OPTIMALISASI KEJAKSAAN DALAM PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI

Teks penuh

(1)

1 OPTIMALISASI KEJAKSAAN DALAM PENGEMBALIAN

KERUGIAN NEGARA AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI

ARTIKEL

Oleh:

YETICO MICHIGAN

NPM: 1410018412009

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS BUNG HATTA

PADANG

(2)

1

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS BUNG HATTA

PERSETUJUAN ARTIKEL

NAMA : YETICO MICHIGAN

NPM : 1410018412009

PROGRAM KEKHUSUSAN : HUKUM PIDANA

JUDUL TESIS : OPTIMALISASI KEJAKSAAN DALAM

PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI

Telah dikonsultasikan dan disetujui oleh pembimbing untuk di upload ke website.

(3)

1 OPTIMALISASI KEJAKSAAN DALAM PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA

AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI

Yetico Michigan1, Sanidjar Pebrihariati R1, Yetisma Saini1 Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Bung Hatta

e-mail: Gan_michi@ymail.com

ABSTRAK

Korupsi di Indonesia terjadi secara sistematik, sehingga tidak hanya merugikan Keuangan Negara namun juga berdampak kepada sosial ekonomi bangsa. Tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana khusus karena itu ancaman pidananya juga khusus. Sebagaimana terdapat dalam Pasal 18 Ayat (1) UU PTPK Ayat (2) Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum yang berwenang dalam melakukan penuntutan dan eksekutor salah satunya pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi karena Kejaksaan memiliki kewenangan untuk itu yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah upaya kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi? 2. Bagaimanakah optimalisasi kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi? Metode penelitian yuridis sosiologis. Teknik pengumpulan data. Wawancara dan studi dokumen. Kemudian data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian. 1) Upaya Kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi sudah optimal baik bekerjasama antar lembaga terkait dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) Optimalisasi Kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi cukup optimal secara nominal, sedangkan secara keseluruhan perlu ditingkatkan lagi.

(4)

2 OPTIMIZATION PROSECUTORS IN REPAYING DUE TO

THE STATE A LOSS OF CORRUPTION

Yetico Michigan1, Sanidjar Pebrihariati R 1, Yetisma Saini 1 Program Master of Law, Bung Hatta University Graduate Program

e-mail: Gan_michi@ymail.com

ABSTRACT

Corruption in Indonesian happening by systematic, so no need to caused financial loss to the state but also impact the socio economic the people. Of corruption is to follow up special crimes therefore stipulate threats his also special . As contained in article 18 paragraph (1) of law PTPK paragraph (2) the payment of the a substitute for which is much equal to the wealth obtained from of corruption. Prosecutors as a law enforcement agency that authorities to conduct prosecutions and executor of one of them is due to return the state a loss of corruption because prosecutors having authority to it that was found in the act of No.16 2004 about attorney general s office of the republic of Indonesia. Formulation problems 1. How efforts prosecutors in repaying due to the state a loss of corruption? 2. How optimization prosecutors in repaying due to the state a loss of corruption? Research methodology. Juridical sociological. Technique data collection .Interviews and study documents. Then the data analyzed qualitatively. The results of the study. 1. Attorney general s office efforts in repaying due to the state a loss of corruption is optimal good working between agencies related at home or abroad based on laws and regulations. 2. Optimization prosecutors in repaying due to the state a loss of corruption enough optimal nominally, while overall needs to be improved again.

Key Words: Optimization, Attorney, Returns, State losses.

A.Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang berdasarkan atas hukum, lebih jauh di dalam penjelasan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam, Pasal 1 Angka 3 menyatakan “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Ditegaskan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum rechtstaat tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka machstaat. Hukum pidana di Indonesia terbagi dua, yaitu hukum pidana umum dan hukum pidana khusus. Secara definitif, hukum pidana umum dapat diartikan sebagai perundang-undangan pidana dan berlaku umum.

(5)

3 demikian, pemberantasan tindak pidana

korupsi harus dilakukan dengan cara khusus, antara lain penerapan sistem pembuktian terbalik, yakni pembuktian yang dibebankan kepada terdakwa.

Sebagaimana berlaku pada tindak pidana umumnya, pelaku tindak pidana korupsi diancam dengan pidana pokok dan pidana tambahan. Pengaturan pidana pokok diatur dalam ketentuan Pasal 10 KUHP, yaitu pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, dan pidana denda. Sedangkan pengaturan pidana tambahan, diatur lebih detail dalam UU PTPK. Tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana khusus, karena itu ancaman pidananya juga khusus tidak sebagaimana tindak pidana lainnya, Sebagaimana terdapat dalam Pasal 18 Ayat (1) Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK), selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang hukum pidana, sebagai pidana tambahan adalah;

1. Perampasan barang bergerak dan berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut;

2. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama

dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi;

3. Penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu 1 (satu) tahun; 4. Pencabutan seluruh atau sebagian

hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh Pemerintah kepada terpidana.

Ayat (2), jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana yang dimaksud dalam Ayat (1) huruf b paling lama dalam 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat di sita oleh Jaksa dan di lelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

(6)

4 Dalam draft Undang-undang

perampasan aset tindak pidana, terdapat Pasal-pasal yang cukup detail mengatur bagaimana tata cara untuk memaksimalkan pengambilalihan hasil kejahatan seperti korupsi, sebagaimana terdapat dalam Pasal 4, Pasal 6, Pasal 14. Mulai dari, penelusuran, pemblokiran, penyitaan, dan perampasan.

Pasal 1 Angka 3 rancangan Undang-undang perampasan aset tindak pidana, yang menyatakan; Perampasan Aset Tindak Pidana yang selanjutnya disebut perampasan aset adalah upaya paksa yang dilakukan oleh negara untuk merampas aset tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan tanpa didasarkan pada penghukuman terhadap pelakunya.

Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga negara pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara harus bebas dari pengaruh kekuasaan dari pihak manapun, yakni dilaksanakan secara merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya. Kejaksaan sebagai salah satu lembaga penegak hukum dituntut lebih berperan dalam menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan umum, penegakan hak asasi manusia, serta pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Kejaksaan dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) menyatakan: Kejaksaan Republik

Indonesia yang selanjutnya dalam Undang-undang ini disebut kejaksaan adalah lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan, serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Secara umum mengenai tugas dan kewenangan Jaksa salah satunya sebagai eksekutor dalam putusan pengadilan dapat dipahami sebagai orientasi normatif mengenai mulia dan beratnya profesi Jaksa sebagai penegak hukum.

Hal ini karena perkara hukum pidana yang diajukan oleh jaksa ke pengadilan akan berdampak terhadap jati diri dan profesi Jaksa. Apalagi dalam kasus tindak pidana korupsi dikabulkan oleh hakim sesuai dengan tuntutan Jaksa. Apabila sebaliknya ini akan mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap kinerja Jaksa. Perkembangan selanjutnya konsep perampasan aset kemudian diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian diubah dengan Undang-undang 20 Tahun 2001 (UU PTPK), sebagaimana terdapat dalam Pasal 17 dan Pasal 18, namun masih terdapat kekurangan, selanjutnya diatur dalam rancangan Undang-undang perampasan aset tindak pidana.

(7)

5 negara dan/keuangan negara yang di korupsi

itu dapat dengan maksimal dikembalikan kepada negara. Penting untuk ditetapkan atau diterapkan pidana tambahan buat terpidana korupsi seperti sebagaimana yang telah diatur dalam UU PTPK dengan diterapkannya pidana pembayaran uang pengganti dan perampasan aset yang diputus oleh Hakim dalam sidang pengadilan tindak pidana korupsi.

Dalam rangka mencapai tujuan yang lebih efektif untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi, UU PTPK memuat yaitu menentukan ancaman pidana minimum khusus, pidana denda yang lebih tinggi, dan ancaman pidana mati yang merupakan pemberatan pidana. Selain itu UU PTPK memuat juga pidana penjara bagi pelaku tindak pidana korupsi yang tidak dapat membayar pidana tambahan berupa uang pengganti kerugian negara. Berkaitan dengan pelaksanaan putusan pidana oleh Jaksa, peranan isi dari putusan pengadilan sangat vital, ketika suatu putusan sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka Jaksa akan dapat mengeksekusi secara tepat. Khusus berkaitan dengan eksekusi pembayaran uang pengganti.

Dari uraian latar belakang yang terdapat di atas penulis tertarik untuk membuat Tesis dengan judul: “Optimalisasi Kejaksaan Dalam Pengembalian Kerugian Negara Akibat Tindak pidana korupsi”

B.Rumusan Masalah.

1. Bagaimanakah upaya kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi?

2. Bagaimanakah optimalisasi kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi?

C.Tujuan Penelitian.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah;

1. Untuk menganalisis upaya kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi.

2. Untuk menganalisis optimalisasi kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi.

D.Manfaat Penelitian.

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah;

1. Secara Teoritis;

Hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya, khususnya terkait dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 2. Secara Praktis;

(8)

6 diberantas dengan cara konvensional saja

namun perlu mendayagunakan seluruh regulasi dan instansi para penegak hukum dan bersinergi satu sama lainnya. Untuk mengurangi tindak pidana korupsi di Indonesia.

E.Kerangka Teoritis Dan Konsepsional. 1. Kerangka Teoritis.

Dalam penulisan Tesis ini dibutuhkan suatu kerangka teoritis yang dijadikan sebagai landasan teori, serta pikiran dalam membicarakan optimalisasi kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi

a. Teori Hukum Dan Masyarakat

Teori bekerjanya hukum menurut Robert B. Seidman, sebagai berikut:

1) Setiap peraturan hukum memberitahu tentang bagaimana seorang pemegang peranan (role occupant) itu diharapkan bertindak.

2) Bagaimana seorang pemegang peranan itu akan bertindak sebagai suatu respons terhadap peraturan hukum merupakan fungsi peraturan-peraturan yang ditujukan kepadanya, sanksi-sanksinya, aktivitas dari lembaga-lembaga pelaksana serta keseluruhan kompleks kekuatan sosial, politik dan lain- lainnya mengenai dirinya.

3) Bagaimana lembaga-lembaga pelaksana itu akan bertindak sebagai respons terhadap peraturan hukum

merupakan fungsi peraturan-peraturan hukum yang ditujukan kepada mereka, sanksi-sanksinya, keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan

sosial, politik dan lain-lainnya yang mengenai diri mereka serta umpan-umpan balik yang datang dari para pemegang peranan.

4) Bagaimana para pembuat Undang-undang itu akan bertindak merupakan fungsi peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku mereka, sanksi-sanksinya, keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan sosial,

politik, ideologis dan lain-lainnya yang mengenai diri mereka serta umpan-umpan balik yang datang dari pemegang peranan serta birokrasi. 2. Kerangka Konsepsional

a. Optimalisasi

Optimalisasi berasal dari kata dasar optimal yang berarti yang terbaik. Jadi optimalisasi adalah proses pencapaian suatu pekerjaan dengan hasil dan keuntungan yang besar tanpa harus mengurangi mutu dan kualitas dari suatu pekerjaan. Pengertian Optimalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah optimalisasi berasal dari kata optimal yang berarti terbaik, tertinggi jadi optimalisasi adalah suatu proses meninggikan atau meningkatkan

b. Jaksa.

Berdasarkan Undang-Undang Republik

(9)

7 Kejaksaan Republik Indonesia yang

dimaksud dengan Jaksa adalah "Pejabat Fungsional yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, serta wewenang lain berdasarkan Undang-Undang".

c. Kejaksaan

Kejaksaan Republik Indonesia adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara yang merdeka terutama pelaksanaan tugas dan kewenangan di bidang penuntutan dan melaksanakan tugas dan kewenangan di bidang penyidikan dan penuntutan perkara tindak pidana korupsi dan pelanggaran HAM berat, serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Pelaksanaan kekuasaan negara tersebut diselenggarakan oleh.

d. Pengembalian Keuangan

Keuangan negara menurut beberapa pandangan para ahli antara lain seperti M Achwan, berpendapat bahwa keuangan negara adalah rencana kegiatan secara kuantitatif (dengan angka-angka diantaranya diwujudkan dalam jumlah mata uang), yang akan dijalankan untuk masa mendatang, lazimnya satu tahun mendatang.

Penjelasan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK) yang dimaksud dengan keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk

apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena; “Berada dalam penguasaan, pengurusan dan pertanggungjawaban pejabat lembaga Negara, baik di tingkat pusat maupun di Daerah; Berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggungjawaban BUMN/BUMD, Yayasan, badan hukum, dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan negara.

Pengembalian kerugian keuangan negara menurut UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK) dapat melalui jalur perdata dan jalur pidana. Pengembalian kerugian Keuangan Negara Aset Recovery melalui jalur perdata, seperti terdapat pada;

(10)

8 menuntut kerugian terhadap keuangan

negara.

e. Istilah Korupsi.

Korupsi atau dengan kata lain corruption yang berarti “Perbuatan buruk, tidak jujur, tidak bermoral, atau dapat disuap”. Dalam kamus umum bahasa Indonesia yang disusun oleh Poerwardarminta, Pengertian korupsi adalah; perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogokan dan bagainya” oleh karena ruang lingkupnya sangat luas, maka pengertian korupsi lebih disederhanakan yang secara umum merupakan perbuatan buruk dan dapat disuap.

F. Metode Penelitian. 1. Pendekatan Penelitian.

Penelitian ini merupakan penelitian hukum yuridis sosiologis (socio legal research) artinya data yang peneliti dapatkan kemudian dikumpulkan secara langsung dari responden baik dalam bentuk tulisan maupun lisan sebagai jawaban atas pertanyaan yang peneliti ajukan.

2. Sumber Data.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah;

a. Data primer adalah data yang diperoleh melalui penelitian dan dikumpulkan sendiri oleh peneliti di lapangan, dengan cara wawancara terhadap 4 orang jaksa (Bapak Dwi Samudji,

Bapak Syafrizal, Bapak Andre Abraham, Bapak Syafrial) sebagai informan yang bertempat di Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat.

b. Data sekunder merupakan data yang diperoleh di Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat berupa putusan perkara pada Tahun 2013-2015 tindak pidana korupsi.

3. Alat Pengumpulan Data.

Adapun alat pengumpulan data dalam penulisan ini adalah;

a. Wawancara (Interview).

Wawancara adalah metode yang paling efektif dalam pengumpulan data primer di lapangan dan penelitian yang penulis gunakan adalah melakukan wawancara terstruktur yaitu mempersiapkan daftar pertanyaan yang relevan dengan perumusan masalah dalam penelitian ini yang ditujukan secara bebas kepada informan.

b. Studi Dokumen.

Studi dokumen adalah salah satu metode pengumpulan data dalam sebuah penelitian. Dokumen adalah berupa buku-buku, rekaman, dan catatan tulisan tangan hasil dari proses wawancara dengan informan dan dokumen-dokumen hasil dari wawancara yang terkait dengan rumusan masalah yang dicari oleh si peneliti.

(11)

9 Setelah peneliti mendapatkan data

yang terkumpul kemudian dianalisa dengan cara sebagai berikut;

a. Editing.

Editing merupakan proses penelitian untuk memeriksa kembali data yang telah diperoleh di lapangan dengan cara mengedit terlebih dahulu, guna mengetahui apakah data-data yang telah diperoleh tersebut sudah cukup relevan dan lengkap untuk mendukung pemecahan dari perumusan masalah dalam penelitian ini dan jika ada kesalahan, maka akan diperbaiki.

b. Koding.

Yaitu memberikan kode tertentu terhadap jawaban responden, misalnya, berupa.Teks laporan lapangan/ narasi, frase, atau simbol-simbol yang memprepsentasikan atau menggambarkan manusia, aksi manusia dan kegiatan dalam kehidupan sosial.

c. Analisis Data.

Teknik analisa yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif artinya penelitian yang tidak menggunakan hitungan angka-angka atau penelitian yang dilakukan dengan cara menyusun dan mengumpulkan data dan kemudian data tersebut diolah dengan cara sistematis

A. Upaya Kejaksaan Dalam

Pengembalian Kerugian Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi.

Terkait dengan kerugian negara yang ditimbulkan oleh suatu tindak pidana korupsi, UU PTPK telah mengetengahkan

konsep pengembalian kerugian keuangan negara. Konsep tersebut diharapkan mampu mengembalikan kerugian negara di samping pelaku tindak pidana korupsi dikenai sanksi pidana. Jalur pidana dimasukkan dalam pidana tambahan berupa uang pengganti dengan jumlah sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. Praktiknya, uang pengganti itu sulit dikembalikan.

Berikut hasil wawancara dengan dengan

Bapak Andre Abraham bagian Koordinator

Asisten Pidana Khusus (ASPIDSUS) di gedung

Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat;

(12)

10 tahap penyelidikan tahap dini sekali, di situ

kita bisa mengembalikan kerugian keuangan negara, bisa juga tahap penyidikan.

Ketika sudah tahap penyidikan dia sudah jadi tersangka, dia juga berniat mengembalikan kerugian negara, itu bisa juga, terus, tahap penuntutan di tahap persidangan juga bisa, nah kalau sudah tahap putusan pengadilan itu memang otomatis akan dituntut oleh hakim begitu, bahwa saudara X misalnya di penjara 5 tahun misalnya mengembalikan kerugian keuangan negara 1 Milyar, jadi semua level bisa mengembalikan kerugian keuangan negara, dan jaksa biasanya mengupayakan dari dini dari awal, tapikan koruptor sekarangkan lebih sering menyangkal, pasti mereka menyangkalkan, saya tidak bersalah untuk apa saya mengembalikan keuangan negara, kalau saya tidak bersalah.

Pada tahap-tahap tertentu, para pelaku tidak pidana korupsi ini, dari awal mereka sudah menyerah, dan mereka mengembalikan kerugian negara, mungkin lebih mudah, kadang-kadang malah, perkara tidak dilanjutkan karena mungkin kerugiannya cuma kecil 50 juta misalnya, biasanya akhirnya penyelidikan dihentikan karena kerugian keuangan negara sudah ditutup, karena biaya untuk penyelidikan sendiri sampai pada penyidikan penutuntan dan putusan pengadilan itukan pakai anggaran negara cukup besar, padahal kerugian negara cuma 50 juta, negara malah jadi, akhirnya perkara itu bisa selesai, dalam tahap penyelidikan, tapi kalau sudah tahap di penyidikan, biasanya tidak bisa dihentikan perkara kalau dia baru mengembalikan kerugian keuangan negara pada tahap penyidikan, karena sudah ada status tersangka, misalnya ini orang dijamin tersangka baru dia menangis misalnya, oke, saya balikin de Bapak asal saya tidak dijadikan tersangka lagi, misalnya, kita terima biasanya kejaksaan terima itu, kita simpan dulu uang itu, dan uang itu tidak bisa sekoyong-koyong disetor ke negara harus dititip dulu di bank tempat rekening penitipan kejaksaan, karena untuk masuk ke kas negara dia harus melalui mekanisme

penerimaan negara bukan pajak, dan mekanisme itu hanya bisa ditempuh ketika sudah ada putusan pengadilan, ini agak agak rumit, saya kasih gambaran, bahwa kalau pengembalian kerugian keuangan Negara.

Pada setiap level pekerjaan kejaksaan sudah bisa, penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan putusan pengadilan, dan kebijakan memang sekarang ini kejaksaan memang lebih, mengutamakan pengembalian kerugian keuangan negara dibanding harus memenjarakan orang sebanyak banyaknya, memenjarakan tetap dipenjarakan tetapi itu tidak utama yang utama mengembalikan kerugian keuangan negara, karena kalau kita penjarakan orang saja, akhirnya malah biaya negara lagi akan membiayai orang untuk makan dipenjarakan tetap saja akhirnya kerugian negara hasil negara hasil korupsi itu tidak kembali begitu jadi, negara saat ini politik hukumnya, bidang tindak pidana itu mengutamakan pengembalian kerugian keuangan negara, makanya ada juga, aset aset yang disimpan di luar negri juga itu dikejar dengan mekanisme MLA (muttual legal agreement) dengan negara tempat si koruptor itu menyimpan uang atau menyembunyikan uang misal di Singapura dan Swiss, kejaksaan juga yang mengejar dan tentunya juga agak bisa berdiri sendiri, harus kerja sama-sama polisi dan Deplu atau Departemen luar negri di bawah Menkopolhukam itu ada tim pemburu koruptor, sampai keluar negri cari aset, kalau si koruptor ini tidak mengembalikan semua kerugian, pertama dalam hal penuntutan itu ada tabel ada pedoman penuntutan, di Kejaksaan kita punya pedoman penuntutan.

(13)

11 terdakwa itu nanti dari awal sudah dilacak

dulu sama kejaksaan, seluruh di Indonesia atau di luar negri, terus diblokir, kalau di Bank mungkin rekeningnya diblokir tanah juga di sita, nanti itu diperhitungkan di situ, diperhitungkan sisa 50% itu, aset aset itu nanti dijual, di lelang untuk menutupi kekurangan pengembalian kerugian keuangan negara, kalau tidak punya aset lagi sudah tidak bisa diapa-apain lagi, makan yang mengejar aset sampai keluar negri kadang kadang

Wawancara juga dengan Bapak Ridwan Syamza sebagai Staf bidang Tidak tugasnya penuntut, hakim memutus nanti selain menuntut di penjara hukuman pidana penjara beberapa tahun pasti juga dituntut lagi untuk mengembalikan kerugian keuangan negara si X misalnya, nanti hakim juga memutuskan juga seperti itu, tapi jumlahnya biasanya berbeda bisa juga sama, sama hakim, pada keputusan itu nanti agar terdakwa pengembalian ada juga yang tidak, tidak punya uang lagi mungkin, atau dia masih dalam tahap upaya hukum banding atau kasasi, jadi dia masih merasa tidak bermasalah, tapi ada juga mengembalikan pada waktu penyelidikan dan penyidikan.

Pada saat itu saya bertugas di Balige, dan Bupati Tobasa sebagai terdakwa dengan korupsi 2 Milyar dia kembalikan uangnya itu, pada saat tahap, mau penuntutan, jadi penyidikan ingin diselesaikan sama tersangka, harus diserahkan ke Kejaksaan, titip uang kerugian negara, titipnya di rekening kejaksaan nanti pada waktu putusan pengadilan, disesuaikan misalnya 2 Milyar. Putusannya 2 Milyar juga harus dikembalikan harus ditransfer di rekening negara, jadi masuk ke rekening ke kas negara lagi, waktu putusan pengadilan belum tentu semua mengembalikan, efeknya kalau dia

tidak mau ngembalikan ke negara dia tidak bisa mengurus remisi, soalnya persyaratannya remisi harus ada pengembalian ke negara, perkara korupsi harus dikembalikan kerugian keuangannya ke negara.

Tentang soal uang pengganti itu sulit dikembalikan, kejaksaan mempunyai langkah hukum yang harus ditempuh dalam upaya penyelesaian tunggakan pembayaran uang pengganti; Pengembalian kerugian negara dari tindak pidana korupsi melalui uang pengganti merupakan salah satu upaya penting dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Pengembalian tersebut tidaklah mudah karena tindak pidana korupsi merupakan extra ordinary crimes yang pelakunya berasal dari kalangan intelektual dan mempunyai kedudukan penting.

Menurut hasil pusat penelitian dan pengembangan (PUSLITBANG) di Kejaksaan Menunjukkan hasil pengkajian sebagai berikut:

1. Mencegah terjadinya tunggakan uang pengganti;

(14)

12 bendanya yang berasal dari tindak pidana

korupsi. Tindak pidana korupsi merupakan extraordinary crimes, dimana pelakunya adalah kalangan intelektual dan mempunyai kedudukan penting, sehingga mudah untuk mengalihkan/menyembunyikan harta bendanya yang berasal dari hasil korupsi.

Sehubungan dengan itu Pasal 18 Ayat (2) Undang-undang Nomor.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor. 20 Tahun 2001 menyatakan bahwa jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat di sita oleh jaksa dan di lelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Dari bunyi pasal ini tampak bahwa untuk melunasi uang pengganti, jaksa dapat menyita dan melelang harta benda terpidana setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. Apabila ketentuan ini dilaksanakan, jaksa akan menemui kesulitan dalam menemukan harta benda milik terpidana atau ahli warisnya. Dan kemungkinan timbulnya tunggakan uang pengganti sangat besar, oleh karena pendataan dan penyitaan harta benda milik tersangka harusnya sudah dilakukan sejak penyidikan. Untuk itu memerlukan optimalisasikan tugas dan fungsi Kejaksaan

di bidang penyidikan dan intelijen yustisial. Optimalisasi tugas dan fungsi Kejaksaan di bidang intelijen dalam menemukan harta kekayaan negara yang di korupsi tidak terhenti pada proses penyidikan tetapi terus berlanjut pada penuntutan, eksekusi dan upaya perdata.

2. Pelunasan uang pengganti dengan hukuman badan.

(15)

13 3. Penyelesaian tunggakan uang

pengganti melalui upaya perdata dan administrasi keuangan

Penyelesaian tunggakan uang pengganti melalui upaya perdata dilakukan apabila setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan tetap diketahui masih terdapat harta benda milik terpidana diduga berasal dari TPK belum dirampas (Pasal 38 B Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999). Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa tindak pidana korupsi merupakan extraordinary crimes, yang dilakukan oleh kalangan intelektual, sehingga hilangnya alat-alat bukti, khususnya alat-alat bukti yang berguna dalam proses pembuktian gugatan perdata sangat besar.

Hilangnya alat bukti tersebut akan berakibat sulitnya bagi Jaksa Pengacara Negara untuk menang dalam perkara perdata yang ditanganinya. Berkenan dalam pertemuan ilmiah Pislitbang Kejaksaan agung RI tanggal 19 November 20018 mengemukakan perlunya “pembalikan beban pembuktian terbatas bidang perdata” seperti halnya dengan Counter Corruption Act Thailand dapat diterapkan di Indonesia. Artinya pegawai negeri atau pejabat yang tidak dapat membuktikan asal usul kekayaannya yang tidak seimbang dengan pendapatannya yang resmi, dapat di gugat langsung secara perdata oleh penuntut umum berdasarkan perbuatan melanggar hukum onrechtmatigedaad, Pasal 1365 BW ke Pengadilan Tinggi untuk dinyatakan

dirampas untuk negara. Kiranya hal ini dapat diterapkan terhadap harta benda terpidana dan atau ahli warisnya, untuk itu Pasal 38 C Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 perlu diamandemen lagi.

Sedangkan penyelesaian tunggakan uang pengganti melalui administrasi keuangan Negara dilakukan karena terjadinya perbedaan jumlah uang pengganti menurut versi Kejaksaan dengan Departemen Keuangan. Hal ini antara lain disebabkan sistem pembukuan uang pengganti di Kejaksaan belum menganut sistem Akuntansi Instansi yang disusun oleh Departemen Keuangan. Guna menghindari terjadinya perbedaan tersebut Kejaksaan

hendaknya menyesuaikan Sistem Administrasi

Keuangannya dengan Sistem Akuntansi Instansi (SIA) yang disusun oleh Departemen Keuangan.

(16)

14 upaya merestorasi kerugian keuangan dan

atau perekonomian negara, namun dalam pelaksanaannya banyak mengalami kendala terutama dalam hal eksekusinya.

Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat mulai Tahun 2005, 2008, sampai 2015, yang telah berhasil dieksekusi Rp. 12 Milyar sedangkan tunggakan uang pengganti pengembalian kerugian keuangan negara total Rp. 8,655,368.990.00. Dari total Rp. 20 Milyar kerugian negara. Secara kinerja Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat dalam pengembalian keuangan kerugian negara cukup optimal di provinsi Sumatera Barat, sedangkan total nominal angka dalam Rupiah pengembalian keuangan hasil tindak pidana korupsi seluruh Indonesia dari tahun 2013 sampai sekarang Rp. 8.5 Triliun yang telah dieksekusi Rp. 2.6 Triliun dan yang akan dieksekusi atau sisanya Rp. 5.8 Triliun lagi. Berdasarkan audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).

B.

Optimalisasi Kejaksaan Dalam Pengembalian Kerugian Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi.

Penulis menguraikan tahapan-tahapan

kinerja dan usaha kejaksaan agar

teroptimalisasikan penyelamatan pengembalian keuangan kerugian negara akibat tindak pidana korupsi tersebut, jika belum teroptimalisasi, maka yang bertugas dan berwenang memburu aset dan/atau keuangan negara yang dikorup itu adalah Jaksa Pengacara Negara atau JPN berdasarkan Pasal 32 UUPTPK. Penegakan hukum yang

efektif terhadap tindak pidana korupsi seharusnya mampu memenuhi dua tujuan. Tujuan pertama adalah agar si pelaku tindak pidana korupsi tersebut dihukum dengan hukuman pidana yang adil dan setimpal. Bahkan karena tindak pidana korupsi merupakan perbuatan yang sangat tercela, apalagi jika dilakukan pada masa krisis ekonomi atau pada saat perekonomian masih dalam tahap perbaikan recovery, pidana yang dijatuhkan terhadap para pelaku tindak pidana korupsi seharusnya merupakan pidana yang seberat-beratnya. Tujuan kedua adalah agar kerugian yang diderita oleh negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi tersebut dapat dipulihkan.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Syafrizal sebagai Kepala Seksi Eksekusi dan Eksaminasi di Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat sebagai berikut;

“Untuk tercapainya optimalisasi dalam pengembalian keuangan hasil tindak pidana korupsi kejaksaan menggunakan bidang DATUN atau perdata dan tata usaha negara yang melakukan gugatan kepada keluarganya atau kepada ahli warisnya apabila sudah meninggal dunia, untuk tercapainya keoptimalan penyelamatan pengembalian keuangan negara hasil tindak pidana korupsi, yang melaksanakan adalah Jaksa Pengacara Negara yang berada dalam bagian bidang DATUN atau perdata dan tata usaha negara jadi yang mengejar aset dan keuangan negara yang belum dikembalikan setelah putusan pengadilan dijatuhkan adalah Jaksa Pengacara Negara dengan menggunakan upaya DATUN...”

(17)

15 Optimalisasi “Kejaksaan dalam

melakukan upaya-upaya untuk mengembalikan keuangan kerugian negara akibat tindak pidana korupsi sudah optimal. Namun, dalam kenyataannya upaya yang dilakukan kejaksaan hasilnya belum optimal hal ini disebabkan oleh beberapa hal para tindak pidana korupsi menyembunyikan memindahtangankan bahkan disimpan keluar negri. dan ketika aset-aset itu diperoleh oleh kejaksaan, tidak semudah itu juga melelangnya, karena mungkin sudah berpindah tangan ke orang lain dan dari orang lain tersebut juga berpindah tangan pula ke orang lain, untuk itu kadang posisinya (aset) tersebut sampai ke luar negri sementara pihak luar negri juga sulit membantu kita, jadi kita harus berhadapan dengan otoritas di negara tersebut, misalnya uangnya di Swiss dan Singapura, pihak Swiss dan Singapura tidak mau mengeluarkan uang tersebut begitu saja, itu kendalanya.

Optimalisasi Kejaksaan secara upaya-upaya dalam mengembalikan keuangan kerugian negara akibat tindak pidana korupsi sudah optimal, maksudnya optimal sudah sekuat kemampuan dan kewenangan Institusi, tapi yang jadi masalah, kalau orang yang bersangkutan tidak menyediakan uang atau aset yang dikorupnya, atau tidak mau secara sukarela mengembalikan, akhirnya harus melacak aset-aset si terdakwa atau si terpidana di dalam dan di luar negri, dalam negri pun masalahnya seperti surat suratnya, misal sudah hilang atau sudah pindah tangan, Jadi optimalisasi. Sesuai harapan mungkin masih belum.”

Pola hubungan kerja DATUN dengan PIDSUS antara Lain:

1) Bila hasil penyelidikan atau penyidikan yang dilakukan satuan kerja JAM PIDSUS tidak memenuhi unsur-unsur tindak pidana, maka diserahkan ke JAM DATUN apabila ternyata ada kerugian negara. demikian pula halnya

apabila ada perkara yang dibebaskan oleh pengadilan

2) JAM PIDSUS menyerahkan kepada JAM DATUN pelaksanaan hukuman tambahan berupa pembayaran uang pengganti vide Pasal 34c Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 bila eksekusinya mengalami hambatan.

Kesatuan koordinasi terpadu tersebut adalah, bagaimana selama proses penyelidikan dan proses penyidikan sampai dengan penuntutan dan eksekusi hingga gugatan pengembalian kerugian keuangan negara, antara bidang intelijen, pidana khusus serta perdata dan tata usaha negara dapat saling mendukung. Koordinasi ini akan sangat menunjang tugas Jaksa Pengacara Negara dalam melakukan perannya, sehingga dapat terdeteksi kemungkinan sejak dini.

PENUTUP A.Simpulan

(18)

16 agar tercapainya keadilan dan

kesejahteraan dalam masyarakat. 2. Optimalisasi Kejaksaan dalam

pengembalian hasil tindak pidana korupsi adalah Kejaksaan telah menggunakan upaya-upaya yang difasilitasikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan regulasi lainnya seperti terdapat dalam ketentuan Pasal 32, Pasal 33, dan Pasal 34 UUPTPK untuk tercapainya ke optimalan dalam pengembalian keuangan hasil tindak pidana korupsi Kejaksaan menggunakan bidang DATUN atau perdata dan tata usaha negara yang melaksanakannya adalah Jaksa Pengacara Negara yang berada dalam bagian bidang DATUN.

B.Saran.

1. Agar Kejaksaan Negara Republik Indonesia dalam pengembalian hasil tindak pidana korupsi kejaksaan jangan mundur sedikitpun dari rintangan-rintangan yang ada dalam memburu aset dan/atau kerugian keuangan negara dalam tindak pidana korupsi, tentang uang pengganti sebagai upaya dalam pengembalian kerugian keuangan negara dalam tindak pidana korupsi hendaknya dilakukan secara refresif lagi.

2. Agar Kejaksaan Negara Republik Indonesia seoptimal mungkin dalam pengembalian kerugian negara karena telah didukung dengan instrumen-instrumen yang ada dalam UU PTPK dan Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia meski masih ada kekurangan regulasi dalam pengembalian kerugian keuangan negara hasil tindak pidana korupsi, seperti rancangan Undang-undang perampasan aset tindak pidana yang masih dalam proses draft RUU, dan Jaksa pengacara Negara (JPN) mengupayakan dan mendorong satuan unsur kerja untuk lebih mengoptimalkan pengembalian kerugian keuangan negara.

DAFTAR PUSTAKA.

Adami Chazawi, 2002, Pengantar Hukum Pidana Bag 1, Grafindo, Jakarta.

Agus Bastomi, 2008. Himpunan Peraturan tentang Korupsi. Sinar Grafika, Jakarta.

Andi Hamzah, 2002, Pemberantasan Korupsi Ditinjau dari Hukum Pidana, Pusat Studi Hukum Pidana, Universitas Trisakti, Jakarta.

Andi Hamzah dalam Djoko Prakoso dkk, 1987, Kejahatan-kejahatan yang Membahayakan dan Merugikan Negara, Bina Aksara, Jakarta.

(19)

17 Arifin P. Soeria Atmadja, 2009. Keuangan

Publik Dalam Perspektif Hukum. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Bambang Poernomo, 1993, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta.

C. Goedhart, 1973, Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara, Djambatan, Jakarta.

Djoko Sumaryanto, 2011, Pembalikan Beban Pembuktian (Tindak Pidana Korupsi dalam Rangka Pengembalian Kerugian Keuangan Negara), PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

E. Sumaryono, 2000, Etika Hukum (Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas), Kanisius, Yogyakarta.

Erdianto Efendi, 2011. Hukum Pidana Indonesia . PT Refika Aditama, Bandung.

Ermansjah Djaja, 2013. Memberantas Korupsi Bersama KPK. Sinar Grafika, Jakarta.

Evi Hartanti, 2006. Tindak Pidana Korupsi edisi cetakan kedua. Sinar Grafika, Jakarta.

Hermien HK, 1994, Korupsi di Indonesia dari Delik Jabatan ke Tindak Pidana Korupsi, Citra Aditya Bhakti, Bandung.

Himawan Ahmed Sanusi, 2003, Mekanisme Pengembalian Aset Hasil Tindak Pidana Korupsi, Dikutip oleh Majalah Keadilan Volume 12 Nomor: 2 Desember 2012

Jur. Andi Hamzah, 2007, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional. Penerbit PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Leden Marpaung, 1992, Tindak Pidana Korupsi: Masalah dan Pemecahannya, Sinar Grafika, Jakarta.

M. Lubis dan J.C. Scott, 1997, Korupsi Politik, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

M. Prodjohamidjoyo, 2001, Memahami Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta.

Muhammad Nuh, 2011. Etika Profesi Hukum. CV Pustaka Setia, Bandung

Moeljatno, 2008, Azas-azas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.

Purwaning M Yanuar, 2007, Pengembalian Aset Hasil Korupsi (Berdasarkan Konvensi PBB Anti Korupsi 2003) Dalam Sistem Hukum Indonesia, Alumni, Bandung.

Robert B. Seidman, 1982, Hukum dan Masyarakat, PT. Rajawali, Jakarta.

Roni Wiyanto. 2012. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia. C.V. Mandar Maju. Bandung.

Syed Husein Alatas, 1980, Sosiologi Korupsi, Sebuah Penjelajahan dengan Data Kontemporer, IP3ES, Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...