Halaman Daftar Isi ...
Daftar Tabel ... Daftar Grafik ... Daftar Boks ...
BAGIAN I RINGKASAN APBN PERUBAHAN TAHUN 2016
1 Pendahuluan ... 2 Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro dalam APBNP Tahun 2016 ... 3 Perubahan Kebijakan dalam APBNP Tahun 2016 ... 4 Pokok-Pokok Perubahan dalam Postur APBNP Tahun 2016 ... 5 Dampak Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro Terhadap Postur APBNP
Tahun 2016 ...
BAGIAN II APBN PERUBAHAN TAHUN 2016 DAN APBN JANGKA MENENGAH PERIODE 2017-2019
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Umum ... 1.2 APBNP Tahun 2016 ... 1.3 Kebijakan APBN Jangka Menengah ...
BAB 2 PERUBAHAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN
PROYEKSI JANGKA MENENGAH
2.1 Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro ... 2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi ... 2.1.2 Inflasi ... 2.1.3 Nilai Tukar ... 2.1.4 Tingkat suku bunga SPN 3 bulan ... 2.1.5 Harga Minyak Mentah Indonesia ... 2.1.6 Lifting Migas ... 2.2 Proyeksi Jangka Menengah ...
DAFTAR ISI
i
v vii ix
I-1 I-2 I-3 I-4
I-5
II.1-1 II.1-2 II.1-4
Halaman BAB 3 PERUBAHAN KEBIJAKAN DAN TARGET PENDAPATAN
NEGARA DAN PROYEKSI PENDAPATAN NEGARA JANGKA MENENGAH
3.1 Kebijakan dan Target Pendapatan Negara ... 3.1.1 Kebijakan dan Target Penerimaan Perpajakan ... 3.1.1.1 Kebijakan Penerimaan Perpajakan ... 3.1.1.2 Target Penerimaan Perpajakan ... 3.1.1.2.1 Pendapatan Perpajakan Dalam Negeri ... 3.1.1.2.2 Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional ... 3.1.2 Kebijakan dan Target Penerimaan Negara Bukan Pajak ... 3.1.2.1 Pokok-Pokok Perubahan Kebijakan PNBP ... 3.1.2.2 Target Penerimaan Negara Bukan Pajak ... 3.1.3 Kebijakan dan Target Penerimaan Hibah ... 3.1.3.1 Pokok-Pokok Perubahan Kebijakan Hibah ... 3.1.3.2 Target Penerimaan Hibah ... 3.2 Proyeksi Pendapatan Negara Jangka Menengah ... 3.2.1 Penerimaan Perpajakan Jangka Menengah ... 3.2.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak Jangka Menengah ... 3.2.3 Penerimaan Hibah Jangka Menengah ...
BAB 4 PERUBAHAN KEBIJAKAN DAN ANGGARAN BELANJA P E M E R I N T A H P U S A T D A N P R O Y E K S I B E L A N J A PEMERINTAH PUSAT JANGKA MENENGAH
Halaman 4.3 Proyeksi Belanja Pemerintah Pusat Jangka Menengah ... 4.3.1 Kebijakan Belanja K/L ... 4.3.2 Kebijakan Belanja non K/L ...
BAB 5 PERUBAHAN KEBIJAKAN DAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA SERTA PROYEKSI APBN JANGKA MENENGAH
5.1 Perubahan Anggaran Transfer Ke Daerah dan Dana Desa ... 5.2 Perubahan Anggaran Dana Perimbangan ... 5.2.1 Perubahan Anggaran Dana Transfer Umum ... 5.2.1.1 Perubahan Anggaran Dana Bagi Hasil ... 5.2.2 Perubahan Anggaran Dana Transfer Khusus ... 5.2.2.1 Perubahan Anggaran Dana Alokasi Khusus Fisik ... 5.2.2.2 Perubahan Anggaran Dana Alokasi Khusus Nonfisik ... 5.3 Perubahan Anggaran Dana Otonomi Khusus ... 5.4 Proyeksi Transfer ke Daerah dan Dana Desa Jangka Menengah ...
BAB 6 PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMBIAYAAN ANGGARAN DAN PROYEKSI APBN JANGKA MENENGAH
Halaman 6.1.2.1.2.3 Cadangan Pembiayaan untuk Dana Antisipasi Pembayaran kepada
Masyarakat Terdampak Lumpur Sidoardjo ... 6.1.2.2 Pembiayaan Utang ... 6.1.2.2.1 Surat Berharga Negara (Neto) ... 6.1.2.2.2 Pinjaman Luar Negeri (Neto) ... 6.1.2.2.3 Pinjaman Dalam Negeri (Neto) ... 6.2 Proyeksi Pembiayaan Anggaran Jangka Menengah ...
BAGIAN III RISIKO FISKAL
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Kondisi Ekonmi Amerika ... 2. Kondisi Ekonomi Tiongkok ... 3. Kondisi Ekonomi Jepang ...
BAB 2 SUMBER RISIKO FISKAL APBNP TAHUN 2016
2.1 Risiko Deviasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ... 2.1.1 Risiko Asumsi Dasar Ekonomi Makro ... 2.1.1.1 Sensitivitas APBNP Tahun 2016 terhadap Perubahan Asumsi Dasar
Ekonomi Makro ... 2.1.1.2 Sensitivitas Proyeksi APBN Jangka Menengah terhadap Perubahan
Asumsi Dasar Ekonomi Makro ... 2.1.1.3 Sensitivitas Risiko Fiskal BUMN terhadap Perubahan Variabel
Ekonomi Makro ... 2.1.2 Risiko Deviasi Pendapatan dan Belanja Negara ... 2.1.2.1 Risiko Deviasi Pendapatan atas Pelaksanaan Pemungutan Pajak ... 2.1.2.2 Risiko Pengeluaran Negara yang Diwajibkan (Mandatory Spending) 2.1.3 Risiko Utang Pemerintah ... 2.2 Risiko Kewajiban Kontijensi Pemerintah ... 2.2.1 Dukungan dan/atau Jaminan Pemerintah pada Proyek Pembangunan
Infrastruktur KPBU dan Non KPBU ... 2.2.1.1 Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Pengadaan
Halaman Tabel I.1 Asumsi Dasar Ekonomi Makro Tahun 2015 dan 2016 ...
Tabel I.2 Ringkasan LKPP Audited 2015, APBN 2016, dan APBNP 2016 ... Tabel I.3 Sensitivitas APBNP 2016 Terhadap Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi
Makro ... Tabel II.2.1 Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi, 2015-2016 ... Tabel II.2.2 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan Tahun 2015-2016 ... Tabel II.2.3 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015-2016 Tabel II.2.4 Asumsi Dasar Ekonomi Makro Jangka Menengah ... Tabel II.3.1 Pendapatan Negara, Tahun 2015-2016 ... Tabel II.3.2 Kebijakan Perpajakan Tahun 2016 ... Tabel II.3.3 Kebijakan Kepabeanan dan Cukai Tahun 2016 ... Tabel II.3.4 Penerimaan Perpajakan, Tahun 2015-2016 ... Tabel II.3.5 Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan, Tahun 2015-2016 ... Tabel II.3.6 Pendapatan Cukai, Tahun 2015-2016 ... Tabel II.3.7 Penerimaan Negara Bukan Pajak, Tahun 2015-2016 ... Tabel II.3.8 Pendapatan PNBP Lainnya (10 K/L Terbesar), Tahun 2015-2016 ... Tabel II.3.9 Pendapaatan BLU, Tahun 2015-2016 ... Tabel II.4.1 Belanja Pemerintah Pusat Menurut Fungsi, 2015-2016 ... Tabel II.4.2 Belanja Pemerintah Pusat, 2015-2016 ... Tabel II.4.3 K/L dengan Perubahan Sumber Pendanaan dan Realokasi BA BUN
dalam APBNP Tahun 2016 ... Tabel II.4.4 Perubahan Belanja K/L APBNP Tahun 2016 ... Tabel II.4.5 Belanja Kementerian Negara/Lembaga, 2016 ... Tabel II.4.6 Pembayaran Bunga Utang, 2015-2016 ... Tabel II.4.7 Subsidi, 2015-2016 ... Tabel II.4.8 Program Pengelolaan Hibah Negara, 2015-2016 ... Tabel II.4.9 Anggaran Pendidikan, 2015-2016 ... Tabel II.4.10 Anggaran Kesehatan, 2015-2016 ... Tabel II.4.11 Kebijakan Belanja Pemerintah Pusat Menurut Fungsi, 2017-2019 ... Tabel II.5.1 Transfer ke Daerah dan Dana Desa, 2015-2016 ... Tabel II.5.2 Alokasi Dana Bagi Hasil dan Kurang Bayar, 2016 ...
Halaman Tabel II.5.3 Alokasi Dana Transfer Khusus, 2016 ...
Tabel II.6.1 Defisit dan Pembiayaan Anggaran, 2015-2016 ... Tabel II.6.2 Pembiayaan Nonutang, 2015-2016 ... Tabel II.6.3 Dana Isvestasi Pemerintah, 2015-2016 ... Tabel II6.4 PMN Kepada BUMN 2016 ... Tabel II.6.5 PMN Kepada Organisasi/LKI 2016 ... Tabel II.6.6 PMN Lainnya 2016 ... Tabel II.6.7 Anggaran Kewajiban Penjaminan, 2015-2016 ... Tabel II.6.8 Pembiayaan Utang, 2015-2016 ... Tabel III.2.1 Perkembangan Selisih Antara Asumsi Dasar Ekonomi Makro dan
Realisasinya, 2011-2016 ... Tabel III.2.2 Sensitivitas APBNP 2016 Terhadap Asumsi Dasar Ekonomi Makro ... Tabel III.2.3 Perkembangan Risiko Utang Pemerintah, 2011-2015 ...
II.5-3 II.6-2 II.6-4 II.6-5 II.6-6 II.6-7 II.6-8 II.6-9 II.6-10
III.2-1
Halaman Grafik II.3.1 Pendapatan PPh Migas, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.2 Pendapatan PPh Nonmigas, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.3 Pendapatan PPN dan PPN BM, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.4 Pendapatan Pajak Lainnya, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.5 Pendapatan Bea Masuk, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.6 Pendapatan Bea Keluar, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.7 Pendapatan PNBP SDA, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.8 Pendapatan Bagian Laba BUMN, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.9 Pendapatan PNBP Lainnya, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.10 Penerimaan Hibah, Tahun 2015-2016 ... Grafik II.3.11 Proyeksi Penerimaan Perpajakan, 2017-2019 ... Grafik II.3.12 Proyeksi PNBP, 2017-2019 ... Grafik II.3.13 Proyeksi Penerimaan Hibah, 2017-2019 ... Grafik II.4.1 Perkembangan dan Proyeksi Belanja Pemerintah Pusat, 2010-2019 Grafik II.5.1 Proyeksi Transfer ke Daerah dan Dana Desa, 2017-2019 ... Grafik II.6.1 Perkembangan Defisit dan Pembiayaan Anggaran, 2011-2016 ... Grafik II.6.2 Perkembangan Rasio dan Stok Utang Pemerintah, 2011-2016 ... Grafik II.6.3 Perkembangan Penertiban SBN (Neto), 2011-2016 ... Grafik II.6.4 Perkembangan Pinjaman Program, 2011-2016 ... Grafik II.6.5 Perkembangan Pinjaman Proyek, 2011-2016 ... Grafik II.6.6 Perkembangan Pinjaman Dalam Negeri, 2011-2016 ... Grafik II.6.7 Perkembangan Defisit dan Pembiayaan Anggaran, 2011-2019 ... Grafik II.6.8 Perkembangan Rasio dan Stok Utang Pemerintah, 2011-2019 ...
Halaman Grafik III.2.1 Hasil Analisis Model Macro Stress Test Portofolio BUMN Terhadap
Perubahan Penerimaan Negara dari BUMN Tahun 2016 ... Grafik III.2.2 Hasil Analisis Model Macro Stress Test untuk BUMN Sektor Keuangan Grafik III.2.3 Hasil Analisis Model Macro Stress Test untuk BUMN Sektor Non Keuangan ... Grafik III.2.4 Perkembangan dan Proyeksi Mandatory Spending, 2015-2020 ...
III.2-4 III.2-5
Halaman
DAFTAR BOKS
Boks II.6.1 Penerbitan SBN Dalam Rangka Pre-funding ... Boks III.2.1 Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Pengadaan
Infrastruktur dengan Skema Availability Payment ...
II.6-11
RINGKASAN APBN PERUBAHAN TAHUN 2016
1. Pendahuluan
Perekonomian global yang melemah sepanjang tahun 2015 dan berlanjut hingga triwulan I tahun 2016 memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap kinerja perekonomian domestik. Hal ini terlihat pada perkembangan realisasi asumsi dasar ekonomi makro terutama pada harga minyak mentah Indonesia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih jauh bila dibandingkan dengan asumsi yang ditetapkan dalam APBN tahun 2016. Meskipun demikian, Pemerintah berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi domestik sampai dengan triwulan I tahun 2016 di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global dan mempertahankan tingkat inflasi dalam kondisi stabil.
Penurunan harga minyak dan penguatan nilai tukar rupiah berpengaruh terhadap proyeksi realisasi APBN tahun 2016 secara keseluruhan. Pendapatan negara khususnya penerimaan perpajakan dari sektor migas dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sumber daya alam (SDA) migas diperkirakan mengalami penurunan. Tidak tercapainya realisasi penerimaan pajak tahun 2015 sebagai basis perhitungan target penerimaan pajak pada APBN tahun 2016 juga memengaruhi penurunan proyeksi realisasi pendapatan negara tahun 2016.
Di sisi lain, Pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur serta perbaikan iklim investasi yang telah memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2016. Pemerintah juga tetap menjaga pemenuhan belanja yang dimandatkan oleh peraturan perundang-undangan seperti anggaran pendidikan dan anggaran kesehatan.
Perkiraan penurunan realisasi pendapatan negara dari target APBN tahun 2016 dan diiringi dengan komitmen alokasi belanja negara yang masih mengacu pada APBN tahun 2016 mengakibatkan adanya potensi pelebaran defisit anggaran hingga melebihi ambang batas. Sesuai Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD dibatasi tidak melebihi 3,0 persen dari produk domestik bruto. Berangkat dari perkembangan perekonomian tersebut, Pemerintah melakukan konsolidasi fiskal baik dalam pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan anggaran.
Perubahan kebijakan fiskal terutama ditempuh antara lain melalui: (1) perubahan kebijakan
pada bidang pendapatan negara terutama dilakukan dengan kebijakan tax amnesty/
voluntary disclosure dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan dan penguatan tax base perpajakan di Indonesia; (2) penghematan dan pemotongan belanja kementerian negara/lembaga (K/L) yang kurang produktif; (3) rasionalisasi anggaran pada Dana Bagi
Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Khusus (DAK); (4) kebijakan perubahan besaran fixedsubsidi;
(5) peningkatan dana tambahan infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat; dan (6) peningkatan pengeluaran pembiayaan yang mendukung program pembangunan infrastruktur dan program kesejahteraan rakyat.
kesinambungan fiskal (fiscal sustainability).
Pada akhirnya, penetapan UU APBNP tahun 2016 oleh DPR pada akhir bulan Juli 2016 menjadi dasar langkah-langkah pengamanan pelaksanaan APBN tahun 2016 sehingga dapat berjalan secara efektif, efisien, dan akuntabel.
2. Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro dalam APBNP
Tahun 2016
Berdasarkan perkembangan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, serta berbagai tantangan perekonomian yang dihadapi, Pemerintah mengajukan perubahan terhadap asumsi dasar ekonomi makro yang telah ditetapkan dalam APBN tahun 2016. Asumsi dasar ekonomi makro APBNP tahun 2016 sebagai berikut.
Laju inflasi sepanjang tahun 2016 diperkirakan sebesar 4,0 persen, lebih rendah dibandingkan
asumsi dalam APBN tahun 2016 yang ditetapkan sebesar 4,7 persen. Besaran inflasi sepanjang
tahun 2016 akan terpengaruh oleh perkembangan ekonomi global dan tren pelemahan harga komoditas terutama energi. Sementara dari sisi domestik, stabilitas inflasi akan didukung oleh sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga harga kebutuhan pokok masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 5,2 persen atau di bawah target APBN 2016 karena masih lemahnya perekonomian dunia yang diikuti dengan harga komoditas yang rendah. Sementara itu, pada sisi domestik, pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh PMTB yang diperkirakan tumbuh lebih baik seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur baik oleh Pemerintah maupun sektor swasta.
Beberapa faktor positif terutama penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, perbaikan kinerja transaksi berjalan, inflasi yang rendah, serta membaiknya perekonomian diharapkan mampu menjaga stabilisasi dan meredam depresiasi nilai tukar rupiah. Dengan mempertimbangkan kondisi terkini dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan, maka nilai
tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak pada kisaran Rp13.500 per dolar AS,
menguat dibandingkan asumsinya dalam APBN tahun 2016 sebesar Rp13.900 per dolar AS.
Tren penurunan harga minyak mentah dunia diperkirakan memengaruhi kinerja industri hulu migas Indonesia. ICP diproyeksikan berada pada kisaran US$40 per barel lebih rendah dibandingkan dengan asumsi dalam APBN tahun 2016 sebesar US$50 per barel. Perubahan tersebut antara lain disebabkan masih lemahnya perekonomian global, di tengah pasokan minyak yang masih tinggi.
Lifting minyak dan gas bumi pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 1.970 ribu barel setara
minyak per hari, yang meliputi lifting minyak bumi sebesar 820 ribu barel per hari dan lifting
gas bumi sebesar 1.150 ribu barel setara minyak per hari. Tren penurunan produksi minyak
berpengaruh pada lifting gas bumi.
3. Perubahan Kebijakan dalam APBNP Tahun 2016
APBNP tahun 2016 diajukan sebagai langkah untuk menyesuaikan perubahan asumsi dasar ekonomi makro, menampung perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal dalam rangka mengamankan pelaksanaan APBN tahun 2016 dan tetap menjaga pencapaian berbagai sasaran pembangunan nasional.
Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal dan langkah-langkah pengamanan pelaksanaan APBN tahun 2016 dilakukan baik pada pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan anggaran.
Secara umum langkah-langkah pengamanan pendapatan negara dilakukan melalui kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP. Adapun kebijakan di bidang perpajakan antara lain: (1) optimalisasi perpajakan dengan memerhatikan iklim investasi; (2) mempertahankan stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat; (3) meningkatkan produktivitas dan daya saing industri domestik; dan (4) mengendalikan konsumsi untuk barang kena cukai.
Untuk mengamankan pendapatan perpajakan maka Pemerintah merancang kebijakan tax
amnesty/ voluntary disclosure dan melakukan upaya extra effort atas penerimaan pajak
serta kepabeanan dan cukai. Kebijakan insentif fiskal berupa tax allowance, tax holiday,
dan pembebasan PPN untuk sektor industri strategis nasional juga tetap akan diberikan untuk menjaga daya saing industri dan mendorong produktivitas industri domestik. Selain itu, kebijakan PNBP diarahkan antara lain: (1) menahan turunnya lifting minyak dan gas serta melakukan efisiensi cost recovery; (2) optimalisasi penerimaan royalti (iuran produksi) dari pertambangan mineral dan batubara; (3) penyempurnaan berbagai peraturan PNBP, seperti revisi Undang-Undang PNBP dan
Peraturan Pemerintah terkait tarif PNBP; dan (4) penerapan kebijakan payout ratio yang
tepat untuk mendukung penguatan permodalan BUMN.
Pada sisi belanja pemerintah pusat, perubahan dalam APBNP tahun 2016 antara lain: (1) perubahan belanja akibat perubahan asumsi dasar ekonomi makro seperti perubahan pembayaran bunga utang dan subsidi; (2) penghematan dan pemotongan belanja K/L yang kurang produktif dalam rangka mengamankan pelaksanaan APBN tahun 2016; (3) tambahan belanja, baik untuk kebutuhan mendesak dan prioritas, maupun untuk kekurangan pembayaran beberapa komponen belanja hasil audit BPK; dan (4) tambahan belanja dalam rangka penyelesaian piutang pemerintah, seperti piutang pada PDAM.
Kebijakan anggaran Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa dalam APBNP tahun 2016 pada dasarnya tetap mengacu pada APBN tahun 2016. Namun, dalam perkembangannya terjadi perubahan asumsi dasar ekonomi makro yang mengakibatkan perubahan pada pendapatan negara. Perubahan tersebut selanjutnya berakibat pada perubahan transfer ke daerah dan dana desa. Perubahan tersebut antara lain mencakup: (1) perubahan DBH seiring
Realisasi APBN APBNP
a. Pertumbuhan ekonomi (% yoy) 4,8 5,3 5,2 b. Inflasi (% yoy) 3,4 4,7 4,0 c. Nilai Tukar (Rp/USD) 13.392,0 13.900,0 13.500,0 d. Tingkat Bunga SPN 3 Bulan rata-rata (%) 6,0 5,5 5,5 e. Harga Minyak Mentah Indonesia (USD/barel) 49,2 50,0 35,0 f. Lifting Minyak Bumi (ribu barel per hari) 777,6 830,0 810,0
g. Lifting Gas Bumi (ribu barel setara minyak per hari) 1.195,5 1.155,0 1.115,0
Sumber: Kementerian Keuangan
ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO TAHUN 2015 DAN 2016
Indikator Ekonomi 2015 2016
dengan perubahan penerimaan negara yang dibagihasilkan, serta terdapat kebijakan untuk mengalokasikan kurang bayar DBH dan kebijakan optimalisasi penggunaan sisa DBH SDA Kehutanan dari Dana Reboisasi; (2) peningkatan DAK antara lain disebabkan oleh kebijakan untuk mengalokasikan tambahan DAK sebagai kompensasi atas kekurangan penyaluran triwulan IV tahun 2015, meskipun terdapat pengurangan dana Tunjangan Profesi Guru (TPG) PNSD karena perubahan data jumlah guru yang mempunyai sertifikasi kependidikan, dan pengurangan dana bantuan operasional kesehatan (BOK) dan bantuan operasional keluarga berencana (BOKB) karena perbaikan data jumlah masyarakat miskin penerima bantuan kesehatan. Di samping itu, dialokasikan tambahan Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah pada bidang jalan, jembatan, dan sarana pembangunan.
Kebijakan pembiayaan anggaran dalam APBNP tahun 2016 masih tetap mengacu pada kebijakan pembiayaan anggaran dalam APBN tahun 2016. Perubahan kebijakan pembiayaan anggaran dalam APBNP tahun 2016 antara lain: (1) mendukung program 35.000 MW melalui alokasi PMN kepada PT PLN (Persero); (2) mendukung pembangunan infrastruktur melalui alokasi pembiayaan investasi kepada BLU Lembaga Manajemen Aset Negara (BLU LMAN); (3) mendukung kebijakan penyelesaian permasalahan program kesejahteraan rakyat melalui PMN kepada BPJS Kesehatan dan alokasi cadangan pembiayaan untuk dana antisipasi pembayaran kepada masyarakat terdampak lumpur Sidoarjo; dan (4) pemanfaatan dana SAL.
Selain itu, dalam APBNP tahun 2016 juga mengakomodir perubahan anggaran pendidikan dan anggaran kesehatan sejalan dengan perubahan volume belanja negara untuk memenuhi amanat peraturan perundang-undangan dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal.
4. Pokok-pokok Perubahan dalam Postur APBNP Tahun 2016
Pada tahun 2016 pendapatan negara diperkirakan mengalami penurunan sebesar Rp36.320,8 miliar dari APBN tahun 2016. Penurunan tersebut terutama akibat penurunan PNBP sebesar Rp28.765,8 miliar yang disebabkan antara lain oleh: (1) penurunanharga minyak mentah Indonesia; (2) penurunan lifting migas; (3) penundaan kenaikan
tarif royalti batu bara; dan (4) penurunan harga komoditas tertentu SDA nonmigas. Selanjutnya, penerimaan perpajakan juga diperkirakan turun sebesar Rp7.498,4 miliar dari APBN tahun 2016 menjadi Rp1.539.166,2 miliar yang terutama berasal dari turunnya penerimaan PPh migas dan PPN. Untuk mengamankan pendapatan negara terutama sektor perpajakan, Pemerintah melakukan langkah-langkah perbaikan, antara lain:
(1) peningkatan kepatuhan wajib pajak (WP); (2) mengupayakan peningkatan tax ratio
dan tax buoyancy; (3) peningkatan tax coverage melalui penggalian potensi perpajakan pada beberapa sektor unggulan; (4) penguatan dan perluasan basis data perpajakan; dan
(5) pelaksanaan kebijakan tax amnesty/voluntary disclosure. Sementara itu, tax ratio
APBNP tahun 2016 sebesar 12,19 persen, namun tax ratio dalam arti luas (termasuk PNBP
SDA migas dan pertambangan umum) adalah sebesar 12,86 persen.
(DAK) memberikan kontribusi yang cukup besar atas penurunan alokasi transfer ke daerah dan dana desa.
Sejalan dengan penurunan belanja pemerintah pusat dalam APBNP tahun 2016, maka belanja berdasarkan klasifikasi fungsi juga mengalami penurunan, kecuali fungsi perumahan dan fasilitas umum yang mengalami peningkatan sebesar 9,2 persen, fungsi ketertiban dan keamanan sebesar 1,6 persen, dan fungsi pertahanan sebesar 0,4 persen. Fungsi ekonomi masih mendominasi belanja pemerintah pusat dengan kontribusi sebesar 26,9 persen, sedangkan 73,1 persen tersebar pada 10 fungsi lainnya.
Pokok-pokok perubahan pembiayaan anggaran meliputi, antara lain: (1) PMN kepada BUMN diperkirakan meningkat Rp10.060,0 miliar; (2) pembiayaan investasi kepada BLU LMAN diperkirakan sebesar Rp16.000,0 miliar; (3) PMN kepada BPJS Kesehatan sebesar Rp6.827,9 miliar; (4) pemanfaatan SAL sebesar Rp19.011,1 miliar; dan (5) tambahan penerbitan SBN (neto) diperkirakan Rp37.692,5 miliar. Postur ringkas APBNP tahun 2016 disajikan dalam Tabel I.2.
5. Dampak Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro
Terhadap Postur APBNP Tahun 2016
Dalam penyusunan APBN, asumsi dasar ekonomi makro digunakan sebagai dasar perhitungan postur APBN. Oleh karena itu, perubahan pada variabel asumsi dasar ekonomi makro dari yang semula ditetapkan akan memengaruhi besaran pendapatan negara, belanja negara, dan pembiayaan anggaran yang bermuara pada perubahan besaran defisit APBN. Dampak dari perubahan asumsi dasar ekonomi makro terhadap postur APBNP tahun 2016 dapat dijelaskan dalam bentuk analisis sensitivitas.
2015
LKPP Audited APBN APBNP
A. Pendapatan Negara 1.508.020,4 1.822.545,8 1.7 86.225,0
I. Pendapatan Dalam Negeri 1.496.047 ,3 1.820.514,1 1.7 84.249,9
1 . Penerimaan Perpajakan 1 .240.41 8,9 1 .546.664,6 1 .539.1 66,2
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 255.628,5 27 3.849,4 245.083,6
II. Pendapatan Hibah 11.97 3,0 2.031,8 1.97 5,2
B. Belanja Negara 1.806.515,2 2.095.7 24,7 2.082.948,9
I. Belanja Pem erintah Pusat 1.183.303,7 1.325.551,4 1.306.696,0
1 . Belanja K/L 7 32.1 37 ,1 7 84.1 25,7 7 67 .809,9
C. Keseim bangan Prim er (142.485,1) (88.238,2) (105.505,6)
D. Surplus/ (Defisit) Anggaran (298.494,8) (27 3.17 8,9) (296.7 23,9)
% Defisit terhadap PDB (2,59) (2,15) (2,35)
E. Pem biay aan 323.108,0 27 3.17 8,9 296.7 23,9
I. Pembiay aan Dalam Negeri 307 .857 ,7 27 2.7 80,7 299.250,8
II. Pembiay aan Luar Negeri 1 5.250,3 398,2 (2.526,9)
Su m ber : Kem en ter ia n Keu a n g a n
TABEL I.2
RINGKASAN LKPP Audited 2015, APBN 2016, DAN APBNP 2016 (Miliar Rupiah)
Beberapa variabel asumsi dasar ekonomi makro yang berdampak mengurangi defisit atau menambah surplus terhadap postur APBNP tahun 2016 adalah peningkatan pertumbuhan
ekonomi, kenaikan inflasi, peningkatan ICP, serta kenaikan lifting minyak dan gas bumi.
Peningkatan pada asumsi dasar ekonomi makro tersebut akan berdampak langsung pada kenaikan pendapatan negara, terutama pada penerimaan perpajakan dan PNBP, dan berdampak tidak langsung terhadap kenaikan anggaran transfer ke daerah, terutama DBH. Selanjutnya, kenaikan anggaran transfer ke daerah tersebut akan menyebabkan peningkatan belanja negara yang harus diikuti dengan peningkatan anggaran pendidikan dan anggaran kesehatan. Sesuai perhitungan analisis sensitivitas, meningkatnya besaran asumsi dasar ekonomi makro tersebut berdampak pada peningkatan pendapatan negara yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kenaikan belanja negara, sehingga secara total peningkatan tersebut akan berdampak pada pengurangan defisit anggaran. Sebaliknya variabel asumsi dasar ekonomi makro yang akan menambah defisit anggaran adalah kenaikan tingkat suku bunga SPN 3 bulan dan penguatan nilai tukar rupiah per dolar AS. Perubahan tingkat suku bunga SPN 3 bulan hanya akan berdampak pada sisi belanja negara terutama pembayaran bunga utang sehingga akan menambah defisit APBNP. Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berdampak pada turunnya pendapatan negara maupun belanja negara, meskipun penurunan pendapatan negara relatif lebih besar dibandingkan dengan penurunan belanja negara.
Kondisi perekonomian yang terus berkembang menyebabkan asumsi dasar ekonomi makro yang terus berubah. Untuk itu, angka sensitivitas APBNP tahun 2016 digunakan untuk melakukan perhitungan cepat postur APBNP tahun 2016. Perhitungan cepat tersebut diharapkan mampu menangkap perubahan asumsi dasar ekonomi makro yang terjadi dan memberikan gambaran atas arah besaran defisit APBNP tahun 2016.
Tabel di atas hanya menggambarkan postur APBNP tahun 2016 yang didasarkan pada sensitivitas sebagai dampak perubahan asumsi dasar ekonomi makro. Selain menggunakan analisis sensitivitas, penyusunan postur APBNP tahun 2016 perlu memerhatikan dari kebijakan Pemerintah.
A. Pendapatan Negara 1,0 - 1,6 8,9 - 9,7 - - 3,7 - 5,1 3,6 - 4,3 1,6 - 3,0
a. Penerimaan Perpajakan 1 ,0 - 1 ,6 8,9 - 9 ,7 - - 1 ,9 - 2 ,7 0,8 - 1 ,0 0,2 - 0,4
b. PNBP - - - - - - - - 1 ,7 - 2 ,5 2 ,8 - 3 ,3 1 ,4 - 2 ,6
B. Belanja Negara 0,0 - 0,1 0,2 - 0,6 1,4 - 1,6 2,0 - 4,1 2,3 - 4,0 0,4 - 1,2
a. Belanja Pemerintah Pusat 0,0 - 0,0 0,1 - 0,4 1 ,4 - 1 ,6 1 ,5 - 2 ,5 1 ,8 - 2 ,6 0,1 - 0,3
b. Transfer ke Daerah dan Dana Desa 0,0 - 0,0 0,2 - 0,2 - - - 0,5 - 1 ,6 0,5 - 1 ,4 0,3 - 0,9
C. Surplus/(Defisit) Anggaran 1,0 - 1,6 8,7 - 9,1 (1,6) - (1,4) 1,0 - 1,7 0,3 1,3 1,3 - 1,9
D. Pem biay aan - - - (0,6) - 0,3 -
Kelebihan/(Kekurangan) Pem biay aan 1,0 - 1,6 8,7 - 9,1 (1,6) - (1,4) 0,5 - 2,0 0,3 - 1,3 1,3 - 1,9
Sumber: Kementerian Keuangan
+USD1 +10rb
SENSITIVITAS APBNP 2016 TERHADAP PERUBAHAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO (triliun rupiah)
URAIAN Pertum buhan Ekonom i ↑ Inflasi ↑ SPN ↑
Nilai T ukar
Rupiah ↑ ICP ↑ Lifting ↑
+0,1% +1% +1%
TABEL I.3
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Umum
Arah pembangunan nasional tahun 2016 disesuaikan dengan tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan APBN tahun 2016 yakni “Mempercepat Pembangunan Infrastruktur untuk Memperkuat Fondasi Pembangunan yang Berkualitas”. Secara sistematis pembangunan nasional terinci dalam program kerja Kabinet Kerja yang selaras dengan Nawa Cita dengan memfokuskan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang menjamin pemerataan dan keadilan untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antarpenduduk, ketimpangan kewilayahan antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, kawasan barat dan timur, serta antara kota-kota dan kota-desa.
Dukungan APBN untuk berbagai proyek infrastruktur telah memberikan kontribusi positif terhadap kinerja ekonomi domestik. Pembangunan infrastruktur tetap mendapatkan fokus utama dalam tahun 2016. Komitmen Pemerintah dalam pembangunan infrastruktur tercermin dari (1) peningkatan alokasi anggaran untuk mendukung pembangunan infrastruktur; (2) percepatan pembangunan infrastruktur melalui percepatan mekanisme lelang dan penyediaan pendanaan; dan (3) deregulasi melalui penyusunan paket-paket kebijakan ekonomi dalam rangka meningkatkan peran swasta dan investasi dalam pembangunan infrastruktur.
Pelaksanaan APBN sebagai instrumen utama pendorong perekonomian nasional tentu perlu
menyesuaikan kondisi perkembangan ekonomi dan fiskal terkini agar APBN dapat dijalankan
dengan lebih kredibel, realistis, dan akuntabel. Beberapa faktor perkembangan ekonomi
dan fiskal tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, kondisi ekonomi global dan domestik
yang memengaruhi asumsi dasar ekonomi makro. Terdapat capaian kinerja ekonomi makro
pada triwulan I tahun 2016 yang berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan target APBN tahun 2016. Perkembangan asumsi dasar ekonomi makro yang signifikan berbeda
adalah harga minyak mentah Indonesia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Penurunan harga minyak global yang dipicu oleh meningkatnya pasokan minyak dunia, baik yang bersumber dari negara-negara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) maupun dari negara non-OPEC berpengaruh besar pada pergerakan harga
minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Perkiraan penurunan harga minyak
mentah Indonesia berdampak pada sisi fiskal yakni menurunnya penerimaan perpajakan dari sektor migas dan penurunan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sumber daya alam (SDA) migas. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dibayangi oleh faktor eksternal terutama potensi kenaikan suku bunga the Fed. Namun demikian, faktor internal berupa penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, perbaikan
kinerja transaksi berjalan, inflasi yang rendah, serta perbaikan perekonomian domestik
memberikan dorongan positif. Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak
pada penguatan leverage khususnya terkait pembiayaan luar negeri.
tersebut, maka perlu dilakukan penyesuaian terhadap target penerimaan perpajakan tahun 2016.
Ketiga, pelebaran besaran defisit anggaran. Perkiraan penurunan realisasi pendapatan negara
dari target APBN tahun 2016 dan diiringi dengan komitmen alokasi belanja negara yang
masih mengacu pada APBN tahun 2016 mengakibatkan adanya potensi pelebaran defisit
anggaran hingga melebihi ambang batas. Sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara, jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD dibatasi tidak melebihi
3,0 persen dari Produk Domestik Bruto.
Namun demikian, Pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi serta mengupayakan pencapaian sasaran-sasaran pembangunan nasional pada tahun 2016 dengan melakukan penyesuaian strategi
fiskal baik dalam pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan anggaran. Perubahan kebijakan pada bidang pendapatan negara terutama dilakukan melalui kebijakan
tax amnesty/voluntary disclosure dalam rangka optimalisasi pendapatan perpajakan dan
penguatan tax base perpajakan di Indonesia.
Sementara itu, Pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan belanja, baik belanja pemerintah pusat maupun transfer ke daerah dan dana desa untuk mendukung pelaksanaan berbagai program dan sasaran pembangunan, baik pada dimensi pembangunan manusia, dimensi pembangunan sektor unggulan, serta dimensi pemerataan dan kewilayahan Perubahan kebijakan belanja pemerintah pusat terutama dilakukan dengan penghematan dan pemotongan belanja kementerian negara/lembaga yang kurang produktif dan kebijakan
perubahan besaran fixedsubsidy. Sedangkan kebijakan pada transfer ke daerah difokuskan
pada penghematan dana bagi hasil (DBH) dan penurunan anggaran dana alokasi khusus (DAK) serta penambahan dana tambahan infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan konektivitas di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dan sesuai dengan Nawa Cita pembangunan Indonesia dari pinggiran. Perubahan kebijakan juga terdapat pada pembiayaan anggaran terutama dilakukan dalam rangka mendukung program pembangunan infrastruktur dan program kesejahteraan rakyat.
Pada akhirnya, APBN sebagai kunci utama dalam pencapaian sasaran pembangunan ekonomi dan program pembangunan nasional tahun 2016 perlu disesuaikan dengan perkembangan ekonomi makro terkini dengan memerhatikan kebijakan strategis yang tepat. Perubahan asumsi asumsi dasar ekonomi makro, pendapatan negara, belanja negara, dan pembiayaan anggaran serta kebijakan-kebijakan strategis terangkum dalam APBNP tahun 2016.
1.2 APBNP Tahun 2016
Berdasarkan perkembangan terkini dari perekonomian global, domestik, dan berbagai kebijakan yang telah diambil Pemerintah, maka dipandang perlu untuk dilakukan penyesuaian terhadap beberapa asumsi dasar ekonomi makro dari APBN tahun 2016. Sehubungan dengan hal tersebut, perubahan asumsi dasar ekonomi makro pada tahun 2016, sebagai berikut:
1) Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen atau lebih rendah dari asumsi APBN tahun 2016 sebesar 5,3 persen;
3) Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan berada pada kisaran Rp13.500 per dolar AS menguat dari asumsinya dalam APBN tahun 2016 sebesar Rp13.900 per dolar AS.
4) Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan berada pada kisaran rata-rata USD40 per barel atau lebih rendah dari asumsi ICP dalam APBN tahun 2016 sebesar
USD50 per barel.
5) Lifting minyak diperkirakan sebesar 820 ribu barel per hari, lebih rendah dibandingkan dengan asumsinya dalam APBN tahun 2016 yang ditetapkan sebesar 830 ribu barel per hari.
6) Lifting gas bumi diperkirakan mencapai 1.150 ribu barel setara minyak per hari, lebih
rendah bila dibandingkan dengan asumsi lifting gas bumi pada APBN tahun 2016 yang
ditetapkan sebesar 1.155 ribu barel setara minyak per hari.
Selanjutnya, perubahan postur APBNP tahun 2016 dapat disampaikan sebagai berikut. Pendapatan negara tahun 2016 diperkirakan mengalami penurunan sebesar Rp36.320,8 miliar dari APBN tahun 2016. Penurunan tersebut terutama akibat penurunan PNBP sebesar
Rp28.765,8 miliar dan penerimaan perpajakan sebesar Rp7.498,4 miliar. Rendahnya realisasi
penerimaan perpajakan serta realisasi lifting dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) selama
tahun 2015 menyebabkan Pemerintah menurunkan target penerimaan perpajakan pada APBNP tahun 2016 menjadi sebesar Rp1.539.166,2 miliar, yang utamanya disebabkan oleh penurunan penerimaan PPh migas dan PPN. Dalam upaya untuk mencapai target penerimaan
perpajakan tersebut serta sebagai upaya untuk tetap dapat mengamankan tax ratio Indonesia,
Pemerintah melakukan langkah-langkah perbaikan di sektor perpajakan antara lain: (1) peningkatan kepatuhan wajib pajak, terutama kepatuhan wajib pajak orang pribadi usaha dan wajib pajak badan, antara lain melalui pembinaan dan pengawasan terhadap Wajib Pajak,
(2) mengupayakan peningkatan tax ratio dan tax buoyancy, (3) peningkatan tax coverage
melalui penggalian potensi perpajakan pada beberapa sektor unggulan, (4) penguatan dan
perluasan basis data perpajakan; dan (5) pelaksanaan kebijakan tax amnesty/voluntary
disclosure. Dengan upaya-upaya tersebut, tax ratio (arti sempit) dalam APBNP tahun 2016
ditargetkan sebesar 12,08 persen, sedangkan tax ratio dalam arti luas (termasuk penerimaan
SDA migas dan pertambangan umum) ditargetkan sebesar 12,86 persen.
Belanja negara diproyeksikan mencapai Rp2.082.948,9 miliar, turun 0,6 persen dari pagu
APBN tahun 2016. Belanja negara tahun 2016 meliputi belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.306.696,0 miliar dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp776.252,9 miliar. Belanja Pemerintah Pusat dalam APBNP tahun 2016 lebih rendah dari APBN tahun 2016, terutama disebabkan oleh kebijakan penghematan dan pemotongan belanja kementerian negara/lembaga (K/L), meskipun di sisi lain terdapat tambahan belanja untuk kegiatan yang bersifat mendesak dan prioritas. Sedangkan penurunan dana bagi hasil (DBH) dan dana alokasi khusus (DAK) merupakan kontribusi terbesar dari penurunan Transfer ke Daerah dan Dana Desa.
Untuk menjaga defisit anggaran sebagai dampak perubahan pendapatan negara dan belanja negara tersebut serta untuk memenuhi kebutuhan peningkatan pengeluaran pembiayaan, maka pembiayaan anggaran diperkirakan menjadi Rp296.723,9 miliar
atau meningkat sebesar Rp23.545,0 miliar dari target pembiayaan anggaran pada
tahun 2016 antara lain (1) mendukung program 35.000 MW melalui alokasi PMN kepada PT. PLN (Persero); (2) mendukung pembangunan infrastruktur melalui alokasi pembiayaan investasi kepada BLU Lembaga Manajemen Aset Negara (BLU LMAN); (3) mendukung kebijakan penyelesaian permasalahan program kesejahteraan rakyat melalui PMN kepada BPJS Kesehatan dan alokasi cadangan pembiayaan untuk dana antisipasi pembayaran kepada masyarakat terdampak lumpur Sidoarjo; dan
(4) pemanfaatan dana SAL.
1.3 Kebijakan APBN Jangka Menengah
Kebijakan APBN Jangka Menengah merupakan kelanjutan dari kebijakan APBN tahun 2016. Dalam kebijakan APBN jangka menengah menampung proyeksi asumsi dasar ekonomi makro, kebijakan pendapatan negara, kebijakan belanja negara, dan kebijakan pembiayaan anggaran.
Dinamika ekonomi global dan domestik turut memengaruhi pergerakan dan prospek
ekonomi nasional ke depan. Di samping itu, dengan adanya perubahan strategi fiskal
turut menyebabkan pergeseran target-target dan asumsi dasar ekonomi makro jangka menengah, yaitu: (1) pertumbuhan ekonomi selama periode 2017 hingga 2019 diperkirakan
bergerak pada kisaran 5,1 persen hingga 6,4 persen dengan kecenderungan terus meningkat; (2) tingkat inflasi terus dikendalikan pada tingkat yang rendah dengan kecenderungan menurun. Tingkat inflasi pada periode 2017 ditargetkan pada kisaran 4,0 ± 1 persen menurun menjadi 3,5 ± 1 persen pada periode 2018-2019; (3) perkembangan nilai tukar
rata-rata selama periode 2017-2019 diperkirakan bergerak pada kisaran Rp13.200 per dolar AS hingga Rp13.900 per dolar AS, yang masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS dan
stabilitas perekonomian nasional; (4) suku bunga SPN 3 bulan dalam periode 2017-2019
diperkirakan bergerak pada kisaran 5,0 sampai 6,0 persen dengan kecenderungan menurun; (5) perkembangan harga ICP masih tetap dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia secara umum, harga ICP diperkirakan bergerak pada kisaran USD35 hingga USD55
per barel; (6) perkembangan lifting minyak mentah pada periode 2017-2019 diperkirakan
bergerak pada kisaran 540 hingga 815 ribu barel per hari dengan kecenderungan menurun;
dan (7) lifting gas bumi diperkirakan bergerak pada kisaran 1.100 hingga 1.200 ribu barel
setara minyak per hari dengan kecenderungan meningkat.
Di bidang pendapatan negara, kebijakan yang akan dilaksanakan dalam jangka menengah adalah: (1) melaksanakan program transformasi kelembagaan dan penataan
organisasi Direktorat Jenderal Pajak; (2) membenahi sistem reward and punishment;
(3) mengembangkan sistem layanan dan pengawasan yang berjenjang dan terotomasi;
(4) pembangunan sebuah manajemen risiko terintegrasi untuk impor, ekspor, cukai, dan
kawasan berikat; (5) melanjutkan renegosiasi kontrak karya dan perjanjian karya pengusaha batubara untuk sektor pertambangan; (6) perbaikan metode perhitungan PNBP perikanan;
(7) peningkatan kinerja BUMN dan penerapan pay out ratio dividen BUMN yang sesuai
dengan kemampuan keuangan BUMN; dan (8) ekstensifikasi dan intensifikasi melalui
inventarisasi potensi PNBP pada K/L dan perbaikan peraturan perundang-undangan terkait PNBP.
Selanjutnya, kebijakan belanja pemerintah pusat jangka menengah mengacu pada rencana pembangunan jangka menengah (RPJMN tahun 2015-2019), besaran asumsi dasar ekonomi makro jangka menengah sejalan dengan perkembangan ekonomi terkini,
serta kebijakan yang telah dan akan dilakukan oleh Pemerintah yang memiliki time
frame jangka menengah. Secara umum, kebijakan belanja pemerintah pusat dalam jangka menengah adalah sebagai berikut: (1) belanja pemerintah pusat diarahkan untuk mendukung pelaksanaan prioritas pembangunan dalam RPJMN tahun 2015 – 2019;
antara lain dengan melanjutkan reformasi birokrasi, pengendalian belanja pendukung
penyelenggaraan pemerintahan, dan efisiensi belanja; (3) mendukung pembangunan
infrastruktur yang sejalan dengan agenda prioritas, atau memberi peluang besar untuk
pertumbuhan ekonomi pada beberapa sektor prioritas; (4) mendorong tumbuhnya investasi yang meningkatkan produktifitas rakyat; (5) melanjutkan pelaksanaan SJSN kesehatan
dan ketenagakerjaan; (6) mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan, dengan menjaga pengalokasian anggaran pendidikan tetap memenuhi rasio minimal anggaran
pendidikan sebesar 20 persen sebagaimanayang diamanatkan oleh UUD 1945; dan
(7) pemenuhan anggaran kesehatan 5 persen untuk mendukung upaya peningkatan kualitas kesehatan bagi masyarakat.
Di bidang transfer ke daerah dan dana desa, Pemerintah telah menunjukkan komitmennya
melalui kebijakan desentralisasi fiskal dan pembangunan daerah secara konsisten, antara
lain: (1) penyaluran kurang bayar DBH yang telah diaudit; (2) pengalokasian DAK agar lebih efektif, selektif, dan optimal pemanfaatannya; (3) pengalokasian dana otonomi khusus untuk Papua, Papua Barat, dan Aceh, termasuk dana tambahan infrastruktur untuk
provinsi Papua dan Papua Barat; (4) pengalokasian dana keistimewaan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) untuk mendukung penyelenggaraan urusan keistimewaan DIY; dan (5) mendukung implementasi UU Desa agar pembangunan desa lebih cepat dengan menjaga
governance dan akuntabilitas.
Untuk memenuhi pembiayaan anggaran jangka menengah, Pemerintah menggunakan pembiayaan anggaran yang bersumber dari pembiayaan utang dan nonutang. Terkait pengelolaan pembiayaan anggaran, kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan antara lain: (1) mendukung pembangunan infrastruktur melalui alokasi PMN, dana bergulir, pembiayaan investasi, dan kewajiban penjaminan; (2) optimalisasi perencanaan dan pemanfaatan pinjaman untuk pembangunan infrastruktur; dan (3) pengembangan instrumen dan
BAB 2
PERUBAHAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO
DAN PROYEKSI JANGKA MENENGAH
2.1 Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro
Dalam beberapa tahun terakhir ini, kinerja perekonomian dunia menunjukkan perlambatan, dari 3,4 persen di tahun 2012 menjadi 3,1 persen di tahun 2015. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh kinerja ekonomi dan proses pemulihan di negara-negara maju yang belum optimal sejak dilanda krisis pada tahun 2008 dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang yang juga menunjukkan perlambatan sebagai akibat lemahnya aktivitas perdagangan dunia serta rendahnya harga komoditas. Di samping itu, faktor ketidakpastian juga masih membayangi sektor keuangan global karena sebagian negara maju menerapkan kebijakan stimulus (quantitative easing) sedangkan yang lain menerapkan kebijakan ekonomi ketat.
Berdasarkan perkiraan IMF dalam World Economic Outlook (WEO) yang dirilis pada bulan April 2016, perekonomian global pada tahun ini diperkirakan tumbuh 3,2 persen atau mengalami perbaikan dibandingkan tahun 2015 yang tercatat 3,1 persen. Meskipun demikian, perkiraan ini masih lebih rendah dibandingkan perkiraan pada bulan Januari, sebesar 3,4 persen.
IMF juga merevisi ke bawah perkiraaan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2016. Perekonomian AS diproyeksikan tumbuh sebesar 2,4 persen, sama dengan pertumbuhan di tahun 2015. Momentum positif ekonomi AS diperkirakan masih terus berlanjut, dengan didukung perbaikan pada sejumlah indikator ekonomi, antara lain tingkat pengangguran yang menurun, inflasi yang rendah dan indeks manufaktur maupun indeks produksi industri yang menunjukkan tren meningkat. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi AS masih menghadapi sejumlah risiko terkait dengan perkembangan ekonomi global dan domestik.
Menghadapi perekonomian global yang belum menujukkan pemulihan, masing-masing negara di dunia menerapkan kebijakan yang diyakini sesuai untuk mendorong kinerja ekonomi domestiknya. Negara-negara maju menerapkan kebijakan yang tidak seragam. AS cenderung memberlakukan kebijakan moneter ketat melalui penghentian program quantitative easing.
Selain itu, Bank Sentral AS (The Fed) juga menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,25 hingga 0,5 persen per 16 Desember 2015. Kenaikan suku bunga acuan tersebut diperkirakan akan kembali terjadi secara bertahap di tahun 2016, dengan mempertimbangkan perkembangan indikator ekonomi AS lebih lanjut.
Sementara perekonomian kawasan Eropa di tahun 2016 diperkirakan tumbuh sebesar 1,5 persen. Perkembangan positif tersebut tidak lepas dari makin membaiknya kinerja ekonomi negara-negara besar di Eropa seperti Jerman, Perancis, Italia dan Spanyol. Saat ini, kawasan Eropa masih menghadapi risiko deflasi. Kawasan Eropa kembali mengalami deflasi pada bulan Maret 2016 sebesar 0,1 persen (yoy), setelah pada bulan Februari 2016 juga mencatat deflasi sebesar 0,2 persen (yoy). Selain deflasi, kawasan Eropa masih menghadapi beberapa risiko lain seperti perlambatan pertumbuhan produktivitas dan peningkatan defisit fiskal di tengah rasio utang terhadap PDB yang tinggi. Namun demikian, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menyokong kondisi kawasan Eropa antara lain terkait dengan penurunan harga minyak, kebijakan fiskal yang lebih netral, serta depresiasi nilai tukar euro.
Beberapa negara di Eropa dan Jepang juga masih bertumpu pada kebijakan moneter longgar melalui pemberian stimulus dan penerapan suku bunga negatif. European Central Bank (ECB) mengumumkan kebijakan quantitative easing pada 22 Januari 2015 dengan pembelian aset finansial berskala besar hingga mencapai 60 miliar euro per bulan. Kebijakan tersebut rencananya akan diperpanjang hingga tahun 2017 untuk mencapai target inflasi kawasan Eropa, sekitar 2 persen. Hal yang sama juga terjadi di Jepang, Bank of Japan (BoJ) juga akan melanjutkan kebijakan quantitative easing yang telah dilaksanakan mulai tahun 2015. BoJ akan mengucurkan dana sebesar 80 triliun yen per tahun, meningkat dari stimulus sebelumnya yang hanya 60-70 triliun yen per tahun. Hampir serupa dengan kondisi perekonomian kawasan Eropa, Jepang masih menghadapi sejumlah risiko ekonomi antara lain pertumbuhan produk industri dan pertumbuhan penjualan eceran yang rendah dan tingkat inflasi yang juga rendah. BoJ pada bulan Januari 2016 juga memutuskan untuk menerapkan kebijakan tingkat suku bunga negatif berlaku per Februari 2016 dengan memangkas suku bunga ke level negatif 0,1 persen. Penerapan suku bunga negatif diharapkan dapat mendorong perekonomian dan mencegah terjadinya deflasi yang berkepanjangan di negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi Jepang di tahun 2016 diperkirakan sebesar 0,5 persen.
Arah kebijakan ekonomi negara maju turut mempengaruhi kebijakan ekonomi di negara-negara berkembang. Pelemahan ekonomi global telah memukul ekonomi Tiongkok sebagai negara yang bergantung pada ekspor. Untuk menyikapi kondisi global yang kurang kondusif, pemerintah Tiongkok mengambil langkah untuk menyeimbangkan sumber pertumbuhan tidak hanya dari investasi dan ekspor, tetapi juga konsumsi rumah tangga (rebalancing). Namun demikian, proses rebalancing masih terhambat dengan konsumsi rumah tangga yang belum sekuat yang diharapkan. Untuk mengompensasi hal tersebut, People’s Bank of China (PBoC) melakukan devaluasi yuan, menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM), dan menurunkan tingkat suku bunga acuan guna membuat produk-produk ekspor Tiongkok menjadi lebih kompetitif sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka memperkuat konsumsi dan mendorong perekonomian, PBoC telah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan. Per Maret 2016, suku bunga acuan ditetapkan 4,35 persen, lebih rendah dari posisi akhir 2012 yang tercatat 6 persen. Tiongkok juga memangkas GWM menjadi 17 persen.
di banding posisi pada akhir 2012 yang tercatat 8 persen. Pada sisi lain, arah kebijakan moneter di negara-negara ASEAN umumnya juga menuju pada kebijakan moneter longgar. Hal tersebut terlihat pada penurunan suku bunga bank sentral di Indonesia dan Thailand, sementara Malaysia dan Philipina relatif masih tetap.
Pelemahan ekonomi global serta berbagai tantangan yang dihadapi perekonomian domestik menjadi tantangan bagi kinerja perekonomian nasional. Namun demikian, pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 4,8 persen (yoy). Meski lebih rendah dari asumsinya dalam APBNP tahun 2015, namun pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. Capaian ini terutama didukung oleh kinerja komponen kunci di sisi pengeluaran seperti sektor konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah dan investasi. Dari sisi produksi, sektor industri, pertanian dan jasa yang merupakan sektor-sektor utama menunjukkan pertumbuhan yang positif dan relatif stabil.
Salah satu komponen penopang pertumbuhan ekonomi yang perannya diharapkan semakin besar adalah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB). Di tahun 2015, PMTB mulai meningkat dan tumbuh 5,1 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,6 persen. Hal ini terutama ditopang oleh akselerasi pembangunan proyek-proyek infrastruktur sebagai dampak dari peningkatan anggaran infrastruktur secara signifikan. Selain itu, pertumbuhan PMTB juga didukung oleh berbagai upaya berkesinambungan yang dilakukan Pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi. Perbaikan iklim investasi dilakukan melalui deregulasi dan simplifikasi prosedur perizinan investasi baik di pusat maupun daerah, kesinambungan reformasi birokrasi, penciptaan kepastian hukum bagi investor dan penyediaan insentif fiskal baik dalam bentuk tax holiday maupun tax allowance.
Di sisi lain, pertumbuhan sektor pertambangan menunjukkan tren penurunan sebagai dampak dari harga komoditas yang mengalami pelemahan, terutama pada tahun 2015 yang tumbuh negatif. Sejalan dengan itu, secara kewilayahan, kawasan yang bergantung pada barang komoditas juga mengalami penurunan pertumbuhan yang relatif dalam seperti Sumatera dan Kalimantan. Pulau Jawa yang merupakan wilayah berbasis industri mampu tumbuh relatif lebih stabil.
Kinerja indikator ekonomi makro lainya juga menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Selama tahun 2015, inflasi terkendali pada tingkat 3,35 persen, jauh di bawah asumsi dalam APBNP tahun 2015 yang sebesar 5 persen. Indikator realisasi investasi langsung yang terus meningkat menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tarik yang tinggi bagi investor asing maupun domestik. Pasar obligasi pemerintah masih tetap tumbuh walaupun ada tekanan gejolak pasar keuangan terhadap pasar modal. Defisit Transaksi Berjalan di tahun 2015 mengalami perbaikan karena didukung oleh peningkatan kinerja pada neraca pendapatan dan neraca jasa.
Pada tahun 2016, Pemerintah tetap mewaspadai berbagai potensi tantangan dan risiko, baik yang berasal dari eksternal maupun internal. Atas hal ini, Pemerintah berkomitmen untuk terus melanjutkan reformasi struktural yang telah digulirkan sejak awal tahun 2015 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkesinambungan dalam jangka panjang. Reformasi tersebut dilakukan dengan mendorong pertumbuhan sektor-sektor bernilai tambah dan industri pengolahan komoditas primer serta meningkatkan peran investasi sebagai mesin pendorong utama pertumbuhan. Pelaksanaan reformasi struktural tersebut didukung oleh reformasi anggaran yang mencakup tiga pilar yaitu optimalisasi pendapatan, peningkatan kualitas belanja, dan kesinambungan pembiayaan anggaran.
Dengan memperhatikan perkembangan kondisi perekonomian terkini baik global maupun domestik serta berbagai kebijakan yang diambil Pemerintah, diperkirakan akan terdapat deviasi beberapa asumsi yang ditetapkan pada APBN tahun 2016 dengan outlook terkini (APBNP tahun 2016).
2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian domestik pada tahun 2016 diperkirakan meningkat seiring dengan realisasi pembangunan infrastruktur dan dorongan dari konsumsi pemerintah yang lebih efektif dan efisien serta relatif terjaganya konsumsi rumah tangga. Peningkatan belanja infrastruktur yang merupakan program lanjutan yang telah dimulai sejak tahun 2015, diharapkan dapat memberi manfaat yang lebih besar dalam proses pembangunan. Dari sisi global, perdagangan dunia diperkirakan meningkat meskipun tidak terlalu signifikan. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan dorongan aktivitas ekonomi global yang pada gilirannya juga dapat mendukung kinerja ekonomi domestik. Meskipun demikian, masih terdapat risiko-risiko ekonomi yang patut diwaspadai sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap kinerja perekonomian nasional seperti perekonomian Tiongkok yang diperkirakan tumbuh moderat dan perkiraan harga komoditas yang masih cukup rendah. Berdasarkan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi dalam APBNP tahun 2016 diperkirakan sebesar 5,2 persen, lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan dalam APBN tahun 2016.
Pada tahun 2015, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,0 persen, sedikit lebih rendah dari realisasi tahun 2014 yang mencapai 5,2 persen. Tingkat inflasi yang relatif terkendali di
sepanjang tahun dan adanya Pemilukada pada akhir tahun 2015 di beberapa daerah mampu menjaga kinerja pertumbuhan konsumsi masyarakat. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam APBNP tahun 2016 diperkirakan sebesar 5,1 persen sama dengan perkiraan dalam APBN tahun 2016. Stabilitas harga, terutama harga bahan pokok menjadi kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat. Upaya untuk menjaga tingkat konsumsi dalam negeri juga dilaksanakan melalui beberapa program bantuan sosial secara berkesinambungan seperti program Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar. Di samping itu, Pemerintah juga memperluas cakupan penerima Bantuan Tunai Bersyarat menjadi 6 juta Keluarga Sangat Miskin (KSM) serta memberi Tunjangan Hari Raya kepada PNS, TNI, dan Polri, serta Pensiunan. Kebijakan kenaikan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang dimulai sejak Januari 2016 juga diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat. Penyesuaian batas PTKP merupakan salah satu bentuk stimulus pajak (tax cut policy) yang bertujuan untuk mendorong konsumsi masyarakat ditengah pelemahan ekonomi.
Sepanjang tahun 2015 konsumsi Pemerintah tumbuh 5,4 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2014 yang hanya tumbuh sebesar 1,2 persen. Pertumbuhan konsumsi Pemerintah yang relatif tinggi didorong oleh besarnya serapan belanja Pemerintah seiring berjalannya proyek pembangunan infrastruktur. Selain itu, percepatan proses lelang serta tingginya belanja modal dan barang menjadi faktor pendorong pertumbuhan konsumsi pemerintah. Dalam APBNP tahun 2016, konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 5,5 persen. Pertumbuhan tersebut didukung oleh kebijakan relaksasi pengadaan yang telah dimulai sejak akhir 2015, telah selesainya proses perubahan nomenklatur di berbagai Kementerian Negara/Lembaga, dan pembentukan Tim Evaluasi dan Pengawasan Penyerapan Anggaran (TEPRA) untuk mempercepat pelaksanaan anggaran. Disamping itu, proses pembangunan infrastruktur yang masih berjalan, peningkatan jumlah transfer ke daerah, serta pemenuhan anggaran pendidikan dan kesehatan diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan konsumsi pemerintah tahun 2016.
Kinerja PMTB tahun 2015 menunjukkan kondisi yang cukup baik. PMTB mampu tumbuh 5,1 persen, lebih tinggi dari tahun 2014 yang mencapai 4,6 persen. Hal ini terutama ditopang oleh pembangunan proyek-proyek infrastruktur serta upaya berkesinambungan yang dilakukan Pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan daya saing industri. PMTB pada tahun 2016 diperkirakan tumbuh sekitar 6,1 persen, lebih rendah dibandingkan perkiraan
2015
Realisasi APBN APBNP
1. Konsumsi Rumah Tangga*) 4,8 5,1 5,0 2. Konsumsi Pemerintah 5,4 5,7 5,5
3. PMTB 5,1 6,2 6,1
4. Ekspor -2,0 2,2 0,1
5. Impor -5,8 2,0 0,2
Produk Domestik Bruto 4,8 5,3 5,2
*) Termasuk konsumsi lembaga non profit rumah tangga Sumber: BPS, Kemen PPN/ Bappenas, dan Kemenkeu
Uraian 2016
PERTUMBUHAN EKONOMI MENURUT PENGGUNAAN TAHUN 2015-2016
APBN tahun 2016 yang sebesar 6,2 persen. Hal ini terutama didorong oleh akselerasi proyek-proyek infrastruktur dan sebagai dampak implementasi Paket-Paket Kebijakan Ekonomi Pemerintah yang mulai digulirkan sejak bulan September 2015 yang hasilnya mulai dirasakan di tahun 2016. Seperti diketahui, Paket-Paket Kebijakan Ekonomi menitikberatkan pada penguatan sektor industri manufaktur, percepatan dan penyederhanaan prosedur investasi, serta penguatan pembangunan infrastruktur. Selain itu, penguatan PMTB di tahun 2016 juga diperkirakan sebagai dampak positif semakin kondusifnya iklim investasi di Indonesia yang terlihat dari perbaikan peringkat Indonesia di Survei Kemudahan Berusaha yang akan menciptakan sentimen positif bagi dunia usaha dan investasi di Indonesia. Revisi regulasi terkait Daftar Negatif Investasi (DNI) juga diharapkan menjadi faktor pendorong kinerja investasi.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor-impor tahun 2015 tercatat mengalami pertumbuhan negatif sebesar -2,0 persen dan -5,8 persen. Pelemahan ekonomi global dan penurunan harga komoditas menjadi faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekspor-impor Indonesia. Dalam APBNP tahun 2016, ekspor dan impor masing-masing diperkirakan tumbuh sebesar 0,1 persen dan 0,2 persen. Perkiraan ekonomi global yang membaik dan volume permintaan dunia yang meningkat diharapkan akan mendorong kinerja ekspor impor. Pembangunan infrastruktur juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik sehingga memperlancar arus perdagangan. Untuk itu, kebijakan ekspor nasional diarahkan untuk meningkatkan daya saing dengan peningkatan ekspor produk bernilai tambah tinggi. Namun, risiko berupa rendahnya harga komoditas dan moderasi pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang utama menjadi tantangan dalam mendorong kinerja ekspor dan impor.
2015
Realisasi APBN APBNP
1. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 4,0 4,1 3,0 2. Pertambangan dan Penggalian -5,1 0,3 0,2
3. Industri Pengolahan 4,2 5,4 4,9
4. Pengadaan Listrik dan Gas 1,2 4,2 4,3
5. Pengadaan Air 7,2 3,5 6,1
6. Konstruksi 6,6 8,2 7,9
7. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 2,5 3,4 4,2 8. Transportasi dan Pergudangan 6,7 6,6 7,5 9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 4,4 6,2 5,4 10. Informasi dan Komunikasi 10,1 9,9 9,2 11. Jasa Keuangan dan Asuransi 8,5 5,2 8,0
12. Real Estat 4,8 5,3 5,0
13. Jasa Perusahaan 7,7 8,3 8,1
14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 4,7 5,9 5,1
15. Jasa Pendidikan 7,4 9,5 7,3
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7,1 8,2 8,4
17. Jasa Lainnya 8,1 8,5 7,7
Produk Domestik Bruto 4,8 5,3 5,2
Sumber: BPS, Kemen PPN/ Bappenas, dan Kemenkeu
Sektor Lapangan Usaha 2016
TABEL II.2.3
PERTUMBUHAN EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2015-2016
Dari sisi sektoral, pertumbuhan sektor yang menjadi kontributor utama PDB pada tahun 2016 diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2015 sejalan dengan pelaksanaan program kerja pemerintah yang fokus pada sektor-sektor kunci. Pada tahun 2015 sektor industri pengolahan tumbuh 4,2 persen, sedikit mengalami perlambatan dibandingkan tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,6 persen sebagai akibat dari kontraksi pertumbuhan ekspor dan impor yang menunjukkan adanya pelemahan tingkat permintaan. Dalam APBNP tahun 2016, sektor industri pengolahan diperkirakan dapat tumbuh sebesar 4,9 persen atau lebih baik dibanding capaian tahun 2015. Hal ini sejalan dengan berbagai kemudahan serta fasilitas yang diberikan baik berupa insentif fiskal maupun fasilitas lainnya, seperti tax holiday, tax allowance, serta fasilitas untuk pengembangan kawasan industri. Selain itu, implementasi kebijakan pada sektor industri pengolahan yang diarahkan untuk peningkatan daya saing dan produktivitas juga diharapkan mendorong pertumbuhan sektor industri. Pertama, jaminan terhadap ketersediaan bahan baku produksi melalui penurunan bea masuk atau bea masuk ditanggung Pemerintah untuk bahan baku industri dan pengenaan bea keluar bagi bahan baku produksi tertentu. Kedua, penurunan suku bunga dan modal kerja melalui lembaga pembiayaan ekspor dan pembentukan lembaga pembiayaan industri. Ketiga, peninjauan regulasi yang berpotensi menghambat pertumbuhan industri. Keempat, dukungan regulasi dan infrastruktur untuk memperlancar logistik di kawasan industri tertentu. Selanjutnya, untuk mendorong kegiatan ekonomi, Pemerintah meluncurkan stimulus melalui paket-paket kebijakan ekonomi yang khususnya ditujukan untuk peningkatan daya saing produksi.
Sektor pertanian diperkirakan dapat menunjukkan perbaikan kinerja seiring dengan upaya mencapai sasaran kedaulatan pangan. Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana irigasi (pembangunan waduk), serta rehabilitasi dan perluasan areal tanam. Pada tahun 2015, kinerja pertumbuhan sektor tersebut terutama terganggu oleh faktor cuaca (fenomena El Nino) sehingga hanya mampu tumbuh sebesar 4,0 persen. Dengan masih adanya risiko gangguan cuaca seperti yang terjadi pada tahun 2015 serta dukungan kebijakan pemerintah pada sektor ini, pertumbuhan sektor pertanian pada tahun 2016 diyakini dapat dijaga yakni sekitar 3,0 persen.
Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian masih menghadapi berbagai tantangan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Dari sisi internal, kinerja sektor pertambangan terutama sektor migas menghadapi kendala antara lain dengan semakin menurunnya tingkat produksi sumur migas akibat penurunan alamiah. Di sisi lain, tingkat permintaan dan harga komoditas global juga masih belum pulih. Pada 2015, sektor ini menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi pertumbuhan mencapai negatif 5,1 persen. Untuk menyikapi hal tersebut, Pemerintah terus berupaya mendorong investasi pada sektor ini dengan memberikan berbagai fasilitas termasuk insentif pajak. Pertumbuhan sektor pertambangan pada tahun 2016 diharapkan dapat menunjukkan perbaikan dan mampu tumbuh positif sebesar 0,2 persen.
lembaga pembiayaan. Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik sebesar 6,7 persen seiring dengan pembangunan infrastruktur yang mendukung kelancaran distribusi barang.
Pada APBNP tahun 2016 beberapa sektor jasa diperkirakan tetap berkontribusi positif bagi perekonomian. Sektor konstruksi diperkirakan akan tumbuh 7,9 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2015, seiring dengan program percepatan pembangunan infrastruktur yang dicanangkan Pemerintah. Sektor informasi dan komunikasi, serta sektor transportasi dan pergudangan akan terus berkontribusi positif terhadap pertumbuhan. Sektor informasi dan komunikasi diperkirakan tumbuh sebesar 9,2 persen sebagai dampak meningkatnya kebutuhan pelayanan komunikasi dan data. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan juga diperkirakan akan tetap tumbuh tinggi sebesar 7,5 persen sejalan dengan perbaikan dan efisiensi faktor logistik. Sektor jasa keuangan dan asuransi juga diperkirakan tumbuh cukup baik yaitu sebesar 8,0 persen.
2.1.2 Inflasi
Hingga akhir tahun 2015, laju inflasi nasional mencapai 3,35 persen. Relatif rendah dan stabilnya inflasi tersebut didukung oleh rendahnya inflasi komponen Inti (Core inflation) serta terjaganya komponen Harga Diatur Pemerintah (Administered Prices) dan inflasi
Laju inflasi sepanjang tahun 2016 akan terpengaruh oleh perkembangan ekonomi global dan tren pelemahan harga komoditas terutama energi. Sementara itu, dari sisi domestik, pelaksanaan kebijakan pembangunan infrastruktur akan menjadi tumpuan dalam upaya peningkatan produksi serta dukungan konektivitas dan kelancaran arus distribusi. Upaya pengendalian laju inflasi pada tingkat yang rendah dan stabil tersebut memerlukan sinergi yang kuat antara Pemerintah dan BI. Sehingga laju inflasi sepanjang tahun 2016 diperkirakan sebesar 4,0 persen, sesuai dengan sasaran inflasi 4,0±1%, lebih rendah dibandingkan asumsi dalam APBN tahun 2016 yang ditetapkan sebesar 4,7 persen.
2.1.3 Nilai tukar
Pada tahun 2015 nilai tukar rupiah terdepresiasi ke level rata-rata Rp13.392 per dolar AS. Dari sisi eksternal, isu kebijakan kenaikan suku bunga the Fed serta devaluasi yuan oleh Pemerintah Tiongkok menjadi penyebab utama yang berpengaruh terhadap aliran modal yang masuk ke negara-negara emerging market termasuk Indonesia. Hal ini menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar menjadi semakin besar. Dari sisi domestik, beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan terhadap rupiah diantaranya terkait dengan upaya perbaikan kinerja dari transaksi berjalan, serta tren penurunan pertumbuhan ekonomi sebagai imbas perlambatan ekonomi dunia turut memberi tekanan.
Di awal tahun 2016, dinamika rupiah dipengaruhi oleh sentimen pasar terkait dengan suku bunga acuan the Fed, kebijakan suku bunga negatif ECB dan BoJ, relatif rendahnya tingkat inflasi, serta meningkatnya minat investor seiring dengan membaiknya proyeksi perekonomian domestik.
Sementara itu, faktor positif lain dari sisi domestik seperti penurunan suku bunga acuan BI, perbaikan kinerja transaksi berjalan, inflasi yang rendah serta membaiknya perekonomian diharapkan mampu menjaga stabilisasi dan meredam depresiasi nilai tukar rupiah. Namun demikian, pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2016 masih menghadapi beberapa risiko eksternal seperti potensi kenaikan suku bunga the Fed pada semester kedua, pelonggaran likuiditas di kawasan Eropa dan Jepang, serta pengaruh moderasi pasar keuangan Tiongkok.
Dengan mempertimbangkan kondisi terkini dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan, maka nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak pada kisaran Rp13.500 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan asumsi nilai tukar dalam APBN tahun 2016 yang ditetapkan sebesar Rp13.900 per dolar AS.
2.1.4 Tingkat suku bunga SPN 3 bulan
Pada tahun 2015, suku bunga SPN 3 bulan bergerak pada kisaran 6,0 persen. Normalisasi kebijakan moneter dan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed turut menyebabkan berkurangnya aliran modal di pasar keuangan global. Meskipun bank sentral di kawasan Eropa dan Jepang mengambil kebijakan moneter yang cenderung ekspansif, namun preferensi investor untuk menanamkan modal di negara-negara safe haven menyebabkan ketersediaan modal di negara-negara berkembang menjadi lebih terbatas, termasuk Indonesia.
mencapai Rp47,6 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp42,7 triliun. Sementara penurunan suku bunga acuan dimotori oleh kebijakan suku bunga negatif di kawasan Eropa dan Jepang serta mulai stabilnya rupiah di awal tahun.
Ke depan, kinerja SPN 3 bulan masih akan dipengaruhi oleh dinamisnya perekonomian global yang berasal dari efek jangka panjang kebijakan suku bunga negatif yang dilakukan oleh Jepang, moderasi pasar keuangan Tiongkok, serta potensi kenaikan suku bunga the Fed yang diperkirakan terjadi di semester kedua tahun 2016. Sementara itu relatif stabilnya rupiah, penurunan suku bunga acuan BI, inflasi yang terjaga serta membaiknya perekonomian dari sisi domestik diharapkan mampu tetap menarik minat investor.
Dengan berbagai faktor tersebut, intermediasi keuangan diharapkan akan semakin efisien, sehingga suku bunga SPN 3 bulan sepanjang tahun 2016 dipertahankan berada pada kisaran 5,5 persen, setara dengan angka dalam APBN tahun 2016.
2.1.5 Harga Minyak Mentah Indonesia
Setelah mengalami rebound hingga mencapai US$65 per barel pada semester pertama tahun 2015, harga minyak mentah kembali menunjukkan tren penurunan pada semester berikutnya. Penurunan harga minyak global ini dipicu oleh meningkatnya pasokan minyak dunia, baik yang bersumber dari negara-negara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) terutama kawasan Timur Tengah, maupun dari negara Non-OPEC terutama Rusia. Di sisi lain, tingkat permintaan minyak dunia masih menunjukkan tren penurunan seiring dengan perlambatan kinerja ekonomi global serta antisipasi pasar atas persiapan pencabutan sanksi ekonomi Iran. Tren pergerakan harga minyak mentah dunia tersebut berpengaruh besar pada pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang cenderung mengikuti pergerakan harga Brent. Rata rata harga ICP di tahun 2015 menyentuh level US$49,2 per barel. Eropa, serta India. Dari sisi pasokan, baik OPEC maupun EIA, memperkirakan
berada pada kisaran US$35 per barel, seiring dengan moderasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Realisasi harga ICP sampai dengan April tahun 2016 mencapai US$32,0 per barel, turun 39 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, pada tahun 2016, Pemerintah memperkirakan ICP akan berada pada kisaran US$40 per barel, lebih rendah dibandingkan dengan asumsi dalam APBN tahun 2016 yang ditetapkan sebesar US$50 per barel. Namun demikian, Pemerintah perlu mencermati pergerakan harga minyak mentah dunia dengan memperhatikan beberapa faktor risiko yang bersumber pada kondisi geopolitik, alam, dan iklim.
2.1.6
Lifting
Migas
Lifting minyak bumi dan gas bumi menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir akibat penurunan alamiah sumur-sumur migas yang saat ini menjadi sumber produksi andalan. Di sisi lain, investasi baik pengeboran maupun pencarian sumber minyak baru terkendala pada tingginya biaya eksplorasi. Kondisi tersebut juga diperparah oleh tren harga minyak global, termasuk ICP, yang terus menurun. Pada 2015, realisasi lifting minyak bumi hanya mencapai 778 ribu barel per hari atau 94 persen dari target APBNP tahun 2015 yang mencapai 825 ribu barel per hari.
Sementara itu, realisasi lifting gas bumi tahun 2015 juga masih di bawah target yakni hanya mencapai 1.195 ribu barel setara minyak per hari (bsmph), atau 97 persen dari target APBNP
Rata-rata
Jan-14 Mei-14 Sep-14 Jan-15 Mei-15 Sep-15 Jan-16 Mei-16 Sep-16
GRAFIK II.2.5
HARGA MINYAK MENTAH INDONESIA (US$/barel)