KARTUN EDITORIAL MELALUI PENDEKATAN IKONOGRAFI
SupriyadiAkom BSI Jakarta
Jl. Kayu Jati V No 2, Pemuda Rawamangun, Jakarta-Timur [email protected]
Abstract
A cartoon image that contains a criticism that was published a newspaper or magazine and is pub-lished in theopinion section editorial cartoons (editorial cartoon). The journal aims to determine how meaning is contained behind visual configuration objects on the work of cartoonist editorial cartoons by considering political and social conditions and trends in the visual pattern of the work. Through the study of the meaning of editorial cartoons is one of the works of art that can be used as a reference for understanding the social dynamics that were going on in the community. With the approach of the iconography and Erwin Panofsky ikonologi provide three stages of the analysis, the early stage to describe the visual characteristics that seem (preiconographical stage), stages to identify secondary meaning by looking at the relationship between an art motif with the theme, concept, or common meaning to the events raised by an image (stage iconography), and taking into account the stage to interpret the presentation of objects of cartoonists (stage iconology).
Keywords: editorial cartoons, iconographic.
Abstraksi
Sebuah gambar kartun yang mengandung sebuah kritikan yang dimuat sebuah koran atau majalah dan dimuat di rubrik opini adalah kartun editorial (editorial cartoon). Jurnal ini bertujuan untuk mengetahui ba-gaimana makna yang terkandung dibalik konfigurasi objek-objek visual pada kartun editorial karya kartunis dengan mempertimbangkan kondisi sosial politik dan kecenderungan pola visual pada karya tersebut. Mela-lui kajian makna kartun editorial yang merupakan salah satu karya seni yang dapat dijadikan rujukan untuk memahami dinamika sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Dengan melalui pendekatan ikonografi dan ikonologi dari Erwin Panofsky memberikan tiga tahapan dalam menganalisa, yaitu sebagai tahap awal untuk mendiskripsikan ciri-ciri visual yang tampak (tahap preiconographical), tahapan untuk mengidentifikasikan makna sekunder dengan melihat hubungan antara motif sebuah seni dengan tema, konsep, atau makna yang lazim terhadap peristiwa yang diangkat oleh sebuah gambar (tahap iconography), dan tahapan melakukan interpretasi dengan mempertimbangkan pemaparan mengenai objek dari kartunis (tahap iconology).
Kata kunci : kartun editorial, ikonografis.
I. PENDAHULUAN
Kritik kartun sebenarnya hanya usaha pe-nyampaian masalah aktual ke permukaan, sehingga muncul dialog antara yang dikritik dan yang meng-kritik, serta dialog antara masyarakat itu sendiri, den-gan harapan akan adanya perubahan. Aspek perten-tangan dalam tradisi penciptaan kartun sebenarnya bukanlah lebih mementingkan naluri untuk mengkri-tik, melainkan lebih menekankan fakta-fakta sejarah bahwa masyarakat telah memasuki bentuk komunika-si politik yang modern, dan tidak lagi memperguna-kan kekuatan atau kekuasaan (Anderson, 1990:162).
Dalam mengetahui makna dan pola visual yang ter-dapat pada kartun editorial karya kartunis, maka pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan ikonografi dan ikonologi. Dalam kajian ini yang menitikberatkan pada penelaahan makna dalam kartun politik, perlu kemampuan dalam menginter-prestasikan makna yang terkandung di dalamnya.
Sebuah gambar kartun yang mengandung sebuah kritikan yang dimuat sebuah koran atau majalah dan dimuat di rubrik opini adalah kartun editorial (editorial cartoon). Jurnal ini bertujuan
untuk mengetahui bagaimana makna yang terkandung dibalik konfigurasi objek-objek visual pada kartun editorial karya kartunis dengan mempertimbangkan kondisi sosial politik dan kecenderungan pola visual pada karya tersebut.
Pengertian kartun yang sebenarnya adalah meminjam istilah dari bidang fine arts. Kata kartun berasal dari bahasa Italia cartone yang berarti ”ker-tas”. Kata kartun pertama-tama digunakan untuk me-nyebut desain atau sketsa dalam ukuran penuh untuk lukisan cat minyak, permadani atau mozaik. Kata tersebut memperoleh arti yang dikenal orang masa kini secara kebetulan.
Beberapa desainnya sangat buruk sehingga Punch mereproduksi kartun-kartun yang dimaksud-kan untuk desain itu, lalu menerangdimaksud-kannya dengan nada sindiran. Lahirlah kartun Punch, dan kata itupun lalu memperoleh arti barunya. ”Punch” merupakan majalah satir yang menjadi media kritik kebijakan pe-merintah yang tidak sesuai aspirasi masyarakat. Sejak saat itu kata ”cartoon” mulai dipakai untuk menyebut gambar sindir (Wagiono, 1983:33).
Pengertian kartun adalah sebuah gambar yang bersifat reprensentasi atau simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi secara periodik, dan paling sering menyoroti masalah politik atau masalah pub-lik. Namun masalah-masalah sosial kadang juga men-jadi target, misalnya dengan mengangkat kebiasaan hidup masyarakat, peristiwa olahraga, atau mengenai kepribadian seseorang. (Setiawan, 2002:34)
Terkait dengan pengertian kartun, penda-pat GM Sudarta, seperti yang dikutip Alex Sobur (2003:138) menjelaskan bahwa kartun adalah semua gambar humor, termasuk karikatur itu sendiri. Satu hal yang kemudian dapat disimak adalah pernyataan dari Smith (1981:9) : …in fact ’cartoon’ and
’carica-ture’ are here regarded as exactly synonymous. Apa
yang diungkapkan Smith merupakan pendapat yang dapat menjembatani perbedaan mengenai kartun dan karikatur. Dalam The Encyclopaedia of Cartoons (Horn, 1980:15-24), pengertian ”cartoon” dibagi lagi menjadi empat jenis sesuai dengan kegiatan yang ditandainya, yaitu : comic cartoon, gag cartoon untuk lelucon sehari-hari, Political cartoon untuk gambar sindir politik, Animated Cartoon untuk film kartun.
Pengertian kartun editorial (editorial cartoon) yang digunakan sebagai visualisasi tajuk rencana surat kabar atau majalah. Kartun ini biasanya mem-bicarakan masalah politik atau peristiwa aktual seh-ingga sering disebut kartun politik (political cartoon). Dalam kartun politik, seringkali muncul figur dari to-koh terkenal yang dikaitkan dengan tema yang sedang
hangat-hangatnya yang terjadi di dalam masyarakat. Karikatur bisa saja muncul dalam sebuah karya kar-tun editorial untuk menampilkan tokoh yang disindir (Priyanto,2005:4).
II. KAJIAN LITERATUR
2.1. Tinjauan Mengenai Pendekatan Ikonografis Kartun adalah sebuah gambar yang bersi-fat reprensentasi dan simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya mun-cul dalam publikasi secara periodik, dan paling ser-ing menyoroti masalah politik atau masalah publik. Namun masalah-masalah sosial kadang juga menjadi target, misalnya dengan mengangkat kebiasaan hidup masyarakat, peristiwa olahraga, atau mengenai ke-pribadian seseorang. Dengan kata lain, kartun meru-pakan metafora visual hasil ekspresi dan interpretasi atas lingkungan sosial politik yang tengah dihadapi oleh seniman pembuatnya (Nugroho, 1992:2).
Pemakaian metode ikonografi dan ikonologi digunakan dalam menganalisis interpretasi terse-but. Seperti Theo Van Leeuwen mengatakan bahwa ikonografi membedakan tiga lapisan arti gambar : arti/makna gambar (representational meaning), sim-bolisme ikonografi (iconographycal symbolism), dan simbolisme gambar/ikon (iconological symbolism) (Leeuwen, 2001: 100).
Erwin Panofsky menjelaskan dalam ikonografi merupakan kajian yang memperhatikan konfigurasi dari gambar pada suatu karya untuk mengetahui mak-na yang tersembunyi. Selanjutnya Panofsky memberi tahapan dalam menganalisis, yaitu tahap
preicono-graphical, iconography, dan iconology.
Sebagai salah satu kajian mengenai inter-pretasi sebuah makna dalam karya seni rupa adalah
iconography (iconografi) dan iconology (iconologi).
Melalui pendekatan iconography (ikonografis) dan
iconology (ikonologi) maka sebuah pesan
pikto-rial dapat diinterpretasikan makna yang terkandung didalamnya. Sebagai salah satu kajian tentang inter-pretasi makna karya seni rupa, ikonografi merupakan pendekatan yang mempertanyakan representasi dan makna yang tersembunyi dari sebuah karya visual (Leeuwen, 2001:93).
Berasal dari bahasa Yunani, kata
iconogra-phy, terdiri atas kata aekon yang berarti sebuah
gam-bar dan kata graphe yang berarti tulisan. Ikonografi yang lazim dimengerti sebagai kajian tentang tanda yang memiliki referensi, merupakan sebuah ladang luas yang objeknya kajiannya mencakup berbagai di-siplin pemikiran. Ikonografi merupakan cabang dari
sejarah seni yang memiliki pokok kajian yang berkaitan dengan sisi manusia (subject matter) atau makna dari suatu karya seni sebagai sesuatu yang ber-tolak belakang dengan bentuk karya tersebut (sisi for-malisnya). Ikonografi membedakan tiga lapisan arti gambar : arti/makna gambar (representational
mean-ing), simbolisme ikonografi (iconographycal symbol-ism), dan simbolisme gambar/ikon (iconological sym-bolism) (Leeuwen, 2001: 100).
Ikonografi merupakan cabang dari sejarah seni yang memiliki pokok kajian yang berkaitan den-gan sisi manusia (subject matter) atau makna dari suatu karya seni, sebagai sesuatu yang bertolak be-lakang dengan bentuk karya tersebut (sisi formalis-nya) (Panofsky, 1939 : 3). Menurut Panosfky, proses menginterpretasi obyek seni dan gambar dapat mela-lui tiga tahapan, analisis makna secara ikonografi dan ikonologi, yaitu : pertama tahap preiconographical, yakni tahapan untuk mengidentifikasi melalui hal-hal yang lazim dan sudah dikenal (alami). Tahapan ini dapat disebut pemahaman secara faktual dan ekspre-sional. Pemahaman ini didasarkan atas pengalaman masing-masing individu terhadap suatu objek gam-bar. Dengan mengamati dengan mengindentifikasi unsur artistik dari objek gambar (konfigurasi tertentu dari garis dan warna, atau bentuk dan material yang merepresentasikan objek keseharian tertentu), hubun-gan-hubungan yang terjadi pada objek dan identifika-si kualitas ekspreidentifika-sional tertentu dengan melakukan pengamatan pose atau gesture dari objek.
Tahapan kedua yaitu tahap iconographical, tahapan untuk mengidentifikasi makna sekunder gan melihat hubungan antara motif sebuah seni den-gan tema, konsep atau makna yang lazim terhadap peristiwa yang diangkat oleh sebuah gambar. Mo-tif-motif yang kemudian dikenali sebagai pembawa makna sekunder disebut sebagai image/citra/wujud.
Tahapan ketiga, tahap interpretasi ikonologi. Pada tahapan ini makna yang paling hakiki dan men-dasar dari isi sebuah karya kartun benar-benar dipa-hami. Pemahaman mengenai makna intrinsik yang terdapat dalam sebuah objek diperoleh dengn men-gungkapkan prinsip-prinsip dasar yang kemudian dapat menunjukan perilaku sikap dasar dari sebuah bangsa, kurun waktu, strata sosial, ajakan religius atau filosofis tertentu.Memahami ikonologi lebih dari sekedar mencari gejala, tetapi merupakan interpretasi yang mendalam dari pengetahuan teknis mengenai produksi seni, melalui pengetahuan iconographical yang luas menuju sebuah kesimpulan (Ross Wood-row, 1999:3).
III. PEMBAHASAN
3.1. Analisa Karya Kartun Editorial Melalui Ikonografis
Pembahasan yang digunakan untuk menganal-isis karya kartun editorial melalui tiga tahapan seperti analisis makna secara ikonografi dan ikonologi oleh Erwin Panofsky dimana ketiga tahapan itu berlang-sung berurutan. Dalam hal ini mengambil contoh kartun editorial karya T. Sutanto yang dimuat dalam Mingguan Mahasiswa Indonesia, No. 36 Th. II Peb-ruari 1967.
Gambar 1.J atuhnya Kekuasaan Soekarno, Mingguan Mahasiswa Indonesia, No. 36 Th. II Pebruari 1967, Sumber : Repro Dok. Narsen
Tahapan-tahapan analisis tersebut, yaitu :
Tahap preiconographical. Dengan mengamati
dengan mengindentifikasi unsur artistik dari objek gambar (konfigurasi tertentu dari garis dan warna, atau bentuk dan material yang merepresentasikan ob-jek keseharian tertentu), hubungan-hubungan yang terjadi pada objek dan identifikasi kualitas ekspre-sional tertentu dengan melakukan pengamatan pose atau gesture dari objek. Pada tahap ini akan mend-eskipsikan ciri-ciri visual yang tampak pada karya kartun editorial yang sudah melalui seleksi.
Tahap iconographical. Tahapan untuk
me-nganalisa rangkaian gambar dengan memperhati-kan peristiwa yang berhubungan antara karya serta situasi sosial yang terjadi di dalam masyarakat pada saat itu. Tahap interpretasi Iikonologis. Disini akan melakukan interpretasi dengan mempertimbangkan
pemaparan mengenai gambar dari pembuat kartun tersebut, disini adalah kartunis. Pada tahapan ini mak-na yang paling hakiki dan mendasar dari isi sebuah karya kartun benar-benar dipahami. Pada karya ini, T. Sutanto menempatkan figur Soekarno sebagai figur yang dominan dengan penggambaran postur yang lebih menonjol dengan seluruh badan terlihat diband-ingkan dengan figur-figur lain yang tampil dalam kartun tersebut. Bentuk lain yang menyertai kartun politik tersebut antara lain tangan yang besar yang berusaha menggulingkan kekuasaan Soekarno secara sah dan sesuai konstitusional. Berikut adalah cara un-tuk mengetahui makna yang terkandung pada kartun ini, secara bertahap akan diuraikan berbagai aspek pada karya kartun.
3.2. Deskripsi Preiconographical
Dengan posisi gambar horizontal, dalam kar-tun ini tampak dua figur manusia. Sosok sentral pada kartun ini adalah figur laki-laki dengan memakai peci. Figur laki-laki dalam posisi pengambilan gambar long
shoot. Dengan pandangan lurus ke samping dengan
bibir yang sedang berpidato. Di kedua tangannya me-megang teks pidato yang berwarna hitam dengan tu-lisan Program. Garis membentuk kontur dari gambar figur yang sederhana namun mengacu pada karakter wajah seseorang.
Dengan posisi di bagian samping kanan figur sebuah tangan besar yang menggunakan pakaian res-mi (setelan jas) berwarna hitam yang sedang berusaha mengangkat podium yang digunakan Presiden Soeka-rno untuk berpidato. Gambar tangan diposisikan da-lam gambar dengan pengambilan close up. Untuk memberi kesan gerak, maka di sebelah kanan figur Soekarno yang sedang terguling ada goresan garis (moving line) untuk memberi efek yang dramatis dan dinamis.
3.2. Analisa Iconographical
Kartun ini berkaitan dengan momen jatuhnya pemerintahan Soekarno dimana masih berusaha me-megang pusat pemerintahan tetapi kharisma magis-nya tidak berfungsi lagi. Soekarno akhirmagis-nya jatuh dan pada tanggal 12 Maret 1967 melalui MPRS dipaksa menanggalkan semua kekuasaan dan gelar Soekarno serta mengangkat Soeharto sebagai pejabat presiden. Tema dari kartun ini adalah memperlihatkan hubun-gan antara era Soekarno denhubun-gan ideologinya yang bertentangan dengan UUD’45 dan Pancasila sampai akhirnya jatuh kekuasaan ke Soeharto melalui MPRS. Berikut ini analisa ikonografi dari gambar yang terdapat
pada kartun yang bertema tentang turunnya kekua-saan Soekarno :
a. Dilihat dari pesan artifaktual pada kartun ini, ter-dapat figur yang apabila dilihat ciri-ciri fisik dan asesoris pakaian yang dipakainya merupakan ben-tuk figur Soekarno. Walau tanpa garis yang detail, karakter wajah dan figur Soekarno tampak jelas. Ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Soekarno adalah sebagai orator yang ulung dengan seman-gat yang menyala-nyala. Figur Soekarno dengan mengenakan peci hitam dan jas menunjukkan pe-san artifaktual sebagai pejabat negara (presiden). Pesan fasial dari gambar suatu keadaan yang ironis dimana Presiden Soekarno sedang pidato dengan semangat untuk mengagung-agungkan ideologi MANIPOL, RESOPIM, dan NASAKOM, tetapi di sisi lain malah berada dalam posisi turun dari kekuasaan sebagai Presiden.
b. Gambar tangan dan kedua buku merupakan meta-fora dari keadaan politik pada waktu itu dimana pemerintahan Soekarno sudah melenceng dari ideologi negara. Garis yang cenderung ekspresif pada kartun ini lebih ditujukan untuk meyam-paikan pesan secara langsung. Wajah Soekarno tidak memerlukan teknik karikatural, sehingga cenderung simpel dan mudah seseorang pemirsa mampu merepresentasikan bahwa figur tersebut adalah Soekarno. Kesan ruang dan perspektif hanya diperlukan sedikit untuk menunjukkan obyek podium sebagai tempat berdiri Soekarno dengan menggunakan raster untuk menambah kesan gelap terang (tonality).
Dari analisa visual terhadap gambar-gambar yang hadir pada karya kartun politik ini dapat disimpulkan ciri-ciri visual sebagai berikut :
a. Dihadirkan dua pihak yang saling bertentangan yaitu figur Soekarno dan figur Soeharto yang berusaha menjatuhkan kekuasaan Soekarno. b. Sosok tangan sebagai representasi rakyat
Indone-sia dengan kekuatan hukum yaitu UUD’45 dan Pancasila.
c. Penggambaran Soekarno ditampilkan long shot, sementara sosok tangan ditampilkan close up. 3.2. Interpretasi Ikonologis
Dalam kartun ini ditampilkan dua figur yang saling berlawanan. Figur pertama adalah figur Soeka-rno merupakan sosok sentral pada masa Pemerin-tahan orde lama. Sebagai figur yang mendominasi pada waktu itu dengan bentuk pemerintahan Soeka-rno (metafora pemegang kekuasaan) yang dinamakan
”Demokrasi Terpimpin”, walaupun prakarsa pelaksa-naannya diambilnya bersama-sama dengan pimpinan angkatan bersenjata. T. Sutanto mengkaitkan peristiwa pada saat Soekarno menguraikan ideologi demokrasi terpimpin, yang kemudian dinamai MANIPOL (dari Manifesto Politik).
Walaupun secara visual figur Soekarno terlihat utuh (long shot), namun secara keseluruhan tampilan Soekarno cenderung tidak dominan, disini T. Sutan-to ingin menggambarkan posisi Soekarno walaupun mempunyai kekuasaan dan kharisma yang tinggi na-mun tak berdaya dengan kekuatan dari UUD’45 dan Pancasila.
Dari penjelasan T. Sutanto terdapat beberapa hal yang menarik mengenai tampilan Soekarno, di-mana T. Sutanto mengaku kurang telaten dan tidak mahir seperti dalam penggambaran wajah seorang figur dalam karikatural. Tetapi lebih mementingkan situasi yang mendukung pesan dalam kartun tersebut bukan wajah (karikatur).
Seperti figur Soekarno tampil dengan tarikan garis yang simpel namun dengan artifaktual baik pak-aian kebesaran (penuh dengan medali penghargaan) dengan peci serta gesture yang mewakili karakter Soekarno, maka T. Sutanto dalam menampilkan figur Soekarno berhasil.
Obyek gambar medali penghargaan yang digambarkan sangat banyak di pakaian Soekarno, menurut T. Sutanto sebagai representasi dari sikap Soekarno seperti, otoriter, kepercayaan diri yang be-sar, gila kekuasaan, pengakuan diri sebagai presiden seumur hidup, dan politik mercusuarnya.
Sedangkan figur kedua adalah sosok kedua tangan yang memegang dua buku bertuliskan UUD’45 dan Pancasila sebagai metafora keinginan rakyat In-donesia sebagai penguasa tertinggi. Secara tidak langsung dalam kartun politik, T. Sutanto mengritik Soekarno dengan ideologi-ideologinya yang tidak se-suai dengan kehendak para rakyat yang menyebabkan jatuhnya kekuasaan Soekarno.
IV. PENUTUP
Kartun editorial lebih mengedepankan pesan dan situasi penggambaran kartun daripada figur atau tokoh yang dimunculkan. Mengenai kandungan kri-tiknya dalam kartun editorial yang sering lugas, te-gas kadangkala pedas, tampaknya dipengaruhi oleh situasi dalam menyikapi kebijakan atau peristiwa yang sedang terjadi. Cara untuk mengetahui makna dan pola visual yang terdapat pada kartun editorial, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ikonografis dan ikonologis. Dalam pendekatan ini
yang menitikberatkan pada penelaahan makna dalam kartun editorial, perlu kemampuan dalam menginter-prestasikan makna yang terkandung di dalamnya. Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis karya kartun editorial melalui tiga tahapan seperti analisis makna secara ikonografi dan ikonologi oleh Erwin Panofsky dimana ketiga tahapan itu berlangsung beru-rutan. Erwin Panofsky menjelaskan dalam ikonografi merupakan kajian yang memperhatikan konfigurasi dari gambar pada suatu karya untuk mengetahui mak-na yang tersembunyi. Selanjutnya Panofsky memberi tahapan dalam menganalisis, yaitu tahap
preicono-graphical, iconography, dan iconology.
Dalam kajian ini, faktor kartunis (sebagai pencipta) menjadi penting untuk dibicarakan karena latar belakang, kondisi sosial, dan aspek psikologis berpengaruh pada pengambilan keputusan dalam me-nampilkan suatu gambar visual. Namun dalam hal ini, aspek yang diutamakan adalah aspek formal yang membahas aspek kualitas visual yang akan dikaji se-cara lebih mendalam. Sehingga dari analisis ikonografi dan ikonologi diharapkan akan menghasilkan sebuah hasil yang komprehensif untuk melihat karya kartun editorial dengan mengkaitkan antara pola visual dan makna yang terdapat didalam karya tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Aly, Rum, 2006, Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun
1966, Mitos dan Dilema : Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1965-1970, Jakarta,
Kata Hasta Pustaka,
Anderson, Benedict R.O’G, 1990, Language and
Power: Exploring Political Culture of Indone-sia, Ithaca , Cornell University Press.
Bishop, Franklin, 2006, The Cartoonist’s Bible, Lon-don, Quarto Publishing plc .
Bonneff, Marcel, 1998, Komik Indonesia, , Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia.
Budiman, Kris, 1999, Kosa Semiotika, Yogyakarta, LKIS
____________, 2003, Semiotika Visual, Yogyakarta, Penerbit Buku Baik, Yogyakarta
Liliweri, Alo, M.S. 1994, Komunikasi Verbal dan
Nonverbal, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti.
Mahamood, Mulyadi, 1999, Kartun dan Kartunis, Selangor, Stilglow Sdn. Bhd .
Mallarangeng, Andi A.,2007, Dari Kilometer 0,0, In-donesia RDI, Jakarta.
Masdiono, Toni, 1998, 14 Jurus Membuat Komik, Ja-karta, Creative Media, .
McCloud, Scott, 2001, Understanding Comics, Ja-karta, Kepustakaan Populer Gramedia,
Panofsky, Erwin, 1955, Meaning in The Visual Arts, New York, Doubleday Anchor Books .
______________,1939, Studies in Iconology, New York Oxford University Press.
Pramoedjo, Pramono R., 2008, Kiat Mudah
Mem-buat Karikatur : Panduan Ringan dan Praktis Menjadi Karikaturis Handal, Jakarta, Creative
Media, .
Setiawan, Muhammad Nashir, 2002, Menakar Panji Koming, Penerbit Buku Kompas, Jakarta. Sibarani, Agustin, 2001, Karikatur dan Politik, Garda
Budaya, Jakarta.
Sudarta, GM., 1987, Karikatur Mati Ketawa Cara In-donesia, Prisma, LP3ES, Jakarta.
___________, 2007, 40 Th Oom Pasikom, Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007, Kompas, Ja-karta.
Suwirya, 1999, Karikatur dan Kritik Sosial Pada
Masa Revolusi Indonesia (1945-1947), Jakarta
Gramedia, .
Tabrani, Primadi, 2005, Bahasa Rupa, Bandung , Penerbit Kelir, .
Sumber lain : Disertasi:
Priyanto, S., 2005, Metafora Visual Kartun pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957, FSRD ITB, Bandung.