III. METODE PENELITIAN
3.1. Populasi dan Contoh
Obyek yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah petani peserta kemitraan dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan dengan PT. Xylo Indah Pratama di Kabupaten Musi Rawas yang melingkupi 9 (sembilan) desa pad a 3 (tiga) kecamatan, yaitu kecamatan BTS Ulu (meliputi desa SP 9 Bangun Jaya, SP 5 Suka Makmur dan SP 7 Kota Baru), Kecamatan Muara Kelingi (meliputi desa Beliti 3 E, Lubuk Tua dan desa Remayu) dan Kecamatan Jayaloka (meliputi desa Ngestiboga I, Ciptodadi dan desa Sidodadi).
Pengambilan contoh dalam penelitian ini menggunakan Pengambilan Contoh Tiga Tingkat (three stage sampling ). Satuan contoh tingkat pertama adalah kecamatan, satuan contoh kedua adalah desa dan satuan contoh ketiga adalah rumah tangga peserta hutan rakyat pola kemitraan. Penentuan kecamatan dan desa terpilih dilakukan secara purposive sampling atau contoh yang diarahkan dengan memperhatikan beberapa kriteria.
(1) Tingkat kecamatan; Pada satuan contoh tingkat pertama, dari 6 (enam) Kecamatan di Kabupaten Musi Rawas yang menjadi lokasi kegiatan hutan rakyat pola kemitraan diambil 3 (tiga) kecamatan terpilih dengan memperhatikan luasan lahan milik petani yang dikelola dengan hutan rakyat pola kemitraan Kecamatan yang terpilih adalah kecamatan yang memiliki keseluruhan luas lahan milik petani yang dikelola dengan hutan rakyat pola kemitraan yang terluas. Kecamatan terpilih ini adalah Kecamatan BTS Ulu, Kecamatan Muara Kelingi dan Kecamatan Jayaloka.
(2) Tingkat desa; Satuan contoh tingkat kedua diambil 3 (tiga) desa yang masing-masing berada di tiga kecamatan terpilih. Penentuan desa contoh berdasarkan kriteria jumlah petani yang menjadi peserta hutan rakyat pola kemitraan. Desa yang terpilih adalah desa yang memiliki jumlah petani peserta hutan rakyat pola kemitraan yang paling banyak. Berdasarkan kriteria penentuan desa terpilih, dari 6 desa di kecamatan BTS Ulu diambil 3 desa terpilih yaitu desa SP 9 Bangun Jaya, SP 5 Suka Makmur dan SP 7
▸ Baca selengkapnya: contoh metode modular
(2)Kota Baru, di kecamatan Muara Kelingi diambil 3 desa terpilih yaitu desa Beliti 3 E, Lubuk Tua dan desa Remayu, dari 5 desa di Kecamatan Jayaloka dipilih 3 desa yaitu desa Ngestiboga I, Ciptodadi dan desa Sidodadi.
(3) Untuk pengambilan contoh tingkat tiga, menurut Arikunto (2000), apabila jumlah populasi lebih dari 100 atau besar, jumlah contoh yang dapat diambil adalah 10 – 15 % dari populasi tersebut, maka jumlah petani contoh (responden) dalam penelitian ini adalah sebesar 15 % dari keseluruhan jumlah petani peserta hutan rakyat pola kemitraan dari desa-desa terpilih. Penentuan jumlah petani contoh untuk masing-masing desa terpilih proporsional dengan masing-masing jumlah petani peserta pada desa-desa terpilih tersebut. Sedangkan penentuan petani peserta hutan rakyat pola kemitraan yang dijadikan contoh dipilih secara acak (random).
Jumlah populasi dari 9 desa terpilih berjumlah 968 orang yang terinci desa SP 9 Bangun Jaya 112 orang, SP 5 Suka Makmur 75 orang, SP 7 Kota Baru 66 orang, desa Beliti 3 E 297 orang, desa Lubuk Tua 178 orang, desa Remayu 13 orang, Ngestiboga I 169 orang , desa Ciptodadi 30 dan desa Sidodadi 28 orang .
Jumlah contoh yang diambil dari 968 orang populasi adalah 149 orang yang meliputi desa SP 9 Bangun Jaya 17 orang, SP 5 Suka Makmur 12 orang, SP 7 Kota Baru 10 orang, desa Beliti 3 E 45 orang, desa Lubuk Tua 27 orang, desa Remayu 2 orang, Ngestiboga I 26 orang , desa Ciptodadi 5 dan desa Sidodadi 5 orang .
3.2. Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang ditunjang dengan penelitian pustaka. Dengan demikian terd apat 2 (dua) jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dari hasil pengamatan di lapangan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara langsung dengan petani hutan rakyat sebagai responden dengan berpedoman pada kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
Data sekunder dikumpulkan dengan teknik pencatatan dokumen pada instansi-instansi terkait seperti Dinas Kehutanan, Pemerintah Daerah, Perusahaan atau hasil penelitian/laporan diantaranya adalah data tentang luas wilayah, kependudukan, realisasi dan sebaran hutan rakyat, petani hutan rakyat dan lain -lain
3.3. Batasan Operasional
Untuk menghindarkan adanya kesimpang siuran pengertian terhadap variabel yang akan dipelajari dalam penelitian ini, berikut ini disampaikan batasan operasional dan pengertian dari variabel-variabel tersebut :
(1) Persepsi, adalah Penilaian dan pandangan masyarakat petani terhadap kegiatan pembangunan hutan rakyat pola kemitraan oleh PT. Xylo Indah Pratama, diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :
(a) Penilaian terhadap lahan yang dimanfaatkan untuk hutan rakyat (b) Penilaian terhadap manfaat hutan rakyat
(c) Penilaian terhadap jenis tanamann hutan rakyat (d) Penilaian terhadap pola kemitraanhutan rakyat
Pertanyaan masing-masing penilaian berjumlah 4 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka masing-masing penilaian mempunyai skor terendah (4) dan skor tertinggi (12) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori berikut :
a. Lebih dari 9 (tinggi ) b. Antara 7 – 9 (sedang) c. Kurang dari 7 (rendah)
Sedangkan untuk nilai tingkat persepsi secara keseluruhan dilakukan dengan menjumlahkan 16 item pertanyaan, sehingga diperoleh skor terendah (16) dan skor tertinggi (48) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 37 (tinggi ) b. Antara 26 – 37 (sedang) c. Kurang dari 26 (rendah)
(2) Partisipasi, adalah peran serta atau keikutsertaan masyarakat/petani dalam kegiatan pembangunan hutan rakyat pola kemitraan yang dilaksanakan oleh PT. Xylo Indah Pratama, diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :
(a) Partisipasi dalam kegiatan perencanaan
(b) Partisipasi dalam aktivitas kelompok tani hutan rakyat
(c) Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharan dan pelatihan hutan rakyat
(d) Partisipasi dalam pengamanan, evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil Pertanyaan partisipasi pada masing -masing tahap kegiatan berjumlah 4 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka partisipasi pada masing-masing tahap kegiatan mempunyai skor terendah (4) dan skor tertinggi (12) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori berikut :
a. Lebih dari 9 (tinggi ) b. Antara 7 – 9 (sedang) c. Kurang dari 7 (rend ah)
Sedangkan untuk nilai tingkat partisipasi secara keseluruhan dilakukan dengan menjumlahkan 16 item pertanyaan dan dengan indeks skor jenjang 3, maka diperoleh skor terendah (16) dan skor tertinggi (48) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebag ai berikut :
a. Lebih dari 37 (tinggi ) b. Antara 26 – 37 (sedang) c. Kurang dari 26 (rendah)
(3) Umur, adalah usia responden pada saat penilaian dilakukan. Umur diukur dalam satuan tahun yang dihitung dari hari kelahiran dan dibulatkan ke hari ulang tahun terdekat, dengan kategori sebagai berikut :
a. Antara 15 – 49 tahun (Umur Produktif / Tinggi)
b. Antara 50 – 65 tahun (Umur Kurang Produktif / Sedang) c. Lebih dari 65 tahun (Umur Tidak Produktif / Rendah)
Berdasarkan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (1) dan skor tertinggi (3) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. 3 (tinggi) b. 2 (sedang) c. 1 (rendah)
(4) Pendidikan, adalah tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti responden, diukur dengan kategori sebagai berikut:
a. Lebih dari 9 tahun (tamat SLTA / tinggi)
b. Antara 6 - 9 tahun (tamat SLTP atau tamat SD / sedang) c. Kurang dari 6 tahun (tidak tamat SD / rendah)
Berdasarkan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (1) dan skor tertinggi (3) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. 3 (tinggi) b. 2 (sedang) c. 1 (rendah)
(5) Penyuluhan, adalah kegiatan pembinaan dan penyampaian informasi yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan / Perusahaan (PT. Xylo Indah Pratama) yang bertujuan untuk mengubah pengetahuan, sikap dan pandangan masyarakat, diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang : (a) Intensitas kegiatan penyuluhan
(b) Kesesuaian materi penyuluhan dengan kegiatan hutan rakyat kemitraan (c) Kesesuaian metode penyuluhan dengan latar belakang masyarakat Dengan pertanyaan berjumlah 9 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (9) dan skor tertinggi (27) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 21 (tinggi ) b. Antara 15 – 21 (sedang) c. Kurang dari 15 (rendah)
(6) Pengalaman, adalah pengalaman responden yang berhubungan dengan kegiatan pembangunan hutan rakyat, diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :
(a) Pengalaman dengan kegiatan hutan rakyat
(b) Kesesuaian pengelolaan hutan rakyat dengan latar belakang masyarakat (c) Wawasan atau pengetahuan tentang hutan rakyat
Dengan pertanyaan berjumlah 4 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (4) dan skor tertinggi (12) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 9 (tinggi ) b. Antara 7 – 9 (sedang) c. Kurang dari 7 (rendah)
(7) Ekonomi, adalah keadaan ekonomi dari responden, diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :
(a) Besarnya penghasilan yang berasal dari kegiatan hutan rakyat dan non hutan rakyat
(b) Luas lahan yang dimiliki dan yang dipergunakan untuk hutan rakyat (c) Kondisi rumah yang ditempati oleh responden
Dengan pertanyaan berjumlah 4 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (4) dan skor tertinggi (12) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 9 (tinggi ) b. Antara 7 – 9 (sedang) c. Kurang dari 7 (rendah)
(8) Pemahaman program, adalah pemahaman responden tentang dasar dan tujuan kegiatan pembangunan hutan rakyat dengan pola kemitraan yang dilaksanakan oleh PT. Xylo Indah Pratama di Kabupaten Musi Rawas. Dengan pertanyaan berjumlah 6 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (6) dan skor tertinggi (18) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 14 (tinggi ) b. Antara 10 – 14 (sedang) c. Kurang dari 10 (rendah)
(9) Kelembagaan Hutan Rakyat, adalah keberadaan dan peranan kelompok tani hutan rakyat diukur berdasarkan jumlah skor dari item pertanyaan tentang :
(a) Penilaian terhadap keberadaan kelompok tani hutan rakyat (b) Penilaian terhadap manfaat adanya kelompok tani hutan rakyat (c) Penilaian terhadap perlunya keterlib atan dalam kelompok tani
Dengan pertanyaan berjumlah 8 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (8) dan skor tertinggi (24) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 18 (tinggi ) b. Antara 13 – 18 (sedang) c. Kurang dari 13 (rendah)
(10) Tokoh Masyarakat, adalah keterlibatan tokoh masyarakat dalam kegiatan pembangunan hutan rakyat dengan pola kemitraan diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :
(a) Keberadaan perangkat desa / tokoh masyarakat sebagai panutan bagi masyarakat
(b) Aktivitas perangkat desa / tokoh masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat
Dengan pertanyaan berjumlah 5 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (5) dan skor tertinggi (15) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 11 (tinggi ) b. Antara 8 – 11 (sedang) c. Kurang dari 8 (rendah)
(11) Hak dan Kewajiban, adalah pengetahuan dan kejelasan responden terhadap hak dan kewajiban yang tertuang dalam perjanjian kerja dengan perusahaan mitra dalam pengelolaan hutan rakyat, diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :
(a) Pemahaman tentang kejelasan hak dan kewajiban dalam kontrak kerja (b) Pemahaman tentang batas-batas kewenangan
(c) Pemahaman isi perjanjian kerjasama menguntungkan kedua belah pihak Dengan pertanyaan berjumlah 5 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (5) dan skor tertinggi (15) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 11 (tinggi ) b. Antara 8 – 11 (sedang) c. Kurang dari 8 (rendah)
(12) Kebijakan Pemerintah, adalah pemahaman responden yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah dalam pengelolaaan hutan rakyat diukur berdasarkan jumlah skor dari item pertanyaan tentang :
(a) Pemahaman bahwa pembangunan hutan rakyat merupakan program pemerintah
(b) Pemahaman bahwa keberhasilan pembangunan hutan rakyat tergantung pada partisipasi masyarakat
(c) Pemahaman bahwa pembangunan hutan rakyat bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat
(d) Pemahaman tentang keberadaan dan peran pemerintah dalam pengelolaan hutan rakyat.
Dengan pertanyaan berjumlah 5 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (5) dan skor tertinggi (15) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 11 (tinggi ) b. Antara 8 – 11 (sedang) c. Kurang dari 8 (rendah)
(13) Keaktifan, adalah keaktifan responden dalam mencari informasi yang terkait dengan kehutanan, khususnya hutan rakyat, di luar sistem sosial dalam satu tahun terakhir diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :
(a) Frekuensi kunjungan ke luar daerah (b) Frekuensi kontak dengan sumber informasi
(c) Frekuensi membaca dan mendengar informasi media (d) Frekuensi mengikuti pertemuan
(e) Frekuensi kehad iran terhadap undangan pelatihan/kursus hutan rakyat Dengan pertanyaan berjumlah 6 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (6) dan skor tertinggi (18) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. Lebih dari 14 (tinggi ) b. Antara 10 – 14 (sedang) c. Kurang dari 10 (rendah)
(14) Status Sosial, adalah kedudukan responden dalam struktur sosial kemasyarakatan diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang : (a) Kedududkan dalam organisasi sosial kemasyarakatan
(b) Kedudukan dalam struktur organisasi dalam masyarakat
Dengan pertanyaan berjumlah 2 buah item dan dengan indeks skor jenjang 3, maka skor terendah (2) dan skor tertinggi (6) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
a. > 4 (tinggi ) b. 4 (sedang) c. < 4 (rendah) 3.4. Analisis Data
Data yang diperoleh selanjutnya diolah dan dianalisis, baik secara statistik (menggunakan analisis regresi) maupun deskriptif untuk mengetahui hubungan atau keterkaitan antara variab el yang satu dengan yang lain untuk mengetahui
persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan hutan rakyat pola kemitraan dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan partisipasi tersebut.
(1) Persepsi Masyarakat terhadap Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan
Dalam penilaian tinggi rendahnya persepsi masyarakat terhadap pembangunan hutan rakyat pola kemitraan, untuk mengetahuinya dipergunakan indikator:
(a) Penilaian masyarakat terhadap lahan yang dimanfaatkan untuk hutan rakyat (b) Penilaian masyarakat terhadap manfaat hutan rakyat
(c) Penilaian masyarakat terhadap jenis tanaman hutan rakyat (d) Penilaian masyarakat terhadap pola kemitraan hutan rakyat
Masing -masing indikator tersebut dituangkan dalam 4 item pertanyaan sehingga untuk penilaian persepsi menggunakan 16 item pertanyaan dan setiap item pertanyaan mempunyai 3 alternatif jawaban yang diberi nilai 1 sampai dengan 3. Atas dasar itu maka nilai yang menggambarkan tentang persepsi setiap responden berkisar antara 16 dan 48. Nilai 16 merupakan nilai yang terendah dan nilai 48 merupakan nilai tertinggi, selanjutnya nilai persepsi dikelompokkan dalam 3 kategori sebagai berikut :
(a) Persepsi tinggi, apabila jumlah nilai Lebih dari 37 (b) Persepsi sedang, apabila jumlah nilai antara 26 – 37 (c) Persepsi rendah, apabila jumlah nilai kurang dari 26
Nilai rata-rata persepsi diperoleh dengan menjumlahkan total nilai persepsi dari responden dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang, sedangkan nilai rata-rata penilaian petani apabila lahannya dipakai untuk hutan rakyat, penilaian masyarakat terhadap manfaat hutan rakyat, penilaian masyarakat terhadap jenis tanaman untuk hutan rakyat dan penilaian masyarakat terhadap pola kemitraan hutan rakyat diperoleh dengan menjumlahkan masing-masing penilaian dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang.
(2) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat
Dalam pembahasan persepsi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel tidak bebas (dependent variable). Sebagai variabel bebas adalah : (a) Umur ( X1.1 ) (b) Pendidikan ( X1.2 ) (c) Penyuluhan ( X1.3 ) (d) Pengalaman ( X1.4) (e) Ekonomi ( X1.5 ) (f) Pemahaman Program
(
X1.6 )Sedangkan variabel tidak bebasnya adalah persepsi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan ( Y1 ).
Untuk mengukur variabel penelitian dipergunakan skala ordinal. Dengan skala ordinal dapat diperoleh perbedaan nilai dan tingkatan variabel yang berurutan. Melalui daftar pertanyaan dapat dilakukan pengukuran variabel, khususnya bagi pertanyaan tertutup atau pertanyaan yang telah disediakan jawabannya. Penentuan skor digunakan skala Likert dengan kriteria 3, 2 dan 1 (Malo 1986). Skala ini berfungsi mempermudah dalam analisis statistik.
Sedangkan untuk mengetah ui hubungan atau pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dilakukan dengan menggunakan analisis regresi dengan model fungsi persepsi petani hutan rakyat sebagai berikut :
Dimana :
Y
1= Persepsi Petani
X
1.1 = UmurX
1.2 = PendidikanX
1.3 = PenyuluhanX
1.4 = PengalamanY
1= f ( X
1.1, X
1.2, X
1.3, X
1.4, X
1.5, X
1.6,)
X
1.5 = EkonomiX
1.6 = Pemahaman programKemudian dilanjutkan dengan uji F dan uji t. Uji F dipergunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas. Sedangkan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas secara sendiri-sendiri dipergunakan uji t.
(3) Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan
Dalam penilaian tinggi rendahnya partisipasi masyarakat terhadap pembangunan hutan rakyat pola kemitraan, untuk mengetahuinya dipergunakan indikator pertanyaan keterlibatannya pada kegiatan :
(a) Partisipasi dalam kegiatan perencanaan
(b) Partisipasi dalam aktivitas kelompok tani hutan rakyat
(c) Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharan dan pelatihan hutan rakyat
(d) Partisipasi dalam pengamanan, evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil Masing -masing indikator tersebut dituangkan dalam 4 item pertanyaan sehingga untuk penilaian tingkat partisipasi menggunakan 16 item pertanyaan dan setiap item pertanyaan mempunyai 3 alternatif jawaban yang diberi nilai 1 sampai dengan 3. Atas dasar itu maka nilai yang menggambarkan tentang partisipasi setiap responden berkisar antara 16 dan 48. Nilai 16 merupakan nilai yang terendah dan nilai 48 merupakan nilai tertinggi dan dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :
(a) Partisipasi tinggi, apabila jumlah nilai Lebih dari 37 (b) Partisipasi sedang, apabila jumlah nilai antara 26 – 37 (c) Partisipasi rendah, apabila jumlah nilai kurang dari 26
Nilai rata-rata partisipasi diperoleh dengan menjumlahkan total nilai partisipasi dari responden kemudian dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang, sedangkan nilai rata-rata partisipasi setiap kegiatan yaitu partisipasi dalam keg iatan perencanaan, partisipasi dalam aktivitas kelompok tani hutan
rakyat, partisipasi dalam tahap pelaksanaan dan partisipasi dalam pengamanan, evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil diperoleh dengan menjumlahkan masing-masing penilaian dan dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang. (4) Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Partisipasi Masyarakat
Sebagai mana dalam pembahasan persepsi, dalam pembahasan partisipasi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel tidak bebas (dependent variable).
Sebagai variabel bebas adalah : (a) Persepsi Petani ( X2.1 )
(b) Kelembagaan Hutan Rakyat ( X2.2 ) (c) Tokoh Masyarakat
(
X2.3 )(d) Hak dan Kewajiban
(
X2.4 ) (e) Kebijakan Pemerintah(
X2.5 ) (f) Keaktifan(
X2.6 )(g) Status Sosial
(
X2.7 )Sedangkan variabel tidak bebasnya adalah Partisipasi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan ( Y2 ).
Variabel dalam penelitian dipergunakan skala ordinal. Dengan skala ordinal dapat diperoleh perbedaan nilai dan tingkatan variabel yang berurutan. Melalui daftar pertanyaan dapat dilakukan pengukuran variabel, khususnya bagi pertanyaan tertutup atau pertanyaan yang telah disediakan jawabannya. Penentuan skor digunakan skala Likert dengan kriteria 3, 2 dan 1 (Malo 1986). Skala ini berfungsi mempermudah dalam analisis statistik.
Sedangkan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dilakukan dengan menggunakan analisis regresi dengan model fungsi partisipasi petani hutan rakyat sebagai berikut :
Dimana :
Y2 = Partisipasi Petani
X
2.1 = Persepsi PetaniX
2.2 = Kelembagaan Hutan RakyatX
2.3 = Tokoh MasyarakatX
2.4 = Hak dan KewajibanX
2.5 = Kebijakan PemerintahX
2.6 = KeaktifanX
2.7 = Status SosialKemudian dilanjutkan dengan uji F dan uji t. Uji F dipergunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas. Sedangkan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas secara sendiri-sendiri dipergunakan uji t.