Pengenalan tentang
Risiko dan Imbal Hasil
Pengantar
Bab ini akan mempelajari tentang:
1. Determinan Tingkat Bunga
2. Membandingkan Tingkat Imbal Hasil untuk Periode Waktu Yang Berbeda
3. Risiko dan Premi Risiko
1.Determinan Tingkat Bunga
Tingkat bunga dan prediksi nilainya di masa depan merupakan hal terpenting dalam keputusan investasi.
Keputusan kita secara kritis bergantung pada pandangan kita terhadap tingkat bunga/imbal hasil sebuah investasi.
Jika bunga bank sedang jatuh maka kita akan lebih suka
untuk berinvestasi di obligasi jangka panjang daripada deposito bank. Sedangkan jika bunga bank sedang naik,
maka kita akan lebih suka untuk berinvestasi di deposito bank daripada di obligasi jangka panjang.
1.1 Tingkat Bunga Riil dan Nominal
Misalkan, persis setahun lalu kita mendepositokan Rp 10 juta ke
BPR Pasar Boja Semarang di tingkat bunga 10% dan sekarang kita akan menerima Rp 11 juta. Berapa tingkat imbal hasil riil dari
investasi tersebut?
Jawaban: tergantung pada apa yang dapat dibeli oleh kas tersebut
saat ini, relatif terhadap apa yang dapat anda beli setahun lalu. Artinya, tingkat bunga nominal setara dengan pertumbuhan uang sedangkan tingkat bunga riil setara dengan pertumbuhan daya beli.
Misalkan, tingkat inflasi setahun ini adalah 6% daya beli kita
menurun 6% dalam setahun. Jika R merupakan tingkat bunga nominal, r sebagai tingkat bunga riil, dan i adalah tingkat inflasi, maka kita simpulkan
1.1 Tingkat Bunga Riil dan Nominal
Namun, faktanya hubungan pasti antara tingkat bunga riil
dengan tingkat bunga nominal adalah:
atau
Jadi, jika dari contoh sebelumnya dan dengan menggunakan
‘cara cepat’ tingkat bunga riilnya adalah 4%, maka dengan menggunakan rumus pasti yang di atas ini kita mendapatkan tingkat bunga riil sebesar 3,77%
Note: tingkat bunga yang dijamin oleh deposito bank di
sekitar kita adalah tingkat bunga nominal.
1.2 Keseimbangan Tingkat Bunga Riil
Empat faktor dasar yang mempengaruhi tingkat bunga:
1) Pasokan / Penawaran dari pihak bank-bank
2) Permintaan dari pihak para nasabah (penabung dan peminjam)
3) Tindakan Pemerintah
4) Tingkat Inflasi yang Diantisipasi
Pemerintah dan Bank Sentral dapat menggeser kurva
1.3 Keseimbangan Tingkat Bunga Nominal
Karena investor peduli pada imbal hasil riil atau kenaikan
daya beli, maka ketika inflasi meningkat investor akan meminta tingkat bunga nominal yang lebih tinggi dari investasinya.
Jika tingkat bunga riil cukup stabil, maka kenaikan tingkat
bunga nominal merupakan prediksi tentang kenaikan tinkat inflasi. Ide yang berasal dari Irving Fisher (1930) ini dapat dijelaskan kembali dengan persamaan
R = r + E(i)
1.4 Pajak dan Tingkat Bunga Riil
Kewajiban pajak didasarkan pada penghasilan nominal dan
tarif pajak investor ditentukan oleh golongan tarif pajaknya.
Dengan golongan tarif pajak (t) dan tingkat bunga nominal R,
maka tingkat bunga setelah pajak adalah R(1 – t). Tingkat bunga setelah pajak riil secara pendekatan adalah tingkat bunga nominal setelah pajak dikurangi tingkat inflasi.
Jadi jika kita mendepositokan uang kita di BPR Pasar Boja Semarang dimana kita dikenakan pajak bunga 20%, maka hasil perhitungan tingkat bunga riil setelah pajak adalah: = R(1 – t ) – i
= 0,1(1 – 0,2) – 0,06 = 0,08 – 0,06
2.Membandingkan Tingkat Imbal Hasil untuk
Periode Waktu Yang Berbeda
Prinsip: makin panjang horizon / periode waktu yang ditetapkan,
maka makin besar pula imbal hasil totalnya.
Tabel di bawah ini menggambarkan contoh dari T-bonds kupon nol
dengan nominal $100 dan masa jatuh tempo yang berbeda
Secara umum rumusnya adalah:
Dimana rf(T) merupakan “tingkat bunga / imbal hasil bebas risiko”
2.Membandingkan Tingkat Imbal Hasil untuk
Periode Waktu Yang Berbeda
Secara umum kita menyajikan seluruh imbal hasil dalam
satuan tingkat tahunan efektif (EAR—Effective Annual Rate) yang didefinisikan sebagai persentase kenaikan dana yang diinvestasikan selama horizon waktu satu tahun.
Rumus:
Dimana T adalah periode dalam satuan tahun
Misalnya, dengan T-bonds kupon nol yang jatuh temponya setengah tahun kemudian, EAR = (1,0271)1/0,5 – 1 = 5,49%
dan dengan T-bonds kupon nol yang jatuh temponya 25 tahun kemudian, EAR = (4,2918)1/25 – 1 = 6%
2.Membandingkan Tingkat Imbal Hasil untuk
Periode Waktu Yang Berbeda
Namun, tingkat imbal hasil atas investasi jangka pendek
(T<1 tahun) sering kali disetahunkan menggunakan metode sederhana dan bukannya metode berganda. Metode itu
disebut dengan tingkat persentase disetahunkan (APR— Annual Percentage Rate)
Rumus:
atau bisa ditulis ulang sebagai:
Berapa APR untuk masing-masing T-bonds kupon nol yang
jatuh temponya setengah tahun dan 25 tahun kemudian?
2.Membandingkan Tingkat Imbal Hasil untuk
Periode Waktu Yang Berbeda
Dari perbandingan antara 3 skenario jatuh tempo T-bonds
sejauh ini, terbukti bahwa perbedaan antara APR dan EAR akan tumbuh seiring dengan makin seringnya frekuensi penggandaan (dalam bentuk faktor periode waktu).
Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kedua tingkat ini akan
berbeda ketika frekuensi penggandaan terjadi secara kontinu? Ketika T mendekati nol maka kita akan menggunakan
continuous compounding (CC). Dan hubungannya dengan EAR akan digambarkan dengan rumus:
1 + EAR = exp(rcc) = ercc
Rumus tersebut dapat dikembangkan seperti di bawah ini, jika
2.Membandingkan Tingkat Imbal Hasil untuk
Periode Waktu Yang Berbeda
Misal, sebuah bank menawarkan kepada Anda dua alternatif
skedul tingkat bunga untuk deposito senilai Rp 10 juta yang akan dikunci untuk jangka waktu 3 tahun. Manakah yang lebih akan kita pilih dari dua alternatif skema tabungan berikut ini? (1) tingkat bulanan 1%, atau (2) tingkat
penggandaan kontinu tahunan (rcc) sebesar 12%?
Skenario 1: EAR = [1 + rf(T)]1/T – 1 = [1 + 0,01]12 – 1
EAR = 0,1268 = 12,68%
Skenario 2: EAR = e0,12 – 1 = 0,12749 = 12,75%
Jadi, kita akan pilih tingkat penggandaan kontinu tahunan
3.Risiko dan Premi Risiko
Terdiri dari 3 sub-bab penting:
1) Imbal Hasil Suatu Periode HPR
2) Imbal Hasil Yang Diharapkan dan Simpangan Baku E(r) dan σ2
3.1. Imbal Hasil Suatu Periode
Tingkat imbal hasil terealisasi dari investasi, misalnya reksa
dana indeks saham, akan bergantung pada (1) harga per lembar reksa dana pada akhir periode, dan (2) dividen yang akan diterima selama periode tersebut. Imbal hasil
terealisasi disebut sebagai HPR (holding period return) dengan rumus:
Misalkan harga per lembar reksa dana indeks saham, yang
sebelumnya dibeli sebesar $100, pada akhir tahun adalah $110 dan dividen kas selama tahun tersebut adalah $4.
3.2. Imbal Hasil Yang Diharapkan dan Simpangan
Baku
Tedapat ketidakpastian besar terkait harga per lembar pada akhir
tahun dan dividen yang akan diterima setahun dari sekarang, sehingga nilai HPR yg kita hitung itu pun tidak pasti akan seperti itu juga hasilnya.
Oleh karenanya, kita harus memikirkan beberapa skenario
kemungkinan, p(s), dan memperkirakan berapa HPR dari setiap skenario tersebut, r(s), supaya kita bisa menghitung imbal hasil yang diharapkan, E(r), yang lebih rasional.
Rumus:
Lihat spreadsheet 5.1. maka kita akan menemukan imbal hasil
yang diharapkan yaitu:
E(r) = (0,25 x 0,31) + (0,45 x 0,14) + (0,25 x -0,0675) + (0,05 x -0,52) E(r) = 0,0976 = 9,76%
3.2. Imbal Hasil Yang Diharapkan dan Simpangan
Baku
Standar deviasi (σ) adalah ukuran risiko total, yang
dirumuskan sebagai kuadrat dari varian. Prinsipnya adalah, makin tinggi volatilitas dari imbal hasil di setiap skenario, maka makin besar nilai rata-rata dari varian dikuadratkan ini.
Varian (σ2) =
Dengan contoh dari Spreadsheet 5.1 tadi maka Variannya: 0,25(0,31 – 0,0976) + 0,45(0,14 – 0,0976) + 0,25(-0,0675 – 0,0976) + 0,05(-0,52 – 0,0976) = 0,038
Setelah diketahui Variannya, kita dapat mencari Standar deviasinya hanya dengan meng-akar-kan nilai variannya. Dalam kasus ini, akar dari 0,038 adalah 0,1949 = 19,49%
3.3. Imbal Hasil Lebihan dan Premi Risiko
Sebelum dapat menjawab “Berapa banyak dana yang harus
diinvestasikan?” kita harus tahu terlebih dahulu berapa banyak kompensasi yang kita harapkan, sebagai ganti karena kita mau untuk menanggung risiko berinvestasi di reksa dana indek saham yang lebih berisiko daripada tabungan / deposito yang bebas risiko.
Premi risiko (risk premium) adalah selisih dari tingkat imbal hasil yang diharapkan dengan inflasi. Dalam contoh tadi, jika E(r) adalah 9,76% sementara inflasi adalah 4%, maka premi risiko atas reksa dana indeks sahamnya adalah 5,76%. Nilai dari premi risiko itu sendiri disebut imbal hasil lebihan
3.3. Imbal Hasil Lebihan dan Premi Risiko
Tingkat sejauh apa investor bersedia menempatkan dana
pada reksa dana indeks saham akan bergantung pada
tingkat penolakan risiko (risk aversion) masing-masing kita.
Penelitian menunjukkan bahwa kita ini mahluk yang
cenderung menghindari risiko (risk averse). Artinya, jika
Latihan
Misal, kita investasi ke dalam obligasi perusahaan senilai
$27.000 yang pada saat itu dijual pada harga $900 per lembar. Selama tahun yang akan datang, obligasi akan membayar kupon sebesar $75 per lembarnya (8,33% per tahun). Ada 3 skenario terkait dengan perkiraan tingkat bunga dan harga obligasi tahun depan, sebagai berikut:
Tingkat Bunga Probabilitas Harga Obligasi Akhir Tahun
Tinggi 0,2 $850
Tidak Berubah 0,5 $915
Latihan
Dengan adanya alternatif investasi deposito bank sebesar
5% per tahun, kita berpikir apakah pantas jika kita investasi ke obligasi alih-alih investasi yang lebih pasti (bebas risiko) seperti deposito bank. Oleh karena itu, kita harus mencari:
1. Berapa HPR dari setiap skenario?
2. Berapa imbal hasil dan nilai dolar akhir tahun yang pantas diharapkan?
Jawaban Latihan
1) HPR 1 = (850 – 900 + 75) = 0,0278 = 2,78% 900
HPR 2 = (915 – 900 + 75) = 0,1 = 10% 900
HPR 3 = (985 – 900 + 75) = 0,1778 = 17,78% 900
2) E(r) = (0,2 x 0,0278) + (0,5 x 0,1) + (0,3 x 0,1778) = 0,1089 = 10,89%
Nilai dolar akhir tahun yang pantas diharapkan = (10,89% x $27.000) + $27.000
= $29.940
TRIVIA: Rasio Sharpe
Meskipun ketika kita sudah menghitung dan kelihatan sudah
nyata bahwa semua opsi reksa dana yang ada adalah menguntungkan dibandingkan hanya menabung saja, kadang karena kita masih tidak tahu bagaimana iklim investasi di area tersebut maka kita tetap sungkan untuk investasi ke reksa dana yang lebih berisiko.
Untuk itu banyak investor menggunakan alat bantu keputusan, salah satunya Rasio Sharpe, untuk mengevaluasi kinerja manajer investasi yang akan mengelola dana kita ke dalam satu/lebih reksa dana.