BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pasar modal merupakan bagian dari sektor keuangan maka guna untuk mendukung stabilitas sektor keuangan, kegiatan pasar modal harus di perhatikan. Pasar modal menjadi tempat alternatif bagi perusahaan yang membutuhkan suntikan dana dengan cepat untuk pengembangan perusahaan, ekspansi perusahaan dan pendanaan modal perusahaan. Instrumen utama dari pasar modal yaitu berupa saham yang kemudian di perjualbelikan kepada para pemilik modal (investor), di pasar modal seorang investor bebas melakukan transaksi investasi sesuai dengan gaya investasi dan portofolio mereka yang telah diatur dan direncanakan, bukan hanya itu pasar modal juga menjadi tempat menarik bagi pelaku investasi karena saham memiliki pengembalian keuntungan (return) yang lebih menarik di bandingkan dengan instrumen investasi lain.
Ketika membeli aset dengan tujuan untuk berinvestasi, tidak sesimpel membeli lalu harga naik begitu saja, perekonomian memiliki siklusnya, ekonomi bisa berada di fase stabil, depresi dan krisis. Ada fenomena menarik di setiap terjadi siklus ekonomi yaitu fenomena pergerakan harga aset yang meningkat secara berlebihan tidak seperti biasanya.
Seorang investor yang berinvestasi saham dalam jangka panjang secara rasional bisanya berpedoman pada nilai fundamental, namun terkadang harga saham tersebut di pasar tidak selalu sama dengan nilai fundamentalnya, terkadang investor yang tidak rasional yaitu tidak memiliki dasar pengambilan keputusan dalam pembelian saham tetap membelinya, kemudian jika harga aset tersebut mengalami penurunan harga yang cukup tajam maka akan menimbulkan persoalan kepada investor berupa kerugian.
Tindakan tidak rasional yang dilakukan investor yaitu lebih jelasnya pada saat mereka melakukan perdagangan secara berlebihan, membeli saham berdasarkan berita sosial media yang tidak ada hubungannya dengan nilai fundamental aset, ikut-ikutan membeli saham yang teman mereka beli, kinerja masalalu menjadi pengambilan keputusan, menahan saham yang mengalami penurunan lebih lama dan menjual saham yang mengalami kenaikan harga lebih awal (Shah, Ahmad, & Mahmood, 2017). Pengambilan keputusan secara tidak rasional yang dilakukan oleh para investor dapat meningkatkan harga pada suatu aset secara berlebihan (Lehnert, 2020).
Selain tindakan investor yang tidak rasional, tindakan dan aktivitas spekulasi yang dilakukan spesialis keuangan di pasar modal juga dapat menyebab harga melambung tinggi. Tindakan spekulasi yang dimaksud dalam hal ini adalah ketika spesialis keuangan melakukan tindakan dengan mempertimbangkan kemungkinan yang masuk akal melalui sentimen pasar yang dibuat melalui umpan balik positif, sehingga keuntungan dapat diperoleh tanpa ada masalah di masa depan. Jika tindakan tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka kerugian dapat menjadikan suatu masalah yang berarti di masa depan.
Krisis ekonomi di tahun 2020 yang kemudian berubah menjadi krisis global dan telah menyebabkan aktivitas perekonomian indonesia turun drastis, perkembangan produk keuangan yang semakin canggih, perilaku ambil risiko sebagai akibat dari motif cari untung yang sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya membuat harga aset mengalami kenaikan dan penurunan secara cepat. Oleh karena itu, disusun suatu kerangka kebijakan guna menanggulangi ketidakstabilan sistem keuangan dengan melakukan kebijkan moneter yang mempengaruhi perkembangan variabel moneter seperti tingkat suku bunga, inflasi dan kurs yang nantinya bertujuan menciptakan kestabilan terhadap harga barang dan jasa.
Aset yang diinvestasikan investor bukan hanya di saham saja namun sangat bervariasi dan harganya juga bervariasi, namun pada penelitian ini lebih berfokus terhadap bubble stock indeks properti di pasar modal indonesia, karena saham memiliki penawaran yang sangat elastis dan tingkat likuiditas pasar yang sangat tinggi dibandingkan jenis aset lain sehingga kenaikan harga dapat terjadi secara cepat dan singkat. Berikut grafik indeks harga saham properti (IHSP) yang merupakan ceriman atas seluruh harga saham properti dipasar modal Indonesia.
Sumber: Investing.com
Gambar 1.1
Grafik Indek Harga Saham Properti (IHSP)
Alasan penulis melakukan penelitian pada objek ini karena jika dilihat dari grafik indeks harga saham properti (IHSP) yang terus mengalami kenaikan dan penurunan secara signifkan dari tahun ketahun, ada beberapa pertanyaan yang yang jika dibahasakan secara sederhana berbunyi: “Apakah sudah terjadi bubble stock pada indeks properti di pasar modal indonesia selama ini ?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak mudah karena setiap orang mempunyai argumen masing-masing, maka untuk menjawab pertanyaan yang mungkin selama ini masih menjadi misteri bagi para investor saham, maka dilakukanlah penelitian ini.
Penulis tertarik untuk memilih objek penelitian ini karena penelitian mengenai bubble stock di Indonesia sendiri masih sangat sedikit dan
51781 49551 44775 50388 39689 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000
Des '16 Des '17 Des '18 Des '19 Des '20
literatur penelitian terbaru yang dilakukan (Pinayani & Ahman, 2020) hanya sampai tahun 2017 maka peneliti bertujuan untuk mengembangkan penelitian terdahulu sekaligus menjadi pembeda dari penelitian sebelumnya dengan periode yang lebih baru sampai dengan tahun 2020. Kemudian peneliti sekaligus ingin ikut serta menambah literatur penelitian mengenai
bubble stock di pasar modal Indonesia dan serta adanya research gap dari
hasil penelitian terdahulu yang membuat peneliti semakin tertarik untuk melakukan penelitian ini.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Suryati & Affandi 2018) menghasilkan kesimpulan bahwa terjadi bubble stock di pasar modal Indonesia yang dicerminkan oleh IHSG dan penelitian yang dilakukan oleh (Irwan Ramadhana dkk, 2016) dengan periode Januari 2005-Januari 2009 pada indeks saham LQ45 menghasilkan temuan bahwa pada tanggal 3 April 2008 menandakan berakhirnya gelembung spekulatif pada indeks harga saham LQ45. Hal ini mengindikasikan bahwa sebelumnya terjadi gelembung pada harga saham yang kemudian berakhir.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Gali dan Gambetta, 2015), (Gong, X.Liu, X.Xiong, X.Zhuang, X. 2019), (Thi Bich Ngoc Tran, 2017) dan (Tran et al., 2017) menghasilkan kesimpulan bahwa kebijakan moneter berpengaruh positif terhadap gelembung harga. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Miao at all, 2018), (Caraiani & Călin, 2018), (Sun & Liu, 2016), (Pinayani & Ahman, 2020), (Zhang & Liu, 2016) dan (Li et al., 2017), menghasilkan kesimpulan bahwa kebijakan moneter berpengaruh negatif terhadap gelembung harga.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Cretarola & Figà-Talamanca, 2019), (Negrelli, 2020). (Berger & Turtle, 2015), (Li et al., 2020), (Steiger et al., 2020), (Asako et al., 2020), (Qiu et al., 2020) dan (Agus Zaenudin Arifin, 2016) menghasilkan kesimpulan bahwa sentimen berpengaruh positif terhadap gelembung harga. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Lehnert, 2020), (Handoko & Supramono, 2017), (Rognone et al., 2020) dan (Cars Hommes at all, 2020) menghasilkan kesimpulan bahwa
sentimen berpengaruh negatif terhadap gelembung harga.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Nneji, 2015), (Branch, 2016) dan (Jarrow & Lamichhane, 2019) menghasilkan kesimpulan bahwa likuiditas pasar berpengaruh positif terhadap gelembung harga. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Bloise & Citanna, 2019), (Chang et al., 2017) dan (Kedar-Levy, 2020) menghasilkan kesimpulan bahwa likuiditas pasar berpengaruh negatif terhadap gelembung harga.
Berdasarkan latar belakang dan research gap dari penelitian terdahulu yang diuraiakan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dan mengambil judul “Deteksi Bubble Stock dan Dampak Kebijakan Moneter, Sentimen dan Likuiditas (Study Kasus pada Indeks Properti di Pasar Modal Indonesia).
1.2 Perumusan Masalah
1. Apakah indeks properti terdeteksi bubble stock di pasar modal Indonesia.
2. Apakah kebijakan moneter dengan variabel moneter tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia. 3. Apakah kebijakan moneter dengan variabel moneter tingkat inflasi
berpengaruh negatif terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia. 4. Apakah kebijakan moneter dengan variabel moneter kurs berpengaruh
negatif terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia.
5. Apakah sentimen berpengaruh positif terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia.
6. Apakah likuiditas berpengaruh positif terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeteksi bubble stock pada indeks properti di pasar modaal Indonesia
2. Untuk menganalisis hubungan kebijakan moneter dengan variabel moneter suku bunga terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia.
3. Untuk menganalisis hubungan kebijakan moneter dengan variabel moneter inflasi terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia.
4. Untuk menganalisis hubungan kebijakan moneter dengan variabel moneter kurs terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia.
5. Untuk menganalisis hubungan sentimen terhadap bubble stock di pasar modal Indonesia.
6. Untuk menganalisis hubungan likuiditas terhadap bubble stock di pasar modal indonesia.
1.2 Manfaat penelitian
Manfaat penelitian ini merupakan hasil dari penelitian yang dapat digunakan oleh berbagai pihak. Manfaat dari penelitian ini diantaranya:
a. Manfaat teoritis
Dapat dipergunakan sebagai sumber referensi untuk pembelajaran materi menejemen investasi saham, serta dapat dipergunakan sebagai referensi untuk kajian penelitian selanjutnya mengenai harga saham. b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi investor saham sebelum melakukan pengambilan keputusan dalam berinvestasi.