PENGARUH PERILAKU KONSUMTIF
TERHADAP GAYA HIDUP HEDONIS
MAHASISWA STATISTIKA FMIPA UNPAD
Oleh :
Arini Sri Purbani (140610140001) Subhan Dika Putra (140610140023)
Siti Noviyanti (140610140069)
PROGRAM STUDI STATISTIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN
2
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ilmiah tentang pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa prodi Statistika FMIPA UNPAD
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa prodi Statistika FMIPA UNPAD
ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Jatinangor, 13 Juni 2016
3
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... 2 Daftar Isi ... 3 Bab I Pendahuluan ... 4 A. Latar belakang ... 4 B. Rumusan masalah ... 7 C. Tujuan penelitian ... 7 D. Manfaat penelitian ... 7Bab II Kajian Teori ... 8
A. Perilaku Konsumtif ... 8
B. Gaya Hidup Hedonis ... 12
C. Mahasiswa & Kehidupan Kampus ………... 13
D. Hipotesis Penelitian ………....…... 14
Bab III Metode Penelitian ... 15
A. Identifikasi Variabel ... 15
B. Defenisi Operasional ... 15
C. Populasi, Sampel & Teknik Pengambilan Sampel ... 15
Bab IV Hasil Penelitian & Pembahasan……….… 17
A. Hasil Penelitian……….. 17
B. Pembahasan ………... 23
Bab V Kesimpulan dan Saran ... 24
A. Kesimpulan ... 24
B. Saran ... 24
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja mengalami proses pembentukan pada perilakunya, dimana para remaja mencari identitas diri dan berusaha untuk mencapai pola diri yang ideal. Seseorang remaja akan cenderung untuk terlibat dalam pertemanan sebaya sebagai kelompok sosial dalam pencarian identitasnya. Sarlito Wirawan S. (2004: 14) menyatakan definisi remaja untuk masyarakat Indonesia dapat menggunakan batasan usia 11-24 tahun. Mahasiswa merupakan bagian dari remaja, apabila disesuaikan dengan umur remaja masyarakat Indonesia. Mahasiswa merupakan peserta didik yang telah terdaftar di sebuah lembaga pendidikan yang bernama Universitas dan telah memenuhi persyaratan sebagai mahasiswa yang telah ditetapkan oleh Universitas. Mahasiswa sama halnya dengan masyarakat pada umumnya atau masyarakat rumah tangga yang memiliki pemenuhan akan kebutuhannya.
Kebutuhan mahasiswa terdiri dari alat tulis kerja, buku paket kuliah, transportasi dari rumah ke kampus dan sebaliknya serta alat penunjang lainnya yang menjadi keperluan masa perkuliahan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut tentu ada pengeluaran yang dilakukan. Pemenuhan kebutuhan memang sangat penting artinya untuk mengantarkan individu pada kehidupan yang selaras dengan lingkungannya. Pada umumnya setiap orang khususnya mahasiswa akan melakukan kegiatan konsumsi dan suka terhadap hal-hal yang berbau konsumtif seperti suka berbelanja. Chumidatus Sa’dyah (2007: 61) menyatakan bahwa dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud dengan konsumsi adalah kegiatan manusia yang mengurangi atau menghabiskan guna barang atau jasa yang ditunjukkan langsung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendapat ini didukung oleh Alam S. (2008: 37) yang menyatakan bahwa kegiatan konsumsi adalah pembelanjaan barang dan jasa yang dipakai langsung untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Membeli sesuatu untuk memenuhi kebutuhan sebenarnya tidak menjadi masalah bahkan sudah menjadi hal yang biasa atau lumrah pada kehidupan sehari- hari, selama membeli itu benar-benar ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang pokok atau benar-benar dibutuhkan atau kebutuhan primer. Seperti contoh membeli
5
dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut seseorang atau lebih khusus pada mahasiswa mengembangkan perilaku yang mengarah ke pola konsumtif.
Anggasari (dalam Hotpascaman 2010:2) “Perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang yang kurang atau tidak diperhitungkan sehingga sifatnya menjadi berlebihan.” Pola perilaku konsumtif yang dimaksud yakni adalah pola pembelian dan pemenuhan kebutuhan yang lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan dan cenderung dikuasai oleh hasrat keduniawian dan kesenangan semata. Apabila dikaitkan dengan contoh sebelumnya, membeli hanphone untuk komunikasi adalah wajar, namun berberbeda halnya apabila membeli handphone dengan mengikuti trend, trend berganti handphone selalu berganti pula, bahkan memiliki handphone lebih dari dua buah. Sebagai mahasiswa sebaikanya memanfaatkan uang tersebut untuk keperluan yang lebih seperti membeli buku penunjang perkuliahan, mencari bahan referensi dan lain sebagainya.
Modernisasi menghadirkan perubahan sosial, meliputi dibidang ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, kesenian, dan hal lainnya. Modernisasi digunakan untuk menunjukkan pada berbagai tahapan perkembangan sosial yang didasarkan pada industrial, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa yang modern, urbanisasi, infrastruktur atau tata kota dan lain sebagainya. Adanya era modernisasi ini menjadikan tingkat keragaman kebutuhan manusia semakin meningkat. Hal ini menjadi peluang bagi produsen untuk berlomba-lomba memberikan inovasi baru. Produk yang menarik dengan kualitas yang baik menjadi incaran bagi setiap konsumen, sehingga semakin banyak produk-produk maupun jasa yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen.
Keinginan untuk membeli sesuatu ini biasa muncul dikarenakan melihat iklan di televisi dengan rayuan-rayuan iklan yang diberikan, ikut-ikutan teman yang mengikuti mode yang sedang berkembang, dan seringkali mementingkan gengsinya agar tidak ketinggalan zaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Sumartono (dlam Hotpascaman 2010: 3) “Seseorang akan melakukan perilaku konsumtif dengan mengacu pada apa yang ditentukan oleh kelompok referensinya” hal ini diperjelas oleh Sehiffmann dan Kanuk (dalam Hoitpascaman 2010: 3) “Kelompok referensi merupakan tempat bagi individu untuk melakukan perbandingan, memberi nilai, informasi, dan menyediakan suatu bimbingan ataupun petunjuk untuk melakukan konsumsi.” Kelompok referensi dalam hal ini teman sebaya yakni sesama mahasiswa. Kelompok referensi ini sebaiknya saling memberi masukan tentang dunia kampus, saling tukar pikiran mengenai mata kuliah yang diajarkan dan berbagi ilmu pengetahuan. Namun pada kenyataannya mereka saling berlomba menunjukkan hal baru dari mereka, dan berusaha mengejar dari ketinggalan tersebut.
Gaya hidup (life style) berbeda dengan cara hidup (way of life). Cara hidup ditampilkan dengan ciri-ciri seperti norma,ritual, pola-pola tatanan sosial, dan mungkin juga cara
6
seseorang berbahasa. Sedangkan gaya hidup bisa diekspresikan melalui apa yang dikenakan seseorang, apa yang mereka konsumsi, dan bagaimana cara mereka bersikap atau berperilaku ketika di hadapan orang lain. Bagong Suyanto (2013: 139) menyatakan bahwa gaya hidup mengandung pengertian sebagai cara hidup yang mencakup sekumpulan kebiasaan, pandangan dan pola-pola respon terhadap hidup, serta perlengkapan hidup.
Gambaran gaya hidup mahasiwa yang diharapkan yakni mahasiswa merupakan sekelompok pemuda yang mengisi waktunya dengan belajar untuk menambah pengetahuan, ketrampilan, keahlian, serta mengisi kegiatan mereka dengan berbagai macam kegiatan yang positif sehingga akan memiliki orientasi ke masa depan sebagai manusia yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. Dengan mengikuti berbagai aktivitas kampus, aktif di kelas, maupun dalam hal organisasi, dan lain sebagainya. Berpikir secara rasional dengan perkembangan yang ada, tidak memilih kepuasan tapi kebutuhan. Tidak tergoda akan pengaruh yang berkembang diluar sana karena tetap fokus pada masa perkuliahannya.
Masuknya perilaku konsumtif tersebut membawa perubahan pada gaya hidup mahasiswa. Perilaku konsumtif mahasiswa yang biasa, lama kelamaan mulai menjadi kebiasaan yang menjadikan sebuah gaya hidup. Hal ini membawa mahasiswa ke dalam tindakan yang mementingkan penampilan luar mereka, harga diri mereka, serta bagaimana mereka mengikuti perkembangan di lingkungan sekitar supaya setara, kebiasaan ini menjadikan mereka sulit untuk bersikap rasional yang pada mulanya mahasiswa diharapkan mampu bertindak rasional dalam menyikapi perkembangan yang ada. Menjadikan mahasiswa tidak lagi berorientasi pada masa depan, justru berorientasi pada gaya hidup yang mereka jalani pada masa sekarang.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, seharusnya kampus merupakan tempat mahasiswa memperoleh ilmu pengetahuan, bertukar pikiran, bersosialisasi sesama mahasiswa, dan lain sebagainya. Namun yang terlihat sekarang kampus dijadikan ajang pamer penampilan dan gaya hidup mereka. Sehingga ketika banyak mahasiswa menerapkan gaya hidup konsumtif, kehidupan kampus semakin tidak jelas. Mahasiswa yang memiliki kemampuan dalam hal finansial menjadi mudah terpengaruh untuk memenuhi gaya hidup yang konsumtif tersebut. Mahasiswa akan dianggap mengikuti perkembangan zaman apabila telah membeli dan memakai barang-barang dengan merk terkenal, bukan lagi melalui prestasi. Sebagian mahasiswa lain yang berada dalam tingkat ekonomi menengah juga mengikuti gaya hidup konsumtif akibat tuntutan pergaulan. Sehingga sebagian mahasiswa kini hanya mementingkan penampilan, gengsi, dan mengikuti lingkungan sekitar. Uang saku mahasiswa lebih dipentingkan untuk membeli sesuatu yang menjadi keinginan mereka dibanding dengan membeli perlengkapan kampus yang lebih penting sebagai pendukung kuliah. Terkait dengan gaya hidup mahasiswa sebagai pelaku ekonomi, hal yang tepat adalah
7
mengutamakan kebutuhan yang prioritas bukan pada eksistensi di lingkungan perkuliahan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah ada pengaruh antara perilaku konsumtif terhadap gaya hidup mahasiswa Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup mahasiswa Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran. D. Manfaat Penelitian
- Untuk mahasiswa dapat mengetahui apakah ada pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup.
- Untuk pembaca dapat menambah wawasan mengenai pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup mahasiswa.
8
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Perilaku Konsumtif
1. Pengertian Perilaku Konsumtif
Sachari (1984) mengatakan bahwa perilaku konsumtif terjadi karena masyarakat mempunyai kecenderungan materialistik, hasrat yang besar untuk memiliki benda-benda tanpa memperhatikan kebutuhannya.
Hempel (1996) , menggambarkan perilaku konsumtif sebagai adanya ketegangan antara kebutuhan dan keinginan manusia. Secara psikologis perilaku konsumtif ditandai dengan emosi yang tinggi, terkadang tidak disadari, dan tidak logika ( Callebaut, dkk., 2002).
Dahlan (dalam Lina & Rosyid, 1997) mengatakan perilaku konsumtif ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paloing mahal yang memberikan kepuasaan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh semua keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata. Hal ini diperkuat oleh Anggasari (1997) yang mengatakan bahwa perilaku konsumtif ditandai dengan tindakan membeli barang-barang yang kurang atau tidak diperhitungkan sehingga sifatnya menjadi berlebihan.
Lebih lanjut, Sumartono (2002) mengatakan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu tindakan menggunakan suatu produk secara tidak tuntas. Artinya belum habis suatu produk dipakai, seseorang telah menggunakan produk jenis yang sama dari merk lain atau membeli barang karena adanya hadiah yang ditawarkan atau membeli suatu produk karena banyak orang yang menggunakan produk tersebut. Sedangkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (dalam Sumartono, 2002) mengatakan perilaku konsumtif adalah kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa bata dan manusia lebih mementingkan faktor kesenangan daripada kebutuhan.
Demikian pula, Arsy (2006) mengatakan bahwa konsumtif menjelaskan mengenai keingin manusia untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Konsumtif juga biasanya digunakan untuk menunjukkan perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok (Arsy, 2006).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka diambil kesimpulan bahwa perilaku konsumtif merupakan kecenderungan individu untuk membeli dan mengkonsumsi barang-barang tanpa batas dan penimbangan yang rasional ataupun
9
mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan, dimana hal tersebut didorong oleh keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata daripada kebutuhan.
Sebenarnya perilaku konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan hanya untuk mencapai kepuasan maksimal batin mahasiswa. Perilaku konsumtif terjadi karena telah banyaknya tempat-tempat hiburan, mall dan tempat perbelanjaan, cafe, dan lain-lain sehingga pola konsumsi telah berubah yang mulanya hanya untuk memenuhi kebutuhan menjadi sarana pembentukan identitas diri dalam pergaulan sehari- hari. Perilaku konsumtif tersebut dialami juga oleh mahasiswa pada umumnya. Mahasiswa yang sebaiknya beraktivitas di dalam kampus untuk melakukan kegiatan- kegiatan yang bermanfaat malah lebih memilih menghabiskan waktunya berada di mall untuk mengkonsumsi barang barang yang kurang diperlukan dan berada di tempat hiburan malam demi kepuasan semata untuk meningkatkan prestise. Ini berarti yang diinginkan mahasiswa dalam setiap perilaku konsumtifnya seperti untuk mendapatkan pakaian, handphone, sepatu, serta tempat-tempat yang menawarkan gaya hidup modern yaitu café, restoran cepat saji, club malam, dan lain-lain.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Perilaku Konsumtif
Engel, Blackwell dan Miniar (1995) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif, adalah :
1) Kebudayaan
Budaya dapat didefinisikan sebagai hasil kreativitas manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya yang sangat menentukan bentuk perilaku dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Kebhinekaan kebudayaan akan membentuk pasar dan perilaku yang berbeda-beda.
2) Kelas Sosial
Kelas sosial mempengaruhi perilaku konsumen dalam cara seseorang menghabiskan waktu mereka, produk yang dibeli dan berbelanja. Pernyataan ini diperkuat oleh Swastha dan Handoko (1987) yang mengatakan bahwa interaksi seseorang dalam kelas sosial tertentu akan berpengaruh langsung pada pendapat dari selera orang tersebut. sehingga akan mempengaruhi pemilihan produk atau merk barang.
3) Kelompok Referensi
Kelompok referensi merupakan sekolompok orang yang sangat mempengaruhi perilaku individu. Seseorang akan melihat kelompok referensinya dalam menentukan produk yang dikonsumsinya.
4) Situasi
Faktor situasi seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, waktu, suasana hati dan kondisi seseorang sangat mempengaruhi perilaku membeli sesorang.
10
5) Keluarga
Keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan sikap dan perilaku anggotanya, termasuk dalam pembentukan keyakinan dan berfungsi langsung dalam menetapkan keputusan konsumen dalam membeli dan menggunakan barang atau jasa.
6) Kepribadian
Kepribadian didefinisikan sebagai sautu bentuk dari sifat-sifat yang terdapat dalam diri individu yang sangat mempengaruhi perilakunya. Kepribadian sangat berpengaruh dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu produk.
7) Konsep Diri
Konsep diri dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku membeli seseorang. Terdapat beberapa tipe konsumen dalam memenuhi konsep diri yaitu konsumen yang berusaha memenuhi konsep diri yang disadari, konsumen yang berusaha memenuhi konsep diri idealnya dan konsumen yang memenuhi konsep diri menurut orang lain sehingga akan mempengaruhi perilaku membelinya.
8) Motivasi
Motivasi merupakan pendorong perilaku seseorang, tidak terkecuali dalam melakukan pembelian atau penggunaan jasa yang tersedia di pasar.
9) Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar seseorang akan menentukan tindakan dan pengambilan keputusan membeli. Konsumen mengamati dan mempelajari stimulus yang berupa informasi-informasi yang diperolehnya. Informasi tersebut dapat berasal dari pihak lain ataupun diri sendiri (melalui pengalaman). Hasil dari proses belajar tersebut dipakai konsumen sebagai referensi untuk membuat keputusan dalam pembelian.
10) Gaya hidup
Gaya hidup merupakan suatu konsep yang paling umum dalam memahami perilaku konsumen. Gaya hidup merupakan suatu pola rutinitas kehidupan dan aktivitas seseorang dalam menghabiskan waktu dan uang. Gaya hidup menggambarkan aktivitas seseorang, ketertarikan dan pendapat seseorang terhadap suatu hal.
Berdasarkan uraian diatas, maka faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku konsumtif yaitu : kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi, situasi, keluarga, kepribadian, konsep diri, motivasi, pengalaman belajar dan gaya hidup. 3. Pengukuran Perilaku Konsumtif
Pengukuran perilaku konsumtif menggunakan indikator perilaku konsumtif menurut Sumartono (2002), yaitu:
a. Membeli produk karena iming-iming hadiah
Mahasiswa membeli suatu barang karena adanya hadiah yang ditawarkan jika membeli barang tersebut.
11
b. Membeli produk karena kemasannya menarik
Konsumen mahasiswa sangat mudah terbujuk untuk membeli produk yang dibungkus dengan rapi dan dihias dengan warna-warna yang menarik. Artinya motivasi untuk membeli produk tersebut hanya karena produk tersebut dibungkus dengan rapi dan menarik.
c. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi
Konsumen mahasiswa mempunyai keinginan membeli yang tinggi, karena pada umunya remaja mempunyai ciri khas dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut dan sebagainya dengan tujuan agar remaja selalu berpenampilan yang dapat menarik perhatian orang lain. Mahasiswa membelanjakan uangnya lebih banyak untuk menunjang penampilan diri.
d. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunannya)
Konsumen remaja cenderung berperilaku yang ditandakan oleh adanya kehidupan mewah sehingga cenderung menggunakan segala hal yang dianggap paling mewah. e. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status
Mahasiswa mempunyai kemampuan membeli yang tinggi baik dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya sehingga hal tersbut dapat menunjang sifat eksklusif dengan barang yang mahal dan memberi kesan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi. Dengan membeli suatu produk dapat memberikan simbol status agar kelihatan lebih keren dimata orang lain.
f. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan. Mahasiswa cenderung meniru perilaku tokoh yang diidolakannya dalam bentuk menggunakan segala sesatu yang dapat dipakai oleh tokoh idolanya. Mahasiswa juga cenderung memakai dan mencoba produk yang ditawarkan bila ia mengidolakan publik figur produk tersebut.
g. Membeli produk dengan harga mahal untuk meningkatkan rasa percaya diri. Mahasiswa sangat terdorong untuk mencoba suatu produk karena mereka percaya apa yang dikatakan oleh iklan tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Cross dan Cross (dalam Hurlock, 1997) juga menambahkan bahwa dengan membeli produk yang mereka angkkap dapat mempercantik penampilan fisik, mereka akan menjadi lebih percaya diri.
h. Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merk berbeda)
Mahasiswa akan cenderung menggunakan produk jenis sama dengan merk yang lain dari produk sebelumnya ia gunakan, meskipun produk tersebut belum habis dipakainya.
12
B. Gaya Hidup Hedonis 1. Pengertian Gaya Hidup
Chaney (1996) mengatakan bahwa gaya hidup merupakan ciri sebuah dunia
modern, gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain. Gaya hidup berfungsi dalam interaksi dengan cara-cara yang mungkin tidak dapat dipahami oleh orang yang tidak hidup dalam masyarakat modern. Ancok (2004), berpendapat bahwa gaya hidup merupakan pengaruh dari adanya modernisasi. Perilaku gaya hidup tersebut mengarah pada suka berbelanja (shopoholics), pola konsumsi, kebiasaan merayakan hari-hari penting seperti hari ulang tahun, perkawinan, syukuran, dan sebagainya di restoran. Bagi orang-orang modern, gaya hidup semacam ini dapat dilakukan demi gengsi di mata orang lain.
Engel dkk, (1994) mendefinisikan gaya hidup sebagai pola di mana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Gaya hidup di sini merupakan fungsi motivasi dalam mencerminkan nilai konsumen. Dengan kata lain masalah gaya hidup erat kaitannya dengan pola konsumtif.
2. Pengertian Gaya Hidup Hedonis
Hedonisme berasal dari bahasa Yunani yaitu hedone yang berarti kesenangan.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup adalah tujuan utama (Moeliono, 1988). Sedangkan menurut Sujanto (Sumartono, 2002) menjelaskan bahwa gaya hidup hedonis yang berorientasi pada kesenangan umumnya banyak ditemukan di kalangan remaja. Hal ini karena remaja mulai mencari identitas diri melalui penggunaan simbol status seperti mobil, pakaian, dan pemilikan barang-barang, lain yang mudah terlihat.
3. Tipe-tipe Gaya Hidup
a. Kelompok gaya hidup hura-hura b. Kelompok gaya hidup hedonis c. Kelompok gaya hidup rumahan d. Kelompok gaya hidup sportif e. Kelompok gaya hidup kebanyakan f. Kelompok gaya hidup untuk orang lain
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gaya Hidup
Adlin (Ibrahim, 1997) berpendapat salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan gaya hidup yaitu adanya penilaian terhadap suatu produk ditentukan oleh pola pikir dan nilai-nilai yang berkembang dan berlaku dalam masyarakat, dimana hal ini dapat menular dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya melalui media komunikasi. Selain
13
itu inovasi desain juga turut menjadi faktor yang mempengaruh perkembangan gaya hidup, adanya suatu penawaran produk terbaru secara tidak langsung akan menggantikan produk sebelumnya, yang kemudian menjadi sasaran utama bagi para konsumen seperti handphone, komputer dan sebagainya.
5. Aspek – Aspek Gaya Hidup Hedonis
Susanto (2000) menjelaskan atribut-atribut gaya hidup hedonis ditunjukkan dengan lebih senang mengisi waktu luang di tempat yang santai seperti kafe. Bersenang-senang di kafe tidak selalu identik dengan minum-minuman beralkohol, tetapi lebih pada mengisi waktu luang atau bersantai dengan gaya karena dapat sekaligus menunjukkan simbol status. Reynold dan Draden (Engel dkk, 1994) berpendapat bahwa pencerminan gaya hidup disimbolkan sebagai AIO (Activities, Interest, and Opinion). Dalam Penelitian ini yang dimaksud dengan aktivitas, minat dan opini pada kecenderungan gaya hidup hedonis.
C. Mahasiswa dan Kehidupan Kampus
Tiap mahasiswa mempunyai identitas sendiri baik itu karakter, sifat yang ada dalam diri sendiri ataupun identitas yang melekat dalam diri manusia berasal dari luar misalnya status sosialnya dimata manusia lain. Perilaku individu dapat dipelajari dengan identitas yang muncul baik itu sifat, sikap, kata-kata (penrnyataan) atau perbuatan yang dilakukan mahasiswa. Dengan demikian mahasiswa dengan pendidikan yang dimilikinya akan memperoleh ruang interaksi dan mobilitas yang luas tidak hanya didalam kampus namun juga diluar kampusnya. Interaksi dan mobilitas yang dilakukan mahasiswa bisa sebagai bentuk pencarian identitas diri seorang mahasiswa.
Seiring perkembangan jaman yang ditandai dengan merebaknya berbagai bentuk gaya hidup modern, mahasiswa yang diharapkan mempunyai kemampuan sebagai agent of change tersebut telah banyak berkurang. Mahasiswa datang dari berbagai daerah. Kehidupan dikampung asalnya tentu berbeda dengan kehidupan disekitar kampus yang mayoritas telah terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas gaya hidup modern. Maka mahasiswa yang sudah terlena dengan berbagai fasilitas-fasilitas tersebut akan menjadi individu yang tidak mampu memilih hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sehingga senantiasa membeli banyak barang baru untuk mengikuti tren perekembangan jaman.
Mahasiswa merupakan suatu kelompok pemuda yang kelak akan berhasil memperoleh pendidikan yang memadai, luas jaringan informasi serta merasa intim dengan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Alfian (1986: 85) mengemukakan ada tiga hal atau sifat yang mewarnai persepsi, sikap dan tingkah laku mahasiswa maupun kelompok pemuda sebagai orang-orang muda yang berhasil menjadi pejuang nasionalis dan endekiawan bangsa yang bermutu dan berintegritas tinggi yaitu:
14
a. Keberanian mereka untuk memahami diri dan bangsanya secara jujur dan kriris b. Keterbukaan terhadap pembaharuan dan perubahan
c. Rasa kesetiakawanan atau solidaritas yang dalam terhadap sesama bangsanya. Maka kampus atau perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi sarana membentuk karakter mahasiswa seperti yang dikemukakan oleh Alfian diatas sehingga mampu menjelma sebagai generasi penerus dalam mempelopori kemajuan bangsa dan dapat memcahkan segala konflik atau ketimpangan- ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat.
Kampus dianggap sebagai tempat belajar yang cukup kompeten karena mahasiswa dapat menggantungkan impian, cita- cita, dan masa depan. Ruang kuliah sebagai pusat ilmu dimana mahasiswa tak sekedar dating untuk kuliah, ujian, dan kumpul tetapi kampus menjadi agen pengembangan bakat dan penanaman nilai-nilai, sehingga dari ruang kuliah dan berbagai kegiatan kampus itu diharapkan akan lahir mahasiswa yang kreatif, kritis, bertanggungjawab, dan bermoral.
Dalam penelitian ini, kampus yang seharusnya hanya sarana belajar mahasiswa kini dengan berbagai factor yang mempengaruhi berkembangnya gaya hidup hedonis dikalangan mahasiswa, kampus lantas berubah menjadi tempat ajang pamer penampilan dan gaya hidup.
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad.
15
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel
Variabel bebas : Perilaku konsumtif. Variabel tak bebas : Gaya hidup hedonis B. Definisi Operasional
1. Perilaku konsumtif
Perilaku konsumtif merupakan pola perilaku individu dalam mengkonsumsi barang yang lebih mementingkan faktor keinginan untuk mendapatkan kesenangan daripada untuk memenuhi kebutuhan. Perilaku ini juga mencakup suatu tindakan penggunaan produk yang tidak tuntas namun sudah menggunakan produk lain. Barang-barang yang dibeli berupa barang-barang yang dapat merawat diri dan menunjang penampilan diri seperti sepatu, pakaina, kosmetik dan aksesoris.
Perilaku konsumtif akan diukur dengan menggunakan skala perilaku konsumtif berdasarkan indikator perilaku konsumtif oleh Sumartono (2002), yaitu :
a. Membeli produk karena iming-iming hadiah. b. Membeli produk karena kemasannya menarik.
c. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi d. Membeli produk atas pertimbangan harga.
e. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status.
f. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan produk g. Membeli produk dengan harga mahal untuk meningkatkan rasa percaya diri
h. Mencoba lebih dari dua produk sejenis.
Semakin tinggi skor total yang diperoleh subyek maka menggambarkan semakin tinggi perilaku konsumtif dan sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh subyek maka menggambarkan semakin rendah perilaku konsumtif individu.
2. Gaya hidup hedonis
Gaya hidup hedonis adalah suatu pola kecenderungan perilaku yang dapat di lihat dari aktivitas, minat dan pendapat seseorang yang berorientasi pada kesenangan sebagai faktor utama, serta lebih mementingkan keinginan (want) dari pada kebutuhan (need)
Skor yang diperoleh dari variabel gaya hidup dari penelitian tentang kuisioner yang dilihat dari dimensi:
a. Aktivitas yang merupakan indikator kegiatan rutin dan kegiatan di waktu luang b. Minat yang merupakan indikator prioritas hidup
c. Pendapat yang merupakan indikator persepsi terhadap produk.
C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi dan sampel
Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 130) “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila sesorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah
16
penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.” Sedangkan menurut Sugiyono (2012: 80) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain.”. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 131) “Sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti.” Sedangkan menurut Sugiyono (2012: 81) “ Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.” Diketahui bahwa populasi merupakan keseluruhan dari subjek maupun objek yang menjadi sumber data penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah mahasiswa yang memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
a. Mahasiswa aktif jurusan Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran
b. Mahasiswa angkatan tahun 2013-2015 jurusan Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran
2. Teknik pengambilan sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik probability
sampling. Menurut Sugiyono (2012: 91) “Probability sampling adalah teknik sampling yang
memeberi peluang sama kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Cara demikian sering disebut dengan random sampling, atau cara pengambilan sampel secara acak.”
Karena populasinya berstrata maka sampelnya juga berstrata. Stratanya ditentukan menurut jenjang tahun angkatan.
3. Jumlah sampel penelitian
Berdasarkan statistika bahwa jumlah sampel yang lebih dari 60 orang sudah cukup banyak (Azwar, 2005). Dengan jumlah populasi sebesar 221 mahasiswa, maka jumlah total subyek yang diambil untuk penelitian ini adalah sebesar 143 mahasiswa. Jumlah mahasiswa angkatan 2013 yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 48 mahasiswa, mahasiswa angkatan 2014 sebanyak 43 mahasiswa, dan mahasiswa angkatan 2015 sebanyak 54 mahasiswa.
4. Metode dan Alat Pengumpulan Data
Alat ukur yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan tujuan penelitian dan bentuk data yang akan diambil dan diukur ( Hadi, 2000). Data penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode skala, yang menurut Azwar (2005) skala adalah suatu prosedur pengambilan data yang merupakan suatu alat ukur aspek afektif yang merupakan konstruk atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian individu.
Penelitian ini menggunakan dua skala, yaitu Skala Perilaku konsumtif dan Skala Gaya hidup hedonisme.
5. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner. Angket atau kuesioner (Questonnaires), yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Kertas kerja dokumentasi, yaitu pengumpulan arsip atau literatur yang relevan dengan masalah penelitian untuk mendapatkan data-data yang berpengaruh pada penelitian.
17
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
Uji Validitas
Pernyataan dari kuesioner yang telah disebar dikatakan valid jika r hitung > r tabel. Dan berikut hasil pengujian validitas dengan menggunakan software SPSS.
Variabel Dimensi Item r hitung r tabel Keterangan Perilaku Konsumtif Membeli Produk Karena
Iming-Iming Hadiah
Item 1 0.271 0,163086 Valid Item 2 0.410 0,163086 Valid Membeli Produk Karena
Kemasannya Menarik
Item 3 0.346 0,163086 Valid Item 4 0.419 0,163086 Valid Membeli Produk Demi Menjaga
Penampilan Diri dan Gengsi
Item 5 0.517 0,163086 Valid Item 6 0.511 0,163086 Valid Membeli Produk Atas
Pertimbangan Harga
Item 7 0.155 0,163086 Tidak Valid Item 8 0.311 0,163086 Valid Membeli Produk Hanya Sekedar
Menjaga Simbol Status
Item 9 0.598 0,163086 Valid Item 10 0.558 0,163086 Valid Memakai Produk Karena Unsur
Konformitas Terhadap Model yang Mengiklankan
Item 11 0.436 0,163086 Valid Item 12 0.367 0,163086 Valid Membeli Produk yang Mahal akan
Menimbulkan Rasa Percaya Diri yang Tinggi
Item 13 0.580 0,163086 Valid Item 14 0.575 0,163086 Valid Mencoba Lebih Dari Dua Produk
Sejenis (Merek Berbeda)
Item 15 0.311 0,163086 Valid Item 16 0.438 0,163086 Valid Gaya Hidup
Hedonis
Aktivitas Item 1 0.238 0,163086 Valid Item 2 0.498 0,163086 Valid Item 3 0.586 0,163086 Valid
18 Item 4 0.539 0,163086 Valid Item 5 0.506 0,163086 Valid Item 6 0.465 0,163086 Valid Item 7 0.501 0,163086 Valid Item 8 0.417 0,163086 Valid Minat Item 9 0.490 0,163086 Valid Item 10 0.567 0,163086 Valid Item 11 0.582 0,163086 Valid Item 12 0.223 0,163086 Valid Item 13 0.337 0,163086 Valid Item 14 0.367 0,163086 Valid Item 15 0.443 0,163086 Valid Item 16 0.350 0,163086 Valid Opini Item 17 0.258 0,163086 Valid Item 18 0.261 0,163086 Valid Item 19 0.259 0,163086 Valid Item 20 0.368 0,163086 Valid Item 21 0.520 0,163086 Valid Item 22 0.400 0,163086 Valid Uji Reliabilitas
Variabel dalam penelitian ini dikatakan reliabel apabila alpha > 0.7. Dan berikut hasil pengujian reliabilitas dengan menggunakan software SPSS.
Variabel Alpha Keterangan Perilaku Konsumtif 0.694 Tidak Reliabel Gaya Hidup Hedonis 0.777 Reliabel
19
Uji Asumsi
Untuk mengetahui ada tau tidaknya pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup kami akan meregresikan kedua variabel tersebut, namun sebelum itu ada asumsi yang perlu dipenuhi yaitu uji normalitas, non Autokorelasi dan non Heteroskedastisitas.
1. Asumsi Normalitas
Uji normalitas digunakan juga untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Jadi uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel tetapi pada nilai residualnya. Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-smirnov merupakan salah satu cara untuk menguji nilai residual yang kita miliki selain uji T dan uji F. Ketika asumsi ini dilanggar, maka model regresi yang kita miliki dianggap tidak valid dengan jumlah sampel yang ada.
H0 : Data berdistribusi normal
H1 : Data berdistribusi tidak normal
α : 5%
Stat Uji : Uji Normalitas
Kriteria Uji : Tolak H0 jika p-value < α dan terima dalam hal lainnya.
Kesimpulan : Karena p-value (0.606) > α (0.05) maka H0 diterima. Maka dapat dikatakan
bahwa asumsi normalitas telah terpenuhi. 2. Asumsi non Autokorelasi
Non auto-korelasi, berarti tidak ada pengaruh dari variabel dalam modelnya melalui selang waktu atau tidak terjadi korelasi diantara galat randomnya. Uji non autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah antara variable pengganggu
masing-20
masing variable independent saling mempengaruhi pada model yang kita miliki. Asumsi ini akan terpenuhi saat model regresi memiliki sifat non-autokorelasi
H0 : Tidak terjadi autokorelasi
H1 : Terjadi Autokorelasi
α : 5%
Stat Uji : Uji Autokorelasi
Dari hasil regresi SPSS didapatkan bahwa nilai DW = 1.965.
Dilihat dari tabel Durbin Watson dengan taraf signifikansi = 5%, N = 145 dan k = 1 didapatkan nilai DU = 1.747.
Kriteria Uji : Tolak H0 jika DW < DU dan DW > (4-DU) dan terima dalam hal lainnya.
Kesimpulan : Dilihat dari hasil regresi diatas didapatkan DW (1.965) > DU (1.747) dan DW (1.965) < 4-DU (2.034) artinya H0 diterima. Maka dapat dikatakan bahwa asumsi non
Autokorelasi telah terpenuhi.
3. Asumsi non Heteroskedastisitas
Homoskedastisitas, berarti varian dari variabel bebas adalah sama atau konstan untuk setiap nilai tertentu dari variabel bebas lainnya atau varian residu sama untuk semua pengamatan.
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi penyimpangan model karena gangguan varians yang berbeda antar unit observasi yang satu dengan yang lain. Asumsi non-heteroskedastisitas ini akan terpenuhi ketika model regresi yang kita miliki memenuhi sifat homoskedastisitas
H0 : Tidak terjadi heteroskedastisitas
H1 : Terjadi heteroskedastisitas
α : 5%
21
Kriteria Uji : Tolak H0 jika data menyebar acak dan terima dalam hal lainnya.
Kesimpulan : Dari grafik terlihat bahwa data bersifat homogen. Maka dapat dikatakan bahwa asumsi non Heteroskedastisitas telah terpenuhi
22
Analisis Regresi
H0 : τ1 = 0 (Tidak ada pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup)
H1 : τ1 ≠ 0 (Ada pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup)
α : 5%
Stat Uji : Analisis Regresi
23
Kriteria Uji : Tolak H0 jika F hitung > F tabel dan terima dalam hal lainnya
Kesimpulan : Dari hasil anova menggunakan SPSS diatas didapatkan F hitung = 48.875 > F tabel = 3,907312 yang artinya H0 ditolak. Maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh
perilaku konsumtif terhadap gaya hidup. Dengan perilaku konsumtif (X1)dan gaya hidup hedonisme (Y) maka didapatkan persamaan regresi Y = 33.763 + 0.687 X1 + Ԑi .
B. Pembahasan
Penelitian ini memiliki hipotesis yaitu terdapat pengaruh antara perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad. Hasil analisis regresi antara kedua variabel pada hipotesis menghasilkan pengaruh yang signifikan antara perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad. perilaku konsumtif ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paloing mahal yang memberikan kepuasaan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh semua keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata. Hal ini diperkuat oleh Anggasari (1997) yang mengatakan bahwa perilaku konsumtif ditandai dengan tindakan membeli barang-barang yang kurang atau tidak diperhitungkan sehingga sifatnya menjadi berlebihan.
Sedangkan Engel dkk, (1994) mendefinisikan gaya hidup sebagai pola di mana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Gaya hidup di sini merupakan fungsi motivasi dalam mencerminkan nilai konsumen. Dengan kata lain masalah gaya hidup erat kaitannya dengan pola konsumtif.
Hasil penelitian dari hipotesis yang telah disebutkan menunjukkan adanya pengaruh antara perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad, dimana pengaruh ini memiliki pengertian untuk hipotesis penelitian yaitu ketika perilaku mahasiswa statistika fmipa unpad semakin konsumtif maka menunjukkan gaya hidup mereka yang semakin hedonis.
Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi (r-square) = 50.5% hal ini menujukkan bahwa perilaku konsumtif tidak mutlak sebagai sesuatu yang menyebabkan gaya hidup hedonis, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain.
24
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan berupa rangkuman hasil penelitian dan saran untuk penelitian lanjutan.
A. Kesimpulan
1. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu ada pengaruh antara perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad. Dapat disimpulkan hipotesis pertama diterima.
2. Hasil penelitian dalam hipotesis pertama menunjukkan bahwa ada pengaruh perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad. Artinya ketika perilaku mahasiswa statistika fmipa unpad semakin konsumtif maka menunjukkan gaya hidup mereka yang semakin hedonis.
B. Saran
A. Saran Penelitian
1. Melihat lemahnya alat ukur penelitian (terutama untuk alat ukur perilaku konsumtif), maka ada baiknya untuk penelitian selanjutnya dapat memperbaiki alat ukur tersebut ataupun penggunaan kajian teori yang terbaru sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih baik.
2. Pada penelitian selanjutnya diharapkan untuk memperbanyak jumlah sampel yang hendak diteliti sehingga variasi jawaban subjek dapat mempertinggi reliabilitas dari skala yang dipergunakan.
B. Saran Praktis
Mengingat bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh antara perilaku konsumtif terhadap gaya hidup hedonis mahasiswa statistika fmipa unpad maka diharapkan mahasiswa statistika fmipa unpad mampu meminimalisir perilaku konsumtif mereka agar tidak memberi efek negatif yang berujung pada gaya hidup hedonis.
25
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2015). Pengertian perilaku konsumtif.
http://www.landasanteori.com/2015/09/pengertian-perilaku-konsumtif-defenisi.html?m=1 Anonim. (2011). Gaya hidup konsumtif.
http://www.goresantintapindy.blogspot.co.id/2011/12/gaya-hidup-konsumtif-di-kalangan.html
Anonim. (2015). Memahami gaya hidup melalui perspektif.
http://www.kammiuinbandung.blogspot.co.id/2015/15/memahami-gaya-hidup-melalui-perspektif.html
Anonim. Pengaruh gaya hidup terhadap repurchase intention. www.lib.ui.ac.id/abstrakpdf.jsp?id=20357888&lokasi=lokal
Anonim. (2009). Hubungan antara perilaku konsumtif dengan konformitas pada remaja. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14510/1/10E00397.pdf