m
{'d""
#'
fu7.;
#r€;r
*H
*tr{
u.*,*
E
ERWAWASAN
INTERKI,JLTURALIman
SantosoFBS Universitas Negeri Yogyakarta
email: iman. [email protected]
Abs11ak pembelajaran bahasa asing saat
ini
menduduki posisi yang cukup penting dalam petapendidikan
di
Indonesia. Melatui pimbeiajaran bahasa asing diharapkan akan terbentuk manusiaindonesia yang mampu berkomunikasi cialam bahasa asing dengan berbagai bangsa
di
dunia'penguasaan balasa esing juga sangat cliperlukan, karena akan rnenjadi pintu bagi bangsa krdonesia
untuk
menyerappert"*nungan
ilmu
pengetahuandari
negara-negara iain. Salah satu cara agarpembelajaran Uif,asa Asing
iapat
merlghaillkan output yang mampu berkomunkasi dengan baikdalam bahasa target yu-rtgtlputularl adatah melalui pembelajaran bahasa asing yang berwawasan
interkultural. Bahasa "dan Uuaa,va merupakan satu kesatuan yang
tak
bisa dipisahkan, sehinggakeberhasilan pembelajaran bahasa asing iuga akan dipengaruhi seberapa jauh unsur budaya.dari
bahasa target dapat diintegrasikan dalam pembelajaran.
Di
sisi lain, datam konteks keindonesiaan,pembelajar"an bahasu asing-juga terikat untuk menerjemahkan amanah dalam UU No 20 Tahun 2003
ientang -SiSOXUaS, yait'1-keloajiban untuk
turut
serta membentuk manusia Indonesia yangber-karakter.
Kata Kunci : pendidikan knrakter, pentbetajnran bahnss asing, prmbelaiaran interkultural
CFIAT{ACTER
EDUCATION
AND
XNTERCULTURALLY ORIET{TEDFOTTEIGN
LANGAGE TEACHIhIG
AND
I,EARNING
Abstrack
Today foreign language teach.ing and learning plays an important rolein
the Indonesianeducation systenn. ny Garnlng foreign languages it is expected that learners are abie to communicate
in
languages of different.orrrtriur
in theworld.
Acquiring a foreign language-also enables them toaccess"knlwledge from other countries. One
of
the waysto
achieve this is throughintercultural-oriented
l*g"ug*
teaching and learning. Language and culture are inseparable and therefore thesuccess of
foieigi
language teaching and learning is influenced by how cultural aspects are integratedinto
languag"I"u"hiig.
-hr
the
Indonesian education system,the
foreign language teaching andlearning-has-to meet the requirements set out
in
the National Education Act, No. 2,20A3. This actrequirei that the foreign language teaching also support character education.
Ke;'words: character education, foreign langwage teaclung and leanring, intercultural learning
PENDAHULUAN
Dalam bingkai pendidikan
di
Indo-nesia, kedudukan
pembelajaran
bahasaasing
@ahasaInggris, Jerman,
Prancis, Jepan&dan lain-iain)
saatirri tidak
dapatdipandang
sebelah mata. Penguasaanter-hadap
bahasaasing
menjadi penting
ka-rena menjadi
pintu
bagi
bangsa Indonesiauntuk
dapatberkomunikasi
denganbang-sa-bangsa
lain
di
dunia
trnternasionai.Di
samping
itu,
di
era globalisasi saatini
yangdidukung oleh
perkembangan teknologi
in-formasi
dan
transportasi
yang
semakincanggih, memperrnudah terjadinya kontak
dan pertemuan antarmanusia dari berbagai
belahan
bumi
-
dari
berbagai
budaya.Kunci
untuk
bisa
masuk
ke
dalamnya adalah penguasaan bahasa asing.Dari
sisi
individu si
pembelajar,pe-nguasaan terhadap satu atau
lebih
bahasaasing yang
baik
akan membuka cakrawalaatau wawasan menjadi
lebih
luas.
Ia
takpelak akan dapat mengembangkan kualitas
diri
secaralebih
baik
karena
menguasaibahasa asing.
Hal
ini
sejalan denganpen_
dapat Wittgenstein yang
mengatakan: DleGrenze meiner
Welt
ist die
Spracla. Batasduniaku
adalah bahasa" Dengandernikian,
jika
seseorang menguasai suafubahasa de_
ngan baik, maka niscaya ,,batas dunianya,,
akan semakin luas.
Keberrnanfaatan
dalam
mempelajaribahasa asing
tentu
akan sia_siajika
prosespembelajaran
bahasaasing
di
Lrdonesia
tidak
dijalankan dengan prosedu,
yang
benar. Keberhasilan
dalam
proses pembe_lajaran bahasa asing antara
lain ditentukan
oleh
pendekatan
yang
dipakai oieh
pe_
nenfu
kebijakan saat menentukan kuriku_lurn
dan
pengajar saatia
mengimplemen_]asikanpembelajaran bahasa
urlg
ai
k"lur.
Menurut
Richard &Schmidt
1ZOOiZO1, pen_
dekatan merupakan seperangkat
teori
danfilosofi
rnengenaihakikat Uun*u dan
ba_
gai::rana bahasa
itu
diajarkan. Dengankata
laru
pendekatan merupakanlandasan filo_
sofis rnengenai pembelajaran bahasa yang
mengacu pada pemahaman seseorang me_
ngenai apa
ifu
bahasa.Saat
ini,
pendekatan yang banyakdi-pakai
di
Indonesia adalahp"r,auUiu*
to_
munikatif.
pendekatan
ini
berlandaskan
pada
hakikat
bahasa,yaitu
sebagai alat ko_rnunikasi sehingga
tujuan
pu*b"luyurun
bahasa (asing) adalah pencapaian
kompe_
tensi komunikatif pada
diri
pembelajar.Richard
&
fthmidt
e0A2) murr"gurkrn
bahwa pendekatan
komunikatif
uduiuh,,rn
lproach
to foreignor
second language teach_ing rohich ernphasizes that the gooi oy"longrog,
lenrning
is
communicatiaeiomprteni
and.
tuhich
seel<sto
make meaningfutcommuni_
cati.on and language use afocusiy
all classroom
actioities.
,
Beberapadasawarsaterakhirjugaber_kembang
pemikiran
untuk
melelgkapi
pembelajajaran bahasa
asing de^gur-p"rr_
dekatan
interkulfural
r"hir,ggu"rr,t'ro.rl
istilah
interkultureller
Fremdsprachenunter_richt (Pengajaran bahasa asing benarawasan
interkultural)
dan
interkulturelles
Lernen
(Pernbelajaran
interkultural).
pendekatanini
jelas menekankan adanya pengintegra_sian
aspek
budaya
ftultur)
dalam
pem-belajaran bahasa (asing). Hal
ini
antaralain
dilandasi pada pendapat Benjamin
LeeI4lhorf
(Calne, 2005:5L)yang
telah
meng_ajukan suafu
teori
tentang relativitas
li_nguistik. Ia
menekankan keberagaman isikonseptual dalam
ber^u"rm_*Icam
ba_hasa dan menyarankan bahwa keberagam_
an
itu
timbut
akibat ciri_ciri
kebudayaan.Selain
itu,
pendekatanini
menjadi
hangat
dibicarakan karena
fakta ,ouiologi,
di
Eropa
menunjukan
bahwa Eropa
sangatmultikultural
dan dalam
sebuah kelasba_
hasa asing
seringkali dijumpai
pesertadi_
_diknya datang
dari
beragam iatar beiakangbudaya.
Dari
sudut
pandang
pembelajaranbahasa asing
di
Indonesia _ semisal bahasa]erman-, pendekatan
ini
layakuntuk
diper_timbangkan mengingat bangsa Jerman me_
miliki
latar
belakangbudaya yang
sangatberbeda dengan bangsa
Indonesia.bengan
demikian,
pembelajar bahasaasing perlu
diberi
pemahaman rnengenai
latar
bela_
kang
budaya
dari
bahasatarget
yang
di_ pelajari.Pada
sisi lain,
pembelajaran bahasaasing
di
brdonesiajuga terikat pada
ama_
nah
yang termaktub dalam
UU
No.
20Tahun 2003 tentang Sistem
pendidikan
Nasionai, terutama pada pasal3:
Pendidikan nasional berfungsi mengem_
bangkan kemampuan
dan
membentukwatak serta peradaban bangsa yang ber_
martabat
dalam
rangkam"rr"".dlk
.,kehidupan bangsa, bertujuan untuk ber_
kembangnya potensi peserta
didik
agarmenjadi rnanusia yang beriman dan
ber-takwa kepada Tuhan
yang
Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap,
l :
kreatif, mandiri dan menjadi walga ne-gara yartg demokratis serta bertanggung jawab
Berdasarkan
pasal tersebut,
secaraeksplisit
ditekankan bahwa setiap
prosespembelajaran sebagai
bagian
dari
prosespendidikan
berkewajibanuntuk
secarain-klusif
mendorong pembentukan
karakterpada
diri
pernbelajar rnelalui berbagaiben-tuk
pembelajaran, terrnasuk pembelajaranbahasa asing.
Fertanyaan
yang muncul
kemudian
adalah apakah antara pembelajaran bahasa
asing
berw'awasaninterkultural dan
pen-didikan
karakter dapat dicarititik
temunyasehingga pembelajaran bahasa asing dapat
memberi
sumbangandalam
pengembang-an karakter
pada
diri
pembelajar bahasaasing
di
hrdonesia?KONSEP
PENDIDIKAN
KARAKTER
Saat
ini
pendidikan
karakter menjadiisu utama
di
dunia pendidikan.Seiainmen-jadi
bagiandari
proses pembentukanakh-lak
anak bangs4pendidikan
karakterpun
diharapkan
menjadi pondasi utarna dalammensukseskan
Indonesia Emas
2025.Di
lingkungan
Kemendiknas
sendiri,
pendi-dikan
karakter rnenjadi
fokus
pendidikan
di
seluruhje
ja.g
pendidikan
yangdibina-nya
(Herdani,
2010).Pendidikan
karaktersangat
erat dan
dilatarbelakangi
oleh
ke-inginan mewujudkan
konsensus nasionalyang
berparadigma
Pancasiladan
UUD
1945. Konsensus
tersebut
lalu
dipertegasmelalui
UU
No.
20 Tahun
2003 tentangSistem
Pendidikan
Nasional,terutama
da-lam pasal3.
Hiruk-pikuk
mengenai apa danba-gaimana
pendidikan karakter
diterapkantidak
lepasdari keprihatinan
sebagianbe-sar bangsa L:rdonesia mengenai hilangnya
moral anak bangsa daiam
praktik
kehidup-an
sehari-hari,
seperti korupsi,
tawuran
antarpelajar,
ketidakdisiplinan warga
ne-gara dalam berlalu
lintas, tawuran
antar-kampung hingga
kecurangandalam ujian
nasional.
Pendidikan karakter
diharapkanmenjadi
"obat" untuk
mengatasi dekadensimoral
tersebut"
Meski
sedang
ramai
di-bicarakan, pemahaman mengenai
apa
itu
karakter
dan pendidikan karakter
rriasih sangat beragam.Karakter menurut Berkowitz
(2AA2:48)
adalah an indiztidual'set of psychologicalcharacteristic
thnt
ffict
that person's abilityand inclination
to furcctionmorally.
Simplyput,
characteris
comprisedof
thosecharac-teristics that lead a psrson to do the right thing
or not to
do theright
thing.Dari
pendapattersebut
dapat disimpulkan bahwa
se-seorang yang berkarakter adalah seseorang
yang malnpu
menenfukanuntuk
berbuatbenar atau
tidak
berdasarkanpertimbang-an moral tertentu. Suyanto (2009)
menjelas-kan
bahwa karakter adalah cara berpikir
dan berperiiaku yang menjadi
ciri
khas tiapindividu untuk hidup
dan
berkerjasama,baik dalam lingkungan
keluarga,
rnasya-rakat,
bangsadan
negara.Individu
yangberkarakter baik adalah
individu
yang bisamernbuat keputusan
dan
siap
memper-tanggungjawabkan setiap
akibat
dari
ke-putusan yang ia buat.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut
terlihat
bahwa dimensi karakter
sangatlahluas. Berkowitz (2}CI2:48) menjetaskan
bah-wa
karakter merupakan konsep psikologisyang kompleks:
It
entails the capacity to think about rightand wrong, experience moral emotions (guilt,
ernpha$, compassion), engilge in moral
behn-oiors(sharing, danating to charity, telling the
truth), belieoe
in
moral goods, demonstratean enduring tendency to act with honesty,
altruism, responsibili$, and ofher
chnracte-ristics thnt support moral functtoning.
Secara
lebih
detil
Suyanto
(2009)memaparkan
adanya sembilan
karakter,yaitu
(1) karakter cinta Tuhan dan segenapciptaanya; (2)
kemandirian dan
tanggung-jawab;
(3)
kejujuran/amanah,
diplomatis:(4)
hormat
dan santun; (5) dermawarL sukatolong menolong dan gotong
royong/ker-jasama; (5) percaya
diri
dan pekerja keras;(7) Kepemimpinan
dan
keadilan;
(8)baik
dan rendah
hati
dan (9) toleransi,kedamai-an, dan kesatuan.
Apa yang
dikemukakanoleh
Suyanto sejalan dengan
pendapat]osephson (2011)
yang
mengemukakanadanya 6 prTar karakter, seperti yang
disaji-kan dalam Tabel 1.
Tabel
l.
EnamPilar Karakter
Subkategori
1.
Trustworthines HonestyIntegrig ReliaWity
Loyalty
Cioility
Dignity and autonorny
Tolerance and acceptance
Accountability Pursuit of Excellmce Diligence
Continous improoemml
Self-restraint
Prouss
lmpartiality Equity
Respect
Responsibility
Berdasarkan
pendapat Suyanto
danjosephson tersebut,
dapat
dilihat
bahwapilar
karakter
berasaldari
nilai-nilai luhur
yang
sifatrya
universal.
Nilai-nilai
itulah
ymtg
seharusnya dikembangkan
dalampraktik pendidikan
sehari-hari.Lalu, apa yang dimaksud
pendidikan
karakter? Lickona
(Elkind
dan Sweet, 2004)mendefinisikan
pendidikan
kankter
(cha-racter
education) sebagai...isthe
deliberateffirt
tohelp people understand, care about, andact upon core ethical aalues.
Dari
pendapattersebut dapat
diketahui
bahwapmdidik-an karakter
merupakan
pendidikan
budi
pekerti plus yang metribatkan aspek
penge-tahuan, perasaaan
dan tindakan
(Suyanto,2009). Dengan demikian, melalui
pendidik-an
karakter,
pembelajardiharapkan tidak
hanya mmgetahui nilai-nilai
luhur
yangada
dalam
nnasyarakat,tapi
juga
mampu
merasakannya
dan
merealisasikannyada-lam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter dapat
dilakukan
dengan berbagai macarn cara, seperti
yarg
dikatakan
Koesoema.A
(2010),yaitu
me-lalui
mata pelajaran khusus, integrasipen-didikan
dalam
setiapmata
pelajaran atau pendekatan integral yang mempergunakanruang-ruang pendidikan
yang
tersediadalam
keseluruhan
dinamika
pendidikan
sekolah. Salah
satu
poin penting
tersebutsejalan dengan pendapat Sudrajat
(2010)bahwa
pendidikan karakter dapat
diinte-grasikan pada
setiapmata
pelajaran.Ma-teri
pembelajaranyang
berkaitan
dengannorma atau nilai-nilai pada setiap
matapelajaran
perlu
dikernbangkan,dieksplisit-kan, dikaitkan
dengan kontekskehidupan
sehari-hari. Dengan
demikian, ruang
bagipembelajaran bahasa
asing
untuk
turut
mengembangkan
karakter
berdasarkanni-lai
etika yang berlakudi
masyarakat masihsangat terbuka. Pembelajaran bahasa asing
dapat dikelola
sedemikian
rupa
sehinggaberbagai
nilai
yangterkandung
dalamwa-cana bahasa
asing bisa
digali dan
dipela-jari.
Eikind
dan Sweet Q004) mengatakanbahwa pendidikan karakter dapat
dilaku-kan
dengan berbagai cara dan pendekatan.Pertama,
pendidikan karakter yang
meng-gunakan
pendekatanholistic
(The HolisticApproach).
Melalui
pendekatanini,
pendi-dikan
karakter diintegrasikan ke dalam se.mua
aspekkehidupan
sekolah. Kedua,tfu
5. 6.
Fairness
Caring Citizmship
Irderlqt:naa-Smorgosbord Approach
yang
menawarkanberbagar
aktivitas
yang dapat
diiakukan
guru untuk
membangun
karakter
padasiswa"
Aktivitas
tersebut antara
iain;
(1)build
a
carirug community;(2)
teach aaluesthrough the curriculutn; (3) class discussions;
p)
class discussion; (4) seroice learning.PEMBELAIARAN BAI{ASA
ASING
ts
ERWAWASAN INTERKUI,TURAI,
Model
pembelajaran bahasa
asingberwawasan
interkultural akhir-akhir ini
sedang
hangat
dibicarakan
di
Indonesia,suatu hal yang
di
Eropa sebenarnya sudahdimulai
sejaktahun 90-an.
Pendekatanini
dianggap
sebagaikelanjutan
pendekatankomunikatif, meskipun terkadang
salingtumpang
tindih.
Konsep
yarr.tgdiusung
pendekatan
interkultural
yaitu
Neben diekommunikatioe fremdpsrachliclre Kompetenz
tritt
Kultur-
bzw Fremdaerstehen alsgleich-berechtigtes Lernziel.
Mrt
Hilfe exernplarischer Themen sollm die Lernmden befikigt rfierden,die eigene und fremde
Kwltur
besserzu
aer-stehen
(Pauldrach, 1992).
Tujuan
belajarpendekatan
ini
adalah selainmengembang-kan
kompetensi konnunikatif,
jrgu
me'
ngembangkan pemahaman
terhadap
bu-daya
dan
sesuatuyang
asing (das Frernde).Pernbelajar diharapkan mampu memahami
budaya
sendiri
dan budaya asing
denganlebih baik.
Pendekatan
ini
memiliki
landasanbahwa
keberhasilankornunikasi yang
ter-jadi
antaruakomunikator
yang berasaldari
dua budaya
berbedatidak
hanya
ditentu-kan
oleh
penguasaanaspek
kebahasaan,ditinjau dari struktur
gramatikal maupun
sosio-pragmatiknya
tetapi jugakemampu-an
menangkap,memahami
dan memiliki
empati
terhadap
kultur
partner
komuni-kasi. Tujuan yang barangkaii
sangat idealadalah
untuk
memberi
sumbangan padapemahaman antalbangsa, seperti
yang
di-katakan
oleh
Weimann
G/
Hosch
W
(Pauldracfu
1992)Das
Globalzielder
inter-kultur ellsn Komrnunikation soll dariiber hinau s
einen B eitr ag zur V dlkens er stiindi gun g lcisten.
Maijala
(2008)
lalu
menyimpulkan
bahwa perbandingan
budaya
(Kulturuerg-leichj harus menjadi
perhatian dalam
kon-teks pembelajaran bahasa asing
berwawas-an
interkultural
agar pembelajartidak
ha-nya
mampu berbicara dalam bahasa targetmelainkan
juga
memahamilatar
belakangbudaya
bahasa
target
tersebut.
Hal
ini
kemudian juga
ditegaskan oleh WeimmanG/Hosch
(Maijala
2008)
bahwa
pembe-lajaran bahasa asing berwawasan
interkut-tural
harus mer:rgembangkan kemampuan,strategi
dan
keterampilan
untuk
berinter-aksi dengan budaya asing dan
masyarakat-nya.
Dari
berbagai pendapat tersebut,da-pat
disimpuikan bahwa
pembelajaranba-hasa asing saat
ini
tidak
cukup
hanyamengembangkan
keterarnpilan
berbahasadalam
bahasa target,
nalnun
juga
harusmengembangkan
kemampuan
pada
did
pernbelajar
untuk
bisa mernahami budayaasing
(das Fremde)yang menjadi
latar
be-lakangnya
dengan
berbasiskanpada
pe-mahaman
yang
baik
akanbudaya
sendiri(das Eigene).
Harapannyaketika
pembelajarberada pada situasi
interkultural, ia
dapatberkomunikasi
denganlawan
komunikasi-nya dengan
baik
dan
benar.
Byram(Maijala,
2008)
lalu
mengajukan
konsepyang
ia
sebut sebagai intercultural speakers,yang
kurang
lebih
bermakna
sebagaiseseorang
yang
mampu
berkomunikasisecara
interkultural
dengan
baik.
Byrammengajukan
terminologi
tersebut
sebagaiganti dari istilah
yang sering
kali
disebutsebagai
tujuan
utama pembelajaran bahasaasing,
yaitu mampu
berkomunikasi sepertinatiCIe speaker.
satu har
penting
yang harusditegas-
-.D"rg*
mengacupada
apayang
te.kan
sekalilagi
adalahfrfr*"
kemampuan
lah
dipaparkan
sebeluuntuk
mernahamiyang,,asin{,
(das
F)emd_
lun
*
asing
*r*r*uH'fr,:rilffifrT
zterstehen) akan-bisa dicapai
liku
yangmrn-
yakuntuk
diterapkan di Indonesia. Asumsi
jadi
basisuntuk
menuju ke
*uh ,rrr,
,du-
y*g-*urrdasarinya
adarah:
pertama,
ma_Iah
pemah*ul
terhadap budaya
'u."-d,ri
syarakat Indonesia merupakan masyarakat(das Eigene)'
Kaikkonen
lzaoz's-alrnenjeras-
yangmultikultural
dan kedua, dalam kon_
kan
bahwaOrii
konteks*".,rlr keseim_
ieks globalisasi saat
ini
bangan terseb rt, bahasa
asing
aL
U,rauy,
tur., pembelajar bahasa
"Hr?:iTH::il
Iffi:Brl":l-'rt"ll.TffiU",'f: #:-
pad,
situasiinterkurtural
yang me-wasan kutturar.1aas
xutturuit{f,*,rrtuiu,,"*m::H"}:TilHt#,r'
melalui
dua arah,yaifu
wawasan terhadapkultur
sendiri dan wawasan terhadapyan;
TITIKTEM,,EMBELAIARAN
BAHA'A
"asirlg"
'
oleh
karenaitu,
Kaikkon
en
eaaz
ASING
BERWAWA;;N
INTERK,IT,-5-6) berpendapat
f*y:
pembelajaranba-
RAL
DAN PENDIDIKAN
KARAKATER.
hasa asing
melberi
tu'"*p'L pada
seqerti
yang
terahdipaparkan
sebe-pembelajar
untuk memperlu*
*u*ur*
lumnya,
bahwapendidikan karakter
di
In-kultural
sekaligus-
identitasnya.
oi,
*"-
a".*ri,
bertujuan
untuk
membentukanak
ngatakan
'
Fremdsprachenun-te*icht.kann
u*gru
yang
berakhlak morar
baik
dan
also als ein
Mittel
sein, daszur
ldentitritsbil_
*urip,
bertindak
berdasarkan nilai_nilaidung der Lernen,en fruchtbar
ura
,irtur*rrrt
tuhuraengan
benar. pertabeitrrigt'
-'-'vewwooL
::i'"1:":9*
benar. Pertanyaan yang mun_,"*'I1HH;#;:,:1",'*t-f*
:,il
*i11*,fl:f,?:ilJfffTJfil:
,:ffm,il"rflx;:mx,;;:X
;*xi!ffi"'r;:1,:rl=,H*,,il;
interkuttureuen Komminikationst<ompetrirz.
ffirr:ffi$1?-jiIHffif,ilT:f,
ffili::,n"f*::fT,,tr"f#,:s
ke-
aaa daramp",,iiaik*
r*urt",
dan tujuan
',Tiffii:';;,
kn
xi:f,f;tr:;[',T
ilJi'::tr],:*Tfl::*NH*F;
y.oq,n,
r,nnntr,ia,e,md-gen,Resp*";f;;i
:,*,
i,ilrTi"l_ffmr;*#;:
yr:::
;frY;;,,:y#l;;f;X:;*
*,{-,
be*uiu-anus;
p"*b",ajar
me_
HaI
ini
pemah
ditegaskanoleh
Bredella/-
IemalnPuanuntuk
memahami
se-Deranoy
(leee:1.3\bahwa
,",*
o"*ol_ :1,#1tr*":T:;l-$[LTiljffi*
,3fr"1i*Lff*****::
i,,lffin*r".bisadicapaijikapemberajar
pendidikan,
,"p"lo
toleransi
a* t"r]I"*
juga
mengenali
o*
*"*ahami
budayapuan_berempui.
rrg*
penting
*rurffi;
r#f;ffitffi{f*#
I#
adalah membangu"
i,"u""g;
,*r*urrr,_ ;;;;,;rr"rak
mlmahami
kuttur
asing
patik
antarkebudayaanyang
berbeda
dan *"iilri*asa
yang
diperajari.
pemben_pembongkatanstereotyp'yisnegatif'
tukan identitas
diri
sebagai bangsasecara
tidak
langsung akandibentuk.
FIa]ini
se_
jalan
denganpilar
karakter yang
pertamadari
sembilanpilar
karakter,yaitu
karaktercinta
Tuhan
dan segenap ciptaannya kare_na segala keragaman budaya serta kekaya_
an
alam yang
turut
membentuk
budayabangsa L:rdonesia
tidak
lepas
dari
tanganTuhan. Selain
itu,
di
era gioba_lisasi saatini,
kemungkinan bahwa
pembelajardi
Indo_nesia
untuk
keluar
dari
tingkungan
kultu_ralnya dan berpindah
serta
masuk
padalingkungan budaya yang baru
sangatlahbesar, misalnya ketika
studi
atau bekerjadi
luar
negeri. Tentu
kita
menginginkan
me_
reka
ddak
kehilangan identitas
sebagaibangsa
lndonesia dan
kecintaan terhadapIndonesia.
Kedua,
pembelajaran bahasa
asingberwawasan
interkulfural nrerniliki
tujuan
yang berhubungan dengan kawasan
afektif
pada
pembelajar,
yaitu
mengembangkanempati dan
toieransi
pada
sesuatu yang"
asing"
atau
segala sesuatuyang
berasaldari
luar
lingkarankulturalnya.
Kemampu_an empati dan toleransi ini
jika
dikembang_kan
denganbaik,
akan mernbantu pembe_lajar
untuk juga
bersikap tolerandi
masya_rakat. Fakta sosiologis
di
Indonesia menun_jukan
bahwa bangsa Indonesiaterdiri
atasberbagai
suku
bangsa yang sangat multi_kultural
sehingga kemampuan
berempatidan
toleransi
menjadi penting
untuk
di_kembangkan pada
diri
pembelajar.Hal ini
-qesuai dengan
pilar
karakter yang
kesem_bilan, yaifu
toleransi, kedamaia.r,-dan ke_satuan serta
denganpilar
kedua
dari
Jo_
sephson,
yaitu
respek
yang
mengandungnilai
toleransi dan penerimaan (aiceptance)(Sur-anto, 2009).
Ketiga, dalam
pembelajaran bahasaa-.ing benr-awasan
interkulfural
bermaksudu-ntuk nrenghilan gkan sta.eotype negatrt r:r_
Tee,.
Iruitur
asingdalam
diri
pernbelalar.5:se,-trpe_vang
tidak
berdasar
seringkaliberujung
pada
kesalahpahaman antarpe.lakukomunikasi
dari dua budaya yang ber_beda. Kemampuan
unfuk
menghilangkanstereo$pe
negatif
tersebut akan
dapat
di_
manfaatkan dalam kehidupan
sehari_hariSeperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa
masyarakat Indonesia sangat
multikulturaj
sehingga semua
anak
bangsaharus
hati_hati
dalam
berpikir
atau bertindak
ketikaberhadapan dengan
orang
lain yang
ber_asal
dari
kornunitas budaya, atau
bahkanagama lain. Belum
hil*g
dari ingatan kita,beberapa kerusuhan yang rnelanda Indone_
sia tidak
lepas
dari
ketidakmampuan
se.bagian
anak
bangsamenghii*gk*
p."_
sangka
negafif
terhadap orang
lain
yang
berasal dari luar
iingkaran
kulturahnya. pra_sangka
negatif
yang
berlebihan
ini
salah
satu penyebabnya dalam pemikiran sebagi_
an
orang terekam
stereotypenegatif
ter_hadap suku bangsa atau agama lain.
Salah satu cara
yang
direkomendasi_kan untuk
rnengintegrasikanpendidikan
karakter
dalam pembelajaran bahasa asingadaiah
menggunakanteknik
diskusi.
De.ngan teknik
diskusi,
pembelajar
bahasaasing
(Jerrnan) akandiajak
untuk
berpikir
kritis
dalarn mengamati aspek kultural
yang
terdapat
dalamwacara
bahasa asingyang dipelajari
dengan berlandaskan padapemahaman akan budaya
sendiri.
Berikutini
akan disampaikan beberapa contoh.Dalam
buku ajar
bahasa
Jerman
Sprachtraining
A1
halaman
9
terdapat
se_
buah teks sebagai berikut.
Dalam teks tersebut, diceritakan
bah-wa
Manolo telah
hidup
bersama Susaneselarna
12
tahun
di
Koln.
Setelah merekapunya
anak, mereka akanmenikah
secararesmi pada musim
panasyang
akan
da_tang.
Mengacu
pada teks
ini,
pembelajardapat
diajak
berdiskusi
untuk
melihatnilai-nilai
yang
adadi
masyarakat ]ermandengan
rnengacu
pada nilai-nilai
luhur
yang tumbuh
di
masyarakat
Indonesia,baik yang
bersumberdari
agamamaupun
dari
kearifan budaya lokal.
pertanyaan-pertanyaan yang dapat didiskusikan
untuk
mengiringi
pembahasanteks
dari
sudut
kebahasaan antara
lain
sepertiberikut.
(1)Apakah Manolo dan
Susanemenikah
se_belum punya anak?(2)Menurut
And4
apa_kah
yang dilakukan
Manolo
dan
Susannebisa
dipertanggungjawabkan
dari
sudut
pandang masyarakat Indonesia? (3) Dalam
sistem kenegaraan
di
Jerman, apakah anakyang dilahirkan
sebeium
menikah
resmitetap memperoleh jaminan sosial?
Diskusi dapat
dilanjutkan
denganmengajak
pembelajar
untuk meiihat
polahubungan
laki-laki
clan perempuan di
Indonesia.
Dari
hasil
perbandingan
duasituasi
kultural
antara Indonesia dan
Jer_man,
pembelajar diharapkan
akan
dapatmemperoleh penegasan terhadap
nilai-nilai
luhur
bangsa
lrdonesia terkait
denganhubungan antara
laki-laki
dan perempuan.Pengajar
kemudian
dapat
menjelaskanbahwa apa
yang terjadi
padaManolo
danSusane
merupakan
hal
yang jamak
di
]erman
dan
negara-negara Eropalainny+
namun
hal
itu
tidak
dapat digunakan
se_bagai landasan
untuk
melakukangenerali-sasi. Dengan
kata
lairg tidak
semualaki-laki
dan perempuandi
Jerman melakukanatau
memiliki pola
hubungan seperti itu.
Hal
ini
perlu
ditegaskan oleh pengajtu agarpembelajar
bahasaasing
tidak
memiliki
stereotype
yang
negatif terhadap
bangsalain.
Melalui
cara
yang
sama,teks
yangterdapat
di
dalam
buku
ajarStudio
D
M
halaman 28 juga dapat
didiskusikan untuk
menggali
dan
membandingkan nilai-nilai
yang berlaku
di jerman
dan
di
Indonesia.Teks
ini
menceritakan
rnasalahyang
di-hadapi oleh keluarga G6pel dengan
te-tangganya. Penyebab utamanya adalah ke_
luarga
ini
rnemiliki 3
anak.para
tetanggamerasa terganggu
karena
anak-anak
ke_luarga Gdpel seringkali ramai dan ribut
saat bermain
di
taman ataudi
tangga apafttemen. Salah seorang tetangga bahkan per_
nah
mernanggilpolisi.
KeiuargaGtipel
be-rencana
pindah
dan mencari tempat
ting_gal
baru. Namun,
hal
itu
tidak
mudahkarena sebagian besar
para
pernilik
apar-temen
tidak
bersedia menyewakan tempattinggal untuk
keluargayangmemiliki
anak,apalagi lebih dari satu.
e'1#sl{}*{'t {";$,*r'
&4**i,r; k**;;m4 *i;s
#wxx****,{"'*'i*:,,
s'
**itxw;;itrt"!M*xrxizs*\wt
d*:rtits*?;*.Yt ffir'i,$a$.f,fqffi #$** ts l{'iil*t"
S(e laaiwa ** tt: vi*t, k€t*wxr*nt *1 xl S*c;{i
t{td,r
rl lf :x r {rr t*}fi}1 l}rtl hd,i*l*cl} fl,,1*,n
,M**t*i*jr'aprc}*r* 1;t u?*fu}t'; lt*iuru$:lx
ia
H*iin
lq:,tpaai{"]}li2r,, i:a;*i} *silili?'* j$t &*1rt3,:xry**rac?" S#iJ* h*l.e,pi*
&4*#i*'ffi*xa*i* iiia# ?;+xgt++. +:M,fu mm*r
fitr
e*t&*qr*s4{r}$3i$*rilrrtS*{.''';;u.
?
S*cfttusf$ #s#e.fl *qi:M,qrr!fttr="
Fpr*i{rs #c$pxg s}ri}#s rseesi'{r'it ;illt*i Sirill*i irri*l i:iiirrsil": i i.rr+r l rrl.'': ::r:,:rt ffie;'g*r*n*ttriak IJlt l.i-,,l
ri.
l,tlrr't,,Irr-r $0. i:i."ir:,,\la3tr i$ i, Sr,'qlijg
i)!
,irilri L.iii:*, ii
;. -ir'i, i ,"rt,r
tlla Fglt-rrlrt i:itr'.,1*i.ih;rir. ,,x:in i:"il; iri; iri riiillri.
liii:
: 'Lr.li:t;:t,:tt tili .l ;ili-{i.}iq:y1 i'r,r;t:i:,iil: rliliil
ll;t;
i: ti; r1,,!tit'-:t:. .1'r:i: rri.li ;i:rl ili lair:l ri:,'l;t .r : .',r:1,;,i;',u.,, '
:;lgi tr1*rit;; : ,',; ,"i ..i r ;,i':, ;;1;r11', it:
-':
l l.rl ;:la* S;*iL[:;ail ri1i]I. ri,r:i r,l,: i.,tr,.:'.'=i,:i.,1,r '1'1lii! l;lii,{
"i*itl
}.r;i: X\r,!tiir:,,ar';,
;
! ;it:r.,! .ii;,!.-:. r$ $tt{:t"drf6}'! S*riii gi i:.t'* \{,iQii:, ir, ii ,rr:iji- y,flqir.;. r,
.f ltl {:iir,' rltrf, i.,J;'r ,1 " I L, ...,
.,,{'1f f,{lfi f,*e:l .\itrlriL, ;ri*: tiiq 1+|.1liirr:rrrr rr;rd,: ri.
'i.,o.l1riqor?l;o,..,1t:1',',
i",
li:: ,
.'iii'-t {;1a;i;pi1!a:1r l*: iir;vi +ii,r-i ,i'fiitr,:ilrir;.;i .llli-'il ri:'l
,1 liTilll{"fifufi1*:;." #l*t jrr:X..r
.,;,
1."1i.,,. "r
..
i
, *,11i,1 :-1,r,,;, -?it:lllr Yl:tiiilr,"ir i:uerlilil
rj*,{alifi :;, l
t
i' ; itit t; i }',*irrl il,"l ti: l{il*'ll}-:,illxl s*flt,s {i?il fl \,ri i;.,.'i i.ii-ri'u.i(li.;1tia;
i*ill
i*
*.q}ll
n
I,#Sq fl3{4'
:q'
. ,: ;..s.,iE..;,i'{ir .,.Jr j,,',' g',*ry;*, $'1i[rr i!*tLl. i"i;i:, ;:,1 +tl&:y ilili ,i!;k$ *$ *i*its*irr xrii d{*i
!,:irrJqii'lt. !.r,:i:lt.: i&,}l:,.li,r:r ll;ti.r* totls Lr*.1 I{} ill,Efr;i*
tt'rr jrri:if {'iiitj;:. E"}i* r:rrinl*r* 1&*Hj##*f,e? faq*lxr?,
1 .,::. ..:, I. :..rr:.rci 3If; 11 tX rt6d rtLolr *:,1
I ;ri , i.1t $:;rs*1 ii;tri:. tlxar l{ ir a{!qi L *ri*f
r, I:,iir:i. ''r;it ri,i.: {j*:iiiil,;h i'lrsiri.*fx d,b*x,riX lm"
:ql :,!,:l il, 1.. :'tq. ,r!!:.{"ett"'r I.r 1." ftt*rrSirh, I.t
..,."'..:
I i
i.'
,,,).:l '.1r' 1,, -,11,\{
rfr+rr,1,4 f13" f.1ri1"
l,
,a.'
r" .,l,.l
,,:i rji:lC,f i,il
I i'f,*rl *U '+ il1 ; ;i1'&i,:ri*ilii*l,iI
Diskusi dapai
,JirLt:lai
iJ*nfis-iimqt-nanyakan
paila
penrbeiej=:: a_pa i;e.ilr-"?.,,p;ri.mereka
mengenaijLrdul
tek.=: .r,;inS ;l;i;,:;:,pr<;v*I<aSf,
yaitu
Ncciibnm gegen Kndeilrirm*
Fre}?Irlre {Sdpd mussraus!.I*dul
teksini
ku-r;i-ng; le:hrhr L:er.urakna: I?ara Tetangga
tidak
.r{k,
$
'tr ,.:I
ff
, a
ili
Suka
denganAnak-anak yang
Ribut,
Ke-iuargaG0pelharusKeluar. Pertanyaan yang
dapat diajukan
untuk
mernancing diskusiantara lain seperti berikut. (i.)
MenurutAnda,
kenapa keluarga
Gtlpel
tidak
disukai
olehtetangganya?
(2)
Kenapa keluarga Giipel
harus
pindah?
(3)Apakah
keluarga Gcipelakan
mudah
menemukan
tempat
tinggal
baru untuk
disewa?Pertanyaan-pertanya-an
ini
sengajadimunculkan
sebejurnpem-belajar membaca teks tersebut secara
kese-luruhan. Tujuannya
adalah
untuk
mem-bangkitkan
pengetahuanawal
pembelajarmengenai
rulai-nilai
kehidupan
bertetang-ga.
Setelah pembelajarmer'baea
teks
se-cara keseluruhan, mereka
diajak
kembaliberdiskusi secara
lebih kritis,
terutamaun-tuk membandingkanbagairnana situasi
ber-tetangga di lndonesia dan di Jerman.
Melalui
diskusi sepertiini,
pembelajarbahasa
asing
-
dalam
hal
ini
pembelajarbahasa Jerman tetap
dibimbing
untuk
rne-Iihat peristiwa
kulturai
asing yangditemui
dengan berbasis pada
nilai-nilai luhur
yangada dalam
masyarakat Indonesia.
Prosesseperti
ini
akan
mennperkokoh identitasdiri
pembelajar sebagai bangsa Indonesiadengan
segala
nilai
kultural ideal
yangdimiliki.
PENUTUP
Pembetrajaran bahasa
asing
di
Indo-nesia dalarn pelaksanaannya
memiliki
duabentuk tanggungjawab, yaitu
mengembang-kan kemampuan berkomunikasi dalam
ba-hasa
asing
yang dipelajari
sekaligusjuga
turut
bertanggungjawab
untr.lk rnenyemaibenih-benih
karakter
padadiri
pembelajar.Tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan
mengaplikasikan pembelajaran bahffia asing
yang
menggunakan pendekatan
interkul-tural.Pembelajaran bahasa asing yang
ber-wawasan
interkultural
bertujuan
untuk
mengembangkan
kompetensi
komunikati-fdan juga
kompetensi
interkultural.
Bebe-rapa
aspekdari
kompetensi
interkultural
yang
sejalan denganpendidikan
karakterseperti
berjl.ut.
(L) Perluasan wawasankul-tural
(dasKulh*bild)
dengan
rnenghargaibudaya asing {das Frxnde) dengan
berbasis-kan
pada
pemahaman terhadap
budayasendiri
(das Eigme).Hal
ini
akan
meng-gffing
pemb*lajaruntuk
tetap menghargaidan rnencintai buda,va dan
niiai-nilai
luhur
sebagai bangsa Indonesia"
(2)
Pembelajarakan
dibimbing trntuk memiliki
kemampu-an bertoleransi dar: berempati terhadap
se-suatu yang
"asing"
sertarnemiliki
kemam-puan untuk
bersikap hati-hati
terhadapstereotyp e yang negati{.
UCAPAN
TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan
ke-pada reaiuuer dan pembaca
ahli
yang telahberkenan mernberikan
rnasukan berhargauntuk
penyempurn"aanartikel ini.
Semogaartikei
ini
dapat menambah wawasan bagipembaca tentang pentingnya
pengembang-an
karakatermelalui
pembelajaran bahasaasing.
DAFTA,R
I'USTAKA
Berkowitz, Ivlarvin
W.
2002."The
Scienceof Character Educatioan" dalam
Bring-ingin
aNezlErain
Character Education.Editor:
Damoru
William.
Stanford:Hoover
Institution
Press.Bredella, Lothar.,
&
Delanoy, Wemer. 1999.In t e rk ul t u r e ll e
r
F remdspr achenunter -richt: Giessener Beitrtige zurFremdspra-chendidaktik
Tubingen:
Gunter
Narr
Verlag.
Calne, B.
Donald.
20A4. Batas Nalar:Ra-.ii
nalitas dan Perilaku Manusia. Jakana:
Kelompok Penerbit Grame dia.
Depdiknas. 2003. Undang-undang Sistem P
en-didikan Nasional. Jakarta: Pusat
Doku-mentasi Depdiknas.
Elkind, David
H., and Sr+,eet, Freddy. 2004."How
to
do
Character
Education""http: /
/
www. googcharacter.com/Ar-ticle_4.hknl. Diakses pada tanggai 28
Oktober 20LL.
Herdani,
Yogi. 2010."Pendidikan
Karaktersebagai
Pondasi
Kesuksesan
Per-adaban Bangsa". }".:tttp:f/
www.dikti.-go.
id/
index.php?option=com_onte-nt&view= article&id.
Diakses
padatanggal 27 Oktober 2A11,.
Kaikkonen, Pauli. 20A2. "
Authebrtizitiit und
Authentische
Erfahrung
in
EinemInterkulturellen
Fremdsprachenun-terricht"
dalam
lnfo
DaE:
Informa-tionen Deutsch als Fremdsprache.
Nr.1,
29 Jahrgartg, Februari 2002.
Koesoema, Doni. 2010.
"Kucing Hitam
Pen-didikan
Karakter".
Kompas,19
]uli
2010.
Maijala Minna.
2008."Zwischen
denWel-ten
-
Reflexionenzu
interkulturellen
Aspekten
im
DaF-Unterricht
und in
DaF-Lehrwerken".
ZeitschriftEilr
ln-terkulturellen F remdsp r achenuntericht.
Erschienen online: 1
April2008.
Pauldrach"
Andreas.
1992.'Etrre
unendli-che Geschichte:
Anmerkungen
zurSi-tuation
der
Landeskundein
den90erJahren"
in
Frxndsprache DeutschZeitschrift
fu,
dm
Praxis
desDeut-schuntercichts : Lmdeskunde.
luni,
1992.Mrinchen:
Verlag Klett
Edition
Deutsch.Richard, Jack
C.
dan
Schmidt,
Richard.2002. Longman Dictionary of Language
Teaching and Applied Linguistics.
Lon-don: Pearson Education
Limited.
Sudrajat,
Akhmad.
2010."Tentang
Pendi-dikan
Karakter".
h*p:/
/
akhrcradsu-drajat.wordpress.com
/
2010 / 08/
20 /-pendidikan-karakter-di-SMP/.
Diak-ses pada tanggal 28 Oktober 20L1.
Suyanto. 2A09.
"Argensi
PendidikanKarak-ter".
http:/
/mand*dasmen.kemdik-nas.
go.id/web
/
pages/urgensi.html.Diakses
pada
tanggal
30
Oktober2011..