Ecological As Economic Growth
For Code River Tourism
Development
Disusun oleh Fandi Pradana Aditya Hidayat Adam
Rifqi Arrahmansyah
Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah mengenai pengembangan kawasan wisata bantaran sungai, Kampung Jogoyudan, Yogyakarta. Terima kasih pula untuk warga Kampung Jogoyudan yang sejauh ini bekerjasama dengan baik bersama kami.
Harapan kami karya tulis ilmiah ini dapat berguna sebagai media untuk mengkampanyekan terkait pengembangan kampung-kampung di Indonesia khususnya kampung bantaran sungai, serta sebagai bentuk penyadaran dan memperluas wawasan masyarakat terhadap pentingnya penataan ruang yang menjadi tanggungjawab bersama.
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini kami juga menyadari terdapat kekurangan. Oleh sebab itu kami mohon maaf dan kami juga sangat terbuka terhadap saran, kritik yang bersifat membangun. Untuk kedapannya dapat menjadi koreksi bagi kami dalam menyusun karya tulis ilmiah selanjutnya.
Sleman, 07 Agustus 2016
DAFTAR ISI COVER KATA PENGANTAR………...1 DAFTAR ISI………...2 ABSTRAK………3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……….4 1.2 Rumusan Masalah………5 1.3 Tujuan Penulisan………..5 1.4 Sasaran Penulisan……….5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Restorasi Sungai (River Restoration)………..6
2.2 Pengertian Bantaran Sungai……….6
2.3 Pengertian Riverside Development………..6
BAB III METODE PENELITIAN DAN KOMPILASI DATA 3.1 Obyek Penelitian……….7
3.2 Jenis Data………7
3.3 Studi Literatur……….7
3.4 Pengumpulan Data………..7
3.5 Analisis Data. ……….7
3.6 Analisis Kelayakan Investasi dan Pembiayaan Riverside Tourism………….8
3.7 Analisis Kelayakan Pembangunan Pariwisata………....8
3.8 Analisis Sektor Koridor Pertumbuhan Ekonomi………8
BAB IVPEMBAHASAN 4.1 Letak Kawasan……….12
4.2 Fungsi dan Masalah Sungai Code………13
4.3 Potensi Kawasan Sungai Code……….14
4.4 Rencana Restorasi Sungai (Perencanaan 5 Tahun Pertama)………15
4.5 Perencanaan Peningkatan Kualitas Squatter Settlement (5 Tahun Kedua)..16
4.6 Perencanaan Pariwisata Kampung Jogoyudan dan Koridor Komersil (5 Tahun Ketiga)………17
4.8 Pengembangan Area Komersil dan Perkampungan...20 4.9 Pentahapan dan Analisis Kelayakan Proyek...24 BAB VPENUTUP
Kesimpulan………26 Saran………..26 DAFTAR PUSTAKA
Kawasan tepi Sungai Code merupakan kawasan permukiman padat yang berletak di barat kawasan malioboro yang merupakan jantung pariwisata Kota Yogyakarta. Lahan yang terbatas ditengah sulitnya mengakses perumahan secara formal dan lokasi kawasan yang dekat dengan pusat kota adalah segilintir alasan maraknya pertumbuhan rumah-rumah tidak berijin (squatter) yang kondisinya kumuh di tepian Sungai Code.
Urgensi sebuah penataan kawasan bantaran sungai (riverside) di suatu daerah dapat berbeda beda, salah satunya didasarkan oleh pemanfaatan ruang yang ada di kawasan tersebut. Pemanfaatan bantaran Sungai Code sebagian besar dimanfaatkan sebagai area permukiman dan komersil, oleh karenanya perlunya penataan ruang yang mendukung area bantaran sungai sebagai kawasan yang layak huni dan bernilai ekonomi serta mendukung fungsi dan peran sungai sebagai daerah aliran air sebagaimana mestinya.
Ecological As Economic Growth For Code River Tourism Development
merupakan upaya desain fisik dan spasial untuk menghindari pertumbuhan kawasan yang tidak terkendali, penataan bangunan dan lingkungan, pengendalian pemanfaatan ruang serta arahan investasi, arahan pemberdayaan sosial dengan tujuan meningkatkan perekonomian dan daya saing kawasan melalui pengembangan 2 koridor pertumbuhan ekonomi berupa : koridor wisata sosial- budaya, dan lingkungan sungai serta koridor kawasan komersil dan jasa. Konsep kontekstual ini, mengintegrasikan antara sektor wisata sungai sebagai basis ekonomi dengan sektor potensial lain, seperti perdagangan, hotel dan restoran yang
bertumpuh pada kegiatan sosial budaya berbasis kerakyatan. Prinsip restorasi
sungai (river restoration) juga dijadikan basis perencanaan guna mengurangi
resiko bencana serta mengembalikan fungsi sungai sebagaimana disebur diatas. Metode yang digunakan dalam paper ini adalah wawancara, survei langsung dilapangan, studi pustaka, kajian data, serta analisis spasial untuk pemodelan kawasan bantaran sungai.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar BelakangIsu mengenai perkotaan yang cukup mengambil perhatian masyarakat Indonesia adalah perkembangan kota menghadapi era baru, para ahli sepakat bahwa Pada 2025, diperkirakan porsi penduduk perkotaan mencapai 67,7 persen dan meledak menjadi 85 persen atau 320 juta jiwa pada 2050. Pembangunan perkotaan di Indonesia saat ini masih belum mampu menunjukan tanda dapat mengantisipasi dan menjawab segala dinamika perkotaan. Hal ini jelas, karena dampak negatif urbanisasi dengan gegap gempita bisa terlihat di tiap sudut-sudut kota.
Salah satu dampak negatif isu tersebut adalah citra kota yang semakin buruk; karena maraknya pertumbuhan rumah-rumah tidak berijin (squatter) di bantaran sungai akibat akses masyarakat yang lemah terhadap perumahan formal sehingga rata-rata permukiman di bantaran sungai tidak memiliki sarana prasarana memadai. Padahal Tersirat terang dalam pembukaan UUD 45 bahwa Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat 2 ).
Oleh karena itu sangat penting mencari rencana yang solutif secara menyeluruh untuk mendorong terciptanya ruang yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik khususnya penataan kawasan bantara sungai yang lebih aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mempertajam dan memfokuskan bahasan dalam karya tulis ini, maka kami mengajukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana cara untuk mengembalikan fungsi sungai akibat degredasi lingkungan ?
2. Bagaimana mewujudkan kawasan bantaran sungai dan sekitarnya sebagai koridor pertumbuhan ekonomi ?
3. Bagaimana cara untuk menumbuhkan kegiatan rekreasi dan pariwisata sungai yang ramah lingkungan dan inklusif ?
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah secara preskriptif menghadirkan sebuah konsep aplikatif dan kontekstual dalam meningkatan kualitas kawasan bantaran Sungai Code dan sekitarnya melalui :
1. Perencanaan kawasan bantaran sungai dan sekitarnya melalui pemberdayaan dan arahan investasi dan proses pembiaya-an pembangunan. 2. Mengembalikan fungsi sungai melalui perencanaan restorasi sungai . 3. Menjadikan kawasan bantaran sungai dan sekitarnya sebagai koridor
pertumbuhan ekonomi namun inklusif. 1.4 Sasaran Penulisan
Penyusunan karya tulis ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi berbagai pihak diantaranya bagi masyarakat kawasan permukiman bantaran sungai sebagai pencerdasan dan mengkampanyekan mengenai pentingya kepedulian terhadap lingkungan serta peren komunitas terhadap pembangunan, bagi pemerintah dan stakeholders pemangku kebijakan, diharapakan menjadi rekomendasi pembangunan serta saran untuk para investor untuk mewujudkan pembangunan yang telah direncanakan dalam penelitian ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Restorasi Sungai (River Restoration)
Restorasi sungai adalah upaya mengembalikan fungsi alami/renaturalisasi sungai, yang telah terdegredasi oleh intervensi manusia (Suryoputro, Nugroho 2009). Restorasi sungai menawarkan konsep untuk meningkatkan eksistensi dan mengembalikan esensi sungai.
2.2 Pengertian Bantaran Sungai
Menurut PP Republik Indonesia no 38 tahun 2011 menyebutkan bahwa sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan. Sedangkan, bantaran sungai adalah ruang antara tepi palung sungai dan kaki tanggul sebelah dalam yang terletak di kiri dan/atau kanan palung sungai. Menurut Janny (2013) permukiman bantaran sungai umumnya marjinal karena menghuni lahan yang tidak sesuai peruntukannya.
2.3 Pengertian Riverside Development
Riverside Development adalah konsep pengembangan daerah tepian air sungai (Echois, 2003). Selain itu, waterfront development juga dapat diartikan suatu proses dari hasi pembangunan yang memiliki kontak fisik dan visual dengan air dan bagian dari upaya pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan.
BAB III
METODE PENELITIAN DAN KOMPILASI DATA 3.1 Obyek Penelitian
Penelitian dilakukan di kawasan bantaran Sungai Code, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
3.2 Jenis Data a. Data Primer
Data primer yakni berupa data-data kondisi eksisting yang diambil langsung dari lapangan. Melihat dan mencatat langsung keadaan yang ada di lokasi, kegiatan ini sering disebut dengan teknik survey lapangan. b. Data sekunder
Data sekunder yakni data pendukung atau penunjang yang diperoleh dari literatur dan dari hasil penelitian sebelumnya. Pengumpulan data ini bersumber dari instansi – instansi terkait tata ruang dan informasi dari internet yang terpercaya.
3.3 Studi Literatur
Pada penelitian ini, studi literatur dilakukan guna menambah referensi dan mengembangkan ide. Studi literatur tersebut berupa buku-buku, sumber elektronik, serta hasil-hasil penelitian sebelumnya.
3.4 Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan terdiri dari data fisik dan pemanfaatan lahan Data fisik meliputi; penggunaan lahan skala 1 :5000. Data sosial budaya meliputi; kependudukan dan sosial budaya (wawancara).
3.5 Analisis Data.
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini, meliputi; (a) identifikasi karakteristik fisik, ekonomi, sosial budaya dan pemanfaatan bantaran Sungai Code (b) analisis sektor strategis dengan metode (c) analisis kesesuaian lahan secara spasial melalui peta citra (d).
Ratio
t 1
1 i
3.6 Analisis Kelayakan Investasi dan Pembiayaan Riverside Tourism
Development
Pendekatan yang digunakan untuk melihat seberapa besar manfaat yang dapat diperoleh dari aktifitas pembangunan adalah berdasarkan kajian ekonomi yaitu melalui analisis kelayakan investasi. Analisis kelayakan investasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah rekomendansi perencanaan fisik dan lingkungan yang dilakukan di kawasan bantaran sungai dan sekitarnya secara ekonomis layak atau tidak layak. Dengan pendekatan analisis kalayakan investasi, maka kriteria yang umum digunakan untuk menilai suatu pembangunan layak atau tidak layak adalah; (1) Benefit Cost Ratio (B/C ratio), (2) Internal Rate of Return (IRR), dan (3) Net Present Value (NPV).
Benefit Cost Ratio, merupakan merupakan cara evaluasi usaha dengan membandingkan nilai sekarang seluruh hasil yang diperoleh dengan nilai seka rang seluruh biaya usaha. Hasil perhitungan B/C ratio ini akan memiliki dua kategori, yaitu jika Net B/C >1 maka pengusahaan pembangunan terpilih tersebut layak, namun jika nilai Net B/C < 1 maka pengusahaan pembangunan terpilih tersebut tidak layak. Rumus matematis B/C ratio adalah sebagai berikut:
Bt = Manfaat yang diperoleh sehubungan dengan suatu usaha pada (tahun, bulan, minggu, dan sebagainya) ke-t (Rp.) C t = Biaya yang dikeluarkan sehubungan
dengan suatu usaha pada waktu ke-t, tidak dilihat apakah biaya tersebut diang- gap bersifat modal (pembelian peralatan, tanah, konstruksi, dan sebagainya) (Rp.)
i = Merupakan tingkat suku bunga (15%) t = periode (1,2,3,...,n)
i
= tingkat discount rate pada saat NPV negatifBt
C t =
Biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan suatu usaha pada waktu ke-t, tidak dilihat apakah biaya tersebut diang- gap bersifat modal (pembelian peralatan, tanah, konstruksi, dan sebagainya) (Rp.)
Internal Rate of Return, merupakan tingkat suku bunga dari unit usaha dalam jangka waktu tertentu yang membuat NPV dari unit usaha sama dengan 0 (nol). Kriteria dari perhitungan ini adalah, apabila IRR > discount rate maka maka pengusahaan komoditas terpilih layak, namun jika nilai IRR < discount rate maka pengusahaan komoditas terpilih tidak layak. Secara matematis IRR dapat ditulis sebagai berikut:
i
= tingkat discount rate (DR) pada saat NPV positif
= nilai NPV positif
= nilai NPV negatif
Net Present Value, merupakan selisih antara nilai saat ini (present) dari penerimaan dengan nilai sekarang dari pengeluaran pada tingkat bunga tertentu.
= Manfaat yang diperoleh sehubungan dengan suatu usaha pada (tahun, bulan, minggu, dan sebagainya) ke-t (Rp.)
Selain itu analisis uji kelayakan investasi dapat digunakan sebagai rekomendasi pembangunan kepada pemerintah dan investor berdasarkan taktis ekonomi. Dalam penelitian ini, manfaat yang dapat diperoleh akibat pembangunan yang dilakukan tidak hanya dilihat secara ekonomi saja, melainkan secara berkelanjutan (sosial, ekonomi dan lingkungan).
NPV
NPV
i = Merupakan tingkat suku bunga (15%) t = Periode (1,2,3,...,n)
3.7 Analisis Kelayakan Pembangunan Pariwisata
Uji kelayakan objek wisata dilakukan dalam rangka mengetahui seberapa layak atau tidak di sebuah objek (dalam penelitian ini kawasan) untuk dikembangkan kegiatan pariwisata. Menurut Maryani (1991,11) Suatu kawasan dapat dikatakan sebagai kampung wisata jika dapat memenuhi 5 hal : yakni what to see (apa yang bias dilihat), what to buy (apa yang bias dibeli), how to arrive (bagaimana cara mencapai lokasi), what to stay (apa yang bisa diinapi), what to see (apa yang bisa dilihat). Ke-5 hal tersebut dalam penelitian ini dijadikan sebagai indikator analisis dan perencanaan untuk melihat kelayakan suatu pembangunan kawasan wisata untuk dapat dikatakan sebagai kawasan wisata.
3.8 Analisis Sektor Koridor Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Robinson, pusat pertumbuhan dapat diartikan melalui dua cara, yakni pendekatan fungsional dan geografis. Secara fungsional, pusat pertumbuhan merupakan sekelompok usaha atau kegiatan ekonomi lainnya yang terkonsentrasi pada suatu daerah dan memiliki hubungan yang dinamis, dan saling mendorong sehingga dapat mempengaruhi perekonomian daerah itu maupun daerah belakangnya. Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas sehingga menjadi pusat daya tarik bagi berbagai macam dunia usaha. Menurutnya, pusat pertumbuhan harus memiliki empat ciri yaitu adanya hubungan intern antara berbagai macam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi, adanya multiplier effect (unsur pengganda), adanya konsentrasi geografis, dan bersifat mendorong pertumbuhan daerah belakangnya (Robinson, 2010:128-129)
Dalam penelitian ini, kawasan observasi akan direncanakan untuk menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kota Yogyakarta untuk mendukung kegiatan pariwisata yang telah ada yang di-identifikasi berdasarkan sisi geografis dan fungsional.
Gambar 4.1 Peta dasar kampung jogoyudan
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Letak Kawasan
Kampung Jogoyudan terletak di bantaran Sungai Code yang membentang dari Jalan Jendral Sudirman hingga Jalan Abu Bakar Ali serta koridor ekonomi pada Jl Prau- Jl Ahmad Jazulin.
Gambar 4.1 Kondisi Sungai yang Tercemar
4.2 Fungsi dan Masalah Sungai Code
Sungai Code mengalir di bagian tengah kota Yogyakarta melewati wilayah
Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul sepanjang ± 39,00 km. Pemanfaatan lahan di bibir sungai yang eksploitatif membuat wilayah ini rentan terjadi bencana banjir, longsor serta daya tanah aluvial yang semakin melemah. Sungai code berfungsi sebagai DAS (Daerah Aliran Sungai). Sungai Code merupakan sistem drainase utama yang paling penting untuk wilayah Kota Yogyakarta. Secara historis, Sungai Code memberikan penghidupan kepada para petani dan penambang pasir untuk mencari nafkah. Saat ini hanya tersisa sedikit lahan pertanian di bagian hulu sungai setelah dipenuhi oleh permukiman yang padat penduduk.
Kawasan bantaran sungai merupakan kawasan yang rentan terhadap banjir akibat luapan lumpur lahar dingin dari erupsi gunung merapi. Selain itu, faktor penyebab terjadinya bencana luapan banjir adalah perilaku masyarakat yang yang masih menganggap bahwa sungai adalah wadah penampung limbah tak terbatas. Kondisi pelayanan sanitasi Kampung Jogoyudan dapat dikatakan belum optimal. Bakteri penganggu kesehatan manusia, seperti bakteri E-Coli penyebab epidemik sakit diare sering membuat masyarakat kampung tepi sungai menjadi gusar. Hal ini disebabkan oleh tercemarnya sungai akibat limbah cair dan padat yang langsung dibuang di badan sungai (Puspitasari, 2009). Selain itu, indikasi tercemarnya air di sungai didapati akibat beberapa masyarakat yang masih membuang fases di sungai.
Berdasarkan data sumber pencemarnya, sungai code dicemari oleh 4 Rumah Sakit Kelas B dan C, 3 Rumah Sakit Kelas D dan Rumah Sakit Khusus, 6 Puskesmas, 1 Rumah Sakit Bersali, 6 Laboratorium lingkungan dan Kesehatan, 3 Industri Kulit, 56 Industri Otomotif, 15 Inndustri percetakan, 5 SPBU, 10 Laundry, 2 stasiun kereta api, 11 industri farmasi, 7 hotel bintang 1, 4 hotel bintang 2, 3 hotel bintang 3, 6 hotel bintang 4 dan 4, 21 rumah makan dan 2 mall.
4.3 Potensi Kawasan Sungai Code
Kawasan Sungai Code (Secara Umum) memiliki potensi wisata sosial-kampung yang meliputi wisata budaya, kesenian, kerajinan, dan terdapat banyak situs bangunan kuno, seperti Jetis Pasiraman, STM Jetis, tangsi, berbagai dan sentra produk makanan dan kesenian tradisional, budaya, dan perajin bunga. Selain itu ada beberapa tradisi tahunan warga yang rutin di gelar tiap tahunya seperti Merti Code.
Selain itu, Lokasi kawasan tepi sungai Kampung Jogoyudan yang memiliki lokasi yang strategis di pusat Kota Yogyakarta. Berdasarkan pengalaman internasional, kawasan tepi sungai di luar negeri dapat ditemukan bahwa kawasan-kawasan tersebut mengoptimalkan kawasan-kawasan tepi sungai untuk ruang terbuka hijau yang dapat digunakan untuk berbagai aktifitas sosial. Ruang terbuka selain sebagai penyeimbang kompleksitas kegiatan manusia, dapat juga berfungsi sebagai tempat interaksi dan rekreasi untuk meningkatkan kualitas sosial.
Menurut Ramaini (1992), niat wisatawan mengunjungi obyek wisata alam adalah 54,2% dari selurung pengunjung dikepariwisataan di Indonesia. Hal ini harusnya dapat menjadi motivasi agar arah pembangunan kawasan Kampung Jogoyudan dapat diarahkan kepada kegiatan wisata sungai untuk menopang perekonomian warga melalui aktifitas di sempadan sungai serta atraksi kegiatan sosial-budaya seperti yang disebutkan diatas.
Eksiting
ing
Rencana
ing
Gambar 4.2 Perbandingan penampang dan kondisi sungai setelah restorasi dilaksanakan
4.4 Rencana Restorasi Sungai (Perencanaan 5 Tahun Pertama)
Mengembalikan fungsi sungai seperti sifat alamiahnya merupakan upaya yang dapat ditempuh untuk mengurangi dampak eksploitasi yang berlebihan dari masyarakat yang tinggal serta degradasi lingkungan yang terjadi di kawasan tersebut. Keberadaan talut di sepanjang tepi Sungai Code selain terus menerus mengalami kerusakan akibat erosi, juga menghambat penyerapan air tanah melalui bibir sungai sehingga akses terhadapa mata air warga menjadi terhambat.
Berdasarkan pengalaman internasional, pemilihan tanaman yang tepat serta didukung pengendalian yang tepat dapat dengan cepat mereduksi polutan di air sungai yang merupakan masalah pencemaran seperti yang disebutkan diatas (Van der Moortel, A.M.K., Meers, E., De Pauw, N. and Tack, F.M.G., 2010.)
Talut Penambahan Vegetasi
4.5 Perencanaan Peningkatan Kualitas Squatter Settlement (5 Tahun Kedua)
Hunian atau tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Kualitas hunian yang baik akan menumbuhkan kehidupan sosial yang baik pula. Kualitas tempat tinggal yang layak huni menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 22/Permen/M/2008 adalah rumah yang memenuhi persyaratan keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya. Serta dalam jangkauan tempat ibadah. Kawasan Jogoyudan sebagian besar mempunyai konstruksi permanen yang layak huni. Namun penataan bangunan yang ada masih kurang baik. Masih banyak bangunan yang berada dalam jarak minimum dari bibir sungai, sehingga rawan terkena erosi. Oleh karenanya masih perlu penataan ruang yang baik.
Ketersediaan ruang terbuka hijau publik dapat menjadi penunjang kehidupan sosial bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut. Kawasan Jogoyudan juga mempunyai RTHP namun masih perlu pengembangan dan penambahan di beberapa titik. Ruang terbuka hijau ini dinilai efektif untuk menghidupkan kehidupan sosial masyarakat, karena RTHP merupakan ruang yang mixed-use. Persebaran RTHP yang ada di kawasan Jogoyudan ini juga masih sedikit, hal ini dikarenakan ruang yang belum tertata, karena pertumbuhan bangunan masih organis. Dilihat dari KDB kawasan ini, rata-rata 81-100% sehingga terbilang padat.
4.5.1 Rencana Ruang Terbuka Hijau Publik
Membebaskan lahan bantaran sungai sejauh 10m dari bibir sungai untuk dibangun RTHP dengan konsep riverwalk yang dapat meningkatkan kemampuan area dalam meresap air dan menyimpan air sementara kemudian mengalirkanya secara perlahan untuk mengurangi beban sungai, mendukung SAH sebagai saluran drainase yang sudah ada, sekaligus menjadikan kawasan yang ramah bagi pejalan kaki.
Gambar 4.3 Rencana row vertical housing
4.5.2 Rencana Row Vertical Housing
Penataan bangunan dengan konsep 3M, yakni Mundur, Munggah, Madhep (Mundur, Naik, Menghadap). Mundur, bagi bangunan yang masih berada di bibir sungai dengan membersihkan bangunan-bangunan pada jarak10m dari bibir sungai. Kemudian Munggah, yakni membangun kembali bangunan yang dirobohkan dengan konsep vertical housing, supaya dapat menghemat lahan sekaligus menyediakan area resapan air. Lalu Madhep,yakni bangunan yag dibangun menghadap ke sungai bukan membelakangi sungai, supaya masyarakat enggan mengotori sungai karena sungai tersebutibarat halaman mereka sendiri.
4.6 Perencanaan Pariwisata Kampung Jogoyudan dan Koridor Komersil (5 Tahun Ketiga)
4.6.1 What to See (Apa yang bisa dilihat).
Hasil perencanaan diarahkan untuk memicu meningkatkan visual bantaran sungai melalui penambahan vegetasi. Masyarakat atau pengunjung yang datang dapat melihat tanaman dan perairan sungai demgan berjalan di sidewalk kampung jogoyudan atau melewati koridor ekonomi Jl Prau dimana terdapat taman dan kumpulan bangunan komersil.
Lokasi yang strategis di jantung kota membuat kawasan bantaran Sungai Code amatan memiliki potensi pariwisata yang tinggi. Banyak ikon-ikon wisata lainnya yang menjadi magnet bagi wisatawan domestic dan mancanegara sangat berdekatan dengan lokasi kawasan ini ; seperti Tugu Yogyakarta dan Museum Sandi. Jika akan menggunakan Bus Trans Jogja rata-rata rute Trans Yogya melewati Tugu Yogya yang hanya berjarak 10 menit untuk mencapai lokasi sungai amatan dengan rute 1A, 1B, 2A, 3A, 3B.
4.6.3 What To Buy
Atraksi kegiatan sosial-budaya yang sudah dilestarikan secara turun temurun serta keindahan sungai merupakan hal yang menjadi salah satu faktor utama kegiatan wisata di kawasan ini. koridor pertubuhan ekonomi Jl Prau- Jl Ahmad Jazulin memiliki peruntukan lahan komersil sehingga akan banyak hal untuk dibeli dikawasan ini. Selain itu, perencanaan kawasan food court inklusif warga Kampung Jogoyudan diharapkan dapat menjadi destinasi untuk merasakan kuliner khas Yogyakarta.
4.6.4 What To Stay
Jika wisatawan ada yang berniat untuk tinggal sementara di Kawasan Bantaran Sungai, rencana penambahan komersil dan hotel di koridor Jl Prau- Jl Ahmad Jazulin dapat membantu para wisatawan dalam menyediakan tempat untuk menginap. Selain itu, secara eksisting di Jl Ahmad Jazulin sudah terdapat hotel bintang 4 serta di Jl Diponegoro banyak terdapat hotel dengan segala kualitas.
4.6.5 What To Do
Hal yang bisa dilakukan di kawasan bantaran Sungai Code setelah perencanaan adalah kegiatan wisata sungai, berolahraga melewati sidewalk, menghabiskan waktu di taman, serta berbelanja di kawasan komersil. Namun berdasarkan kondisi eksiting saja, kita
sudah dapat melihat kegiatan budaya tahunan seperti kegiatan merti code dan beberapa festival budaya yang diadakan dikawasan ini. 4.7 Arahan Pemberdayaan Sosial
Pada dasarnya tiap kampung pasti memiliki organisasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, dimana keterbukaan, musyawarah dan mufakat menjadi pilar pengambilan keputusan dan tindakan. Salah satu elemen penting dari pembangunan yang berkelanjutan adalah membangun kemandirian. Fokus solusi sosial yang dituju melalui konsep ini adalah berupaya meningkatkan inovasi, partisipasi hingga emansipasi transformasi sosial yang tumbuh dari internal Kampung sehingga terwujudnya kemandirian.
Kampung Jogoyudan memiliki ragam organisasi kemasyarakatan dengan konsen yang beragam. Satu diantara beberapa organisasi masyarakat tersebut adalah PASA. PASA adalah wadah paguyuban Kampung Jogoyudan yang memiliki tugas: secara kekeluargaan menyelesaikan masalah fisik kawasan seperti pembuatan saluran air hujan, upaya penghijauan lingkungan dan pemilahan sampah serta pengusulan rencana perbaikan kampung. Namun, pada praktiknya meskipun kampung jogoyudan telah digagas masyarakat jarang sekali
terakomodir oleh pihak pemerintah. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mewujudkan kemandirian adalah sebagai berikut :
a. Pelibatan Organisasi Masyarakat kedalam Proses Pengambilan Kebijakan (Meningkatkan daya politik organisasi masyarakat). Peningkatan partisipasi masyarakat penting untuk dilakukan mengingat sinergisasi pembangunan tidak akan terjadi jika the goverment plan and the people act menjadi tidak senada
b. Pemerintah memfasilitasi pengembangan lembaga ekonomi di bawah naungan organisasi masyarakat. Hal ini dapat membantu masyarakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan melakukan pengaturan terhadap penghasilan ekonomi berdasarkan pada potensi wisata alam dan budaya yang dimiliki kampung Jogoyudan.
c. Memfasilitasi Proses Peningkatan Kapasitas Organisasi Sosial Masyarakat (Pembiayaan dan Pelatihan Skill/Organize Ability). Melalui program ini, diharapkan dapat memicu peningkatan kemampuan sumberdaya manusia yang akan berbanding lurus dengan hasil yang didapatkan dari proses produksi masyarakat.
4.8 Pengembangan Area Komersil dan Perkampungan
Sebagai representasi dari pengembangan kualitas ekonomi dan housing, maka adanya rencana penataan perkampungan dan pengembangan layer komersil pada beberapa bagian bantaran sungai.
Penataan ini meliputi pengalokasian lahan komersil pada layer bagian pertama kemudian penataan perkampungan berupa pengadaan sharing house dimana 1 rumah dengan 2 lantai, dihuni oleh 2 keluarga.
Gambar 4.4 Penataan dan pengembangan area komersil dan perkampungan
Gambar 4.5 Penataan dan pengembangan area komersil dan perkampungan
Gambar 4.6 Penampang eksisting jalan prau dan jalan ahmad jazulin
Gambar 4.7 Penampang rencana jalan prau dan jalan ahmad jazulin
Sebuah jalan yang baik adalah baik untuk bisnis, rencana perbaikan Jalan Prau dan Jalan Ahmad Jazulin menjadi full pedestrian way yang diarahkan dapat memicu kegiatan manusia di public space serta penambahan vegetasi dan pembuatan street art sebagai atraksi visual di koridor tersebut, sehingga membuat masyarakat tertarik untuk menghabiskan waktu di kawasan ini.
Tabel 4.1 Rencana pentahapan periode 1
Tabel 4.2 Rencana pentahapan periode 2
Tabel 4.3 Rencana pentahapan periode 3
4.9 Pentahapan dan Analisis Kelayakan Proyek 4.9.1 Rencana Pentahapan
Tabel 4.4 Analisis kelayakan proyek
4.9.2 Analisis Kelayakan
Berdasarkan analisis kelayakan proyek tersebut, nampak NPV dan B/C bernilai positif, oleh karenanya proyek tersebut dapat dinyatakan layak.
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penataan dan pengembangan kawasan wisata Kampung Jogoyudan dengan konsep Ecological As Economic Growth For Code River Tourism Development merupakan rencana yang feasible dan
sustainable karena dinilai mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat baik dari segi sosial maupun ekonomi, serta meningkatkan kualitas lingkungan yang lebih aman dan nyaman.
5.2 Saran
Adanya karya tulis ini semoga dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam penyusunan masterplan kawasan Kampung Jogoyudan
DAFTAR PUSTAKA Literatur Buku-buku
Mulyandari, Hestin. 2011. Pengantar Arsitektur Kota, Yogyakarta : Andi Yogyakarta
Sabari Yunus, Hadi. 2012. Struktur Tata Ruang Kota, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Talen, Emily. 2009. Urban Design Reclaimed, Washington : American Planning Association
Sinulingga, Budi D., 2005. Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan Lokal. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan
Budiharjo, Eko, 1997. Tata Ruang Perkotaan. Bandung: Alumni
Literatur Elektronik
Indonesiaberinovasi.com, diakses pada 07-08-2016 15.07 WIB
Literatur Perundang-undangan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG
PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG
BANGUNAN GEDUNG
KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG
PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005
TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002
TENTANG BANGUNAN GEDUNG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG
SUNGAI
Literatur Lainnya
Dokumen Studio Analisis Kawasan 2014, Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada