BAB II SUPERVISI KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU

Teks penuh

(1)

BAB II

SUPERVISI KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung begitu pesat sehingga menimbulkan berbagai permasalahan yang rumit dan kompleks, serta memerlukan pemecahan secara proporsional. Dalam bidang pendidikan juga terdapat berbagai permasalahan yang memerlukan pemecahan secara proporsional pula, baik yang menyangkut proses belajar mengajar, yang berkaitan dengan kebijaksanaan, manajemen, pendekatan, strategi, isi maupun sumber-sumber pendidikan dan pembelajaran. Untuk itu personil pendidikan terutama guru, harus senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar dapat mengelola proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Namun untuk maksud tersebut guru-guru sering menghadapi kesulitan jika harus melakukannya sendiri karena keterbatasan ekonomi maupun waktu.

Pada dasarnya guru mempunyai potensi yang cukup tinggi untuk meningkatkan kinerja. Namun banyak faktor yang menghambat mereka dalam mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Oleh karena itu sangat dirasakan perlunya pembinaan yang berkesinambungan terhadap para guru dan personil pendidikan yang lain di sekolah. Program pembinaan guru dan personil pendidikan lazim disebut supervisi pendidikan. Untuk itu para pembina dan kepala sekolah perlu memiliki pemahaman tentang supervisi pendidikan.

A. Supervisi Pendidikan

1. Pengertian Supervisi a. Secara Etimologi

Perkataan supervisi berasal dari bahasa Inggris supervision yang terdiri dari dua perkataan yaitu super dan vision. Super berarti atas atau lebih, sedangkan vision berarti melihat atau meninjau. Oleh karena secara etimologi supervisi (supervision) berarti melihat atau meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan pihak atasan

(2)

(orang yang memiliki kelebihan) terhadap perwujudan kegiatan dan hasil kerja bawahan.1

b. Secara Terminologi

Pada bab satu sudah disampaikan beberapa pengesahan seperti menurut para ahli. Pada bagian ini akan disampaikan pendapat-pendapat lain dari para ahli tentang pengertian supervisi, antara lain :

(1) M. Ngalim Purwanto

Supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.2

(2) Piet A. Sahertian

Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik sacara kelompok dalam memperbaiki pengajaran.3

(3) Hadari Nawawi

Supervisi adalah pelayanan yang disediakan oleh pemimpin untuk membantu guru-guru (orang yang dipimpin) agar menjadi guru-guru atau personal yang semakin cakap. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahauan pada umumnya, agar mampu meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di sekolah.4

Beberapa definisi di atas secara implisit mengandung ide-ide pokok seperti menggalakkan profesional guru, memberikan layanan dan bantuan kepada guru, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan efektifitas proses belajar mengajar.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa supervisi pendidikan adalah merupakan usaha mengarahkan, mengkoordinasi dan membimbing guru secara kontinu baik secara individual maupun kolektif agar lebih efektif

1

Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan (Jakarta : Gunung Agung, 1981) hlm. 103

2

Ngalim Purwanto, Administrasi Pendidikan (Jakarta : Mutiara, 1978) hlm. 44

3

Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik SupervisiPendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta : Rineka Cipta, 2000) hlm. 19.

4

(3)

dalam mengelola proses belajar mengajar dan mampu memecahkan berbagai masalah pendidikan dan pengajaran secara efektif dan efisien.

2. Dasar dan Tujuan Supervisi Pendidikan. a. Dasar Supervisi Pendidikan

Guru sebagai salah satu komponen sumber daya pendidikan memerlukan bantuan supervisi. Hal-hal yang mendasari adanya supervisi pendidikan tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Dasar Kultural (2) Dasar Filosofis (3) Dasar Psikologis (4) Dasar Sosiologis (5) Dasar Sosial

(6) Dasar Pertumbuhan Jabatan.5

Uraian dari dasar supervisi tersebut adalah sebagai berikut : (1) Dasar Kultural

Kebudayaan pada saat ini banyak mengalami perubahan dan percampuran. Perubahan itu di antaranya disebabkan karena hasil akal budi manusia yang semakin maju. Sekolah sebagai pusat kebudayaan bertugas dan bertanggung jawab menyeleksi unsur-unsur kebudayaan serta mengembangkan melalui kreativitas dan kemampuan penalaran siswa maupun guru. Secara positif sekolah bertugas menghasilkan karya nyata, baik berupa gagasan, ide, pola tingkah laku, kebiasaan berbudaya yang baik maupun berupa benda budaya. Di sinilah perlunya bagi yang bertugas mengembangkan potensi, kreativitas para peserta didik dan mengkoordinasi segala usaha dalam rangka mengembangkan budaya sekolah.6

(2) Dasar Filosofis

Suatu sistem pendidikan dikatakan berhasil guna dan berdaya guna bila berakar mendalam pada nilai-niai yang ada dalam pandangan

5

Piet A. Sahertian, loc cit., hlm. 4

6

(4)

hidup suatu bangsa. Di Indonesia sistem “ Among” seperti yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantoro melalui Taman Siswa yang mendasarkan pendidikannya pada filsafat dan budaya nasional. Jika dilihat dari segi filsafat, maka perlu ada orang yang menterjemahkan konsep-konsep pendidikan yang masih abstrak ke dalam pengertian yang lebih operasional.7

(3) Dasar Psikologis

Secara psikologis supervisi itu terletak berakar mendalam pada pengalaman manusia. Pada diri manusia terdapat potensi-potensi untuk menghasilkan sesuatu sehingga mnusia dapat memiliki cara pemecahan suatu masalah baik sekarang maupun yang akan datang. Pendidikan bertugas memberi dorongan untuk mencipta dan membina kreativitas. Kondisi kreativitas itu tidak datang sendiri tapi harus dilatih dan diajarkan. Kondisi yang mendorong atau menghambat kreativitas bersumber pada kegiatan jiwa, seperti pengamatan, persepsi, pertimbangan dan perasaan. Jelaslah bahwa penciptaan suasana psikologis seperti rasa aman, kebebasan, kehangatan suasana dapat mendorog kreativitas. Tugas supervisi adalah menciptakan suasana sekolah yang penuh kehangatan sehingga setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri.8

(4) Dasar Sosiologis

Masyarakat dewasa ini selalu berubah. Sikap perubahan mempunyai pengaruh terhadap tindakan dan pola tingkah laku seseorang. Dalam era globalisasi telah terjadi pergeseran nilai sehingga norma-norma kehidupan menjadi relatif. Menghadapi seperti ini guru-guru memerlukan supervisor untuk mengadakan tukar-menukar ide dan pengalaman tentang mana yang terbaik dalam menghadapi tata nilai dalam dunia pendidikan.9

7 Ibid, hlm 6 8 Ibid, hlm 7 9 Ibid, hlm. 11

(5)

(5) Dasar Sosial

Cara kerja yang bersifat kooperatif secara bertanggung jawab merupakan cara kerja yang baik. Dalam masyarakat orang saling menghargai pendapat orang lain, saling menolong, saling memberi kebebasan kepada orang lain sehingga tercipta rasa bersama dan rasa aman. Dalam hal ini sebagai supervisor berfungsi membantu, mendorong, menstimulasi tiap anggota untuk bekerja sama.10

(6) Dasar Pertumbuhan Jabatan

Guru seharusnya mempunyai misi dan masa depan. Ketajaman visi mendorong guru-guru untuk mampu mengembangkan misinya untuk dapat mewujudkan misi tersebut, guru harus belajar terus menjadi guru yang profesional antara lain memiliki keahlian dalam hidup yang diajarkan, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan mau menerima inovasi serta perubahan. Dalam menghadapi perubahan-perubahan diperlukan pembina atau supervisor yang mempu membina guru-guru agar mampu melakukan tugas profesinya.11

b. Tujuan Supervisi Pendidikan

Tujuan supervisi secara umum adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru (dan staf sekolah yang lain) agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kerjanya, terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses pembelajaran.12

Secara khusus Ametembun (1981), seperti dikutip oleh E. Mulyasa, mengupas tujuan supervisi pendidikan sebagai berikut :

(1) Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk mengetahui tujuan pendidikan.

(2) Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru-guru untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang lebih efektiif. 10 Ibid, hlm. 8 11 Ibid, hlm. 11 12

(6)

(3) Membantu kepala sekolah dan guru-guru mengadakan diagnosis secara kritis terhadap aktivitas-aktivitas dan kesulitan-kesulitan belajar mengajar

(4) Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru-guru serta warga sekolah lain terhadap cara kerja yang demokratis dan komprehensif. (5) Memperbesar semangat guru-guru dan meningkatkan motivasi

berprestasi untuk mengoptimalkan kinerja secara maksimal.

(6) Membantu kepala sekolah untuk mempopulerkan program pendidikan.

(7) Melindungi orang-orang yang disupervisi terhadap tuntutan-tuntutan yang tidak wajar dan kritik yang tidak sehat dari masyarakat.

(8) Membantu kepala sekolah dan guru-guru dalam mengevaluasi aktivitasnya dalam mengembangkan kreativitas peserta didik.

(9) Mengembangkan rasa persatuan dan kesatuan di antara guru.13 3. Fungsi Supervisi Pendidikan

Menurut Swearingen dalam bukunya “Supervision of Intruction –

Foundation and Dimension” yang dikutip oleh Sahertian, mengemukakan

fungsi supervisi, yaitu sebagai berikut : a. Mengkoordinasi semua usaha sekolah b. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah c. Memperluas pengalaman guru-guru d. Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif

e. Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus. f. Menganalisis situasi belajar mengajar

g. Memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap anggota staf. h. Mengintegrasikan tujuan-tujuan pendidikan.14

Uraian tentang kedelapan fungsi supervisi tersebut adalah sebagai berikut :

13

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implementasi (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2003) Cet. 4 hlm. 157

14

(7)

a. Mengkoordinasi Usaha Sekolah

Oleh karena perubahan terus menerus terjadi, maka kegiatan sekolah juga makin bertambah. Usaha-usaha sekolah untuk meningkatkan hasil agar meksimal semakin banyak. Maka perlu adanya koordinasi yang baik terhadap semua usaha sekolah, misalnya :

(1) Usaha setiap guru

Beberapa guru yang mengampu mata pelajaran yang sama dan ingin mengemukakan idenya serta menguraikan materi pelajaran menurut pandangannya ke arah peningkatan, maka hal itu perlu dikoordinasikan

(2) Usaha-usaha sekolah

Seorang supervisor dalam menentukan kebijakan, merumuskan tujuan-tujuan atas setiap kegiatan sekolah termasuk program-program sepanjang tahun ajaran perlu ada koordinasi yang baik.

(3) Usaha-usaha bagi pertumbuhan jabatan

Tiap guru ingin meningkat jabatannya. Melalui membaca buku-buku dan gagasan-gagasan baru, guru-guru ingin belajar terus menerus. Melalui workshop, seminar, penataran-penataran guru-guru berusaha meningkatkan diri sekaligus sebagai hiburan intelektual. Untuk itu juga perlu adanya koordinasi.15

b. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah

Kepemimpinan demokrasi memegang peranan penting dalam masyarakat. Dan kepemimpinan itu dipandang sebagai ketrampilan yang perlu dikembangkan dengan latihan-latihan. Jadi fungsi supervisi adalah melatih dan melengkapi guru-guru agar memiliki ketrampilan dalam kepemimpinan sekolah.16 15 Ibid, hlm. 22 16 Ibid

(8)

c. Memperluas pengalaman guru-guru

Seseorang dapat berfungsi sebagai pemimpin pendidikan bilamana dapat membantu memberikan pengalaman-pengalaan baru pada anggota stafnya, sehingga guru meupun stafnya makin bertambah pengalamannya.17

d. Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif

Semua orang percaya bahwa manusia diciptakan dengan memiliki potensi untuk berkembang dan berkarya. Supervisi bertugas mambantu, mendorong dan menciptakan suasana yang memungkinkan guru-guru untuk dapat meningkatkan potensi-potensi kreativitas dalam dirinya.18 e. Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus.

Untuk mencapai keberhasilan (kemajuan) maka penilaian setiap usaha seperti bahan-bahan pelajaran, buku-buku pelajaran atau fasilitas-fasilitas lain harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Selain itu penilaian juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia termasuk guru-guru. Melalui penilaian dapat diketahui kelemahan dan kelebihan dari hasil dan proses belajar mengajar.19

f. Menganalisis situasi belajar mengajar

Situasi belajar mengajar adalah situasi di mana guru memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam situasi belajar mengajar peranan guru dan peserta didik memegang peranan penting. Memperoleh data mengenai aktivitas guru dan peserta didik akan memberikan pengalaman dan umpan balik terhadap perbaikan pembelajaran. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi perbaikan pembelajaran. Fungsi supervisi adalah menganalisis faktor-faktor tersebut.20

17 Ibid, hlm. 23 18 Ibid.. 19 Ibid. 20 Ibid

(9)

g. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf. Setiap guru mempunyai potensi dan dorongan untuk berkembang. Untuk itu fungsi supervisi adalah memberi dorongan, stimulasi dan membantu guru agar mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengajar.21

h. Mengintegrasikan tujuan-tujuan pendidikan.

Untuk mencapai tujuan yang lebih baik tinggi harus berdasarkan tujuan-tujuan sebelumnya. Setiap guru harus mampu mengukur kemampuannya. Mengembangkan kemampuan guru secara individu maupun kelompok adalah salah satu fungsi supervisi.22

4. Teknik-teknik Supervisi

Untuk mencapai tujuan supervisi yag telah ditentukan, maka seorang supervisor dapat menggunakan berbagai macam teknik. Piet A. Sahertian mengelompokkan teknik supervisi menjadi dua macam, yaitu :

a. Teknik yag bersifat individual, yang meliputi : (1) Kunjungan kelas

(2) Observasi kelas (3) Percakapan pribadi (4) Intervisitasi

(5) Menilai diri sendiri

b. Teknik yang bersipat kelompok, meliputi (1) Pertemuan orientasi pada guru-guru (2) Panitia penyelenggara

(3) Rapat guru (4) Studi kelompok (5) Diskusi

(6) Tukar menukar pengalaman (7) Loka karya (workshop)

21

Ibid. hlm 24

22

(10)

(8) Simposium (9) Demonstrasi mengajar (10) Perpustakaan jabatan (11) Buletin supervisi (12) Mengikuti kursus (13) Organisasi jabatan

(14) Perjalanan sekolah untuk anggota staf.23

Dari uraian tersebut di atas, yang ingin penulis garis bawahi adalah perpustakaan jabatan dan buletin supervisi bukan merupakan teknik supervisi, tetapi merupakan alat supervisi, sebab teknik merupakan cara tertentu yang terdiri dari berbagai kegiatan yang teratur dan beraturan, sedangkan alat merupakan perkakas atau perabot supervisi.

Dalam pembahasan ini akan penulis paparkan beberapa teknik supervisi yang penting dari berbagai teknik di atas.

(1) Kunjungan Kelas

Yaitu kunjungan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor ke ruang kelas dimana seorang guru sedang mengajar atau pada waktu kelas kosong, berisi sarana kelas ketika guru tidak ada.24

Tujuan mengunjungi kelas diantaranya :

a. Untuk mengamati (mengetahui secara langsung guru dalam melaksanakan tugas utamanya, mengajar, menggunakan alat peraga, metode dan teknik mengajar)

b. Untuk mengetahu kelebihan dan kelemahan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar

c. Untuk memperoleh data yag diperlukan supervisor dalam menentukan cara-cara yang tepat utuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi belajar mengajar.

23

Piet A. Sahertian, op.cit., hlm. 53, 86, 122

24

(11)

d. Untuk merangsang para guru agar mereka mau meningkatkan kemampuannya.25

Kunjungan kelas dapat dilakukan dengan teknik : a. Kunjungan kelas dengan pemberitahuan b. Kunjungan kelas tanpa pemberitahuan c. Kunjungan kelas atas undangan guru.26 (2) Observasi Kelas

Yang dimaksud dengan observasi kelas adalah kunjungan yang dilakukan oleh supervisor ke sebuah kelas dengan maksud untuk mencermati situasi atau peristiwa yag sedang berlangsung di kelas yang bersangkutan.27

Ada bermacam-macam cara mengobservasi kegiatan guru dan siswa di kelas. Seorang supervisor dapat menggunakan cara langsung masuk kelas atau cara tidak langsung, yaitu orang yang diobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana murid-murid tidak mengetahuinya. Dalam mengobservasi perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain : tujuan yang hendak dicapai, apa yang akan diobservasi, kreteria yang dipakai dalam observasi serta alat-alat yang digunakan dalam observasi.28

(3) Percakapan Pribadi

Yaitu percakapan antara seorang supervisor dengan seorang guru. Tujuan percakapan pribadi antara lain.

a. Untuk saling mengenal lebih jauh antara supervisor dengan guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai petugas profesional.

b. Untuk membantu guru mengenal kemampuan dirinya, membantu guru menyadari kelebihan dan kekurangannya.

c. Memupuk dan mengembangkan mengajar yang lebih baik

25

E. Mulyasa, op.cit., hlm 260

26

Departemen Agama RI, Pedoman Pengembangan Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Jakarta, 2003) hlm 47

27

Suharsimi Arikunto, Loc. Cit, hlm 55

28

(12)

d. Menghilangkan dan menghindari prasangka buruk antara supervisor dengan guru.29

(4) Orientasi Bagi Guru Baru

Sebelum seorang guru menilai tugas-tugasnya di lingkungan yang baru secara intensif, perlu diberi kesempatan kepada mereka untuk menyesuaikan diri dalam rangka mengenal dan memahami tugas-tugas yang dipikulnya. Orientasi pada saat permulaan bekerja antara lain bisa mengenai orientasi personal, orientasi terhadap program, orientasi terhadap fasilitas dan orientasi terhadap lingkungan.30

(5) Rapat guru

Yaitu pertemuan antara staf sekolah terutama guru-guru untuk mengembangkan dan meningkatan kemampuan mereka. Rapat guru menurut tingkatan kemampuan mereka. Rapat guru menurut tingkatannya ada bermacam-macam :

a. Staff – meting, yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.

b. Rapat guru bersama orang tua murid dan perwakilan murid

c. Rapat guru sekota, sewilayah, serayon dari sekolah-sekolah sejenis dan setingkat.31

(6) Studi Kelompok

Guru-guru dalam mata pelajaran sejenis berkumpul bersama untuk mempelajari suatu masalah atau bahan pelajaran. Pokok bahasan telah ditentukan dan diperinci dalam garis-garis besar atau dalam bentuk pertanyaan pokok yang disusun secara teratur.32

(7) Diskusi

Yaitu pertukaran pendapat tentang suatu masalah untuk dipecahkan bersama. Diskusi merupakan cara mengembangkan ketrampilan anggota-anggotanya dalammengatasi kesulitan-kesulitan dengan jalan bertukar

29

Ibid., hlm 73 - 74

30

Hadari Nawawi, op.cit., hlm. 106 - 107

31

Piet. A. Sahertian, op.cit., hlm. 87

32

(13)

pikiran. Yang perlu diketahui oleh seorang supervisor bila memimpin diskusi guru-guru, supervisor harus memiliki kemampuan menggerakkan kelompok, membuat pertemuan berhasil dan mengkoordinasikan pekerjaan-pekerjaan kelompok.33

(8) Tukar menukar pengalaman

Penataran sering merupakan sesuatu yang membosankan. Dikatakan membosankan karena guru-guru menganggap bahan yang diberikan sudah dimiliki, atau mungkin cara penyajiannya kurang menarik, karena tidak bersumber pada kebutuhan profesi meraka. Oleh karena itu suatu teknik perjumpaan yang dinamakan sharing of experience adalah cara yang bijaksana. Di dalam teknik ini kita berasumsi bahwa guru-guru adalah orang-orang yang sudah berpengalaman. Melalui pertemuan diadakan tukar menukar pengalaman, saling memberi dan menerima, saling belajar satu dengan yang lain.34

5. Alat-alat Bantu Supervisi Pendidikan

Agar pelaksanaan supervisi pendidikan berjalan dengan lancar dan baik, maka seorang supervisor dapat menggunakan alat bantu atau perkakas supervisi. Alat bantu itu digunakan untuk memungkinkan pertumbuhan kemampuan guru sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Adapun alat bantu supervisi adalah sebagai berikut : a. Perpustakaan profesional dan perpustakaan sekolah.

b. Buku kurikulum/rencana pembelajaran dan buku pegangan guru. c. Buletin pendidikan dan buletin sekolah.

d. Penasehat ahli atau resource person.35

Perpustakaan profesional dan perpustakaan sekolah.

Supervisor harus berusaha memberikan motivasi kepada guru-guru agar selalu berminat untuk membaca di perpustakaan. Perpustakaan harus dikembangkan tidak hanya menghimpun buku-buku, akan tetapi juga koleksi lain seperti koran, kaset tape recorder, majalah-majalah, slide, buletin dan 33 Ibid, hlm. 96 34 Ibid., hlm. 103 35

(14)

lain sebaginya yang berhubungan dengan pendidikan. Dengan demikian ketrampilan dan kemampuan guru dapat ditingkatkan dengan banyak membaca, menambah wawasan dari perpustakaan sekolah maupun perpustakaan profesional.36

Buku Kurikulum/rencana pembelajaran dan buku pegangan guru.

Setiap guru yang bertugas di lembaga pendidikan harus mengetahui program yang akan dilaksanakan baik program tahunan, program semester, atau program mingguan.Program suatu lembaga pendidikan biasanya sudah disusun dalam kurikulum, yang berisi berbagai jenis kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan sekolah. Untuk malaksanakan kurikulum tersebut guru-guru harus dilengkapi buku pegangan sesuai dengan bidangnya masing-masing.37

Buletin Pendidikan dan Buletin Sekolah.

Buletin pendidikan, termasuk brosur-brosur dan majalah-majalah tentang pendidikan merupakan salah satu sarana tertulis yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan guru.

Sedangkan buletin sekolah pada umumnya dipergunakan untuk menyampaikan informasi-informasi sekolah. Dengan demikian juga dapat digunakan untuk menyalurkan kemampuan guru dan murid. Dalam bentuk sederhana buletin sekolah dapat berupa papan pengumuman38 dan majalah dinding.

Penasehat ahli atau resource person.

Pada sebuah sekolah atau kantor pendidikan perlu ada seorang atau sejumlah orang yang tergabung dalam suatu cabang ilmu sebagai suatu staf ahli yang selalu siap memberikan bantuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi sekolah atau guru. Seorang supervisor dapat meminta bantuannya bilamana dipandang perlu, misalnya diminta memberikan 36 Ibid. 37 Ibid 38 Ibid.

(15)

ceramah, nasihat, saran-saran penyelesaian masalah dan lain-lain. Bila staf ahli itu tidak ada, supervisor dapat meminta bantuan siapa pun di luar lembaga pendidikan yang dipandang mampu, untuk membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan guru.39

B. Peranan Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dalam Meningkatkan Kinerja Guru

Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedang sifat unik menunjukkan bahwa sekolah sebagai suatu organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi yang lain. Ciri-ciri yang menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, di mana terjadi proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan manusia.40

Karena sifatnya yang kompleks dan unik itulah, sekolah sebagai suatu organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Keberhasilan sekolah sangat ditentukan oleh kepala sekolah dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyelaraskan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu kepala sekolah dituntut memiliki menajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.41

E. Mulyasa mengutip pendapat Pidarta (1988), mengemukakan bahwa keterampilan yang harus dimilki oleh kepala sekolah untuk menyukseskan kepemimpinannya ada tiga macam. Ketiga keterampilan tersebut adalah keterampilan konseptual, yaitu untuk memahami dan mengoperasikan organisasi; keterampilan manusiawi, yaitu keterampilan untuk bekerjasama dan

39 Ibid.

40

Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah : Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya (Jakarata : PT Raja Grafindo Persada, 2003) Cet. 4 hlm. 81

41

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik dan Implementasi(Bandung: Remaja Rusda Karya, 2003)., hlm. 182

(16)

memimpin; serta keterampilah teknik, yaitu keterampilan dalam menggunakan ilmu pengetahuan, metode, teknik, serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu.42

Berkaitan dengan kinerja guru, peranan dan perhatian kepala sekolah sangat penting untuk meningkatkan profesionalisme serta kinerja guru dan tenaga kependidikan lain di sekolah. Perhatian kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme dan kinerja guru dapat dilakukan melalui supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa supervisi mempunyai delapan fungsi yaitu : mengkoordinasi semua usaha sekolah, memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memperluas pengalaman guru-guru, menstimulasi usaha-usaha yang kreatif, memberi fasilitas dan penilaian terus menerus, menganalisis situasi belajar mengajar, memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf, serta memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.43

Supervisi berfungsi membantu mengembangkan kemampuan guru agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Maka peranan supervisor ditentukan oleh tujuan dan fungsi supervisi itu sendiri. Berdasarkan fungsi supervisi yang ada delapan itu Piet A. Sahertian mengutip pendapat Peter F. Olivia bahwa seorang supervisor dapat berperan sebagai koordinator, sebagai konsultan, sebagai pemimpin kelompok dan sebagai evaluator.44

1. Supervisor sebagai Koordinator

Sebagai koordinator seorang supervisor kepala sekolah dapat mengkoordinasi program belajar mengajar, membagi berbagai tugas guru dan anggota staf lainnya ke dalam berbagai tugas. Kepala Sekolah juga berperan sebagai kekuatan sentral untuk menggerakkan dan mengarahkan kehidupan sekolah demi tercapainya keberhasilan sekolah. 45

42

E. Mulyasa, op.cit., hlm 126

43

Piet A. Sahertian, loc.cit.

44

Piet A. Sahertian, op.cit., hlm. 25

45

(17)

2. Supervisor sebagai Konsultan

Sebagai konsultan seorang supervisor Kepala Sekolah memberi bantuan kepada para guru dan staf lainnya untuk memecahkan masalah yang dialami guru atau staf lainnya secara individual maupun secara kelompok. Misalnya membantu guru dalam menerjemahkan kurikulum dari pusat ke dalam bahasa belajar mengajar, membantu guru-guru dalam meningkatkan program belajar mengajar baik dalam membantu rencana pembelajaran, melaksanakan proses belajar mengajar maupun dalam menilai proses dan hasil belajar mengajar. Demikian pula masalah-masalah khusus yang dihadapi guru juga bisa dikonsultasikan kepada kepala sekolah sebagai supervisor, baik menyangkut kesulitan dalam mengajarkan tiap mata pelajaran atau masalah-masalah pribadi guru yang lain yang berpengaruh besar terhadap ketenangan kerja. Ketenangan merupakan salah satu syarat untuk meningkatkan kinerja seseorang.46

3. Supervisor sebagai Pemimpin Kelompok

Sebagai pimpinan Kepala Sekolah (supervisor) harus dapat memimpin sejumlah guru dan staf dalam mengembangkan potensi kelompok. Kepala Sekolah sebagai pemimpin kelompok harus dapat mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Misalnya pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru-guru secara bersama-sama. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut. 47

a. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif.

b. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

c. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

d. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai seekolah yang lain.

46

Ibid, hlm. 130

47

(18)

e. Bekerja dengan tim manajemen.

f. Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

4. Supervisor sebagai Evaluator

Seorang supervisor (Kepala Sekolah) sebagai evaluator berarti menjadi penilai program yang telah dilaksanakan. Kepala Sekolah dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar mengajar dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan Evaluasi bertujuan menjamin kinerja yang dicapai agar sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan untuk kepentingan tersebut evaluasi perlu membandingkan kinerja aktual dengan kinerja standar.48

Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa peranan kepala sekolah sebagai supervisor dalam meningkatkan kinerja guru sangatlah penting. Sebagai supervisor kepala sekolah dapat membantu, memberikan suport dan mengikutsertakan guru dalam perbaikan pembelajaran. Supervisi dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia, yaitu guru-guru baik yang bersifat personal maupun profesional. Jadi, supervisi dilaksanakan bukan untuk mencari-cari kesalahan guru, bukan pula untuk memberi pengarahan guru secara terus menerus. Kalau terus menerus mengarahkan, selain tidak demokratis juga tidak memberi kesempatan kepada guru-guru untuk belajar mandiri dalam arti profesional. Padahal salah satu ciri guru yang profesional adalah guru-guru yang memiliki otonomi dalam arti bebas mengembangkan diri sendiri dan atas kesadaran sendiri. Kalau standar kinerja guru sudah dimiliki dan dilaksanakan oleh guru atas kesadaran sendiri, maka akan terciptalah kinerja yang baik dan para guru. Semua itu tidak bisa terlepas dari kepemimpinan Kepala Sekolah. Keberhasilan guru dalam mencapai kinerja yang baik adalah keberhasilan Kepala Sekolah.

48

(19)

C. Kinerja guru

1. Pengertian Kinerja

Sebagaimana telah diuraikan pada bagian penegasan istilah, yang dimaksud dengan kinerja adalah kemampuan kerja atau prestasi yang diperlihatkan.49 Menurut Bernandin & Russel, seperti yang dikutip oleh Faostino Cardiso Gomes, menyatakan bahwa kinerja adalah catatan out come yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode waktu tertentu. (“ …. the record of out comes produced on a

specified job function or activity a specified time periode”)50 Henry Simamora mengungkapkan bahwa kinerja merupakan tingkat di mana para karyawan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan.51

Kinerja merupakan aspek yang sangat menentukan dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan. Pencapaian tujuan yang maksimal merupakan hasil dari kinerja yang baik. Sebaliknya dari kinerja yang kurang baik akan membuahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Kinerja seseorang juga dapat kita lihat dari kemampuan mencapai standar yang telah ditetapkan. Baik buruknya kinerja seseorang tidak hanya dilihat dari tingkat kuantitas yang dapat dihasilkan seseorang dalam bekerja, akan tetapi juga diukur dari segi kualitasnya dalam mencapai standar yang telah ditetapkan tersebut. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa kinerja (performance) merupakan wujud keberhasilan seseorang atau organisasi dalam mencapai tujuannya dan hasil tersebut tidak hanya terbatas pada ukuran kuantitas, tetapi juga kualitas.

Untuk mengetahui kinerja seseorang (pegawai, karyawan, atau guru) harus ditetapkan standar kinerjanya. Standar kinerja merupakan tolok ukur bagi suatu pekerjaan, apakah yang telah dilakukan seseorang itu telah sesuai

49

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, (Surabaya : Balai Pustaka, 1994). Hlm 503

50

Faustino Cardoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta : Andi Offset, 2003). hlm. 135

51

Henry Simamora, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta : STIE YKPN, 1995), hlm. 409.

(20)

dengan apa yang ditargetkan atau belum. Standar kinerja juga dapat dijadikan sebagai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dilakukan.

Standar kinerja masing-masing orang mempunyai perbedaan sesuai dengan jenis pekerjaan atau profesinya. Standar kinerja mengacu pada tujuan organisasi yang dijabarkan ke dalam tugas-tugas fungsional. Standar kinerja guru akan berbeda dengan standar pegawai industri atau pegawai lainnya. Masing-masing mempunyai kekhususan tugas atau pekerjaan yang berbeda.

Menurut Dale Furtwengler, aspek-aspek yang dapat dijadikan ukuran bagi kinerja seseorang adalah : kecepatan, layanan, kualitas, nilai, terbuka untuk berubah, ketrampilan interpersonal, mental untuk sukses, kreativitas ketrampilan berkomunikasi, inisiatif, perencanaan dan organisasi.52

2. Guru

Guru mempunyai arti orang yang profesinya mengajar.53 Guru disebut juga pendidik yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memeberikan bantuan dan bimbingan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.54 a. Tugas dan Tanggung Jawab Guru

Di samping Kepala Sekolah, guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan. Hal ini berarti seorang guru harus mempunyai kemampuan yang professional sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas, yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan.

Untuk memenuhi tuntutan di atas, guru harus mampu memaknai tugas dan tanggung jawab guru yakni guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing (pendidik) dan guru sebagai administrator kelas.55

52

Dale Fortwengler, Penilaian Kinerja, (Yogyakarta : Andi Offset, 2003), hlm. 86 – 93

53

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua (Surabaya: Balai Pustaka, 1994). hlm 330.

54

Nur Ubiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung : Pustaka Setia, 1997) hlm 71.

55

Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar baru Algesindo, 2004) hlm 15.

(21)

Ketiga tugas guru di atas merupakan tugas pokok profesi guru. Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.

Dalam tugas ini guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis dalam melaksanakan pembelajaran, di samping menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan. Guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada peserta didik dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai. Sedang tugas sebagai administrator kelas pada hakekatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanaan bidang pembelajaran dan ketatalaksanaan bidang lainnya.

b. Standar Kinerja Guru

Kinerja pegawai dalam suatu organisasi ditentukan oleh kemampuan dan motivasi yang dimiliki oleh pegawai itu sendiri. Jika motivasi dan kemampuan tidak ada maka akan mengakibatkan rendahnya kinerja seseorang, sebaliknya jika kemampuan dan motivasinya tinggi seorang pegawai akan bisa menunjukkan kinerja yang baik.

Menurut Nana Sudjana, kompetensi guru dibagi menjadi tiga bidang, yakni:

1) Kompetensi di bidang kognitif artinya kemampuan intelektual serta penguasaan mata pelajaran dan teknik-teknik mengajar.

2) Kompetensi bidang sikap artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya.

3) Kompetensi perilaku (performance) artinya kemampuan dalam berbagai keterampilan / berperilaku.56

56

(22)

Dalam konteks keguruan ada sepuluh kompetensi guru yang dapat dijadikan parameter untuk melihat kinerja guru, yakni:57

1) Menguasai bahan

2) Mengelola program belajar mengajar 3) Mengelola kelas

4) Menggunakan media (sumber belajar) 5) Menguasai landasan pendidikan 6) Mengelola interaksi belajar-mengajar 7) Menilai prestasi belajar

8) Mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan. 9) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah

10) Memahami dan menafsirkan hasil pendidikan guna keperluan pengajaran. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja guru adalah kemampuan guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik yang diukur melalui indikator-indikator : menguasai bahan, mengelola program belajar-mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber belajar, menguasai landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi belajar, mengenal fungsi dan layanan bimbingan yang diperlukan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah dan memahami serta menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.

57

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :