Pengaruh TiO
2dan pH Pada Fotoreduksi Ion Hg(II) Dalam Larutan
Yang Mengandung p-Klorofenol
Devina Ingrid Anggraini1, Endang Tri Wahyuni2, Mudasir21
Prodi Anafarma FKes Universitas MH. Thamrin 2
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Alamat korespondensi:
Prodi Anafarma FKes Universitas MH. Thamrin Jln. Raya Pondok Gede No. 23-25 Kramat Jati Jakarta Timur 13550 Telp: 021 8096411 ext 1304; email:[email protected]
ABSTRAK
Penelitian tentang fotoreduksi ion Hg(II) dalam larutan yang mengandung p-klorofenol telah dilakukan. Kajian ini mencoba mengurangi permasalahan lingkungan tercemar logam Hg yang masih menjadi masalah hingga saat ini, dalam pendekatan fotokatalitik. Material fotokatalis, seperti TiO2 telah mulai dikembangkan secara luas untuk penyelesaian
masalah serupa. Sementara keberadaan Hg di lingkungan perairan berada dalam berbagai spesies yang bergantung tingkat keasaman perairan tersebut. Kajian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh fotokatalis TiO2 terhadap efektivitas
fotoreduksi ion Hg(II) dan pH larutan terhadap hasil fotoreduksi ion Hg(II). Proses fotoreduksi ion Hg(II) dilakukan dalam suatu reaktor tertutup yang dilengkapi dengan lampu UV, yaitu dengan cara menyinari dan tanpa menyinari campuran yang terdiri dari larutan ion Hg(II), dengan dan tanpa menambahkan serbuk fotokatalis TiO2, serta dengan
pengadukan selama waktu tertentu. Proses diatur dengan pH pada rentang 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 dengan sistem buffer. Penentuan konsentrasi ion Hg(II) yang tidak tereduksi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri serapan atom teknik pembangkitan uap dingin (Cold Vapor-Atomic Absorption Spectrophotometry, CV-AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fotokatalis TiO2 dapat meningkatkan laju fotoreduksi ion Hg(II) yang berperan sebagai
penyedia elektron. Adanya variasi spesies ion Hg(II), TiO2 yang dapat melepaskan elektron, dan p-klorofenol
yang saling berlawanan pengaruh menghasilkan fotoreduksi ion Hg(II) netto. Penambahan p-klorofenol menyebabkan reduksi berlangsung efektif pada pH 2-4.
Kata kunci: fotoreduksi, ion Hg(II), TiO2, pH Pendahuluan
Berbagai macam fotokatalis, seperti Fe2O3, ZnO, CdS,
dan TiO2 telah dikembangkan sebagai metode untuk
mengurangi pencemaran limbah cair akibat keberadaan logam berat maupun polutan organik. Kemampuan fotokatalis berasal dari struktur elektronik yang dikarakterisasi oleh energi celah pita (band gap energy, Eg)
antara 2,2 eV sampai dengan 3,5 eV. Di antara semikonduktor tersebut, TiO2 paling sering diaplikasikan
ke lingkungan daripada semikonduktor yang lain. Hal ini karena TiO2 mempunyai harga energi celah pita (Eg)
sebagai parameter fotokatalis yang cukup tinggi yaitu 3,0 eV untuk jenis rutile dan 3,2 eV untuk jenis anatase. Selain mempunyai harga Eg yang cukup tinggi, TiO2
mempunyai kestabilan yang tinggi terhadap proses biologi dan kimia. Oleh karena itu efektivitas penggunaan TiO2
sebagai fotokatalis perlu di pelajari.
Keberadaan logam berat sebagai pencemar anorganik bersama dengan senyawa turunan fenol sebagai pencemar organik di perairan dapat berbahaya bagi lingkungan. Logam berat seperti merkuri dan senyawa fenol terklorinasi seperti p-klorofenol merupakan polutan yang mempunyai toksisitas tinggi dan bersifat karsinogenik (pemicu kanker).
Merkuri dan turunannya sangat beracun, sehingga kehadiran spesies tersebut di lingkungan perairan dapat mengakibatkan kerugian pada manusia. Selain itu pencemaran perairan oleh merkuri juga mempunyai pengaruh terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifat merkuri stabil dalam sendimen, kelarutan dalam air rendah dan mudah diserap serta terakumulasi dalam jaringan tubuh organisme air. Oleh karena itu penghilangan atau penurunan konsentrasi ion Hg(II) dalam air perlu dilakukan.
Berbagai metode penghilangan ion Hg(II) dari lingkungan perairan telah dikembangkan antara lain secara biologi, fisika-kimia, dan kimia. Metode penghilangan ion Hg(II) secara biologi dilakukan dengan menggunakan mikroorganisme. Dengan cara ini konsentrasi ion Hg(II) dapat mengalami penurunan secara signifikan, tetapi secara teknik sulit dan mahal. Penghilangan ion Hg(II) secara fisika-kimia telah dilakukan menggunakan adsorben asam humat-kaolin. Cara ini sederhana tetapi memberikan hasil samping berupa limbah padat adsorben yang telah jenuh oleh polutan. Sementara itu, penghilangan Hg(II) secara kimia dapat dilakukan dengan metode fotoreduksi yang menggabungkan cahaya ultraviolet dengan partikel semikonduktor sebagai fotokatalis. Fotokatalis yang telah diuji secara intensif dan diaplikasikan pada teknologi
lingkungan adalah TiO2. Fotokatalis TiO2 ini telah banyak
digunakan untuk fotooksidasi atau fotodegradasi senyawa organik maupun digunakan untuk fotoreduksi beberapa ion logam, sebagaimana telah dilakukan Wastini (2005), namun belum banyak dilaporkan untuk fotoreduksi ion Hg(II). Penggunan fotokatalis TiO2 pada fotoreduksi ion
Hg(II) telah dilaporkan oleh Chen dan Ray (2001) dan Wang dkk., (2003). Chen dan Ray (2001) telah mengkaji bahwa adanya ion logam dan senyawa-senyawa organik dapat meningkatkan efektivitas fotoreduksi ion Hg(II) menjadi Hg(0), namun penambahan oksigen terlarut memberikan dampak negatif terhadap efektivitas fotoreduksi.
Ion Hg(II) di dalam perairan dapat berada bersama-sama dengan polutan organik lain seperti p-klorofenol (4-klorofenol). P-klorofenol dapat mengalami fotodegradasi terkatalisis TiO2 (Mukaromah, 2004; Candra, 2005). TiO2
juga telah dibuktikan dapat mempercepat reaksi fotodegradasi p-klorofenol (Alemany dkk., 1997; Burrows dkk., 1998; Wastini, 2005). Senyawa p-klorofenol mengalami fotodegradasi melalui mekanisme fotooksidasi, sedangkan fotoreduksi merupakan pasangan fotooksidasi, maka keberadaan p-klorofenol dalam larutan diduga dapat berpengaruh terhadap fotoreduksi ion Hg(II) menjadi Hg(0). Selain itu, mengingat bahwa berlangsungnya proses fotoreduksi maupun fotooksidasi dapat dipengaruhi oleh spesiasi ion Hg(II), TiO2 untuk melepaskan elektron, dan
p-klorofenol untuk mengalami degradasi, maka dalam penelitian ini juga dipelajari pengaruh pH larutan terhadap proses fotokatalitik. Fenomena tersebut belum banyak dilaporkan sehingga mendorong dilakukannya penelitian ini.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan teknologi lingkungan khususnya penanganan limbah yang mengandung ion Hg(II) dan p-klorofenol secara simultan.
Metodologi Penelitian
Alat Dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi reaktor yang dilengkapi dengan satu set alat pengaduk magnetik merk Spinbar ukuran 2 cm dan lampu UV 40 watt merk Philips seperti pada gambar 1. Alat gelas laboratorium dan instrumen yang digunakan meliputi erlenmeyer, pipet volum, corong gelas, labu ukur, gelas beker, neraca analitik Mettler AE 200, Centrifuge IEC (International Equipment Company) AGIMATIC-N, Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) GBC HG 3000 teknik pembangkit uap dingin, difraksi sinar-X merk Shimadzu X6000.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah TiO2 teknis, HgCl2, p-klorofenol, KCl, HCl 37% (ρ
= 1,19 g/mL, Mr = 36,46), Na2HPO4.2H2O, asam sitrat
(C6H8O7.2H2O) dan NaOH buatan Merck, boraks
(Na2B4O7.10H20) buatan BHD Chemical Limited Poole
England, pelet buffer pH 4 dan 7 buatan BDH Analar, kertas saring Whatman 42 (Φ = 110 nm), dan akuabides buatan Laboratorim PAU UGM.
Prosedur Kerja
Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh fotokatalis terhadap efektivitas fotoreduksi ion Hg(II) dan pH larutan terhadap hasil fotoreduksi ion Hg(II) yang dikatalisis TiO2 dengan adanya p-klorofenol. Untuk
mencapai tujuan tersebut telah dilakukan proses fotoreduksi secara batch dalam suatu reaktor tertutup yang dilengkapi dengan lampu UV dan plat pengaduk magnetik. Pengaruh fotokatalis dikaji melalui proses fotoreduksi ion Hg(II) tanpa maupun dengan penambahan fotokatalis TiO2.
Selain itu, untuk mengetahui peran permukaan fotokatalis, dilakukan proses pengadukan Hg2+ dengan TiO2 pada
tempat yang gelap. Kajian ini dilakukan pada kondisi 50 mL larutan ion Hg(II) 5 mg/L, berat TiO2 25 mg dengan
waktu kontak selama 24 jam. Pengaruh pH terhadap efektivitas fotoreduksi dipelajari dengan cara memproses larutan Hg(II) yang telah ditambah p-klorofenol dengan pH bervariasi yaitu 2, 4, 6, 8, 10, dan 12. Pengaturan pH dilakukan dengan larutan buffer fosfat (Handayani, 2006). Selanjutnya konsentrasi ion Hg(II) sisa dalam larutan ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom teknik pembangkitan uap dingin (Cold Vapor-Atomic Absorption Spectrophotometry, CV-AAS).
Hasil dan Pembahasan
Proses fotoreduksi ion Hg(II) dengan katalis TiO2
dilakukan dengan cara mencampur larutan ion Hg(II) dan serbuk fotokatalis TiO2 sampai jenuh, kemudian disinari
dengan lampu UV dalam suatu reaktor tertutup. Lampu UV ini berfungsi sebagai sumber energi foton yang diperlukan agar reaksi fotoreduksi berlangsung. Efektivitas fotoreduksi dinyatakan dengan persentase ion Hg(II) yang tereduksi, yang dihitung berdasarkan selisih antara konsentrasi ion Hg(II) mula-mula dengan konsentrasi ion Hg(II) sisa atau yang tak tereduksi. Penentuan konsentrasi ion Hg(II) yang tidak tereduksi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri serapan atom teknik pembangkitan uap dingin (Cold-Vapor Atomic Absorption Spectrophotometry, CV-AAS), yang didasarkan pada kurva standar.
Pengaruh kebeadaan material fotokatalis, TiO2 terhadap
efektivitas fotoreduksi ion Hg(II), dibuktikan dengan proses fotoreduksi ion Hg(II) tanpa maupun dengan penambahan fotokatalis TiO2. Selain itu, untuk mengetahui
peran permukaan fotokatalis, dilakukan proses pengadukan Hg2+ dengan TiO2 pada tempat gelap. Hasil kajian ini
Gambar 1. Reaktor Fotokatalis
Gambar 2 Pengaruh cahaya dan fotokatalis TiO2 terhadap hasil fotoreduksi ion Hg(II), pada kondisi 50 mL larutan ion
Hg(II) 5 mg/L, berat TiO2 25 mg dengan waktu kontak selama 24 jam.
Gambar 2 menunjukkan bahwa proses penyinaran terhadap ion Hg2+ tanpa TiO2 maupun dengan adanya TiO2
menyebabkan penurunan konsentrasi ion Hg(II) dalam larutan karena ion Hg(II) tereduksi menjadi Hg(0). Pengurangan konsentrasi ion Hg(II) juga terjadi pada pencampuran larutan ion Hg(II) dan TiO2 tanpa cahaya.
Pengurangan konsentrasi ion Hg(II) selama penyinaran tanpa adanya fotokatalis TiO2 terjadi oleh adanya reaksi
reduksi ion Hg(II) oleh elektron yang dihasilkan oleh peruraian molekul H2O setelah menyerap sinar UV atau
energi foton (hυ). Reaksi penyerapan cahaya oleh H2O
selain menghasilkan elektron juga menghasilkan radikal •OH dan H+
, yang disebut dengan reaksi fotolisis (Burrows dkk., 1998). Reaksi fotolisis molekul air dan reaksi reduksi ion Hg(II) dapat dituliskan sebagai berikut:
H2O + hv → OH + H +
+ e -Hg2+ + 2e- → Hg0
Reaksi reduksi ini berjalan lambat atau memberikan hasil yang relatif rendah karena proses pelepasan elektron oleh molekul air relatif sulit.
Gambar 2 juga memperlihatkan terjadinya pengurangan konsentrasi ion Hg(II) yang cukup besar pada proses dengan penambahan fotokatalis TiO2. Hal ini terjadi karena
TiO2 dapat menyediakan elektron dan juga radikal •OH
dalam jumlah yang cukup besar setelah fotokatalis tersebut dikenai sinar UV. Pelepasan elektron pada TiO2 jauh lebih
efektif dibandingkan pada molekul air sehingga jumlah elektron yang dihasilkan relatif lebih banyak. Dengan demikian jelas bahwa dengan adanya fotokatalis TiO2,
elektron yang dihasilkan selain berasal dari fotolisis H2O 71.76 92.79 31.22 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Hg(II) + hv Hg(II) + TiO2 + hv Hg(II) + TiO2 (tanpa hv)
% i o n H g (I I) t e re d u k s i
Oksigen Titanium Deep trap Ikatan juntai
Kosong juga berasal dari TiO2. Hal ini menjelaskan mengapa
terjadi peningkatan efektivitas fotoreduksi ion Hg(II) yang relatif besar dengan adanya fotokatalis.
Sementara itu, penurunan konsentrasi ion Hg(II) pada keadaan tanpa cahaya sangat mungkin karena terjadinya adsorpsi ion logam tersebut pada permukaan fotokatalis TiO2. Proses adsorpsi ion Hg(II) pada permukaan TiO2
dapat dijelaskan sebagai berikut. Masel (1996) melaporkan adanya sederetan ikatan juntai (dangling bond) pada permukaan semikonduktor TiO2. Ikatan juntai terjadi
ketika satu atom kehilangan atom tetangga yang seharusnya bisa berikatan dengan atom tersebut. Ikatan juntai pada permukaan TiO2 merupakan pusat antara
atom-atom Ti yang kehilangan atom-atom oksigennya. Pada daerah ikatan juntai ini bisa terjadi pemerangkapan (deep trap). Kekosongan oksigen pada permukaan TiO2 inilah yang
dimungkinkan diisi oleh ion Hg(II) sehingga dapat terjadi proses adsorpsi. Adanya kekosongan dari ikatan juntai pada TiO2 ditunjukkan oleh Gambar 3.
Proses adsorpsi ini mengindikasikan bahwa reaksi fotoreduksi yang dikatalisis TiO2 diawali dengan adsorpsi
ion Hg(II) pada permukaan fotokatalis. Selanjutnya, ion Hg(II) yang telah terserap mengalami kontak dengan elektron pada permukaan TiO2 sehingga berlangsung
reaksi reduksi.
Dalam larutan, Hg(II) mempunyai berbagai spesies yang dipengaruhi oleh pH, sebagaimana terlihat dalam
Gambar 4. Pada pH 1- 6, Hg(II) lebih dominan sebagai ion Hg2+, namun juga berada sebagai Hg(OH)+ dalam fraksi yang lebih rendah. Fraksi ion Hg2+ akan berkurang dengan kenaikan pH dan akan habis pada pH 5. Selain itu, pada pH 3 endapan Hg(OH)2 mulai terbentuk. Pada pH 6 hingga 12,
Hg(II) dominan sebagai endapan Hg(OH)2.
Gambar 4 Distribusi Hg(II) pada berbagai pH (Tipping dan Hurley,1992; Tipping, 1994)
Teramati juga pada gambar 3 di atas, pada pH 12, Hg(II) juga membentuk Hg(OH)3
dengan fraksi yang meningkat hingga pH 14, meskipun fraksi tersebut sangat rendah. Diantara spesies-spesies tersebut yang paling mudah tereduksi adalah Hg2+ dan Hg(OH)+.
Pengaruh pH larutan terhadap hasil fotoreduksi ion Hg(II) yang dikatalisis TiO2 dengan adanya p-klorofenol
telah dipelajari karena pH berpengaruh terhadap spesiasi ion Hg(II), TiO2, dan p-klorofenol. Jenis spesies yang ada
dalam larutan menentukan kemudahan ion Hg(II) untuk tereduksi, TiO2 untuk melepaskan elektron, dan
p-klorofenol untuk mengalami degradasi. Pengaruh pH larutan terhadap efektivitas fotoreduksi ion Hg(II) dengan adanya p-klorofenol dipelajari dengan cara melakukan reaksi fotoreduksi pada berbagai pH larutan dengan adanya p-klorofenol 5 mg/L, larutan ion Hg(II) 5 mg/L, dan 25 mg TiO2 dengan waktu penyinaran selama 24 jam. Hasil
Gambar 5 Pengaruh pH larutan terhadap efektivitas fotoreduksi 50 mL larutan ion Hg(II) 5 mg/L yang dikatalisis
TiO2 dengan adanya p-klorofenol (5 mg/L). Waktu reaksi 24 jam, berat TiO2: 25 mg.
Gambar 5 menunjukkan bahwa fotoreduksi hanya mengalami kenaikan yang relatif kecil dengan naiknya pH dari 2-4. Kenaikan efektivitas fotoreduksi yang lebih tajam terjadi pada kenaikan pH dari 4-6. Selanjutnya kenaikan pH 6-12, memberikan peningkatan efektivitas fotoreduksi yang sangat tajam dan mencapai 100%. Pengaruh pH ini dapat dijelaskan berdasarkan spesiasi ion Hg(II), permukaan fotokatalis TiO2, dan p-klorofenol.
Didasarkan pada kajian spesiasi ion Hg(II) sebagaimana dapat dipahami pada gambar 4, dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada pH 2-4, ion Hg(II) berada sebagai campuran antara Hg2+ dengan Hg(OH)+ dengan fraksi Hg2+ yang lebih dominan, sedangkan Hg(OH)+ dalam fraksi yang lebih rendah. Diantara kedua spesies tersebut, Hg2+ adalah yang lebih mudah mengalami reduksi. Selain itu, pembahasan juga dapat dikemukakan berdasarkan spesiasi permukaan TiO2. Pada
pH 2-4, permukaan TiO2 ditemukan dalam bentuk
campuran antara >TiOH2 +
dan >TiOH, dengan >TiOH2 +
yang lebih dominan. Dalam bentuk >TiOH2+, pelepasan
elektron dari permukaan TiO2 lebih sulit sehingga
elektron yang tersedia relatif sedikit. Spesiasi p-klorofenol dapat dikemukakan sebagai berikut, pada pH asam keberadaan H+ yang melimpah akan menarik Cl -dari p-klorofenol membentuk HCl dengan mudah. Hal ini menjadikan senyawa p-klorofenol dapat membentuk hidroquinon yang mudah terdegradasi oleh radikal •OH. Dengan demikian, penggabungan kembali radikal •OH dengan elektron dapat dicegah, sehingga elektron yang tersedia banyak dan fotoreduksi akan meningkat. Menurut spesiasi ion Hg(II) maka dapat diketahui bahwa efektivitas fotoreduksi yang tinggi tercapai pada pH 1-3. Dengan demikian, pada pH 2-4 seharusnya fotoreduksi relatif tinggi. Di sisi lain, tinjauan spesiasi TiO2 dapat
memberikan informasi bahwa efektivitas fotoreduksi pada pH 2-4 seharusnya relatif rendah, sedangkan
berdasarkan pada spesiasi p-klorofenol, dapat diketahui bahwa pada pH tersebut p-klorofenol dapat memberikan peningkatan fotoreduksi ion Hg(II). Karena adanya beberapa faktor yang saling berlawanan pengaruhnya terhadap fotoreduksi maka dapat dipahami jika kenaikan fotoreduksi yang terjadi relatif kecil pada pH antara 2-4.
Pada pH 4-6, ion Hg(II) berada sebagai campuran antara Hg2+dengan fraksi yang rendah, Hg(OH)+ dan Hg(OH)2 dengan fraksi yang lebih tinggi. Jika ditinjau
berdasarkan spesiasi permukaan TiO2 dapat dijelaskan
bahwa pada pH 4-6, permukaan TiO2 ditemukan dalam
bentuk >TiOH2 +
dan >TiOH, dengan fraksi >TiOH yang dominan. Dalam bentuk >TiOH, pelepasan elektron dari permukaan TiO2 lebih mudah daripada >TiOH2
+
sehingga dapat menyediakan elektron dalam jumlah yang lebih besar. Apabila pembahasan didasarkan pada spesiasi p-klorofenol maka dapat dikemukakan sebagai berikut. Menurut Hoffman dkk., (1995), pada pH 4-6, keberadaan ion H+ semakin berkurang sehingga jumlah ion Cl- yang dapat mensubstitusi gugus OH hidroquinon (intermediet oksidasi p-klorofenol) semakin banyak. Akibatnya kemampuan p-klorofenol terdegradasi semakin berkurang. Jika hanya didasarkan pada spesiasi ion Hg(II) maka dapat diketahui bahwa efektivitas fotoreduksi berkurang. Dari tinjauan spesiasi TiO2 dapat
diketahui bahwa seharusnya efektivitas fotoreduksi pada pH 4-6 semakin tinggi. Namun jika didasarkan pada spesiasi p-klorofenol, dapat diketahui bahwa perannya dalam meningkatkan fotoreduksi ion Hg(II) menjadi berkurang. Jadi kenaikan fotoreduksi yang relatif besar pada pH 4-6 karena peran spesies ion Hg(II) dan TiO2
yang lebih dominan daripada spesies p-klorofenol. Pada pH 6-12, semua Hg(II) berada sebagai endapan Hg(OH)2. Jika ditinjau berdasarkan spesiasi permukaan
TiO2 dapat dijelaskan bahwa pada pH 6-12, permukaan
TiO2 berbentuk campuran antara >TiOH dan >TiO -, % ion H g( II ) te re d u ksi pH
sehingga menyebabkan elektron yang terbentuk berkurang. Jika ditinjau dari spesiasi p-klorofenol, pada pH lebih dari 6, semakin sedikitnya H+ menyebabkan fotodegradasi p-klorofenol semakin sukar terjadi, sehingga penggabungan kembali antara elektron dengan radikal •OH tidak dapat dicegah. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa jika didasarkan pada spesiasi ion Hg(II) maka seharusnya tidak ada ion Hg(II) yang tereduksi tetapi mengendap sebagai Hg(OH)2. Dari
spesiasi TiO2 dapat disimpulkan bahwa efektivitas
fotoreduksi relatif kecil karena elektron yang dihasilkan sedikit. Jika didasarkan pada spesiasi p-klorofenol dapat disimpulkan bahwa pada pH basa kemampuan p-klorofenol untuk terdegradasi berkurang sehingga tidak dapat meningkatkan efektivitas fotoreduksi ion Hg(II). Namun data menunjukkan terjadinya pengurangan konsentrasi ion Hg(II) yang hampir 100%. Jadi jelas bahwa pengurangan konsentrasi ini bukan disebabkan oleh fotoreduksi Hg(II) melainkan menempelnya endapan Hg(OH)2 pada permukaan TiO2 sehingga spesies
Hg(II) tidak ada dalam larutan.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan fotokatalis TiO2 dapat meningkatkan laju
fotoreduksi ion Hg(II) dengan berperan sebagai penyedia elektron. Adanya spesiasi ion Hg(II), TiO2 yang
melepaskan elektron, dan p-klorofenol yang saling berlawanan pengaruhnya menghasilkan fotoreduksi ion Hg(II) netto dan penambahan p-klorofenol proses reduksi berlangsung efektif pada pH 2-4.
Daftar Pustaka
Alemany, L. J., Banares, M. A., Pardo, E., Martin, F., Galán-Fereres, M., dan Blasco, J. M., 1997, Photodegradation of Phenol in Water Using Silica-Supported Titania Catalysis, Appl. Catal. B: Environ., 13, 289-297.
Burrows, H. D., Ernestova, L. S., Kemp, T. J., Skurlatov, Y. I., Purmal, A. P., dan Yermakov, A. N., 1998, Kinetics and Mechanism of Photodegradation of Chlorophenol, J. Sci. and Techn. Lett., 23, 4285-4299. Candra, W., 2005, Pengaruh 4-Nitrofenol dan 2,Dinitrofenol Terhadap Efektivitas Fotodegradasi 4-Klorofenol Terkatalisis TiO2, Skripsi, FMIPA UGM,
Yogyakarta.
Chen, D., dan Ray, A. K., 2001, Removal of Toxic Metal Ion from Wastewater by Semiconductor Photocatalysis, J. Chemical Engineering Science, 56, 1561-1570.
Hoffmann, M. R., Martin, S. T., Choi, W., dan Bahnemann, D. W., 1995, Environmental Application of Semiconductor Photocatalysis, Chem. Rev., 95, 69-96. Masel, R.I., 1996, Principles of Adsorption and Reaction on Solid Surface, John Wiley and Son, Inc. New York.
Mukaromah, A.H., 2004, Pengaruh Ion Fe(III) terhadap Efektivitas Fotodegradasi p-Klorofenol Terkatalisis TiO2,
Tesis S-2, Program Studi Kimia FMIPA UGM, Yogyakarta.
Tipping E. dan Hurley M.A., 1992, A Unifying Model of Cation Binding by Humic Substances, Geochimica et Cosmochimica Acta, 56, 3627-3641.
Tipping E., 1994, WHAM: A Chemical Equilibrium Model and Computer Code for Waters, Sediments and Soils Incorporating a Discrete Site/Electrostatic Model of Ion-Binding by Humic Substances, Computers and Geoscience, 20, 973-1023.
Wang, X., Pchkoncn, S. O., dan Ray, A.K., 2003, Photocatalytic Reduction of Hg(II) on Two Commercial TiO2 Catalysts, J. Electrochimica Acta, 49, 1435-1444.
Wastini., 2005, Kajian Pengaruh Ion Cr(VI) terhadap Efektivitas Fotodegradasi p-Klorofenol Terkatalisis TiO2,
Skripsi, Program Sarjana S-1, FMIPA UGM, Yogyakarta.