BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum PT. Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh ( TRANS7)39 Sebelumnya Trans7 terlebih dahulu dikenal dengan TV7, yang memulai siaran percobaannya pada tanggal 25 November 2001 melalui saluran 49 UHF. Saat itu TV7 mengudara selama 5 jam seharinya dan baru menjangkau kawasan Jabodetabek. Sejak 25 November 2002, secara vertahap TV7 menambah jangkauan siarannya menjadi 6 stasiun relay yang menjangkau lebih dari 65 kota. Seiring dengan pertambahan jam siar menjadi 10 jam, kala itu TV7 telah menjumpai pemirsanya selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
PT. Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh berdiri dengan dukungan penuh baik manajemen, tekniss maupun keuangan dari grup media terkemuka dan terbesar di Indonesia Kelompok Kompas Gramedia ( KKG), menjadikan TV7 sebuah stasiun televisi yang mempunyai potensial sinergi media yang akan menguntungkan bagi para pemirsa maupun pengiklan.
Namun sejak tanggal 4 Agustus 2006, terjadi kerjasama strategis antara Para Group dan Kelompok Kompas Gramedia, yang menyebabkan TV7 berubah nama menjadi Trans7. Sebagian saham yang dimiliki Kelompok Kompas Gramedia 49 % di akuisisi oleh Para Group melalui PT TRANS Corpora. Trans7 lahir sebagai stasiun televisi swasta yang menyajikan tayangan yang mengutamakan kecerdasan, ketajaman, kehangatan penuh hiburan serta
39 www.trans7.co.id
kepribadian bangsa yang membumi. Trans7 berdiri dengan ijin dari Departemen Perdagangan dan Perindustrian jakarta Pusat dengan nomor 809/BH.09.05/III/2000. Pada tanggal 22 maret 2000 keberadaan TV7 telah diumumkan dalam Berita Negara Nomor 8687 sebagai Pt. Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh. Dengan dilakukannya re-launch pada tanggal 15 Desember 2006, dan tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Trans7.
Dibawah naungan PT TRANS Corpora yang merupakan bagian dari Para Group, Trans7 diharapkan dapat menjadi televisi yang maju dengan program program in-house productions yang bersifat informatif, kreatif dan inovatif.
Pada akhir semester kedua 2006 sampai dengan semester awal tahun 2007, Trans7 memiliki target 60 % sampei dengan 80% untuk in house productions. Dan sisanya untuk program lokal dan internasional acquisition. Prosentase program luar negeri berjumlah 43 % dan program produksi lokal 57%. Trans7 mengedepankan program informasi dan hiburan yang meliputi berita sebesar 29%, Olahraga 5% dan program yang diproduksi oleh Trans7 sebesar 17%. Dan sisanya 49% adalah program internasional dan production house lokal.
Program olahraga Trans7 selalu dinanti pecinta olahraga di tanah sir. Moto GP merupakan ajang balap motor yang menarik untuk diikuti. Tak hanya hanya itu program Program ajang balap SuperBike juga menjadi andalan Trans7. Selain ajang balap, Trans7 juga memiliki program olahraga lainnya seperti Sport7, Galeri Sepak Bola Indonesia, Highlight Moto GP. Sementara untuk acara hiburan, siapa yang tak kenal dengan Opera Van Java dan Sitkom OKB, talkshow Bukan Empat Mata dan Begadang. Di Awal tahun 2010, Trans7
membeli salah satu sinetron buatan Multivision Plus Mariam Mikrolet, dan diharapkan mampu menjadikan Trans7 sebagai salah satu televisi keluarga.
Sementara itu, Trans7 juga dikenal sebagai televisi program mendidik untuk anak anak. Tayangan Si Bolang, Laptop Si Unyil, Koki Cilik, Jalan Sesama, Cita Citaku, Dunia Air, Dunia Binatang, Asal Usul, Kuas Ajaib. Semua tayangan anak ini menjadi salah satu andalan Trans7 karena mampu meraih share dan rating terbaik pada slot waktunya. Untuk program berita Trans7 memiliki keluarga Redaksi yang menjumpai pemirsa sejak pagi, siang, sore dan malam. Tak hanya itu masih ada beberapa program lainnya seperti Rahasia Sunnah, Jejak Petualang, Selamat Pagi, Komunitas, Dua Dunia, Jam Malam,Mancing Mania.
Di akhir tahun 2009, Trans7 menambah sejumlah program menarik seperti Paradiso, Asli Enak, Cooking 911 dan Doctor’s File. Dan semua sajian ini dikemas secara cerdas, tajam, menghibur dan membumi.
Semua program yang dihadirkan Trans7 selalu dimaksudkan untuk memuaskan rasa keingin tahuan para penontonnya. Karenanya semua program dikemas secara menarik sesuai target audiens nya. Dari semua program yang dihadirkan selalu berupa untuk meraih share dan rating terbaik di waktunya. Raihan atau capaian rating dan share terbaik di maksudkan untuk menarik pemasang iklan. Semakin banyak pemasang iklan yang tertarik, maka keuntungan akan di dapat. Tak hanya keuntungan berupa besarnya rating dan sharem tapi juga keuntungan berupa pendapatan bagi stasiun televisi itu sendiri.
Dengan hasil share dan rating terbaik, bagian pemasaran akan mudah memasarkan slot yang telah tersedia.
4.2 Hasil Penelitian
Pada bab ini penulis akan menguraikan hasil penelitian mengenai strategi redaksi Trans7 dalam menayangkan berita di Redaksi Sore pada periode Oktober 2009. Data data tersebut didapat melalui wawancara mendalam dengan narasumber Titin Rosmasari ( Kepala Divisi News ), Kemal Ramdan (Eksekutif Produser) Revolusi Riza ( Produser) dan Mufthi Akbar ( koordinator Liputan) di Stasiun Televisi Swasta Trans7, jalan Kapten P Tendean, serta pengumpulan data pendukung dari bank data Trans7.
Seperti sudah di jelaskan pada bab sebelumnya bahwa strategi secara umum adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk memenangkan sebuah persaingan. Pakar manajemen Robert S Kaplan dan David P Norton mendefinisikan strategi sebagai sebuah rencana yang komprehensif yang mengintegrasikan segala sumberdaya dan kemampuan yang mempunyai tujuan jangka panjang unttuk memenangkan kompetisi.
4.2.1. Gambaran Umum Program Berita Redaksi Sore Trans740
Redaksi Sore adalah salah satu program berita yang dimiliki Trans7. Redaksi Sore merupakan bagian dari keluarga program berita Redaksi yang hadir setiap hari di layar Trans7. Sebelum bernama Redaksi Sore, program ini diberi
nama Berita Sore yang hadir setiap hari pukul 17.30 WIB. Redaksi Sore menghadirkan berita yang dikemas lebih tajam dan memenuhi kebutuhan informasi pemirsa Trans7.
A. Target Audiens
Target audience Redaksi Sore adalah penonton dewasa – tua dengan usia berada di kisaran Mature Male-Female (35-45), Oldies Male-Female (45-55) dan Grand Male-Female (55+). Pemilihan target usia tersebut didasari 2 alasan, yaitu ketersediaan penonton di slot yang memang di dominasi penonton tua, dan karakter program news bulletin sore secara umum yang lebih potensial bagi penonton dewasa-tua.
“ Kita sebenarnya ingin mengejar penonton yang lebih banyak dari unsur male dan female khususnya adult , oldies dan grand. Tapi sejauh ini kita masih mendapat oldies dan adult male, lebih banyak ke male. Tapi pada jam jam tertentu kecuali malam lebih banyak female. Kita sebenarnya ingin lebih dapat menangkap penonton itu. Tapi sejauh ini yang
tertangkap masih female.”41
B. Format Acara Redaksi Sore
Adapun format acara Redaksi Sore adalah :
1. Jenis : News Bulletin
2. Sifat : Informasi
3. Setting : Indoor ( dalam ruangan Studio 7 Trans7, Jalan Kapten P. Tendean Jakarta )
4. Durasi : 30 Menit, Senin Hingga Minggu Pukul 16:30 – 17:00 WIB
Perubahan waktu tayang Redaksi Sore juga beberapa kali dilakukan misal dari jam 17:30 ke jam 18:00 WIB. Kemudian dibenahi lagi dan diletakkan pada slot waktu 16:30 WIB. Perubahan jam tayang ini dilakukan dalam Program Committee Meeting atau Rapat Komite Program antara Trans TV dan Trans7 yang terdiri dari Direktur Utama, Kepala Divisi Programming, Kepala Divisi News, Kepala Departemen News dan Eksekutif Produser.
Perubahan Jam Tayang Menurut Titin Rosmasari selaku Kepala Divisi News Trans7 :
“Sebenarnya ada pola pembagian dengan Trans TV, sebelum merger dan masih program berjudul “Tajuk” kita masih menentukan waktu sendiri. Tapi karena kita bersinergi dengan Trans TV dengan maksud program sejenis dan tidak head to head, agar bisa saling melengkapi, karena Trans TV bulletin paginya lebih cepat selesai, maka kita dapat jam 06:30 sampai 07:30 WIB. Kalo sore, Reportase Sore sudah lama siaran di jam 17:00 WIB karena itu kita di jam 16:30 WIB , bersamaan dengan Lintas 5 dan Global Petang. Kebijakan kita memang tidak head to head dengan
program sejenis antara Trans7 dan Trans TV.”42
Redaksi Sore menghadirkan informasi yang dikemas lebih tajam dan mendalam. Redaksi Sore memberikan ulasan yang cukup mendalam dalam paket berita laporan khas redaksi. Berita yang ditayangkan Redaksi Sore berasal dari tim liputan yang berada di Jakarta dan daerah. Trans7 memiliki kekuatan koresponden dan kontributor di 65 kota yang ada di Indonesia. Dengan kekuatan ini, semua informasi yang berasal dari daerah, bisa di tampilkan di layar Trans7.
Segmentasi yang dipakai di Redaksi Sore merujuk pada target audiens yang ingin didapatkan. Untuk menarik penonton male dengan cara mengangkat isu atau materi berita hardnews dengan tema politik, sedangkan untuk menarik
female dengan item dramatic stories. Kedua jenis isu tersebut biasanya diletakkan di 2 segmen yang berbeda. Tapi yang pasti, penyajian melalui “LAPORAN KHAS” yang mengulas sebuah isu secara mendalam dan sekaligus mengkritisinya, menjadi ciri khas yang sudah menjadi kekuatan redaksi sore. Keberadaan Laporan khas tersebut menjadi pembeda dengan program sejenis di slot.
“Kebanyakan program berita TV mengandalkan unsur kecepatan dalam mengelola sebuah peristiwa.Redaksi Sore mengambil unsur kedalaman dalam mengelola sebuah peristiwa. Jadi peristiwa tidak pernah berdiri sendiri. Sebuah peristiwa pasti memberikan pesan dan memiliki maksa. Jadi dalam sebuah segmen redaksi menawarkan peristiwa yang mendalam yang ditinjau dari angle yang beragam. Dalam satu segmen Redaksi Sore menawarkan sebuah peristiwa yang dikemas secara mendalam (indepth
reporting) dengan satu benang merah (tematis)”43
Pencapaian Redaksi Sore 2009 bisa dikatakan sangat positif karena jika dilihat dari tren grafiknya yang mengalami kenaikan. Awal 2009 performa Redaksi Sore ada dikisaran share 7.0, tapi di akhir tahun performa Redaksi Sore mengalami kenaikan signifikan bisa stabil dikisaran share 10.0. Bahkan pencapaian tertinggi bisa mencapai lebih dari share 12.0 yang dicapai bulan Agustus saat isu “perburuan teroris”sangat kuat.
Perbandingan program sejenis, Redaksi Sore termasuk program news bulletin sore papan atas bersama Reportase Sore, Seputar Indonesia, dan Liputan 6 Petang.
Dalam slot tayang ini, Redaksi Sore bersaing dengan program reality show seperti Orang Ketiga ( Trans TV), Minta Tolong ( RCTI), sinetron serta program berita sejenis yaitu Lintas Lima ( TPI ) dan Global Petang ( Global TV). Jika
dibanding program sejenis (bulletin berita) Redaksi Sore mampu bersaing bahkan masih diatas capaian rating dan share nya. Seperti capaian tanggal 18 Mei 2010, Redaksi Sore mampu meraih share 13,3 persen, sementara Lintas Lima hanya 9 persen dan Global Petang 4,6 persen. Namun jika dibanding program reality show, Redaksi Sore masih harus bersaing ketat, karena capaian Orang ketiga mencapai 12,9 persen sementara minta tolong mengungguli dengan 16,5 persen. Karenanya redaksi Redaksi Sore lebih menganggap program reality Show sebagai pesaingnya. Seperti diungkapkan Produser Redaksi Sore, Revolusi Riza :
“Bukannya sombong karena kita melihat hasil yang selalu mengungguli program sejenis di slot yang sama, namun kenyataannya kita selalu unggul dibanding Lintas Lima dan Global Petang. Jadi kami lebih melihat program reality show dan Laga Sepak Bola sebagai pesaing terberat.”
C. Isi Program (Content)
Tayangan Redaksi Sore dibagi dalam tiga bagian atau segmen. Berdasarkan rundown Redaksi Sore, tiap segmen dibatasi jeda iklan dengan durasi sekitar tiga sampai lima menit. Susunan rundown ditentukan dalam sebuah rapat yang dihadiri eksekutif produser, produser, associate produser, koordinator liputan dan koordinator daerah. Setiap segmen selalu memiliki kekuatan tersendiri namun masih dalam satu kesatuan. Seperti yang dijelaskan Kemal Ramdhan selaku Eksekutif Produser Redaksi Sore.
” Mengelola rundown berita adalah sebuah kemampuan sekaligus seni. Tidak ada satupun pakem atau konvensi bagaimana menyusun sebuah rundown. Namun sebagai sebuah redaksi yang sudah terbangun dalam sebuah sistem, menyusun rundown sudah menjadi satu jiwa dalam masing masing pemangku program. Dalam sebuah tim ini sudah memiliki visi yang sama bagaimana memandang sebuah peristiwa, bagaimana mendesign sebuah rundown yang menarik. Ada beberapa acuan utama dalam menyusun rundown yang menarik seperti gambar dinamis aktraktif
dan bercerita, laporan yang aktual, dramatic stories serta indepth reporting. ”
Isi berita Redaksi Sore meliputi berita politik, ekonomi, kriminal, sosial budaya dan sebagainya. Berita yang disajikan adalah berita yang memiliki nilai berita (news value) tinggi, mengandung unsur aktualitas, penting, menarik dan menyangkut kepentingan umum.
Dengan maksud untuk menarik perhatian audiens, Redaksi Sore selalu diawali dengan peristiwa yang memiliki gambar seru, atau menimbulkan rasa haru (menggugah emosi audiens). Karena sifat media televisi yang audio visual, maka menampilkan gambar yang seru serta menggugah emosi audiens, bisa dijadikan sebagai salah satu pemikat agar audiens memilih untuk menonton. Pilihan ini diambil dari alasan seperti yang dijelaskan Revolusi Riza, Produser Redaksi Sore44 :
“Karena program sebelum Redaksi Sore adalah Jejak Petualang, yang penontonnya adalah teenage yang tak terlalu memikirkan urusan politik. Jadi di segmen satu kita memainkan gambar dan audio yang menarik untuk mendapat aliran penonton. Baru disusul berita berita yang punya nilai berita tinggi sesuai dengan proyeksi kita. Begitu seterusnya untuk segmen dua dan tiga , sesuai dengan belanjaan yang tersedia. Tapi biasanya masih sama dengan segmen satu , berita yang secara audio visual menarik.”
4.2.2. Perencanaan
Perencanaan atau proses pra produksi dalam redaksional Trans7 meliputi proyeksi liputan. Didalamnya berisi perencanaan peliputan baik di Jakarta maupun berbagai daerah di Indonesia, yang mencakup isu yang sedang
berkembang pada saat itu.. Di Jakarta, setiap sore dilaksanakan rapat perencanaan, sebelum melakukan peliputan reguler. Usai tayangan Redaksi Sore digelar rapat evaluasi dan rapat redaksi untuk merancang bahan peliputan keesokan harinya (proyeksi). Rapat evaluasi wajib diikuti reporter, juru kamera, koordinator liputan, associate produser dan produser. Dan berikut bagan aliran peliputan45 :
Pada tahap awal, redaksi melakukan evaluasi terhadap tayangan pada hari itu. Bagian tentang evaluasi akan di bahas dibagian lain pada bab ini. Kemudian rapat itu langsung dilanjutkan rapat perencanaan tentang bahan peliputan atau proyeksi peliputan untuk keesokan harinya. Dalam rapat ini, produser, koordinator
45 Disarikan dari wawancara dengan beberapa narasumber dan hasil pengamatan
Rapat
Perencanaan Assignment Korlip/Korda Reporter Juru Kamera Persiapan Wawancara
Reporter dan Juru Kamera Ke lapangan Rapat Budgeting Produser Menyusun Rundown Rep/Juru Kamera Menulis Naskah Edit Naskah Edit Gambar On Air Rapat Evaluasi
liputan, associate produser dan eksekutif produser akan memberikan usulan seputar apa yang akan di tayangkan dalam Redaksi Sore edisi esok hari. Dari berbagai usulan itu diantaranya follow up berita yang memiliki nilai berita yang kuat pada hari itu maupun usulan lainnya.
Rapat perencanaan atau proyeksi Redaksi Sore tidak berlaku mutlak pada saat penayangan, artinya jika pada hari itu ada peristiwa yang memiliki nilai berita yang besar (magnitude) lebih besar sebagai bahan berita, maka peristiwa itu akan mendapatkan porsi utama. Sementara liputan yang sudah direncanakan sebelumnya dan memiliki nilai aktualitas lebih rendah, akan di geser pada segmen berita selanjutnya di Redaksi Sore. Jika kuantitas atau jumlah berita sudah penuh dalam rundown maka berita itu bisa digunakan pada program berita Trans7 lainnya seperti Redaksi Malam dan Redaksi Pagi.
Setelah rapat selesai, koordinator liputan akan mengagendakan beberapa orang reporter dan juru kamera untuk melakukan liputan ke lapangan esok harinya.
Titin Rosmasari Kepala Divisi News menjelaskan, selain mengikuti peristiwa dan isu yang sedang hangat pada saat itu, juga membuat liputan yang mendalam tentang isu yang sedang berkembang.Bukan hanya liputan seputar peristiwa saja, tetapi harus ada pemahaman yang lebih mendalam.
” Redaksi Sore lebih ke indepth, kita paling kuat punya laporan khas untuk memperdalam isu yang sedang kuat saat itu. Dan yang menjadi kekuatan adalah kumpulan berita yang memang kita pilih sekali, jadi dalam setengah jam itu tidak banyak item berita. Kalo isinya macem macem, ada yang lebih pendekatan ke humanis, sosial, poliotik yang
sangat terpilih, lingkungan , peristiwa, kriminalistas dan hukum. Dan kalo
ada sesuatu yang menarik semacam liburan.”46
Sebelum berangkat menuju lapangan dengan berbekal isu dari redaksi, Seorang reporter juga wajib mencari informasi mengenai berita yang akan diliput, membuat janji wawancara dengan narasumber dan mengetahui lokasi peliputan. Agar tak mengalami kendala teknis, reporter juga harus menyiapkan tim, memesan kendaraan operasional untuk liputan ke lapangan. Seperti yang disampaikan Mufthi Akbar, Koordinator Liputan :
”Jadi sudah menjadi ketentuan di sini, setiap reporter memang diwajibkan untuk meriset segala sesuatu yang dibutuhkan untuk liputan. Agar amunisi yang digunakan untuk berhadapan dengan narasumber juga memadai. Koordinator liputan hanya akan membantu mencari narasumber yang akan di datangi, sementara reporterlah yang akan menghubungi narasumber untuk bertemu dan melakukan wawancara. Selain itu juga harus koordinasi dengan juru kamera dan pengemudi.”
Untuk Menghasilkan berita yang bagus dan layak tonton, seorang reporter Trans7 harus melakukan riset dan menyerap informasi latar belakang yang diberikan produser. Artinya seorang reporter ketika terjun ke lapangan sudah memiliki informasi yang memadai tentang apa yang akan diliputnya. Berikut aliran perencanaan proyeksi liputan yang berlaku di Redaksi Sore Trans7 47:
46 Wawancara dengan Titin Rosmasari Kepala Divisi News Trans7
Riset yang dilakukan reporter bisa dilakukan dengan browsing di internet atau bahkan melakukan wawancara kecil dengan narasumber melalui telepon. Tak hanya itu, jika reporter memang masih belum juga mengerti, bisa berdiskusi dengan produser program atau koordinator liputan. Dari diskusi kecil ini biasanya akan dihasilkan pemahaman baru bagi reporter. Karena riset inilah, reporter saat terjun ke lapangan sudah memiliki amunisi yang cukup untuk berhadapan dengan narasumber yang dikehendaki.
4.2.3. Proses Pengumpulan Berita
Untuk mengangkat suatu berita dalam Redaksi Sore, kebijakan yang digunakan sebelum berita di pilih selain menarik dan penting harus memenuhi unsur kelayakan suatu berita. Seperti yang disampaikan Revolusi Riza :
Perencanaan Proyeksi Liputan
Eksekutif Produser Produser Associate Produser Koordinator Liputan Koordinator Daerah Hasil Proyeksi Penugasan
Korlip Penugasan Korda Bahan Liputan :
Agenda Setting Isu terhangat Riset
Ide dan Pengamatan Event
”Redaksi Sore hanya memiliki body bersih sekitar 20 menit. Karena kita lebih mengutamakan kedalaman, kadang kita memiliki tiga tema berita besar yang masuk redaksi sore. Kadang ada berita yang sedang in, misal teroris, bisa jadi seluruh berita membahas soal teroris, juga bencana. Tidak semua berita bisa masuk. Berita yang masuk adalah berita yang memiliki nilai berita besar. Mempunyai kaitan dengan orang banyak.”
Seperti diketahui sebelumnya, bahwa sumber berita adalah asal mula berita itu muncul. Sumber berita Redaksi Sore, antara lan :
1. Reporter
Sumber berita yang paling utama adalah reporter atau juru kamera yang bertugas mencari informasi dan mengambil gambar dalam peliputan. Dalam program Redaksi, tim peliputan di bagi menjadi tiga waktu, yakni tim pagi, tim siang dan malam. Tim pagi maksimal 7 orang reporter yang disebar untuk meliput peristiwa yang telah di agendakan maupun peristiwa yang baru terjadi pada saat itu. Sedangkan tim siang, diisi dua reporter yang akan menggantikan tim pagi yang belum selesai liputannya menjelang batas waktu (dateline) Redaksi Sore. Dan kemudian akan dibantu tim malam yang terdiri satu tim, yang akan mencari informasi kejadian atau peristiwa di Jakarta saat malam hari. Jika reporter dilapangan baru saja mengetahui peristiwa besar terjadi, seorang reporter harus selalu berkomunikasi dengan koordinator liputan ataupun produser yang bertugas saat itu untuk memberi kebijakan wajib atau tidaknya berita itu di dapatkan.
Reporter dan juru kamera harus tiba di kantor satu jam sebelum berangkat ke lokasi liputan. Meraka harus melakukan riset
agar mengetahui latar belakang peristiwa yang akan diliput, seperti yang disampaikan Mufthi Akbar, Koordinator Liputan:
”Sudah menjadi ketentuan di sini, reporter dan juru kamera datang lebih awal ke kantor. Meraka memang harus menyiapkan segala sesuatunya. Reporter juga wajib berkonsultasi dengan koordinator liputan atau produser jika tak memahami materi liputan. Koordinator liputan dan produser nantinya akan membantu mengarahkan reporter
pada kasus yang sedang berkembang.”48
Memang tidak semua reporter akan bisa diminta untuk meliput semua bidang, redaksi Trans7 telah menentukan beberapa reporter untuk meliput beberapa bidang khusus. Ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada narasumber.
” Koordinator liputan memang tidak akan sembarangan menempatkan reporter untuk meliput. Kami memiliki reporter dan juru kamera khusus untuk ditempatkan di istana presiden, DPR, Mabes Polri dan Kejaksaan Agung. Biasanya kami memilih reporter senior yang meliput di wilayah itu. Sementara reporter yang masih terhitung
yunior, biasanya kami tempatkan secara acak.”49
Koordinasi dan kekompakan antara reporter dan juru kamera dalam sebuah peliputan sangatlah penting agar mendapatkan gambar terbaik dari suatu peristiwa.
2. Koresponden dan Kontributor
Koresponden adalah karyawan Trans7 yang ditempatkan di daerah dan bertugas meliput peristiwa dan berita untuk program news Trans7 termasuk Redaksi Sore. Sedangkan Kontributor
48 Wawancara dengan Mufthi Akbar, Koordinator Liputan Trans7 tanggal 6 Mei 2010 49 Wawancara dengan Mufthi Akbar Koordinator Liputan Trans7
adalah wartawan freelance yang meliput berita untuk Trans7. Saat ini ada 7 koresponden dan 67 kontributor di seluruh Indonesia. Koordinator daerah dan koordinator liputan bertanggungjawab secara langsung terhadap para koresponden dan kontributor.
3. Amatir
Amatir adalah orang yang tidak bekerja atau menyuplai berita pada stasiun televisi. Orang ini, biasanya memiliki rekaman sebuah peristiwa secara eksklusif. Stasiun televisi bisa melakukan pembelian gambar kepada para pembuat video amatir.
Setelah berita terkumpul dari sumber berita (reporter, koresponden, kontributor serta amatir), para produser akan menentukan kelayakan berita dalam sebuah rapat budgeting. Dalam rapat ini koordinator liputan dan koordinator daerah akan memberitahu produser tentang perolehan berita pada saat itu. Dan juga memberitahukan gambar atau suara dramatis yang didapatkan dilapangan. Nantinya informasi ini akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi produser dalam menentukan materi berita.
4.2.4. Proses Produksi Berita
Redaksi Sore hadir setiap harinya dimulai rata rata pukul 16:30 WIB dan berdurasi rata rata 30 menit. Karenanya, proses produksi berita dilakukan sebelum tenggat waktu penayangan. Pada bagian ini akan dilakukan penempatan berita, editing naskah, editing gambar dan penayangan (on air).
Dalam Redaksi Sore, berita yang disusun dalam rundown biasanya diawali dengan berita terpenting dengan gambar yang menarik, atraktif dan dramatik, sementara untuk segmen dua dan tiga diisi dengan berita politik dan ficer.
Redaksi Sore terbagi dalam tiga segmen atau babak. Pembagian segmen itu menjadi bagian dari strategi untuk menahan pemirsa agar tidak beralih pada program lain yang di tayangkan secara bersamaan oleh stasiun televisi lain. Pembagian tiga segmen dengan durasi 14 menit di segmen pertama, 8 menit pada segmen kedua dan tiga menit pada segmen terakhir, dianggap sangat menguntungkan. Namun pembagian waktu ini bukanlah sebuah keputusan yang tidak bisa diubah. Produser berhak melakukan perubahan tergantung kompetitor. Seperti yang diceritakan Kemal Ramdhan, Produser Eksekutif Redaksi Sore :
” Setengah jam yang memikat dan menyentuh penonton. Rundown yang dramatik, gambar yang baik dan cerita yang mampu memikat penonton ditambah pesan yang gamblang dari sebuah peristiwa diyakini bakal membuat penonton terkesan. Strategi rundown yang tidak mudah ditebak penonton, selalu ada kejutan dalam setiap detiknya. Karenanya kita tak pernah secara kaku membagi rundown dalam patokan waktu, segmen satu berapa menit, dua berapa dan tiga berapa. Sekali lagi, rundown seperti layaknya hidup. Bisa diatur sedemikian rupa.”
Memperhatikan hasil riset internal yang dilakukan terhadap pemirsa, penempatan berita bisa disesuaikan dengan gambar paling dramatis dan ekstrem bisanya menjadi pembuka berita. Seperti yang diungkapkan Revolusi Riza, Produser Redaksi Sore :
”Sudah menjadi jadwal redaksi dan RCD (Research and Development)
akan bertukar pikiran soal susunan berita. Dan hasilnya, penonton memang lebih menyukai gambar seru dan dramatis di awal. Terlebih program sebelum redaksi sore adalah Jejak Petualang yang di dominasi penonton teenage dan female. Dan karakter penonton ini lebih menyukai jenis berita yang seperti itu.”
Kejelian memilih isi berita (content) dalam rapat yang menentukan berita apa saja dari hasil liputan yang akan di tayangkan (budgeting) oleh awak redaksi juga menjadi bahan strategi. Di dalam budgeting sangat menentukan layak atau tidak berita ditayangkan dan prioritas topik sudah di agendakan dalam rapat sebelumnya. Angle atau sudut pandang berita juga menentukan variasi berita sehingga menjadi berbeda dibanding televisi swasta lainnya. Seperti yang disampaikan Revolusi Riza :
”Karena kita bulletin, yang mengangkat peristiwa yang menjadi berita
hari ini, semua televisi akan sama isi berita. Tinggal kita memikirkan kemasan, nah redaksi sore karena hanya spot news, terkesan sama dengan bulletin lain, siasatnya kita menjual kedalaman dan gak hanya peristiwa
di tampilkan tapi ada analisa analisanya.”
Namun ada kalanya, semua yang sudah diproyeksikan dalam rapat proyeksi sehari sebelumnya tak di dapatkan dilapangan. Karenanya dalam rapat budgeting segera dipikirkan apa yang harus dilakukan. Produser, associate produser dan koordinator liputan harus segera mencari alternatif lain untuk berita pengganti. Atau tetap ditayangkan karena memang audiens ingin mendapatkan perkembangan seputar berita yang dimaksud. Seperti yang diungkapkan Revolusi Riza :
”Kita sih fleksibel, pasti akan menyesuaikan dengan yng di dapat
dilapangan. Gak mungkin mengada ada sesuai proyeksi. Kalo memang data dan fakta dilapangan ngomong a, maka akan ditayangkan a, misalkan dalam proyeksi kita ingin mengkritik kebijakan, ternyata yang
orang yang dicari tidak mngkritik, ya udah kita tangkan saja.”
Dalam rapat budgeting, produser akan menentukan urutan materi berita yang akan diletakkan dalam rundown Redaksi Sore yang akan tayang sore itu. Rapat budgeting akan di mulai pukul 13:00 WIB dan berlangsung selama kurang
lebih 30 menit. Dalam rapat ini sudah menghasilkan gambaran awal tayangan Redaksi Sore.
Usai rapat, produser beserta associate produser akan segera mengedit naskah yang di dapatkan reporter. Naskah tidak semuanya datang dalam waktu yang bersamaan. Kadang naskah datang sudah hampir menjelang tenggat waktu penayangan (dateline). Biasanya ini terjadi saat kejadian atau peristiwa yang berlangsung menjelang penanayangan. Jika ini terjadi, produser akan segera mengedit naskah dengan cara VT (naskah berita di baca oleh presenter, tidak di dubbing). Seperti yang dilakukan produser Redaksi Sore pada tanggal 10 Mei 2010, terkait berita Penetapan Komjen Susno Duadji sebagai tersangka. Karena penetapan status dilakukan sore hari menjelang dateline, akhirnya produser memilih berita ditayangkan secara VT bukan paket seperti biasa. Hal ini dilakukan agar Redaksi Sore tetap memberikan perkembangan terbaru seputar kasus Susno yang sedang hangat.
Jika naskah selesai di edit, proses selanjutnya adalah editing gambar. Redaksi Trans7 sangat mengutamakan gambar dramatis dan urutan gambar yang lengkap. Dalam satu urutan gambar atau sekuens harus ada urutan gambar dengan angle pengambilan gambar seperti Wide – Wide – Medium – Close Up. Selain berusaha menampilkan gambar berbeda dan tidak monoton, hal ini akan membuat editor lebih mudah memilih gambar terbaik, disamping sangat menunjang kelengkapan gambar.
Dalam proses editing gambar, editor biasanya di dampingi juru kamera yang mengetahui urutan gambar yang dihendaki produser. Jika membutuhkan
gambar dokumentasi, maka Production Assistant akan meminjam Footage
gambar di pusat dokumentasi. Gambar dokumentasi di butuhkan untuk memberikan perjalanan peristiwa yang telah terjadi.
Tahapan selanjutnya adalah proses penayangan Redaksi Sore. Untuk mencuri perhatian penonton, Redaksi Sore kadang dimulai sebelum pukul 16:30 WIB. Biasanya lebih awal 3 atau 4 menit sebelumnya. Strategi ini dipilih, agar aliran penonton dari program sebelumnya (Jejak Petualang) tak berpindah. Selain itu juga untuk Mencuri penonton dari stasiun televisi lain yang biasanya sudah memasuki akhir program.
”Kadang kita memang memilih stategi untuk muncul lebih awal
beberapa menit. Selain untuk mempertahankan aliran penonton dari program Jejak Petualang, juga untuk menyedot perhatian dari penonton stasiun lain yang biasanya sudah memasuki akhir program. Dan strategi ini sering kali berhasil. Meski kadang ini tak selalu bisa didapatkan, jika memang slot yang diberikan Master Control memungkinkan untuk muncul lebih awal.”50
Selama proses penayangan berita, produser selalu memantau monitor program stasiun televisi lain. Pemantauan ini dilakukan juga untuk mempertahankan aliran penonton yang sudah ada di Redaksi Sore. Terlebih Redaksi Sore termasuk program berita sore yang lebih awal di banding beberapa stasiun televisi lainnya. Seperti yang dilakukan produser saat penayangan Redaksi Sore tanggal 11 Juni 2010. Produser memilih strategi memulai program 6 menit lebih awal yaitu pukul 16:24 WIB. Saat itu, redaksi Sore harus berhadapan dengan reality show Orang Ketiga (Trans TV), Mantap (ANTV) dan program sejenis Seputar Indonesia ( RCTI). Meski sempat mengawali penurunan jumlah
penonton dari program sebelumnya Jejak Si Gundul, redaksi Sore bisa kembali memperbaiki performanya setelah memulai lebih awal dibanding RCTI yang saat itu sedang memasuki commercial break serta Orang Ketiga yang belum mulai. Jadi produser sengaja memilih start yang tepat.
Saat ini Redaksi Sore harus berhadapan dengan program sejenis seperti Lintas 5 (TPI) dan Global Petang (Global TV), program reality show lainnya seperti Bedah Rumah (RCTI) dan Orang Ketiga (Trans TV) dan juga program olahraga sepakbola (ANTV).
Dalam menghadapi pesaingnya ini, Produser Redaksi Sore tentu saja telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi program pesaingnya. Karenanya dalam rapat budgeting produser dan timnya sudah mengetahui program apa yang akan menjadi pesaingnya sore nanti. Seperti yang disampaikan Kemal Ramdhan, Eksekutif Produser Redaksi Sore :
” Saat menyusun rundown kita sudah musti tahu, kita berhadapan dengan program apa dan bagaimana mengatasinya. Misal kita berhadapan dengan program berita yang sejenis, kita mesti fight untuk menggarap penonton loyal kita, male dan female dewasa. Namun ketika kita berhadapan dengan live bola di ANTV, maka kita akan menggeser
orientasi mendekati penonton female.”
Dalam mengatur aliran berita, produser memang tak selalu berpatokan pada rundown yang sudah disiapkan sebelumnya. Produser tetap akan mempertahankan penonton loyal Redaksi Sore yaitu Male. Namun, kadang kala Redaksi Sore selalu terganjal jika ada siaran langsung pertandingan sepak bola yang ditayangkan ANTV. Karena hampir semua penonton loyal, akan berpaling
ke pertandingan sepakbola yang sebagian besar penontonnya adalah male. Karenanya produser mempunyai strategi tersendiri.
”Ancaman Redaksi Sore adalah ketika ada bola, maka sering kali kita terjepit. Kita mengejar penonton lain yang bukan bola, which is adalah female, karena Redaksi Sore itu setengah lima dan masuknya under atau sebelum setengah lima, kadang masih dapatlah breaknya bola. Segman satu awal, akan dipasang berita berita yang kesukaan male. Jadi ada treatment khusus, berita yang disuka male, maka akan dipasang di awal. Masuk setengah lima keatas adalah berita female. Yang dikemas sesuai
kebutuhan female, yang penting informasi bisa masuk ke penonton.”51
Seperti yang dilakukan redaksi pada tanggal 18 Mei 2010, saat Redaksi Sore berhadapan dengan Liga Djarum Indonesia yang di tayangkan ANTV. Redaksi Sore hadir 6 menit lebih awal yaitu pukul 16:24 WIB dan bersamaan dengan commercial break Liga Djarum Indonesia. Dan itu terbukti menaikkan performa Redaksi Sore yang mencapai share 13,3 persen dan rating 1,6 persen. Dan untuk mengawali berita, Produser memilih berita penyerangan mahasiswa terhadap aparat di gedung DPR-MPR Jakarta, serta dituduh santet keluarga di bakar hidup hidup. Kedua berita ini memberikan gambar yang atraktif dan dramatis. Dan ini terbukti mampu mempertahankan aliran penonton dari program sebelumnya ( Jejak Petualang).
Selain harus memperhatikan program pesaingnya, produser Redaksi Sore juga harus mempertahankan urutan berita yang telah disusun dalam rundown. Berita apa saja yang harus di tayangkan di segmen satu, segmen dua dan segmen tiga. Semuanya harus telah disiapkan dengan baik. Namun, ada kalanya produser menemui kendala seputar proses editing. Naskah dan materi gambar yang datang
terlambat sering kali mengacaukan jalannya show program. Biasanya ini terjadi jika peristiwa berlangsung berdekatan dengan jam tayang. Seperti yang disampaikan Revolusi Riza, Produser Redaksi Sore :
” Pertama dari tim liputan karena dia tak menepati dateline misal
karena narsum gak ketemu mepet, pengiriman materi tersendat macet dan sebagainya.Atau karena memang peristiwanya terjadi mepet dengan dateline. Kendala lain reporter lambat nulis naskah atau pemangku program lambat edit naskah dan editingnya lambat, Atau kendala teknis misal alat rusak dan sebagainya.”
Untuk mengatasi masalah ini, Produser telah menyiapkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Karena rundown tidak kaku dan mudah menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. Seperti yang terjadi pada tanggal 10 Mei 2010. Beberapa materi liputan datang terlambat padahal produser telah menyiapkan urutan berita yang telah disiapkan sesuai dengan rapat budgeting. Akhirnya produser memilih mengganti urutan berita, namun urutan ini tetap memiliki satu garis merah. Hal ini terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan show program yang tetap bisa dinikmati penonton.
Selain telah menentukan materi berita yang ditayangkan dalam bentuk hasil editing, Redaksi Sore juga sering menanyangkan siaran langsung dari lokasi kejadian. Pilihan ini diambil jika peristiwa itu memiliki magnitude yang besar atau memang telah direncanakan sebelumnya. Dan dalam melaksanakan siaran langsung ini, Redaksi Trans7 menggunakan Satellite News Gathering ( SNG).
”Peristiwa yang memiliki nilai berita yang tinggi, atau event itu adalah hajatan yang besar untuk negara ini. Misal bencana, politik kadang ada berita yang nilai berita biasa aja, tapi mendapat perhatian besar misal kasus KPK. Kita menghadirkan live. Perhitungan lain, misal peristiwa
terjadii siang atau sore. Dengan pertimbangan teknis, dan dateline, maka kita memilih untuk live.”52
Dengan melakukan beberapa staregi yang telah disiapkan tersebut, Redaksi Sore beberapa kali mampu bertahan dan meraih share dan rating yang diharapkan.
4.2.5. Pasca Produksi
Tahap akhir dalam rangkaian ini adalah rapat evaluasi. Rapat ini wajib di hadiri reporter, juru kamera, associate produser, produser, koordinator liputan dan eksekutif produser yang bertugas saat ini usai penayangan Redaksi Sore. Dalam rapat ini akan dibahas semua kekurangan atau kelemahan serta kelebihan yang dimiliki tayangan Redaksi Sore. Seperti yang disampaikan Revolusi Riza, Produser Redaksi Sore :
”Paling mudah mengatasi kalo kesalahan adalah human, jadi bisa di
evaluasi. Seperti dateline naskah yang harus di edit dan diberikan pada editor untuk di edit gambar terus dipenuhi. Karena kita tayang setengah lima, maka semua naskah jadi minimal bisa masuk ke editor jam tiga atau setengah empat atau satu jam sebelum on air. Untuk masalah pengiriman berita, koordinasi dengan korlip, bisa reporter di ganti dengan reporter lain, Atau reporter tetap dilokasi tapi kaset dan naskah diambil.Paling susah jika kendala teknis atau alat rusak. Maka akan membutuhkan waktu lama.”
Selain mengevaluasi hasil tayangan, tim juga akan mengevaluasi kendala yang di hadapi di lapangan dan selama proses penayangan program Redaksi Sore. Kendala yang sering ditemui adalah editing gambar yang memakan waktu terlalu lama akibat kerusakan alat. Atau kaset liputan mengalami masalah karena kamera
rusak. Masalah kerusakan alat ini nantinya akan disampaikan dalam rapat operasional yang digelar setiap Senin bersama beberapa pihak yang terkait.
4.3 Pembahasan
Setelah mengumpulkan semua data-data dari hasil penelitian, maka dalam sub-bab pembahasan ini penulis akan membahas hasil penelitian berdasarkan kerangka pemikiran serta teori teori yang digunakan, sehingga dapat menjawab permasalahan yang ada.
Sebelum membuat sebuah program acara, stasiun televisi harus memiliki strategi program. Langkah tersebut disebabkan adanya faktor bisnis dan faktor ideal. Keberadaan program sejenis di stasiun televisi swasta lainnya juga menjadi acuan akan dikemas bagaimanakah program yang kita miliki. Strategi program ini harus disusun bersama.
Acara Redaksi Sore merupakan salah satu program berita mengenai seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi saat ini. Selain itu, juga memberikan berita yang cukup mendalam dalam ”laporan khas redaksi”. Tentu saja berita yang disajikan, selain memberikan informasi juga untuk mempengaruhi pemirsanya dan membentuk citra media. Dan redaksi melakukan selektif terhadap berita berita yang akan di tayangkan. Seleksi ini tentu saja berdasarkan pada tingkat nilai berita dan ciri khas program. Sehingga redaksi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan berita yang akan di tayangkan. Dalam hal ini redaksi bertindak sebagai gatekeeper seperti yang dilihat dalam teori gatekeeping selektif Galtung dan Ruge. Dalam model gatekeeping selektif ini menggambarkan proses
proses kejadian kejadian di dunia diubah oleh organisasi pemberitaan menjadi sebuah “citra media” untuk disajikan pada audiens. Karenanya berita berita yang dipilih oleh redaksi memang untuk memberikan citra diri sesuai dengan yang dikehendaki atau di harapkan perusahaan media.
Penulis mengamati model penelitian diatas sesuai dengan acara Redaksi Sore. Dalam setiap berita yang disampaikan Redaksi Sore terutama dalam ”laporan khas redaksi” menunjukkan Redaksi Trans7 berusaha memposisikan diri untuk mendapatkan citra media. Selain itu juga untuk memberikan pelajaran kepada pemirsanya. Sementara berita yang tidak ditayangkan di Redaksi Sore karena luput dari tim redaksi, akan dilupakan oleh perhatian pemirsa.
Penulis juga mengamati bahwa Redaksi Sore dalam mengemas berita selalu menggunakan gambar yang atraktif dan dramatis sebagai pembuka untuk mengundang empati dan simpati pemirsanya dan juga untuk mencuri perhatian pemirsa. Dalam menghadirkan suatu tayangan yang diminati masyarakat, program berita Redaksi Sore berupaya untuk menjawab keingintahuan masyarakat tentang suatu peristiwa atau isu hangat yang sedang berkembang. Dan tentu saja itu semua masih di tambah dengan hadirnya liputan mendalam untuk mengetahui masalah yang sebenarnya bukan hanya permasalahan di permukaan saja. Seperti yang diungkapkan kemal Ramdhan, Produser Eksekutif Redaksi Sore :
Semua statsiun televisi memiliki program berita yang hampir sama, baik kontennya maupun kemasan programmnya. Bila kita tak memiliki karakter program yang cukup mampu memikat pemirsa, maka kita akan tergilas dalam persaingan. Sebetulnya ada banyak strategi dalam membangun karakter program diantaranya saat ini yang sudah dilakukan adalah unsur kedalaman. Bila stasiun televsi lain khsusnya televisi berita yang mesti mengutamakan kecepatan, maka kita mencuri peluang dari unsur
Selain melakukan strategi dalam penulisan berita berupa Laporan Khas, redaksi juga memilih strategi pengaturan rundown yang tidak kaku atau fleksibel. Rundown dianggap hidup dan bisa berubah sesuai dengan program kompetitor yang saat itu sedang tayang. Baik itu program sejenis (berita) atau program berbeda (reality show, laga sepak bola, sinetron). Dengan pengaturan rundown seperti itu, program Redaksi Sore mampu meraih share dan rating baik dan bisa bersaing dengan program lainnya.
Sebuah acara televisi khususnya yang memberikan informasi kepada khalayak tidak lepas dari kerja tim yang baik. Mereka menyusun strategi agar mampu menarik perhatian pemirsa. Pemirsa yang dimaksud adalah target pasar yang sudah melalui riset penonton yang dilakukan Research and Development (RCD) Trans7. Dalam menerapkan strategi untuk menghadapi persaingan dengan tayangan berita sejenis di stasiun televisi lain, dimulai dari pemilihan liputan yang telah di agendakan dalam laporan khas serta peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat. Kejelian memilih isi berita dalam budgeting oleh awak redaksi juga menjadi bagian strategi.
Strategi lain yang dilakuan adalah strategi rundown. Rundown tak menjadi harga mutlak dalam tayangan Redaksi Sore. Rundown bisa berubah menyesuaikan dengan program pesaing yang dianggap berat. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan aliran penonton dari program sebelumnya (Jejak Petualang) dan juga mencuri perhatian penonton dari stasiun televisi lain dengan mengambil jam tayang lebih awal 3 sampai 4 menit. Tak hanya itu, durasi Redaksi Sore yang lebih lama dalam satu segmen dibanding televisi lain masih memberlakukan
pembagian empat segmen dalam 30 menit durasi acara. Pedoman bahwa suatu program acara dikatakan baik secara obyektif mampu memenuhi tiga syarat, yakni memiliki share dan rating tinggi, image yang dibangun meningkat dan jangkauan yang luas, dan Trans7 perlahan mampu memenuhi ketiga syarat tersebut.