• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Tingkat Depresi Pada Lansia. Impact of Expressive Writing Therapy on Depression Levels in Elderly

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Tingkat Depresi Pada Lansia. Impact of Expressive Writing Therapy on Depression Levels in Elderly"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DOI: : http://doi.org/10.31289/analitika.v13i1.4859

ANALITIKA

Jurnal Magister Psikologi UMA

Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/analitika

Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif

Terhadap Tingkat Depresi Pada Lansia

Impact of Expressive Writing Therapy

on Depression Levels in Elderly

Andria Pragholapati1*, Rizki Muliani2 & Mia Ayu Yulianti2

1Program Studi Keperawatan, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia

2Program Studi Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Universitas Bhakti Kencana, Indonesia Diterima: 03 Februari 2021, disetujui: 26 Juni 2021, dipublish: 30 Juni 2021

*Corresponding author: E-mail: [email protected]

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap tingkat depresi Pada lansia di PSRLU dan pemeliharaan taman makam pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung. Metode penelitian ini menggunakan Quasi Experimental dengan bentuk rancangan One Group Pretest-postest Non Control Group. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 33 lansia, dengan menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah GDS (Geriatric Depression Scale) untuk mengukur tingkat depresi pada lansia. Intervensi terapi menulis ekspresif dengan waktu pelaksanaan selama 30 menit dilakukan 4 hari dalam seminggu. Analisa data menggunakan Paired Sample T-test. Dari hasil analisis didapatkan hampir seluruh lansia (75,8%) mengalami depresi sedang sebelum dilakukan terapi menulis ekspresif dan sebagian besar lansia (66,7%) mengalami depresi ringan setelah dilakukan terapi menulis ekspresif. Hasil uji Paired Sample T-test diperoleh signifikansi P value 0.000 (p<0.000) sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap tingkat depresi pada lansia. Terapi menulis ekspresif direkomendasikan menjadi salah satu terapi kolaborasi keperawatan jiwa dan gerontik dengan psikolog yang dapat diterapkan pada lansia yang mengalami masalah depresi.

Kata kunci: Terapi Menulis Ekspresif; Depresi; Lansia

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of expressive writing therapy on depression levels in the elderly at PSRLU andpPemeliharaan taman makam pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung. A Quasi Experimental through One Group Pretest-posttest Non Control Group design was applied in this research. 33 elderly, participated thorugh a purposive sampling technique. Intervention of expressive writing therapy with 30 minutes of implementation time is done 4 days a week. Data analysis uses Paired Sample T-test. From the analysis it was found that almost all the elderly (75.8%) had moderate depression before expressive writing therapy and most of the elderly (66.7%) experienced mild depression after expressive writing therapy. Paired Sample T-test results obtained P value (0,000) <α (0.05), it can be concluded that there is an effect of expressive writing therapy on the level of depression in the elderly. Expressive writing therapy is recommended to be one of the collaborative therapies for mental nursing and gerontik with psychologists that can be applied to the elderly who experience depression problems.

Keywords: Expressive Writing Therapy; Depression; Elderly

How to Cite: Pragholapati, A., Rizki, M., Mia, A.Y. (2021).Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif terhadap Tingkat Depresi pada Lansia, Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA, 13 (1): 55 - 64

(2)

56

PENDAHULUAN

Perubahan adalah suatu proses alamiah yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan. Salah satu contoh perubahan yang pasti terjadi pada manusia dapat dilihat dalam rentang kehidupan yang diawali dengan kelahiran, tumbuh, berkembang, menjadi tua dan kemudian mati. Setiap perubahan dalam kehidupan manusia tersebut mendapatkan banyak perhatian khusus dari berbagai macam pihak. Salah satunya ialah orang tua atau yang biasa disebut lanjut usia (lansia). Populasi lansia tiap tahun semakin bertambah banyak (Marmer, 2011). Menurut Undang-undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahtraan lansia, yang dimaksud dengan lansia adalah seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang telah berusia 60 tahun atau lebih (Kementrian Sosial RI, 2008). Tahun 2015 dan 2050, proporsi lansia di dunia diperkirakan hampir dua kali lipat dari sekitar 12% sampai 22%. Secara absolut, ini merupakan peningkatan dari 900 juta sampai 2 miliar orang lansia (World Health Organization, 2016).

Asia dan Indonesia berstruktur tua dimulai dari tahun 1990 dan 2000, jumlah penduduk <15 tahun lebih besar dari penduduk lansia (>60 tahun), tetapi pada tahun 2040 baik global atau dunia, asia dan Indonesia diprediksikan jumlah penduduk lansia sudah lebih besar dari jumlah penduduk <15 tahun. Sebaran penduduk lansia mencatat populasi lansia golongan umur 60 tahun ke atas di provinsi Jawa Barat, terdiri dari 2.739.719. (7,05%) jiwa dari 38.886.975 jiwa total penduduk Jawa Barat, terdiri dari 1.394.583 (50,9%) jiwa lansia laki-laki dan 1.345.136 (49,09%) jiwa lansia perempuan (Badan Pusat Statistik, 2013). Menurut Maramis (2011) proses penuaan secara alamiah dapat menimbulkan beberapa perubahan meliputi perubahan fisik, psikologis, social, bahkan spiritual. Proses adaptasi terhadap perubahan serta stress lingkungan sering menyebabkan gangguan mental pada lansia. Banyak lansia kehilangan kemampuan mereka untuk hidup mandiri karena keterbatasan mobilitas, sakit kronis, kelemahan atau masalah mental atau fisik lainnya, dan memerlukan beberapa bentuk perawatan jangka panjang. Selain itu, lansia lebih cenderung mengalami kejadian seperti berkabung, turun status sosio-ekonomi dengan masa pensiun, atau cacat. Semua faktor ini dapat berakibat pada kesehatan jiwa lansia yaitu ansietas, demensia, delirium, kesepian, dan depresi (Stanley and Beare, 2011).

Depresi adalah satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubhan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2011). Menurut The national old people’s walfare council di Inggris, dalam Nugroho (2011) menyatakan bahwa depresi merupakan gangguan umum pada lansia yang menduduki peringkat pertama. Prevalensi depresi pada lansia cukup tinggi hampir 350 juta penduduk di dunia tahun 2010, berkisar antara 12-36% lansia yang mengalami depresi yaitu sekitar 7 juta dari 39 juta jiwa. Gejala depresi pada lansia sering diabaikan dan tidak diobati karena bertepatan dengan masalah lain yang dihadapi oleh lansia (World Health Organization, 2016). Data prevalensi depresi pada lansia di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan penelitian kesehatan Universitas

(3)

Indonesia dan Oxford Institute of aging menunjukkan bahwa 30% dari jumlah lansia di Indonesia mengalami depresi (Komnas lansia, 2016).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arneliawati, Sari dan Utami (2015) ditemukan hasil lansia yang tinggal di Panti Khusnul Khotimah Riau mempunyai tingkat depresi lebih tinggi daripada yang tinggal bersama keluarga, karena lansia merasa di asingkan dan dipisahkan dari kehangatan keluarganya. Maka dalam benak lansia akan muncul perasaan-perasaan negative, perasaan kecewa, sedih, marah yang akan mempengaruhi gangguan emosional seperti depresi. Depresi menyerang 10-15% lansia usia 60 tahun ke atas yang tinggal dikeluarga dan angka depresi meningkat secara drastis pada lansia yang tinggal di institusi, dengan sekitar 50-75% memiliki gejala depresi ringan sampai sedang (Stanley dan Beare, 2011).

Dampak depresi menurut Baguhlo (2012), Monks, Knoers, Haditonoto (2012), antara lain: timbulnya penyakit fisik, bertambah parahnya penyakit fisik, kerusakan kognitif, kehilangan fikir sehat, bahkan kematian yang disebabkan karena upaya bunuh diri. Resiko bunuh diri pada pasien yang mengalami depresi sangat nyata, dan 75% pasien depresi telah melakukan bunuh diri. Penanganan kasus penyakit tersebut di atas tidaklah mudah karena penyakit pada Lansia umumnya merupakan penyakit degeneratif, kronis, multi diagnosis, yang penanganannya membutuhkan waktu lama dan biaya tinggi (Depkes, 2016). Dasar penatalaksanaan depresi adalah dengan meringankan penderitaan dan membantu pasien mengenali dan mengutarakan kegelisahannya (Ibrahim, 2011).

Penatalaksanaan depresi pada lansia dapat dilakukan secara farmakologi dan nonfarmakologi (Irawan, 2013). Penatalaksanaan farmakologi pada depresi dapat diberikan obat antidepresan yang merupakan terapi lini pertama pada depresi. Penatalaksanaan non-farmakologi yang dapat dilakukan adalah terapi music, aromatherapy, life review therapy dan menulis ekspresif (Potter, 2011; Adyana & Hamdani, 2012; Aspiani, 2014; Pranoto, 2015). Menurut Pennebaker (2011), menulis ekspresif berarti suatu proses katarsis, karena menuliskan perasaan-perasaan dalam dirinya ke dalam sebuah buku dengan cara menceritakan pengalaman (pahit) ke dalam bahasa akan mengubah cara orang berpikir mengenai pengalaman itu dan memulihkan depresi yang dibuang ke alam kata, kalimat dan paraghraf yang ditulisnya. Keuntungan teknik ini dibandingkan dengan terapi musik, kelompok atau lainnya adalah terapi ini dapat dilakukan secara massal maupun sendiri dan penderita dapat berinteraksi langsung antara penderita (Nugroho, 2011).

Pennebeker dan Francis (2011), menyatakan menulis dapat menjadi tempat menyalurkan perasaan dan pendapat, yang jika disimpan bisa berdampak negatif bagi tubuh dan pikiran secara fisik dan mental. Nilai utama dari menulis adalah kemampuan mengurangi pengekangan. Peristiwa-peristiwa yang mengganggu yang dituliskan akan memberikan pemahaman baru tentang peristiwa emosional itu sendiri (Pennebeker, 2011). Menurut Baikie (2012) efek menulis ekspresif dalam jangka panjang mampu menurunkan tingkat depresi pada waktu yang singkat, memperbaiki suasana hati, menambahkan mood positif, fungsi system imun, serta mengurangi traumatis pasca kejadian yang tak menyenangkan. Selain itu penelitian Fikri (2014), terapi menulis dapat

(4)

58

dijadikan sebagai salah satu sarana katarsis dan media self-help untuk mengekspresikan emosi dan perasaan marahnya. Proses katarsis yang diperoleh ketika menulis ekspresif pengalaman-pengalaman emosional pada seseorang yang mengalami gangguan depresi akan dapat memberikan keuntungan bagi lansia untuk menurunkan simptom-simptom yang mengganggu dan meningkatkan kesejahteraan psikologis maupun fisik. (Novi dkk, 2011).

Hasil penelitian Susilowati dan Hasanat (2015) yang menunjukkan hasil adanya penurunan depresi setelah subjek menuliskan pengalaman emosional pada buku harian. Dinamika subjek dalam menghadapi kejadian-kejadian menekan dan terapi menulis pengalaman emosional merupakan sarana bantu diri yang efektif untuk menurunkan depresi. Menulis dapat mengembangkan pemikiran untuk menerima situasi yang ada, memusatkan pemikiran pada hal-hal yang positif dan menilai hal-hal positif dari kejadian yang dialami. Penelitian dari Yulianti dan Kurniawati (2017) tentang pengaruh terapi menulis pengalaman emosional terhadap tingkat depresi lansia di panti werdha darma bakti kasih surakarta menunjukkan bahwa ada pengaruh tindakan terapi menulis pengalaman emosional terhadap penurunan tingkat depresi pada lansia dengan sebagian besar responden yaitu 14 orang (82.4%). Sebelum dilakukan terapi menulis rata-rata depresi lansia berada pada tingkat ringan sedang sedangkan setelah dilakukan terapi menulis rata-rata lansia berada pada tingkat tidak ada depresi. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat depresi antara lansia sebelum dan sesudah dilakukan tindakan terapi menulis pengalaman emosional.

Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia (PSRLU) Ciparay Bandung memiliki sarana dan prasarana yang baik juga memiliki jumlah lansia yang cukup banyak, dan menjadi pusat dari panti werdha yang ada di jawa barat. Sehingga peneliti memilih tempat tersebut untuk dilakukan penelitian, karena dapat mendukung dalam proses penelitian. Jumlah lansia di PSRLU dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung pada bulan April 2018 berjumlah 150 orang lansia dengan jumlah lansia perempuan 90 orang dan lansia laki-laki berjumlah 60 orang. Berdasarkan hasil data dari rekam medic PSRLU ada 65 orang yang mengalami depresi ringan hingga berat.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di PSRLU dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung yang di lakukan kepada 10 orang lansia, 2 orang diantaranya merasa ditinggalkan dan keterasingan dari keluarganya sehingga lansia merasa sudah tidak berguna lagi bagi keluarganya, 4 orang lansia mengatakan ingin melarikan diri karena merasa hampa dan bosan berada di panti tidak memiliki orang terdekat meskipun banyak teman lansia yang berada di wisma, 3 orang lansia mengeluh kurang bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari sehingga sering mengurung diri di kamar tanpa bersosialisasi dengan lansia yang lain, kadang sering menangis tanpa ada yang memperdulikan lansia tersebut, dan 1 orang lansia mengatakan sering sulit tidur karena tidak betah berada dipanti.

Hasil observasi juga di dapatkan beberapa lansia termenung, murung di area taman panti, ada yang tidak bisa di ajak berbicara lalu menghindar dari orang-orang dengan berjalan sambil menunduk, terlihat ada yang tidak bergairah selalu diam dikamar

(5)

tanpa bersosialisasi dengan teman sewisma serta tidak pernah mengikuti kegiatan, ada yang meminta di bukakan gerbangnya ingin pulang dengan menangis, terdapat pula lansia satu wisma yang saling bertengkar. Menurut petugas PSRLU dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung penatalaksanaan yang sering dilakukan pada lansia yang mengalami depresi hanya diberikan obat antidepresan, sedangkan terapi nonfarmakologi hanya diadakan kegiatan rutin yang dilakukan dipanti diantaranya : sholat subuh berjamaah, membereskan kamar tidur, senam pagi, minum susu dan sarapan pagi, bimbingan psikososial, membersihkan wisma masing-masing, sholat dzuhur berjamaah, makan siang, istirahat, shalat ashar, makanan ringan, kegiatan di wisma masing-masing, shalat magrib dan isya berjamaah, istirahat/nonton tv dan tidur. Hasil penelitian sebelumnya oleh Oktapiani (2016) di PSRLU dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung menyatakan bahwa yang mengalami depresi pada lansia sebanyak 34 orang dan telah di berikan terapi Brain Gym. Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap tingkat depresi pada lansia di PSRLU dan pemeliharaan taman makam pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu quasi eksperiment. Rancangan atau design penelitian yang dilakukan One Group Pretest Posttest Non Control

Group. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami depresi sebanyak 65

orang lansia yang berada di PSRLU dan pemeliharaan taman makam pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung. Adapun teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah

non probability sampling dengan purposive sampling. Kriteria inklusi pada penelitian ini

adalah: Lansia yang memiliki perasaan emosional (depresi); Dapat berkomunikasi secara verbal dan kooperatif; Bisa membaca, mendengar dan menulis; Lansia dengan depresi ringan dan depresi sedang. Kriteria eklusi padapenelitian ini, yaitu: Lansia total care; Lansia yang tidak kooperatif; Mengalami gangguan kognitif berat; Lansia dengan depresi berat.

Dalam penelitian ini yang menjadi sampel yaitu berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan lansia sebanyak 33 orang lansia di PSRLU dan pemeliharaan taman makam pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung. Instrument depresi yang diadopsi dari

Geriatric Depression Scale memiliki validitas yang baku dan telah di rekomendasikan agar

dipergunakan dalam situasi klinis oleh Institute Of Medicine dan masuk sebagai bagian rutin dalam pengkajian lansia. Intervensi terapi menulis ekspresif dengan waktu pelaksanaan selama 30 menit dilakukan 4 hari dalam seminggu. Geriatric Depression Scale memiliki sensitivitas 92% dan spesifisitas 89% ketika di evaluasi terhadap criteria

diagnostic (Sheikh & Yesavage, 1986). Untuk uji reliable hasil pengujian dengan

menggunakan Alpha Cronbach’s didapatkan 0,960 > 0,632 (r tabel) untuk 15 item pertanyaan. Sehingga berdasarkan perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner penelitian tersebut dianggap reliable (Prasetya, 2010).

(6)

60

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi Pada Lansia di PSRLU dan Taman Pemeliharaan Makam Pahlawan Ciparay Bandung Sebelum dilakukan Terapi Menulis Ekspresif Tahun 2018

Depresi Frekuensi (f) Persentase (%)

Tidak Depresi 0 0 Ringan 8 24,2% Sedang 25 75,8%

Berat 0 0

Total 33 100%

Berdasarkan tabel 1, terlihat bahwa hampir seluruh lansia (75,8%) mengalami depresi sedang sebelum dilakukan terapi menulis ekspresif di PSRLU dan Taman Pemeliharaan Makam Pahlawan Ciparay Bandung.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi Pada Lansia di PSRLU dan Taman Pemeliharaan Makam Pahlawan Ciparay Bandung Setelah dilakukan Terapi Menulis Ekspresif Tahun 2018

Depresi Frekuensi (f) Persentase (%)

Tidak Depresi 2 6,1% Ringan 22 66,7% Sedang 9 27,3%

Berat 0 0

Total 33 100 %

Berdasarkan tabel 2, terlihat bahwa sebagian besar lansia (66,7%) mengalami depresi ringan setelah dilakukan terapi menulis ekspresif di PSRLU dan taman pemeliharaan makam pahlawan Ciparay Bandung. Langkah pertama sebelum penulis melakukan uji bivariat, terlebih dahulu penulis melakukan uji normalitas data dengan test

Shapiro Wilk yang mana hasilnya menunjukan data berdistribusi normal. Oleh karena itu,

dalam uji bivariat penulis menggunakan Paired Sample T-test, yang hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif terhadap Tingkat Depresi Pada Lansia di PSRLU dan Taman Pemeliharaan Makam Pahlawan Ciparay Bandung Tahun 2018

Tindakan terapi Mean Rank Mean T P-value

Sebelum 9,18 2,121 5,836 ,000 Sesudah 7,06

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa mean rank sebelum diberikan tindakan 9,18. Sedangkan setelah diberikan tindakan mean rank nya adalah 7,06. Dan penurunan tingkat depresi setelah dilakukan terapi menulis ekspresif pada lansia berkisar antara 2,121 dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji statistik didapatkan nilai p 0,000 berarti pada alpha 0,05 terlihat ada perbedaan yang signifikan pada tingkat depresi lansia antara sebelum dan sesudah dilakukan terapi menulis ekspresif. Dengan demikian, pemberian terapi aktivitas menulis ekspresif tersebut efektif membantu dalam menurunkan tingkat depresi pada lansia.

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat depresi sebelum dan setelah pemberian terapi menulis ekspresif dengan nilai p-value 0,00 lebih kecil dari nilai alpha 0,05. Hal ini menunjukan bahwa pemberian terapi menulis ekspresif efektif dapat menurunkan tingkat depresi. Hasil penelitian Baikie

(7)

(2012) menjelaskan efek menulis ekspresif dalam mampu menurunkan tingkat depresi pada waktu yang singkat, memperbaiki suasana hati, menambahkan mood positif, fungsi system imun, serta mengurangi traumatis pasca kejadian yang tak menyenangkan. Selain itu, menurut penelitian Fikri (2014) terapi menulis dapat dijadikan sebagai salah satu sarana katarsis dan media self-help untuk mengekspresikan emosi dan perasaan marahnya. Proses katarsis yang diperoleh ketika menulis ekspresif pengalaman-pengalaman emosional pada seseorang yang mengalami gangguan depresi akan dapat memberikan keuntungan bagi lansia untuk menurunkan simptom-simptom yang mengganggu dan meningkatkan kesejahteraan psikologis maupun fisik (Novi dkk, 2013). Menurut Pennebaker & Chung (2011) yang menunjukkan adanya penurunan aktivitas sistem saraf otonom dan kardiovaskular seperti yang dialami individu dalam proses relaks. Pengaruh aktivitas menulis terhadap memendam pikiran dan perasaan mengenai pengalaman traumatis berakibat pada adanya akumulasi tekanan atau stres pada tubuh dan meningkatnya aktivitas fisiologis, berpikir obsesif yang berkaitan dengan kejadian-kejadian yang menekan sehingga dalam jangka panjang dapat menyebabkan individu senantiasa berada dalam situasi tertekan dan merasa terancam secara sosial. Dengan mengekspresikan pengalamannya dengan kata-kata, maka depresi yang selama ini dirasakan akan berkurang secara bertahap dan terlihat adanya peningkatan pada kesehatan jiwanya.

Pranoto (2016), tulisan tangan tidak hanya meningkatkan motorik syaraf – syaraf pergelangan tangan tapi ujung pena saat digoreskan getarannya merangsang kerja otak kiri dan otak kanan seimbang. Efeknya memperaktif memori. Dengan aktifnya memori, seseorang akan menjadi rileks, kreatif dan produktif karena pikirannya jernih. Secara fisik, saat menulis dengan tangan seseorang dapat memposisikan diri senyaman mungkin sesuai kehendak hati. Pada saat akan menggoreskan huruf di atas kertas, mata pena bergetar dan itu akan memperlancar peredaran darah penulis.

Penelitian dari Yulianti dan Kurniawati (2017) tentang pengaruh terapi menulis pengalaman emosional terhadap tingkat depresi lansia di panti werdha darma bakti kasih surakarta menunjukkan bahwa ada pengaruh tindakan terapi menulis pengalaman emosional terhadap penurunan tingkat depresi pada lansia dengan sebagian besar responden yaitu 14 orang (82.4%). Sebelum dilakukan terapi menulis rata-rata depresi lansia berada pada tingkat ringan sedang sedangkan setelah dilakukan terapi menulis rata-rata lansia berada pada tingkat tidak ada depresi. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat depresi antara lansia sebelum dan sesudah dilakukan tindakan terapi menulis pengalaman emosional.

Pada penelitian ini masih ada responden menunjukan hampir setengah (27,3%) yaitu 9 orang mengalami depresi sedang, berdasarkan hasil wawancara lansia di PSRLU mengatakan jarang dijenguk dan bertemu dengan keluarganya. Sehingga karena adanya faktor ekstrinsik tidak ada kunjungan keluarga dan perhatian dari keluarga menjadi hambatan dalam menurunkan depresinya Kondisi ini akan membuat lansia merasa kehilangan atau terpisah dari orang yang dicintai dan merasa terpinggirkan. Hal tersebut dikuatkan oleh Aspiani (2014) bahwa perubahan sosial ekonomi dan nilai sosial

(8)

62

masyarakat, mengakibatkan kecenderungan lansia tersisihkan, merasa tidak berguna dan terbengkalai, tidak mendapatkan perawatan serta banyak yang memilih untuk menempatkannya di panti lansia. Kunjungan keluarga yang kurang, berkurangnya interaksi dan dukungan sosial menyebabkan penyesuaian diri yang negatif, rasa tidak berdaya atau kurang percaya diri serta selalu menganggap bahwa hidupnya gagal karena harus menghabiskan sisa hidupnya jauh dari orang yang dicintainya mengakibatkan lansia memandang masa depannya suram, selalu menyesali diri dan selalu merasa tidak berguna bagi keluarganya. Akibatnya bagi lansia dapat memperburuk kondisi psikologisnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Siboro dan Rusdi (2014) yang menunjukkan hasil bahwa pola komunikasi keluarga yang fungsional semakin menurunkan tingkat depresi pada lansia. Kondisi – kondisi ini tentu saja akan berpengaruh pada penurunan depresi lansia (Pranoto, 2016).

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif terhadap Tingkat Depresi pada Lansia di PSRLU dan taman pemeliharaan makam pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung, maka dapat disimpulkan sebagai berikut; 1) Hampir seluruh lansia mengalami depresi sedang sebelum dilakukan terapi menulis ekspresif; 2) Sebagian besar lansia mengalami depresi ringan setelah dilakukan terapi menulis ekspresif; 3) Terdapat pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap tingkat depresi pada lansia di PSRLU dan taman pemeliharaan makam pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung.

DAFTAR PUSTAKA

Aspiani, R, Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik (Jilid 1). Jakarta: EGC

Arneliawati, Sari, Utami. (2015). Perbedaan Tingkat Depresi Antara Lansia yang Tinggal di PSTW dengan Lansia yang Tinggal Di Tengah Keluarga. Jom, 2 (2).

Azizah. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu

Baikie & Wilhelm. (2005). Emotion and Psychal Health Benefits Of Expressing Writing. Advance in

Psychiatric Treatment. 11(5), 338-346. doi:10.1192/apt.11.5.338.

Ballo, Kaunang, Munayang, Elim. (2013). Profil Lanjut Usia dengan Depresi yang Tinggal di Balai Penyantunan Lanjut Usia Senja Cerah Manado. Jurnal Biomedik, 4 (1). doi:10.35790/jbm.4.1.2012.753. Bird, C. (2011). Menulis dengan Emosi: Panduan Empatik Mengarang Fiksi. Bandung: Kaifa

Bolton. (2011). Write Yourself: Creative Writing And Personal Development. London: Jessica Kingsley Publisher

Dahlima, M, R. (2012). Pengaruh Expressive Writing Terhadap Penurunan Depresi pada Remaja SMK di

Surabaya. Skripsi. Universitas Airlangga.

Darmojo & Martono. (2012). Buku Ajar Geriatrik. Jakarta: FKUI

Depkes RI. (2016). Lansia Sehat Lansia Aktif Mandiri dan Produktif . Diakses tanggal 28 November 2018. http://www.depkes.goid.

Depkes RI. (2013). Jumlah Penduduk Lanjut Usia Meningkat. Diakses tanggal 28 November 2017. http://www.depkes.goid.

Depkes RI. (2011). Penduduk Lanjut Usia di Indonesia dan Masalah Kesejahtraannya. Diakses tanggal 01 November 2017. http://www.scribd.com/doc/196924089/lansia.

Fame-me, T. (2015). Menulis dengan Otak Kanan. Jakarta: Gramedia

Fatimah. (2012). Merawat Manusia Lanjut Usia: Suatu Pendekatan Proses Keperawatan Gerontik. Jakarta: Trans Info Media

Fikri, H, T. (2014) Pengaruh Menulis Pengalaman Emosional dalam Terapi Ekspresif terhadap Emosi Marah pada Remaja. Jurnal Humanitas, 9 (2).

(9)

Hairin. (2016). Expressive Writing Treatment untuk Mengatasi Ekspresi Emosi Negatif pada Remaja di Desa

Segoro Tambak Sedati Sidoarjo. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Haryana, I, F. (2014). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi: Sosiodrama Terhadap Tingkat

Kesepian Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung. Skripsi. Stikes Bhakti Kencana Bandung.

Hawari, D. (2011). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: FK Universitas Indonesia. Ibrahim, A, S. (2011). Gangguan Akan Perasaan. Tanggerang: Jelajah Nusantara

Jonru, Tsabiq, Anurogo. (2012). Sembuh dan Sukses dengan Terapi Menulis. Jakarta: Dapur Buku Kaplan & Saddock, B, J. (2011). Sinopsis Psikiatri: Alih bahasa Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara Katona, Cooper dan Robertson. (2012). At a Glance Psikiatri (Edisi ke-4). Jakarta: Erlangga

Kementrian Kesehatan RI. (2013). Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Diakses pada tanggal 28 Desember 2017. https://pusdatin.kemkes.go.id.

Kurniawan, Y. (2014) Spiritual-Emotional Writing Therapy pada Subjek yang Mengalami Episode Depresif Sedang dengan Gejala Somatis. Jurnal Humanitas, 12 (2).

Krpan, et all. An Everyday Cativity as a Treatment for Depression: The Benefits of Expressive Writing for People Diagnosed with Major Depressive Disorder. Journal of Affective Disorder. 150(3): 48 – 51. Maramis. (2011). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press

Maryam, S., Mia, F.E., Rosidawati, Ahmad, J, Irwan, B. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.

Monks, Knoers, Haditonoto. (2011). Psikologi Pelayanan: Pengetahuan dalam Berbagai Bagian. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

Nugroho. (2011). Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC

Oktapiani, R, S. (2016). Pengaruh Brain Gym Terhadap Tingkat Depresi Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna

Werdha Dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung. Skripsi. Stikes

Bhakti Kencana Bandung.

Pennebeker, J, W. (2011). Handbook of Low-Cost Interventions to Promote Psychal and Mental Health:

Theory Research Practice. Texas: University of Texas.

Potter & Perry. (2011). Fundamentals of Nursing. Fundamental Keperawatan Buku 1 Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika

Pranoto. N. (2016). Writing For Therapy. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Prasetya. (2010). Pengaruh Terapi Kognitif dan Senam Latih Otak Terhadap Tingkat Depresi dengan Harga

Diri Rendah pada Klien Lansia di Panti Tresna Werda Bakti Yuswa Natar Lampung. Tesis. Universitas

Indonesia.

Prawitasari. (2011). Psikologi Klinis: Pengetahuan Terapan Mikro dan Makro. Jakarta: Erlangga

Rahwati. (2014). Menulis Ekspresif Sebagai Strategi Mereduksi Stres Untuk Anak-Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 2 (2)

Ramdani, Anisa. Efektivitas Teknik Expressive Writing untuk Meningkatkan Kemampuan Pengelolaan

Emosi. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia.

Setyoadi & Kushariyadi. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan pada Klien Psikogeriatrik. Jakarta : Salemba Medika

Siboro & Rusdi. (2012). Pola Komunikasi Keluarga dan Tingkat Depresi Lansia di Kelurahan Padang Bulan

Medan. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.

Sheikh & Yesavage. (1986). Geriatric Depression Scale (GDS): Recent Evidance And Development Of a Shorter Version. Clinical Gerontologist. 5 (2): 165-173.

Stanley & Beare. (2011). Buku Ajar Keperawatan Gerontik (Edisi 2). Jakarta: EGC.

Susanti & Supriyantini. (2014). Pengaruh Expressive Writing Therapy Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Berbicara Di Muka Umum Pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi, 9 (2).

Sulistiowati & Hasanat. (2015). Pengaruh Terapi Menulis Pengalaman Emosional Terhadap Penurunan

Depresi Pada Mahasiswa Tahun Pertama. Tesis. Universitas Gadjah Mada.

Widiatmoko. (2014). Terapi Berpikir Positif. Jakarta: Change

World Health Organisation. (2016). Mental Health Of Older Adults. Diakses pada Tanggal 12 Desember 2017. http://www.who.int/.

Qanitati, Widyawati, Asih. (2011). Pengaruh Katarsis dalam Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 9(1).

(10)

64

Yulianti, Kurniawati. (2017). Pengaruh Terapi Pengalaman Emosional Terhadp Tingkat Depresi Lansia di Panti Werdha Darma Bhakti Kaish Surakarta. Jurnal Ilmu Kesehatan Kosala, 5 (2).

Gambar

Tabel  1.  Distribusi  Frekuensi  Tingkat  Depresi  Pada  Lansia  di  PSRLU  dan  Taman  Pemeliharaan  Makam Pahlawan Ciparay Bandung  Sebelum dilakukan Terapi Menulis Ekspresif Tahun 2018

Referensi

Dokumen terkait

Selaras dengan penelitian Novela (2018), dengan judul Pengaruh Terapi Suara Murottal Al-Qur’an Surat Ar- Rahman Terhadap Perubahan Depresi Pada Lansia Di UPT PSTW