PAKTA INTEGRITAS RAKYAT

Teks penuh

(1)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 1

PAKTA INTEGRITAS

RAKYAT

DALAM RANGKA

MEMBANGUN INTEGRITAS NUSANTARA

MENUJU INDONESIA BERDAULAT

(2)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 2

Pendahuluan

Agar bangsa Indonesia menjadi NEGARA BESAR, yang BERDAULAT, yang BERDAYA SAING di mata negara-negara lain di dunia ini, maka bangsa kita harus menjadi bangsa yang BERINTEGRITAS. Yaitu menjadi bangsa yang menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab, bersatu, bergotong-royong, dan senantiasa bekerja keras dan disiplin di segala bidang.

Mungkin kita selama ini jika disuruh demikian akan bertanya-tanya, kok enak kita disuruh jujur dan bekerja keras, tapi ternyata yang bisa menikmati hanya segelintir orang diatas sana. Ketimpangan dan keadilan tidak merata.

Maka karena itulah kita membentuk Partai Koalisi Nasional. Lewat PKN, kita ingin membangun negeri ini dengan METODE YANG LEBIH BAIK. Sehingga ke depan, akan terpilih para pimpinan-pimpinan yang berintegritas, yang jujur dan sederhana, yang adil, yang berkasih sayang kepada rakyat.

Tapi itu tidak akan bisa optimal jika tidak ada kerjasama seluruh rakyat untuk bahu-membahu, bergotong-royong, berlomba-lomba untuk sama-sama membentuk bangsa yang jujur dan berintegritas. Harus sinergi, atas dan bawah. Dari pemimpinnya, maupun rakyatnya, sama-sama berlomba membangun INTEGRITAS NUSANTARA.

Maka ada beberapa poin pakta integritas yang akan kita perjuangkan bersama-sama, sehingga betul-betul menjadi nafas dalam kehidupan kita sehari-hari

(3)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 3

Pakta I (Pertama)

Senantiasa Sabar Dalam Kejujuran

Definisi jujur itu kita bagi menjadi dua. Yang pertama adalah jujur, yang berarti tidak berbohong. Dan yang kedua yang berarti senantiasa berbuat sesuai aturan.

Dua-duanya harus menjadi nafas dalam kehidupan kita sehari-hari.

#1

JUJUR : TIDAK BOHONG

JUJUR ~ TIDAK AKAN BOHONG DALAM SEGALA HAL. Artinya, tidak ada yang kita tutupi dalam hidup kita. Kepada anak, orang tua, istri, teman dan lain-lain jangan sampai berbohong, pun walaupun niatnya bercanda. Apapun itu, khususnya yang mengenai diri kita. Dalam ajaran agama, yang boleh bohong adalah jika itu membahayakan keselamatan orang, atau keselamatan negara.

Kebiasaan tidak akan / bersedia berbohong dalam segala hal ini harus dimulai dari diri kita, keluarga kita, lingkungan sekitar kita, dan Insya Allah menjalar ke seluruh sendi-sendi bangsa kita. Dimulai dari hal kecil, Insya Allah dalam hal besar pun, kita akan berlatih untuk selalu jujur. Agar suatu saat INDONESIA akan dikenal sebagai BANGSA YANG JUJUR di mata dunia.

Beberapa contoh kebiasaan berbohong kita sehari-hari yang HARUS DIHILANGKAN misalnya :

1. Berbohong pada anak-anak atau anak kita.

Biasanya untuk menghibur sementara, atau masih sibuk sesuatu sehingga perlu ‘ditipu’ kecil-kecilan.

(4)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 4

Mungkin ini terasa remeh, karena yang kita hadapi masih kecil, sehingga tidak ada resiko berarti yang terjadi. Tapi ini adalah awal kita mudah berbohong, harus dihindari. Orang tua harus belajar mengatakan apa adanya, walaupun itu hal-hal kecil. Termasuk kepada anak-anak. Baik anak kita, maupun anak-anak tetangga.

Jadi ini bukan bicara masalah resiko ketika bohong, tapi kepada diri kita agar senantiasa bisa belajar menjaga sikap jujur. Mulai dari kasus yang kecil sekali.

Kedua, seorang orang tua yg selalu jujur pada anaknya. Maka akan tertanam di benak anaknya bahwa orang tuanya adalah figur yang bisa dipercaya. Jadi timbul kepercayaan dan kepatuhan yang besar pada orang tuanya. Kita bisa jadi teladan bagi mereka, dan Insya Allah bisa jadi anak yang berbakti.

2. Berbohong pada pasangan kita

Mungkin agar segala sesuatunya berjalan lancar, tidak ada resiko, kita seringkali harus bohong pada pasangan, atau calon pasangan. Kebiasaan ini juga harus dibuang-buang jauh.

Walaupun itu hal sekecil apapun, gak harus sampai

perselingkuhan, mungkin sekedar bercanda dengan mantan atau sekedar teman lawan jenis, atau sekedar melakukan sesuatu yg tidak disukai pasangan, tidak boleh berbohong kalau sudah ketahuan, harus jujur. Seberapa kikuk atau resiko apapun tetap harus berani terus terang. Kalaupun tidak bisa diungkapkan, minimal tidak menyampaikan, atau

(5)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 5

Bedakan terbuka dan terus terang. Jujur atau terus terang tidak harus terbuka. Artinya, bisa jadi kita harus menutupi sesuatu yang tidak perlu diceritakan ke pasangan. Tapi itu bukan berarti kalau sudah ketahuan, kemudian berbohong.

3. Berbohong kepada teman

Berbohong kepada teman, biasanya untuk menjaga hubungan baik, menjaga perasaan, atau untuk

menyenangkan mereka. Nah ini sekalipun berniat baik, itu juga harus dihindari. Apalagi sampai memuji atau berjanji sesuatu untuk menyenangkan lawan bicara, kemudian kita malah berbohong. Sedapat mungkin boleh memuji, tapi tetap dalam koridor fakta.

Sedapat mungkin jika berat berkata yang sebenarnya, adalah jangan mengatakan apa-apa. Diam, atau berdiplomasi sehingga tidak menyampaikan hal yang tidak sebenarnya. Mulut harus tetap bisa terkunci untuk bicara yang tidak sebenarnya.

Pada akhirnya, ketika seorang suami atau istri yang memegang teguh kejujuran, maka dia tidak akan berani berbuat macam-macam seperti serong atau korupsi. Karena pasti akan malu. Sehingga terciptalah rumah tangga yang harmonis dan terbuka satu sama lain.

4. Berbohong pada atasan,

Biasanya terjadi tatkala kita berbuat salah,melalaikan tugas, atau karena kalau jujur akan terima resiko. Ini harus dihindari.

(6)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 6

Seseorang yang jujur memang harus berani bertanggung-jawab terhadap apa yang sudah dilakukan. Bukan menghindar atau bohong untuk menghindari resiko.

Seorang bawahan yang senantiasa berani berkata jujur walaupun kena risiko hukuman, akan meningkatkan

kepercayaan atasan pada bawahan tersebut. Selain itu, pasti bawahan tersebut akan berusaha tidak mengulanginya lagi. Beda ketika dia harus bohong untuk menutupi kesalahannya, maka di kemudian hari, dia mungkin akan bohong lagi, karena toh atasannya dibohongi percaya.

Pada akhirnya, ketika kita berlomba-lomba berbuat jujur, lambat-laun resiko-resiko itulah yang akan hilang, sehingga menjadi sebuah kinerja yang sungguh-sungguh.

Itulah pentingnya sikap TIDAK AKAN BOHONG DALAM SEGALA HAL. Jika kita bisa melakukannya dalam keseharian kita, maka akan menciptakan KEJUJURAN NASIONAL, sehingga tidak perlu banyak aturan dan hukuman yang begitu ribet, dibuat pasal yang njlimet dan detil sekali, hanya untuk mengatur orang-orang yang tidak jujur.

#2

JUJUR : BERTINDAK SESUAI ATURAN YANG ADA

Senantiasa Sabar & Ikhlas Mematuhi Aturan dan Etika

Ini jujur dalam arti, senantiasa bisa bertindak sesuai aturan yang ada. Tidak hanya karena kepepet, pengen praktis, takut resiko, lalu kemudian malah melanggar etika dan aturan-aturan yang ada.

Mayoritas orang tidak jujur memang karena TIDAK BISA SABAR. Tidak sabar miskin, tidak sabar gagal, tidak sabar tertinggal dari yang

(7)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 7

lain. Semua ingin sukses, semua ingin berhasil, semua ingin menang, walau dengan cara instan. Termasuk tindakan korupsi yang merajalela di negeri ini, adalah karena tidak sabar dengan apa yang selayaknya diterima.

Tapi memang, sabar berbuat jujur ini jika dilakukan sendiri-sendiri, tidak berjamaah, tidak akan banyak mengubah keadaan. Satu dua orang mungkin bisa sabar untuk tetap jujur, tapi jika ratusan orang tetap tidak jujur, maka kehidupan kita tidak akan banyak berubah. Berbeda jika seluruh negeri semua komponen bisa sabar, semua bisa menahan diri untuk tetap jujur, Insya Allah, 5-20 tahun lagi Indonesia akan bisa menemukan kejayaannya.

Oleh karena itu, kami mengajak semua rakyat, semua komponen bangsa untuk berjuang, sabar dalam kejujuran. Jangan sekadar berharap kepada pemimpin, kepada pejabat, atau kepada para penegak keadilan saja untuk jujur. Tapi kita semua harus berjuang untuk senantiasa BERSABAR DALAM KEJUJURAN. Kalau aturannya memang begitu, ya sudah diikuti saja, gak apa-apa gak dapat seperti yang lain, gak apa-apa gak keduman, sabar gak usah ikut edan. Karena kita sedang mempersiapkan masa depan Indonesia, yang makmur sejahtera, untuk semua. Harus sabar. Harus ikhlas.

Nah IKHLAS. Berbuat JUJUR yang IKHLAS adalah KESEMPURNAAN KEJUJURAN. Jikalaupun di lingkungan kita belum bisa maksimal dalam kejujuran, minimal kita bisa melakukannya sendiri secara IKHLAS. Karena kita yakin Tuhan melihatnya. Gak apa-apa kalau dalam kejujuran tersebut, kita tetap miskin dan tersisih, yang penting Tuhan meridhoinya.

(8)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 8

Contoh-contoh Berbuat Sabar Dalam Kejujuran :

Untuk para siswa / mahasiswa

● SABAR tidak nyontek walaupun mungkin nilai kita kurang bagus. Walau kita gak bs dapat peringkat. Insya Allah dunia pendidikan akan terus diperbaiki agar tiap individu adalah terbaik bagi masyarakat.

● SABAR tidak bikin surat izin atau sakit palsu untuk tidak masuk sekolah. Hidup harus bisa terima resiko dan tanggung jawab terhadap apa-apa yang memang dilakukan atau terjadi.

Untuk aparat, pegawai atau staff perusahaan

● SABAR tidak memodifikasi kwitansi atau anggaran agar bisa diloloskan dalam pengajuan anggaran atau agar dapat untung berlebih.

● SABAR UNTUK TETAP TEGAS menolak permintaan dari aparat lain yang ingin memalsu-malsu anggaran. Ya kalau perlu keluar saja dari pegawai, asal tidak bersinggungan dengan pemalsuan-pemalsuan catatan dan anggaran. ● SABAR untuk tetap mematuhi aturan hukum yang ada.

Walaupun dengan kondisi tekanan, sindiran, atau dikucilkan sekitar nya.

● SABAR untuk tidak TERIMA UPAH atau KOMISI diluar atau melebihi wewenang pekerjaan. Agar kita tetap netral dalam bersikap sesuai aturan

Untuk tukang parkir, atau kondektur bis / kernet

● SABAR selalu kasih surat, karcis atau tanda parkir yang resmi walaupun harus bagi hasil kepada instansi terkait atau karena memang sudah digaji

(9)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 9

Untuk pak para penegak keadilan : polisi, hakim atau pengacara

● SABAR tetap membela yang benar, bukan melindungi pihak yang salah, walaupun mungkin kita tidak memenangkan yang kita bela, atau tidak dapat komisi yang besar.

● SABAR untuk tidak berlebihan dalam membenarkan yang salah, atau menyalahkan yang benar, demi upah

● atau komisi yang diterima, atau atas desakan pihak tertentu ● SABAR untuk tidak TERIMA UPAH atau KOMISI diluar atau

melebihi wewenang pekerjaan.

Untuk para pedagang

● SABAR untuk kasih ukuran layanan atau timbangan yang pas, walaupun tidak menambah banyak profit kita

● SABAR sampaikan kondisi produk apa adanya, jangan dilebih-lebihkan agar orang beli. Boleh memuji-muji produk asalkan tetap sesuai kondisi produk.

Demikian sebaliknya, bagi masyarakat lain agar SABAR dan TIDAK DIBIASAKAN memberi TIPS, HADIAH, ATAU KOMISI kepada pegawai swasta/pemerintah, aparat pengadilan, aparat keamanan dan lain-lain untuk memberikan ucapan terima kasih. Biasakan mereka menerima gaji sesuai yang sudah diberikan oleh perusahaan atau instansinya.

Dengan SABAR mematuhi segala aturan yang ada -- tentunya aturan yang benar -- Insya Allah akan membuat negara kita menjadi tertib dan teratur. Berkurangnya penyelewengan, pencurian, korupsi, kolusi dan kejahatan lainnya. Sehingga kita bisa fokus berkarya dan memajukan bangsa.

(10)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 10

Pakta II

Senantiasa Saling Mencintai, Bersatu, dan

Bergotong-Royong

Sesama

Komponen

Bangsa

Tidak Mudah Bermusuhan dan Pecah-Belah

Salah satu hal yang bisa menghambat kemajuan suatu bangsa, adalah adanya permusuhan dan perselisihan di tengah masyarakatnya. Hal ini memang kadang terjadi karena disengaja oleh pihak-pihak luar yang ingin negara kita tidak harmonis. Bisa juga karena watak bangsa kita yang senantiasa suka berselisih paham untuk hal-hal yang tidak krusial.

Contohnya saja, betapa banyak partai politik di negara kita, yang bergerak dengan visi misi sendiri-sendiri, kelompok sendiri, dan dengan karakteristik sendiri-sendiri. Lalu, ketika suatu partai sedikit besar, sudah pecah lagi menjadi beberapa bagian, karena beda kepemimpinan dan lain sebagainya.

Di tengah masyarakat sendiri, kadang kita seringkali memilih berbeda pendapat, untuk menunjukkan bahwa kita lebih spesial, daripada mencari persamaan untuk kepentingan bersama. Akhirnya sering berdebat panjang lebar dan cenderung panas terutama tampak di media-media sosial karena mempertahankan pendapatnya masing-masing.

Dan salah satu konflik sosial yang sangat meruncing di beberapa tahun terakhir, adalah munculnya dua kubu yang memiliki beberapa stigma buruk masing-masing yaitu istilah kadrun, kampret dan cebong. Ini adalah fenomena dan budaya yang sangat buruk, yang mewabah ke seantero negeri. Dan membuat perpecahan semakin meruncing hari demi hari.

(11)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 11

Berbeda pendapat boleh, akan tetapi menyematkan istilah buruk pada pihak yang berseberangan adalah sikap yang sangat buruk. Sebagai bangsa yang berbudi luhur, kita sejauh mungkin membuang budaya tersebut.

Dan yang penting untuk mengatasi itu semua, maka bangsa Indonesia harus memiliki tameng pondasi persatuan dan kesatuan yang kuat yang membuat orang susah memecah belah bangsa kita.

Maka disini kami berikan pakta (tidak sekedar tips) menjaga persatuan dan kesatuan di bawah ini, agar bisa dilakukan masing-masing individu agar kita bisa semakin kokoh dalam persatuan dan kesatuan bangsa.

1. Fokuskan Pada Tujuan Yang Sama

Tujuan berbangsa dan bernegara adalah menciptakan negara Indonesia yang memiliki integritas berjamaah, agar Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional. Untuk itu permasalahan-permasalahan dan gesekan antar masyarakat yang tidak berhubungan harus ditepiskan.

2. Fokuskan Pada Pesaing Yang Sama ( Bangsa Lain ). Lupakan bersaing dengan bangsa sendiri.

Hapuskan hasad, iri dan dengki pada kelompok atau orang lain. Senantiasa saling support satu sama lain. Jika ada ketidakadilan, maka para caleg (khusus caleg PKN), dan pemerintah daerah lah yang harus membackup nya. Sampai ditemukan titik keadilan.

Kita bukan bersaing dengan bangsa sendiri, tapi bersatu padu, bersaing dengan negara di lain di belahan dunia lain.

(12)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 12

Jika Indonesia menang di kawasan Asia Tenggara, maka harus menang di kawasan Asia, sampai seluruh dunia Indonesia bisa jadi negara terdepan

3. Sabar (tidak membalas) ketika disebut dengan stigma buruk.

Kepada pihak-pihak yang sering memberikan stigma buruk, sebutan-sebutan buruk, pada orang lain atau kelompok lain, biasanya memang susah dibilangin. Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah sabar. Sabaaar. Sabar untuk tidak membalas, sabar untuk menasehati, sabar untuk tetap berada pada jalur yang benar dan sabar untuk tetp bekerja keras mewujudkan prestasi. Kita cari teman lain saja, jangan membalas dengan stigma buruk serupa.

4. Menghormati beda pendapat

Selama pendapatnya tidak merusak tatanan NKRI. Biarkan orang dengan pendapatnya. Jangan hobby mendebat-debat sesuatu yang kurang bermanfaat. Jikalaupun dirasa

pendapatnya merusak tatanan masyarakat / NKRI, karena berpendapat juga tidak melanggar hukum, ada baiknya cukup dikucilkan atau dibiarkan saja. Jangan memaksakan orang berubah pikiran sesuai kehendak kita.

5. Komunikasi offline

Perbanyaklah komunikasi offline, tidak di media sosial sajaa. Karena dengan pertemuan-pertemuan offline, seseorang akan kelihatan emosioalnya ketika berpendapat atau berargumen.

(13)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 13

Membentuk Komunitas Khusus Kolaborasi Nasional

Memang, ada kalanya tetap saja ada sebagian dari kita yang sukanya menciptakan kegaduhan dan permusuhan. Atau mungkin memang dia adalah seorang penyusup atau penghianat di tengah-tengah masyarakat kita, yang bertujuan merusak tatanan masyarakat. Atau mungkin juga pemahamannya sudah melenceng yang susah diluruskan.

Menghadapi orang seperti ini memang akan susah diajak bersatu. Solusinya mending ya tetap dipisahkan saja. Memang sudah sunnatullah, kita tidak bisa kita mengajak semua ke dalam kelompok yang sama. Karena memaksakannya bersatu justru akan menghabiskan energi dan bisa merusak lainnya.

Salah satu jalan praktis untuk mencoba praktek mempererat kesatuan dan persatuan dalam koridor NKRI adalah membentuk kelompok khusus yang memang sudah memiliki parameter standar dalam bersatu dan bekerjasama, misalnya dengan membentuk kelompok Kolaborasi Nusantara.

Dibawah manajemen Partai Kolaborasi Nusantara, yang memang sudah memiliki parameter yang standar dalam aktivitasnya -- menyepakati catatan pakta integritas rakyat -- Insya Allah otomatis akan lebih mudah mempersatukan (sekaligus menghindarkan dari yang merusak) berbagai kelompok masyarakat walaupun dari kelompok yang berbeda-beda.

(14)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 14

Pakta III

Berusaha Selalu Tekun, Disiplin dan Bekerja

Keras Dalam Segala Bidang

Setelah tercipta kejujuran dan persatuan, maka siap kita harus siap-siap membangun prestasi. Dan untuk menciptakan prestasi gemilang, memang harus tekun, disiplin, dan kerja keras sesuai bidang masing-masing.

Tapi mungkin orang akan banyak berkata, buat apa kerja keras, tapi ternyata negara selama ini tidak memperdulikan hasil karya bangsa sendiri. Buat apa kerja keras kalau iklim politik tidak, iklim usaha tidak mendukung.

Itulah yang memang terjadi selama ini. Dan memang tidak bisa dipungkiri, itulah yang banyak terjadi. Orang pintar-orang pintar di negeri ini kebanyakan tidak dipakai, dan kalah oleh kepentingan politiknya. Kadang juga iklim usaha terlalu dimonopoli pihak tertentu.

Maka kita harus membangun iklim dari dua arah, arus bawah, dan arus atas. Arus bawah adalah kesadaran masyarakat, arus atas adalah pembentukan iklim politik dan hukum yang kondusif. Keduanya harus berjalan beriringan.

Membentuk iklim politik dan hukum bagus, tapi dibarengi mental masyarakat yang baik, hanya akan membuat kondisi politik yang bagus tersebut akan berumur pendek. Demikian sebaliknya, membentuk masyarakat yang baik, tanpa dibarengi sistem politik yang baik, juga akan menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan. Menjadikan kerja keras rakyat menjadi terbengkalai dan sia-sia.

Oleh karena itulah, sudah menjadi tugas Partai Kolaborasi Nasional untuk membangun dan memperbaiki kondisi politik dan hukum di

(15)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 15

negara kita. Seiring itu, masyarakat harus sedikit demi sedikit memperbaiki integritas (kejujuran nya), memperkokoh persatuan dan kesatuan, lalu memupuk semangat kerja keras.

Kerja keras disini artinya, yang masih sekolah atau kuliah harus betul-betul serius menimba ilmu. Kuasai bidang kuliahnya sekuat mungkin. Lalu, setelah memasuki dunia kerja, juga harus sungguh-sungguh sesuai bidangnya. Tidak ada beda antara bekerja sebagai kuli bangunan, tukang listrik, tukang ac, kernet, sopir, dokter, apoteker, pasukan kuning, direktur, marketing, pengacara, hakim dan lain-lain semua serius bekerja.

Beberapa poin penting bentuk bekerja keras/bersungguh-sungguh antara lain :

Bekerja sepenuh hati, sesuai tugas dan tupoksi, tidak khianat, tidak memanfaatkan posisi untuk tujuan lain. Kalaupun cari tambahan harus sepengetahuan atasan, atau diluar jam kerja kantor.

Tetap sabar mengambil hak yang seharusnya, tidak mencuri atau korupsi agar cepat kaya atau karena kebutuhan mendesak. Usahakan cara-cara yang halal kalaupun ada kebutuhan mendesak, misalnya kas bon.

Senantiasa semangat, tidak malas-malasan. Agar hasil kerja senantiasa menjadi maksimal. Kalaupun ada masalah, usahakan tidak terbawa suasananya di tempat kerja.

Gunakan waktu luang dengan bijak. Misalnya untuk belajar atau mencari solusi-solusi baru bagi kantor atau tempat usahanya, walaupun bukan job disk nya.

Tidak saling menjegal teman. Setiap orang sudah diatur rejekinya masing-masing. Senantiasa sabar dan bersyukur dengan apa yang ada dan diterima. Kalaupun ada ketimpangan, usahakan selesaikan dengan baik, atau berdo’a pada yang kuasa agar senantiasa dicukupkan.

(16)

Pakta Integritas Rakyat

Halaman 16

Berusaha menyelesaikan masalah dengan fokus pada solusi atau jalan tengah, menghindari keributan dan perselisihan. Kalaupun tidak tercapai titik temu, usahakan cari posisi mengalah. Semoga Tuhan memberikan solusinya.

Lalu di sisi makro, para aparat dan pejabat pemerintah juga harus senantiasa memperbaiki kinerjanya untuk membentuk lingkungan birokrasi dan politik yang kondusif seperti :

Serius mengabdikan dirinya untuk melayani kebutuhan masyarakat dan sentiasa menjaga amanah kedudukan dengan baik. Aparat pemerintah sudah digaji dari uang negara, 100% waktunya harus diabdikan untuk tugas-tugas yang sudah diberikan.

Tidak memanfaatkan jabatan untuk memupuk kekayaan pribadi.

 Tidak main kongkalikong dengan pengusaha atau kelompok tertentu.

 Tegas memutuskan hal-hal yang berkepentingan dengan rakyat, dan seterusnya.

Insya Allah kalau semua komponen bisa menjaga amanah dan bekerja keras sesuai bidang masing-masing, cita-cita kejayaan negara kita tidak akan menunggu lama.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :