DAFTAR ISI
Oleh :
Tim Studi Teknis Sarana/Prasarana
Oktober 2001
DAFTAR ISI
Daftar Isi i
Daftar Singkatan ii
Daftar Tabel iii
Ringkasan Eksekutif 1
I. Metodologi 2
II. Hasil Studi 4
II.1. Kualitas Teknik 4
II.2. Kualitas Pendampingan dan Pengelolaan 7
II.3. Pemeliharaan 8
II.4. Pembiayaan 9
II.5. Manfaat 10
II.6. Partisipasi 12
II.7. Diseminasi Informasi 13
III. Kesimpulan dan Saran 14
III.1. Kesimpulan 14
III.2. Rekomendasi 15
Lampiran : A. Rekapitulasi Lokasi, Pemanfaat, Biaya, Swadaya Masyarakat dan Perbandingan Biaya/Pemanfaat 16
B. Pemeliharaan 26
C. Partisipasi Masyarakat 27
DAFTAR SINGKATAN
FK Fasilitator Kecamatan
Kimbangwil Permukiman dan Pengembangan Wilayah
KM-Kab Konsultan Manajemen Kabupaten
LKMD Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa
MCK Mandi Cuci Kakus
Musbangdes Musyawarah Pembangunan Desa
PDM-DKE Pemberdayaan Daerah Dalam Mengatasi Dampak Krisis
Ekonomi
P2LP Program Penyehatan Lingkungan Permukiman
P3DT Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal
PPK Program Pengembangan Kecamatan
TPK Tim Pelaksana Kegiatan
TTD Tenaga Teknis Desa
RAB Rencana Anggaran Biaya
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 : Jenis Prasarana Yang Distudi 5
Tabel 2 : Kualitas Teknis Sarana/Prasarana 5 Tabel 3 : Kualitas Teknis dan Pendapat Masyarakat 6 Tabel 4 : Kualitas Pendampingan Teknis dan Pengelolaan 7
Tabel 5 : Effektifitas Pembiayaan 9
Tabel 6 : Pendapat Masyarakat Terhadap PPK 10
Tabel 7 : Pemanfaat Papan Informasi dan Papan Proyek 11 Tabel 8 : Perbandingan Total Biaya/Total Pemanfaat 12 Tabel 9 : Pendapat Masyarakat Terhadap PPK 14
RINGKASAN EKSEKUTIF
Tujuan Studi Teknis Sarana/Prasarana ini adalah melakukan evaluasi kegiatan sarana/prasarana PPK yang dibangun pada PPK tahun pertama dan kedua, dan memeriksa beberapa aspek yang menyangkut :
• Kualitas Teknis
• Kualitas Pendampingan Teknis dan Pengelolaan • Pemeliharaan
• Pembiayaan • Manfaat
• Partisipasi Masyarakat dan • Diseminasi Informasi
Studi ini dilaksanakan selama 4 bulan antara bulan April s/d Agustus 2001, satu bulan untuk persiapan dan ujicoba, selanjutnya 3 bulan melakukan studi dilapangan. Lokasi studi direncanakan dilakukan di 18 Propinsi (diluar Propinsi DI Aceh dan Maluku), 37 Kabupaten, 62 Kecamatan, 170 Desa, 236 Prasarana. Tetapi dalam realisasinya ada perubahan yaitu 18 Propinsi, 36 Kabupaten, 70 Kecamatan, 167 Desa dan 235 Prasarana.
Dalam studi ini juga dilakukan wawancara dengan masyarakat desa secara random disekitar lokasi kegiatan prasarana kepada 1002 responden untuk mendapatkan pendapat masyarakat mengenai beberapa aspek yang ditinjau.
Daftar Lokasi Studi
Jumlah Rencana Jumlah Realisasi
Prop Kab Kec Desa Pras Prop Kab Kec Desa Pras
18 37 62 170 236 18 36 70 167 235
Keterangan : Prop = Propinsi ; Kab = Kabupaten ; Kec = Kecamatan ; Pras = Prasarana
Komposisi prosentase jenis prasarana yang distudi seperti yang terdapat pada tabel berikut ini :
Daftar Jenis Prasarana Yang Distudi
Jenis Prasarana Prosentase
(%) Jalan 39,1 Jembatan 19,1 Air Bersih 14,9 Irigasi/drainase 11,1 MCK 6,4 Pasar 4,3 Tambatan Perahu 1,7 Lain-lain 3,4
Pelaksanaan studi ini dilakukan oleh satu tim yang terdiri dari 6 orang tenaga sarjana teknik sipil, 1 orang koordinator (KM Pusat) dan 5 orang anggota yang 4 orang diantaranya merupakan mantan Konsultan Paska Konstruksi (KPK) P3DT.
Wilayah studi terbagi atas 6 wilayah, yaitu :
1. Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung 2. Jawa Barat dan Banten
3. Jawa Tengah dan DI Yogyakarta 4. Jawa Timur
5. Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan 6. NTT, Kalimantan dan Irian Jaya
Hasil studi secara umum dapat didiskripsikan sebagai berikut,
• Kualitas teknik, dari hasil pemeriksaan lapangan diperoleh prosentase rata-rata sebagai berikut :
- 14,5% Baik : Kualitas sudah memenuhi persyaratan teknis.
- 68,5% Cukup : Jika masih ada kekurangan kecil, tidak mengurangi fungsi pelayanan dan masih dapat diperbaiki supaya memenuhi persyaratan.
- 17,0% Kurang : Jika ada banyak kekurangan yang harus diperbaiki atau ada bagian konstruksi yang rusak dan mengganggu fungsi pelayanan.
Dengan demikian sebagian besar prasarana sudah memenuhi spesifikasi teknis, sebagian lainnya kualitasnya kurang, tidak memenuhi syarat minimum, tidak dilengkapi bangunan pendukung, susunan konstruksi salah, terjadi gagal konstruksi dls.
Pendapat masyarakat mengenai kualitas teknis prasarana yang dibangun dengan pernyataan “Puas” dan “ Tidak Puas ”, yaitu :
- 83,2% menyatakan “Puas” - 16,8% menyatakan “Tidak Puas”
Pendapat lain dari masyarakat yang memperbandingkan kualitas prasarana PPK dengan kualitas prasarana program lain adalah sebagai berikut :
- Lebih Baik sebanyak 49,0%, - Lebih buruk sebanyak 4,5%
- Sama dengan program lain sebanyak 46,6%.
• Kualitas pendampingan teknis dan pengelolaan, sebagian besar pendapat masyarakat yang menyatakan cukup baik merupakan prosentase terbesar dari lima katagori penilaian, berturut-turut yaitu ;
- Sangat Baik = 3,6% - Baik = 36,2%
- Cukup Baik = 51,5% - Kurang Baik = 7,5% - Buruk = 1,1%
• Pemeliharaan, dari 152 prasarana PPK tahun pertama jumlah prosentase tim pemelihara yang sudah dibentuk = 67,1%, kegiatan pemeliharaan yang dilakukan = 86,8% masing-masing dilakukan oleh :
- Tim pemeliharaan = 27,0 % - Masyarakat = 46,9%
- Individu = 12,8% dan - Aparat = 13,3%
Sedang cara pemeliharaannya berturut-turut sebagai berikut :
- Rutin = 30,4% : Pemeliharaan yang dilakukan secara rutin, biasanya
mingguan untuk penanganan masalah-masalah rutin yang tidak membutuhkan biaya konstruksi dan upah pekerja.
- Periodik = 49,3% : Pemeliharaan yang dilakukan secara periodik/berkala (satu/dua/tiga bulan sekali atau tergantung dari jenis prasarananya) untuk penanganan masalah sedang yang biasanya dilakukan oleh sekelompok masyarakat dan membutuhkan biaya untuk konstruksi dan upah tenaga kerja.
- Darurat = 20,3% : Pemeliharaan yang harus dilakukan segera untuk penanganan masalah-masalah berat akibat kerusakan pemakaian atau bencana alam yang dapat mengganggu fungsi pelayanan.
Dari prosentase diatas menunjukkan bahwa kegiatan pemeliharaan sebagian besar sudah dilakukan, akan tetapi hanya sebatas pada pekerjaan minor yang tidak membutuhkan pembiayaan dan bersifat darurat sekali. Tim Pemelihara masih kurang dari separoh yang berjalan efektif.
• Pembiayaan, dari 211 prasarana yang diperbandingkan, 121 prasarana (57,3%) PPK memiliki nilai konstruksi rata-rata lebih murah 23,4 % dari
pada program lain. Program lain yang dimaksud yaitu program yang semacam seperti P3DT, PDM-DKE, P2LP dls ataupun proyek yang dikerjakan oleh Dinas Kimbangwil Daerah (dulu Dinas Pekerjaan Umum Daerah).
• Manfaat, sebagian besar dinilai bermanfaat terutama prasarana yang manfaatnya langsung dapat dirasakan seperti Pasar, Air Bersih, Tambatan Perahu, Jembatan dan Jalan. Manfaat tersebut antara lain :
- Meningkatkan akses menuju lokasi yang terisolasi.
- Meningkatkan pendapatan petani karena ada perluasan areal/lahan pertanian/perkebunan dan kemudahan dalam pengelolaannya.
- Meningkatkan kualitas perilaku hidup sehat .
- Dapat mendorong tumbuhnya usaha-usaha baru dimasyarakat. - Peningkatan hasil komoditi.
- Penghematan biaya hidup rumah tangga.
Rata-rata Perbandingan antara Biaya dengan jumlah orang pemanfaat, terbesar yaitu Rp. 153.492/orang pada jenis Prasarana Pasar dan terendah Rp.34.568/orang pada prasarana MCK.
• Partisipasi masyarakat, pada umumnya hasil studi menyatakan bahwa partisipasi masyarakat yang di PPK paling besar pada Tahap Pelaksanaan, berturut-turut yaitu :
- Tahap Perencanaan 77,1% - Pelaksanaan 77,9%
- Pelestarian 67,5%
Partisipasi perempuan pada semua tahapan masih relatif lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Berdasarkan pendapat masyarakat, perbandingan antara partisipasi di PPK dengan program lain adalah sebagai berikut :
- 51,9% menyatakan partisipasi di PPK lebih baik - 1,5% menyatakan lebih buruk dan
- 46,7% menyatakan partisipasi di PPK sama saja dengan program lain. Sedang swadaya dalam pembiayaan kegiatan rata-rata sebesar 16,1% dari total nilai konstruksi.
• Diseminasi informasi, penyampaian informasi lewat Papan Informasi 100% sudah dilakukan dan 89.1% lewat Papan Proyek. Keberadaannya pada umumnya hanya pada masa pelaksanaan kegiatan saja dan kurang efektif dalam menunjang keterbukaan karena kebanyakan tidak dikelola dengan baik sehingga informasi yang disajikan tidak menarik dan tidak up
to date.
I. METODOLOGI
Pelaksanaan studi dilakukan di 18 Propinsi, 36 Kabupaten, 70 Kecamatan, 167 Desa, 235 Prasarana.
Pemilihan lokasi dilakukan secara random (acak), dengan 70% prasarana PPK tahun pertama dan 30% prasarana PPK tahun kedua. Sedang realisasinya terjadi perubahan komposisi yaitu 64,7% (152) untuk prasarana PPK Tahun pertama, 35,3% (83) prasarana PPK Tahun kedua. Akan tetapi studi ini tidak bermaksud membandingkan Prasarana PPK tahun pertama dengan PPK tahun kedua.
Pengumpulan data informasi semua aspek yang ditinjau dilakukan dengan menggunakan metode sebagai berikut :
Kualitas Teknik Prasarana :
Memeriksa dokumen administrasi kegiatan baik perencanaan maupun realisasi.
Memeriksa secara langsung kondisi prasarana yang dibangun dengan menggunakan formulir penilaian prasarana. Isi formulir antara lain mengenai persyaratan standar minimum yang harus dipenuhi, kelengkapan dan fungsi bangunan dengan menggunakan 4 katagori penilaian yaitu : Baik, Cukup, Kurang, dan Tidak Ada.
Baik : Kualitas sudah memenuhi persyaratan teknis.
Cukup : Jika masih ada kekurangan kecil, tidak mengurangi fungsi pelayanan dan masih dapat diperbaiki supaya memenuhi persyaratan. Kurang : Jika ada banyak kekurangan yang harus diperbaiki atau ada
bagian konstruksi yang rusak dan mengganggu fungsi pelayanan. Tidak ada : Jika bangunan pelengkap pada prasarana yang dibangun
tidak ada.
Kualitas Pendampingan dan Pengelolaan :
Mengevaluasi secara keseluruhan hasil mulai proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan.
Memakai kuisoner yang diisi berdasarkan hasil wawancara dengan mantan pelaku kegiatan seperti TPK, TTD, masyarakat, LKMD dan Kepala desa. Kuisoner berisikan pertanyaan mengenai kualitas pendampingan. Pemeliharaan :
Memeriksa secara langsung kondisi prasarana yang dibangun dengan menggunakan formulir inventarisasi bagian prasarana yang perlu dipelihara dan kuisoner yang diisi berdasarkan hasil wawancara dengan mantan pelaku (TPK, TTD, LKMD) dan masyarakat. Pertanyaan yang ada di kuisoner mengenai tim pemelihara, siapa saja yang terlibat dalam pemeliharaan dan cara pemeliharaan. Ada 3 cara pemeliharaan yaitu :
Rutin : Pemeliharaan yang dilakukan secara rutin, biasanya mingguan untuk penanganan masalah-masalah rutin yang tidak membutuhkan biaya konstruksi dan upah pekerja.
Periodik : Pemeliharaan yang dilakukan secara periodik/berkala (satu/dua/tiga bulan sekali atau tergantung dari jenis prasarananya) untuk penanganan masalah sedang yang biasanya dilakukan oleh sekelompok masyarakat dan membutuhkan biaya untuk konstruksi dan upah tenaga kerja.
Darurat : Pemeliharaan yang harus dilakukan segera untuk penanganan masalah-masalah berat akibat kerusakan pemakaian atau bencana alam yang dapat mengganggu fungsi pelayanan.
Pembiayaan :
(Perbandingan nilai pembiayaan PPK dengan program lain)
Memeriksa RAB dan gambar baik perencanaan maupun realisasi dan melakukan uji silang (cross check) dilapangan baik terhadap prasarana PPK maupun prasarana program lain.
Membandingkan sebagian atau keseluruhan item pekerjaan sesuai masing-masing jenis prasarana.
Perbandingan biaya juga dilakukan dengan memakai analisa harga satuan pekerjaan yang lazim dipakai oleh Dinas Pekerjaan Umum Daerah, sedang harga satuan bahan dan upah menggunakan harga satuan yang dipakai PPK.
Mempertimbangkan angka inflasi per tahun jika prasarana pembanding tahun pelaksanaannya berbeda dengan pelaksanaan prasarana PPK. Manfaat :
Memakai kuisoner yang diisi berdasarkan hasil Wawancara dengan mantan pelaku kegiatan seperti TPK, TTD, masyarakat, LKMD dan Kepala desa. Kuisoner berisi pertanyaan mengenai jumlah pemanfaat, hasil komoditi utama, usaha-usaha baru yang muncul setelah prasarana dibangun, penghematan biaya transportasi dan manfaat lain-lain.
Partisipasi Masyarakat :
Menggunakan kuisoner pendapat masyarakat yang dilakukan disetiap desa secara random kepada 6 responden yang terdiri dari 2 orang dari kelompok perempuan ; 2 orang dari kelompok laki-laki ; 2 orang dari kelompok orang miskin. Penentuan jenis responden berdasarkan
observasi dilapangan. Isi kuisoner antara lain mengenai pengetahuan
masyarakat tentang PPK, kegiatan, tujuan, pembiayaan, keterbukaan dalam pengelolaan dana kegiatan, keikutsertaan dalam tahapan pelaksanaan kegiatan, kualitas kegiatan, partisipasi masyarakat dibandingkan dengan program lain dls.
Diseminasi Informasi :
Mengevaluasi dan menginventarisasi keberadaan Papan Proyek/Papan Informasi.
Wawancara dengan masyarakat mengenai isi dan efektifitas media yang ada.
Studi ini dilakukan oleh satu tim yang terdiri dari 1 orang koordinator dan 5 orang anggota yang sesuai dengan TOR mereka itu berasal dari mantan Konsultan Paska Konstruksi P3DT. Koordinator tim ikut berpartisipasi dalam kegiatan dilapangan dan bertanggung jawab dalam memberikan supervisi. Setiap orang direncanakan dapat menjangkau 10 desa per bulan dan bekerja selama 3 bulan.
II. HASIL STUDI
II.1 Kualitas Teknik Prasarana
Dari pemeriksaan kualitas teknik prasarana terhadap 235 prasarana, keseluruhan sampel baik PPK tahun I dan tahun II dengan komposisi jenis prasarana masing-masing, 39,1% Jalan, 19,1% Jembatan, 14,9% Air Bersih, 11,1% Irigasi/drainase, 6,4% MCK, 4,3% Pasar, 1,7% Tambatan Perahu dan 3,4 % Lain-lain (Dinding penahan, Bronjong, Bengkel), diperoleh ; 14,5% dinilai Baik, 68,5% Cukup dan 17,0% Kurang. Dengan demikian dapat dikatakan sebagian besar prasarana yang dibangun sudah cukup memenuhi spesifikasi teknik umum yang ada.
Dari hasil wawancara terhadap 1002 responden diperoleh bahwa pendapat masyarakat 83,2% menyatakan “Puas” dengan mutu prasarana yang dibangun sedang sisanya menyatakan sebaliknya. Pendapat lain menyatakan bahwa mutu prasarana PPK Lebih Baik daripada program lain sebanyak 49,0%, lebih buruk 4,5% dan yang menganggap sama dengan program lain sebanyak 46,6%.
Tabel 1. Jenis Prasarana Yang Distudi
No Jenis Prasarana Jumlah Prosentase
(%) 1 Jalan 92 39,1 2 Jembatan 45 19,1 3 Air Bersih 35 14,9 4 Irigasi/Drainase 26 11,1 5 MCK 15 6,4 6 Pasar 10 4,3 7 Tambatan Perahu 4 1,7 8 Lain-lain 8 3,4 235 100,0
Prosentase Jenis Prasarana Air Bersih 15% lain2 3% T. Perahu 2% Pasar 4% MCK 6% Irigasi 11% Jembatan 19% Jalan 40% Jalan Jembatan Air Bersih Irigasi MCK Pasar T. Perahu lain2
Diagram 1. Prosentase Komposisi Jenis Prasarana yang Distudi Tabel 2. Kualitas Teknis Sarana/Prasarana
Penilaian Kualitas Teknik
No Jenis Prasarana Jumlah
Baik % Cukup % Kurang %
1 Jalan 92 6 6,5 59 64,1 27 29,3 2 Jembatan 45 11 24,4 31 68,9 3 6,7 3 Air Bersih 35 6 17,1 26 74,3 3 8,6 4 Irigasi 26 2 7,7 22 84,6 2 7,7 5 MCK 15 2 13,3 12 80,0 1 6,7 6 Pasar 10 4 40,0 6 60,0 0 0,0 7 T. Perahu 4 1 25,0 2 50,0 1 25,0 8 Lain2 8 2 25,0 3 37,5 3 37,5 JUMLAH 235 34 14,5 161 68,5 40 17,0
K u alitas T e knik P rasarana
0 ,0 0 2 0 ,0 0 4 0 ,0 0 6 0 ,0 0 8 0 ,0 0 1 0 0 ,0 0 Jalan Jembatan Air Irigasi MCK Pasar T. Perahu lain2 J e nis P r a s a r a na Prosentase (%) B a ik C u ku p K u ra n g
Tabel 3. Kualitas Teknis dan Pendapat Masyarakat
Penilaian Tim Studi (%)
Pendapat Masyarakat (%)
No Propinsi Jumlah
Prasarana
Kualitas Teknis Kepuasan Kualitas Teknik
B C K P TP LB LBK S 1 Sumatera Utara 6 0,0 100,0 0,0 100,0 0,0 75,0 0,0 25,0 2 Sumatera Barat 11 0,0 100,0 0,0 93,2 6,8 79,5 0,0 20,5 3 Riau 10 20,0 70,0 10,0 91,7 8,3 79,2 0,0 20,8 4 Sumatera Selatan 7 14,3 71,4 14,3 92,3 7,7 84,6 0,0 15,4 5 Lampung 7 0,0 100,0 0,0 95,8 4,2 70,8 4,2 25,0 6 Banten 10 10,0 80,0 10,0 89,2 10,8 40,6 12,5 46,9 7 Jawa Barat 36 13,9 61,1 25,0 82,8 17,2 37,1 0,8 62,1 8 Jawa Tengah 36 13,9 80,6 5,6 84,0 16,0 68,3 7,3 24,4 9 DI Yogyakarta 14 28,6 71,4 0,0 100,0 0,0 44,0 0,0 56,0 10 Jawa Timur 20 5,0 85,0 10,0 97,9 2,1 59,5 1,4 39,2 11 NTT 11 0,0 63,6 36,4 82,1 17,9 0,3 0,0 92,3 12 Kalimantan Tengah 4 0,0 75,0 25,0 77,3 22,7 23,4 2,3 74,2 13 Kalimantan Selatan 10 10,0 60,0 30,0 75,5 24,5 17,0 0,0 4,6 14 Sulawesi Utara 14 42,9 35,7 21,4 61,5 38,5 73,1 3,8 23,1 15 Sulawesi Tengah 11 36,4 45,5 18,2 82,5 17,5 72,5 2,5 25,0 16 Sulawesi Tenggara 4 25,0 25,0 50,0 50,0 50,0 44,4 22,2 33,3 17 Sulawesi Selatan 10 30,0 40,0 30,0 37,5 62,5 27,1 37,5 35,4 18 Irian Jaya 14 0,0 57,1 42,9 77,8 22,2 57,1 0,0 42,9 Jumlah (%) 235 14,5 68,5 17,0 83,2 16,8 49,0 4,5 46,5 Keterangan :
Jumlah Prasarana : 235 Prasarana
Jumlah Responden : 1002 Responden (Laki-laki : 334 ; Perempuan : 334 ; Orang Kurang Mampu : 334)
B = Baik : Kualitas sudah memenuhi persyaratan teknis.
C = Cukup : Jika masih ada kekurangan kecil, tidak mengurangi fungsi pelayanan dan masih dapat diperbaiki supaya memenuhi persyaratan.
K = Kurang : Jika ada banyak kekurangan yang harus diperbaiki atau ada bagian konstruksi yang rusak dan mengganggu fungsi pelayanan
LB = Lebih Baik Daripada Program Lain P = Puas
LBK = Lebih Buruk Daripada Program Lain TP = Tidak Puas
S = Sama Dengan Program-Program Lain
Dari tabel 3 diatas, terlihat bahwa prosentase masyarakat yang menyatakan
“Puas” dan “Tidak Puas” di Sulawesi Tenggara yang sama nilainya
disebabkan adanya prasarana (Bronjong dan Tambatan Perahu) yang dibangun kondisinya sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi karena terjadi kerusakan berat akibat kesalahan pemilihan jenis konstruksi. Sedangkan di Sulawesi Selatan pendapat sebagian besar menyatakan “Tidak Puas” disebabkan adanya prasarana Jembatan belum dapat berfungsi karena dana PPK ternyata hanya cukup untuk membangun abutment (pondasi jembatan) saja dan prasarana Jalan yang fungsi layanannya terganggu akibat terjadi longsoran tebing yang sampai menutup badan jalan.
Beberapa masalah yang berkaitan dengan kualitas prasarana antara lain : - Dokumen administrasi kegiatan yang tidak cukup lengkap terutama pada
- Ada perubahan dalam pelaksanaan tetapi tidak didukung adanya berita acara revisi hasil musyawarah desa.
- Pembuatan RAB dan gambar rencana tidak memenuhi standar, RAB tidak didukung perhitungan volume, pemakaian peralatan yang tidak disesuaikan dengan kondisi yang riil, gambar rencana tidak lengkap, ukuran/dimensinya tidak ada.
- Laporan realisasi penyelesaian fisik dan gambar jadi (As Built Drawing) tidak sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.
- Sumber daya dan kinerja TTD perencanaan/pelaksanaan masih relatif kurang.
- Dukungan teknis konsultan pendamping KM Kab dan FK kurang, persyaratan minimum teknis tidak dipenuhi, teknologi konstruksi tidak dikuasai masyarakat, tidak ada pengukuran di akhir penyelesaian pekerjaan, tidak ada tim pemelihara.
- Pengelolaan kegiatan oleh TPK kurang memperhatikan efesiensi dan tidak didukung pengelolaan administrasi yang baik.
II.2 Kualitas Pendampingan Teknis dan Pengelolaan
Kualitas pendampingan teknis dan manajemen, dari hasil pengumpulan pendapat masyarakat dengan menggunakan kuisoner terungkap seperti yang terdapat pada tabel berikut ini.
Dari 5 katagori penilaian prosentase terbesar menyatakan cukup baik 51,5%, 3,6% Sangat Baik, 36,2% Baik, Cukup Baik, 7,5%, Kurang Baik dan 1,1% Buruk.
Secara umum pendampingan oleh konsultan dan aparat sudah cukup baik terutama pada pelaksanaan PPK tahun kedua. Pendampingan selama dua tahun pelaksanaan PPK ini masih terdapat kelemahan/kekurangan yang antara lain yaitu kurangnya supervisi atau kontrol oleh konsultan baik pada tahap perencanaan maupun pelaksanaan, sehingga muncul berbagai permasalahan seperti penyimpangan prosedur atau pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip PPK.
Tabel 4. Kualitas Pendampingan Teknis dan Pengelolaan No Propinsi Jumlah
Responden
Kualitas Pendampingan dan Pengelolaan (%) SB B CB KB BK 1 Sumatera Utara 6 8,7 91,3 0,0 0,0 0,0 2 Sumatera Barat 11 7,5 60,4 30,2 1,9 0,0 3 Riau 10 2,1 64,6 33,3 0,0 0,0 4 Sumatera Selatan 7 0,0 94,7 5,3 0,0 0,0 5 Lampung 7 8,8 76,5 14,7 0,0 0,0 6 Banten 10 0,0 0,0 83,8 16,2 0,0 7 Jawa Barat 36 0,0 5,3 90,7 4,0 0,0 8 Jawa Tengah 36 3,2 38,3 54,8 3,7 0,0 9 DI Yogyakarta 14 4,2 48,6 44,4 2,8 0,0 10 Jawa Timur 20 0,0 64,9 35,1 0,0 0,0 11 NTT 11 6,1 24,5 61,2 8,2 0,0 12 Kalimantan Tengah 4 0,0 4,5 95,5 0,0 0,0 13 Kalimantan Selatan 10 0,0 9,4 86,8 3,8 0,0 14 Sulawesi Utara 14 21,3 45,9 19,7 13,1 4,9 15 Sulawesi Tengah 11 5,0 37,5 55,0 2,5 0,0 16 Sulawesi Tenggara 4 13,3 33,3 26,7 26,7 20,0 17 Sulawesi Selatan 10 0,0 30,6 16,7 52,8 16,7 18 Irian Jaya 14 0,0 2,9 66,2 30,9 0,0 Jumlah (%) 235 3,6 36,2 51,5 7,5 1,1 Keterangan :
Jumlah Responden : 1002 Responden (Laki-laki : 334 ; Perempuan : 334 ; Orang Kurang Mampu : 334)
SB : Sangat Baik KB : Kurang Baik
B : Baik BK : Buruk
CB : Cukup Baik
II.3 Pemeliharaan
Hasil kuisoner peroleh yang diisi berdasarkan wawancara dengan masyarakat pada lokasi sampel prasarana PPK tahun pertama diperoleh bahwa, Tim pemelihara yang sudah terbentuk = 67,1 %, sedang kegitan pemeliharaan yang berjalan =86,8%, pelaku pemeliharaan 27,0% dilakukan oleh Tim pemelihara, 46,9% dilakukan oleh masyarakat, 12,8% oleh individu dan 13,3 % oleh aparat desa. Sedangkan cara pemeliharaannya, 49,3 % secara periodik, 30,4% secara rutin dan secara darurat = 20,3%. Data yang diperoleh ini menunjukkan bahwa kenyataan kegiatan pemeliharaan lebih banyak dilakukan atas inisiatif masyarakat dari pada tim pemelihara, hal ini berarti sebagian besar tim pemelihara tidak berfungsi dan tidak terorganisir dengan baik. Selain tim pemelihara dan masyarakat, kegiatan pemeliharaan juga dilakukan oleh individu dan aparat desa.
Pada umumnya pemeliharaan yang sudah berjalan secara rutin ataupun periodik itu karena oleh kebiasaan lama masyarakat yang sudah berjalan sebelum datangnya program PPK.
Keswadayaan pada kegiatan pemeliharaan masih relatif rendah sehingga pemeliharaan yang dilakukan hanya terbatas pada pekerjaan minor yang tidak membutuhkan dana untuk perbaikan konstruksi dan upah pekerja. Sifat paternalistik juga sangat mempengaruhi karena kegiatan akan berjalan kalau ada perintah dari tokoh masyarakat/kepala desa yang dihormati.
KEGIATAN PEMELIHARAAN 80,6 84,0 95,0 94,7 100,0 100,0 100,0 66,7 0,0 0,0 5,3 5,0 16,0 19,4 0,0 33,3 0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 Jalan Jem bata n Air B ersi h Irig asi MC K Pasa r T. P erah u lain2 JENIS PRASARANA PROSENTASE (%) Ada Tidak Ada
Diagram 3. Kegiatan pemeliharaan masing-masing jenis prasarana
Jenis prasarana yang paling banyak dipelihara yaitu prasarana yang sering dipakai, merupakan kebutuhan utama dan memberikan manfaat secara langsung. Seperti nampak pada Diagram 3, jenis prasarana MCK, pasar, tambatan perahu merupakan jenis prasarana yang 100% dipelihara, berikutnya air bersih 95,0%, irigasi/drainase 94,7%, jalan 80,6% dan jembatan 84,0%. Sedang jenis prasarana lain seperti bronjong, dinding penahan, yang tidak secara langsung memberikan manfaat, kondisi pemeliharaan yang berjalan hanya 66,7%.
II.4 Pembiayaan
Pembiayaan prasarana yang dibangun di PPK, berdasarkan hasil analisa perbandingan, dari 211 prasarana yang diperbandingkan, 57,3% (121 prasarana) PPK memiliki nilai konstruksi rata-rata lebih murah 23,4 % dari pada program lain dengan, program lain yang dimaksud yaitu P3DT, PDM-DKE, P2LP dls ataupun proyek yang dikerjakan oleh Dinas Kimbangwil Daerah (dulu Dinas Pekerjaan Umum Daerah).
Perbandingan Pembiayaan ini dilakukan dengan cara sebagai berikut : • Lokasi program pembanding didalam satu desa/kecamatan/kabupaten. • Perbandingan dilakukan terhadap sebagian atau keseluruhan item
pekerjaan.
• Jika program pembanding tahun pelaksanaannya berbeda, maka akan diperhitungkan nilai inflasi rata-rata 10% per tahun.
• Jika tidak diperoleh data pembanding program/proyek lain, maka akan diperbandingkan dengan analisa pembiayaan proyek yang lazim dipakai untuk proyek-proyek Dinas Pekerjaan Umum Daerah.
• Perbandingan ini dilakukan dengan cara memeriksa data/dukumen yang ada dan melakukan pemeriksaan dilapangan.
No Propinsi Jumlah Prasarana Prasarana Yang Lebih Murah Prosentase Rata-rata Nilai Lebih Murah Daripada Program Lain Prasarana Yang Lebih Mahal Prosentase Rata-rata Nilai Lebih Mahal Daripada Program Lain (%) (%) (%) (%) 1 Sumatera Utara 6 3 50,0 32,0 3 50,0 16,2 2 Sumatera Barat 11 10 90,9 17,9 1 9,1 12,7 3 Riau 10 9 90,0 43,3 1 10,0 13,9 4 Sumatera Selatan 7 4 57,1 18,1 3 42,9 14,7 5 Lampung 7 3 42,9 45,3 4 57,1 31,0 6 Banten 10 7 70,0 12,7 3 30,0 16,5 7 Jawa Barat 36 19 52,8 10,9 17 47,2 16,4 8 Jawa Tengah 31 20 64,5 45,0 11 35,5 15,1 9 DI Yogyakarta 13 8 61,5 95,6 5 38,5 13,1 10 Jawa Timur 20 19 95,0 44,4 1 5,0 7,6 11 NTT 9 6 66,7 9,0 3 33,3 24,3 12 Kalimantan Tengah 2 1 50,0 3,0 1 50,0 15,0 13 Kalimantan Selatan 10 5 50,0 6,8 5 50,0 9,8 14 Sulawesi Utara 6 3 50,0 25,5 3 50,0 11,8 15 Sulawesi Tengah 11 0 - 0 11 100,0 18,6 16 Sulawesi Tenggara 4 1 25,0 2,1 3 75,0 42,2 17 Sulawesi Selatan 10 2 20,0 8,8 8 80,0 30,2 18 Irian Jaya 8 1 12,5 1,0 7 87,5 17,2 Jumlah 211 121 57,3 90 42,7 % rata-rata 23,4 18,1
Dari Tabel 5 diatas, terdapat prosentase rata-rata nilai lebih murah daripada program lain untuk Propinsi DI Yogyakarta paling tinggi (95,6%), hal ini terjadi karena ada satu jenis prasarana irigasi yang diperbandingkan dengan Program Penyehatan Lingkungan Permukiman (P2LP), hasilnya cukup menyolok dimana nilai pembiayaan irigasi PPK lebih murah sampai 507% daripada irigasi P2LP dengan jenis konstruksi yang sama. Hal ini bisa saja terjadi jika mendapatkan program pembanding yang mempunyai pola yang berbeda dalam pelaksanaannya dengan PPK seperti prasarana tersebut dilaksanakan oleh kontraktor dan adanya kemungkinan mark up dalam pembiayaan.
Alasan pembiayaan PPK lebih murah dari program lain :
• Adanya efisiensi dalam pemakaian bahan, tenaga kerja dan peralatan. • Alokasi dana bantek ditiadakan dan alihkan ke pembiayaan konstruksi. • Ada subtitusi dalam pemakaian peralatan alat berat ke manual.
• Tingginya swadaya pada pekerjaan persiapan konstruksi (misal. Persiapan badan jalan), harga pengadaan bahan dan upah tenaga kerja.
Alasan pembiayaan PPK lebih mahal daripada program lain :
• Sistem penerimaan bahan yang kurang tepat, contoh kalau penerimaan volume bahan berdasarkan sistem rit (trip) yang ketepatannya sangat kurang.
• Ada penambahan ongkos pengangkutan pengiriman dari lokasi droping material ke lokasi kegiatan.
• Tidak adanya supervisi dan koreksi konsultan pada tahapan perencanaan dan pelaksanaan.
• Nilai swadaya lahan dimasukkan dalam total pembiayaan konstruksi.
• Adanya mark up dalam pembiayaan baik yang bersumber dari dana PPK maupun swadaya.
• Adanya sebagian atau keseluruhan swadaya tidak terrealisasi. II.5 Manfaat
Pada umumnya manfaat dari kegiatan prasarana selain meningkatkan kualitas pelayanan umum juga meningkatkan pendapatan masyarakat.
Manfaat tersebut antara lain :
• Meningkatkan akses menuju lokasi yang terisolasi, sekolah, pasar, pusat kesehatan dan lain-lain.
• Membuka tanah atau lahan pertanian/perkebunan baru.
• Meningkatkan kualitas perilaku hidup sehat antara lain dengan mempermudah akses untuk mendapatkan air bersih.
• Sedang Manfaat yang meningkatkan pendapatan masyarakat antara lain diperoleh dari tumbuhnya usaha baru, peningkatan hasil bumi dan penghematan biaya transportasi.
Rata-rata Perbandingan antara total biaya dengan jumlah orang pemanfaat yang terbesar yaitu Rp. 153.492/orang pada jenis Prasarana Pasar dan terendah Rp.34.568/orang pada prasarana MCK.
Tabel 6. Penilaian Manfaat Masing-Masing Jenis Prasarana
Penilaian Tim Studi Jumlah
Prasarana Manfaat prasarana
No Jenis Prasarana
Baik % Cukup % Kurang %
1 Jalan 92 34 37,0 48 52,1 10 10,9 2 Jembatan 45 20 44,4 19 42,2 6 13,3 3 Air Bersih 35 17 50,0 15 44,1 2 5,9 4 Irigasi 26 8 30,8 16 61,5 2 7,7 5 MCK 15 3 20,0 7 46,7 5 33,3 6 Pasar 10 8 72,7 1 9,1 2 18,2 7 T. Perahu 4 2 50,0 1 25,0 1 25,0 8 Lain2 8 1 12,5 5 62,5 2 25,0 Jumlah 235 93 39,5 112 47,7 30 12,8
Manfaat Prasarana 0 20 40 60 80 100 Jalan Jembata n Air Bers ih Irigasi MCK Pas ar T. Pe rahu lain2 Jenis Prasarana Prosentase (%) Baik Cukup Kurang
Diagram 4. Manfaat Prasarana
Tabel 7. Penilaian Tim Studi Terhadap Manfaat Prasarana Pada Masing-Masing Propinsi
No Penilaian Propinsi Jumlah Manfaat
Prasarana Baik (%) Cukup (%) Kurang (%)
1 Sumatera Utara 6 1 16,7 5 83,3 0 0,0 2 Sumatera Barat 11 4 36,4 7 63,6 0 0,0 3 Riau 10 0 0,0 9 90,0 1 10,0 4 Sumatera Selatan 7 4 57,1 2 28,6 1 14,3 5 Lampung 7 5 71,4 0 0,0 2 28,6 6 Banten 10 3 30,0 6 60,0 1 10,0 7 Jawa Barat 36 6 16,7 30 83,3 0 0,0 8 Jawa Tengah 36 27 75,0 8 22,2 1 2,8 9 DI Yogyakarta 14 12 85,7 2 14,3 0 0,0 10 Jawa Timur 20 6 30,0 12 60,0 2 10,0 11 NTT 11 0 0,0 11 100,0 0 0,0 12 Kalimantan Tengah 4 0 0,0 2 50,0 2 50,0 13 Kalimantan Selatan 10 2 20,0 6 60,0 2 20,0 14 Sulawesi Utara 14 8 57,1 1 7,1 5 35,7 15 Sulawesi Tengah 11 8 72,7 0 0,0 3 27,3 16 Sulawesi Tenggara 4 2 50,0 0 0,0 2 50,0 17 Sulawesi Selatan 10 5 50,0 2 20,0 3 30,0 18 Irian Jaya 14 1 1,1 7,1 7,2 5 16,7 Jumlah 235 94,0 40,0 111 47,2 30 12,8
Tabel 8. Perbandingan Total Biaya/Total Pemanfaat
No Jenis Prasarana Jumlah
Prasarana Rata-rata Perbandingan Biaya/Pemanfaat (Rp/Orang) 1 Jalan 92 53.998 2 Jembatan 45 51.715 3 Air Bersih 35 58.673 4 Irigasi 26 74.884 5 MCK 15 34.568 6 Pasar 10 153.492 7 T. Perahu 4 42.081 8 Lain2 8 63.731 Jumlah 235
Keterangan : Jumlah Pemanfaat Masing-Masing Jenis Prasarana lihat di Lampiran A.
II.6 Partisipasi
Prosentase partisipasi masyarakat berdasarkan kuisoner yang diisi berdasarkan wawancara memperlihatkan, partisipasi pada tahap perencanaan 77,1%, pelaksanaan 77,9% dan pelestarian 67,5%. Partisipasi masyarakat paling besar terjadi pada tahapan pelaksanaan, sedang partisipasi menjadi berkurang pada waktu tahapan pelestarian. Sedang partisipasi masyarakat dalam perencanaan besarnya berada diantara pelaksanaan dan pelestarian. Pada tahapan perencanaan pada umumnya masyarakat masih mempercayakan kepada tokoh masyarakat dan kepala desanya, kalaupun partisipasi besar tapi secara kualitas masih sampai pada taraf mobilisasi, terbukti setelah dari mengikuti pertemuan kebanyakan mereka tidak mengetahui tujuan musyawarah itu diadakan.
Partisipasi perempuan pada semua tahapan masih relatif lebih rendah dibandingkan laki-laki. Berdasarkan pendapat masyarakat, 51,9% partisipasi di PPK lebih baik daripada program lain, 1,5% menyatakan lebih buruk dan yang menyatakan sama saja sebanyak 46,7%.
Sedang swadaya dalam pembiayaan kegiatan rata-rata sebesar 16,1% dari total nilai konstruksi, komposisi Dana PPK dan Swadaya seperti nampak pada Diagram 6 dibawah ini.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM TAHAPAN PROSES PPK 89,8 75,9 65,6 92,1 63,1 78,4 80,1 55,4 67,0 0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0
Laki-Laki Perempuan Orang Miskin
PARTISIPAN PROSENT ASE ( % ) Perencanaan Pelaksanaan Pelestarian
SWADAYA MASYARAKAT 82,9 80,8 85,6 84,1 87,6 93,3 88,9 89,2 17,1 19,2 14,4 15,9 12,4 6,7 11,1 10,8 0% 20% 40% 60% 80% 100%
Jalan Jembatan Air Bersih Irigasi MCK Pasar T. Perahu lain2
JENIS PRASARANA
PROSENTASE (%)
Swadaya
PPK
Diagram 6. Swadaya Masyarakat pada Masing-Masing Jenis Prasarana.
II.7 Diseminasi informasi
Papan Informasi dan Papan Proyek sebagai media informasi resmi PPK dari studi ini diperoleh bahwa dikeseluruhan lokasi sudah dilaksanakan akan tetapi masih relatif kurang efektif karena pada umumnya pemanfaatan yang kurang maksimal dari kedua media ini. Tidak adanya menejemen pengelolaan yang baik juga merupakan penyebab informasi yang disampaikan lewat media ini menjadi kurang menarik dan tidak up to date. Kedua media informasi ini sebenarnya merupakan alat sosialisasi program yang cukup efektif untuk mendorong keterbukaan dan kontrol masyarakat jika dikelola dengan baik. Kebanyakan Papan informasi dan Papan Proyek ini ada sekedar untuk formalitas dan keberadaannya hanya pada saat pelaksanaan kegiatan berlangsung saja.
Secara kuantitas penyampaian informasi lewat papan informasi sudah
100% dilakukan dan 89,1% dilakukan dengan Papan proyek. Berdasarkan
pendapat masyarakat, sebagian besar masyarakat baru sekedar mengetahui bahwa ada kegiatan PPK, tetapi yang mengetahui dana dan pengelolaannya masih relatif sedikit. Hasil dari pendapat masyarakat tersebut dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini.
Tabel 9. Pendapat Masyarakat terhadap PPK No. Pendapat Masyarakat terhadap
PPK
% Rata-rata
Ya Tidak
1 Mengetahui kegiatan PPK 79,7 20,3
2 Mengetahui Tujuan PPK 64,8 35,2
3 Mengetahui Biaya Kegiatan PPK 57,7 42,3
4 Mengetahui Pengelolaan Dana 56,9 43,1
5 Mengetahui biaya pembelian material dan upah bisa dikatakan wajar
Informasi yang biasanya disampaikan lewat Papan informasi ini antara lain, Hasil-hasil pertemuan (Musbangdes, UDKP), Jenis kegiatan desa,
Jadual pelaksanaan kegiatan, Insentif Tenaga Kerja, Daftar nama orang yang bekerja dll. Sedang informasi yang terdapat pada Papan Proyek antara
lain Nama kegiatan, Dimensi (Volume kegiatan), Biaya kegiatan, Jadual
pelaksanaan kegiatan dan Nama Pelaksana kegiatan (Ketua LKMD dan TPK).
Selain kedua media ini sebenarnya ada juga inovasi dilapangan seperti penyampaian lewat pengeras suara (corong) ditempat ibadah, radio, kesenian daerah akan tetapi seringkali media resmi yaitu papan informasi dan papan informasi terabaikan.
III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI III.1. Kesimpulan
- Kualitas teknik kegiatan pada umumnya nilainya cukup memenuhi persyaratan teknis.
- Meskipun dari sebagian pendapat responden menyatakan kualitas pendampingan dan pengelolaan cukup baik, tetapi masih terdapat kelemahan dalam fungsi menejerial, supervisi dan pendokumentasian administrasi kegiatan.
- Pemberdayaan pada tahapan pemeliharaan dimasyarakat masih belum berjalan sesuai konsep program, meskipun pemeliharaan yang berjalan lebih dari 80%, ternyata tidak menunjukkan fungsi tim pemelihara sudah berjalan karena sebagian besar pemeliharaan dilakukan atas inisiatif masyarakat, individu dan aparat desa. Selain itu belum tumbuhnya rasa memiliki dan perlunya pemberian petunjuk/pelatihan cara pemeliharaan yang benar.
- Pembiayaan di PPK yang relatif lebih murah dari program lain pada umumnya karena ada efesiensi pemakaian tenaga kerja, prasarana yang teknologi pelaksanaan konstruksinya di kuasai oleh masyarakat, ada sebagian bentuk sumbangan masyarakat yang tidak dimasukkan kedalam pembiayaan proyek.
- Manfaat prasarana yang dibangun pada umumnya sudah dapat dirasakan oleh masyarakat, terutama prasarana yang secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan dan pertumbuhan usaha baru di desa seperti Pasar, Irigasi, Air bersih, Jalan, Jembatan dan tambatan perahu, hanya belum diimbangi dengan pemeliharaan yang cukup.
- Partisipasi masyarakat di perencanaan masih relatif rendah, kebanyakan dari mereka masih mempercayakan kepada tokoh masyarakat dan sebagian masih belum cukup tersosialisasi, sehingga menganggap PPK itu sama dengan proyek-proyek desa lainnya yang operasionalnya ada pada aparat desa.
- Diseminasi informasi melalui media Papan informasi dan Papan proyek belum cukup efektif karena tidak adanya menejemen pengelolaan yang baik.
III.2. Rekomendasi
- Sosialisasi masih perlu ditingkatkan agar pengetahuan masyarakat tidak hanya sekedar tahu tentang PPK tetapi lebih memiliki rasa
memiliki dan kepedulian sehingga mampu menumbuhkan fungsi pengawasan oleh masyarakat serta partisipasi/keswadayaan yang tinggi dari mulai perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pelestarian.
- Untuk meningkatkan akuntabilitas publik, perlu diadakan penertiban pendokumentasian administrasi kegiatan yang benar, wajar, lengkap dan rapi. Selain itu perlu adanya standarisasi format dan isinya, seperti dalam pembuatan RAB, gambar rencana, Realisasi fisik dan biaya, gambar As Built Drawing dan data pendukung lainnya.
- Disetiap desa dan kecamatan harus ada arsip kegiatan yang lengkap dan mudah didapati setiap kali diperlukan.
- Perlu adanya pelatihan teknik pemeliharaan pada saat pelaksanaan atau sebelum prasarana di serah terimakan dalam rangka menumbuhkan upaya pemeliharaan dan memelihara dengan cara yang benar. Selain itu perlu dilakukan inventarisasi dan mendorong berfungsinya lembaga pemeliharaan asli/lokal.
- Identifikasi tenaga TTD yang berkemampuan dan cukup banyak waktu harus mendapatkan perhatian serius dan bila perlu diangkat seorang asisten TTD yang berasal dari desa setempat, jika TTD berasal dari luar desa. Hal ini dilakukan untuk lebih meningkatkan kualitas prasarana dan adanya transfer pengetahuan kepada orang desa.
- KM Kab dan FK harus lebih meningkatkan peran manejerial fasilitasi dalam mendukung pelaksanaan program dan lebih bersikap korektif terhadap usulan ataupun kegiatan prasarana yang dibangun termasuk pendokumentasian administrasi kegiatan.