• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ENLOSURE PADA BLOWER C 2423 DAN BLOWER MC 2423 DI LANTAI DUA PABRIK ASAM FOSFAT (STUDI KASUS: PT. PETROKIMIA GRESIK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TUGAS AKHIR PERANCANGAN ENLOSURE PADA BLOWER C 2423 DAN BLOWER MC 2423 DI LANTAI DUA PABRIK ASAM FOSFAT (STUDI KASUS: PT. PETROKIMIA GRESIK)"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

1

TUGAS AKHIR

PERANCANGAN ENLOSURE PADA BLOWER C 2423

DAN BLOWER MC 2423 DI LANTAI DUA PABRIK ASAM

FOSFAT

(STUDI KASUS: PT. PETROKIMIA GRESIK)

FIRMANTA MEITANA SEMBIRING

NRP. 6506.040.017

PROGRAM STUDI

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA 2010

(2)

2

TUGAS AKHIR

PERANCANGAN ENLOSURE PADA BLOWER C2423 DAN

BLOWER MC 2323 DI LANTAI DUA PABRIK ASAM

FOSFAT

(STUDI KASUS : PT. PETROKIMIA GRESIK)

FIRMANTA MEITANA SEMBIRING

NRP. 6506.040.017

PROGRAM STUDI

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA 2010

(3)

i

LEMBAR PENGESAHAN

Disetujui Oleh Tim Penguji Tugas Akhir Tanggal Ujian : 19 Mei 2010 Periode Wisuda : September 2010 Mengetahui/menyetujui,

Dosen Penguji : Tanda tangan 1. Rachmad Tri S, ST., MT (………)

2. Ir. Emie Santoso, MT (………)

3. Galih Anindita, ST (………)

4. Denny Dermawan, ST., MT (………....) Dosen Pembimbing : Tanda tangan

1. Galih Anindita, ST (………)

2. Ir. Emie Santoso, MT (………)

Program Studi D4 Teknik Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Mengetahui/menyetujui :

Ketua Program Studi,

Projek Priyonggo S.L., ST., MT. NIP. 131 792 970

(4)

ii

ABSTRAK

Proses produksi asam fosfat di PT. Petrokimia Gresik dilakukan di lantai dua pabrik asam fosfat, dimana di area tersebut terdapat sebuah barak pekerja dan didekat barak tersebut terdapat dua buah blower yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi dengan tingkat kebisingan mencapai 96.1 dBA. Berdasarkan Kepmenaker RI No KEP-51/MEN/1999 Pasal 3 ayat 1 menyebutkan bahwa “NAB kebisingan ditetapkan sebesar 85 desibell A”. Oleh karena itu dibutuhkan pengendalian kebisingan agar kebisingan berada dibawah NAB.

Pada penelitian ini dilakukan pengukuran kebisingan menggunakan sound level

meter dengan mengambil 49 titik pengukuran, dimana titik- titik tersebut akan digunakan

untuk membuat peta kebisingan menggunakan program surfer. Peta kebisingan digunakan untuk menunjukkan pola penyebaran kebisingan di lantai dua pabrik asam fosfat. Selanjutnya dilakukan perhitungan kebisingan overall blower agar dapat diketahui Noise

Reduction (NR) tertinggi yang akan digunakan sebagai patokan dalam perhitungan.

Pengendalian kebisingan dilakukan dengan membuat desain enclosure pada

blower MC 2323 dan C 2423. Desain yang akan dibuat untuk pengendalian kebisingan

menggunakan papan gypsum dengan ketebalan 0,010 m untuk total luasan 90.06 m2

(desain untuk blower MC 2323) dapat mereduksi kebisingan sampai 31,49 dBA dan dengan menggunakan bahan yang sama dengan total luasan 100.56 m2 (desain untuk

blower C 2423) dapat mereduksi kebisingan sampai 31,59 dBA.

(5)

iii

ABSTRACT

Phosphoric acid producing process in PT. Petrokimia Gresik is done on the second floor of phosphoric acid factory, where there is a hut on that area and near from the hut there are two high noise blower with level of noise up to 96,1 dBA. Based on KEP-51/MEN/1999 article 3-1 “Noise intensity has below 85 dBA as permissible value”. Therefore, it is needed noise control so level of noise under NAB value.

In this research, noise measurement is done by using sound level meter and take 49 points. Where those points will be used for making a mapping noise using surfer program. Mapping noise is used to show noise distribution pattern in second floor of phosphoric acid factory. Then, overall blower noise is counted to know the highest Noise Reduction (NR) that will be used as standard in counting.

Noise control is done by manufacturing enclosure design in blower MC 2323 and C 2423. Design that will be manufactured for noise controlling use gypsum board with thickness 0,010 m for total wide 91.06 m2 (design for blower MC 2323) can reduce noise until 31,49 dBA and for the same material with total wide 100.56 m2 (design for blower C 2423) can reduce noise until 31,59 dBA.

(6)

iv KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis persembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan karunia dan bimbingannya sehingga penulis bisa menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul “DESAIN ENCLOSURE PADA BLOWER C2423 DAN BLOWER MC 2323 DI LANTAI DUA PABRIK ASAM FOSFAT (studi kasus PT Petrokimia Gresik)”.

Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi persyaratan kelulusan Diploma Empat (D IV) dan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST) pada Program Studi Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya – Institut teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (PPNS – ITS).

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua dan kedua saudariku tercinta yang selalu memberikan rasa sayang, doa, nasehat dan dukungan selama masa perkuliahan dan penyelesaian Tugas akhir.

2. Ir. Mohammad Mahfud, M.MT selaku Direktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya-Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (PPNS-ITS).

3. Bapak Projek Priyonggo S.L., ST., MT selaku ketua Program Studi Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya-Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (PPNS-ITS). 4. Ibu Galih Anindita, ST., Selaku dosen pembimbing pertama yang telah

membantu, mengarahkan, membimbing dan memberi masukan kepada penulis selama pengerjaan Tugas Akhir ini.

5. Ibu Ir. Emie Santoso MT., Selaku dosen pembimbing kedua yang telah membantu, mengarahkan, membimbing, dan memberikan revisi yang banyak selama pengerjaan Tugas akhir ini.

(7)

v 6. Bapak Edy Swastono selaku pembimbing dari PT. Petrokimia Gresik yang telah memberi izin kepada penulis untuk melakukan penelitian dan begitu banyak membantu dalam proses pengambilan data.

7. Seluruh Dosen, Staf pengajar, serta karyawan yang telah membantu dan membekali penulis selama masa perkuliahan, khususnya Ibu Mirna Apriani, ST., Bapak Denny Dermawan,ST.,MT. dan Bapak Luqman Ashari, ST., MT yang telah memberi banyak motivasi dan masukan kepada penulis dalam penyusunan Tugas akhir ini.

8. Seluruh Staf serta karyawan Biro Safety dan Pabrik Asam Fosfat PT. Petrokimia Gresik.

9. Keluarga K3 2006 A yang telah menyertai dan mewarnai perjalanan hidup penulis dalam masa perkuliahan serta kehidupan sehari-hari.

10. Bapak Sugianto dan Ibu Nuraini yang telah memberikan akomodasi dan fasilitas-fasilitas kepada penulis selama tinggal di Surabaya.

11. Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara-Surabaya yang telah menaungi, memotivasi penulis selama tinggal di Surabaya.

12. Keluarga besar Kei Shin Kan Karate-do SUMUT yang terus memberi semangat dan dorongan kepada penulis hingga mampu menyelesaikan Tugas akhir ini.

13. Teman-teman Bushido Karate ITS yang membuat penulis terus bersemangat dan selalu berusaha menjadi lebih baik.

14. Eka Ari Yulianti yang telah memberi doa, semangat dan menemani penulis dalam suka dan duka. Terima kasih atas semua kebaikan, ketulusan, perhatian dan kasih sayangnya.

15. Bang Zefry C Sembiring yang telah banyak membantu penulis dalam pengerjaan gambar pada Tugas akhir ini.

16. Teman-teman alumni SMANSAKA 2006 dan sepupu-sepupuku di Jakarta dan Bandung Khususnya Rika, Tatal, Angel, Wike, Yudha, Rio, Bang Wendy, Bang Adry dan Bang Andes yang selalu memberi dukungan kepada penulis serta memberi tumpangan tempat tinggal selama liburan semester tiba.

(8)

vi 17. Seluruh pihak yang telah memberikan konstribusinya pada pengerjaan

Tugas akhir ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak untuk perbaikan Tugas Akhir ini. Semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan dan dapat digunakan untuk menambah wawasan kita khususnya mengenai metode Engineering Control.

Surabaya, Juni 2010

(9)

vii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i ABSTRAK ... ii ABSTRAC ... iii KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 2

1.4 Manfaat Penelitian ... 2

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitan ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Kebisingan ... 4

2.1.1 Pengertian Kebisingan ... 4

2.1.2 Pengertian Gangguan Pendengaran ... 4

2.1.3 Jenis Kebisingan ... 5

2.1.4 Nilai Ambang Batas Kebisingan ... 6

2.1.5 Pengaruh Kebisingan terhadap Tenaga Kerja... 7

2.2 Pengendalian Kebisingan ... 8

2.2.1 Enclousure Akustik ... 10

2.2.2 Kebisingan Kombinasi ... 12

2.2.3 Kebisingan Latar Belakang (Background Noise) ... 13

2.2.4 Kerugian Transmisi (Transmission Loss) ... 13

2.2.5 Pengaruh Frekuensi Terhadap Transmission Loss ... 14

2.2.6 Pengukuran Rugi Transmisi ... 16

2.2.7 Noise Reduction of wall atau Reduksi dari Dinding ... 16

(10)

viii

2.3 Mesin Blower ... 19

2.4 Papan Gypsum ... 19

2.5 Whole House Fan ... 20

BAB III METODE PENELITIAN ... 21

3.1 Tahapan Metode Penelitian ... 21

3.2 Skema Metode Penelitian ... 23

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA ... 25

4.1 Pengumpulan Data ... 25

4.2 Pengolahan Data ... 25

4.2.1 Peta Kebisingan Ruang (Noise Mapping) ... 25

4.2.2 Kebisingan Total (Overall) ... 27

4.2.2.1 Kebisingan Ruang ... 27

4.2.2.2 Kebisingan Mesin... 28

4.2.2.3 Daily Noise Dose ... 28

4.2.2.4 Background Noise ... 30

4.3 Penentuan Material Enclosure ... 31

4.3.1 Rancangan Enclosure dengan Material Akustik Papan Gypsum ... 31

4.4 Disain Enclosure ... 34

4.4.1 Disain Enclosure untuk Blower C2423 ... 35

4.4.2 Disain Enclosure untuk Blower MC2323 ... 38

4.5 Teknis Pemasangan Gysum ... 41

4.6 Perhitungan Transmission Loss (TL) dan Noise Reducing (NR) Berdasarkan Luasan Enclosure Material Papan Gypsum ... 42

4.6.1 Perhitungan Transmission Loss (TL) dan Noise Reducing (NR) Berdasarkan Luasan Enclosure Material Papan Gypsum untuk Blower C2423 ... 42

4.6.2 Perhitungan Transmission Loss (TL) dan Noise Reducing (NR) Berdasarkan Luasan Enclosure Material Papan Gypsum untuk Blower MC2323 ... 43

4.7 Analisa Peta Kebisingan ... 44

4.8 Analisa Kebisingan Total (Overall) Ruang ... 45

4.9 Anailisa Kebisingan Total (Overall) Blower ... 45

(11)

ix

4.11 Analisa Penentuan Bahan... 46

4.12 Analisa Perhitungan Bahan Enclosure ... 46

4.13 Analisa Disain Enclosure ... 46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 47

5.1 Kesimpulan ... 47

5.2 Saran ... 48 DAFTAR PUSTAKA

(12)

x DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Gradasi dan Percakapan Sehari-hari... 4

Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Kebisingan ... 6

Tabel 2.3 Penambahan Desibel untuk Level Tekanan Suara dari Sumber Beragam ... 12

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Kebisingan Suara ... 26

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Kebisingan pada Titik 3 dengan Tiga Kali Pengukuran ... 27

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Kebisingan Mesin ... 28

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Background Noise ... 30

Tabel 4.5 Hasil Pengukuran yang Dipengaruhi oleh Background Noise ... 31

Tabel 4.6 Data Perhitungan TL Papan Gypsum ... 33

Tabel 4.7 Noise Reducing Papan Gypsum ... 33

Tabel 4.8 Luasan Total Disain Enclosure untuk Blower C2423 ... 36

Tabel 4.9 Luasan Total Disain Enclosure untuk Blower MC2323 ... 39

Tabel 4.10 Absorbsi Luasan (A) dari Bahan Papan Gypsum... 42

(13)

xi DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampilan Akustik Dinding dalam 3 Daerah Transmission Loss .. 15

Gambar 2.2 Dua Ruang Akustik yang Dipisahkan oleh Area Partisi ... 17

Gambar 2.3 Papan Gypsum ... 20

Gambar 2.4 Whole House Fan ... 20

Gambar 3.1 Skema Metode Penelitian ... 24

Gambar 4.1 Peta Kebisingan Ruang ... 26

Gambar 4.2 Desain Enclosure untuk Blower C2423 ... 34

Gambar 4.3 Desain Enclosure untuk Blower MC2323 ... 35

Gambar 4.4 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Depan ... 37

Gambar 4.5 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Samping ... 37

Gambar 4.6 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Atas ... 38

Gambar 4.7 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Depan ... 40

Gambar 4.8 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Samping ... 40

Gambar 4.9 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Atas ... 41

(14)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Pengukuran Kebisingan Pabrik Asam Fosfat Lampiran 2 Perhitungan Menggunakan Software Pascal Lampiran 3 KepMenaker 1999

Lampiran 4 Whole House Fan

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT. Petrokimia Gresik merupakan salah satu perusahaan penghasil pupuk terbesar dan terlengkap di Indonesia. Dalam menjalankan aktivitas produksinya PT Petrokimia Gresik membagi unit produksinya menjadi tiga, yaitu unit produksi I (pabrik 1), unit produksi II (pabrik 2) dan unit produksi III (pabrik 3). Unit produksi III (pabrik 3) menghasilkan jenis pupuk berbasis asam Fosfat. Pembuatan asam fosfat sendiri menggunakan Nissan C Process yang diklasifikasikan ke dalam kategori proses Hemihydrate dan

Dihydrate. Dalam proses ini terdapat potensi bahaya yang termasuk dalam

golongan fisik yaitu kebisingan.

Berdasarkan pengukuran yang telah dilaksanakan oleh pihak perusahaan, kebisingan di lantai dua pabrik asam fosfat mencapai 95 dBA dan titik yang kebisingannya mencapai angka tersebut berada di dekat mesin

blower. Blower yang digunakan dalam proses pembuatan asam fosfat ini

berjumlah dua, yaitu blower MC 2323 yang digunakan pada proses

hemyhidrate dan blower C 2423 yang digunakan pada proses dihydrate. Blower tersebut letaknya bersebelahan dengan barak pekerja sehingga

didalam barak pekerja itu sendiri kebisingan mencapai 89 dBA, hal ini tentu tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. KEP-51 / MEN / 1999 tentang nilai ambang batas ( NAB ) untuk kebisingan ditempat kerja.

Oleh karena itu perlu dilakukan suatu pengendalian yaitu dengan perancangan enclosure. Metode ini merupakan metode yang paling tepat untuk digunakan karena pekerja tidak kontak langsung dengan mesin. Pengendalian secara administratif juga kurang efektif karena sistem kerja karyawan telah dibagi menjadi tiga shift yaitu shift I pada pukul 07.00 - 15.00 WIB, shift II pada pukul 15.00 - 23.00 WIB, dan shift III pada pukul 23.00 - 07.00

(16)

2 1.2 Perumusan Masalah

Dari latar belakang yang dijelaskan, maka permasalahan yang akan dikaji dalam tugas akhir ini adalah bagaimana cara melakukan perhitungan akustik yaitu meliputi:

1. Perhitungan kebisingan total (overall),

2. Perhitungan kebisingan latar belakang (background noise) serta 3. Menentukan material enclosure yang akan dirancang di lantai dua

pabrik asam fosfat agar kebisingannya berada di bawah NAB yaitu 85 dBA sehingga aman bagi pekerja.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya Tugas Akhir ini adalah untuk melakukan perhitungan akustik yaitu meliputi:

1. Perhitungan kebisingan total (overall),

2. Perhitungan kebisingan latar belakang (background noise) serta 3. Menentukan material enclosure yang akan dirancang di lantai dua

pabrik asam fosfat agar kebisingannya berada di bawah NAB yaitu 85 dBA sehingga aman bagi pekerja.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah: 1. Manfaat bagi Mahasiswa

Meningkatkan kemampuan penulis dalam melakukan pengendalian terhadap bahaya yang dihasilkan oleh kebisingan khususnya dengan metode engineering control

2. Manfaat bagi Perusahaan

Sebagai masukan dalam upaya mengurangi potensi bahaya yang disebabkan oleh potensi bahaya fisik yaitu kebisingan supaya tingkat kebisingannya masih berada dibawah nilai NAB yaitu 85 dBA sehingga aman bagi pekerja.

(17)

3 1.5 Ruang lingkup dan Batasan penelitian

Agar penyelesaian masalah menjadi terarah maka ada beberapa pembatasan yaitu sebagai berikut:

1. Pengendalian yang dilakukan untuk menurunkan kebisingan sehingga berada dibawah nilai NAB dilakukan di Lantai dua Pabrik Asam Fosfat PT. Petrokimia Gresik.

2. Perhitungan kebisingan menggunakan software Pascal 3. Tidak memperhitungkan estimasi biaya.

4. Perancangan enclosure dilakukan pada sumber bising tertinggi sehingga sumber bising yang lebih rendah bisa mengikuti.

(18)

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kebisingan

2.1.1 Pengertian Kebisingan

Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup (JIS Z 8106,IEC60050-801 kosakata elektro-teknik Internasional Bab 801:Akustikal dan elektroakustikal).

Kebisingan yaitu bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996) atau semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (KepMenNaker No.51 Tahun 1999).

2.1.2 Pengertian gangguan pendengaran

Gangguan pendengaran adalah perubahan pada tingkat pendengaran yang berakibat kesulitan dalam melaksanakan kehidupan normal, biasanya dalam hal pembicaraan.

Secara kasar, gradasi gangguan pendengaran karena bising itu sendiri dapat ditentukan dengan menggunakan parameter percakapan sehari-hari sebgaimana terdapat pada Tabel 2.1 berikut

Tabel 2.1 Gradasi dan Percakapan Sehari-hari

Gradasi Parameter

Normal Tidak mengalami kesulitan dalam percakapan biasa (6 m) Sedang Kesulitan dalam percakapan sehari-hari mulai jarak > 1,5 m Menengah Kesulitan dalam percakapan keras sehari-hari mulai jarak > 1,5 m

Berat Kesulitan dalam percakapan keras / berteriak pada jarak > 1,5 m Sangat berat Kesulitan dalam percakapan keras / berteriak pada jarak < 1,5 m Tuli total Kehilangan kemampuan pendengaran dalam berkomunikasi ( Sumber: Kebisingan Industri dan Hearing Conservation Program, USU, 2007)

(19)

5 Menurut ISO derajat ketulian adalah sebagai berikut:

Jika peningkatan ambang dengar antara 0 - < 25 dBA, masih normal Jika peningkatan ambang dengar antara 26 - 40 dBA, disebut tuli ringan

Jika peningkatan ambang dengar antara 41 - 60 dBA, disebut tuli sedang

Jika peningkatan ambang dengar antara 61 - 90 dBA, disebut tuli berat

Jika peningkatan ambang dengar antara > 90 dBA, disebut tuli sangat berat

2.1.3 Jenis Kebisingan

Berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi bunyi, bising dibagi atas: 1. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas. Bising

ini relatif tetap dalam batas kurang lebih 5 dBA untuk periode 0,5 detik berturut-turut. Misalnya mesin, kipas angin, dapur pijar. 2. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit.

Bising ini juga relatif tetap, akan tetapi ia hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (pada frekuensi 500, 1000, dan 4000 Hz). Misalnya gergaji sirkuler, katup gas.

3. Bising terputus-putus (Intermittent). Bising di sini tidak terjadi secara terus menerus, melainkan ada periode relatif tenang. Misalnya suara lalu lintas, kebisingan di lapangan terbang

4. Bising impulsif. Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dBA dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengaran. Misalnya tembakan, suara ledakan mercon, meriam

5. Bising Impulsif berulang. Sama dengan bising impulsif, hanya saja disini terjadi secara berulang-ulang. Misalnya mesin tempa.

(20)

6 Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, bising dapat dibagi atas:

1. Bising yang mengganggu (Irritating noise). Intensitas tidak terlalu keras. Misalnya mendengkur.

2. Bising yang menutupi (Masking noise). Merupakan bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan membahayakan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, kerena teriakan atau isyarat tanda bahaya tenggelam dalam bising dari sumber lain.

3. Bising yang merusak (damaging / injurious noise). Adalah bunyi yang intensitasnya melampaui NAB. Bunyi jenis ini akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaran.

2.1.4 Nilai ambang batas kebisingan

Nilai Ambang Batas kebisingan adalah 85 dBA untuk waktu pemajanan selama 8 jam per hari. Pengendalian kebisingan dilakukan dengan mengatur waktu kerja sehubungan dengan tingkat paparan kebisingan, seperti pada Tabel 2.2 dibawah ini :

Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Kebisingan

Waktu pemaparan per hari Intensitas kebisingan dBA (A) 4 2 1 Jam 88 91 94 30 15 7.5 3.75 1.88 0.94 Menit 100 97 103 106 109 112 (Sumber : SNI 16 – 7063 – 2004)

(21)

7 Lanjutan Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Kebisingan

28.12 14.06 7.03 3.52 1.76 0.88 0.44 0.22 0.11 Detik 115 118 121 124 127 130 133 136 139

Catatan: Tidak boleh terpapar lebih dari 140 dBA (A), walaupun sesaat (Sumber : SNI 16 – 7063 – 2004)

2.1.5 Pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja

Kebisingan dapat menimbulkan pengaruh negatif berupa gangguan -gangguan diantaranya :

1. Gangguan Fisiologis

Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.

Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala. Hal ini disebabkan bising dapat merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga dalam yang akan menimbulkan evek pusing/vertigo. Perasaan mual, susah tidur dan sesak nafas disebabkan oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ, kelenjar endokrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan keseimbangan elektrolit.

2. Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit

(22)

8

psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan dan

lain-lain.

3. Gangguan Komunikasi

Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan keselamatan seseorang.

4. Gangguan Keseimbangan

Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. 5. Efek pada pendengaran

Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan diterima secara umum dari zaman dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran adalah sementara dan pemulihan terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area bising dihentikan. Akan tetapi apabila bekerja terus-menerus di area bising maka akan terjadi tuli menetap dan tidak dapat normal kembali, biasanya dimulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian makin meluas kefrekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya digunakan untuk percakapan. 2.2 Pengendalian Kebisingan

1. Pengendalian secara teknis (Engineering control),

Pengendalian secara teknik di sumber suara adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi tingkat kebisingan. Yang harus

(23)

9 dikendalikan pertama - tama adalah sumber suara terkeras. Pengendalian teknik dilakukan dengan cara:

1. Mendesain kembali peralatan untuk mengurangi kecepatan atau benturan dari benda yang bergerak, memasang peredam pada lubang pemasukan dan pembuangan, mengganti peralatan yang lama dengan peralatan yang baru yang mempunyai desain yang lebih baik.

2. Merawaat peralatan dengan baik, mengganti bagian yang aus dan memberikan pelumas pada bagian yang bergerak.

3. Mengisolasi peralatan dengan menjauhkan dari pekerja atau menutupi.

4. Memasang peredam dengan bantalan karet agar bunyi yang ditimbulkan oleh getaran dan bagian logam dapat dapat dikurangi dengan mengurangi ketinggian dari tempat barang yang jatuh ke bak atau ban berjalan.

5. Bahan penyerap bunyi dapat digantung di tempat kerja untuk menyerap bunyi di tempat tersebut

2. Pengendalian administratif (Administrative control) dengan cara: 1. Melakukan shift kerja

2. Mengurangi waktu kerja 3. Melakukan training 3. Alat pelindung diri

Pemakaian alat pelindung diri merupakan pilihan terakhir yang harus dilakukan. Alat pelindung diri yang dipakai harus mampu mengurangi kebisingan hingga mencapai level TWA atau kurang dari itu, yaitu 85 dBA. Ada tiga jenis alat pelindung diri atau alat pelindung pendengaran yaitu :

1. Sumbat telinga (earplug), dapat mengurangi kebisingan 8-30 dBA.Biasanya digunakan untuk proteksi sampai dengan 100 dBA. Beberapa tipe dari sumbat telinga antara lain : formable type,

(24)

10 2. Tutup telinga (earmuff), dapat menurunkan kebisingan 25-40 dBA.

Digunakan untuk Proteksi sampai dengan 110 dBA. 3. Helm (Helmet), mengurangi kebisingan 40-50 dBA

Pengendalian kebisingan dapat dilakukan juga dengan pengendalian secara medis yaitu dengan cara memeriksaan kesehatan secara teratur.

2.2.1 Enclosure Akustik

Enclosure adalah sebuah bahan pengisolasi suara untuk

mengurangi suara mesin. Dengan desain yang bagus dan bahan material yang dapat menguarangi suara dengan nilai yang tinggi maka pengurangan kebisingan di luar enclosure akan berhasil. Kerugian

enclosure dapat menimbulkan suatu masalah pada mesin, mengganggu

operator dan harganya mahal. Namun semua faktor tersebut dapat dipertimbangkan dengan teknik akustik, dimana parameter akustik memerlukan pengurangan kebisingan dan frekuensi sumber kebisingan. (Smith, Peters dan Owen, 1996).

Jenis enclosure ada 3 macam berdasarkan pendekatan operasional mesin dan besar penurunan bising yang diinginkan, yaitu: (Irwin dan Graf, 1979)

a. Enclosure penuh atau lengkap / full enclosure

Enclosure penuh didesain untuk menyerap energi yang berlebih

dari mesin. Konsep utama dari desain ini adalah menyelesaikan permasalahan utama yang dialami dari sebuah mesin yaitu acoustical

leaks. Untuk mesin yang fungsional harus dipasang output dan input

untuk mempermudah pelaksanaan maintenance berkala. Enclosure penuh ini juga perlu dilakukan perawatan penuh untuk menghindari kebocoran energi pada mesin yang di enclosure.

Kita seharusnya mengerti penjelasan dari parameter dan karakteristik enclosure penuh yang besar dan sederhana. Penelitian dari teori yang bagus telah dijelaskan oleh Jacson dan Junger dan direkomendasikan untuk menarik sebuah analisa permasalahan yang

(25)

11 rumit. Dua hal yang penting akan diinvestigasi yaitu transmission

loss dan noise reduction pada enclosure penuh.

b. Enclosure parsial / partial enclosure

Pada elemen ini, khusunya digunakan untuk memberikan kotak dan umumnya menyediakan perlindungan untuk barrier yang multicomponen. Ini juga dapat digunakan untuk mengurangi kebisingan pada seseorang yang berinteraksi dengan mesin. Peralatan ini dapat memberikan bantuan secara terbatas namun harus selalu digunakan dengan hati – hati.

Pada sebuah lingkungan industri, beberapa peralatan yang inherently kebisingan, ketika harus ada control, penggunaan

enclosure parsial atau enclosure total harus dipertimbangkan.

Walaupun operator dan pihak maintenance tidak menyukai adanya

enclosure, namun peralatan ini akan terus digunakan.

c. Enclosure local / small enclosure

Jika sebuah enclosure menutup keseluruhan sumber bising, beberapa kepentingan dan aktivitas dapat terganggu. Jika mesin yang permukaannya datar dan bersambung – sambung untuk di enclosure

dengan gelombang resonansi pada frekuensi kecil, maka hal ini tidak akan berguna. Pada kondisi ini, menggunakan material absorsi suara yang paling sedikit setelah waveleght tipis. Penggunaannya di bagian dalam enclosure.

Jika kebisingan yang dihasilkan dinding enclosure frekuensi resonan, TL (transmission loss) mempunyai harga kecil dan hal itu tidak mungkin. Kejadian seperti ini adalah damping yang salah atau beberapa pernyataan lain yang memastikan bahwa dinding yang tidak resonant pada frekuensi, nilai TL nya tinggi. Umumnya pengurangan kebisingan sekitar 10 dBA adalah menggunakan

enclosre lokal. Catatan penting bahwa keadaan yang terjadi dengan enclosure lokal bahwa mesin dan enclosure adalah sebuah system

(26)

12 2.2.2 Kebisingan kombinasi

Kebisingan kombinasi adalah kebisingan total yang diterima oleh pekerja yang disebabkan oleh dua atau lebih peralatan yang menimbulkan suara yang tidak dikehendaki.

Ketika dua sumber suara, misalnya dua mesin yang berdekatan berada pada satu area kerja yang sama, di ruang tersebut timbul efek

additive untuk level kebisingan kombinasi dua suara yang lebih besar

daripada satu suara sumber suara. Efek kombinaasi dua level kebisingan ditentukan dengan Tabel 2.3. Perbedaan kebisingan menunjukkan penjumlahan desibel utuk ditambahkan ke dua sumber bising yang lebih tinggi.

Kadang akan ada lebih dari dua perbedaan sumber bising di area kerja. Ketika kejadian ini terjadi, efek tiga suara atau lebih dikombinasikan seharusnya juga dihitung dengan bantuan Tabel 2.3. Pertama, pada tempat tersebut semua sumber bising diurutkan desibelnya dari yang terkecil sampai yang terbesar. Kemudian kombinasikan dua sumber desibel terendah, lalu kombinasikan hasilnya dengan sumber desibel yang lebih tinggi. Lanjutkan level desibel sampai semua telah dikombinasikan sampai level terakhir. Tabel 2.3 Penambahan Desibel untuk Level Tekanan Suara dari

Sumber Beragam.

Perbedaan decibel (dBA) Penambahan pada level tertinggi

0 3 1 2.6 2 2.1 3 1.8 4 1.4 5 1.2 6 1 7 0.8 8 0.6 9 0.5 10 0.4 (Sumber: Wents, 1999)

(27)

13 Lanjutan Tabel 2.3 Penambahan Desibel untuk Level Tekanan Suara

dari Sumber Beragam.

11 0.3

12 0.2

more 0

(Sumber: Wents, 1999)

2.2.3 Kebisingan Latar Belakang ( Background noise )

Pengukuran kebisingan pada sumber bising di suatu sistem, efek lain yang berpengaruh pada sumber bising adalah background. Prosedur untuk mengukur tingkat bunyi sebuah mesin yang berada dalam kondisi tingkat kebisingan latar belakang adalah sebagai berikut:

a. Hitung tingkat kebisingan total (overall) dengan mesin hidup b. Hitung tingkat latar belakang dengan mesin mati

Kompensasi kebisingan latar belakang menggunakan L1 (dBA) sebagai jumlah tingkat tekanan suara berbobot A dari kebisingan yang ditargetkan dan kebisingan latar belakang, dan L2 (dBA) sebagai kebisingan latar belakang. Rumus akan memperkirakan kebisingan yang ditargetkan L3 (dBA) dengan mendapatkan perbedaannya.

10 2 10 1 10 10 log 10 3 L L L (2.1) c. Atau hitung selisih kedua pembacaan. Jika selisihnya lebih dari 10

dBA, maka tidak perlu dilakukan koreksi. namun bila selisih kurang dari 10 dBA maka perlu dilakukan koreksi

2.2.4 Kerugian Transmisi ( Transmission Loss )

Karakteristik utama dari suatu dinding yang dipergunakan sebagai isolasi suara adalah kerugian transmisi (transmission loss) dari dinding tersebut. Karakteristik ini sangat berguna dalam perancangan sistem isolasi suara karena sifatnya tidak tergantung pada pemakaian tetapi hanya tergantung dari sifat – sifat fisis bahan dinding.

(28)

14 Berdasarkan Charles E. Wilson (1989), kerugian transmisi (transmission loss) adalah perbandingan dari daya akustik yang menumbuk dinding dengan daya akustik yang disalurkan pada sisi lain dari dinding, atau dapat dinyatakan dalam hubungan:

TL = 10 log

T

W

W1

(Irwin dan Graf, 1979) (2.2) Dimana:

TL = Transmission loss, dBA

W1 = Daya akustik yang menumbuk dinding ( W )

WT = Daya akustik yang diradiasikan dinding ke permukaaan lain (W) Dari sini dapat didefinisikan koefisien transmisi sebagai harga kuadrat tekanan yang ditransmisikan dan kuadrat tekanan yang menumbuk ataupun sebagai perbandingan daya yang timbul di suatu sisi dengan daya pada suatu permukaan yang ditumbuk

pincident transmited p W WT 2 2 1 (2.3)

Dimana: τ = Koeffisien transmisi

p = Tekanan suara

Jika harga dari koefisien transmisi cukup kecil, hal ini berarti bahwa hanya sebagian kecil saja dari daya yang menumbuk dinding dapat diradiasikan sehingga dapat timbul daya pada sisi dinding yang lain. Dengan mengkombinasikan dengan persamaan sebelumya: TL = 10 log 1

(Irwin dan Graf, 1979) (2.4) Persamaan akhir inilah yang menunjukkan hubungan antara koefisien transmisi dengan kerugian transmisi. Dari ruus tersebut dapat diketahui nilai transmission loss (TL).

2.2.5 Pengaruh Frekuensi Terhadap Transmission Loss (TL)

Harga kerugian transmission loss bergantung pada frekuensi suatu dinding. Pada frekuensi sangat rendah transmission loss sangat

(29)

15 dipengaruhi oleh stiffness/kekakuandari dinding tersebut.Semakin kaku tembok tersebut, harga kerugian transmisi semakin tinggi pula.

Gambar 2.1 Penampilan akustik dinding dalam 3 daerah transmission loss

Dengan kenaikan frekuensi maka harga kerugian selanjutnya sangat tergantung pada frekuensi resonanansi dari dinding. Dan pada daerah ini harga kerugian transmisi dibatasi oleh redaman dinding.

Diatas frekuensi resonansi harga TL diatur oleh rapat masa permukaan dari dinding. Pada daerah ini berlaku hukum “masa” yang memberikan harga approksimasi:

TL = 20 log W + 20 log f – C dB (2.5) (Sumber: Irwin dan E.R Graf (1979))

Keterangan :

TL = transmission loss (dB) W = surface density (kg/m2) f = frekuensi (Hertz) C = koefisien = 47

Daerah yang terakhir adalah daerah dimana transmission lossnya dipengaruhi oleh oktaf coincidence atau keadaan jatuhnya dari frekuensi oktaf band yang menumbuk dinding.

(30)

16 2.2.6 Pengukuran Rugi Transmisi

TL merupakan insulasi tiap bunyi yang lewat udara, berubah terhadap bunyi yang lewat udara, berubah terhadap frekuensi, maka pengukuran TL dapat dilakukan di ruangan yang mesinnya akan dienclosure.

Pengukuran ruang harus dilakukan sesuai dengan praktek yang berlaku saat ini telah disahkan oleh JIS Z8731(ISO 1996-12). Sesuai dengan prosedur yang disarankan suatu panel percobaan (enclosure) yang menggambarkan sebuah dinding atau lantai, dalam testing ini harus gukup besar dan biasanya dipasang dalam kerangka percobaan yang diletakkan dalam suatu bukaan antara 2 ruang percobaan (dengung), menyerupai konstruksi yang sesungguhnya. Pengukuran TL panel percobaan diberikan oleh rumus : (Irwin dan Graf, 1979)

TL = L1-L2 + 10 log S – 10 log A2 (2.6) TL = NR + 10 log S/A = NR – (-log S/A) = NR – ( -1) = NR – 10 log A/S Dimana :

L1 = Tingkat tekanan bunyi rata-rata dalam ruang sumber (dB) L2 = Background noise rata-rata dalam ruang penerima (dB) S = Luas panel percobaan (m2)

2.2.7 Noise reduction of wall atau Reduksi dari Dinding

Noise reduction adalah sangat penting. Digambarkan pada

gambar 2.2 dinding akustik sering digunakan untuk memisahkan kebisingan mesin yang berlebihan dari sebagian pekerja di area kerja. Dimana noise reduction dari dinding dapat diperoleh ari rumus:

(31)

17 NR = Lp1 – Lp2 (2.7) atau Lp2 = Lp1 – TL + 10 log A S (2.8) sehingga NR = 10 log A S + TL (2.9) Dimana : NR = Noise reduction (dB)

Lp1 dan Lp2 = Level tekanan suara di ruang 1 dan 2 (dB)

Gambar 2.2 Dua Ruang Akustik yang Dipisahkan oleh Area Partisi (Irwin dan Graf, 1979)

Pengukuran Lp1 dan Lp2 untuk memastikan bahwa nilai yang didapatkan dapat mewakili. Hal ini biasanya dapat berhasil dengan menggunakan region of interest dan mencatat nilai rata-rata. Sebagai catatan bahwa untuk konstruksi dinding, tembok didesain, Lp1 dan Lp2 dihitung, tidak diukur.

Kita asumsikan sumber bising berad di ruang 1 dimana sumber bising dihasilkan gaung yang berada didekat partisi. Hal ini akan mencapai keberhasilan jika level tekanan suara didekat partisi di ruang 1 dapat dideskripsikan sebagai berikut:

(32)

18 Dimana A = konstanta ruangan diruang 1

Diasumsikan bahwa kita mengetahui nilai yang diinginkan dari Lp2, dimana kita mengatur ulang persamaan untuk menentukan

transmission loss (TL) yang diperlukan.

Lp2 = Lp1+ 10 log ( + ) dB (2.11)

TL = Lp1 – Lp2 + 10 log ( + ) dB (2.12) Dimana:

S = Luas area dinding atau luasan enclosure (m2 atau ft2) A = Absorbtion atau konstanta ruangan diruang 2 (m2 atau ft2)

Lp1 – Lp2 = TL + 10 log ( + ) dB (2.13) Dimana terjadi hubungan dengan noise reduction (NR) adalah

NR = TL – 10 log ( + ) dB (2.14)

NR = TL + 6 dB (2.15)

2.2.8 Daily Noise Dose

Daily Noise Dose adalah salah satu parameter yang

digunakan untuk mengukur potensi bahaya kebisingan di tempat kerja. Apabila nilainya melebihi 100% berarti pekerja telah melewati batas dosis maksimum yang diizinkan. Rumusnya adalah sebagai berikut:

D = x 100% (2.16)

Dimana:

D = Dosis harian (dalam %)

C = Waktu aktual pada tingkat dan suara tertentu (Jam) T = Waktu kontak acuan maksimum yang menunjukkan mulai

(33)

19 2.3 Mesin Blower

Di lantai dua pabrik Asam Fosfat terdapat beberapa mesin untuk proses produksi. Diantara semua mesin tersebut, yang memiliki tingkat kebisingan tertinggi adalah mesin blower dan jumlahnya adalah dua mesin.

Blower MC 2323 yang digunakan pada unit reaksi dan filtrasi pada

proses hemyhydrate ini berfungsi untuk mereaksikan phosphate rock dengan asam sulfat encer sehingga membentuk kristal hemidrat dan juga untuk memisahkan kristal hemidrat dengan asam fosfat.

Blower C 2423 yang digunakan pada unit hidrasi dan filtrasi pada proses dyhidrate ini berfungsi untuk mereaksikan hemihidrat dengan asam sulfat encer sehingga menjadi dihidrat dengan proses hidrasi dan juga mengambil P2O5 yang masih tersisa dalam cake dihidrat.

2.4 Papan Gypsum

Papan gypsum adalah salah satu produk jadi setelah raw material

gypsum diolah melalui proses pabrik. Papan gypsum digunakan sebagai salah

satu elemen dari dinding partisi dan plafon. Bentuknya berupa lembaran berukuran 1,2 x 2,4 m selain ukuran customized, tebal 9 – 15 mm, umumnya berwarna putih atau abu-abu tetapi ada juga beberapa papan gypsum yang berwarna dan desain untuk berbagai fungsi seperti ruang kedap suara, ruang tahan api atau ruang lembab.. Papan gypsum bersifat tahan api, awet, dan tidak menimbulkan emisi gas formaldehida. Papan gypsum dapat dipasang pada rangka kayu, metal atau konstruksi batu bata. Penggunaan produk tersebut aman, tidak merusak lingkungan dan tidak berbahaya, ekonomis, sesuai untuk berbagi ukuran penyelesaian, ringan, mudah pemasangannya dan tersedia dalam berbagai pilihan system (Jayaboard.com,2010).

(34)

20 Gambar 2.3 Papan gypsum

(Sumber: Jayaboard.com) 2.5 Whole House Fan

Penggunaaan whole house fan adalah salah satu metode yang murah dan sederhana untuk mendinginkan suatu ruangan. Whole house fan dapat menurunkan temperatur didalam ruangan dengan cepat sebab Whole house

fan dapat menarik udara dingin dari luar dan menghembuskan udara panas

ruangan melalui melalui jendela-jendela yang terbuka.

Gambar 2.4 Whole House Fan (Sumber: www.Southface.org)

(35)

21

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tahapan Metode Penelitian

Urutan langkah yang dilakukan dalam sistematika kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Survey Lokasi

Penelitian dilakukan di lantai dua pabrik Asam Fosfat PT. Petrokimia Gresik. Survey lokasi digunakan untuk menggali informasi melalui pekerja serta dengan mempelajari rangkaian kegiatan proses di perusahaan untuk mengetahui lokasi-lokasi di pabrik yang memungkinkan untuk dijadikan tempat penelitian.

2. Studi Literatur dan Studi Lapangan

Studi literatur digunakan untuk memperluas khasanah pemikiran kita dalam memberikan rekomendasi (saran) terbaik, termasuk mempelajari metode/pendekatan yang telah dirancang sebagai alternatif solusi dari problem yang terjadi di tempat kerja. Dalam hal ini, pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik pengukuran lingkungan kerja, teknik identifikasi bahaya, terknik penentuan resiko dan engineering control. Studi lapangan dilakukan dengan tujuan untuk memahami kondisi aktual yang terjadi pada perusahaan yang akan diteliti. Studi lapangan dilakukuan melalui wawancara dengan sumber yang mengerti tentang resiko dibagian produksi yang ada di perusahaan. 3. Perumusan Masalah

Setelah diketahui faktor bahaya yang paling mempengaruhi kualitas lingkungan kerja, pada tahap selanjutnya adalah merumuskan dengan jelas permasalahan yang akan dipilih sebagai objek penelitian Perumusan masalah diperlukan untuk membentuk kerangka berpikir kita dalam menyusun rencana penyelesaian termasuk merancang metode atau teknik pendekatan yang tepat untuk digunakan sebagai alternatif solusi.

(36)

22 4. Penetapan Tujuan

Dari perumusan masalah yang telah dibuat, tetapkan sasaran/tujuan yang ingin dicapai sebagai output dalam penelitian guna menjawab kebutuhan akan solusi pemecahan masalah yang telah dirumuskan. Dalam hal ini mengupayakan tingkat kebisingan berada dibawah nilai ambang batas ( NAB ) yaitu 85 dBA.

5. Pengumpulan Data

Tahap ini merupakan proses untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan yang ada di lantai dua pabrik asam fosfat. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder yaitu data kebisingan awal dan layout lantai dua pabrik asam fosfat.

6. Pengolahan Data

Pada pengolahan data ada beberapa point yang harus dilakukan, yaitu:

1. Pembuatan Peta Kebisingan

Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kebisingan digunakan untuk membuat peta kebisingan. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui titik yang mempunyai kebisingan paling tinggi dan untuk mengetahui pola penyebaran kebisingan di lokasi pengambilan data. 2. Perhitungan Akustik

Perhitungan yang dilakukan pertama yaitu perhitungan kebisingan total (overall). Perhitungan overall diperoleh dengan pengukuran pada beberapa frekuensi yang menghasilkan satu nilai pengukuran. Perhitungan kebisingan total (overall) dilakukan dengan menggunakan software pascal. Apabila hasilnya melebihi Nilai Ambang Batas (NAB), maka perlu dilakukan pengendalian. Kemudian perhitungan kedua yang dilakukan adalah menghitung

background noise. Perhitungan background noise digunakan untuk

mengetahui atau membuktikan bahwa kebisingan memang timbul dari mesin yang akan dikendalikan kebisingannya.

(37)

23 3. Penentuan material enclosure

Syarat utama dalam merancang sebuah enclosure adalah menentukan bahan peredam kebisingan. Untuk menentukan bahan peredam kebisingan ini menggunakan perhitungan transmission loss (TL) rencana dan noise reduction (NR) rencana.

7. Desain enclosure

Setelah penentuan material enclosure cocok, dibuat desain. Penentuan desain enclosure ini menggunakan perhitungan transmission

loss (TL) actual dan noise reduction (NR) actual dan digambar di Autocad. Kemudian dilakukan perhitungan data kembali untuk

mengetahui apakah material dan bahan yang sudah dipilih dapat mengurangi tingkat kebisingan yang diinginkan.

8. Kesimpulan dan saran

Melalui hasil analisa dapat diperoleh kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan di awal. Dimana dari kesimpulan yang diambil dapat diketahui apakah objek penelitian telah memenuhi nilai ambang batas dan apakah terdapat pengaruh pengendalian kebisingan terhadap kesehatan tenaga kerja.

3.2 Skema Metode Penelitian

Agar lebih jelas maka tahapan kegiatan dalam melakukan penelitian sebagaimana yang terangkum dalam metode penelitian diatas dapat dilihat dalam tampilan skema berikut:

(38)

24 Studi Lapangan

1. Data hasil pengukuran 2. Wawancara

Desain Enclosure berdasarkan nilai TL dan NR aktual

Kesimpulan dan Saran Tidak

Ya Pengolahan Data: 1. Pembuatan Peta Kebisingan Ruang

2. Perhitungan kebisingan - Perhitungan kebisingan total (overall)

(Menggunakan software Pascal) - Perhitungan kebisingan latar belakang

(background noise)

3. Penentuan Material Enclosure berdasarkan Transmission loss dan noise

reduction rencana

Survey Lokasi

Perumusan Masalah Studi Literatur

1. Pengertian kebisingan 2. Pengertian gangguan pendengaran 3. Jenis kebisingan 4. NAB kebisingan 5. Pengaruh kebisingan 6. Pengendalian kebisisngan 7. Enclosure akustik 8. Kebisingan kombinasi 9. Kebisingan latar belakang 10. Transmission loss 11. Noise reducing 12. TL berdasarkan luasan enclosure

Penetapan Tujuan

Pengumpulan Data : 1. Layout lantai dua pabrik Asam fosfat

2. Pengukuran kebisingan

Analisa desain

(Apakah desain mampu mereduksi kebisingan sehingga berada di bawah NAB 85 dB(A))

(39)

25

BAB IV

PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

4.1 Pengumpulan Data

Pengukuran terhadap kebisingan blower dilakukan pada 49 titik dengan menggunakan sound level meter (SLM) dalam rentang 1 oktaf yaitu pada frekuensi 16 Hz, 31.5 Hz, 63 Hz, 125 Hz, 250 Hz, 500 Hz, 1000 Hz, 2000 Hz, 4000 Hz dan 8000 Hz.

4.2 Pengolahan Data

4.2.1 Peta Kebisingan Ruang (Noise Mapping)

Untuk menggambarkan arah/pola penyebaran kebisingan ruang, dibuat peta kebisingan ruangan dengan bantuan software surfer. Jumlah titik kebisingan (n) yang diambil adalah 49 titik. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat kebisingan tertinggi mencapai angka 96,1 dBA terletak pada titik 3 dan tingkat kebisingan terendah adalah 79.4 dBA terletak pada titik 48. Selanjutnya menentukan kelas (m) dengan rumus:

m = 1 + 3,22 (log n) m = 1+ 3,22 (log 49) m = 1+ 5.442

m = 6.442 ≈ 6

Interval diperoleh dengan menggunakan rumus: Interval =

Interval =

=

2.78 ≈ 3

Dapat dinyatakan bahwa peta kebisingan ruang ada 6 kelas dengan interval 3 dimana untuk tiap interval diberi warna yang berbeda, seperti pada Tabel 4.1.

(40)

26 Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Kebisingan Ruang

Kelas Interval Jumlah Data Warna daerah pada mapping

1 79 - 81 6 2 82 - 84 15 3 85 - 87 16 4 88 - 90 0 5 91- 93 9 6 94 - 96 3

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

Dari hasil perhitungan di atas dapat digambarkan peta kebisingan berdasarkan kelas intervalnya yaitu seperti gambar dibawah ini:

Gambar 4.1 peta kebisingan ruang (Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

Warna hijau tua adalah daerah dengan tingkat kebisingan tertinggi. Semakin tua warna pada peta kebisingan semakin tinggi pula tingkat kebisingannya. Blower MC 2323 dan C2423 adalah mesin yang akan dienclosure karena berada di daerah dengan tingkat kebisingan tertinggi.

(41)

27

4.2.2 Kebisingan total (overall)

4.2.2.1 Kebisingan Ruang

Kebisingan ruang dihitung dari titik yang paling dekat dengan mesin yang akan dienclosure. Dari keseluruhan titik kebisingan diruang ini, titik yang paling dekat dengan mesin dan memiliki nilai kebisingan tertinggi adalah titik 3. Tabel 4.2 adalah hasil pengukuran kebisingan pada titik 3 dengan 3 kali pengukuran.

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Kebisingan pada Titik 3 dengan Tiga Kali Pengukuran.

Frekuensi (Hz)

Titik pengukuran (dBA) 3 1 2 3 Max 16 68.1 67.8 68.5 68.5 31.5 68.5 69.7 69.9 69.9 63 72.3 74.1 73.9 74.1 125 77.6 78 76.1 78 250 84.1 82.6 83.1 84.1 500 82.6 81.9 82.7 82.7 1000 92.5 91 93.5 93.5 2000 86.9 86.1 85.9 86.9 4000 80.5 79.6 81.6 81.6 8000 87.6 88.5 86.4 88.5

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

Kebisingan overall (Lp) dari ruangan ini adalah sebagai berikut: Lp = 10 log ∑ 10 nilai max/10

Lp ( 10 68.5/10 + 10 69.9/10 + 10 74.1/10 + 10 78/10 + 10 84.1/10 + 10 82.7/10 + 10 93.5/10 10 86.9/10 + 10 81.6/10 + 10 88.5/10 )

Lp = 96.1 dBA

Berdasarkan hasil perhitungan dapat dinyatakan bahwa kebisingan ruang melebihi nilai ambang batas 85 dBA karena nilainya mencapai 96.1 dBA, karena itu diperlukan pemasangan enclosure pada blower yang dapat mereduksi kebisingan dari 96.1 dBA menjadi 85 dBA. Jadi kebisingan diruang tersebut akan diturunkan sebesar 11,1 dBA.

(42)

28

4.2.2.2 Kebisingan Mesin

Titik yang diambil untuk kebisingan mesin adalah titik 0, 1, 2, 3, 4, 15, 16, 17, 18 dan 19. Hasil pengukuran kebisingan dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Kebisingan Mesin Frekuensi

(Hz) Titik pengukuran (dBA)

0 1 2 3 4 15 16 17 18 19 Max 16 72 68.1 68.5 68.5 67.5 65.6 71.5 65.6 69.1 65.5 72 31.5 70.5 70.5 70.5 69.9 68.2 68.1 72.5 68.1 68.1 67.5 72.5 63 70.1 69.5 72.6 74.1 72.1 70.6 75.4 70.6 72.1 70.1 75.4 125 79.6 82.3 79.1 78 78.9 76.1 81.5 76.1 76.2 73.1 82.3 250 83.9 85.1 82.7 84.1 84.3 81.5 83.7 81.5 81.5 73.8 85.1 500 84.5 84.5 83.9 82.7 82.9 83.1 84.7 83.1 83.5 74.9 84.7 1000 87.7 88.1 91.6 93.5 92.1 90.1 91.3 90.1 89.7 86.5 93.5 2000 82.8 85.6 81 86.9 86.3 78.3 81.2 78.3 76.2 71.6 86.9 4000 80.3 81.6 78.9 81.6 81.6 77.5 75.5 77.5 75.7 69.1 81.6 8000 83.5 83.3 71.6 88.5 86.9 76.1 73.7 76.1 72.1 67.9 88.5 (Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

Kebisingan overall (Lp) dari mesin ini adalah sebagai berikut:

Lp = 10 log ∑ 10 nilai max/10

Lp ( 10 72/10 + 10 72.5/10 + 10 75.4/10 + 10 82.3/10 + 10 85.1/10 + 10 84.7/10 + 10 93.5/10 10 86.9/10 + 10 81.6/10 + 10 88.5/10 ) Lp = 96.4 dBA

Dari hasil perhitungan di atas didapatkan bahwa kebisingan mesin menunjukkan nilai yang tinggi yaitu mencapai 96,4 dBA. Hal ini menunjukkan bahwa kebisngan memang berasal dari mesin blower MC 2323 dan C2423 yang akan dienclosure.

4.2.2.3

Daily Noise Dose

Pekerja tinggal di barak selama tujuh jam dengan tingkat kebisingan mencapai 89 dBA maka nilai DND dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

(43)

29 Dimana: D = Daily Noise Dose (%)

C1 = Waktu pemaparan actual pada tingkat kebisingan tertentu (jam)

T1 = Waktu pemaparan maksimum per hari yang diperkenankan (jam)

Pada Tabel 2.2 intensitas kebisingan yang tersedia adalah 88 dBA untuk waktu pemajanan 4 jam per hari dan 91 dBA untuk waktu pemajanan 2 jam per hari, sehingga untuk intensitas kebisingan 89 dBA waktu pemajanannya dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

T1 = 8 / 2(L-85) /3 Dimana :

T1: Waktu pemaparan maksimum per hari yang diperkenankan (jam)

L : Tingkat kebisingan (dBA) 8 : Jumlah jam kerja per hari 85: Nilai Ambang Batas (dBA)

3 : Exchange rate (angka yang menunjukkan hubungan

antara intensitas kebisingan dengan tingkat kebisingan. Maka, T1 = 8 / 2(89-85) / 3 T1 = 3,174 Sehingga diperoleh: D = [ ] x 100% D = 252,04 %

Menurut NIOSH kriteria dosis aman adalah tidak lebih dari 100% sedangkan dari hasil perhitungan Daily Noise

(44)

30 menunjukkan bahwa perlu diadakan suatu tindakan pengendalian.

4.2.2.4 Background Noise

Background noise dihitung untuk membuktikan

bahwa kebisingan yang timbul benar-benar dari blower yang akan di enclosure. Penentuan background noise dilakukan dengan pengurangan kebisingan ketika blower beroperasi dan blower tidak beroperasi. Hasil perhitungan

background noise ditunjukkan pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Background Noise

Tit ik Frekuensi (Hz) 16 31.5 63 125 250 500 1000 2000 4000 8000 0 4.5 5.8 3.2 18 39.8 38.2 39.9 32.1 23.5 15 1 4.9 6.5 3.4 19.2 40 38.4 40.5 32.6 23.2 15.3 2 5.8 7.2 4.5 19.8 40.9 39.3 41 33.5 24.7 15.5 3 6.3 8 4.9 20.8 42.9 40 41.5 40 25.6 16.1 4 6 7.8 4.7 21 41.5 39.9 41.3 33.8 25.3 16 15 3.5 5.5 2.6 17.8 39 36.9 39 31.4 23 14.2 16 4.5 6.3 3.3 19 39.8 38.2 40.1 32.1 23.5 14.4 17 3.8 5.4 2.5 17.7 40 36.7 39 31.2 22.5 14 18 4 5.2 2.5 18 39 37.6 39.3 31.3 23 13.5 19 3.4 4.7 1.9 17.5 38.5 36.4 38.8 31 21.9 13.1

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

Dapat dilihat pada frekuensi 16 Hz – 63 Hz,

background noise dibawah 10 dBA, artinya kebisingan pada

frekuensi tersebut tidak berpengaruh terhadap kebisingan mesin, karena itu frekuensi 16 Hz – 63Hz tidak dipakai dalam penentuan pemasangan enclosure. Tabel 4.5 merupakan frekuensi yang berpengaruh terhadap pemasangan enclosure.

(45)

31 Tabel 4.5 Hasil pengukuran yang dipengaruhi oleh

background noise

Frekuensi

Titik Pengukuran (dBA) 3 1 2 3 max 125 77.6 78 76.1 78 250 84.1 82.6 83.1 84.1 500 82.6 81.9 82.7 82.7 1000 92.5 91 93.5 93.5 2000 86.9 86.1 85.9 86.9 4000 80.5 79.6 81.6 81.6 8000 87.6 88.5 86.4 88.5

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

4.3 Penentuan Material Enclosure

Syarat utama dalam merancang sebuah enclosure adalah menentukan bahan peredam kebisingan. Untuk menentuan bahan peredam kebisingan, kita menggunakan perhitungan transmission loss (TL) rencana dan noise

reduction (NR) rencana. NR kebisingan blower yang diinginkan adalah 11.1

dBA. Dalam menentukan material/bahan peredam kebisingan, dipilih bahan yang mempunyai surface density besar, kuat dan awet mengingat kondisi lapangan yang kebisingannya tinggi dan berhubungan langsung dengan mesin sehingga harus tahan terhadap panas.

Pihak perusahaan juga meminta agar bahan peredam kebisingan yang digunakan adalah bahan yang mudah untuk dibongkar pasang. Bahan yang cocok untuk kondisi tersebut adalah papan gypsum. Papan gypsum adalah papan yang mineral perekatnya berupa gypsum. Selain memiliki surface

density besar papan gypsum bersifat tahan panas/api, tahan kelembaban,

mudah dipasang dan diperbaiki, tidak berbahaya dan awet. (Sumber : Gyptalk-Lets talk about gypsum. http//www.google.com)

4.3.1 Rancangan Enclosure Dengan Material Akustik Papan Gypsum 1. Perhitungan Transmission Loss (TL)

Dengan material akustik yang digunakan sebagai enclosure adalah papan gypsum dengan ketebalan 0.010 m dan densitas

(46)

32 sebesar 820 kg/m3. Maka perhitungannya dapat dinyatakan sebagai berikut: Diket : D = 820 kg/m3 Thickness = 0.010 m W = D x Thickness W = 820 kg/m3 x 0.010 m W = 8.2 kg/m2 Dimana : D = Densitas (kg/m3) W = Surface density (kg/m2)

Setelah itu baru akan dapat diketahui nilai transmission loss papan gypsum pada masing-masing frekuensi dengan menggunakan perhitungan seperti dibawah ini dan berikut adalah salah satu perhitungan pada frekuensi 1000 Hz yang merupakan frekuensi dengan tingkat kebisingan tertinggi dan untuk hasil perhitungan pada frekuensi lainnya tertera pada Tabel 4.6.

TL = ( 20 log f ) + ( 20 log W ) – C = ( 20 log 1000 ) + ( 20 log 8.2 ) – 47 = 60 + 18.2 – 47

= 31.2 dBA

Dimana : TL = Transmission loss (dBA) W = Surface Density (kg/m2 f = Frekuensi (Hz)

(47)

33 Tabel 4.6 Data Perhitungan TL Papan Gypsum

Frekuensi

( Hertz ) Transmission Loss( dBA )

125 13.1 250 19.1 500 25.1 1000 31.2 2000 37.2 4000 43.2 8000 49.2

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

2. Perhitungan Noise Reducing (NR)

Dan selanjutnya dilakukan perhitungan terhadap noise

reducing (NR) papan gypsum dengan cara menjumlahkan nilai transmission loss dari papan gypsum dengan konstanta 6 yang

menunjukkan bahwa blower berada pada ruang reverberant. NR = TL + 6 dBA

Dan diperoleh data noise reducing papan gypsum yang tertera pada Tabel 4.7 berikut.

Tabel 4.7 Noise Reducing Papan Gypsum

Frekuensi

(Hertz) Transmission LossBahan ( dBA ) ( TL bahan + 6 )Noise Reducing

125 13.1 19.1

250 19.1 25.1

500 25.1 31.1

1000 31.2 37.2

2000 37.2 43.2

(48)

34 Lanjutan Tabel 4.7 Noise Reducing Papan Gypsum

4000 43.2 49.2

8000 49.2 55.2

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010) 4.4 Desain Enclosure

Penentuan desain yang dimaksud yaitu dimensi dari enclosure.

Enclosure dirancang dengan layaknya sebuah ruang dengan dinding, atap,

dan lantai yang disesuaikan dengan dimensi blower C 2423 dan blower MC 2323. Tinggi blower C 2423 adalah 2,6 meter, panjang 4,2 meter dan lebar 3,8 meter sedangkan tinggi blower MC 2323 adalah 2.7 meter, panjang 5 meter dan lebar 2.4 meter. Oleh karena itu dalam perencanaan enclosure berikut dibuat 2 desain, yaitu desain enclosure untuk blower C 2423 dan

blower MC 2323.

Gambar 4.2 Desain Enclosure untuk Blower C 2423 (Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

Kedua desain tersebut menggunakan 2 material yang sama yaitu papan gypsum. Setelah diketahui nilai dari noise reducing dari papan gypsum sebagai bahan yang digunakan untuk enclosure, maka diperlukan perhitungan terhadap transmision loss bahan tersebut berdasarkan dimensi enclosure yang telah disesuaikan dengan dimensi dari blower.

(49)

35 Gambar 4.3 Desain Enclosure untuk Blower MC 2323

(Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

4.4.1 Desain Enclosure Untuk Blower C 2423

Enclosure yang dirancang terdiri atas enam luasan yaitu luasan enclosure bagian depan, belakang, atas, bawah, samping kiri dan

kanan. Enclosure juga dilengkapi dengan Whole House Fan untuk mencegah terjadinya overheating pada mesin yang akan dienclosure.

Whole House Fan yang akan digunakan berukuran 1,2 m x 1.2 m dan

dipasang pada luasan bagian belakang sehingga luasan Enclosure dapat dihitung seperti berikut:

Perhitungan luasan enclosure bagian depan adalah sebagai berikut: Luasan depan (sd) = (p x l)

= (5 m x 3m) = 15 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian belakang adalah sebagai berikut: Luasan belakang (sb) = (p x l) – (luasan Whole House Fan)

= (5 m x 3 m) – (1,2 m x 1,2 m) = 13,56 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian atas adalah sebagai berikut: Luasan atas (sa) = (p x l)

(50)

36 = (5 m x 4,5 m)

= 22,5 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian bawah adalah sebagai berikut: Luasan bawah (sbw) = (p x l)

= (5 m x 4,5 m) = 22,5 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian kanan adalah sebagai berikut: Luasan kanan (ska) = (p x l)

= (4,5 m x 3 m) = 13,5 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian kiri adalah sebagai berikut: Luasan kiri (ski) = (p x l)

= (4,5 m x 3 m) = 13,5 m2

Tabel 4.8 LuasanTtotal Desain Enclosure untuk Blower C 2423

Luasan Dinding Enclosure untuk Blower C 2423

Sd 15 m2 Sb 13,56 m2 Sa 22,5 m2 Sbw 22,5 m2 Ska 13,5 m2 Ski 13,5 m2

Total luasan permukaan

enclosure 100,56 m2

Total luasan dinding 78,06 m2

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010)

keterangan:

Sd = luasan depan (m2) Sb = luasan belakang (m2) Sa = luasan atas (m2)

Sbw = luasan bawah (m2) Ska = luasan kanan (m2) Ski = luasan kiri (m2)

(51)

37 Desain enclosure pada blower C 2423 dilihat pada Gambar 4.4, 4.5, 4.6 berikut

Gambar 4.4 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Depan (Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

Gambar 4.5 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Samping (Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

(52)

38 Gambar 4.6 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Atas

(Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

4.4.2 Desain Enclosure Untuk Blower MC 2323

Enclosure yang dirancang terdiri atas enam luasan yaitu luasan enclosure bagian depan, belakang, atas, bawah, samping kiri dan

kanan. Enclosure juga dilengkapi dengan Whole House Fan untuk mencegah terjadinya overheating pada mesin yang akan dienclosure.

Whole House Fan yang akan digunakan berukuran 1,2 m x 1.2 m dan

dipasang pada luasan bagian belakang sehingga luasan Enclosure dapat dihitung seperti berikut:

Perhitungan luasan enclosure bagian depan adalah sebagai berikut: Luasan depan (sd) = (p x l)

= (5,5 m x 3,5 m) = 19.25 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian belakang adalah sebagai berikut: Luasan belakang (sb) = (p x l) – (luasan Whole House Fan)

= (5,5 m x 3.5 m) – (1,2 m x 1,2 m) = 17,81 m2

(53)

39 Perhitungan luasan enclosure bagian atas adalah sebagai berikut: Luasan atas (sa) = (p x l)

= (5,5 m x 3 m) = 16,5 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian bawah adalah sebagai berikut: Luasan depan (sbw) = (p x l)

= (5.5 m x 3 m) = 16,5 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian kanan adalah sebagai berikut: Luasan kanan (ska) = (p x l)

= (3 m x 3.5 m) = 10.5 m2

Perhitungan luasan enclosure bagian kiri adalah sebagai berikut: Luasan kiri (ski) = (p x l)

= (3 m x 3 m) = 10.5 m2

Tabel 4.9 Luasan Total Desain Enclosure untuk Blower MC 2323

Luasan dinding Enclosure untuk blower MC 2323

Sd 19.25 m2 Sb 17,81 m2 Sa 16,5 m2 Sbw 16,5 m2 Ska 10.5 m2 Ski 10.5 m2

Total luasan permukaan

enclosure 91.06 m2

Total luasan dinding 74.56 m2

(Sumber: Hasil pengukuran, 2010) keterangan:

Sd = luasan depan (m2) Sb = luasan belakang (m2) Sa = luasan atas (m2)

Sbw = luasan bawah (m2) Ska = luasan kanan (m2) Ski = luasan kiri (m2)

(54)

40 Desain enclosure pada blower MC 2323 dapat dilihat pada gambar 4.7, 4.8, 4.9 berikut:

Gambar 4.7 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Depan (Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

Gambar 4.8 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Samping (Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

(55)

41 Gambar 4.9 Desain Enclosure Dilihat dari Pandangan Atas

(Sumber: Hasil Perancangan, 2010)

4.5 Teknis Pemasangan Gypsum

Desain enclosure yang akan dirancang terbuat dari papan gypsum. Papan gypsum yang akan digunakan adalah jenis papan gypsum standard berbentuk lembaran dengan ukuran 1,2 x 2,4 m. Bagian atap dan dinding

enclosure dibentuk oleh papan gypsum dan rangka metal berupa besi hollow

seperti terlihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 4.10 Pemasangan Gypsum Pada Rangka Metal (Sumber: Jayaboard.com)

Gambar

Tabel 2.1 Gradasi dan Percakapan Sehari-hari
Tabel  2.3  Penambahan  Desibel  untuk  Level  Tekanan  Suara  dari  Sumber Beragam.
Gambar 2.1 Penampilan akustik dinding dalam 3 daerah transmission loss
Gambar 2.2 Dua Ruang Akustik yang Dipisahkan oleh Area Partisi  (Irwin dan Graf, 1979)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan pada tingkat dan waktu tertentu.Kebisingan yang sangat kuat

Kep-48/11/1996 Bising adalah Bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan

Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan

Kebisingan adalah suatu bunyi yang tidak diinginkan yang berasal dari kegiatan atau usaha dalam tingkat atau waktu tertentu yang mana dapat menyebabkan gangguan kesehatan

Kebisingan adalah bunyi yang tidak di inginkan karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan

Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang ditimbulkan oleh perusahaan atau kegiatan pada tingkat dan waktu tertentu,