• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pincara Makalah Geomagnet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pincara Makalah Geomagnet"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENYELIDIKAN GEOMAGNETIK

DI DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG DI DESA PINCARA KECAMATAN MASAMBA KABUPATEN LUWU UTARA

PROPINSI SULAWESI SELATAN

Oleh : Imanuel Musa Foeh, Lilirk Rihardiana Rosli

SARI

Lokasi daerah penelitian secara geografis terletak pada koordinat utm antara 200000 mE – 214000 mE dan 9728000 mN – 9714000 mN , secara administrasip termasuk kedalam wilayah daerah kecamatan Masamba, terletak 10 km dari Ibu Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara kearah Utara atau Timurlaut.

Luas lokasi daerah penelitian 12 x 14 km, di Utara di batasi oleh Desa Salu Tolombo, di Selatan di batasi oleh Desa Tondoktua,, di Baratlaut di batasi oleh Desa Balakala ,di Barat di batasi oleh Desa Buttu Tariwan dan di Timurlaut di batasi oleh Desa Kalukum. Sedangkan dibagian tengah daerah penelitian meliputi Desa Pincara,Desa Karawak, Desa Taliasa,Desa Sepakat, Desa Lantang Talang dan Desa Kaluku.

Pendataan intenitas magnet dilakukan dengan menggunakan 2 set perangkat magnetometer tipe G-856 dengan keteltian 0.1 nT (gamma). Satu alat dipergunakan untuk pengambilan data lapangan dan satu alat lainnya dipergunakan untuk pengambilan data variasi harian.

Pengamatan cara magnet ditekankan pada daerah batuan intrusi-terobosan ( batuan granit , granodiorit dan andesit ) yang mempunyai kandungan magnetitnya rendah sampai tinggi, sehingga efektivitas metoda ini bergantung pada kontras magnetik di bawah permukaan. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah untuk mendapatkan informasi geologi bawah permukaan dan struktur yang berkaitan dengan panas bumi dan sekaligus melokalisir daerah anomali magnetik rendah akibat adanya batuan yang telah mengalami demagnetisasi, karena panas sangat terkait dalam alterasi hidrothermal. Dari hasil penelitian magnet diperoleh nilai anomali kemagnitan negatip dan positip yang cukup bervariasi anomali negatip berkisar antara - 10 nT sampai dengan - 462 nT dan anomali positip berkisar antara + 14 nT sampai dengan + 445 nT. Dari hasil penafsiran data magnet yang digambarkan dalam bentuk profil anomali magnet dan Peta anomali magnet total diperoleh tiga kelompok anomali magnet yaitu anomali magnet > 50 nT ditafsirkan sebagai batuan bersifat kemagnitan tinggi,anomali magnet 0 – 50 nT ditafsirkan sebagai batuan bersifat sedang dan anomali magnet < - 0 nT, ditafsikan sebagai batuan yang bersifat nonmagnetik ,diperkirakan batuannya telah mengalami demagnetisasi akibat panas dan di duga mempunyai kaitan dengan munculnya manifestasi di daerah Pincara.

1. PENDAHULUAN

Penelitian magnet yang dilakukan di daerah panas bumi di Desa Pincara, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Penelitian cara magnet ditekankan pada daerah batuan intrusi – terobosan ( granit/granodiorit dan batuan breksi -andesit ) yang secara geologi di perkirakan batuannya berumur Paleosen sampai Miosen Atas . Sedangkan sasaran utama dari penelitian magnetik adalah untuk mendapatkan data geologi bawah permukaan, struktur sesar yang

(2)

yang digunakan sebagai dasar perhitungan data anomali magnet di daerah penelitian.

I.1. Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian dengan metoda magnet adalah untuk mengetahui variasi susceptibilitas magnetik batuan bawah permukaan. Dan tujuannya adalah untuk mengeinventarisasi potensi panas bumi, menentukan prospek atau tidaknya daerah penelitian tersebut berdasarkan data geomagnetik

Penetrapan metoda magnet ini dalam eksplorasi panas bumi dapat digunakan untuk mendeteksi adanya zone-zone demagnetisasi batuan akibat alterasi hidrothermal, stuktur geologi, seperti intrusi dan sesar, yang mempunyai kaitan dengan manifestasi panas bumi ( mata air panas) di daerah Kanan Tedong Pincara.

I.2. Lokasi Daerah Penelitian

Lokasi daerah penelitian panas bumi Kanan Tedong terletak di Desa Pincara, secara utm, terletak pada posisi antara 200000 mE – 214000 mE dan 9728000 mN – 9714000 mN. Sedangkan secara administratip termasuk wilayah daerah panas bumi Kanan Tedong di Desa Pincara, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Kurang lebih 10 km dari Ibu kota Kabupaten Masamba kearah Utara - Timurlaut. Dengan luas areal penelitian kurang lebih 12 Km x 14 Km .

I.3. Geomorfologi , Geologi dan Struktur

1.3.1. Geomorfologi

Dari peta topografi daerah penelitian dapat dibagi menjadi 3 satuan morfologi , morfologi

perbukitan dengan ketinggian lebih dari 200 meter diatas permukaan laut terletak dibagianTimurlaut-Timur dan Sebagian dibagian Baratlaut. Morfologi perbukitan bergelombang dengan ketinggian 100 meter – 200 meter yang terlihat dibagian Tengah dan Barat dan morfologi pedataran dengan ketinngian 0 meter - 100 meter yang terlihat di bagian Tengah dan Selatan daerah penelitian.

I.3.2. Geologi Umum

Berdasarkan peta geologi lembar Malili ( Simanjuntak, dkk,1991) , sekala 1 : 250.000, geologi umum daerah penelitian dapat dibagi kedalam 5 satuan formasi yaitu : Formasi Latimojong ( Kls), batuannya terdiri dari batusabak,filit,kuarsit,batugamping dan batulanau dengan sisipan konglomerat. Satuan batuan gunungapi Lamas(Tplv) batuannya terdiri dari lava,basalt breksi gunungapi ,tufa dan andesit. Formasi Bonebone (Tmpb)

batuannnya terdiri dari batupasir,konglomerat,napal dan lempung

tufaan. Granit Kambuno (Tpkg) batuaanya terdiri dari granit,granodiorit dan sekis ( batuan terobosan Granit,granodiorit) dan batuan Alluvium (Qal) terdiri dari lumpur,lempung,pasir,kerikil dan kerakal.

Dari hasil pengamatan lapangan (geologi ringkas) daerah penelitian secara garis besar batuannya terdiri dari , batuan sedimen , alluvium, granit, granodiorit,diorit, batuan lava , breksi dan andesit.

Batuan intrusi berupa granit dan granodiorit ( berumur miosen atas) dan batuan lava, breksi dan andesit ( berumur paleosen).

Sedangkan dari hasil pengamatan geologi lapangan batuan didaerah penelitian didominasi oleh batuan granit dan granodiorit ( batuan granitik), batuan lava, batuan breksi, batuan sedimen dan satuan batuan aluvium yang menempati bagian selatan daerah penelitian.

1.3.3. Struktur

(3)

muncul kepermukaan terdapat pada batuan granit,granodiorit dan andesit, dengan haraga kemagnitan rendah sampai tinggi dan mempunyai suhu kurang lebih 85 Celsius.

1.3.4. Teori Dasar

Penelitian magnet adalah pengukuran intensitas dari medan magnetik bumi, sedangkan anomali yang didapat adalah merupakan hasil dari distorsi pada medan magnetik yang di akibatkan oleh material magnetik dari kerak bumi. Intensitas dari anomali induksi sangat tergantung pada kerentanan batuan ( susceptibilitas) magnetik dan magnetisasi medan magnit. Anomali magnit yang dihasilkan tergantung pada geometri dan sifat-sifat magnetik dari batuan dan arah dari intensitas medan magnetik bumi.

Pengukuran kerentanan magnit (susceptibilitas) batuan merupakan ukuran kemampuan dari suatu batuan untuk mengetahui kandungan magnetisasi didalam batuan itu pada waktu ada medan magnetik bumi. Dimana batuan yang termagnetisasi ditentukan oleh kerentanan magnetik, di dapat didefinisikan sebagai berikut :

Mi = K x H, dimana :

Mi , adalah intensitas magnetik

H, adalah kuat medan magnetik bumi ( konstanta) dan

K, adalah kerentanan magnet ( susceptibilitas) batuan dalam cgs, sehingga intensitas magnetik( Mi ) sangat tergantung pada K yaitu kerentanan magnetik batuannya( susceptibilitas batuannya).

II. HASIL ANALISA DAN EVALUASI DATA LAPANGAN

2.1. Data Hasil Pengukuran Lapangan

Pengambilan data magnet didaerah Manifestasi panas bumi Pincara, telah terdata sebanyak 7 lintasan ( lintasan A,B,C,D,E , F dan G ) dengan panjang lintasan bervariasi yaitu : Lintasan A dibuat sepanjang 6000 m ,lintasan B 7000 m, lintasan C 8000 m, lintasan D 8000 m, lintasan E 8000 m , lintasan F 8000 m dan

lintasan G 8000 m . Panjang lintasan di buat berdasarkan data geologi, dan arah struktur sesar , dengan arah lintasan Baratlaut – Timurlaut . Dari hasil pengukuran telah dialokasikan sebanyak 272 titik ukur magnet , dengan rincian 202 titik ukur dari 7 lintasan dengan jarak ukur 250 m dan 70 titik ukur regional dengan jarak 500 m, sedangkan jarak antara lintasan adalah 1000 m.

Hasil pengukuran magnet ditampilkan berupa penampang anomali magnet ( gambar 1 sampai dengan gambar 7) dan peta anomali magnet total ( gambar 8 ).

2.2 Analisa Dan Evaluasi Data Hasil Penelitian Lapangan

Analisis dan Evaluasi data magnet hasil pengukuran lapangan ditampilkan berupa gambar penampang anomali magnet dari lintasan A sampai dengan Lintasan G ( 7 lintasan ) dan gambar peta anomali magnet total, yang bertujuan untuk mendapatkan harga anomali rendah dan tinggi di bawah permukaan berdasarkan sifat kemagnetan batuan. Kemudian selanjutnya dilakukan evaluasi untuk mendapatkan kelurusan-kelurusan dari struktur geologi yang akan di jadikan bahan pertimbangan dalam melakukan penafsiran – interpretasi .

2.3. Penampang Anomali Magnet

Besarnya anomali magnet total pada daerah penelitian umumnya menunjukan kontras harga yang sedang , berkisar antara + 14 nT sampai + 445 nT dan - 10 nT sampai - 462 nT, sebarannya digambarkan pada peta isomagnetik dengan interval kontur 25 nT yang ditunjukan pada gambar 8.

(4)

hubungan keterkaitan dengan munculnya manifestasi panas bumi di daerah Pincara. Pada beberapa tempat anomali magnet memperlihatkan variasi harga naik – turun, terutama pada daerah adanya manifestasi panas bumi dan zona-zona struktur sesar yang arahnya bervariasi.

2.4. Penampang Anomali Magnet Lintasan A

Dari penampang magnet lintasan A yang diukur sepanjang 6000 m ( gambar 1), harga kemagnitannya tidak begitu bervariasi – 15 nT sampai + 52 nT, yang terlihat dari titik A1000 - A6000. Anomali magnet negatip -15 nT sampai – 65 nT, terlihat hanya di bagian Tengah daerah penelitian dan ditafsirkan berupa

batuan (granit lapuk dan batuan sedimen ) yang batuannya tidak bersifat magnetik ( nonmagnetik) yang terdapat disekitar titik A3000 - A5000. Sedangkan harga kemagnitan positip + 17 nT sampai + 52 nT yang terdapat di bagian Baratlaut dan Timurlaut antara titik A/1000 - A3000 dan titik A5000 - A5750 ditafsirkan sebagai batuan granit yang bersifat kemagnitan sedang..Secara umum harga anomali magnet pada lintasan A tidak terlalu kontras , diperkirakan ada struktur sesar yang berarah hampir Utara – Selatan atau Timurlaut- Baratdaya dan Baratlaut – Tenggara. Anomali magnet rendah dan sedang yang terdapat di daerah penelitian diperkirakan mempunyai kaitan dengan struktur sesar yang terdapat di sekitar titik A3000 dan A5000.

1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000

-100 -75 -50 -25 0 25 50 75 100

-100 -75 -50 -25 0 25 50 75 100

37 34 33 18 42 52 34 28 34

-65

-22 -31 -16 -15 -19 -15

17 29 29 22

-46 PROFIL ANOMALI MAGNET

LINTASAN A DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG PINCARA

Panjang Lintasan A 6000 meter

n

T

(g

amma)

nT(ga

m

m

a)

Baratlaut 0 500 1000 1500 Tenggara

Gambar 1. Penampang Anomali Magnet , Lintasan A

2.5. Penampang Anomali Magnet Lintasan B

Dari penampang anomali magnet lintasan B yang diukur sepanjang 7000 m ( gambar 2 ), mempunyai harga kemagnitan cukup bervariasi berkisar antara – 17 nT sampai + 130 nT, yang terlihat dari titik B1000 - B7000. Harga anomali negatip terlihat menempati bagian tengah daerah penelitian sekitar titik B3750 - B6000 dengan harga kemagnitan berkisar antara – 17 nT sampai -127 nT dan ditafsirkan sebagai batuan granit lapuk dan batuan sediment yang bersifat nonmagnetik. Sedangkan anomali harga positip bervariasi antara +14 nT sampai + 130 nT yang ditafsirkan sebagai batuan bersifat kemagnitan sedang sampai tinggi dan terlihat antara titik

(5)

1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 PROFIL ANOMALI MAGNET

LINTASAN B DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG PINCARA

BARATLAUT Tenggara

Panjang Lintasan B 7000 meter 0 500 1000 1500

nT(g

2.6. Penampang Anomali Magnet Lintasan C

Dari penampang anomali magnet lintasan C yang diukur sepanjang 8000 m ( gambar 3), mempunyai harga anomali magnet yang bervariasi antara – 18 nT sampai +180 nT yang terlihat pada titik C1000 - C8000. Anomali magnet negatip rendah berkisar antara -18 nT sampai - 414 nT ,yang ditafsirkan sebagai batuan bersifat nonmagnetik berupa batuan granit lapuk, granodiorit lapuk dan batuan sedimen yang terlihat pada titik C1750 - C5750 dan C6500 - C7000. Sedangkan anomali magnet positip berkisar antara +39 nT sampai + 180 nT yang ditafsirkan sebagai batuan bersifat magnetik sedang sampai tinggi berupa batuan granit, granodiorit dan breksi andesit yang

terdapat pada titik C1000 - C1500, dengan harga kemagnitan + 172 nT sampai +197 nT, pada titik C2000 - C2500 dengan harga kemagnitan +134 nT sampai + 156 nT, pada titik C6000 - C6250 dengan harga + 39 nT sampai + 99 nT dan pada titik C7250 - titik C8000 dengan harga kemagnitan + 52 nT sampai 180 nT. Diperkirakan pada lintasan C terdapat intrusi batuan granit,granodiorit dan struktur sesar yang arahnya bervariasi Baratlaut – Tenggara, Timurlaut – Baratdaya dan hampir Utara – Selatan, yang terdapat disekitar antara titik C/3000, C4500, C/6000 dan C7000, ditafsirkan mempunyai keterkaitan dengan munculnya manifestasi mata air panas di Desa Pincara.

1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000

-450

PROFIL ANOMALI MAGNET

MAP PINCARA

LINTASAN C DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG PINCARA

Panjang Lintasan C 8000 meter 0 500 1000 1500

nT

(gamma)

nT

(gamma)

(6)

2.7. Penampang Anomali Magnet Lintasan D

Dari penampang anomali magnet lintasan D yang diukur sepanjang 8000 m ( gambar 4), mempunyai nilai anomali magnet rendah berkisar antara - 10 nT sampai + 445 nT yang terdapat mulai dari titik D1500 - titik D8000. Anomali magnet negatip rendah berkisar antara -24 nT sampai -103 nT ditafsirkan sebagai batuan nonmagnetik berupa batuan granit lapuk , granodiorit lapuk dan batuan sedimen yang terdapat pada titik D2750 - D3500 dengan harga kemagnitan -24 nT sampai -102 nT dan pada titik D 4750 - D6250 dengan harga kemagnitan -10 nT sampai 103 nT dan -27 nT sampai - 84 nT pada titik D7000 - D7250, ditafsirkan sebagai batuan bersifat nonmagnetic. Sedangkan anomaly kemagnitan

positip berkisar antara + 39 nT sampai + 445 nT ditafsirkan sebagai batuan bersifat kemagnitan sedang sampai tinggi yang terdapat pada titik D1500 - D2500 dengan harga kemagnitan berkisar antara + 69 nT sampai + 172 nT, pada titik D3750 - D4500 dengan harga kemagnitan + 39 nT sampai + 138 nT dan pada titik D6500 - D8000 dengan harga kemagnitan berkisar antara + 100 nT sampai + 445 nT , ditafsirkan berupa batuan granit, granodiorit dan breksi andesit. Diperkirakan pada lintasan ini terdapat batuan intrusi dan beberapa struktur sesar yang arahnya bervariasi Baratlaut – Tenggara, Timurlaut – Baratdaya dan hampir Utara- Selatan, diperkirakan struktur sesar terdapat pada sekitar titik D4750, D6250 dan D7250.

1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000

-150

Panjang Lintasan D 8000 meter PROFIL ANOMALI MAGNET

LINTASAN D DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG PINCARA

0 500 1000 1500

Gambar 4. Penampang Anomali Magnet, Lintasan D

2.8. Penampang Anomali Magnet Lintasan E

Dari penampang anomali magnet lintasan E yang diukur sepanjang 8000 m ( gambar 5), mempunyai nilai anomali magnet berkisar antara -37 nT sampai 350 nT yang terlihat mulai dari titik E1500 - E8000. Anomali negatip rendah berkisar antara -37 nT sampai – 82 nT ditafsirkan sebagai batuan bersifat nonmagnetik berupa batuan granit lapuk , granodiorit lapuk dan batuan sedimen yang terdapat pada titik antara E2500 - E3250 dan titik E4500 - E5000. Sedangkan anomali positip berkisar antara + 26 nT sampai + 350 nT ditafsirkan sebagai batuan bersifat magnetik

(7)

1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000

PROFIL ANOMALI MAGNET

LINTASAN E DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG PINCARA

0 500 1000 1500

Baratlaut Tengara

Gambar 5. Penampang Anomali Magnet, Lintasan E

2.9. Penampang Anomali Magnet Lintasan F

Dari penampang anomali magnet lintasan F yang diukur sepanjang 8000 m ( gambar 6), mempunyai anomali kemagnetan berkisar antara – 18 nT sampai + 303 nT. Anomali kemagnitan negatip rendah berkisar antara – 18 nT sampai - 143 nT yang ditafsirkan sebagai batuan bersifat nonmagnetik berupa batuan granit lapuk dan batuan sedimen ,terlihat pada titik F1000 dan F1250 dengan harga kemagnitan antara – 27 nT sampai - 47 nT, pada titik F4000 - F5000 dengan harga kemagnitan – 18 nT sampai - 73 nT dan pada titik F6000 - F7250 dengan harga kemagnitan antara – 53 nT sampai – 143 nT. Sedangkan

anomali positip berkisar antara + 70 nT sampai + 303 nT, ditafsirkan sebagai batuan yang bersifat kemagnitan sedang sampai tinggi berupa batuan granit, granodiorit dan breksi andesit, terdapat pada titik F1500 - F3750 dengan harga kemagnitan + 70 nT sampai + 192 nT dan pada titik F5250 - F5750 dengan harga kemagnitan antara + 104 nT sampai +111nT dan pada titik F7500 - F8000 dengan harga kemagnitan berkisar antara + 73 nT sampai +303 nT. Pada lintasan F ditafsirkan terdapat batuan intrusi dan terdapat struktur sesar yang arahnya bervariasi hampir Utara – Selatan dan Baratlaut – Tenggara disekitar titik F4000,F5000,F6000 dan F7250.

1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000

-200

-143 -132 -118 -102 73

303 249

Panjang Lintasan F 8000 meter

nT

PROFIL ANOMALI MAGNET

L IN TA SA N F DAE RAH P ANAS BUM I KA NA N TE DO NG P IN CA RA

0 500 1000 1500

Gambar 6. Penampang Anomali Magnet, Lintasan F

2.10. Penampang Anomali Lintasan G

Dari penampang anomali magnet lintasan G yang diukur sepanjang 8000 m ( gambar 7 ),

(8)

nT sampai – 228 nT yang ditafsirkan sebagai batuan yang bersifat nonmagnetik berupa batuan granit lapuk dan batuan sedimen, terlihat pada titik G4750 - G7000. Sedangkan harga anomali positip berkisar antara + 23 nt sampai +137 nT yang ditafsirkan sebagai batuan yang bersifat kemagnitan sedang sampai tinggi berupa batuan granit, granodiorit dan breksi andesit yang terdapat pada titik G1000 - G4500

dengan harga kemagnitan +15 nT sampai +137 nT dan pada titik G7250 - G8000 dengan harga kemagnitan berkisar antara + 47 nT sampai + 81 nT. Pada lintasan G diperkirakan terdapat struktur sesar yang arah bervariasi Baratlaut – Tenggara dan Timurlaut – Baratdaya disekitar titik G4000 sampai G5000 dan G7000.

1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000

-300 -200 -100 0 100 200

-300 -200 -100 0 100 200

43 41 40 137 130

23

98 91 87 72 63 50 40

15 28 -32 -46

-72 -134

-228

-67 -75 -72 -85 -81

47 61 81 77

Panjang Lintasan G 8000 meter

nT

(g

am

ma

)

nT

(g

amm

a

)

Baratlaut

Tengara PROFIL ANOMALI MAGNET

LINTASAN G DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG PINCARA

0 500 1000 1500

Gambar 7. Penampang Anomali Magnet, Lintasan G

2.11. Peta Anomali Magnet Total

Hasil pengukuran geomagnetik dilapangan di informasikan kedalam peta sebaran anomali isomagnetik total ( gambar 8 ), dari peta anomali magnet total ditemukan adanya beberapa kelurusan-kelurusan struktur anomali magnit dengan harga kemagnitan yang bervariasi dari anomali rendah, sedang sampai tinggi. Struktur dan kelurusan – kelurusan yang di hasilkan dari penelitian magnet arahnya bervariasi , hampir Utara – Selatan dan Baratlaut – Tenggara , yang ditafsirkan sebagai cerminan dari adanya struktur sesar dan adanya intrusi batuan ( granit,granodiorit ) yang mempunyai hubungan keterkaitan dengan kenampakan manifestasi panas bumi didaerah penelitian yang dicirikan dengan munculnya mataair Panas Pincara .

Anomali magnet tinggi ( > 50 nT ) , yang membentuk pole- pole dan kutub-kutub magnetik negatip dan positip yang berpola menutup dan terbuka terdapat dibagian tengah, baratlaut, timurlaut, utara dan selatan

, ditafsirkan sebagai batuan yang bersifat magnetik sedang sampai tinggi berupa batuan intrusi granit, granodiorit dan andesit yang muncul kepermukaan.

Anomali magnit sedang (0 nT sampai 50 nT), yang terlihat menyebar di daerah penelitian di bagian tengah, baratlaut, selatan dan sebagian dibagian timurlaut,ditafsirkan sebagai batuan bersifat magnetik rendah sampai sedang, yang terdiri dari batuan granit lapuk dan batuan sedimen yang diperkirakan mempunyai hubungan dengan mataair panas didaerah ini.

(9)

bumi didaerah ini yang dicirikan dengan munculnya mataair panas Pincara.

Dari hasil penelitian magnet didaerah panas bumi Pincara ditemukan kurang lebih 6 struktur sesar anomali magnet dan kelurusan-kelurusan yang arahnya bervariasi hampir utara-selatan ( sesar Balease yang arahnya hampir Utara-Selatan), sesar Sepakat dan sesar Balakala berarah Baratlaut- Tenggara, sesar Salu Patikala berarah hampir Utara- Selatan ,sesar Salu Masamba berarah hampir Utara – Selatan , sesar Salu Uraso berarah

hampir Utara-Selatan dan sesar Salu Kula berarah Baratlat- Tenggara). Dari hasil interpretasi data magnet dan hasil pengamatan lapangan, diperkirakan struktur sesar yang mengakibatkan munculnya mata air panas Kanan Tedong Pincara (yang manifestasinya terdapat tepat berada pada lintasan C titik C4450 – C4500) dipengaruhi oleh adanya sesar Balease yang berarah hampir Utara-Selatan, Sesar Sepakat yang berarah Baratlaut-Tenggara dan sesar Balakala yang berarah Baratlaut – Tenggara.

202000 204000 206000 208000 210000

9716000 9718000 9720000 9722000 9724000 9726000 9728000

-500

-450

-400

-350

-300

-250

-200

-150

-100

-5

0

0

50

100

150

200

250

300

350

202000 204000 206000 208000 210000

9716000 9718000 9720000 9722000 9724000 9726000 9728000

PETA ANOMALI MAGNET TOTAL

DAERAH PANAS BUMI KANAN TEDONG PINCARA

DESA PINCARA KECAMATAN MASAMBA LUWU UTARA

LEGENDA :

0 1000 2000 3000

C4500

MAP

25

Anomali magnet tinggi

Anomali magnet sedang

Anomali magnet rendah

Perkiraan struktur sesar

Titik ukur magnet

MAP Kanan Tedong Pincara

Interval kontur anomali magnet

Gambar 8

(10)

III . KESIMPULAN

Dari hasil penelitian magnet dan hasil interpretasi data lapangan di daerah manifestasi panas bumi Pincara dan sekitarnya, Kecamatan Masamba, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

• Hasil penelitian dengan metoda magnet yang diterapkan didaerah manifestasi panas bumi Pincara telah ditemukan kurang lebih 6 struktur sesar dan adanya kelurusan-kelurusan anomali magnet yang arahnya bervariasi , menunjukan bahwa struktur sesar dan kelurusan-kelurusan anomali magnet yang arahnya bervariasi hampir Utara – Selatan dan Baratlaut – Tenggara, merupakan penyebab terjadinya manifestasi panas bumi di daerah ini dengan ditandai munculnya mataair panas di Desa Pincara.

• Terdapat kurang lebih 6 struktur sesar dengan arah yang bervariasi ( Utara-Selatan dan Baratlaut – Tenggara) yang diperkirakan merupakan batuan intrusi yang erat hubungannya dengan struktur bawah permukaan.

• Anomali magnet tinggi, yang tersebar di beberapa tempat di daerah penelitian dibagian tengah ,selatan, Baralat dan Timurlaut diperkirakan mempunyai hubungan yang erat dengan batuan intrusi ( granit, granodiorit dan breksi andesit) yang muncul sebagai singkapan dan bersifat magnetik sedang sampai tinggi.

• Terdapat harga anomali magnet sedang , yang hanya terdapat disebagian daerah penelitian, ditafsirkan sebagai batuan granit lapuk dan batuan sedimen yang diperkirakan mungkin masih mempunyai kaitan dengan mataair panas didaerah penelitian.

• Terdapat harga anomali magnet rendah, yang hampir mendomonasi daerah penelitian , ditafsirkan sebagai batuan yang telah mengalami demagnetisasi ( granit lapuk, andesit lapuk dan batuan sedimen ) yang diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan keterdapatan munculnya manifestasi panas bumi , mata air panas Pincara .

• Hasil analisa dan evaluasi secara kwalitatip menunjukan bahwa daerah penelitian didominasi oleh batuan granitik ( granit,granodiorit dan breksi andesit ) diperkirakan sebagai batuan intrusi yang mengakibatkan munculnya mata air panas di Desa Pincara.

• Kelompok anomali magnet tinggi, sedang dan rendah yang berbentuk kutub-kutub magnet yang terdapat dibagian Tengah, Baratlaut, Timurlaut ,Utara dan Selatan di daerah penelitian menunjukkan adanya kelurusan – kelurusan sebagai indikasi adanya struktur sesar berarah hampir Utara-Selatan dan Baratlaut-Tenggara, yang diperkirakan sebagai pengontrol terjadinya manifestasi panas bumi didaerah penelitian, yang dicirikan dengan munculnya ( mataair panas Pincara).

PUSTAKA

oBreiner.S. 1973, Application Manual for

Portable Magnetometers

oBakrun . 2004, Penyelidikan Terpadu

Geologi,Geokimia dan Geofisika di daerah Panas Bumi Marana-Marawa, Kecamatan Sindue,Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

oMurtolo,1993, Geomorfologi Lembah Palu

dan Sekitarnya,Sulawesi Tengah, Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Vol – III.

oSaefudin,1994, Batuan Granitik daerah

Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah, Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Vol – IV.

oTelford and Sheriff, 1990, Applied

Geophysics, Cambridge University.

o Sriwododo, 2002, Penyelidikan Terpadu

Geologi,Geokimia dan Geofisika di daerah panas bumi Parrara, Kecamatan Sabbang. Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

oBakrun, 2005, Penyelidikan Terpadu

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,