• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN MUTU HOMESCHOOLING KAK SETO CABANG SEMARANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MANAJEMEN MUTU HOMESCHOOLING KAK SETO CABANG SEMARANG"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN MUTU HOMESCHOOLING KAK SETO

CABANG SEMARANG

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Ilmu Pendidikan Islam

Jurusan Kependidikan Islam (KI)

Oleh:

AISYAH NIM: 073311011

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Aisyah

NIM : 073311011

Jurusan / Program Studi : Pendidikan Agama Islam

menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian / karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 25 November 2011

Saya yang menyatakan,

Aisyah NIM. 073311011

(3)

KEMENTERIAN AGAMA R.I.

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Semarang Telp. 024-7601295 Fax 7615387

PENGESAHAN

Naskah skripsi dengan:

Judul : MANAJEMEN MUTU HOMESCHOOLING KAK SETO

CABANG SEMARANG

Nama : Aisyah NIM : 073311011

Jurusan : Kependidikan Islam Program Studi : Kependidikan Islam

telah diujikan dalam sidang munaqasyah oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam.

Semarang, 12 Desember 2011 DEWAN PENGUJI Ketua, Ismail SM, M.Ag. NIP: 19711021 199703 1002 Sekretaris,

Dr. Ahwan Fanani, M.Ag.

NIP: 19780930 200312 1001

Penguji I,

Dr. Achmad Sudja’i, M.Ag.

NIP: 19511005 197612 1001

Penguji II,

Siti Tarwiyah, S.S., M.Hum.

NIP: 19721108 199903 2001 Pembimbing I, Fatkurroji, M.Pd. NIP: 19770415 200701 1032 Pembimbing II, Ismail, M.Ag. NIP: 19711021 199703 1 002

(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Judul : MANJEMEN MUTU HOMESCHOOLING KAK SETO

CABANG SEMARANG Penulis : Aisyah

NIM : 073311011

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1). Penerapan manajemen mutu Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang. 2). Pengembangan manajemen mutu Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif lapangan dengan teknik pengumpulan data melalui: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Triangulasi data. Analisis data dalam penelitian ini berupa teknik analisis deskriptif, yaitu metode analisis data yang berupa kata-kata, gambar dan bukan angka.

Kesimpulan penelitian meliputi: Pertama, HSKS cabang Semarang dilaksanakan berdasarkan filosofi sederhana “belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja”. Untuk menjadi institusi pendidikan yang selalu menjaga mutu pengembangan kedepan selalu didasarkan pada VISI dan MISI yang telah di tetapkan. untuk mengawal agar pencapaian VISI sesuai dengan tuntutan masyarakat maka HSKS Semarang juga membentuk gugus kendali dan penjaminan mutu (Quality Insurance). Maka hal tersebut diimplementasikan dalam bentuk PDMI (Plan, Do, Monev, Improvement). Siklus ini merupakan siklus perbaikan yang never ending, dan berlaku pada semua fase organisasi/ lembaga yang selanjutnya oleh HSKS di perkuat dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) terkait dengan peraturan-peraturan pada HSKS semarang sebagai pedoman kerja setiap unit yaitu dapat diketahui dari terlaksananya beberapa kegiatan yang sesuai dengan dokumentasi (perencanaan),dan selanjutnya di tindak lanjuti dengan evaluasi bersama. Kedua, Dalam pengembangan manajemen mutu HSKS cabang Semarang selalu mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada perbaikan terus menerus, dalam gerakannya HSKS Semarang mengadakan pelatihan kepada para tutor dan wali murid dengan tujuan untuk pengembangan potensi akademik, personal dan keserasian dalam mendidik anak baik pada saat di HSKS dengan di rumah. HSKS Semarang memberikan Pelayanan konsultasi untuk para wali murid dan murid sebagai salah satu bentuk komunikasi. Pemberian portofolio homeschooler pada siswa setiap selesai pembelajaran dan angket 3 bulan sekali pada saat parent meeting adalah salah satu bentuk untuk peningkatan manajemen mutu HSKS.

Selanjutnya, semoga penelitian ini diharapkan menjadi khazanah dan masukan bagi pengelola HSKS cabang Semarang agar terus meningkatkan Quality Insurance sehingga menghasilkan produk / output yang lebih berkualitas di segala bidang, bahan informasi bagi civitas akademika dan semua pihak yang membutuhkan di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan penelitian skripsi ini dengan judul Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto Semarang. Syukur Alhamdulillah penulis diberi kekuatan lahir dan batin sehingga dapat menaungkan dan mencurahkan ide, gagasan serta pemikiran yang akhirnya skripsi ini dapat terwujud.

Penelitian ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana S-1 pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang jurusan Kependidikan Islam (KI-MPI). Penelitian ini dapat diselesaikan berkat bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. Suja’i, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, yang telah memberikan ijin penelitian dalam rangka penyusunan skripsi ini.

2. Dr. Mustofa Rahman, M.Ag., selaku Ketua Jurusan Kependidikan Islam (KI-MPI) Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, yang telah memberikan ijin penelitian dalam rangka penyusunan skripsi dan sekaligus merangkap selaku dosen wali yang memotivasi dan memberi arahan selama kuliah.

3. Fatkurroji, M.Pd., selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan porgam S1.

4. Ismail SM, M.Ag., selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan porgam S1.

5. Dosen Kependidikan Islam (KI-MPI), dosen dan staf pengajar di Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang yang membekali peneliti berbagai pengetahuan.

(8)

6. Suharto, M.Pd., selaku Manajer HSKS Semarang yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

7. Segenap staf dan tutor HSKS Semarang yang telah membantu, mengarahkan dan memberikan motivasi dalam penyusunan skripsi.

8. Dr. Fatah Syukur, M.Pd yang selalu memberikan arahan, bimbingan, motivasi serta suport selama kuliah serta selama penyusunan skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan porgam S1.

9. Ayahanda Drs. H. Ubaidillah dan Ibunda Khaeriyah tercinta terima kasih atas do’a, nasihat, suport, dukungan serta segala pengorbanan dan kasih sayang selama ini dalam mendidik dan mengarahkan penulis dengan penuh kesabaran dan cinta.

10. Adik-adiku tercinta ananda Dedeh Fasihah, Novi Nur Azizah, Yayuk Nur Khasanah, Nida Dzalatil Illahiyah dan si bungsu Fina Farhatin (Neng) yang senantiasa memberi canda tawa dan senyum keceriaan sehingga memotivasi penulis dalam menyelesaikan penelitian dan porgam S1.

11. Keluarga besar KH. Qolyubi Nawawi dan keluarga besar H. Nawawi yang selalu mendoakan, memberikan motivasi serta suport sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan porgam S1.

12. Keluarga besar Kependidikan Islam (KI-MPI) angkatan 2007 yang telah setia menemani penulis berproses dan berjuang bersama dalam suka dan duka yang sarat makna, ini bukanlah akhir dari persahabatan kita, esok masih ada waktu untuk berjumpa, semoga kita selalu berada dijalan-Nya.

13. Teman-teman Jurusan Kependidikan Islam (KI), PMII, DEMA, EDUKASI dan HMJB yang selalu setia dalam berjuang dan berproses bersama.

14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu, memberikan arahan, motivasi, serta suport kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan porgam S1.

Semarang, 25 November 2011 Penulis

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i PERNYATAAN KEASLIAN ... ii PENGESAHAN ... iii NOTA PEMBIMBING ... iv ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kajian Pustaka…. ... 9

B. Kerangka Teoritik... 10

1. Manajemen Mutu dalam Dunia Pendidikan... 10

a. Pengertian Manajemen Mutu……. ... 10

b. Manajemen Mutu Pada Lembaga Pendidikan Informal (Homeschooling).. ... 14

c. Prinsip-prinsip Manajemen Mutu ... 16

d. Komponen-komponen Manajemen Mutu ... 18

e. Karakteristik Manajemen Mutu ... 20

f. Perbaikan yang Berkesinambungan ... 22

g. Pentingnya Manajemen Mutu dalam Pendidikan ... 24

h. Fungsi dan Tujuan Manajemen Mutu ... 27

(10)

2. Homechooling dalam Dunia Pendidikan ... 29

a. Pengertian Homeschooling. ... 29

b. Sejarah Homeschooling ... 32

c. Model-model Homeschooling ... 35

d. Homeschooling vs Sekolah Formal ... 36

e. Keunggulan dan Hambatan Homeschooling ... 36

BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian….. ... 38

B. Tempat dan Waktu Penelitian…... ... 39

C. Sumber Penelitian. ... 39

D. Fokus Penelitian ... 40

E. Teknik Pengumpulan Data…….... ... 40

F. Teknik Analisis Data…... ... 44

BAB IV : Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 47

1. Sejarah berdirinya HSKS cabang Semarang ... 47

2. Letak Geografis HSKS cabang Semarang ... 47

3. Keadaan Pimpinan, Tutor, dan Peserta Didik HSKS cabang Semarang ... 49

B. Pembahasan ... 51

1. Analisis Penerapan Manajemen Mutu HSKS cabang Semarang ... 52

2. Analisis Pengembangan Manajemen Mutu HSKS cabang Semarang ... 59 BAB V : Penutup A. Kesimpulan ... 72 B. Saran ... 73 C. Penutup ... 74 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 : Fasilitas yang dimiliki oleh HSKS cabang Semarang, 51

Tabel 4.2 : Keadaan Piminan Homsechooling Kak Seto cabang Semarang, 42 Tabel 4.3 : Keadaan Tutor Homsechooling Kak Seto cabang Semarang, 43 Tabel 4.4 : Keadaan Peserta Didik HSKS cabang Semarang, 44

Tabel 4.5 : Titik Beda Manajemen Mutu HSKS cabang Semarang Vs Sekolah Formal, 73

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Proses Manajemen Mutu, 21

Gambar 2.2 : Perbaikan Kualitas Berkesinambungan Dalam Lembaga Pendidikan, 24

Gambar 2.3 : Manfaat TQM, 39

Gambar 4.1 : Bagan Struktur Organisasi HSKS cabang Semarang, 54 Gambar 4.2 : Standar Operasional Pembelajaran HSKS Cabang

Semarang,67

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.1

Salah satu masalah yang sedang kita hadapi adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang. Berbagai usaha telah di usahakan namun belum menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Hal ini terlihat dari fenomena masih banyaknya peserta didik yang gagal sekolah (drop out), lamanya memperoleh pekerjaan bahkan banyak yang menjadi pengangguran, merupakan indikator lain betapa rendahnya mutu pendidikan.

Dalam dunia persaingan global yang tajam saat ini, orang banyak berbicara tentang “mutu” terutama berhubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan produk dan/atau jasa. Suatu produk dibuat karena ada yang membutuhkan, dan kebutuhan tersebut berkembang seiring dengan tuntutan mutu penggunanya.

Suatu produk dan/atau jasa dibuat sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Titik temunya antara harapan dan kebutuhan pelanggan dengan hasil produk dan/atau jasa itulah yang disebut “bermutu.” Jadi ukuran bermutu tidaknya suatu produk dan/atau jasa adalah pada terpenuhi tidaknya harapan dan kebutuhan pengguna/pelanggan. Semakin tinggi tuntutan pengguna maka semakin tinggi kualitas mutu tersebut.

Dewasa ini jasa pendidikan memegang peranan vital dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Akan tetapi, minat dan perhatian pada aspek kualitas jasa pendidikan bisa dikatakan baru berkembang dalam satu

1

Tim Penyusun UURI, Undang-Undang Republik Indonesia No 14 tahun 2005 tentang guru

dan dosen serta UURI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, (Bandung: Citra Umbara, 2006), hlm.

(14)

dekade terakhir. Keberhasilan jasa pendidikan ditentukan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada para pengguna jasa pendidikan tersebut (peserta didik/mahasiswa, wali murid dan pelanggan lain).2 Dalam prakteknya, layanan yang diberikan dalam pendidikan dapat dilakukan melalui antara lain: 1. Pelayanan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran, memberikan informasi, layanan administrasi dan pendampingan. 2. Layanan kepada orang tua peserta didik (wali murid) melalui memberikan informasi, layanan administrasi . 3. Layanan kepada pelanggan lain, melalui sesuai kebutuhan dan kemampuan yang ada.

Mutu pendidikan itu tidak hanya diukur dari mutu keluaran pendidikan secara utuh (educational outcomes), dan itu dikaitkan dengan konteks dimana mutu itu ditempatkan dan berapa besar persyaratan tambahan yang diperlukan untuk itu. Mutu pendidikan juga dapat diukur dari besarnya kapasitas layanan pendidikan dalam memenuhi customers needs and wants. Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, maka mutu pendidikan dapat diukur dari besarnya earnings yang diperoleh oleh lulusan setelah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu.3

“Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Menurut Stephan Uselac, yang dimaksud mutu bukan hanya produk dan jasa saja, namun juga mencakup proses, lingkungan dan manusia”.4 Jadi, mutu dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi yang berhubungan dengan produk, jasa, proses, lingkungan dan manusia untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan guna memenuhi kebutuhan pelanggan.

Berdasarkan definisi yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mutu adalah segala sesuatu yang dibutuhkan pelanggan (eksternal dan internal) baik itu produk, jasa, proses, lingkungan maupun manusia. Sedangkan manajemen mutu adalah segala sesuatu yang harus dilakukan oleh organisasi baik itu

2 Eti Rochaety, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008). hlm.

110.

3 Sudarwan Danim, Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

2003), hlm. 80.

4 Jerome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu (Prinsip-Prinsip Perumusan dan Tata Langkah

(15)

institusi atau perusahaan untuk memastikan bahwa produknya telah sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Meskipun manajemen mutu dapat didefinisikan dalam berbagai versi, namun pada dasarnya manajemen mutu itu berfokus pada perbaikan terus-menerus untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Jadi, dengan demikian manajemen mutu berorientasi pada proses yang mengintegrasikan semua SDM, pemasok-pemasok, dan para pelanggan yang ada di lingkungan tersebut.5

“Definisi relative tentang mutu tersebut memiliki dua aspek. Pertama adalah menyesuaikan diri dengan spesifikasi. Kedua adalah memenuhi kebutuhan pelanggan. Mutu bagi produsen bisa diperoleh melalui produk atau layanan yang memenuhi spesifikasi awal yang telah ditetapkan dalam gaya yang konsisten”.6

Manajemen mutu tidak hanya terdapat pada pendidikan formal dan non-formal, dalam pendidikan informal manajemen mutu atau standar mutu pendidikan ada, sebagaimana isi dalam Permen No 63 tahun 2009 bab II pasal 9 tentang “Penjaminan Mutu Pendidikan Informal” yang isinya adalah “Penjaminan mutu pendidikan informal dilaksanakan oleh masyarakat baik secara perseorangan, kelompok, maupun kelembagaan”.7

guna untuk memberikan jaminan kepada pelanggan jasa pendidikan, karena pendidikan informal jelas tercantum dalam pasal 1 No 13 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional-Sisdiknas No.20/2003 yang isinya adalah “Departemen Pendidikan Nasional menyebut sekolah rumah dalam pendidikan homeschooling”. Jalur sekolah-rumah ini dikategorikan sebagai jalur pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.8

5 Jerome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu (Prinsip-Prinsip Perumusan dan Tata Langkah

Penerapan), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 6-7.

6 Edward Sallis Total Quality Manjemen In Education (Manjemen Mutu Pendidikan),

(Yogyakarta: Ircisod, 2008), hlm. 54.

8 Peraturan Mentri No 63 tahun 2009. Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan,

“http://www.linkpdf.com/ebookviewer.php?url=http://daa.ugm.ac.id/images/SK/menteri/permen_200 9_63_penjaminan_mutu.pdf. di akses tanggal 20-11-2010”.

7

Ara Hidayat Dan Imam Machali, Pengelola Pendidikan, (Konsep, Prinsip dan Aplikasi

(16)

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan seperti (Homeschooling) berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Meskipun pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan pendidikan informal, namun hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal (sekolah umum) dan non formal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (pasal 27 ayat 1-2 UU SISDIKNAS No. 20/2003).9

Dengan adanya persaingan yang ada di dunia pendidikan sekarang ini tentu menuntut sekolah untuk berlomba-lomba menghasilkan output dalam hal ini siswa yang memiliki daya saing, sehingga banyak sekolah yang muncul dengan bermacam-macam desain, misalnya sekolah dengan background Islam terpadu (IT), full day school, berstandar nasional atau bahkan internasional. Dari bermacam-macam bentuk sekolah ini tentu memiliki manajemen sekolah yang berbeda.

Sedangkan mereka yang kurang puas dengan pendidikan formal cenderung memilih pendidikan alternatif, yakni sekolah yang bentuk dan metode belajarnya berbeda dari sekolah formal. Bentuk dari sekolah alternatif sendiri beragam, mulai kategori anak berkebutuhan khusus (ABK) atau yang dahulu dikenal dengan anak cacat, homeschooling atau belajar di rumah, sampai sekolah alternatif berbasis kurikulum alam yang bisa melebar dalam bentuk outbound.10

Dalam hal ini peneliti akan fokus pada salah satu pendidikan alternatif yaitu pendidikan homeschooling. Salah satu pengertian homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikan.

Pendidikan yang berkualitas merupakan “condition sine quanon” berupaya guna memenangkan persaingan global, berasal dari inilah keadaan akan pentingnya perbaikan mutu sumber daya manusia mulai dilakukan masyarakat. Homeschooling adalah salah satu upaya untuk itu, dimana pendidikan ini berdiri sendiri secara

9. Seto Mulyadi, Home Schooling Keluarga Kak-Seto, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2007),

hlm. 34-35.

10

Satmoko Budi Santoso, Sekolah Alternatif Mengapa Tidak?! (buku pintar sekolah

alam/outbound, home schooling, dan anak berkebutuhan khusus), (Jogjakarta: Diva Press, 2010), hlm.

(17)

mandiri atau merupakan pendidikan berbasis rumah. Model pendidikan ini menuntut adanya peran langsung dari orang tua untuk mendidik anak sesuai dengan perkembangannya. Selain itu, juga disesuaikan dengan zamannya. Misal kalau pada zaman pra kemerdekaan, bahwa masyarakat pada waktu itu ingin sekali menghilangkan dominasi dari kolonialisme, sehingga mereka tidak ingin berkomunikasi dengan ajaran-ajaran orang yang dianggap menjajah. Sedang pada masa globalisasi saat ini, ketakutan yang ada adalah adanya budaya-budaya yang negative arus globalisasi, seperti pergaulan bebas, narkoba, dan sebagainya. Dari sini mereka melihat bahwa rumah adalah tempat aman dalam menjalani proses pendidikan keluarga sebagaimana Q.S. Al-Luqman ayat 13-14 tentang nasehat-nasehat Luqman pada anak-anaknya untuk tidak berbuat dzalim.11



































































Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Al-Luqman ayat 13-14).12

Setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapatkan pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar anak yang menyenangkan. Kerapkali hal-hal tersebut tidak ditemukan oleh karena itu muncullah ide orang tua untuk “menyekolahkan” anak-anaknya di rumah. Dalam perkembangannya berdirilah lembaga sekolah yang disebut sekolah rumah

11 Bulletin LPM Edulasi Quantum, Homeschooling Pendidikan Alternatif. (Semarang, Edukasi

: 2007). hlm. 2-3.

12 Al Qur’an dan Terjemahannya (Arab Saudi: Asy-Syarif Medinah Munawwarah, 1421 H ,

(18)

(Homeschooling) atau dikenal juga dengan sekolah mandiri, atau Home Education atau Home based learning. Homeschooling menjadi tempat harapan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman/agama, moral serta mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.13

HSKS merupakan sebuah lembaga pendidikan alternatif yang dalam proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang lebih tematik, aktif, konstruktif, dan kontekstual, serta belajar mandiri melalui penekanan pada kecakapan hidup (life skill) dan pemecahan masalah. Sebagai institusi yang bergerak pada bidang jasa pendidikan HSKS cabang Semarang telah diakui dibawah naungan PNFI (Pendidikan Non Formal Indonesia) yang bersifat fleksibel.

HSKS cabang Semarang bercermin berdasarkan filosofi sederhana “belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja”, dengan mengedepankan kreatifitas, ceria dan inovatif serta mengutamakan pada karakter building sebagai investasi saat peserta didik terjun dimasyarakat. Dari hal tersebut pendapat hemat penulis pembelajaran yang dilakukan oleh HSKS tidak hanya pada seputar pelajaran-pelajaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah tetapi lebih pada penekanan life skill, bakat dan minta peserta didik dan orang tua. seperti pada yang tertera pada paragraph diatas. Dalam penerimaan peserta didik HSKS cabang semarang mempunyai serangkaian SOP (Standar Operasional Prosedur) sebagai informasi dan data awal bagi pihak sekolah guna menentukan kelas untuk peserta didik diantara kelasnya adalah kategori ABK, korban bullying, dan kelas akselerasi. di HSKS cabang Semarang SOP bukan hanya saja pada penerimaan peserta didik, pada sistem pemebelajaranpun serangkaian standar operasional prosedur diterapkan guna pencapaian tujuan. Lain halnya dengan manajemen mutu pada homeschooling Kak Seto cabang Semarang. Istilah yang diterapkan dalam HSKS adalah Quality Insurance (Penjaminan Mutu) terdapat 4 komponen yaitu adalah 1. Plan (Perencanaan) 2. Do (proses). 3. Money (Monitoring dan evaluasi). 4. Improvement (pengembangan).

13 Nugroho Widiasmadi, Spot Capturing (Metode Dasyat Mencetak Otak Super untuk

(19)

Homeschooling Kak Seto (HSKS) cabang Semarang salah satu lembaga pendidikan akan menjadi tempat atau tujuan penelitian dikarenakan HSKS tersebut telah mencantumkan penjaminan mutu akademik berlandaskan pada kementerian pendidikan nasional. Kerjasama yang baik dari semua komponen HSKS serta komitmen untuk maju yang dibangun di HSKS tersebut sangat mendukung tercapainya sistem manajemen mutu.

Berangkat dari latar belakang masalah tersebut, maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian tentang “Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang”. Dengan harapan hasil penelitian ini akan menjadi bahan kajian bagi para pengelola pendidikan lain yang tertarik menerapkan sistem manajemen mutu tersebut.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti paparkan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Penerapan Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang?

2. Bagaimana Pengembangan Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan Penerapan Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

2. Menjelaskan Pengembangan Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

Secara umum penelitian yang berjudul “Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang” ini berguna untuk mengetahui bagaimana manajemen mutu di Homeschooling Kak Seto cabang Semarang

(20)

1. Manfaat teoritis

a) Dapat menambah ilmu pengetahuan sebagai hasil dari pengamatan langsung serta dapat memahami penerapan disiplin ilmu yang diperoleh selain studi di perguruan tinggi.

b) Dapat memberikan motivasi kepada para pendidik, pembimbing dan pihak lembaga agar tercipta manajemen mutu yang inovatif dan kreatif sehingga dapat memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan pendidikan dan mendapatkan citra yang baik.

c) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pembaca dan pihak-pihak yang berkepentingan.

d) Penelitian ini di harapkan dapat menambah khazanah intelektual, keilmuan. 2. Manfaat praktis

a) Hasil penelitian dapat digunakan sebagai input bagi pemimpin dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

b) Sebagai bahan pertimbangan dan sumbangsih pemikiran guna meningkatkan mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

(21)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang peneliti lakukan dalam penyusunan karya ilmiah (skripsi) ini tergolong penelitian kualitatif, yaitu “suatu jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau berupa hitungan lainnya”.66 Atau Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.67 Penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan manajemen mutu di Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

“Penelitian ini tergolong sebagai penelitian lapangan (field research) yakni penelitian yang langsung dilakukan atau pada responden”.68 Oleh karena itu, obyek penelitiannya adalah berupa obyek di lapangan yang sekiranya mampu memberikan informasi tentang kajian penelitian. Dalam hal ini peneliti menjadikan Homeschooling Kak Seto cabang Semarang sebagai obyek penelitian dengan difokuskan pada pelaksanaan manajemen mutu di Homeschooling Kak Seto cabang Semarang sehingga mengetahui keunggulan komparatif yang dimiliki dalam pelaksanaan dan pengembangan manajemen mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

66 Straus dan Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, (Jogjakarta: Daftar Pustaka, 2003),

hlm. 4

67 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),

cet. 20, hlm. 6.

68 M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metode Penelitian dan Aplikasinya, (Jakarta: Ghalia

(22)

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada sebuah lembaga pendidikan yang berlokasi di Homeschooling Kak Seto cabang Semarang, terletak di Jl. Klenteng Sari No 3 Semarang 50268, Jawa Tengah, Indonesia. Phone dan Fax : +62.+24+7475416. Penelitian ini dilaksanakan Pada tanggal 02-15 agustus 2011.69

C. Sumber Penelitian

Homeschooling Kak Seto cabang Semarang resmi berdiri ditandai dengan ditanda tanganinya MoU antara pendiri HSKS semarang yaitu Dr. Ir. H. Nugroho Widiasmadi, M.Eng dengan HSKS pusat yaitu Dr. Seto mulyadi pada tanggal 3 Juni 2009. HSKS cabang Semarang ini membuka 3 jenjang pendidikan yaitu SD (Sekolah Dasar) SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Mengenah Atas), selain itu pula HSKS cabang Semarang membuka kelas keahlian Seperti kelas robotik, desain, seni, dan lain-lain.

HSKS cabang Semarang yang telah didirikan pada tanggal 3 Juni 2009 dilaksanakan berdasarkan filosofi sederhana “belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja”. Untuk menjadi institusi pendidikan yang selalu menjaga mutu pengembangan ke depan selalu mendasarkan VISI dan MISI yang telah ditetapkan. untuk mengawal agar pencapaian VISI tersebut sesuai dengan tuntutan masyarakat maka HSKS cabang Semarang juga membentuk gugus kendali dan penjaminan mutu pendidikan (Academic Quality Insurance).

1. Visi Sekolah

Menjadikan Homeschooling Kak Seto cabang Semarang sebagai salah satu insitusi pendidikan anak yang unggul dalam menyediakan program pendidikan bagi anak untuk dapat terampil, memiliki Life Skill, dan karakter yang kokoh sebagai calon pemimpin bangsa dimasa depan70

69

Brosur Homeschooling Kak Cabang Semarang

70 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

(23)

2.

Misi Sekolah

a. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik sesuai dengan kebutuhan, gaya belajar, kekuatan dan keterbatasan yang dimilikinya.

b. Membantu peserta didik menemukan minat dan bakatnya serta mengembangkan bakat dan minat peserta didik secara optimal.

c. Membentuk peserta didik menjadi manusia pembelajaran seumur hidup yang mempunyai kepedulian social yang tinggi dan karakter yang kuat. d. Memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh hubungan dari pelajaran

yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata.

e. Mengatasi keterbatasan, kelemahan peserta didik dengan melakukan pendekatan personal.71

Dalam hal ini yang menjadi sumber data adalah manajer, kepala sekolah mengenai manajemen mutu homeschooling Kak Seto cabang Semarang, koordinator Penjaminan mutu dan para staf HSKS cabang Semarang dalam hal pelaksanaan dan pengembangan manajemen mutu HSKS cabang Semarang, orang tua dan perserta didik selaku konsumen/pelanggan jasa pendidikan di HSKS cabang Semarang terkait dengan pendapat mengenai manajemen mutu HSKS cabang Semarang. Pengertian sumber data dalam penelitian menurut Suharsimi adalah subyek dari mana data diperoleh.72 Dengan adanya sumber data maka data yang diperlukan dalam penelitian ini akan mudah diperoleh.

D. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan terhadap bagaimana pelaksanaan dan pengembangan manajemen mutu Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah pencatatan peristiwa-peristiwa atau hal-hal atau keterangan-keterangan atau karakteristik-karakteristik sebagian atau seluruh elemen populasi yang akan mendukung penelitian, atau cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Sehubungan dengan penelitian lapangan terhadap

71 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

I- 1-2

72 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,

(24)

studi kasus, maka untuk mendapatkan data-data yang dimaksudkan, perlu dilakukan dengan proses terjun langsung di lokasi penelitian yakni melalui observasi, interview, dokumentasi, maupun dengan pencatatan lapangan. Sedangkan untuk memperkuat teori-teori yang dipakai, maka peneliti melengkapi dengan penelitian kepustakaan (library research).

Beberapa metode yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data di antaranya:

1. Metode Observasi (Pengamatan)

“Pada dasarnya teknik observasi digunakan untuk melihat atau mengamati perubahan fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang, serta kemudian dapat dilakukan penilaian atas perubahan tersebut”.73

“Sanafiah Faisal mengklasifikasikan observasi menjadi 3 yaitu: observasi berpartisipasi (participant observation), observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt observation dan covert observation), dan observasi yang tak berstruktur (unstructured observation)”.74

Peneliti dalam hal ini akan menggunakan observasi terus terang dan tersamar, dimana peneliti akan mengamati dan mengetahui secara langsung bagaimana manajemen mutu yang diterapkan di HSKS cabang Semarang, serta menjelaskan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan manajemen mutu tersebut, letak geografis, sarana prasarana, tutor, administrator dan peserta didik.

Peneliti juga akan mengobservasi bagaimana kondisi lembaga tersebut serta bagaimana perkembangannya untuk masa depan.

2. Metode Interview (Wawancara)

“Interview adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Ciri utama dari interview adalah adanya kontak langsung dengan cara tatap

73 Joko Subagyo, Metode Penelitian (Dalam Teori dan Praktek), (Jakarta: PT Rineka Cipta,

2004), hlm. 63.

74 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D),

(25)

muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber informasi (interviewee)”.75 “Untuk memperoleh informasi yang tepat dan objektif, setiap interviewer harus mampu menciptakan hubungan baik dengan interviewe”.76

Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana kondisi HSKS Cabang Semarang tersebut serta untuk memperoleh kejelasan dari proses observasi yang bersifat mendukung data penelitian. Peneliti akan menggunakan wawancara tidak terstruktur, dimana pihak-pihak yang terkait akan diwawancarai diminta informasinya terkait dengan manajemen mutu HSKS cabang Semarang.

“Wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara yang hanya memuat garis besar permasalahan yang akan ditanyakan”.77 Tentu saja kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis ini lebih banyak tergantung dari pewawancara. Jenis interview ini cocok untuk penelitian sebuah kasus.

Peneliti dalam wawancara ini akan mendata pihak-pihak mana saja yang akan menjadi objek penelitian yang akan memperkuat data yang diperoleh, karena dari pihak-pihak tersebut dapat diperoleh data-data yang valid. Metode wawancara tersebut akan peneliti gunakan untuk memperoleh jawaban dari pihak-pihak tersebut di atas.

3. Metode Dokumentasi

“Dokumen merupakan catatan peristiwa lampau. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif”.78

“Schatzman dan Strauss menegaskan bahwa dokumen historis merupakan bahan penting dalam penelitian kualitatif. Menurut mereka, sebagai bagian dari

75 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D).

hlm. 317.

76 Margono, S, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 165 77

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). hlm.227.

78 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D).

(26)

metode lapangan, peneliti dapat menelaah dokumen historis dan sumber-sumber sekunder lainnya untuk menjelaskan sebagian aspek situasi tersebut”.79

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan fasilitas pendukung dalam pelaksanaan sistem manajemen mutu. Data dapat berupa foto, tulisan, check list maupun dokumen-dokumen yang penting lainnya, yang mana data tersebut dapat memperkuat proses pelaksanaan manajemen mutu tersebut.

4. Metode Triangulasi Data

“Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada”.80 Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.

“Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap suatu data”.81

Dalam penelitian kualitatif, teknik triangulasi dimanfaatkan sebagai pengecekan keabsahan data yang peneliti temukan dari hasil wawancara peneliti dengan informan kunci dan dibandingkan dengan hasil wawancara dengan beberapa informan lainnya dan kemudian peneliti mengkonfirmasikan dengan studi dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian serta hasil pengamatan peneliti di lapangan sehingga kemurnian dan keabsahan data terjamin.82

Triangulasi Pada penelitian ini, peneliti gunakan sebagai pemeriksaan melalui sumber lainnya. Dalam pelaksanaannya peneliti melakukan pengecekan data yang berasal dari hasil wawancara dengan Manajer HSKS cabang Semarang,

79

Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan

Ilmu Sosial Lainnya), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 195-196.

80 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D).

hlm. 330.

81

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 330.

82 Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan Dan Sosial (Kuantitatif Dan Kualitatif ),

(27)

koordinator penjamin mutu dan para staf HSKS cabang Semarang, wali murid dan peserta didik HSKS cabang Semarang.

Lebih jauh lagi, hasil wawancara tersebut kemudian peneliti telah lagi dengan hasil pengamatan yang peneliti lakukan selama masa penelitian untuk mengetahui bagaimana manajemen mutu yang ada di Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

Setelah keempat metode tersebut di atas terlaksana, maka data-data yang dibutuhkan akan terkumpul. Peneliti diharapkan untuk mengorganisasi dan mensistematisasi data agar siap dijadikan bahan analisis.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam sebuah penelitian merupakan bagian yang sangat penting karena dengan analisis inilah data yang ada akan nampak manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian dan mencapai tujuan akhir dalam penelitian.

Analisis data merupakan proses mencari dan menata data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi yang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut, analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (interpretasi).83

Penelitian ini bersifat kualitatif, sehingga dalam hal ini peneliti menggunakan metode analisis yang disebut analisis data kualitatif. Menurut Bogdan dan Biklen analisis data kualitatif dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.84

Peneliti dalam hal ini akan menyusun secara sistematis data-data yang telah diperoleh dari hasil observasi, interview serta dokumentasi yang kemudian

83

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), hlm. 104.

(28)

dilanjutkan dengan cara mendeskripsikan dan menginterpretasikan bagaimana implementasi dari manajemen mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

Analisis data penelitian kualitatif, dapat dilakukan melalui langkah-langkah, diantaranya sebagai berikut:

1. Reduksi data

Reduksi data merupakan proses pengumpulan data penelitian, seorang peneliti dapat menemukan kapan saja waktu untuk mendapatkan data yang banyak, apabila peneliti mampu menerapkan metode obsevasi, wawancara atau dari berbagai dokumen yang berhubungan dengan Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

Selama proses reduksi data peneliti dapat melanjutkan ringkasan, pengkodean, menemukan tema, reduksi data berlangsung selama penelitian di lapangan sampai pelaporan penelitian selesai.

2. Melaksanakan Display Data atau Penyajian Data

Biasanya dalam penelitian, kita mendapatkan data banyak. Data yang kita dapat tidak mungkin kita paparkan secara keseluruhan. Untuk itu, dalam penyajian data dapat dianalisis oleh peneliti untuk disusun secara sistematis, atau simultan sehingga data yang diperoleh dapat menjelaskan dan menjawab permasalahan yang diteliti.

3. Verifikasi/Mengambil Kesimpulan.

Mengambil kesimpulan merupakan analisis lanjutan dari reduksi data, dan display data sehingga data dapat disimpulkan, dan peneliti masih berpeluang untuk menerima masukan. penarikan kesimpulan sementara, masih dapat diuji kembali dengan data di lapangan dengan cara merefleksikan kembali, peneliti dapat bertukar pikiran dengan teman sejawat, triangulasi, sehingga kebenaran ilmiah dapat dicapai.85

Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam

85 Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan Dan Sosial (Kuantitatif Dan Kualitatif ), hlm.

(29)

penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan.86

Oleh karena itu, dalam analisis data ini peneliti menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan bagaimana implementasi manajemen mutu pada Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.

86 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D),

(30)

BAB IV

MANAJEMEN MUTU HOMESCHOOLING

KAK SETO CABANG SEMARANG

A. Deskripsi Hasil Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang

Berdirinya HSKS Semarang pada tanggal 3 Juni 2009 ditandai dengan ditandatanganinya MoU antara pendiri HSKS cabang Semarang yaitu Dr. Ir. H. Nugroho M.Eng dengan HSKS Pusat yaitu Dr. Seto Mulyadi.

Motivasi didirikannya HSKS ini didasarkan pada pengalaman pendiri dalam dunia pendidikan baik formal atau non formal. Pengalaman pendiri dimulai sejak tahun 1999 sampai sekarang sebagai dosen Universitas Pandanaran Semarang dan juga di Universitas Wahid Hasyim Semarang. Menurut beliau Pengalaman yang sangat menarik ketika beliau mendirikan pendidikan lingkungan untuk anak yang dikemas dalam program wisata, dimana kawasan wisata yang disiapkan merupakan wahana pembelajaran bagi setiap pengunjung untuk peduli akan lingkungan.

Kawasan wisata yang disiapkan sejak sebelas tahun silam yaitu tepatnya tahun 2000 dengan konsep ekowisata (ecotourism) dengan nama Ekowisata Taman Air Indonesia (ETASIA).87

Animo masyarakat terhadap wahana alami ini cukup besar, hal ini terlihat dari kunjungan berbagai sekolah khususnya TK, SD, dan SMP. pengunjung sebagian besar dari Surakarta, Klaten, Boyolali, Semarang, Salatiga dan bahkan dari luar propinsi seperti Yogyakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Program wisata disiapkan dengan kurikulum terpadu bagaimana para siswa dapat langsung berinteraksi untuk menyentuh lingkungan khususnya air diantaranya untuk mencari satwa air seperti udang kali dan belut air. Serta mengenal tumbuhan air seperti papyrus, stok, teratai, kegiatan lain seperti menanam padi, memandikan kerbau dan lain sebagainya. Peserta juga dikenalkan dengan konsep entrepreneurship untuk bidang usaha restorisasi mulai dari pemeliharaan ikan, pengelolaan, dan penyajian.

87 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

(31)

Program pendidikan lingkungan yang dikemas dalam ekowisata tersebut ternyata telah mampu melahirkan putra-putri yang berkarakter pada masa pendidikan yang lebih tinggi, tidak heran bahwa pemenang olimpiade biologi, fisika dan pemenang kejuaraan dari tingkat propinsi atau nasional bahkan internasional pernah tercatat mengikuti program pendidikan lingkungan tersebut.

Maka dengan pengalaman sebelas tahun melihat pendidikan yang seirama dengan konsep ini, Kak Seto yang peduli akan anak dipandang sebagai tokoh yang konsisten dalam dunia tersebut. Pemikirannya pun sangat konstruktif termasuk dalam pemikiran memenuhi hak anak pada pendidikan. Konsep HSKS sangat tepat untuk dijadikan payung dalam rangka program yang sedang dirintis, sehingga dengan seijin Kak Seto maka terjadilah kesepakatan kerja sama untuk mendirikan Homeschooling Kak Seto cabang Semarang.88

2. Letak Geografis Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang

Lokasi di HSKS cabang Semarang, terletak di Jl. Klenteng Sari No 3 Kelurahan. Padalangan, Kecamatan. Banyumanik, Semarang 50268, Jawa Tengah. Fasilitas yang dimiliki HSKS cabang Semarang terdapat pada tabel 4.1.89

Tabel 4.1

Fasilitas yang dimiliki oleh HSKS cabang Semarang

NO. FASILITAS LUAS AREA

1. Gedung sekolah 700m2 2. Ruang kelas 150 m 2 (6 kelas/indoor) 100 m2 (outdoor) 3. Front Office 25 m2

4. Ruang kantor dan Guru 100 m2 5. ruang perpustakaan dengan koleksi

2500 judul buku

25 m2

6. Ruang keterampilan 50 m2

7. Out bound area 20.000 m2 (2 Ha)

8. Gedung pertemuan 1000m2

88 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

I- 3-8

89 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

(32)

9. Mobil operasional 1 buah avanza 10. Lapangan olahraga & kolam

renang

1000m m2

3. Keadaan Pimpinan, Tutor dan Pesrta Didik Homeschooling Kak Seto cabang Semarang

Keadaan Pimpinan HSKS cabang Semarang sebagai berikut:90 Tabel 4.2

Keadaan Piminan Homsechooling Kak Seto cabang Semarang

No NAMA JABATAN KOMPETENSI / PENGALAMAN

1. Drs. H. Much Sahid

Pembina I  Mantan kepala sekolah SMA 5

Semarang

Mantan kepala bidang pendidikan

menengah umum Kanwil Depdikbud Jateng

Ketua dewan pendidikan Nasional

Boyolali 2. Hj. Sri Mulyati

S.Pd

Pembina II  Mantan kepala sekolah SMA N 1

Boyolali

Mantan Anggota Dewan Perwakilan

Rakyat Komisi Pendidikan Kab.Boyolali

3. Dr. Ir. H. Nuroho W Asmadi, M.Eng

Direktur  Mantan pembatu Rektor III Unwahas

Mantan pembatu Rektor I Unwahas

Kepala Lemlit Unwahas

4. Dra. Krisna Soeswanti M.Si Wakil Direktur & Koordinator Mutu Akademik

Dosen tidak tetap Unwahas

Konsultan bidang pemberdayaan

masyarakat 5. Suhato, S.Pd Koordinator Kepala Sekolah (Akademisi)  Praktisi pendidikan 6. Age Ayu Merdiani Manajer (Administrasi/ keuangan/ pemasaran)

Ass. Dosen psikologi UNDIP

7. Fitriyono Administrasi & Keuangan

Praktisi pajak, Administrator &

Keuangan

90 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

(33)

Keadaan Tutor HSKS cabang Semarang sebagai berikut: Tabel 4.3

Keadaan Tutor Homsechooling Kak Seto cabang Semarang91

NO. NAMA ALAMAT KOMPETISI

1. Suharto, S.Pd Jl. Ki Ageng Selo No % Grobogan IPA/ Biolagi. Matematika 2. Hana Kusmawati, S.Pd Jl. Al Munawaroh Gg. Serayu II No. 8 Banjarnegara IPS/ Bahasa Indonesia 3. Muhamad Iqbal B, S.Pd

Jl. Raya Patemon Kompleks Masjid At-Taqwa

IPS/ Geografi /Sejarah 4. Miftah Ichtiyarini

S.Si

Jl. Stonen Timur No. 77 Gajah Mungkur Semarang

IPA/ Kimia / Biologi 5. Muhamad Anggi

S.Pd

Jl. Raya Timur Pasar Balaoma No. 20 Kel. Karangjati kec. Tarub, Kab. Legal

IPS/ Ekonomi

6. Badrus Soleh S.Pd

Griya Ananda Jl. Cempaka Timur Sekaran Gunung Pati Semarang

IPS/ Matematika/ Ekonomi

7. M. Dwi

Fakhrudin S.Pd

Jl. Raya Sekaran Patemon Rt.01/Rw. VI Gunung Pati Semarang IPA/Matematika/ Fisika 8. Rika Rahma S.Pd

Jl. Gurami Raya 34 Ungaran IPS/ Bahasa Ingris

Keadaan peserta didik HSKS cabang Semarang sebagai berikut: Tabel 4.4

Keadaan Peserta Didik HSKS cabang Semarang92

No. Jenjang Kelas Pogram Jumlah

Siswa DL Komunitas 1. SD 1 - 4 4 2. 2 1 7 6 3. 3 2 8 6 4. 4 2 4 2 5. 5 - 6 6 6. 6 - 6 6 7. SMP 7 2 8 10 8. 8 2 6 8 9. 9 - 6 6 10. SMA 10 2 10 12

91 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

III- 11

92 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

(34)

11. 11 5 15 20

12. 12 9 6 15

Jumlah Total Siswa HSKS 101

Bagan Struktur Organisasi HSKS cabang Semarang sebagai berikut: Gambar 4.1

Bagan Struktur Organisasi HSKS cabang Semarang93

B. Pembahasan

Sebagaimana yang telah tertera dalam Bab I bahwa tujuan penelitian ini untuk Mendeskripsikan bagaimana pengelola HSKS cabang Semarang menerapkan manajemen mutu di lembaga mereka, serta memberikan gambaran yang jelas tentang pengembangan manajemen mutu di HSKS cabang Semarang. Oleh karena itu dalam Bab IV ini penulis menganalisis dua hal tersebut sesuai dengan metode yang digunakan yaitu menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif.

Dalam hal ini penulis menganalisis dua aspek pokok yaitu. Pertama, mengenai penerapan manajemen mutu. Kedua, tentang pengembangan manajemen mutu HSKS cabang Semarang. melalui analisis fungsi manajemen yang terdiri dari

93 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

(35)

planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), dan controlling (pengawasan) dalam penerapan manajemen mutu pada HSKS cabang Semarang dalam meningkatkan akuntabilitas lembaga pendidikan sehingga mengetahui faktor pendukung dan faktor keterbatasan manajemen mutu HSKS cabang Semarang dan proses penelitian.

1. Analisis Penerapan Manajemen Mutu Homeschooling Kak Seto cabang Semarang

Penerapan manajemen mutu secara efektif di lembaga pendidikan memerlukan sistem yang terstruktur dan terdokumentasi secara baik. Setiap lembaga yang menerapkan manajemen mutu yang sudah berjalan dengan baik umumnya akan memiliki dokumentasi penerapan manajemen mutu yang baik. yaitu memiliki panduan mutu, panduan prosedur dan panduan instruksi kerja.

Tujuan dari penerapan manajemen mutu HSKS cabang Semarang adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan yang arahnya untuk peningkatan mutu. Jadi, dalam hal ini manajemen ditata sedemikian rupa agar pelanggan merasa puas dengan hasilnya.

Manajemen Mutu pada HSKS cabang Semarang dikembangkan berdasarkan pada suatu model proses dengan menggunakan “Komponen-komponen Manajemen Mutu, Karena komponen manajemen mutu tersebut merupakan dasar penerapan manajemen mutu, yang menunjang suatu evolusi menuju terciptanya lembaga pendidikan yang baik dan dengan menekankan pada kepuasan pelanggan”.94

Komponen-komponen manajemen mutu yang dapat menunjang atau memfasilitasi suatu evolusi menuju terciptanya lembaga pendidikan yang lebih baik adalah sebagai berikut:

a. Kepemimpinan yang berorientasi pada mutu

Manajer puncak harus mengarahkan upaya pencapaian tujuan secara terpadu dengan memberikan, menggunakan alat dan bahan yang komunikatif, menggunakan data, dan mengidentifikasi orang-orang (SDM, Dalam

94 Mulyono, MA, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan, (Jogjakarta: Ar Ruzz

(36)

implementasi TQM sebagai kunci proses manajemen, manajer puncak berperan sebagai penasehat, guru dan pimpinan).95

Penulis menilai proses kepemimpinan di HSKS cabang Semarang bisa dikategorikan sebagai kepemimpinan yang akomodatif. Berdasarkan struktur organisasi (Tercantum dalam gambar 4.1) dapat dilihat bahwa manajer dalam hal ini mempunyai tugas koordinatif dan instruktif kepada kepala sekolah, wali-wali kelas yang dapat dilihat dalam bagan (Tercantum dalam gambar 4.1) dan manajer juga berkedudukan sebagai top management (manajer puncak), yang harus memberikan bukti ikrar pelibatannya pada pengembangan dan penerapan manajemen mutunya dan terus-menerus memperbaiki keefektifannya dengan cara: 1) menyampaikan ke semua staf HSKS akan pentingnya memenuhi persyaratan

pelanggan serta undang-undang dan peraturan.

2) menetapkan kebijakan mutu melalui SOP sebagai landasan utama. 3) memastikan sasaran mutu yang ditetapkan.

4) melakukan tinjauan manajemen dan 5) memastikan tersedianya sumber daya.

Menurut hemat peneliti manajer HSKS cabang Semarang memanage semua bagian unit kerja dengan dibantu oleh Koordinator manajemen mutu dan para kepala sekolah. Tanggung jawab Koordinator manajemen mutu dan para kepala sekolah dapat mencakup sebagai penghubung dengan pihak luar dalam masalah yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu seperti contoh yang disampaikan oleh tutor bahasa Indonesia kak Hana Kusumawati adalah proses pembelajaran yang berlangsung ketika siswa tidak hadir tanpa keterangan dan keadaan siswa yang tidak seperti biasanya, hal itu akan di komunikasikan oleh tutor kepada wali kelas kemudian wali kelas menghubungi wali murid mencari informasi akan hal tersebut.

b. Pendidikan dan Pelatihan

Perwujudan mutu berdasarkan pada keterampilan setiap pegawai dalam merencanakan, mengorganisasi, membuat, mengevaluasi dan mengembangkan

95 Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen

(37)

barang/jasa sebagaimana tuntutan pelanggan. Pemahaman dan keterampilan pegawai menjadi kunci untuk mewujudkan hal itu melalui aplikasi pemahaman dan kemampuannya. Perkembangan tuntutan pelanggan inilah yang terus berkembang dan harus direspon positif oleh manajer puncak melalui penyiapan SDM/pegawai yang kompeten dalam bidangnya.96

Pemborosan terbesar dalam sebuah organisasi adalah kekeliruan menggunakan keahlian orang-orangnya secara tepat. Mempergunakan uang untuk pelatihan tenaga kerja adalah penting, namun yang lebih penting lagi adalah melatih dengan standar terbaik dalam kerja. Pelatihan adalah alat kuat dan tepat untuk perbaikan mutu.97

Pada bagian ini merupakan perwujudan komitmen dalam perbaikan terus menerus melalui penyiapan SDM yang kompeten, kredibel dan profesional. Upaya ini selalu dilakukan dan dilaksanakan rutin oleh HSKS cabang Semarang setiap satu bulan sekali yang di beri istilah Tutor Gathering untuk memfasilitasi para staf dan tutor HSKS guna menunjang kinerja dan pengetahuannya.

Untuk meningkatkan sumber daya manusia khususnya dalam program pembelajaran maka HSKS cabang Semarang mengadakan pelatihan baik untuk para orang tua siswa dan para tutor. Pelatihan tersebut diharapkan antara orang tua murid dan tutor mempunyai kesamaan khususnya anak berkebutuhan khusus.

Kegiatan ini merupakan suatu bentuk pelayanan HSKS cabang Semarang pada masyarakat Semarang dan sekitarnya khususnya dalam bidang pendidikan. Peningkatan SDM tenaga pengajar perlu ditingkatkan terus. Hal ini sesuai dengan program penjaminan mutu pendidikan untuk mewujudkan VISI HSKS cabang Semarang.

Pelatihan dan pendidikan yang dilakukan oleh HSKS cabang Semarang bersifat Kondisional sesuai dengan kebutuhan dan pelaksanaannya hampir tergolong rutin setiap tahunnya. Pelatihan dan pendidikan yang dilakukan bersifat pengetahuan dan keterampilan, mulai dari pelatihan dan pendidikan yang

96

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen

Pendidikan. hlm.302.

(38)

berkaitan dengan pembelajaran, pengenalan karakteristik anak, serta tentang cara menghadapi dan memperlakukan para peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus.

Salah satu contoh pelatihan yang dilaksanakan oleh HSKS cabang Semarang adalah Pelatihan Penatalaksanaan prilaku bagi anak berkebutuhan khusus. Pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan kemauan serta kemampuan pada diri anak-anak berkebutuhan khusus tersebut, dalam hal komunikasi, bersosial, berempati, dan berkonsentrasi. Tata laksana yang di tempuh mengadopsi metode ABA (Applied Behavior Analysis) dan konsep ABC (Antecedent Behavior Consequence).98

c. Struktur Pendukung

“Manajer puncak akan memerlukan dukungan untuk melakukan perubahan yang dianggap perlu dalam melaksanakan strategi pencapaian mutu”.99 Komponen ini merupakan strategi dalam pencapaian mutu, perencanaan dan perumusan program sekolah seperti program rutinan, program semester dan program tahunan serta standar operasional prosedur (SOP) sebagai penunjang penerapan dan pengembangan manajemen mutu.

Dalam komponen ini HSKS cabang Semarang selalu berusaha mengedepankan perencanaan yang matang sebagai wujud komitmen mutu. Dilihat dari proses perumusan dan perencanaan yang dipersiapkan untuk jangka waktu satu tahun kedepan dengan tanpa melupakan evaluasi sebagai control pelaksanaan.

Adapun struktur pendukung sebagai pelaksanaan manajemen mutu antara lain adalah :

1) Kurikulum HSKS cabang Semarang

Kurikulum HSKS Cabang Semarang mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) selain itu kurikulum yang diterapkan adalah

98 Laporan Akhir Tahun Ajaran 2009-2010 Homeschooling Kak Seto Cabang Semarang, hlm

IV- 12-13.

99 Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen

(39)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang di dukung oleh HSKS cabang Semarang. Dalam kegiatan tutorial kedua acuan tersebut disusun dan disampaikan dengan metode HSKS cabang Semarang sehingga dirasa berbeda dengan sekolah formal, sehingga peserta didik mengikuti pembelajaran dengan menyenangkan.

2) Proses pembelajaran

Metode pembelajaran pada HSKS cabang Semarang adalah menggunakan pendekatan yang lebuh tematik, aktif, kontekstual serta belajar mandiri melalui penekanan kepada kecakapan hidup dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Untuk itulah proses pembelajaran di HSKS cabang Semarang dilakukan menyenangkan tidak terpaku dengan akademik.

3) Komunitas

Komunitas merupakan proses pembelajaran dimana peserta dikumpulkan di sebuah kelas untuk belajar sambil bersosialisasi dengan teman-temannya. Dalam komunitas jadwal belajar peserta di tentukan oleh tutorial.

4) Distance learning (Belajar Jarak Jauh)

Merupakan proses pembelajaran dimana peserta belajar di rumah dengan modul dan orang tua yang berperan besar sebagai pendidiknya. Dalam distance learning jadwal belajar disusun sesuai kesepakatan antara peserta dengan orang tua.

5) Tutor Visit

Merupakan metode pembelajaran dimana peserta belajar di rumah dan didampingi oleh tutor. Dalam tutor visit jadwal belajar disusun sesuai dengan kesepakatan antara peserta, orang tua dan tutor.100

6) Project Class

Merupakan proses pembelajaran dimana peserta belajar melakukan percobaan-percobaan ilmiah dan keterampilan lainnya. Dimana dengan melakukan project class peserta dapat mengembangkan kreatifitasnya.

(40)

7) Menonton Pertunjukan

Merupakan proses pembelajaran dimana peserta belajar ,melalui pertunjukan film , teater, orkestra, seni drama, seni lawak, seni music, seni modern / tradisional dan konser musik.

8) Parent Meeting

Pertemuan tiga bulanan antara wali murid, dengan manajemen dan tutor HSKS, dimana Kak Seto selaku Pembina HSKS akan menyempatkan hadir untuk mendiskusikan perkembangan belajar anak didiknya.

9) Outing

Merupakan proses pembelajaran dimana peserta belajar diluar kelas baik berupa kunjungan ke tempat terbuka maupun tertutup, seperti kebun raya, kebun satwa, ekowisata, agrowisata, industry manufacturing, museum, puspitek, pusat seni, peninggalan purbakala. Dan sebagainya.101

d. Komunikasi

Komunikasi dalam suatu organisasi yang berorientasi pada mutu perlu ditempuh dengan cara yang bervariasi agar pesan yang di komunikasikan dapat tersampaikan secara efektif dan manajer puncak dapat berkomunikasi kepada seluruh pegawai mengenai suatu komitmen yang sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan dalam usaha peningkatan mutu.

Komunikasi yang di terapkan di HSKS cabang Semarang adalah komunikasi terbuka dan demokratis. Hubungan kekeluargaan yang di terapkan dalam HSKS cabang Semarang antar manager dengan para staf dan masyarakat HSKS cabang Semarang yang lainnya membuat keakraban dan simpati satu sama lain tercipta akan tetapi tidak melupakan batasan-batasan profesionalitas kerja.

e. Ganjaran dan pengakuan

Tim atau individu-individu yang berhasil menerapkan prinsip-prinsip mutu dalam proses mutu harus diakui dan diberi ganjaran sebagaimana

(41)

kemampuan organisasi, sehingga pegawai lainnya sebagai anggota organisasi akan mengetahui apa yang diharapkan.

Komponen ini sebagai motivasi untuk para warga HSKS cabang Semarang agar selalu berprestasi, kreatif. Inovatif dan berkreasi dalam melaksanakan tugasnya.

Ganjaran dan Pengakuan yang diberikan HSKS cabang Semarang kepada para tutor yang berprestasi diantaranya adalah kenaikan jabatan, peningkatan kesejahteraan, pemberian jaminan hari tua dan jaminan kesehatan, hal tersebut sesuai dengan point-point yang ditetapkan oleh HSKS cabang Semarang sebagaimana yang dikutip dalam wawancara dengan tutor kak Miftah Ictiyarini. Sedangkan bagi siswa yang berprestasi baik dalam bidang pengetahuan, keahlian dan ekstrakurikuler pihak HSKS memberikan penghargaan dengan pemberian tambahan poin dan piagam sebagai pengakuan atas prestasi yang di raih seperti yang disampaikan oleh kak Ajeng selaku ketua OSIS HSKS cabang Semarang. f. Pengukuran

“Menggunakan data hasil pengukuran (evaluasi) menjadi sangat penting di dalam menetapkan manajemen mutu”.102 Kepuasan pelanggan bisa disimbolkan dengan pengukuran statistika atau bisa pula dengan feet back baik dari para pelanggan.

Perbaikan yang berkesinambungan berkaitan dengan komitmen (Continuous, Quality in improvement atau CQI) dan proses Continuous Proses Improvement. Komitmen terhadap kualitas dimulai dengan pernyataan dedikasi pada Visi dan Misi bersama, serta pemberdayaan. Semua persiapan untuk secara inkuiri mental mewujudkan visi tersebut. Perbaikan yang berkesinambungan tergantung kepada dua unsur. pertama: mempelajari proses, alat, dan keterampilan. Kedua: menerapkan keterampilan baru small achievable project, proses perbaikan berkesinambungan yang dapat dilakukan berdasarkan siklus PDAC (Plan, Do, Check, Action). Siklus ini merupakan siklus perbaikan yang never ending, dan berlaku pada semua fase organisasi / lembaga.

102 Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Manajemen

Gambar

Gambar 4.3 Struktur Organisasi yang menerapkan manajemen mutu

Referensi

Dokumen terkait