TUGAS AKUNTANSI TOPIK KHUSUS
NAMA : ROSI ROSMIATI
NPM : 14.06.1.0099
KELAS : AKUNTANSI C (VI)
Artikel Kasus Toshiba
Jika kita membaca ataupun mencari tahu tentang salah satu perusahaan industri teknologi terbesar didunia pasti Toshiba termaksud kedalamnya, Toshiba sendiri sudah berdiri sejak tahun 1875 yang berarti Toshiba sendiri telah berdiri selama 141 tahun. Toshiba telah mampu mencuri hati masyarakat di seluruh dunia dengan produk yang berkualitas, brand image yang tangguh, dan layanan pelanggan yang excellent. Reputasi yang bagus itu kini hancur berantakan hanya karena pressure yang sangat tinggi untuk memenuhi target performance unit.
Kasus ini bermula atas inisiatif Pemerintahan Perdana Menteri Jepang yaitu Shinzo Abe yang mendorong transparansi yang lebih besar di perusahaan-perusahaan Jepang untuk menarik lebih banyak investasi asing. Atas saran pemerintah tersebut, Toshiba menyewa panelis independen yang terdiri dari para akuntan dan pengacara untuk menyelidiki masalah transparansi di Perusahaannya. Betapa mengejutkannya bahwa dalam laporan 300 halaman yang diterbitkan panel independen tersebut mengatakan bahwa tiga direksi telah berperan aktif dalam menggelembungkan laba usaha Toshiba sebesar ¥151,8 miliar (setara dengan Rp 15,85 triliun / US$ 1,2 miliar) sejak tahun 2008.
Panel yang dipimpin oleh mantan jaksa top di Jepang itu, mengatakan bahwa eksekutif perusahaan telah menekan unit bisnis perusahaan, mulai dari unit personal computer sampai ke unit semikonduktor dan reaktor nuklir untuk mencapai target laba yang tidak realistis. Manajemen biasanya mengeluarkan tantangan target yang besar itu sebelum akhir kuartal/tahun fiskal. Hal ini mendorong kepala unit bisnis untuk menggoreng catatan akuntansinya. Laporan itu juga mengatakan bahwa penyalahgunaan prosedur akuntansi secara terus-menerus dilakukan sebagai kebijakan resmi dari manajemen, dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk melawannya, sesuai dengan budaya perusahaan Toshiba.
Akibat laporan ini CEO Toshiba, Hisao Tanaka, mengundurkan diri, disusul keesokan harinya pengunduran diri wakil CEO Toshiba, Norio Sasaki. Selain itu Atsutoshi Nishida, chief executive dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 yang sekarang menjadi penasihat Toshiba juga mengundurkan diri, total ada delapan pejabat Toshiba mengundurkan diri. Panel tersebut mengatakan bahwa Tanaka dan Sasaki tidak mungkin tidak tahu atas praktik penggorengan laporan keuangan ini. Saham Toshiba turun sekitar 20% sejak awal April 2015 ketika isu akuntansi ini terungkap. Nilai pasar perusahaan ini hilang sekitar ¥ 1,67 triliun (setara dengan RP174 triliun).
Menteri Keuangan Jepang, Taro Aso mengatakan, penyimpangan pembukuan di Toshiba sangat disesalkan. Pasalnya skandal tersebut terjadi pada saat Perdana Menteri Shinzo Abe sedang mencoba untuk mendapatkan kembali kepercayaan investor global dengan pedoman tata kelola perusahaan yang lebih baik. Aso menolak berkomentar ketika ditanya apakah Toshiba akan menghadapi denda.
Salah seorang narasumber mengatakan regulator mulai melihat pembukuan Toshiba.
Analisis kasus kecurangan akuntansi yang dilakukan oleh Toshiba bekaitan dengan prinsip GCG (Good Coorporate Governance)
1. Transparency (Transparansi/Keterbukaan Informasi)
Transparency dapat diartikan juga sebagai keterbukaan informasi. Dalam mewujudkan prinsip ini, suatu perusahan dituntut untuk menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu kepada para stakeholders-nya.
Apabila dikaitkan dengan kasus diatas, perusahaan Toshiba sangat tidak menerapkan prinsip transparency ini. Karena Toshiba telah memanipulasi informasi perusahaan kepada para stakeholders terutama mengenai informasi laporan keuangan, yang mana dalam kasus tersebut Toshiba telah memalsukan angka laba perusahaan dengan tujuan agar para investor tertarik atas performance unit yang ada di perusahaan dan dapat meningkatkan investasi perusahaan. Toshiba secara terus-menerus melakukan penyalahgunaan dalam prosedur pencatatan akuntansi yang sangat disayangkan menjadi budaya dalam perusahaan tersebut.
2. Accountability (Akuntabiitas)
Accountability atau akuntabilitas merupakan kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara efektif, maka akan terdapat kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban dan wewenang serta tanggungjawab antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan direksi perusahaan. Dewan direksi bertanggungjawab atas keberhasilan
pengelolaan perusahaan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh pemegang saham. Dewan komisaris bertanggungjawab atas keberhasilan pengawasan dan wajib memberikan nasehat kepada direksi atas pengelolaan perusahaan. Dan pemegang saham bertanggungjawab atas keberhasilan pembinaan dalam ramgka pengelolaan perusahaan.
Sedangkan dalam kasus Toshiba, telah kita ketahui bahwa dewan direksi perusahaan tersebut diantaranya yaitu CEO perusahaan Toshiba, Hisao Tanaka dan wakil CEO Toshiba, Norio Sasaki telah mengundurkan diri dari jabatannya atas kasus praktik penggorengan laporan keuangan pada perusahaan. Selain itu Chief Executive yang menjadi penasehat Toshiba juga telah mengundurkan diri, sehingga total ada delapan pejabat Toshiba yang mengundurkan diri.
Dapat dikatakan bahwa para pejabat tersebut dalam masa kerjanya di perusahaan Toshiba sangat tidak bertanggungjawab kepada pemegang saham. Mereka tidak mungkin tidak mengetahui tentang kasus manipulasi laporan keuangan yang terjadi di perusahaan. Hanya untuk membuat nilai perusahaan baik dilihat dari laba yang besar, para pejabat Toshiba tersebut malah membuat kehancuran pada perusahaan.
3. Responsbility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban atau responsbility dalam hal ini adalah kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, diantaranya masalah pajak, hubungan industrial, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Dengan menerapkan prinsip ini perusahaan dapat disadarkan bahwa
dalam kegiatan operasionalnya perusahaan juga mempunyai peran untuk bertanggungjawab kepada shareholder dan kepada stakeholders-nya.
Dalam kasus ini, perusahaan Toshiba telah melanggar prinsip pertanggungjawaban dengan memanipulasi laporan keuangannya yang menjadi informasi bagi para shareholder dan stakeholders. Bila saja tidak ada inisiatif dari Pemerintahan Perdana Menteri Jepang yang mendorong transparansi bagi perusahaan-perusahaan Jepang, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kasus ini bisa saja tidak terkuak ke publik.
4. Independency (Kemandirian)
Prinsip kemandirian mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Tersirat dengan prinsip ini bahwa pengelola perusahaan harus tetap memberikan pengakuan terhadap hak-hak stakeholders yang ditentukan dalam peraturan pemerintah atau peraturan perusahaan.
Dalam kasus Toshiba, sudah sangat kentara bahwa perusahaan melakukan manipulasi laporan keuangan demi mencapai target laba yang besar yang dikeluarkan sebagai tantangan oleh manajemen kepada unit bisnis perusahaan. Dalam proses untuk mencapai target laba yang tidak realisitis tersebut, setiap unit bisnis perusahaan melakukan penggorengan catatan akuntansi yang secara kasarmya hal ini telah menipu para stakeholders dan tentunya melanggar hak stakeholders untuk mengetahui keadaan atau informasi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
5. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)
Fairness menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak stakeholders sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Prinsip ini diharapkan dapat menjadi faktor pendorong yang dapat memonitor dan memberikan jaminan perlakuan yang adil diantara beragam kepentingan dalam perusahaan. Pemberlakuan prinsip ini di perusahaan akan melarang praktek-praktek tercela yang dilakukan oleh orang dalam yang merugikan pihak lain.
Dari penjelasan diatas, sudah dapat dipastikan bahwa Toshiba tidak memberlakukan adanya prinsip kesetaraan dan kewajaran atau fairness dalam perusahaannya. Dalam hal ini, Toshiba telah melakukan praktek tercela yaitu dengan memanipulasi informasi laporan keuangan yang diantaranya unit bisnis perusahaan membuat target laba yang tidak realistis untuk menarik perhatian investor. Tentu saja hal tersebut sangat merugikan bagi para stakeholders di perusahaan Toshiba. Perusahaan Toshiba telah membohingi dirinya sendiri dan para stakeholders yang juga telah mengakibatkan pamor perusahaan dan saham perusahaan menurun.
Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai lima prinsip GCG diatas, dapat disimpulkan bahwa perusahaan Toshiba tidak memiliki sistem tata kelola perusahaan yang baik. Toshiba tidak menerapkan dan telah melanggar prinsip-prinsip GCG tersebut dan hal itu mengakibatkan perusahaan menjadi turun nilainya bahkan perusahaan terancam untuk mendapat sanksi atas pelanggaran yang telah dilakukan. Padahal apabila Toshiba menerapkn prinsip GCG, perusahaan akan berjalan dengan baik
dalam kegiatan operasionalnya dan hal itu juga dapat meningkatkan inerja perusahaan dalam menjalankan bisnis yang baik.
Sumber :
http://yanuarto-berbagi.blogspot.co.id/2012/02/5-lima-prinsip-gcg.html?m=1 https://adnestantiabenedith.wordpress.com/2016/10/12/kasus-pelanggaran-kode-etik-akuntansi-perusahaan-toshiba/