• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

32

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Karanganyar, yang beralamat di Jl.Ronggowarsito Bejen, Kab.Karanganyar, Jawa Tengah.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada semester genap yakni bulan Februari – April 2016. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara bertahap. Penjelasan tentang alokasi waktu penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. berikut:

Tabel 1. Alokasi Waktu Penelitian

No Kegiatan

Bulan

Januari Februari Maret April-selesai 1 Persiapan a. Observasi awal b. Pengajuan Judul 2 Penyusunan Proposal 3 Pembuatan Instrumen 4 Analisis Instrumen 5 Pengumpulan Data 6 Pengolahan Data 7 Penyusunan Laporan

Materi hidrolisis adalah materi yang diberikan kepada kelas XI semester genap materi ini diberikan setelah materi reaksi asam basa. Materi hidrolisis di berikan pada antara bulan Februari.

(2)

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode korelasional. Penjelasan tentang metode penelitian pada Tabel 2. Berikut:

Tabel 2. Data Rencana Penelitan X Y X1 X2 X1 X2 Y X1 Y X2 Y X1 X2Y dimana: X1 : Kemampuan numerik X2 : Kreativitas

Y : Prestasi belajar siswa pada materi pokok Hidrolisis

1. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala sesuatu yang menjadi objek pengamatan penelitian. Variabel yang terdapat dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.

a. Variabel Bebas

Variabel bebas yaitu variabel yang dipilih untuk dicari pengaruhnya terhadap variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri atas:

1) Kemampuan numerik

Pada penelitian ini, instrumen kemampuan numerik yang digunakan yaitu dengan metode psikotest kemampuan numerik. 2) Kreativitas

Pada penelitian ini instrumen penilaian kreativitas siswa berupa tes kreativitas verbal.

b. Variabel Terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah prestasi belajar siswa kelas XI semester genap SMA Negeri 2 Karanganyar pada materi pokok Hidrolisis.

(3)

2. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dilakukan dengan urutan sebagai berikut:

a. Memberikan tes kemampuan numerik pada siswa untuk mengetahui seberapa besar kemampuan numerik masing-masing siswa.

b. Memberikan tes kreativitas pada siswa untuk mengetahui seberapa besar kreativitas masing-masing siswa.

c. Memberikan tes kognitif pada pokok bahasan Hidrolisis. d. Mengolah dan menganalisis data penelitian.

C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa siswa kelas XI semester genap SMA Negeri 2 Karanganyar tahun pelajaran 2015/2016 yang terdiri dari enam kelas dimana rata-rata jumlah siswa tiap kelas adalah 32 siswa. 2. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel yang akan dilakukan pada penelitian ini menggunakan cluster random sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara cluster random sampling, yaitu penentuan sampel dengan cara undian untuk mengambil secara acak dua kelas dari enam kelas yang ada di kelas XI SMA Negeri 2 Karanganyar. Sebelum dilakukan randomisasi, populasi sebelumnya diuji homogenitasnya dengan metode Bartlett, setelah diketahui bahwa populasi homogen maka dilakukan teknik random dan diperoleh dua kelas yaitu XI MIA 1 dan XI MIA5 dengan masing – masing jumlah siswa kelas adalah 35 dan 30 siswa.

Dalam teknik ini, sampel merupakan unit dalam populasi yang mendapat peluang sama untuk menjadi sampel, bukan siswa secara individual tetapi kelas. Jadi, dapat dikatakan bahwa pengambilan sampel dilakukan secara random terhadap kelas. Dari keenam kelas yang ada di SMA Negeri 2 Karanganyar terutama kelas XI maka akan dilakukan pengambilan secara random dua kelas untuk dijadikan sampel yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II dengan

(4)

pertimbangan kedua kelas tersebut memiliki rata-rata kemampuan yang hampir sama.

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Sumber Data

Pengumpulan data bermanfaat dalam proses pengujian hipotesis. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan memberikan tes kepada siswa kemudian dilakukan pengujian data.

Teknik pengumpulan data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Metode Tes

Metode tes dalam penelitian ini adalah metode tes untuk mengukur kemampuan numerik siswa, mengukur kreativitas siswa dan metode tes untuk mendapatkan data prestasi belajar kognitif siswa kelas XI SMA Negeri 2 Karanganyar pada materi Hidrolisis. Penilaian aspek kognitif diperoleh langsung dari siswa dengan menggunakan tes bentuk objektif yang diberikan setelah proses pembelajaran materi Hidrolisis.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari instrumen penilaian aspek kognitif, aspek kemampuan numerik, dan aspek kreativitas. Berikut ini akan dijelaskan mengenai masing-masing instrumen penelitian yang digunakan.

a. Instrumen Penilaian Kognitif

Instrumen yang digunakan dalam penelitian aspek kognitif ini berupa tes objektif tentang materi Hidrolisis yang terdiri dari 30 butir soal dengan 5 alternatif jawaban. Jawaban yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0. Skala penilaian menggunakan skala 100, dimana jumlah jawaban benar dibagi 30 kemudian dikalikan 100. Sebelum digunakan sebagai instrumen penelitian, perangkat tes ini diujicobakan terlebih dahulu kepada sekelompok siswa yang sudah menerima materi Hidrolisis untuk mengetahui besarnya validitas, reliabilitas, taraf kesukaran soal, dan daya pembeda.

(5)

1) Uji Validitas

Validitas berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur, sehingga betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam penelitian ini, validitas yang diukur adalah validitas isi. Validitas isi adalah validitas yang ditilik dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar, yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan (diujikan).

( Sudijono, 2008: 164) Rumus yang dipakai untuk mengetahui validitas isi secara keseluruhan adalah formula Gregory (2007: 121-123). Pada formula ini, diperlukan dua panelis untuk memeriksa kecocokan antara indikator dengan butir-butir instrumen, dalam bentuk menilai relevan atau kurang relevan masing-masing indikator butir bila dicocokkan dengan butir-butirnya. Formula Gregory adalah sebagai berikut:

Content Validity (CV) = Keterangan:

A : Jumlah item yang kurang relevan menurut kedua panelis B : Jumlah item yang kurang relevan menurut panelis I dan

relevan menurut panelis II

C : Jumlah item yang relevan menurut panelis I dan kurang relevan menurut panelis II

D : Jumlah item yang relevan menurut kedua panelis

Kriteria yang digunakan adalah jika CV > 0,700 maka analisis dapat dilanjutkan.

Hasil uji validitas isi instrument penilaian kognitif yang dilakukan terangkum dalam Tabel 3.

(6)

Tabel 3. Rangkuman Hasil Uji Validitas Isi Instrumen Penilaian Kognitif Variabel Jumlah Soal CV Kesimpulan Soal-soal Hidrolisis 30 0,733 Analisis dapat lanjutkan

2. Uji Reliabilitas

Soal dinyatakan reliable bila memberikan hasil yang relatif sama saat dilakukan pengukuran kembali pada subjek yang berbeda pada waktu berlainan. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika indeks reliabelnya > 0,7 (Depdiknas, 2009: 15-16). Pengujian reliabilitas hendaknya langsung pada butir-butir item tes yang bersangkutan. Hal ini karena, jika dilakukan pembelahan tes bisa terjadi koefisien reliabilitas tes yang kita peroleh besarnya berbeda-beda. Pengujian reliabilitas tes objektif menggunakan rumus KR20 sebagai berikut:

2 2 11

1

t i i t

S

q

p

S

n

n

r

Keterangan :

r11 : koefisien reliabilitas tes n : banyaknya butir item 1 : bilangan konstan St2 : varian total

pi : proporsi peserta yang menjawab benar butir tes yang bersangkutan

qi : proporsi peserta yang menjawab salah (qi = 1 - pi ) ∑piqi : jumlah dari hasi perkalian pi dan qi

Suatu instrumen dikatakan reliabel jika indeks reliabelnya > 0,7. (Sudijono, 2008: 252-253) Hasil uji reliabilitas instrumen penilaian kognitif terangkum dalam Tabel 4. berikut:

(7)

Tabel 4. Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penilaian Kognitif Variabel Jumlah Soal Reliabilitas Kriteria Soal-soal materi

Hidrolisis 30 0,711 Reliable

3. Uji Tingkat Kesukaran Soal

Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh, berarti semakin mudah soal tersebut. Formula yang digunakan untuk menghitung tingkat kesukaran soal adalah sebagai berikut:

JS B TK 

Keterangan :

TK : Tingkat kesukaran soal

B : Jumlah responden yang menjawab benar JS : Jumlah seluruh responden yang mengikuti tes Klasifikasi indeks kesukaran adalah sebagai berikut :

0,00 – 0,30 : Soal Sukar 0,31 ─ 0,70 : Soal Sedang 0,71 – 1,00 : Soal Mudah

(Depdiknas, 2009: 9) Hasil uji tingkat kesukaran soal terangkum dalam Tabel 5.

Tabel 5. Tingkat Kesukaran Soal

Jumlah Soal Taraf Kesukaran Soal

Sukar Sedang Mudah

(8)

4. Uji Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal untuk membedakan antara siswa yang telah menguasai materi dan siswa yang belum menguasai materi yang ditanyakan. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks daya pembeda (DP). Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan siswa yang sudah memahami dan belum memahami materi. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal maka semakin baik soal tersebut. Jika daya pembeda negatif berarti lebih banyak kelompok siswa yang belum memahami materi menjawab benar soal tersebut.

Untuk mengetahui daya pembeda tes soal bentuk pilihan ganda digunakan rumus korelasi poin biserial (rpbis) seperti berikut ini:

q

p

SD

x

x

r

pbis

b

t Keterangan :

rpbis : korelasi poin biserial

XIb : rata-rata skor siswa yang menjawab benar XIt : rata-rata skor siswa yang menjawab salah SD : simpangan baku skor total

p : proporsi jawaban benar terhadap semua jawaban siswa q : 1-p

Kriteria daya pembeda: 0,0 – 0,2 : Jelek (J) 0,2 – 0,4 : Cukup (C) 0,4 – 0,7 : Baik (B)

0,7 – 1,0 : Baik Sekali (BS)

(Sudijono, 2008: 185)

(9)

Tabel 6. Rangkuman Daya Pembeda Soal Jumlah

Soal

Daya Pembeda Soal

Jelek Cukup Baik Baik Sekali

20 4 4 22 -

b. Instrumen Penilaian Kemampuan Numerik Siswa

Instrumen kemampuan numerikyang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan metode tes. Tes yang diberikan adalah psikotes kemampuan numerik. Jumlah soal tes kemampuan numerik sebanyak 75 butir, dengan teknik penskoran dimana jawaban yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0 sehingga jumlah jawaban benar sama dengan skor yang diperoleh siswa.

Hasil tes kemampuan numerik siswa dicari jangkauannya (range) terlebih dahulu, yaitu selisih antara skor yang terbesar dan terkecil dan dirumuskan oleh: = − (Budiyono, 2009: 39) Keterangan: J : jangkauan (range) : skor terbesar : skor terkecil

Jangkauan yang dihasilkan dibagi ke dalam sejumlah interval kelas dengan panjang interval yang sama. Dalam penelitian ini kemampuan numerik siswa digolongkan dalam 3 interval kelas.Untuk mencari panjang interval kelas yaitu sebagai berikut:

=

Keterangan:

i : panjang interval kelas J : jangkauan (range)

(10)

n : banyaknya kelas

Klasifikasi kemampuan numerik siswa :

a. Interval kelas atas [ -( +i)] : tinggi

b. Interval kelas tengah [( +i)-( +2i)] : sedang c. Interval kelas bawah[( +2i)- ] : rendah c. Instrumen Penilaian Kreativitas

Menurut Munandar (2004: 13) kreativitas adalah kemampuan: 1) untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada, 2) berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kualitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban, 3) yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan.

Definisi operasional dari kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Kreativitas merupakan hasil interaksi dengan lingkungan dan dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Dengan kreativitas tinggi, siswa dapat dengan mudah memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran.

Instrumen penilaian kreativitas siswa berupa tes kreativitas verbal. Konstruksi tes kreativitas verbal berlandaskan struktur intelek Guilford. Terdiri dari 6 sub tes, jumlah soal 14 butir soal, semuanya mengukur dimensi kontan verbal. Jumlah jawaban siswa terhadap masing-masing butir soal tidak dibatasi. Hal ini dikarenakan semakin banyak siswa menjawab benar maka siswa tersebut dapat dikatakan memiliki kreativitas yang tinggi. Untuk jawaban benar mempunyai skor 1. Jika nilai siswa ≥ nilai rata-rata kelas maka dapat dikatakan kreativitas tinggi, tetapi jika nilai siswa < nilai rata-rata kelas maka dapat dikatakan kreativitas rendah.

(11)

1. Uji Prasyarat a. Uji Normalitas

Uji normalitas sampel dimaksudkan untuk menguji normal tidaknya sampel. Pengujian diadakan dengan maksud untuk melihat normal tidaknya sebaran data yang akan dianalisis. Untuk menguji normalitas ini digunakan metode Kolmogorov Smirnov. Metode ini digunakan apabila sampel diambil secara random dan data berskala interval atau rasio, dengan prosedur:

1) Prosedur Penentuan Hipotesis:

H0 : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal H1 : Sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal 2) Taraf signifikansi (α) = 0.05 3) Statistik Uji ) ( ) (x F0 x F Sup D n x   Dimana

Fn(x) adalah nilai peluang kumulatif (fungsi distribusi kumulatif) berdasarkan data sampel

F0(x) adalah nilai peluang kumulatif (fungsi distribusi kumulatif )

dibawah Ho P(Z<Zi) 4) Daerah kritik

DK = {D | D > Dα,n) 5) Keputusan uji

H0 ditolak dan H1 diterima bila Sig < 0.05 Atau H0 diterima dan H1 ditolak bila Sig > 0.05

Bila menggunakan SPSS 17, maka langkah-langkah uji normalitasnya adalah sebagai berikut:

1) Klik Analyze → Descriptive Statistics → Explore

(12)

variabel yang akan diuji ke kotak Dependent List.

2) Pada Display klik Plots, selanjutnya akan terbuka kotak dialog Explore: Plots. Pilih Normality plots with test.

3) Klik Continue, lalu klik OK.

4) Bila hasil Signifikansi > 0,05 maka data berdistribusi normal.

b. Uji Independensi

Uji Independensi antar variabel bebas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bahwa antar variabel bebas tidak saling berkaitan atau tidak ada multikolinieritas dalam residu (Budiyono, 2009: 277). Dampak yang diakibatkan dengan adanya multikolinieritas antara lain:

 Nilai standard error untuk masing- masing koefisien menjadi tinggi, sehingga t hitung menjadi rendah.

 Standard error of estimate akan semakin tinggi dengan bertambahnya variabel independen.

 Pengaruh masing-masing variabel independen sulit dideteksi.

(Priyatno, 2009: 60) Pengujian indepedensi menggunakan rumus korelasi product momen Karl Pearson.

1) Hipotesis

H0 = Xi dan Yj independen, i ≠ j, i = 1, 2 dan j = 1, 2 H1 = Xi dan Yj dependen, i = j, i = 1, 2 dan j = 1, 2 2) Taraf signifikansi: α = 0.05

3) Statistik Uji

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara X dan Y N = jumlah responden penelitian X = Jumlah skor variasbel bebas X

(13)

Y = Jumlah skor variabel bebas Y 4) Daerah Kritik

DK = {rxy | rxy > rtabel) 5) Keputusan uji

H0 ditolak jika rxy ϵ DK

Untuk uji independensi menggunakan SPSS 17, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Klik Analyze → Correlate → Bivariate

Setelah itu akan terbuka kotak dialog Bivariate Correlations. Pindahkan semua variabel yang akan diuji ke kotak Variables.

2) Pada Correlation Coefficients pilih Pearson. 3) Pada Test of Significance pilih Two-tailed. 4) Klik OK.

5) Bila nilai Signifikansi > 0,05 maka variabel tersebut saling independen.

c. Uji Heterokedastisitas

Heterokedastisitas adalah keadaan dimana terjadinya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya masalah heterokedastisitas karena akan menyebabkan estimator tidak efisien dan nilai koefisien determinasi menjadi sangat tinggi.

Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas adalah dengan uji metode grafik. Jika titik - titik menyebar dengan pola yang tidak jelas di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi masalah heterokedastisitas (Priyatno, 2009: 60).

Selain dengan grafik adanya heterokedastisitas dapat diketahui juga dengan menggunakan Uji Glejser. Uji Glejser secara umum dinotasikan sebagai berikut:

1) Hipotesis

(14)

H1: X2 mempengaruhi |e| 2) Taraf signifikansi (α) = 0.05 3) Statistik yang digunakan

|e| = b1 + b2X2 + v

Dimana, |e| : Nilai absolut dari regresi yang dihasilkan model X2 : Variabel penjelas

4) Keputusan Uji

H0 ditolak dan H1 diterima bila Sig < 0.05 Atau H0 diterima dan H1 ditolak bila Sig > 0.05

Bila variabel penjelas secara statistik signifikan mempengaruhi residual maka dapat dipastikan model ini memiliki masalah heterokedastisitas.

Langkah uji heterokedastisitas dengan SPSS 17 adalah sebagai berikut: 1) Mencari understandardized residual dengan cara klik Analyze →

Regression → Linier setelah itu akan terbuka kotak dialog Linier Regression. Pindahkan variabel Prestasi (Y) ke kotak Dependent, kemudian pindahkan semua variabel bebas (kemampuan numerik dan kreativitas) ke dalam kotak Independent.

2) Klik Save pada display Linier Regression setelah itu akan muncul kotak dialog Linier Regression: Save pada Residuals pilih Unstandardized klik Continue lalu OK.

3) Selanjutnya pilih Transform → Compute Variable, setelah itu akan terbuka kotak dialog Compute Variable, selanjutnya pada Target Variable ketikkan Abresid, pada Function group pilih All dan pada Functions and Special Variables pilih Abs. Kemudian masukkan Unstandardized Residual (RES_1) ke Numeric Expression → OK. 4) Kemudian dilanjutkan dengan analisis regresi dengan cara Analyze →

Regression → Linier, akan setelah itu akan terbuka kotak dialog Linier Regression. Pindahkan variabel Abresid ke kotak Dependent, kemudian pindahkan semua variabel bebas (kemampuan numerik dan kreativitas) ke dalam kotak Independent → OK.

(15)

5) Bila hasil Signifikansi dari setiap variabel > 0,05, maka disimpulkan tidak ada masalah heterokedastisitas.

d. Uji Linieritas regresi

Persyaratan selanjutnya mengharuskan adanya hubungan fungsional antara variabel X dan Y yang linier, serta regresi dan koefisien regresinya berarti. Untuk menguji linieritas kemampuan memori dengan prestasi belajar kimia maupun kreativitas dengan prestasi belajar kimia digunakan rumus sebagai berikut:

1) Hipotesis

H0: Hubungan antara X dan Y linier H1: Hubungan antara X dan Y tidak linier 2) Taraf signifikansi (α) = 0.05

3) Statistik yang digunakan

=

Keterangan:

RKR = Rata-rata Kuadrat Regresi RKE = Rata-rata Kuadrat Error 4) Daerah kritik (DK) = { F | Fobs ˂ Fα; k-2, n-k} 5) Keputusan uji

H0 diterima jika Fobs

ϵ

DK 6) Kesimpulan

Hubungan antara X dan Y linier bila H0 diterima Hubungan antara X dan Y tidak linier bila H0 ditolak

Bila uji linieritas regresi dilakukan dengan SPSS 17, maka langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Klik Analyze → Compare Means → Means. Selanjutnya akan muncul kotak dialog Means, kemudian masukkan variabel prestasi (Y) ke kotak Dependent dan semua variabel bebas ke kotak Independent. Lalu klik Options dan pilih Test of Linierity → Continue → OK.

(16)

2) Bila Signifikansi pada Deviation of Linierity > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara X dan Y linier.

2. Uji Hipotesis

Setelah uji prasyarat dilakukan maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji hipotesis yaitu yang meliputi analisis korelasi linier dan analisis korelasi ganda.

a. Analisis Korelasi Linier Koefisien korelasi linier

Kekuatan relasi antara X dan Y dinyatakan dengan koefisien korelasi linear. Adapun rumus untuk menghitung koefisien korelasi linear dengan menggunakan formula koefisien momen produk Karl Pearson sebagai berikut: Keterangan: rxy = koefisien korelasi X = X1 = X2 = variabel bebas Y = variabel terikat N = jumlah siswa

Dari harga rxy dapat diketahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat yang ada,yaitu:

 rxy < 0 berarti ada hubungan negatif yaitu bila nilai variabel bebas meningkat maka nilai variabel terikat menurun atau sebaliknya

 rxy = 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel bebas dan terikat  rxy > 0 berarti ada hubungan positif yaitu bila vaitu bila nilai variabel

bebas meningkat maka nilai variabel terikat juga meningkat. Dari nilai rxy

positif dapat diinterpretasikan dalam Tabel 7. sebagai berikut: Tabel 7. Tabel Interpretasi

(17)

Besarnya nilai r Interpretasi 1,00 0,75 ≤ r < 0,99 0,50 ≤ r < 0,75 0,25 ≤ r < 0,50 0,00 < r < 0,25 0,00 Korelasi sempurna Korelasi sangat kuat Korelasi kuat

Korelasi cukup Korelasi Rendah Tak berkorelasi

(Sarwono, 2010: 119)

Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Linier 1) Hipotesis H0 : ρ ≤ 0 (tidak berarti) H0 : ρ > 0 (berarti) 2) Taraf signifikansi (α) = 0.05 3) Statistik uji , = √ − 2 1 − 4) Daerah kritik DK = { t | t > tα, n-2} 5) Keputusan uji H0 ditolak jika t ϵ DK (Budiyono, 2009: 272)

Untuk uji korelasi linier menggunakan SPSS 17, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Klik Analyze → Correlate → Bivariate

Setelah itu akan terbuka kotak dialog Bivariate Correlations. Pindahkan semua variabel yang akan diuji ke kotak Variables.

2) Pada Correlation Coefficients pilih Pearson. 3) Pada Test of Significance pilih Two-tailed. 4) Klik OK.

(18)

5) Bila nilai Signifikansi < 0,05 maka korelasi antar variabel tersebut signifikan.

b. Analisis Korelasi Linier Ganda Koefisien korelasi linier ganda

Koefisien korelasi Y pada X1, X2, disajikan dengan Ry12 sebagai berikut: . = . Dengan . = + = − (∑ )(∑ ) = − (∑ )

(Djarwanto & Subagyo, 1985: 350)

Uji signifikansi koefisien korelasi linier ganda 1) Hipotesis

H0: Hubungan Linier ganda antara X1, X2, dan Y tidak berarti (tidak signifikan)

H1: hubungan linier ganda antara X1, X2, dan Y berarti (signifikan) 2) Statistik yang digunakan

= /

( )/ (n – k – 1)

3) Taraf signifikansi (α) = 0.05

4) Daerah kritik (DK) = { F | F ˂ Fα; k, n-k-1} 5) Keputusan uji

H0 diterima jika F0 ≤ F tabel H0 ditolakjika F0 > F tabel 6) Kesimpulan

(19)

Hubungan Linier ganda antara X1, X2, dan Y tidak berarti/tidak signifikan bila H0 diterima.

Hubungan Linier ganda antara X1, X2, dan Y berarti/signifikan bila H0 ditolak

Untuk uji korelasi ganda menggunakan SPSS 17, maka digunakan analisis regresi linier ganda dengan langkah-langkah sebagai berikut

1) Klik Analyze → Regression → Linier, setelah itu akan muncul kotak dialog Linier Regrssion, kemudian pindahkan variabel prestasi (Y) ke kotak Dependent, kemudian masukkan semua variabel bebas ke kotak Independent.

2) Klik tombol Statistics, selanjutnya akan muncul kotak dialog Linier Regression Statistics. Pilih Estimates, Model fit, Collinearity diagnostics untuk menguji multikolinieritas/ indepedensi → Continue. 3) Untuk uji heterokedastisitas dengan plot maka klik Plots, selanjutnya

kotak dialog Linier Regression: Plots akan terbuka, masukkan *ZRESID (Standardized Residual) ke kotak Y, dan *ZPRED (Standardized Predicted Value) ke kotak X. Selanjutnya pilih Normal probability plot untuk uji normalitas → Continue → OK.

3. Persamaan Regresi

Setelah diketahui bahwa ada korelasi antara variabel terikat dan variabel bebas, kemudian dapat dicari fungsi liniernya dengan bentuk persamaan sebagai berikut:

= + +

Y = Nilai variabel terikat (prestasi siswa pada materi Hidrolisis)

bo, b1, b2 = Konstanta

X1 = Kemampuan numerik X2 = Kreativitas

Nilai konstanta b0 dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

= ∑ ∑ − ∑ ∑ − (∑ )

(20)

Sedangkan untuk b1, b2, dapat dhitung dengan rumus:

= ∑ ∑ − ∑ ∑ − (∑ )

Untuk analisis persamaan regresi dengan SPSS 18, langkahnya sama dengan uji korelasi linier ganda, karena output dari uji tersebut sudah memuat koefisien dari setiap variabel.

4. Sumbangan Prediktor

Ada dua jenis sumbangan prediktor, yaitu sumbangan efektif dan sumbangan relatif. Jumlah sumbangan efektif untuk semua variabel sama dengan koefisien determinasi, sedangkan jumlah sumbangan relatif untuk semua variabel bebasnya sama dengan 1 (100%) (Budiyono, 2009: 293). Koefisien determinasi

Koefisien determinasi linier ganda antara X dan Y didefinisikan sebagai berikut: . = + dimana = − (∑ )(∑ ) = − (∑ )

Dari definisi tersebut, maka sumbangan efektif didefinisikan sebagai berikut:

= 100%

Adapun sumbangan relatif didefinisikan:

= 100%

Gambar

Tabel 1. Alokasi Waktu Penelitian
Tabel 3. Rangkuman Hasil Uji Validitas Isi Instrumen Penilaian Kognitif
Tabel 4. Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penilaian Kognitif  Variabel  Jumlah Soal  Reliabilitas  Kriteria  Soal-soal materi
Tabel 6. Rangkuman Daya Pembeda Soal  Jumlah

Referensi

Dokumen terkait

Pada strategi ini wartawan Koran Merapi sebenarnya memiliki pilihan untuk menulis urutan penulisan berita dengan bebas, tetapi yang seringkali digunakan adalah

Pada penelitian ini umur tidak berpengaruh karena dari hasil kuisioner yang didapatkan umur 30 tahun lebih tinggi kadar logam timbal dalam darahnya, dibandingkan umur

Informasi aspek keamanan terkini terkait pro- duk obat golongan fluoroquinolone yang diperoleh dari US FDA menyebutkan bahwa terdapat peningkatan risiko efek samping tendonitis dan

Penelitian bertujuan memperoleh informasi mengenai aksi gen yang mengendalikan karakter agronomi di dataran menengah dan memperoleh informasi karakter-karakter

Desa Pilang Sari Kecamatan Kedawung merupakan salah satu dari 8 Desa yang ada di Kecamatan Kedawung, dengan wilayah seluas 130 Ha yang terdiri dari tanah

Selain itu ada komponen adaptability yang mempengaruhi efektifitas kerjasama tim melalui adanya kemampuan perawat dapat menangani perubahan situasi yang terjadi dalam tim, seperti

Pembeli bisa menggunakan salinan dari memorandum debit tersebut sebagai dasar untuk mencatat retur atau potongan, atau menunggu persetujuan dari penjualan

1) Arus kas dari bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan, masing-masing diungkapkan secara terpisah. Bunga dan dividen diklasifikasikan secara konsisten