Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
ISBN: 978-602-7998-43-8 PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN
EKONOMI PERDESAAN I
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I
Penanggung Jawab:
Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura
Editor:
Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
Katalog dalam Terbitan
Proceeding: Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura, UTM Press 2014
viii + 396 hlm.; 17x24 cm
ISBN 978-602-7998-43-8
Editor: : Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati
Layouter : Taufik R D A Nugroho
Cover design : Didik Purwanto
Penerbit : UTM Press
* Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO Box. 2 Kamal Bangkalan
Telp : 031-3013234 Fax : 031-3011506
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji kami panjatkan ke hadapan Illahi atas terselenggaranya Seminar Nasional “Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I” Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 21 Mei 2014. Seminar ini merupakan seminar yang diselenggarakan secara mandiri oleh Program Studi Agribisnis untuk pertama kalinya dan direncanakan dilakukan secara rutin tiap tahun. Tujuan diselenggarakannya seminar ini adalah untuk: 1) Memberikan rekomendasi kebijakan, langkah dan strategi dalam upaya pengembangan sektor agribisnis yang terkait erat dengan wilayah perdesaan, 2) Memberikan wadah untuk berbagi pengalaman dan tukar menukar ide bagi semua stakeholder terkait baik akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah, 3) Menumbuhkan komitmen bersama dalam pengembangan sektor agribisnis yang bertitik tumpu pada wilayah perdesaan dalam upaya mencapai visi pembangunan pertanian. Selanjutnya, pada akhir seminar diharapkan tergalang sinergi untuk meningkatkan mutu dan dayaguna penelitian dan dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak yang berwenang dalam pengambilan kebijakan.
Makalah kunci disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, MS selaku Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, dan makalah utama oleh Dr.Ir. Agus Wahyudi, SE; MM (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu/BPWS), Andrie Kisroh Sunyigono, PhD selaku Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Trunojoyo Madura dan. Dr. Sitti Aida Adha Taridala, SP, M.Si sebagai pemakalah terbaik dari Universitas Halu Uleo. Disamping itu terdapat makalah penunjang bersumber dari berbagai instansi/lembaga penelitian seperti BPTP antara lain dari Bogor dan Jawa Timur, Loka Penelitian Sapi Potong Pasuruan, serta Perguruan Tinggi dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Gorontalo, Bandung, Tegal, Surabaya, Malang dan Madura. Topik-topik yang disajikan sangat bervariasi, secara garis besar terhimpun ke dalam 4 bidang yakni agribisnis, sosiologi, nilai tambah dan sosial ekonomi.
Terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi utamanya PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).
Akhirnya selamat mengkaji makalah-makalah di prosiding ini. Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatu
Bangkalan, Juni 2014. Ketua Panitia,
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA ... iv DAFTAR ISI ... v
AGRIBISNIS
MANAJEMEN AGRIBISNIS DAN PERMASALAHANNYA ... 3 P. Julius F. Nagel
TANGGAPAN KONSUMEN TERHADAP ECO-LABEL PADA PRODUK PERTANIAN ... 14
Joko Mariyono
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI BERSAING DAN KINERJA PERUSAHAAN ... 21
Hary Sastrya Wanto, Ruswiati Suryasaputra
PERANAN BAITUL MAAL WATTAMWIL UNTUK PENINGKATAN SEKTOR PERTANIAN ... 32
Renny Oktafia
PENINGKATAN MUTU BUAH APEL SEPANJANG RANTAI PASOK DARI PASCAPANEN SAMPAI DISPLAY SUPER MARKET ... 41
I Nyoman Sutapa, Jani Rahardjo, I Gede Agus Widyadana, Elbert Widjaja ANALISIS PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS POTENSI LOKAL KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG ... 57
Selamet Joko Utomo
RISIKO USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR UTAMA KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN ... 68
Lilis Suryani, Aminah H.M Ariyani
KELAYAKAN EKONOMI USAHA GARAM RAKYAT DENGAN TEKNOLOGI MADURESSE BERISOLATOR ... 83
Makhfud Efendy, Ahmad Heryanto
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PLINTIR PISANG DI KECAMATAN ARJASA KEPULAUAN KANGEAN ... 107
Mu’awana, Taufik Rizal Dwi Adi Nugroho
SOSIOLOGI
RELASI AKTOR DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PRODUK TERRA (TERONG RAKYAT) ... 121
PERLUNYA KECUKUPAN BAHAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN MASYARAKAT SECARA NASIONAL ... 133
Isbandi dan S.Rusdiana
RELASI SEGI TIGA SISTEM KREDIT DALAM MASYARAKAT PERDESAAN STUDI KASUS DI DESA MAJENANG, KECAMATAN KEDUNGPRING, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ... 146
Indah Rusianti, Faridatus Sholihah, Arini Nila Sari
DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DI DESA NGRINGINREJO, KECAMATAN KALITIDU, KABUPATEN BOJONEGORO ... 159
Alifatul Khoiriyah, Santi Yuli Hartika, Yunny Noevita Sari, dan Ali Imron PEMANFAATAN PERAN MODAL SOSIAL PADA PEKERJA SEKTOR INFORMAL PEREMPUAN (Studi Pada Pedagang Kaki Lima Perempuan Di Kota Malang) ... 168
Ike Kusdyah Rachmawati
PROGRAM AKSI MEDIA KOMUNITAS PEDESAAN BAGI WARGA KEPULAUAN TIMUR MADURA SEBAGAI SARANA PENINGKATAN AKSES, KETERBUKAAN INFORMASI, DAN PEMBERDAYAAN PUBLIK ... 181
Surokim, Teguh Hidayatul Rachmad
MODEL PENGEMBANGAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DI PROVINSI GORONTALO ... 194
Mohamad Ikbal Bahua
NILAI TAMBAH
PENERAPAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) UNTUK PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN WORTEL ... 213
Yurida Ekawati, Surya Wirawan Widiyanto
PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS JAGUNG DI KABUPATEN BANGKALAN ... 224
Weda Setyo Wibowo, Banun Diyah Probowati, Umi Purwandari
STRATEGI PENGUATAN POSISI TAWAR PETANI KENTANG MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN ... 234
Ana Arifatus Sa’diyah dan Dyanasari
INOVASI TEKNOLOGI SAPI POTONG BERBASIS MANAJEMEN BUDIDAYA DAN REPRODUKSI MENUJU USAHATANI KOMERSIAL ... 250
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
POTENSI SAMPAH ORGANIK SEBAGAI PELUANG BISNIS PUPUK ORGANIK DAN PAKAN TERNAK ... 258
Jajuk Herawati, Yhogga Pratama Dhinata, Indarwati
UJI KELAYAKAN PENGOLAHAN SERBUK INSTAN BEBERAPA VARIETAS JAHE DALAM UPAYA MENINGKATKAN NILAI EKONOMI ... 270
Indarwati, Jajuk Herawati, Tatuk Tojibatus, Koesriwulandari
POTENSI CACING TANAH SEBAGAI PELUANG BISNIS ... 280 Yhogga Pratama Dhinata, Jajuk Herawati, Indarwati
PEMBUATAN DAGING TIRUAN MURNI (MEAT ANALOG) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK ... 290
Sri Hastuti
STRATEGI PERCEPATAN PENGEMBANGAN USAHATANI TEBU DI MADURA301
Miellyza Kusuma Putri, Mokh Rum
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SALAK DI KABUPATEN BANGKALAN ... 312
Iffan Maflahah
SOSIAL EKONOMI
PEMANFAATAN SUMBERDAYA PEKARANGAN MELALUI PROGRAM KRPL DI PUHJARAK, KEDIRI ... 331
Kuntoro Boga Andri dan Putu Bagus Daroini
PERSEPSI PETANI TERHADAP NILAI LAHAN SEBAGAI DASAR PENETAPAN LAHAN PERTANIAN PADI SAWAH BERKELANJUTAN ... 343
Mustika Tripatmasari, Firman Farid Muhsoni, Eko Murniyanto
PARTISIPASI ANGGOTA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) TUNAS MAJU DI KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULONPROGO ... 351
Eni Istiyanti, Lestari Rahayu,Supriyadi
VEGETABLE CONSUMPTION PATTERN IN EAST JAVA AND BALI ... 367 Evy Latifah, Hanik A. Dewi, Putu B. Daroini, Kuntoro B. Andri,Joko Mariyono
ANALISIS DINAMIKA PERDAGANGAN BERAS DAN GANDUM DI INDONESIA ... 381
Tutik Setyawati
KERAGAAN HASIL BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU KEDELAI DAN TINGKAT KEUNTUNGAN USAHATANI DI LOKASI PENDAMPINGAN SL-PTT KABUPATEN SAMPANG ... 389
KELAYAKAN EKONOMI USAHA GARAM RAKYAT DENGAN TEKNOLOGI MADURESSE BERISOLATOR
Makhfud Efendy, Ahmad Heryanto
Pusat Studi Kelautan – Universitas Trunojoyo Madura
Gedung Marine Center Lt II UTM, Jl. Raya Telang PO BOX 2 Kamal, Telp. +62-313013234, Fax. +62-313011506
e-mail: [email protected], www: trunojoyo.ac.id
ABSTRAK
Kelayakan teknis usaha garam rakyat dengan kondisi teknologi Madura yang terisolasi belum menunjukkan indikasi kelayakan ekonomi.Oleh karenaya perlu dilakukan kajian tentang kelayakan ekonomi teknologi tersebut guna peningkatan dan perbaikan kuantitas serta kualitas garam rakyat. Kelayakan ekonomi bias diindikasikan dengan menggunakan hasil analisis financial garam rakyat (analisis pendapatan usaha dan analisis investasi). Analisis pendapatan usaha meliputi perhitungan biaya produksi, penerimaan, keuntungan dan rasio pegembalian biaya. Sedangkan analisis investasi meliputi perhitungan net present value, internal rate of return, payback period, break even point dan rasio net benefit. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan teknologi Madura isolasi pada garam rakyat layak dikembangkan. Seluruh indicator yang merujuk pada penggunaan teknologi ini meliputi : R/C rasio sebesar 1,58 PBP 27 bulan, IRR 35,13%, NPV Rp 128 941 215, Net B/C 1,58 dan BEP mencapai volume produksi 2 196 karung dengan nilai Rp 49 421 262.
Kata Kunci : kelayakan ekonomi, masyarakat pegaram, teknologi maduresse berisolasi
TECHNICAL FEASIBILITY OF THE PEOPLE'S SALT BUSINESS WITH ISOLATED MADURESSE TECHNOLOGY
ABSTRACT
Technical feasibility of the people's salt business with isolated maduresse technology have not contained some indications of economic feasibility. Therefore, it is necessary to study the economic feasibility of this technology for the enhancement and improvement of quantity and quality people's salt.Economic feasibility can be indicated by the results of people's salt financial analysis (business revenueanalysis and investment analysis). Business revenue analysis includes the calculations of production cost, revenue, benefit, and return cost ratio.While investment analysis includes the calculations net present value, internal rate of return, payback period, break even point and net benefit cost ratio.The analysis showed that the application of isolated maduresse technology in people’s salt business is feasible to develop.All indicators which refer to the use of this technology include: R/C ratio with a value 1.58, PBP 27 months, IRR35.13%, NPV Rp 128 941 215, Net B/C 1.58 and BEP is reached at 2 196 sacks production volume with a value Rp 49 421 262.
Keywords: economy feasibility, people’s salt business, isolated maduresse technology
PENDAHULUAN
Kegiatan ekonomi produktif usaha garam di Pulau Madura sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dengan pengusahaan oleh rakyat dan pemerintah dalam hal ini
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
BUMN PT Garam.Upaya produksi garam tersebut menggunakan teknologi yang berbeda dimana usaha garam rakyat menggunakan teknologi maduresse sementara PT Garam dengan teknologi portugesse. Alasan penggunaan teknologi maduresse pada usaha garam rakyat karena secara teknis lebih mudah dan waktu produksi yang relatif lebih singkat yaitu 12-15 hari. Namun dengan teknologi ini petambak garam dihadapkan pada kendala rendahnya kualitas garam yang dihasilkan jika dibandingkan dengan penggunaan teknologi portugesse. Kelebihan teknologi portugesse adalah kualitas garam yang dihasilkan jauh lebih putih, keras, padat, asin dan kandungan air yang lebih sedikit, meski dengan waktu produksi yang lebih lama dan kuantitas produksi yang lebih sedikit. Sebagai illustrasi proses produksi garam dengan menggunakan teknologi
portugesse membutuhkan waktu produksi yang lebih lama yaitu 25-30 hari, karena
dengan teknologi ini proses pungut garam pertama dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan pembuatan lantai garam pada meja garam (crystallizer). Keengganan petambak garam rakyat menggunakan teknologi ini karena masa pungut garam yang lebih lama dan jumlah produksi yang lebih sedikit sehingga teknologi ini hanya cocok dikembangkan oleh perusahaan garam yang umumnya memiliki persediaan modal yang lebih dibandingkan usaha garam rakyat.
Dewasa ini diperkenalkan inovasi baru dalam produksi garam dengan mengadopsi produksi garam teknologi maduresse yang diintegrasikan dengan teknologi isolator (HDPE dan LDPE). Inovasi ini bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas garam dengan masa pungut seperti teknologi maduresse. Teknologi isolator iniberupa pemakaianlembaran lapisan kedap air (impermeable liner) yang terbuat dari bahan polymer dengan densitas tinggi (high density polyethylene, HDPE) atau dengan densitas rendah (low density polyethylene, LDPE) sebagai lantai garam pada meja garam. Secara teknis aplikasi Isolator (HDPE dan LDPE) aman bagi kesehatan karena bersifat food
grade diantaranya sebagai wadah untuk air siap minum (portable water), wadah
persedian air (reservoir), industri pertanian, pembuatan kanal air, tambak udang dan ikan, landfill biogass, pond sawit. Pengaplikasian isolator untuk pembuatan ladang garam dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya kebocoran air tua pada tanah yang dominan pasir dan menghindari terjadinya cemaran tanah pada tanah yang dominan lumpur. Dengan demikian pemakaian isolator diyakini mampu untuk meningkatkan kuantitas dan perbaikan kualitas produksi garam.
Dalam pelaksanaannya,hasilteknologi ini sangat memuaskan. Indikatornya terlihat dari peningkatan produktivitas dan perbaikan mutugaram yang lebih baik dibandingkan teknologi maduresse konvensional. Petunjuk teknis lainnya adalah pembentukan kristal garam yang lebih cepat, kualitas garam yang lebih homogen, waktu panen lebih singkat,bulk density yang lebih besar, penggunaan air tua lebih hemat, warna garam lebih bening, dan kandungan NaCl yang lebih tinggi. Semua indikator ini merujuk pada kelayakan teknis teknologi isolator dan belum memuat indikasi tentang efisiensi ekonomi teknologi dimaksud. Dengan demikian perlu kajian tentang kelayakan ekonomi penggunaan teknologi ini dimana keberhasilanya dapat diindikasikan
berdasarkan hasil analisis finansial (analisis pendapatan usaha dan analisis investasi) garam rakyat.
METODOLOGI
Kegiatan usaha merupakan kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan manfaatnya. Dalam suatu unit usaha sumber-sumber tersebut dapat berupa barang-barang modal, bahan baku, tenaga kerja dan waktu. Sumber-sumber tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang konsumsi yang dikorbankan saat ini untuk memperoleh manfaat maksimalisasi keuntungan. Suatu usaha dikatakan profitable jika penerimaan usaha yang diperoleh lebih besar dibandingkan total pengeluaran.Soeharjo dan Patong (1973) mendefinisikan total pengeluaran sebagai jasa dari kerjasama faktor-faktor produksi, manusia, uang dan pengelolaan. Sedangkan secara harfiah total pengeluaran dapat didefinisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai biaya tidak langsung yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Untuk mengukur keberhasilan usaha garam bisa dilakukan dengan melakukan analisis total pengeluaran usaha garam. Dengan melakukan analisis total pengeluaran usaha dapat diketahui gambaran keadaan usaha garam sekarang hingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usaha garam pada masa yang akan datang.
Analisis finansial suatu usaha agribisnis memandang perbandingan pengeluaran uang dan perolehan keuntungan dari usaha tersebut (Kadarsan, 1995). Jika dari hasil analisis finansial menunjukkan net benefit yang bernilai postif maka rencana usaha tersebut dapat dilanjutkan, sebaliknya jika bernilai negatif maka rencana investasi usaha sebaiknya dibatalkan. Analisis finansial dapat dilakukan dengan menggunakan tiga indikator yaitu; analisis usaha, analisis kriteria invetasi dan analisis sensitivitas. Analisis Usaha mencakup perhitungan terhadap: biaya produksi, penerimaan, keuntungan, dan R/C ratio.
Analisis pendapatan usaha atau keuntungan bertujuan mengetahui input dan output produksi garam dan besar keuntungan yang diperolehnya. Untuk mengetahui keuntungan relatif usaha garam dapat dilakukan analisis imbangan tingkat penerimaan dan biaya atau revenue-cost ratio. Analisis R/C bertujuan untuk melihat seberapa jauh setiap nilai rupiah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha garam dapat memberikan sejumlah nilai penerimaan sebagai manfaatnya. Menurut Hernanto (1989), Usaha agrinisnis yang paling menguntungkan adalah yang mempunyai R/C paling besar. Analisis payback periode (PBP) digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk menutupi investasi yang ditanamkan pelaku usaha. Break even Point digunakan untuk melihat batas minimal produk yang harus diproduksi agar suatu usaha dapat memberikan keuntungan. Dalam suatu analisis usaha komponen yang dipakai dalam perhitungan mencakup komponen pengeluaran dan komponen penerimaan. Komponen pengeluaran terdiri biaya-biaya seperti biaya variable,biaya tetap dan biaya investasi. Komponen penerimaan berupa penghasilan yang diterima oleh petani garam dari hasil penjualan produknya. Pendapatan usaha merupakan selisih total penerimaan dikurangi total biaya.
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
Analisis Kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui layak tidaknya usaha tersebut dikembangkan dari aspek finansial/keuangan. Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk memperhitungkan rangsangan bagi investor baik perseorangan maupun badan untuk turut serta berinvestasi (Kadariah, 1999). Menurut Gittinger (1986) tujuan analisis kelayakan finansial untuk proyek agribisnis adalah: (1) penilaian pengaruh finansial, (2) penilaian penggunaan sumberdaya terbatas; (3) penilaian insentif; (4) ketetapan suatu rencana pembelanjaan; (5) Koordinasi kontribusi finansial; dan (6) penilaian kecakapan keuangan. Indikator keuangan yang layak untuk menilai layak tidaknya suatu investasi agribisnis harus memperhatikan nilai waktu uang (time value of money). Indikator-indikator tersebut yaitu NPV (Net Present Value), IRR(Internal Rate
of Return), PBP (PayBack Period), BEP (Break Even Point) dan Net B/C Ratio.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Usaha Tambak garam
Analisis usaha merupakan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan yang telah dicapai selama usaha berlangsung dan diharapkan dapat memberikan gambaran tingkat keuntungan suatu usaha. Komponen analisis usaha tambak garam meliputi biaya invetasi lahan, peralatan produksi garam (timbangan, gulu’, siuran, raca, sorkot, kincir dan boumemeter). Sementara pada kegiatan produksi dengan teknologi maduresse berisolator biaya bertambah untuk pengadaan dan pemasangan HDPE pada lantai garam. Penerimaan pertahun berdasarkan hasil penjualan garam. Pengeluaran pertahuan dihitung berdasarkan total biaya yang dikeluarkan. Keuntungan diperoleh dari selisih penerimaan dikurangi pengeluaran usaha tambak garam.
1) Biaya Investasi
Investasi merupakan sejumlah biaya yang dikeluarkan satu kali setahun selama proyek untuk memperoleh manfaat ekonomis sampai kondisi barang tersebut tidak dapat memberikan keuntungan lagi. Biaya investasi yang dikeluarkan dalam usaha garam rakyat teknologi maduresse dengan luas lahan satu hektar sebesar di Kabupaten Pamekasanpada Tahun 2013 mencapai Rp. 36.800.000,-. Biaya investasi tersebut setiap tahunnya relatif tetap meliputi lahan dan peralatan produksi garam seperti kincir, gulu’, raca’, sorkot, siuran dan timbangan. Dilihat dari proporsinya dari keseluruhan biaya investasi, sewa lahan mendapat proporsi terbesar yaitu 81,5 persen dari total biaya investasi usaha garam pada teknologi maduresse. Sedangkan total biaya investasi usaha garam dengan teknologi maduresse berisolator mencapai Rp.223.800.000. Biaya terbesar investasi adalah pengadaan terpal HDPE yang mencapai 83,56 persen dari total biaya investasi. Proporsi biaya sewa lahan pada usaha garam sistem isolator hanya sebesar 13,40 persen. Tingginya proporsi biaya plastik isolator karena harganya yang saat ini relatif tinggi. Harga plastik isolator saat ini di pasaran minimal mencapai US$ 1,7/m2 atau setara Rp. 187 juta perhektar (kurs US$ 1=Rp. 11.000,-).
Keseluruhan pendanaan usaha tambak garam berasal dari modal sendiri atau pemilik tambak garam. Sebagaimana pelaku usaha kecil lain, para petambak garam
enggan mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga keuangan karena prosedur yang rumit, memerlukan agunan dan bunga kredit yang tinggi. Rincian komponen investasi dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut.
Tabel 1. Biaya Investasi Usaha Tambak Garam dengan Teknologi Maduresse per Hektar
Deskripsi Umur
Teknis Jumlah
Harga
perunit Total Biaya
(Tahun) (unit) (Rp) Rp % Kincir 5 3 1.000.000 3.000.000 8,15% Gulu' 3 2 400.000 800.000 2,17% Raca' 3 2 200.000 400.000 1,09% Siuran 3 2 100.000 200.000 0,54% Sorkot 3 2 200.000 400.000 1,09% Timbangan 5 2 1.000.000 2.000.000 5,43% Lahan (Ha) 1 30.000.000 30.000.000 81,52% Total 36.800.000 100,00%
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
Tabel 2. Biaya Investasi Usaha Tambak Garam dengan Teknologi Maduresse Berisolator
Deskripsi Umur
Teknis Jumlah
Harga
perunit Total Biaya
(Tahun) (unit) (Rp) Rp % Kincir 5 3 1.000.000 3.000.000 1,34% Gulu' 3 2 400.000 800.000 0,36% Raca' 3 2 200.000 400.000 0,18% Siuran 3 2 100.000 200.000 0,09% Sorkot 3 2 200.000 400.000 0,18% Timbangan 5 2 1.000.000 2.000.000 0,89% HDPE* 1 187.000.000 187.000.000 83,56% Lahan 1 30.000.000 30.000.000 13,40% Total 223.800.000 100,00%
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
2) Biaya Produksi
Biaya produksi diperlukan untuk mengolah input/sumberdaya, sehingga mampu dihasilkan output melalui suatu proses produksi. Biaya produksi yang dikeluarkan mencakup biaya tetap dan biaya variabel. Besaran biaya tetap dan variabel besarnya sama setiap tahun.
Biaya tetap usaha tambak garam teknologi maduresse mencakup; biaya pembayaran pajak PBB, biaya pemeliharaan dan penyusutan. Biaya tetap usaha garam teknologi maduresse pada tahun 2013 mencapai Rp. 11.300.000,-. Proporsi terbesar biaya tetap berasal dari biaya biaya pemeliharaan tambak mencapai 84,96 persen dari total biaya tetap. Sedangkan pada usaha garam teknologi maduresse berisolator, biaya tetap mencapai Rp. 42.466.667.Komponen biaya tetap terbesar dari usaha garam sistem
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
isolator berasal dari biaya penyusutan mencapai Rp. 32. 766.667 atau 77,16 persen dari total biaya tetap. Sedangkan komponen biaya pemeliharaannya hanya sebesar 22,61 persen dari total biaya tetap. Komponen biaya tetap usaha garam teknologi maduresse dan teknologi maduresse berisolator terlihat pada Tabel3 dan Tabel 4.
Tabel 3 Biaya Tetap Usaha Tambak Garam dengan Teknologi maduresse
Deskripsi Total Biaya
Rp %
Pajak PBB 100.000 0,88%
Biaya Pemeliharaan 9.600.000 84,96% (2 orang x 15 hari x 8 kali x Rp.40.000)
Penyusutan 1.600.000 14,16%
Jumlah 11.300.000 100,00%
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
Tabel 4 Biaya Tetap Usaha Tambak Garam dengan Teknologi Maduresse Berisolator
Deskripsi Total Biaya
Biaya (Rp) %
Pajak PBB 100.000 0,24%
Biaya Pemeliharaan 9.600.000 22,61% (2 orang x 15 hari x 8 kali x Rp.40.000)
Penyusutan 32.766.667 77,16%
Jumlah 42.466.667 100,00%
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
Komponen biaya produksi lain usaha tambak garam adalah biaya variabel. Komponen biaya variabel usaha tambak garam mencakup; biaya persiapan lahan, biaya pengisian garam ke karung dan biaya angkut garam dari lahan ke mobil transport. Biaya persiapan lahan mencakup biaya pembuatan saluran dan tanggul, biaya pemasangan kincir serta biaya perbaikan meja garam. Total biaya variabel usaha garam sistem mencapai Rp.11.076.000,-. Biaya terbesar berasal dari biaya angkut garam dan biaya pengisian karung dengan proporsi masing-masing sebesar 62,6% dan 31,3 persen dari total biaya variabel. Biaya variabel usaha teknologi maduresse terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Biaya Variabel Usaha Tambak Garam dengan Teknologi maduresse
Deskripsi Total Biaya
(Rp) %
Biaya Persiapan
Saluran dan tanggul (1 orang x 5 hari x Rp. 35.000) 175.000 1,58% Pasang Kincir (3 buah x Rp. 50.000) 150.000 1,35% meja Garam (2 orang x 5 hari x Rp. 35.000) 350.000 3,16% Mengisi Garam ke karung (3467 krg x Rp.1000) 3.467.000 31,30% Biaya Angkut (3467 karung x Rp. 2000/karung) 6.934.000 62,60%
Jumlah 11.076.000 100,00%
Total Biaya variabel usaha garam teknologi maduresse berisolator sebesar Rp. 23.430.000,. Komponen biaya variabel terbesar berasal dari biaya angkut dan pengisian karung garam dengan proporsi masing masing sebesar 63,25% dan 31,63% dari total biaya variabel. Besarnya komponen biaya angkut pada usaha garam disebabkan proses pengangkutan garam dari lahan tambak ke mobil angkut masih bersifat padat karya (labour intesive) dengan menggunakan bantuan sepeda.rincian komponen biaya variabel usaha garam sistem isolator terlihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Biaya Tetap Usaha Tambak Garam dengan Teknologi Maduresse Berisolator
Deskripsi Total Biaya
(Rp) %
Biaya Persiapan
Saluran dan tanggul (1 orang x 5 hari x Rp. 35.000) 175.000 0,75% Pasang Kincir (3 buah x Rp. 50.000) 150.000 0,64% meja Garam (2 orang x 5 hari x Rp. 35.000) 350.000 1,49% Pemasangan Isolator (5 orang x 3 hari x Rp. 35.000) 525.000 2,24% Mengisi Garam ke karung (7410 krg x Rp.1000) 7.410.000 31,63% Biaya Angkut (7410 karung x Rp. 2000/karung) 14.820.000 63,25%
Jumlah 23.430.000 100,00%
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
Total Biaya produksi pada kegiatan usaha tambak garam sistem maduressedi Kabupaten Pamekasan sebesar Rp. 22.376.000. Proporsi biaya tetap dan biaya variabel dan biaya tetap terhadap biaya produksi relatif seimbang yaitu masing-masing sebesar 50,5% dan 49,5 %. Sedangkan dengan teknologi maduresse berisolator, total biaya produksi mencapai Rp.65.896.667 yang berasal dari biaya tetap 64,4 persen dan biaya variabel 35,6 persen.
3) Penerimaan Usaha
Penerimaan usaha diperoleh dari hasil penjualan garam. Nilai penerimaan diperoleh dari total produksi garam (ton) dikalikan harga jual garam (rupiah per ton). Harga jual garam ditentukan berdasarkan harga yang berlaku di pasar wilayah setempat. Harga jual tergantung pada jenis kualitas garam yang dihasilkan. Terkait dengan harga jual, meskipun pemerintah melalui Dirjen Perdagangan Luar Negeri telah mengeluarkan Harga Acuan garam melalui dikeluarkannya permendag No. 02/DAGLU/PER/5/2011, tetapi kenyataan harga di lapangan jauh lebih rendah dibandingkan ketentuan tersebut. Garam Harga garam kualitas I rata-rata Rp. 450 ribu/ton, kualitas II Rp. 350 ribu/ton sedangkan kualitas III Rp.250 ribu/ton. Kualitas garam banyak ditentukan oleh sistem panen yang dilakukan. Produk garam yang dihasilkan dengan teknologi maduresse menghasilkan garam kualitas rendah (kualitas III) dengan kandungan NaCl rendah (84,78%) dan banyak zat pengotor (warna putih buram, ukuran bulk 4 mm), sedangkan garam yang dihasilkan dengan teknologi maduresse berisolator relatif lebih bersih
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
(warna putih bening, ukuran bulk 5 mm) dengan kandungan NaCl tinggi (95,75%) dan termasuk garam dengan kualitas I.
Penerimaan Usaha garam dengan teknologi maduresse pada Tahun 2013 rata-rata mencapai 43.250.000,-, yang berasal dari penjualan 173 ton garam kualitas III. Sedangkan penerimaan usaha garam dengan teknologi maduresse berisolator sebesar Rp. 166.500.000,- berasal dari penjualan 370 ton garam kualitas I. Produksi garam dengan teknologi isolator lebih tinggi karena tingkat porositas air pada meja garam sangat rendah/nihil dibandingkan teknologi maduresse.
4) Keuntungan Usaha
Keuntungan usaha petambak garam diperoleh dari total penerimaan dikurangi total pengeluaran. Keuntungan usaha garam dengan teknologi maduresse perhektar dalam satu musim mencapai Rp. 20.874.000,-, berasal selisih dari penerimaan usaha Rp. 43.250.000,- dengan total biaya produksi (totalcost) sebesar Rp. 22.376.000,-. Sedangkan keuntungan usaha yang diperoleh usaha garam teknologi maduresse berisolator sebesar Rp. 100.603.333,-. Keuntungan usaha tersebut diperoleh dari selisih penerimaan usaha RP 166.500.000,- dengan total biaya Rp.65.896.667,-. Berdasarkan perbandingan keuntungan usaha terlihat bahwa dari tingkat keuntungan usaha, teknologi produksi isolator memberikan keuntungan usaha lebih besar dibandingkan sistem maduresse konvensional.
Tabel 7. Penerimaan, Pengeluaran dan Keuntungan Usaha Tambak Garam dengan Teknologi Maduresse dan Teknologi Maduresse Berisolator Deskripsi Teknologi maduresse (Rp) TeknologiTeknologi Maduresse Berisolator (Rp) 1.Penerimaan Usaha 43.250.000,- 166.500.000,- 2. Biaya Produksi 22.376.000,- 65.896.667,- 3. Keuntungan (3=2-1) 20.874.000,- 100.603.333,-
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
5) Analisis Imbangan Penerimaan dengan Biaya (R/C Ratio)
Analisis imbangan penerimaan dengan biaya (R/C ratio) bertujuan untuk mengetahui hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan usaha. Jika nilai R/C > 1, maka usaha tersebut mendapatkan keuntungan. Sebaliknya jika R/C <1, maka usaha tersebut mengalami kerugian. Pada kondisi R/C = 1 berarti usaha tersebut berada pada titik impas. Hasil analisis R/C ratio terhadap usaha garam teknologi maduresse menunjukkan nilai sebesar 2,1 yang berarti untuk setiap 1 rupiah yang dikeluarkan oleh petambak garam akan menghasilkan penerimaan usaha sebesar 2,1 rupiah, sehingga usaha tersebut menguntungkan. Nilai R/C ratio pada usaha garam dengan teknologi maduresse berisolator sebesar 2,5 menunjukkan bahwa untuk setiap 1 rupiah yang dikeluarkan oleh petambak garam dengan isolator akan menghasilkan penerimaan usaha sebesar 2,5 rupiah. Jika dibandingkan nilai R/C ratio terlihat bahwa usaha garam dengan teknologi isolator lebih menguntungkan dibandingkan teknologi maduresse konvensioanl.
Tabel 8. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya Usaha (R/C Ratio) pada Usaha Tambak Garam dengan Teknologi Maduresse dan
Teknologi Maduresse Berisolator Deskripsi Teknologi maduresse (Rp) Teknologi Teknologi Maduresse Berisolator (Rp) 1.Penerimaan Usaha (R) 43.250.000,- 166.500.000,- 2. Biaya Produksi (C) 22.376.000,- 65.896.667,- 3. R/C ratio 2,1 2,5
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
6) Analisis Waktu Pengembalian Modal (PayBack Period Analysis/PBP)
Analisis PBP bertujuan untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan suatu usaha untuk menutup biaya investasi. Nilai PBP dinyatakan dalam tahun atau bulan. Semakin rendah nilai PBP semakin baik. Nilai PBP yang pendek berarti waktu yang diperlukan usaha untuk pengembalian investasi semakin cepat. Sebaliknya jika nilai PBP semakin besar berarti waktu yang diperlukan usaha tersebut untuk pengembalian investasi semakin lama. Nilai PBP yang rendah juga menunjukkan usaha tersebut profitable dan memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk memutar investasinya pada bidang/kegiatan lainnya.
Tabel 9. Analisis Waktu Pengembalian Modal (PayBack Period Analysis/PBP) pada Usaha Tambak Garam dengan Teknologi Maduresse dan Teknologi
Maduresse Berisolator Deskripsi Teknologi maduresse (Rp) Teknologi Maduresse Berisolator (Rp) 1.Investasi 36.800.000,- 233.800.000,- 2. Keuntungan 20.874.000,- 100.603.333,- 3. PBP (Tahun) 1,76 2,26 PBP (bulan) 21 27
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
Pada Tabel9 diatas terlihat nilai PBP usaha garam teknologi maduresse sebesar 1,76 tahun atau setara 21 bulan jauh lebih rendah dibandingkan nilai PBP usaha garam teknologi isolator. Artinya waktu pengembalian modal investasi pada usaha garam teknologi maduresse lebih cepat lima bulan dibandingkan sistem isolator. Kondisi ini disebabkan tingginya nilai investasi yang dibutuhkan pada usaha garam sistem isolator. Besar nilai investasi usaha garam teknologi isolator hampir 6,35 kali biaya invetasi usaha garam teknologi maduresse. Secara umum tingkat PBP usaha garam teknologi maduresse maupun isolator tergolong pendek.
7) Analisis Titik Impas (Break Even Point/BEP)
Break Even Point/BEP dipergunakan untuk melihat batas minimal produk yang harus diproduksi agar suatu usaha memperoleh keuntungan. Usaha dikatakan berada pada titik impas, jika total penerimaan usaha sama dengan total pengeluaran (TR=TC).
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
Jika nilai total penerimaan berada diatas titik impas, maka usaha tersebut untung. Kondisi sebaliknya jika total penerimaan dibawah titik impas maka usaha tersebut rugi. Titik impas dapat dinyakan dalam bentuk nilai rupiah maupun volume barang/produk.
Hasil analisis titik impas memperlihatkan BEP usaha garam sistem maduresse tercapai pada penjualan mencapai Rp. 15.190.060,-, atau jika berhasil menjual garam sebanyak 1214 karung. Sedangkan BEP pada sistem isolator nilainya jauh lebih besar yaitu Rp. 49.421.262,- atau tercapai ketika petambak garam menjual produksi garam sebanyak 2.196 karung. Jika dilihat dari nilai penerimaan usaha dan volume produksi garam, kedua teknologi produksi (maduresse maupun isolator) mengalami keuntungan karena berada diatas titik impas.
Tabel 10. Analisis Titik Impas (Break Even Point/BEP) pada Usaha Tambak Garam dengan Teknologi maduresse dan Teknologi Maduresse Berisolator
Deskripsi Teknologi maduresse (Rp) Teknologi Maduresse Berisolator (Rp) 1. Biaya Tetap 11.300.000 42.466.667 2. Biaya Variabel 11.076.000 23.430.000 3. Penerimaan Usaha 43.250.000 166.500.000 4. Produksi garam (karung) 3.467 7.410 5. Harga jual garam/karung 12.500 22.500 6. BEP (Rupiah) 15.190.060 49.421.262 BEP (karung) 1.214 2.196
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013 B. Analisis Kelayakan Investasi
1) Perkiraan Cashflow
untuk mempermudah perhitungan analisis finansial suatu usaha maka perlu disusun suatu perkiraan Cashflow. Dalam penyusunan perkiraan Cashflow atau aliran kas diperlukan sejumlah asumsi-asumsi pendukung. Asumsi yang dipergunakan untuk penyusunan Cashflow pada usaha tambak garam sebagai berikut:
Umur proyek ditentukan selama lima tahun
Usaha tambak garam ini diasumsikan sebagai usaha yang baru mulai
Sumber modal yang dipergunakan dalam usaha tambak garam berasal dari modal petambak sendiri
Harga jual garam merupakan harga yang berlaku di daerah penelitian dan diasumsikan tetap setiap tahunnya
Discount rate yang digunakan adalah suku bunga kredit mikro Bank BNI pada september 2013 sebesar 13% pertahun.
Arus kas masuk (cash inflow) berasal dari penjualan garam sedangkan arus kas keluar (cashoutflow) berasal dari biaya investasi, biaya tetap dan biaya variabel. Perkiraan alur kas (Cashflow) usaha garam dengan sistem maduresse dan isolatorterdapat pada Lampiran 6 dan 7.
2) Analisis Kriteria Investasi
Analisis kriteria invetasi usaha tambak garam dapat dilihat pada tiga kriteria yaitu
Net Present Value, Internal Rate of Return dan Net Benefit-Cost Ratio. Ketiga kriteria
investasi tersebut dipergunakan secara bersama-sama untuk menilai usaha garam apakah layak untuk dijalankan atau tidak. Adapun hasil perhitungan nilai NPV, Net B/C dan IRR usaha tambak garam sistem maduresse dan isolator terlihat pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. Nilai NPV, Net B/C dan IRR pada Usaha Tambak Garam dengan Teknologi maduresse dan Teknologi Maduresse Berisolator
Kriteria Investasi Teknologi
Maduresse HDPE
1. NPV (df=13%) 35.514.712 128.941.215
2. Net B/C 1,97 1,58
3. IRR (%) 48,5% 35,1%
Sumber: Diolah dari Data Primer, 2013
Nilai Bersih Sekarang (Net Present Value =NPV) adalah jumlah nilai arus tunai pada waktu sekarang setelah dikurangi dengan modal investasi yang dianggap sebagai ongkos investasi selama waktu tertentu. Jika nilai NPV lebih besar atau sama dengan nol maka kegiatan project tersebut boleh dilaksanakan, sebaliknya jika nilai NPV lebih kecil dari nol maka project/kegiatan tersebut seharusnya tidak dilakukan karena akan merugi. Perhitungan dilakukan pada tingkat discount factor 13% dengan periode (n) 5 tahun. Nilai NPV usaha garam sistem maduresse sebesar Rp. 35.514.712,-. Sedangkan nilai NPV usaha garam sistem isolator sebesar Rp. 128.941.215,-. Karena nilai NPV usaha garam baik sistem maduresse maupun isolator tersebut jauh lebih besar dari nol maka kegiatan usaha garam dengan kedua teknologi tersebut sama-sama layak dilaksanakan.
Ibrahim (1997) menyatakan Net Benefit Cost Ratio merupakan perbandingan antara net benefit yang telah di discount positif (+) dengan net benfit yang telah discount negatif. Jika nilai Net Benefit Cost Ratio lebih dari satu maka kegiatan usaha tersebut layak dikembangkan, sebaliknya jika kurang dari satu berarti tidak layak dikerjakan. Jika nilai Net BC ratio sama dengan satu berarti pada kondisi BEP (kondisi
cash inflow sama dengan cash outflow). Pada tingkat discount factor (df) 13%, nilai Net benefit Cost Ratio usaha garam teknologi maduresse sebesar 1,97 sedangkan teknologi
isolator sebesar 1,58. Karena nilai Net BC ratio usaha garam sistem maduresse dan isolatorlebih besar dari satu maka usaha garam dengan kedua teknologi tersebut layak dikembangkan.
Tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return) adalah tingkat bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan karena proyek membutuhkan dana lagi untuk biaya-biaya operasi dan investasi sampai pada tingkat pulang modal (Gittinger, 1986). Husnan (2000), menyatakan jika nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga relevan (bunga komersial di bank) maka suatu kegiatan tersebut
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
dinilai layak untuk dilanjutkan. Pada saat ini dengan suku bunga deposito di bank berkisar 5-8 persen (Oktober, 2013). Nilai IRR usaha garam teknologi maduressedari hasil perhitungan sebesar 48,5 %. Sedangkan dengan teknologi isolator menghasilkan nilai IRR sebesar 35,1%. Karena nilai IRR usaha garam dengan dua teknologi tersebut lebih besar dibandingkan suku bunga deposito di bank maka usaha garam dengan kedua teknologitersebut layak dikembangkan.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan hasil perhitungan analisis pendapatan usaha dan analisis kelayakan investasi kedua teknologi produksi garam baik maduresse maupun maduresse berisolator sama-sama layak dikembangkan. Kondisi tersebut terlihat dari indikator-indikator: nilai imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio), Waktu pengembalian modal (PBP), analisis titik impas (BEP), Nilai NPV, Net B/C dan IRR.Usaha garam rakyat dengan teknologi maduresse mempunyai indikator Nilai R/C ratio sebesar 2,1pada sisi lain dengan sistem maduresse berisolator sebesar 1,58. PBP usaha garam teknologi maduresse selama 21 bulan sementara dengan teknologi isolator 27 bulan. Nilai IRR usaha garam teknologi maduresse dan isolator masing-masing sebesar 48,52% dan 35,13%. Nilai NPV usaha garam teknologi maduresse sebesar Rp. 35.514.712,- sedangkan pada teknologi isolator sebesar Rp. 128.941.215,-. Net B/C ratio pada teknologi maduresse sebesar 1,97 sedangkan pada teknologi isolator sebesar 1,58. BEP usaha garam pada teknologi maduresse tercapai pada produksi 1.214 karung dengan nilai Rp. 15190.060,-, sedangkan BEP pada teknologi isolator tercapai pada volume produksi 2.196 karung dengan nilai Rp. 49.421.262.
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan invetasi. Usaha garam rakyat teknologi maduresse cocok dikembangkan oleh petambak dengan kapasitas modal kecil sedangkan untuk pelaku usaha garam dengan kapasitas modal besar sangat dianjurkan untuk mengembangkan produksi garam dengan teknologi maduresse berisolator.
DAFTAR PUSTAKA
Gittinger,IP. 1986. Analisis Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Edisi kedua. Penerjemah: Sutomo S dan K mangiri. Jakarta. Universitas Indonesia. Ekonomi Perencanaan. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia.79 hal.
Hernanto F. 1989. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya
Husnan S dan E Puji Astuti. 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. UPP AMK YKPK
Husnan S dan Suwarsono. 1994. Studi Kelayakan Proyek. UPP AMK YKPK. Ibrahim. 1997. Studi Kelayakan Proyek. Unsyiah Press.
Kadariah, L Karlina dan Cilve Gray. 1999. Proyek Ekonomi Pertanian. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia.
Kadarsan HW. 1995. Keuangan Pertanian dan Pembiayaan Perusahaan Agribisnis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
LAMPIRAN
Lampiran 1. Penyusutan Peralatan Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse dan Maduresse Berisolator
A. Penyusutan Peralatan Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse
Deskripsi Umur Teknis (Tahun) Jumlah (Unit) Harga perunit (Rp) Total Biaya (Rp) Penyusutan/tahun (Rp) Kincir 5 3 1.000.000 3.000.000 600.000 Gulu' 3 2 400.000 800.000 266.667 Raca' 3 2 200.000 400.000 133.333 Siuran 3 2 100.000 200.000 66.667 Sorkot 3 2 200.000 400.000 133.333 Timbangan 5 2 1.000.000 2.000.000 400.000 Total 6.800.000 1.600.000
B. Penyusutan Peralatan Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse Berisolator
Deskripsi Umur Teknis Jumlah Harga perunit Total Biaya Penyusutan/Tahun
(Tahun) (unit) (Rp) (Rp) (Rp) Kincir 5 3 1.000.000 3.000.000 600.000 Gulu' 3 2 400.000 800.000 266.667 Raca' 3 2 200.000 400.000 133.333 Siuran 3 2 100.000 200.000 66.667 Sorkot 3 2 200.000 400.000 133.333 Timbangan 5 2 1.000.000 2.000.000 400.000 HDPE* 6 1 187.000.000 187.000.000 31.166.667 Total 193.800.000 32.766.667
Lampiran 2. Analisis Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse Deskripsi Jumlah (Rp) Investasi Kincir 3.000.000 Gulu' 800.000 Raca' 400.000 Siuran 200.000 Sorkot 400.000 Timbangan 2.000.000 Lahan 30.000.000
Total Biaya Investasi 36.800.000
1. Pendapatan penjualan garam
(173 ton x Rp.250.000) 43.250.000 Total Penerimaan 43.250.000
2. Pengeluaran (Cost) 2.a. Biaya tetap (Fixed Cost)
Pajak PBB 100.000 Biaya Pemeliharaan 9.600.000 Penyusutan 1.600.000 Total Biaya Tetap 11.300.000 2.b. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya Persiapan
Saluran dan tanggul 175.000 Pasang Kincir 150.000 Meja Garam 350.000 Mengisi Garam ke karung 3.467.000 Biaya Angkut 6.934.000 Total Biaya variabel 11.076.000 3. Total Pengeluaran (2.a + 2.b) 22.376.000
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
Lampiran 3. Analisis Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse Berisolator
Deskripsi Jumlah (Rp) Investasi Kincir 3.000.000 Gulu' 800.000 Raca' 400.000 Siuran 200.000 Sorkot 400.000 Timbangan 2.000.000 Lahan 30.000.000 Terpal HDPE 187.000.000 Total Biaya Investasi 223.800.000
1. Pendapatan penjualan garam
(366 ton x Rp.450.000) 166.500.000
Total Penerimaan 166.500.000
2. Pengeluaran (Cost)
2.a. Biaya tetap (Fixed Cost)
Pajak PBB 100.000 Biaya Pemeliharaan 9.600.000 Penyusutan 32.766.667
Total Biaya Tetap 42.466.667
2.b. Biaya Variabel (Variable Cost) Biaya Persiapan
Saluran dan tanggul 175.000 Pasang Kincir 150.000 Meja Garam 350.000 Pemasangan Isolator 525.000 Mengisi Garam ke karung 7.410.000 Biaya Angkut 14.820.000
Total Biaya variabel 23.430.000
3. Total Pengeluaran (2.a + 2.b) 65.896.667
Lampiran 4. Analisis R/C ratio, BEP dan PBP Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse
Perhitungan R/C ratio Teknologi maduresse
R (Revenue) = 43.250.000
C (Cost) = 22.376.000
R/C = 43.250.000/22.376.000
R/C = 2,1
Perhitungan PBP Teknologi maduresse
Investasi = 36.800.000 Keuntungan = 20.874.000 PBP = (36.800.000/20.874.000) x 1 tahun
PBP = 1,76tahun
= 22 bulan
Perhitungan BEP (Titik Impas) Teknologi maduresse
Biaya Tetap = 11.300.000
Biaya Variabel = 11.076.000
Penerimaan = 43.250.000 Jumlah Produksi Garam 3.467karung Harga jual perkarung
(50kg x Rp. 250/kg) = 12.500 BEP(Nilai) = 11.300.000/(1-(11.076.000/43.250.000)) = Rp. 15.190.060 BEP(Volume) = 11.300.000/(12.500-(11.076.000/3.467)) = 1.214 karung
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
Lampiran 5. Analisis R/C ratio, BEP dan PBP Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse Berisolator
Perhitungan R/C ratio Teknologi isolator/HDPE
R (Revenue) = 166.500.000
C (Cost) = 65.896.667
R/C = 166.500.000/65.896.667
R/C = 2,5
Perhitungan PBP Teknologi isolator/HDPE
Investasi = 223.800.000
Keuntungan = 100.603.333
PBP = (223.800.000/100.603.333) x 1 tahun
PBP = 2,2tahun
= 27bulan
Perhitungan BEP (Titik Impas) Teknologi isolator/HDPE
Biaya Tetap = 42.466.667
Biaya Variabel = 23.430.000
Penerimaan = 166.500.000
Jumlah Produksi Garam 7.410karung Harga jual perkarung
(50kg x Rp. 450/kg) = 22.500
BEP(Nilai) = 42.466.667/(1-23.430.000/166.500.000))
= Rp. 49.421.262
BEP(Volume) = 42.466.667/(22.500 -(23.430.000/7.410))
Lampiran 6. Proyeksi Arus Kas (Cashlow) Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse No Deskripsi Tahun 0 1 2 3 4 5 I Cash Inflow Pendapatan penjualan 43.250.000 43.250.000 43.250.000 43.250.000 43.250.000 Total Inflow 43.250.000 43.250.000 43.250.000 43.250.000 43.250.000 II Cash Outflow
II.a Biaya Investasi
Kincir 3.000.000 Gulu' 800.000 800.000 Raca' 400.000 400.000 Siuran 200.000 200.000 Sorkot 400.000 400.000 Timbangan 2.000.000 Lahan 30.000.000
Total Biaya Investasi 36.800.000 0 0 0 1.800.000 0
II.b Biaya Tetap
Pajak PBB 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 Biaya Pemeliharaan 9.600.000 9.600.000 9.600.000 9.600.000 9.600.000 Penyusutan 1.600.000 1.600.000 1.600.000 1.600.000 1.600.000 Total Biaya tetap 11.300.000 11.300.000 11.300.000 11.300.000 11.300.000
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
No Deskripsi Tahun
0 1 2 3 4 5
II.c Biaya Variabel
Biaya Persiapan
Saluran dan tanggul 175.000 175.000 175.000 175.000 175.000 Pasang Kincir 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 Meja Garam 350.000 350.000 350.000 350.000 350.000 Mengisi Garam ke karung 3.467.000 3.467.000 3.467.000 3.467.000 3.467.000 Biaya Angkut 6.934.000 6.934.000 6.934.000 6.934.000 6.934.000
Total Biaya variabel 11.076.000 11.076.000 11.076.000 11.076.000 11.076.000
II.d Total Outflow 36.800.000 22.376.000 22.376.000 22.376.000 24.176.000 22.376.000
Lampiran 7. Proyeksi Arus Kas (Cashlow) Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse Berisolator No Deskripsi Tahun 0 1 2 3 4 5 I Cash Inflow Pendapatan penjualan 166.500.000 166.500.000 166.500.000 166.500.000 166.500.000 Total Inflow 166.500.000 166.500.000 166.500.000 166.500.000 166.500.000 II Cash Outflow
II.a Biaya Investasi
Kincir 3.000.000 Gulu' 800.000 800.000 Raca' 400.000 400.000 Siuran 200.000 200.000 Sorkot 400.000 400.000 Timbangan 2.000.000 Terpal HDPE 187.000.000 Lahan 30.000.000
Total Biaya Investasi 223.800.000 0 0 0 1.800.000 0
II.b Biaya Tetap
Pajak PBB 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 Biaya Pemeliharaan 9.600.000 9.600.000 9.600.000 9.600.000 9.600.000 Penyusutan 32.766.667 32.766.667 32.766.667 32.766.667 32.766.667 Total Biaya tetap 42.466.667 42.466.667 42.466.667 42.466.667 42.466.667
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
II.c Biaya Variabel
Biaya Persiapan
Saluran dan tanggul 175.000 175.000 175.000 175.000 175.000 Pasang Kincir 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 Meja Garam 350.000 350.000 350.000 350.000 350.000 Pemasangan Isolator 525.000 525.000 525.000 525.000 525.000 Mengisi Garam ke karung 7.410.000 7.410.000 7.410.000 7.410.000 7.410.000 Biaya Angkut 14.820.000 14.820.000 14.820.000 14.820.000 14.820.000 Total Biaya variabel 23.430.000 23.430.000 23.430.000 23.430.000 23.430.000
II.d Total Outflow 223.800.000 65.896.667 65.896.667 65.896.667 67.696.667 65.896.667 III Net benefit (223.800.000) 100.603.333 100.603.333 100.603.333 98.803.333 100.603.333
Lampiran 8. Perhitungan NPV, Net B/C dan IRR Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse No Deskripsi Tahun 0 1 2 3 4 5 I Cash Inflow Total Inflow 43.250.000 43.250.000 43.250.000 43.250.000 43.250.000 II Cash Outflow Total Outflow 36.800.000 22.376.000 22.376.000 22.376.000 24.176.000 22.376.000
III Net benefit (36.800.000) 20.874.000 20.874.000 20.874.000 19.074.000 20.874.000
r=13% Discount Factor (DF=13%) 1,000 0,885 0,783 0,693 0,613 0,543 Present Value (PF) (36.800.000) 18.472.566 16.347.404 14.466.729 11.698.441 11.329.571 NPV 35.514.712 Net BC 1.97 r=40% Discount Factor (DF=40%) 1,000 0,714 0,510 0,364 0,260 0,186 Present Value (PF) (36.800.000) 14.910.000 10.650.000 7.607.143 4.965.119 3.881.195 NPV 5.213.457 r=50% Discount Factor (DF=50%) 1,000 0,667 0,444 0,296 0,198 0,132 Present Value (PF) (36.800.000) 13.916.000 9.277.333 6.184.889 3.767.704 2.748.840 NPV (905.235) IRR 48,5%
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
Lampiran 9. Perhitungan NPV, Net B/C dan IRR Usaha Garam Rakyat Teknologi maduresse Berisolator
No Deskripsi Tahun 0 1 2 3 4 5 I Cash Inflow Total Inflow 166.500.000 166.500.000 166.500.000 166.500.000 166.500.000 II Cash Outflow Total Outflow 223.800.000 65.896.667 65.896.667 65.896.667 67.696.667 65.896.667
III Net benefit (223.800.000) 100.603.333 100.603.333 100.603.333 98.803.333 100.603.333 r=13% Discount Factor (DF=13%) 1,000 0,885 0,783 0,693 0,613 0,543 Present Value (PF) (223.800.000) 89.029.499 78.787.167 69.723.156 60.597.935 54.603.459 NPV 128.941.215 Net BC 1,58 r=40% Discount Factor (DF=40%) 1,000 0,714 0,510 0,364 0,260 0,186 Present Value (PF) (223.800.000) 71.859.524 51.328.231 36.663.022 25.719.318 18.705.624 NPV (19.524.281) r=30% Discount Factor (DF=30%) 1,000 0,769 0,592 0,455 0,350 0,269 Present Value (PF) (223.800.000) 77.387.179 59.528.600 45.791.230 34.593.793 27.095.403 NPV 20.596.206 IRR 35,1%