Pemodelan Manufacturing Lead
Time
Berbasis Open Queueing
Network
T.Yuri Zagloel
Manufacturing Lead Time (MLT)
Merupakan total waktu yang diperlukan
untuk membuat suatu item produk
Throughput Time (T)
Merupakan waktu yang diperlukan mulai
dari job dilepas ke stasiun kerja sampai job
tersebut selesai dan siap untuk dikirim
(Askin&Standridge,1993)
Pemodelan T
Dapat dilakukan dengan basis Open Queuing Network (OQN) yaitu dengan mengalikan rata-rata waktu sebuah job pada mesin k dengan vk (jumlah rata-rata kunjungan sebuah job pada k)
(Askin & Standridge, 1993)
Asumsi:
poisson, 1/ eksponensial, FCFS, dalam
Pemodelan T (lanjutan)
T = Throughput Time sebuah job dalam suatu network
dengan M mesin dalam keadaan steady state. Wsk = waktu rata-rata sebuah job pada k
vk = jumlah rata-rata kunjungan sebuah job pada mesin k
)
.
(
1
k M
k
k
v
Ws
T
Merujuk persamaan (1), waktu rata-rata
sebuah job di k (Wsk) disebut waiting time
di k, dimana oleh Askin&Standridge,1993
diidentikkan dengan throughput time pada
k sehingga Wsk = Tk
Sementara itu Harrel&Tumay (1995)
menyatakan throughput time sama dengan
MLT (T=MLT), sehingga dapat dikatakan:
Wsk = Tk = MLTk ………..(2)
Karena
MLT
k= O
k+ S
k+ M
k+ Q
k………….
(3)
Maka persamaan (1) dapat diubah menjadi:
Pemodelan T (lanjutan)
M
k
k k
k k
k M
k
k k
v Q
M S
O
v MLT Ws
T
1 1
). (
) . (
Ok = waktu operasi yang dibutuhkan untuk memproses
sebuah job pada mesin k
Sk = waktu setup yang dibutuhkan sebuah job pada mesin k
Mk = waktu yang dibutuhkan sebuah job untuk dipindahkan
dari mesin k ke mesin lainnya.
Qk = waktu yang dibutuhkan sebuah job untuk mengantri di
mesin k.
vk = jumlah rata-rata kunjungan sebuah job di mesin k.
Persamaan (4) di atas menjadi basis pengembangan model.
Pemodelan OQN untuk studi
kasus
Printer (1)
Corrector 1 (C1)
Corrector 2 (C2) Slitter
(3) Extruder
(2)
Storage Warehouse
Scrap Scrap
Gambar 1
Rework
Rework Sk,Ok
Qk Qk
Mk Qk
Perilaku Sistem untuk studi kasus ini:
1.
Printer dan Slitter melakukan inspeksi mutujob selama proses berlangsung.
2.
Pengertian tentang korektor 1 dan 2 : bekerjabila job hasil printer dan slitter harus dikoreksi.
3.
Setiap job mengalami S, O, M dan Q padasetiap mesin.
4.
Job masuk ke sistem hanya melalui printer.Jika k = 1, 2, 3
1.
Sk = waktu setup yang dibutuhkan oleh sebuah job pada mesin k.2.
Ok = waktu operasi yang dibutuhkan oleh sebuah job pada mesin k3.
Qk = waktu mengantri (queue) sebuah job akibat mesin k + 1 sibuk.Catatan: Realitanya mesin k+1 dapat saja sibuk,idle atau down
4. Mk = waktu perjalanan sebuah job dari k ke k+1, yang timbul akibat job tersebut harus dikoreksi di rewinder.
Catatan:
- sebenarnya M = waktu yang dibutuhkan job untuk dipindahkan dari k ke k+1
- untuk kasus ini, M yang terjadi dari k ke k+1 tanpa melalui corrector dianggap nol.
Untuk pemodelannya memerlukan 3 pengertian penting:
1.
Prinsip routing probability (Pjk)2.
Prinsip effective arrival rate (’)3.
Prinsip expected number of visits (v)Hasil Pemodelan untuk Existing
Condition
Operation Time (O) =
Setup Time (S)=
1,2 1, 1 1,2
2.
1,2 1, 1 1,2
3 1 P P .P .O P P .P .OO C C C C
1,2 1, 1 1,2
2.
1,2 1, 1 1,2
3 1 P P .P .S P P .P .SS C C C C
Hasil Pemodelan untuk Exixting Condition
(lanj)
Move Time (M) =
1,2 1, 1 1,2
12 , 3 2 2 2 , 1 1 , 1 2 , 1 2 , 3 1 1 , 1 1 1 1 , 1 . . 1 . . 1
C C C
C C C C C C C C C P P P P S O P P P P P S O P
Queue Time (Q) =
Penggunaan Model dalam usaha
menurunkan MLT
MLT dapat diturunkan dengan 3 cara yaitu: 1. Pengurangan setup time (S) menjadi S’ 2. Pengurangan move time (M) menjadi M’ 3. Pengurangan queue time (Q) menjadi Q’
Ad1. Waktu setup improved (S’) =
.
. '
.
. ' '' S1 P1,2 P1, 1 P 1,2 S2 P1,2 P1, 1 P 1,2 S3
Penggunaan Model dalam usaha
menurunkan MLT (lanjutan)
Implikasinya pada queue time (Q*)=
... ... ... ... ... . ' 1 ' 1 . . ' 1 ' 1 . ' 1 ' 1 * 1 2 , 1 1 , 1 2 , 1 3 3 3 3 1 2 2 , 1 1 , 1 2 , 1 1 2 , 1 1 , 1 2 , 1 2 2 2 2 1 2 2 , 1 1 , 1 2 , 1 1 1 1 1 1 1 C C C C C C C C P P P S O S O P P P P P P S O S O P P P S O S O Q
Hasilnya adalah Q* < Q . Karena S’ < S , Q* < Q maka, MLT’ = O + S’ + M + Q*
Penggunaan Model dalam usaha menurunkan MLT (lanjutan)
Ad.2 Improved Move Time (M’) =
1,2 1, 1 1,2
1 2 , 3 2 2 2 , 1 1 , 1 2 , 1 2 , 3 1 1 , 1 1 1 1 , 1 . ' '. ' ' 1 ' '. ' ' '. 1 ' ' C C C
C C C C C C C C C P P P P S O P P P P P S O P M
Implikasinya pada O (O*) =
1,2 1, 1 1,2
2.
1,2 1, 1 1,2
31 ' '. ' . ' '. ' .
* O P P P O P P P O
Penggunaan Model dalam usaha menurunkan MLT (lanjutan)
Implikasinya pada S (S*) =
1,2 1, 1 1,2
2.
1,2 1, 1 1,2
31 ' '. ' . ' '. ' ..
* S P P P S P P P S
S C C C C
Implikasinya pada Q (Q*) =
Hasil dari persamaan di atas adalah sebagai berikut:
M’ < M , O* O , S* S, dan Q* > Q
maka
MLT’ = O* + S* + M’ + Q*
MLT’ dapat lebih besar atau lebih kecil dari MLT existing, tergantung pada nilai yang terlibat.
Pengurangan Q :
Pada Studi Kasus ini penurunan Queue time dapat dilakukan dengan mengurangi waktu gangguan yang sering terjadi pada saat mesin akan
beroperasi. Contohnya pada kasus ini adalah ketidak jelasan Surat Perintah Kerja. Untuk itu perusahaan biasanya memberikan toleransi (Xk) pada waktu operasi yang direncanakan
contohnya,
Ok = Otech k + xk
Penggunaan Model dalam usaha menurunkan MLT (lanjutan)
Dimana :
Otech k = waktu operasi teknis mesin k
=
xk = waktu buffer untuk mengantisipasi gangguan.
Penurunan Q dapat dilakukan dengan mengurangi atau menghilangkan waktu buffer (xk)
min) /
(
) (
m speed
m job of
Penggunaan Model dalam usaha menurunkan MLT (lanjutan)
Maka improved Queue Time (Q’) =
. ... ... ... . ' 1 ' 1 . . ' 1 ' 1 . ' 1 ' 1 ' 1 2 , 1 1 , 1 2 , 1 3 3 3 3 1 2 2 , 1 1 , 1 2 , 1 1 2 , 1 1 , 1 2 , 1 2 2 2 2 1 2 2 , 1 1 , 1 2 , 1 1 1 1 1 1 1 C C C C C C C C P P P S O S O P P P P P P S O S O P P P S O S O Q
Hasilnya adalah Q’ < Q.
Kesimpulan
Hasil yang diharapkan dari model analitis ini difokuskan pada perilaku O, S, M dan Q. Hasil yang diharapkan tersebut disimpulkan dalam tabel berikut:
No Aplikasi O S M Q
Target di atas tampak logis dan aplikasi simultan seperti S’M’, S’Q’, M’Q’, dan S’M’Q’ menunjukkan penurunan waktu yang nyata.
Meskipun hasil-hasil di atas dapat menunjukkan perilaku model namun masih belum cukup aman untuk menarik kesimpulan karena tidak ada nilai yang dilibatkan di dalamnya.
Dan karena model OQN ini didasarkan pada
beberapa asumsi, maka situasi yang dinamis dari sebuah proses manufaktur masih belum dapat dicapai.
Tampak model OQN memiliki algoritma yang
cenderung kompleks jika diberikan suatu respons.