Malang, 9 Agustus 2012 Pembimbing I Dra. Rosyidah, M.Pd. NIP. 19600821 198503 2 001 Malang, 9 Agustus 2012 Pembimbing II
Edy Hidayat, S.Pd, M.Hum. NIP. 19710530 200312 1 001
Malang, 9 Agustus 2012 Mahasiswa
Dzikrullah Hakam Allif Mubarak NIM. 108241410637
PENGGUNAAN NEGATIONSWÖRTER OLEH MAHASISWA JURUSAN SASTRA JERMAN PADA MATAKULIAH FREIER VORTRAG
Dzikrullah Hakam Allif Mubarak, Dra. Rosyidah, M.Pd., dan Edy Hidayat, S.Pd., M.Hum.
Universitas Negeri Malang
E-mail: [email protected]
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui Negationswörter yang digunakan dan (2) ketepatan penggunaan Negationswörter tersebut oleh Mahasiswa JSJ UM pada matakuliah Freier Vortrag. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah 15 orang mahasiswa Offering A angkatan 2008 JSJ UM. Teknik rekaman digunakan untuk pengumpulan data. Peneliti adalah instrumen utama penelitian. Hasil analisis data menunjukkan (1) ada 8
Negationwörter yang digunakan mahasiswa dan (2) sebagian besar mahasiswa menggunakan Negationswörter dengan tepat.
Kata Kunci: Negation, kalimat, Freier Vortrag
ABSTRACT: The purposes of this research are (1) to know negation words that used and (2) the accuracy of the use of Negation words in the sentences by the students of 2008 German Literature Department, State University of Malang in the sentences in Freier Vortrag course. The data was collected using a recording technique. The important research instrumen is the recercher. The analysis of these datas show that (1) there are 8 negation words used in the sentences on course Freier Vortrag and (2) most of the students are correct in the using of Negationwörter.
Keywords: Negation, sentence, Freier Vortrag
Untuk mengembangkan kemampuan berbicara mahasiswa, Jurusan Sastra Jerman menyajikan matakuliah yang di antaranya adalah matakuliah Freier Vortrag yang dapat diikuti oleh mahasiswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan berbahasa Jerman lisan dan tulis setaraf Niveau B2 Gemeinsamer Europäischer
Referenzrahmen (GER). Sesuai dengan Niveau yang telah dicapai oleh mahasiswa,
kemampuan gramatika, terutama pada tema negasi seharusnya sudah baik. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk (1) megetahui
Negationwörter apa saja yang digunakan oleh mahasiswa angkatan 2008 Jurusan
Sastra Jerman Universitas Negeri Malang dalam kalimat pada matakuliah Freier
Vortrag dan (2) ketepatan penggunaan Negationwörter tersebut oleh mahasiswa
angkatan 2008 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang pada matakuliah
Freier Vortrag.
Freier Vortrag adalah matakuliah wajib lulus bagi seluruh mahasiswa di
Jurusan Sastra Jerman dengan nilai minimal C. Matakuliah ini memiliki kode matakuliah DEP 436 dengan bobot 2 SKS, sehingga dalam satu kali pertemuan ada dua jam kuliah. Matakuliah ini disajikan pada semester genap. Kompetensi yang
ingin dicapai oleh matakuliah ini adalah mahasiswa mampu mengembangkan keterampilan berbicara bebas.
Arsjad (2002:17) mengemukakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Muchsin (dalam Fathoni, 2011:11) yang berpendapat bahwa berbicara adalah keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan pada orang lain. Kemampuan berbicara seseorang dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya adalah struktur kata dan kalimat (Efendi 1993:31-32).
Dalam bahasa Jerman, Grammatik (gramatika) sangatlah penting untuk dikuasai. Buβman (1990:287) menerangkan bahwa pengetahuan gramatika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan morfologi dan aturan sintaksis dari serbuah bahasa yang alami. Salah satu tema gramatika yang dipelajari di JSJ UM adalah
Negation (negasi) yang merupakan salah satu tema yang menarik, karena semakin
tinggi Niveau mahasiswa Jurusan Sastra Jerman, maka jenis negasi yang seharusnya dikuasai juga semakin banyak.
Engel (2004: 444) dalam www.studiger.tu-dortmund.de menjelaskan bahwa negasi (Negation) adalah ungkapan yang mengandung penolakan (Zurückweisen), pengecualian (Ausnehmen), penyangkalan (Absprechen), dan pertentangan
(Bestreiten). dalam Duden 4 (2005:921) dituliskan bahwa Negation (negasi) dalam sintaksis dilambangkan dengan kata khusus, yaitu Negationswort (kata negasi).
Negationswörter yang telah diajarkan kepada mahasiswa angkatan 2008 berdasarkan
pada materi perkuliahan dengan tema negasi yang diperoleh dan dipelajari dalam matakuliah Deutsch I, II, III, IV dan Deutsch auf B2 Niveau atau juga pada matakuliah Struktur und Wortschatz I dan II antara lain, yaitu nein, nicht, nichts, niemals, niemand, nirgends, nirgendwo, nirgendwohin, nirgenwoher, kein, ohne, weder…noch,sondern, nicht nur… sondernauch, auβer,danauβerdem. Kata negasi digunakan untuk menbentuk kalimat negatif.
Kencono (dalam Chaer, 2007:240) berpendapat bahwa kalimat adalah susunan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, disertai dengan intonasi final. Kemudian, Chaer (2007:240) mempertegas bahwa kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. …jika pada sebuah klausa, frasa, dan kata diberi intonasi final, maka akan terbentuklah kalimat.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berasal dari rekaman presentasi dan tanya jawab mahasiswa dalam matakuliah Freier Vortrag yang di dalamnya terdapat penggunaan Negationswörter di dalam kalimat.Sumber data penelitian ini berjumlah 15 orang mahasiswa offering A angkatan 2008 JSJ UM yang mengikuti mata kuliah Freier Vortrag yang
dilaksanakan pada semester genap tahun akademik 2011/2012.
Dalam penelitian ini digunakan teknik perekaman dengan tahap-tahap: (1) persiapan, (2) pengambilan data, dan (3) transkripsi data. Analisis data dilaksanakan berdasarkan analisis data model alir yang meliputi (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penyimpulan.
HASIL
Penggunaan Negationwörter pada kalimat
Data tentang Negationswöter yang digunakan oleh mahasiswa dan ketepatan penggunaan Negationswörter dalam kalimat yang digunakan oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2008 diperoleh dari enam kali perekaman pada enam kali tatap muka pada perkuliahan Freier Vortrag dengan tema kepariwisataan
(Tourismus). Setiap tatap muka terdiri dari dua sampai tiga kali presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Presentasi dilakukan pada tanggal 14, 21, dan 28 Februari serta tanggal 6, 7, dan 20 Maret 20012. Dalam penelitian ini, peneliti juga ikut dalam perkuliahan Freier Vortrag.
Dari hasil rekaman yang dapat dianalisis tersebut, diperoleh data tentang
Jerman Universitas Negeri Malang pada kalimat dalam matakuliah Freier Vortrag yang terdiri dari (1) nein, (2) nicht, (3) niemand, (4) kein, (5)auβer,(6)auβerdem, (7) sondern, dan (8)nicht nur … sondern auch. Adapun klasifikasi dan jumlah
Negationswörter yang digunakan dalam data dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.1 Paparan data.
No. Negationswörter Jumlah data penggunaan Negationswörter 1. nein 5 2. nicht 44 3. niemand 1 4. kein 19 5. auβer, 2 6. auβerdem 4 7. Sondern 3
8. nicht nur…sondern auch 4
TOTAL 82
Ketepatan penggunaan Negationwörter pada kalimat
Setelah diperoleh data tentang penggunaan Negationswörter (kata ingkar) di dalam kalimat yang digunakan mahasiswa angkatan 2008 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang pada matakuliah Freier Vortrag, selanjutnya dilakukan analisis data lebih dalam untuk mengetahui ketepatan penggunaan kata ingkar yang digunakan mahasiswa tesebut pada kalimat. Data tersebut berupa data tentang penggunaan kata ingkar yang tepat dan kesalahan dalam penggunaan kata ingkar. Data ketepatan penggunaan negasi dalam kalimat dapat dilihat pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Ketepatan penggunaan negasi
No. Ketepatan penggunaan negasi dalam kaliamat
Jumlah ketepatan penggunaan negasi dalam
kalimat 1. Penggunaan kata ingkar yang tepat 55 2. Kesalahan dalam panggunaan kata
ingkar
21
TOTAL 76
Dari hasil analisis data ditemukan 55 data tentang penggunaan kata ingkar yang tepat dan 21 data tentang kesalahan dalam penggunaan Negationswörter.
Berdasarkan penyebabnya, data tersebut dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu (1) kesalahan pemilihan kata ingkar, (2) kesalahan peletakan kata ingkar pada kalimat, dan (3) kesalahan pendeklinasian kata ingkar. Berikut ini adalah paparan data tentang ketiga kelompok tersebut. 13 data menunjukkan tentang kesalahan dalam pemilihan kata ingkar pada kalimat yang digunakan oleh mahasiswa. Contoh
kesalahan tersebut ditemukan pada data kalimat seperti berikut.“Leider habe ich noch nichtdie Gelegenheit da zu fahren.”Kalimat tersebut menggunakan negasi yang tidak tepat. Pada kalimat tersebut, negasi nicht digunakan untuk menegasikan
sebagian kalimat yang berupa kata benda. Seharusnya kalimat tersebut menggunakan negasi dari Artikel kata benda.
Dari data yang telah dianalisis, ditemukan 7 (tujuh) data yang menunjukkan kesalahan letak kata ingkar di dalam kalimat. Kesalahan tersebut dapat dilihat pada contoh berikut.“Eigentlich kann ich nicht das sagen, weil das finde ich ein andere Feste, weil Malang Tempo Dulu dauert mehr als ein Tag.”Kalimat tersebut menggunakan negasi nicht yang menegasikan keseluruhan kalimat. Tetapi posisi negasi tersebut tidak tepat dan menjadikan makna kalimat tersebut menjadi tidak dapat dimengerti.
Dari hasil analisis data, hanya ditemukan satu kesalahan dalam
mendeklinasikan kata ingkar. Kesalahan pendeklinasian kata ingkar ini ditemukan pada kalimat“Wenn Sie keinen Fragen haben, dann möchte ich jetzt meine
Presentation Schlußmachen.”Kalimat tersebut menggunakan kata ingkar untuk
Artikel kata benda. Negasi kein(en) pada kalimat data tersebut tidak tepat, karena
penggunaan kata kerja haben pada kalimat tersebut mengharuskan penggunaan Kasus
Akkusativ pada negasi kein yang Plural. PEMBAHASAN
Penggunaan Negationwörter pada kalimat
Seperti yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, ada 8 (delapan)
Negationswörter (kata ingkar) yang digunakan mahasiswa yang ditemukan pada hasil
Jerman Universitas Negeri Malang pada matakuliah Freier Vortrag. Kata ingkar tersebut antara lain, (1) nein, (2) nicht, (3) niemand, (4) kein, (5)auβer,(6)
auβerdem,(7) sondern, dan (8)nicht nur … sondern auch. Negasi nicht merupakan kata ingkar yang paling sering digunakan oleh mahasiswa di dalam kalimat.
Kata ingkar yang digunakan oleh mahasiswa lebih sedikit daripada kata ingkar yang telah diajarkan kepada mahasiswa angkatan 2008 berdasarkan pada materi perkuliahan dengan tema negasi yang diperoleh dan dipelajari dalam matakuliah
Deutsch I, II, III, IV dan Deutsch auf B2 Niveau atau juga pada matakuliah Struktur und Wortschatz I, dan II yang berjumlah yang antara lain nein, nicht, nichts, niemals, niemand, nirgends, nirgendwo, nirgendwohin, nirgenwoher, kein, ohne,
weder…noch, sondern, nicht nur … sondern auch, auβer, auβerdem. Setelah dianalisis, ditemukan bahwa nicht merupakan kata ingkar yang paling banyak digunakan oleh mahasiswa dalam kalimat.
Ketepatan penggunaan Negationwörter pada kalimat
Pada bagian sebelumnya, telah diperoleh informasi tentang kata ingkar yang digunakan mahasiswa. Selanjutnya, data dianalisis lebih dalam untuk mengetahui ketepatan penggunaannya. Proses analisis tersebut menghasilkan informasi tentang ketepatan penggunaan kata ingkar pada kalimat bahasa Jerman yang digunakan oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Angkatan 2008 Universitas Negeri Malang dalam matakuliah Freier Vortrag. Jumlah kata ingkar yang digunakan oleh mahasiswa dengan tepat lebih banyak daripada jumlah kata ingkar yang salah. Penggunaan kata ingkar yang tidak tepat disebabkan oleh (1) pemilihan kata ingkar tidak tepat, (2) peletakan kata ingkar dalam kalimat tidak tepat, dan (3) kesalahan dalam
pendeklinasian kata ingkar.
Penggunaan kata ingkar yang tepat haruslah sesuai dengan fungsi kata ingkar tersebut di dalam kalimat. Negasiauβermemiliki fungsi dalam kalimat sebagai preposisi yang diikuti Kasus Dativ. Negasiauβertidak diikuti oleh artikel karena auβerberfungsi sebagai feste Wendung (pengecualian yang memiliki susunan yang suda pasti). Hal itu sesuai dengan pendapat Dreyer dan Schmitt (1991:153) yang menyatakan bahwa preposisiauβertidak perlu diikuti oleh artikel jika negasi tersebut
mengecualikan kata yang sudah memiliki aturan gramatika pasti.Auβerdenadalah
Adverb yang berfungsi sebagai pelengkap dalam suatu kalimat. Dalam kalimat yang
menggunakan negasiauβerdem, ditemukan susunan kalimat dengan makna tanpa pengingkaran. Negasiauβerdemtermasuk ke dalam kata ingkar yang menyimpang dengan makna negasi sebenarnya. Hal tersebut senada dengan Eisenberg (2005:921) yang menjelaskan bahwaauβerdemadalah Negationswort yang menyimpang dari makna leksikal suatu negasi.
Dalam penggunaan kata ingkar, masih ditemukan kesalahan dalam
penggunaan negasi dalam kalimat oleh mahasiswa. Kesalahan tersebut disebabkan oleh kesalahan mahasiswa dalam memilih kata ingkar yang digunakan, seperti penggunaan kata ingkar nicht yang seharusnya diganti dengan negasi kein, penggunaan negasi nicht seharusnya diganti dengan negasinicht nur … sondern auch, dan penggunaan kata ingkar nicht dan sondern seharusnya diganti dengan kata ingkarnicht nur … sonden auch. Selain itu, ditemukan juga kesalahan pemilihan negasi sondern, nein, dan kein yang digunakan mahasiswa di dalam kalimat.
Negasi sondern dan nicht nur .. sondern auch adalah dua negasi yang berbeda. Dalam penggunaan negasi tersebut, mahasiswa masih mengalami kesalahan, yaitu tertukarnya penggunaan negasi tersebut. Dalam menggunakan negasi sondern dalam kalimat, negasi tersebut digunakan untuk meralat ungkapan salah yang telah
disampaikan, hal tersebut sesuai dengan pendapat Dreyer dan Schmitt (1991:118) yang menjelaskan bahwa konjungsi sondern digunakan untuk meralat ungkapan salah yang telah terjadi. Negasi nicht nur ... sondern auch berfungsi sebagai penguat
konjungsi und, sehingga jika subjek dalam kalimat mengandung negasi ini akan bernakna Plural (jamak). Hal tersebut senada dengan pendapat Eisenberg (2005:921) bahwa penggunaan negasinicht nur … sondern auchtersebut digunakan untuk menggantikan konjungsi und.
Dalam menegasikan kata benda sebagian mahasiswa menggunakan negasi
nicht. Seharusnya negasi yang digunakan adalah negasi (Null Artikel) kein. Seperti halnya keterangan yang ada pada Langescheidt Verlag Enziklopädie (1994:91) yang
Negasi nein tidak dapat digunakan sebagai partikel jawaban dari pertanyaan yang mengandung pemilihan jawaban. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dreyer dan Schmitt (1991:79) yang menjelaskan bahwa dalam kalimat, negasi nein ini berfungsi sebagai partikel jawaban pada kalimat pertanyaan tanpa menggunakan
Fragewort (ja/nein Frage). Dalam berbicara, penggunaan Partikel ini sudah cukup
untuk menyampaikan pengingkaran tanpa menggunakan kalimat lengkap. Nein tidak dapat digunakan untuk menjawab pertayaan negatif, jika jawaban dari pertanyaan tersebut dalah positif. Jika pertanyaan negatif dan jawabannya adalah positif, maka partikel doch digunakan untuk menjawab pertanyaan negatif tersebut (Dreyer dan Schmitt, 1991:79).
Kesalahan dalam penggunaan negasi juga dapat diketahui dengan meilihat letak kata ingkar, karena letak kata ingkar mempengaruhi apa yang dinegasikan dalam kalimat. Hal tersebut sejalan dengan Langescheidt Verlag Enziklopädie (1994:90) yang menjelaskan bahwa posisi kata ingkar pada kalimat mempengaruhi suatu kalimat dinegasikan secara keseluruhan atau hanya sebagian saja.
Negasi nicht digunakan untuk menegasikan bagian yang dinegasikan pada kalimat karena letak negasi ini di depan bagian yang dinegasikan. Hal tersebut
didukung oleh pendapat Wolfgang dan Tomaszewski (2001:64) yang berbunyi bahwa kata negasi “nicht” terletak langsung di depan bagian dari kalimat yang dinegasikan, yaitu bagian yang tidak ditekankan. Selain itu, ditemukan juga kata ingkar yang menegasikan keseluruhan kalimat. Letak kata ingkar tersebut berada di depan kata kerja dan tidak terletak di posisi akhir kalimat, apabila ada di dalam susunan gramatika konjungsi weil. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Wolfgang dan
Tomaszewski (2001:63) yang menyatakan bahwa pada susunan gramatika Nebensatz,
Partikel nicht yang menegasikan keseluruhan anak kalimat tidak terletak di posisi
akhir anak kalimat tersebut.
Kesalahan pendeklinasian kata ingkar kein menyebabkan penggunaan kata ingkar pada kalimat tidak tepat. Kasus, Genus, dan jumlah dari kata benda akan mempengaruhi pendeklinasian negasi kein. Hal ini sejalan dengan pendapat
kein digunakan untuk menegasikan kata benda. Negasi ini dipengaruhi oleh Kasus, Genus dan jumlah dari kata benda yang dinegasikan.
DAFTAR RUJUKAN
Ahada, R. 2010. Penggunaan Media Gambar Seri Untuk Keterampilan Berbicara
Bahasa Jerman Mahasiswa Angkatan 2009-2010 Pada Matakuliah
Conversation. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Arsjad, A. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Ba’dulu, A.M. & Herman. 2005.Morfosintaksis. Jalarta: PT. Rineka Cipta.
Buβmann, H. 1990.Lexikon der Sprachwissenschaft. Stuttgard: Alfred Kröner
Verlag.
Cahyono, F. 2011. Peningkatan Kemampuan Berkarya Seni grafis Cetak tinggi teknik
Hardbordcut melalui pendekatan ekspresif-kreatif siswa kelas VIII A SMP Negeri 25 Malang. Malang: Universitas Negeri Malang.
Chaer, A. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Dawud, dkk. 2008. Katalog Jurusan Sastra Jerman. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM).
Daymon, Christine dan Holloway Immy. 2008. Metode-metode Riset Kualitatif. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.
Dreyer, H. Schmitt, R. 1991. Lehr- und Übungsbuch der deutschen Grammatik. München: VERLAG FÜR DEUTSCH.
Efendi, M. 1993. Problem Berbicara Bahasa, dan Pembinaanya. Malang:
Depatement Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Mallang Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas.
Eisenberg, P. dkk . 2005 . Duden 4 die Grammatik . Mannheim: Bibliographisches Insitut &F.A. Brokhaus AG.
Engel. 2004. Negation im Deutschen, (Online),
(http://www.studiger.tu-dortmund.de/index.php?title=Negation_im_Deutschen), diakses 18 Mei 2012, pukul 6:32.
Eppert, F. 1991. Grammatik lernen und verstehen. Stuttgart: Ernst Klett Verlage GmbH u. Co. KG.
Fathoni, A. 2011. Peningkatan Berbicara bahasa jawa KRAMA siswa kelas VII A
SMP Negeri 2 Kec. Pulung. Tahun ajaran 2010/2011 Dengan Metode Permainan Stimulus. Skripsi Tidak Diterbitkan .Malang: Universitas Negeri
Malang.
Grammatisch-semantiche Felder. 1991. Berlin: Langescheidt.Verlag Enzyklopädie
Götz, D. Haensch, G. Wellnann, H. 2002. Langescheidts Gröβwörterbuch Deutsch als Fremdsprache. Berlin dan München: Langescheidt KG.
Rug, Wolfgang dan Tomazewski, Andreas. 2001. Grammatik mit Sinn und Verstand. Neufassung. Stuttgart : Ernest Klett International GMbH.
Saksomo, D. 1997. Berbicara. Malang: IKIP Malang