptakan sebuah karya seni. Sebelumnya penata memang telah memiliki bayangan untuk menggarap tari kreasi Palegongan, namun tentunya dibutuhkan adanya keyakinan, dan pemikiran dalam memantapkan ide berdasarkan kemampuan serta kemauan yang penata miliki sebagai dasar pijakan dalam penggarapan.
Tahapan selanjutnya setelah proses awal pencarian ide adalah dilakukan pencarian cerita yang akan digunakan sebagai ide pokok (subject mater) di dalam penggarapan. Penata melakukan wawancara dengan seorang seniman tari, yaitu I Wayan Juana Adi Saputra, SSn. Berdasarkan wawancara tersebut, penata diarahkan untuk mencari cerita yang tentunya belum pernah digunakan dalam seni tari dengan tujuan mengadakan pengembangan dari segi cerita yang sudah pernah ada
sebelumnya.10 Akhirnya penata memilih mengangkat wujud dan karakter bunga ratna
dalam tari kreasi Palegongan yang digarap, tanpa menggunakan unsur cerita di dalamnya atau bersifat abstrak. Pemilihan ini berdasarkan pertimbangan bahwa, wujud dan karakter bunga ratna belum pernah direalisasikan ke dalam bentuk seni pertunjukan khususnya seni tari, sehingga besar keinginan penata untuk dapat mentransformasikan wujud dan karakter bunga ratna ke dalam bentuk tari kreasi Palegongan. Tentunya dalam hal ini, penata harus benar-benar mematangkan ide untuk menuju tahap selanjutnya.
10 Wawancara dengan I Wayan Juana Adi Saputra di rumah kediaman beliau, Jalan Kasuari Gg. IIIA No. 4, Br. Semaga, Penatih, Denpasar, pada tanggal 26 Oktober 2009 pukul 18.00 WITA.
Tahap berikutnya adalah penata tentunya harus memiliki pemahaman dan wawasan mengenai aspek-aspek yang terdapat dalam tari Legong dan mulai memikirkan unsur koreografi yang menunjang karya seni tari yang akan digarap. Pemahaman dan wawasan ini penata dapatkan dari sumber berupa buku-buku atau literatur yang terkait dengan tari Legong dan karya tari yang digarap, dokumentasi mengenai tari kreasi Palegongan yang sebelumnya telah ditampilkan pada ujian Tugas Akhir di Institut Seni Indonesia Denpasar, dan juga melakukan wawancara baik dengan penata tari yang sudah pernah menggarap tari kreasi Palegongan, yaitu Ni Made Ayu Artini serta seniman tari yang telah memiliki pengalaman-pengalaman di bidang tari, seperti Bapak I Wayan Juana Adi Saputra dan Ibu Tjok Istri Putra Padmini.
Penata melakukan pemilihan pendukung tari yang tepat dan berkualitas pada tahapan ini melalui pendekatan terhadap teman-teman yang bergelut dalam bidang tari. Penari yang dibutuhkan untuk mendukung garapan tari kreasi Palegongan
Kembang Ratna adalah 7 orang penari putri. Pemilihannya tentu disesuaikan dengan
postur tubuh, kemampuan berolah gerak dengan teknik tari cukup baik, serta memiliki tanggung jawab sehingga siap dan bersedia mendukung lancarnya proses penggarapan karya tari yang akan diwujudkan. Dalam tahap penjajagan dilakukan pula pemilihan penata iringan untuk menggarap dan membantu terwujudnya iringan garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna. Penata kemudian menetapkan Dewa Alit sebagai penata iringan. Berdasarkan ide dan konsep yang penata sampaikan kepada penata iringan, maka dipilihlah gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu untuk mengiringi tari kreasi Palegongan Kembang Ratna. Pemilihan gamelan didasarkan
atas pertimbangan bahwa gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu memiliki tujuh macam tangga nada (patet) yang tidak ada pada gamelan saih lima atau lima nada, sehingga suasana yang diinginkan dalam garapan dapat diwujudkan melalui iringan ini. Sebagai pendukung karawitan, dipilihlah penabuh dari Sekaa Gong Nataraja, Banjar Mekar Sari, Padang Tegal, Ubud. Latihan tari dipusatkan di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, sedangkan latihan iringan tari dipusatkan di Banjar Mekar Sari, Padang Tegal, Ubud.
Hal-hal lain yang perlu dipersiapkan dalam tahap penjajagan, yaitu gerak, kostum, dan penentuan jadwal latihan. Di samping persiapan terkait dengan garapan dan persiapan mental, persiapan secara niskala juga perlu dilakukan yaitu upacara di Bali yang biasa disebut nuasen, dengan mencari hari baik menurut kepercayaan orang Bali agar mendapatkan keselamatan, taksu, dan kekuatan dari Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Nuasen dilakukan pada hari Sabtu tanggal 20 Maret 2010 di Pura Padmasana
Tabel 1
Tahap Penjajagan (Eksplorasi)
Bulan November tahun 2009 sampai dengan Januari tahun 2010 Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu II (November)
Memikirkan dan mencari ide untuk membuat sebuah karya tari dalam mata kuliah
Koreografi VI serta sekaligus ditujukan sebagai karya Tugas Akhir (TA).
Minggu III (November)
Dalam usaha terus melakukan pencarian ide, penata kembali meyakinkan diri dengan melihat potensi dan kemampuan yang penata miliki dalam diri.
Berdasarkan inspirasi yang penata dapatkan, penata menemukan ide sesuai keinginan, kapasitas diri dan pengalaman yang penata miliki selama menjadi penari Legong untuk menggarap tari kreasi Palegongan. Minggu IV
(November)
Mencari cerita yang akan diangkat dalam garapan ini.
Menemukan beberapa cerita yang harus dipertimbangkan, dan diseleksi.
Minggu I (Desember)
Melakukan diskusi dengan I Wayan Juana Adi Saputra, SSn, seorang seniman tari sekaligus dosen di IKIP PGRI Denpasar mengenai cerita yang akan digarap.
Diarahkan untuk mencari cerita berdasarkan
inspirasi penata, namun agar dapat berbeda dari yang sudah ada. Penata akhirnya memilih menggarap tari kreasi Palegongan dengan mengangkat wujud dan karakter bunga ratna. Minggu II
(Desember)
Melakukan bimbingan dan diskusi dengan dosen mata kuliah Koreografi VI mengenai ide garapan.
Wujud dan karakter bunga ratna sebagai ide yang digarap dalam tari kreasi Palegongan, tanpa memuat unsur cerita di dalamnya atau abstrak.
Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Memantapkan ide garapan dan mencari beberapa referensi yang mendukung ide garapan.
Menentukan bagian wujud dan karakter yang diambil dalam bunga ratna agar garapan yang dibuat dapat terfokus.
Menemukan buku yang mendukung ide yang akan diwujudkan dalam
garapan.
Ditetapkan bagian wujud dan karakter bunga ratna, yaitu bentuk bunga ratna yang kecil dapat tumbuh subur di tengah-tengah tumbuhan lainnya, dapat layu dan rapuh seiring berjalannya waktu, serta memiliki karakter agung, sederhana, dan indah. Minggu III
(Desember)
Menetapkan alur dan struktur garapan agar sesuai dengan ide garapan.
Menetapkan struktur garapan yang akan
digunakan yaitu pengawit,
pepeson, pengawak, pengecet, pengetog, dan pekaad.
Minggu IV (Desember)
Memikirkan dan mencari elemen pendukung terkait dengan garapan yang akan dibuat, seperti pendukung tari, pendukung karawitan, penata iringan, dan iringan yang akan digunakan.
Melakukan diskusi dengan penata iringan mengenai ide dan konsep garapan,
pendukung karawitan, serta iringan yang digunakan.
Menemukan pendukung tari yang sesuai dengan keinginan penata, dan penata iringan yang didapat setelah melakukan diskusi dengan beberapa teman jurusan karawitan, yaitu Dewa Alit.
Menetapkan pendukung karawitan dari Sekaa Gong Nataraja, Banjar Mekar Sari, Padang Tegal, Ubud, dan iringan yang
digunakan adalah gamelan
Semar Pegulingan Saih Pitu sebagai gamelan yang
mengiringi tari kreasi Palegongan ini.
Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu I (Januari)
Memberikan rancangan alur dan struktur garapan kepada penata iringan.
Melakukan upacara nuasen di Banjar Mekar Sari, Padang Tegal, Ubud.
Mulai melakukan latihan iringan pada bagian pengawit yang dipusatkan di Banjar Mekar Sari, Padang Tegal, Ubud.
Terbentuk bagian
pengawit.
3.2 Tahap Improvisasi (Percobaan)
Tahap improvisasi merupakan tahap kedua dalam proses penciptaan. Pada tahap improvisasi, yang dilakukan adalah mencoba mencari gerak spontanitas dengan kebebasan untuk mendapatkan motif-motif gerak baru agar dapat ditemukan gerakan-gerakan yang sesuai serta dapat menjadi ciri khas gerak dalam tari kreasi Palegongan
Kembang Ratna. Semakin banyak penata bergerak dengan bebas, maka semakin
banyak motif gerakan yang didapatkan walaupun gerakan tersebut belum disusun sedemikian rupa. Penata juga selalu mencoba melihat, dan membayangkan setangkai bunga ratna untuk dapat dihayati serta dirasakan agar dapat mentransformasikannya dalam gerak tari.
Gerakan-gerakan ini dirangkai menjadi jalinan gerak yang sebelumnya telah diseleksi dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Dalam hal ini, penata menemukan integritas, dan kesatuan dalam berbagai percobaan, namun juga harus tetap mempertahankan identitas maupun karakter garapan itu sendiri. Rangkaian gerak
kemudian disesuaikan dengan musik iringan yang telah digarap, karena seperti yang diketahui tari Legong mengandung arti gerakan yang sangat diikat (terutama
aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya.11
Pada proses ini, gerakan dicoba agar dapat menyatu dengan musik iringan walaupun terkadang ada gerakan yang tidak dapat disesuaikan dengan iringan. Bagi penata sendiri, iringan sering digunakan sebagai perangsang munculnya gerak, dan memberikan inspirasi terbentuknya jalinan kesatuan antara gerakan dengan musik pengiringnya. Penata sendiri menyempatkan untuk selalu hadir pada setiap kegiatan latihan karawitan, sehingga penata dapat lebih memahami dan merasakan musik iringan dengan baik, serta dapat berkonsultasi dengan penata iringan mengenai kesesuaian antara ide garapan, gerakan yang ingin dituangkan maupun musik pengiringnya. Hal ini dilakukan agar antara proses penggarapan tari maupun iringan tari dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Terkadang motif gerakan yang didapatkan dalam penggarapan terlalu mengikuti alunan dan tempo musik iringan, namun sesungguhnya setiap tempo tidak harus selalu diberi gerakan agar garapan tidak terkesan padat dengan gerak, sehingga ide garapan tidak terlihat rancu atau tidak jelas. Melalui masukan yang didapat, penata mencoba untuk mengurangi dan menyederhanakan gerakan yang sebelumnya telah didapatkan dengan menyeleksi gerakan sesuai dengan kebutuhan garapan.
Kegagalan dalam menyesuaikan gerak pernah penata alami, seperti gerakan
obah bahu pada bagian pengawak. Pada awalnya jalinan gerak baru yang penata
11 I Wayan Dibia, 1999, Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia dan arti.line, p. 37.
dapatkan sudah sesuai dengan tempo iringan, bahkan gerakan ini disukai dan mudah ditangkap oleh pendukung tari, namun setelah penata melihat gerakan obah bahu saat pendukung tari membawakan bagian pengawak, penata dapat merasakan bahwa gerakan obah bahu ini terlalu mengikuti tempo musik. Proses perubahan gerakan
pengawak penata lakukan sedikit demi sedikit dengan selalu mendengarkan
iringannya. Kemudian penata akhirnya menemukan gerakan yang lebih sesuai dan cocok pada bagian pengawak.
Bimbingan-bimbingan juga perlu dilakukan dalam proses penggarapan agar mendapat saran-saran untuk kesempurnaan garapan tari yang diwujudkan, dan sudah dimulai sejak mendapatkan mata kuliah Koreografi VI di semester VII.
Tabel 2
Tahap Percobaan (Improvisasi)
Bulan Januari sampai dengan Maret tahun 2010 Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu II (Januari)
Mencoba bergerak dengan bebas dan spontanitas sesuai keinginan.
Mencari dan mencoba menyesuaikan gerak dengan tema, konsep serta ide garapan.
Latihan iringan tari untuk dilanjutkan pada bagian
pepeson dan pengawak.
Mendapatkan beberapa gerakan baru.
Memperoleh gerakan yang sesuai untuk digunakan pada bagian pengawit.
Minggu III (Januari)
Mencoba menyesuaikan gerakan yang telah disusun dengan musik iringan pada bagian pengawit.
Terbentuknya bagian
pengawit dari garapan tari
Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Kembali dilakukan latihan iringan tari untuk
memantapkan bagian pepeson dan pengawak.
Terbentuknya iringan tari pada bagian pepeson dan bagian pengawak. Minggu IV
(Januari)
Mencoba untuk selalu mendengarkan iringan pada bagian pepeson dan pengawak. Mencari dan menyesuaikan gerakan-gerakan yang akan digunakan pada bagian
pepeson dan pengawak.
Bagian pepeson terbentuk.
Minggu I (Februari)
Ujian Proposal Minggu II
(Februari)
Kembali mencari gerakan yang akan digunakan pada bagian pengawak.
Terbentuknya bagian
pengawak dari garapan tari
ini. Minggu III
(Februari)
Mendengarkan kembali iringan tari yang sudah rampung agar dapat lebih menghayati dan merasakan nafas yang ada dalam gending tersebut.
Melakukan latihan iringan tari untuk melanjutkan bagian
pengecet, dan pengetog.
Mendapatkan perbaikan pola gerak yang
disesuaikan dengan angsel dan nafas gending.
Terbentuk iringan tari pada bagian pengecet, dan
pengetog.
Minggu IV (Februari)
Mendengarkan iringan tari pada bagian pengecet dan
pengetog.
Mencoba mencari gerakan yang akan digunakan pada bagian pengecet dan pengetog.
Terbentuk bagian pengecet dan pengetog dari garapan tari ini walaupun belum halus.
Minggu I (Maret)
Kembali melanjutkan latihan iringan untuk menambah bagian pekaad.
Memantapkan kembali iringan tari dari pengawit hingga
pekaad
Terbentuknya iringan tari pada bagian pekaad.
Secara umum iringan tari kreasi Palegongan ini telah terbentuk.
Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Mendengarkan iringan tari dan mencari-cari gerak yang akan digunakan pada bagian pekaad
Bagian pekaad dari garapan tari ini telah terbentuk.
3.3 Tahap Forming (Pembentukan)
Tahap akhir dari proses kreativitas adalah forming. Pada tahap forming, dilakukan penentuan bentuk ciptaan dengan menggabungkan apa yang didapat pada tahap percobaan yang telah dilakukan sebelumnya. Penata juga harus memikirkan kesesuaian bentuk tari yang digarap dengan hal-hal mendasar yang ada dalam tarian, seperti gerak, ekspresi, irama, ruang, dan waktu.
Tahap proses pembentukan dilakukan secara bertahap. Penata pada awalnya memberikan pemahaman mengenai ide, dan konsep dari garapan tari kreasi Palegongan kepada pendukung tari agar mereka mengetahui garapan tari yang didukung, sehingga mereka dapat merasakan setiap suasana dan penjiwaan dalam garapan.
Pada tahap pembentukan, juga dilakukan percobaan terhadap kostum, dan penentuan kecocokan kostum dengan warnanya agar dapat diketahui terganggu atau tidaknya gerakan saat menari, serta mengetahui kesesuaian efek dari tata lampu terhadap warna kostum tersebut. Setelah garapan tari kreasi Palegongan ini terbentuk, latihan dilakukan secara lebih rutin dengan melakukan pemantapan pada setiap gerakan, penyatuan rasa gerak dan ekspresi dari dalam dengan musik pengiring pada setiap adegan, serta mencari kekompakan, sehingga dapat terwujud garapan yang
benar-benar utuh. Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna sebelumnya telah sempat dipertunjukkan saat ngayah di Pura Dalem Agung Padang Tegal Ubud. Melalui rekaman yang diambil pada saat ngayah, penata secara terus-menerus mencoba mempelajari dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada garapan.
Tahapan finishing juga dilakukan setelah tahap pembentukan untuk mengakhiri proses kreativitas dengan lebih menghaluskan, dan menghayati garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna sehingga dapat diperoleh kepuasan tersendiri bagi penatanya.
Tabel 3
Tahap Forming (Pembentukan)
Bulan Maret sampai dengan Mei tahun 2010 Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu II (Maret)
Melakukan upacara nuasen di Pura Padmasana
Ardhanareswari ISI Denpasar.
Mengumpulkan pendukung tari serta memberikan pemahaman mengenai ide dan konsep garapan. Melakukan latihan awal dengan pendukung tari dan penuangan gerak pada bagian pengawit serta
pepeson .
Pendukung tari dapat mengetahui ide dan konsep garapan yang mereka bawakan. Terbentuk bagian
pengawit dan pepeson dari
garapan tari ini.
Minggu III (Maret)
Latihan ditiadakan karena terbentur hari raya Nyepi.
Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu IV (Maret)
Melakukan latihan untuk memantapkan bagian
pengawit, pepeson dan
penuangan gerak dan pola lantai pada bagian pengawak disertai dengan iringannya. Kembali melakukan penuangan gerak dan pola lantai pada bagian
pengawak.
Bagian pengawit dan
pepeson telah dikuasai.
Bagian pengawak telah dikuasai dengan baik.
Minggu I (April)
Melakukan latihan untuk memantapkan bagian
pengawit, pepeson, dan pengawak disertai pola lantai
serta iringannya.
Latihan dilanjutkan untuk penuangan gerak dan pola lantai pada bagian pengecet dengan iringannya.
Pendukung tari sudah menguasai bagian
pengawit sampai dengan pengawak.
Bagian pengecet sudah dapat dikuasai.
Minggu II (April)
Melakukan latihan untuk memantapkan bagian
pengawit sampai dengan pengecet.
Latihan dilanjutkan untuk penuangan gerak dan pola lantai pada bagian pengetog, dan pekaad disertai dengan iringannya.
Bagian pengawit sampai dengan pengecet sudah dikuasai dengan baik oleh pendukung tari.
Garapan tari kreasi Palegongan ini telah terbentuk.
Minggu III (April)
Mengadakan latihan untuk memantapkan seluruh bagian garapan.
Melakukan latihan untuk memantapkan dan
mengingat perubahan gerak yang sebelumnya.
Beberapa gerakan ada yang dirubah dan ada yang disederhanakan (motif gerakannya dikurangi) agar lebih sesuai dengan
angsel gending.
Garapan tari kreasi Palegongan sudah terbentuk dan dikuasai dengan baik.
Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu IV (April)
Mengadakan latihan untuk memantapkan gerakan, pola lantai, dan kesesuaian gerak dengan iringan tari.
Mengadakan latihan lebih padat untuk lebih
memantapkan yang disertai dengan penguasaan ekspresi pada setiap gerakan yang dibawakan.
Pendukung tari telah menguasai seluruh bagian garapan.
Kekompakan dan
penjiwaan mulai terbentuk dan disesuaikan.
Minggu I (Mei)
Mengadakan latihan gabungan antara penari dengan iringan tari.
Latihan dengan percobaan kostum yang akan
digunakan. Tahap finishing
Garapan sudah terwujud secara utuh dengan menyesuaikan rasa antara penari dan iringan tari. Diketahui terganggu atau tidaknya gerakan saat menggunakan kostum.
Minggu II (Mei)
Latihan ditiadakan karena berbenturan dengan hari raya Galungan dan Kuningan, namun jika ada sela-sela waktu dilakukan latihan untuk pemantapan. Minggu III (Mei) 17-20 Mei 2010 Gladi bersih Minggu IV (Mei) 24-27 Mei 2010
Ujian Tugas Akhir
Tabel-tabel yang digambarkan di atas merupakan kegiatan yang dilaksanakan selama proses kreativitas berlangsung dan dilakukan selama 7 bulan dari bulan November tahun 2009 hingga bulan Mei tahun 2010. Hal ini membuktikan
bahwa sebuah karya tidak dapat dihasilkan dengan mudah, karena diperlukan suatu proses yang cukup lama untuk mewujudkan apa yang diharapkan.
Selama proses kreativitas berlangsung, ada hambatan dan halangan yang didapatkan karena terkadang apa yang diharapkan tidak selalu berjalan sebagaimana yang diinginkan. Hambatan tersebut antara lain pendukung tari yang sempat diganti, karena tiba-tiba berhalangan mendukung, namun penata akhirnya mendapat pengganti yang siap mendukung garapan ini, dan sulitnya mengatur waktu karena setiap pendukung memiliki jadwal kegiatan yang berbeda-beda. Penata selalu mencoba mengatur jadwal latihan sesuai kesepakatan.
Perbaikan selalu didapatkan selama proses tersebut berlangsung melalui bimbingan-bimbingan yang terus dilakukan dengan dosen pembimbing. Hasil dari proses perbaikan dan bimbingan inilah yang digunakan untuk menyempurnakan dan sangat bermanfaat bagi penggarapan tari kreasi Palegongan ini agar keutuhan garapan dapat diwujudkan.
BAB IV WUJUD GARAPAN
Wujud merupakan salah satu bagian dari tiga elemen karya seni (wujud, isi/bobot, dan penampilan), serta menjadi elemen dasar yang terkandung dalam karya seni. Wujud adalah sesuatu yang dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata atau
telinga atau secara abstrak yang dapat dibayangkan atau dikhayalkan.12
4.1 Deskripsi Garapan
Kembang Ratna merupakan sebuah garapan tari kreasi Palegongan yang
tidak menggunakan pakem-pakem tari Legong, namun terinspirasi pada gerakan-gerakan luwes dari Legong klasik, dan dikembangkan sesuai kebutuhan garapan. Garapan Kembang Ratna tidak memuat dan mengangkat unsur cerita di dalamnya, tetapi menampilkan wujud serta karakter bunga ratna. Seperti yang diketahui, karakter dari bunga ratna, yaitu agung, sederhana, dan indah. Sedangkan wujud bunga ratna, yaitu bunga ratna memiliki bentuk yang kecil, namun dapat hidup subur di tengah-tengah tumbuhan lainnya, serta dapat layu dan rapuh seiring berjalannya waktu. Ide garapan terinspirasi saat penata melihat setangkai bunga ratna yang dipasangkan di setiap bangunan suci (pelinggih) pada waktu diselenggarakannya upacara keagamaan.
12 A. A. M. Djelantik, 1999, Estetika Sebuah Pengantar, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), p. 17.
Adapun tema yang diangkat dalam garapan Kembang Ratna adalah perputaran hidup. Perputaran hidup yang dimaksud adalah perputaran hidup dari bunga ratna itu sendiri, karena bunga ratna tidak hanya selalu dalam keadaan segar namun juga dapat layu dan rapuh. Demikianlah bunga ratna yang melalui suatu proses yang terus berputar, tumbuh dari bibitnya, hidup subur di antara tumbuhan lainnya, memiliki karakter agung karena digunakan sebagai sarana upacara, sederhana karena memiliki bentuk kecil, dan indah. Bunga ratna dapat layu dan rapuh seiring berjalannya waktu, namun setelah layu dan rapuhnya bunga ratna tersebut akibat dipetik setelah digunakan sebagai sarana upacara, bunga ratna dapat tumbuh kembali dari bijinya yang berserakan menjadi bunga ratna baru. Tema inilah yang harus disesuaikan dengan struktur garapannya agar dapat menjadi satu kesatuan yang utuh. Struktur garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna terdiri dari pengawit,
pepeson, pengawak, pengecet, pengetog, dan pekaad. Gerakan-gerakan yang
dipergunakan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah pengembangan dari gerak-gerak tari Legong, seperti agem, dan angsel gerak serta muncul berdasarkan inspirasi penata sendiri. Tentunya dalam hal ini, penata menginginkan motif gerakan yang dipergunakan dalam garapan dapat berbeda dari gerak-gerak Legong yang telah ada sebelumnya.
Kembang Ratna ditarikan dalam bentuk tari kelompok oleh 7 (tujuh) orang
penari putri dengan alasan penempatan penari dapat memberi kesan dinamis, kontras, asimetris, pola lantai dapat lebih bervariasi, postur tubuh penata dan pendukung yang agak kecil memungkinkan menggunakan 7 orang penari agar panggung tidak terlalu banyak kosong, serta dapat berbeda dari segi jumlah penari dengan penampilan tari
kreasi Palegongan lainnya yang dipertunjukkan dalam menempuh Ujian Tugas Akhir pada tahun ini.
Pesan yang ingin disampaikan penata melalui garapan tari Kembang Ratna terkait dengan tema yang diangkat adalah dalam kehidupan, makhluk hidup semua sama di hadapan Tuhan karena semua diciptakan dan melalui proses yang sama yaitu lahir, hidup, dan mati. Begitulah seterusnya dan selalu berulang-ulang, demikian pula halnya dengan bunga ratna.
Durasi waktu yang digunakan dalam garapan tari kreasi Palegongan
Kembang Ratna adalah kurang lebih 12 menit, yang disajikan di panggung prosenium
Gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Berdasarkan durasi waktu yang digunakan, diharapkan garapan ini dapat tampil secara utuh, adanya suatu komunikasi, dan dapat dinikmati penontonnya.
Konsep kostum yang digunakan dalam garapan ini adalah konsep minimalis dengan tujuan agar kostum nantinya tidak mengganggu ruang gerak penari. Kostum garapan ini menggunakan ciri kostum Palegongan yang telah ada, seperti penggunaan
lamak, bancangan, dan sesimping, namun ada beberapa bagian yang diberi inovasi,
seperti motif serta warna gelungan, kain, sesimping, ampok-ampok, dan lamak, agar dapat menampilkan nuansa baru. Demikian halnya dengan tata rias dalam garapan
Kembang Ratna yang menggunakan tata rias panggung putri halus. Warna kostum
yang dominan digunakan dalam garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah warna ungu, dan putih susu. Penggunaan warna ini didasarkan atas dua macam warna bunga ratna asli, yaitu bunga ratna berwarna ungu, dan bunga ratna berwarna
putih. Selain itu, properti yang digunakan yaitu kipas, yang telah menjadi ciri khas tari Palegongan dan nantinya akan mendukung ekspresi gerak yang dibawakan.
Iringan yang digunakan dalam garapan tari kreasi Palegongan Kembang
Ratna adalah gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu. Pemilihan gamelan berdasarkan
pertimbangan bahwa gamelan Semar Pegulingan memiliki kekayaan patet dengan 7 nada yang dimiliki, mampu mendukung setiap suasana yang ingin disampaikan, dan gamelan ini identik dengan tari Legong. Penata iringan tari garapan Kembang Ratna adalah Dewa Alit, dengan pendukung karawitan adalah Sekaa Gong Nataraja, Banjar Mekar Sari, Padang Tegal, Ubud. Pola iringannya disesuaikan dengan struktur tari kreasi Palegongan yang digarap, dan jenis gending yang digunakan juga inovatif, sehingga antara bentuk tari dan gending terdapat adanya jalinan kesatuan yang utuh.
4.2 Analisa Pola Struktur
Struktur dari suatu karya seni menyangkut keseluruhan, meliputi peranan masing-masing bagian untuk dapat dicapainya sebuah bentuk garapan. Secara struktural, garapan tari Kembang Ratna dibagi menjadi 6 (enam) bagian, yang terdiri dari pengawit, pepeson, pengawak, pengecet, pengetog, dan pekaad. Pembagian garapan ini dimaksudkan untuk mempermudah penggarapan, memperkuat alur, penghayatan garapan, sehingga penikmat mengerti pesan yang ingin disampaikan melalui garapan ini, serta diharapkan bagian-bagian garapan dapat menyatu dan saling berhubungan (koheren) antara satu dengan yang lain. Struktur garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna dapat diuraikan sebagai berikut :
Pengawit : Menggambarkan bunga ratna tumbuh dari bibitnya dan hidup subur di
tengah-tengah tumbuhan lainnya. Suasana yang ditampilkan pada bagian ini adalah suasana tenang.
Gerakan yang dilakukan pada bagian pengawit adalah sebagai berikut :
a. Gerakan kompak (2 orang) : ngelo, agem kanan mentang kiri, nyeregseg putar kiri (tukar posisi), staccato (gerakan patah-patah) pada badan, staccato (gerakan patah-patah) pada tangan, ngelo, agem seklo, ngoyod.
b. Gerakan kompak (2 orang) : agem ratna kanan, ngambil lamak, ileg-ileg,
nyeregseg putar kiri, nabdab pala, ileg-ileg.
c. Gerakan kompak (3 orang) : mentang kedua tangan ke atas, agem, putar kiri,
agem, nampes tangan ke atas.
d. Gerakan kompak : agem kanan kipas ngekes mentang kiri, staccato (gerakan patah-patah) pada badan, kepala, dan tangan, mentang kedua tangan ke bawah, agem kiri ngelung atas, tangan kanan mentang kipas ngepel,
nyeregseg kipas ngeliput, agem kanan ngepel mentang kiri, jalan ngegol,
nyegut, mentang kedua tangan ke bawah, nyeregseg.
Pepeson : Menggambarkan keagungan dari bunga ratna. Suasana yang ditampilkan
pada bagian ini adalah suasana agung.
Gerakan yang dilakukan pada bagian pepeson adalah sebagai berikut :
a. Agem ratna kanan (posisi kaki seperti agem kanan pada umumnya, posisi tangan kiri ngelung ke atas sejajar dengan kepala, posisi tangan kanan
pojok kanan atas, agem ngelung atas kipas ngekes, nyeledet kanan 2x, ngelo, hempas tangan mengalun ke atas, nabdab gelung kiri dengan kipas ngiluk,
agem mentang bawah, ngeseh, maju kaki ngagem (bergantian), ngotag leher,
agem kanan kipas ngepel mentang kiri, agem kipas ngekes (bergantian
menghadap depan), staccato (gerakan patah-patah) pada tangan, badan, kepala, agem kanan kipas ngepel mentang kiri, nyeregseg putar kiri,
ngembang tangan, agem kanan kipas ngepel mentang kiri, ngumbang.
b. Agem ngiluk, ngumbang, mentang kedua tangan ke bawah, nyeregseg putar ke kanan di tempat, agem kipas ngepel ngambil lamak, tanjek kiri, tanjek kanan,
ileg-ileg.
c. Agem kanan kipas ngepel mentang kiri, nyeregseg, mentang kedua tangan ke bawah, ngotag leher, agem kipas ngekes, ngelier, ngeseh, nyeledet, staccato (gerakan patah-patah) pada badan dan kepala, sogok kanan, agem kanan kipas
ngepel mentang kiri, nyegut, nyeregseg.
Pengawak : Menggambarkan kesederhanaan bunga ratna. Suasana yang
ditampilkan pada bagian ini adalah suasana tenang. Gerakan yang dilakukan pada bagian pengawak adalah sebagai berikut :
a. Gerakan kompak : Agem ratna kanan, ngelier, nyeledet 2x, tutup kipas,
ngelier, nyeledet, ngengsog, buka kipas (bergantian), agem kiri mentang
kanan, ngelo, ambil lamak, agem ratna kiri (posisi kaki seperti agem kiri pada umumnya, posisi tangan kanan sejajar kepala dengan kipas ngepel, posisi
tangan kiri mahpah biu), nyeledet, nyegut, mentang kedua tangan ke bawah,
nusuk kipas, agem mentang tangan pojok bawah.
b. Ngotag leher, agem ngekes, putar kiri, ngembat kanan, ngotag leher, agem kanan kipas ngepel mentang kiri, agem ngelung atas mentang kanan (motif 1).
Ngotag leher sambil merendah, mentang kedua tangan ke bawah, staccato
(gerakan patah-patah) pada badan dan pinggul, maju agem seklo (motif 2). c. Gerakan kompak : Nampes tangan ke atas, nyeregseg memegang lamak,
agem ngelung atas mentang kanan.
Pengecet : Menggambarkan keindahan bunga ratna. Suasana yang ditampilkan pada
bagian ini adalah suasana gembira.
Gerakan yang dilakukan pada bagian pengecet adalah sebagai berikut :
a. Gerakan kompak : staccato (gerakan patah-patah) pada tangan, ngelier kiri,
agem ngelung atas mentang kanan pojok, rentang tangan, agem ngelung atas
mentang kanan, ngotag leher, agem kipas ngekes, nyegut, nyeledet, ngotag
leher sambil putar kanan, agem, ngeseh.
b. Angsel, agem ngelung atas mentang kanan, agem ngelung atas mentang kanan pojok, agem kiri, nyeledet kiri, agem ngelung atas mentang kanan pojok (bergantian), agem kipas ngepel, ngotag leher, ngumbang, angsel, agem
ngelung atas mentang kanan, ambil lamak, ngengsog (bergantian), ngotag
leher, angsel, tutup kipas, ngotag leher, agem, kipek kiri tengah kanan, buka kipas, agem ngelung atas mentang kanan, kipas ngeliput, hempas tangan mengalun ke atas, ngeseh, angsel, agem seklo, nyeregseg, agem ratna kanan,
ngelo, agem ngambil lamak, agem kipas ngepel, nyeregseg, agem kipas
ngepel.
c. Gerakan bergantian : matimpuh, silang tangan, mentang kedua tangan ke atas (motif 1), mentang kedua tangan ke atas, agem kipas ngepel, ngelayak (motif 2), agem kipas ngiluk, ngotag leher, angsel, ngelo (motif 3).
d. Agem mentang kanan, staccato (gerakan patah-patah) pada badan, tangan, kepala, agem ngelung atas mentang kanan pojok.
Pengetog : Menggambarkan kelayuan dan kerapuhan bunga ratna akibat dipetik
setelah digunakan sebagai sarana upacara. Suasana yang ditampilkan pada bagian ini adalah suasana sedih (sayu).
Gerakan yang dilakukan pada bagian pengetog adalah sebagai berikut :
a. Gerakan kompak (layu) : ngangget, agem seklo, agem kipas ngepel, kenser berputar ke kanan diikuti kipas naik turun, matimpuh, liukan badan, agem
mentang tangan bawah.
b. Gerakan rapuh : gerakan bergantian, bangun silih berganti (gerakan rapuh) dengan kipas ditutup.
Pekaad : Menggambarkan bunga ratna tumbuh kembali dari biji bunga ratna yang
berserakan menjadi bunga ratna baru. Suasana yang ditampilkan dalam garapan ini adalah suasana gembira.
a. Gerakan kompak : ngelo, kipas ngeliput sambil putar kiri di tempat, tangan bergantian naik turun, nyeregseg, angsel, ngangget, mentang kedua tangan lurus ke depan, hempas tangan mengalun ke atas, ngembang tangan (bergantian), tutup kipas, nyeledet 2x, ngegol ngembat tangan, nyeregseg,
ngangget, hempas tangan mengalun ke atas, agem kipas ngiluk, nyeregseg,
variasi kipas dan level.
4.3 Analisa Simbol
Simbol merupakan media penting sebagai penghubung atau jalinan suatu komunikasi dalam sebuah garapan tari yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan maksud tertentu kepada penikmatnya. Simbol dapat menjadi tanda yang mampu mengungkapkan ide atau gagasan dalam tari. Melalui simbol gerak yang mampu menggambarkan varian dan karakter tari yang dibawakan maupun simbol warna kostum yang mampu memperlihatkan karakter tari dan isi garapan, masyarakat Bali khususnya penikmat seni maupun masyarakat yang masih awam dengan seni diharapkan mengerti, mampu memberikan gambaran, serta dapat menangkap apa yang ada dalam garapan tari yang ditampilkan.
Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna memiliki beberapa simbol dari segi gerak, warna kostum, warna lampu (lighting), dan warna layar pada stage prosenium gedung Natya Mandala. Adapun simbol gerak yang ada dalam garapan
Kembang Ratna adalah gerakan bunga ratna tumbuh dari bibitnya, hidup subur di
tengah-tengah tumbuhan lainnya ditandai dengan gerakan pelan yang dilakukan secara bergantian. Gerakan nabdab gelung yang memperlihatkan keagungan bunga
ratna dengan suasana agung ditandai dengan ekspresi wajah mata dibuka dan tersenyum. Gerakan agem ratna, ngembang tangan, hempas tangan mengalun ke atas, dan pose pada bagian pengecet yang memperlihatkan keindahan bunga ratna dengan suasana gembira ditandai dengan ekspresi gembira. Gerakan layu dan rapuhnya bunga ratna dengan suasana sedih (sayu) dapat dilihat dari gerakan ngeliput pelan sambil berputar, rebah badan dengan level rendah, dan ngiluk (pada ruang gerak agak tertutup) ditandai dengan ekspresi sedih, pandangan ke bawah atau mata diredupkan. Gerakan bunga ratna tumbuh kembali dapat dilihat dari gerakan ngeliput kipas dari bawah ke atas ditandai dengan ekspresi gembira.
Simbol warna pada garapan tari Kembang Ratna, terdapat pada perpaduan warna kostum yang dipilih. Perpaduan warna yang digunakan adalah warna ungu, putih susu, dan hijau. Secara umum, warna ungu dan putih sebagai simbol dua macam warna asli dari bunga ratna, sedangkan hijau dapat dikatakan sebagai pemanis. Penggunaan warna-warna ini tentu disesuaikan dengan ide dalam garapan, disesuaikan dengan efek tata lampu dan agar kostum tari kreasi Palegongan Kembang
Ratna terlihat sederhana.
Garapan tari Kembang Ratna didukung juga dengan tata lampu (lighting) yang warna lampunya disesuaikan dengan suasana yang ingin ditampilkan. Warna netral (general light) memiliki simbol ketenangan dan kegembiraan. Warna biru redup digunakan sebagai simbol kesedihan. Penggunaan layar yang berbeda juga bertujuan memberikan simbol pada setiap suasana yang ditampilkan.
4.4 Analisa Materi
Karya tari kreasi Palegongan Kembang Ratna memiliki elemen penting sebagai materi pokok yang patut dianalisa, yaitu gerak, karena dalam penampilannya gerak tersebut yang menjadi media ungkapnya sehingga mudah dicerna oleh penikmatnya. Perbendaharaan gerak pada tari kreasi Palegongan Kembang Ratna sudah terdapat pengembangan sesuai kebutuhan garapan sebagai hasil adanya rangsangan kreatif yang muncul dari dalam diri penata. Perbendaharaan gerak dalam garapan ini diharapkan dapat menjadi satu kesatuan yang utuh agar garapan dapat terlihat menarik.
Adapun pengembangan gerak terdapat pada gerak murni, yaitu gerak tari yang mempunyai bentuk artistik dan tidak mengandung arti. Gerak murni dalam garapan ini dominan dapat dilihat pada bagian pengawit, pengawak, serta pekaad, seperti gerakan ngukel, ngotag, ngelo, dan miles. Sedangkan gerak maknawi, yang merupakan gerakan yang sudah diolah menjadi bentuk artistik dan mengandung arti, dominan dapat dilihat pada bagian pepeson, pengecet, dan pengetog. Beberapa motif gerak maknawi yang digunakan pada garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah sebagai berikut :
Gerak yang menggambarkan keagungan bunga ratna
a. Nabdab gelung : gerakan tangan seperti memperbaiki gelungan (posisi satu tangan menyentuh gelungan), yang didukung dengan ekspresi mata dibuka
dan tersenyum (manis rengu).13
13 I Wayan Rai, et al, 1978/1979, Mengenal Beberapa Sikap atau Gerak dalam Tari Bali, Denpasar: Proyek Normalisasi Kehidupan Kampus Jakarta Sub Proyek ASTI Denpasar, p. 10.