لٌ اَد اَ لِلَّهِع
“Setiap sesuatu yang dilakukan dan diucapkan seorang hamba yang menyebabkan keridhaan Al-Ma'bud/Allah adalah ibadah”.
Adapun hal-hal yang masuk dalam urusan ibadah adalah antara lain: Syahadat, Thaharah/bersuci, Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Nadzar, Urusan Jenazah, dan lain- lain.
Manusia dan Ibadah Haji
D. Muamalat/Transaksi
Yang termasuk urusan muamalat antara lain: jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, utang-piutang, gadai, hibah, wakaf, wasiat, pertanian, perkebunan, perikanan, koperasi, perserikatan, perbankan, tabungan, ekonomi, politik, pendidikan pemerintahan, peperangan, perdamai- an, hubungan dan lain-lain.
E. Munakahat, antara lain:
Pernikahan, perceraian, fasakh, rujuk, nafakah, iddah, hadhanah/pemeliharaan anak, tanggungan keluarga, warisan, kewajiban dan hak yang timbal balik antara suami-istri, dan lain-lain.
F. Jinayat/Hudud (Pidana)
Perzinahan, tuduhan, penganiayaan, pembunuhan, minuman keras/Miras dan Narkoba, pemerkosaan, pemaksaan, penipuan, pemalsuan, penggelapan, penyuapan, penyogokan, kolusi, korupsi, pencurian, perampokan, pemerasan, dan lain-lain.
Dan banyak lagi syari'at Allah selain yang tersebut di atas yaitu berupa perintah, larangan, petunjuk, arahan, penjelasan, pengertian dan pemahaman baik dari ayat-ayat Al- Qur'an maupun dari Hadis Nabi SAW. atau dari sumber hukum Islam lain yang telah disepakati oleh para ahli dan pakar hukum Islam. Hal tersebut dapat menjadi dalil, petunjuk dan rujukan seorang muslim dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT. dalam kehidupannya.
B B AB A B I I II I I
PE P EM MB BA AN NG G UN U NA AN N B B AI A I T T U U LL L LA AH H K KA A' 'B B AH A H
adis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ali bin Husain dari ayahnya Husain bin Ali, r.a, yang tertulis dalam kitab “Akhbar Makkah” oleh Abul Walid Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Azraqy, Juz II halaman 32-34 yang artinya berbunyi demikian:
“Saya bersama ayahku Ali Bin Husein di Mekah ketika kami melakukan Thawaf di Baitullah datanglah seorang laki-laki, Dia meletakkan tangannya di belakang ayahku, lalu ayahku berpaling kepada orang laki-laki itu. Orang laki-laki lalu mengucap salam kepada ayahku dengan ucapannya.
Assalamu'alaikum wahai anak laki-laki dari anak perempuan Rasulullah: Aku ingin bertanya kepadamu, Ayahku diam dan saya beserta orang laki-laki berada di belakangnya sampai selesai
H
thawafnya. Lalu beliau masuk ke Hijir Ismail dan berdiri di bawah Mizab. Dan saya bersama orang laki-laki itu tetap berada di belakangnya lalu beliau shalat sunat thawaf dua rakaat, setelah selesai shalat beliau berpaling kepada saya dan saya duduk di sampingnya. Beliau menanyai saya: Hai Muhammad, di mana orang laki-laki yang bertanya tadi? lalu saya memberi isyarat kepada orang laki-laki itu dan dia datang dan duduk di depan ayah saya. Ayah berkata kepadanya, apa yang engkau tanyakan kepadaku? Dia berkata, Aku bertanya kepadamu tentang permulaan thawaf di rumah Allah ini.
Kenapa, bagaimana dan kapan? Ayahku berkata kepadanya baik dan anda berasal dari mana? dia menjawab, dari penduduk Syam, ayahku bertanya lagi di mana tempat tinggalmu? dia menjawab di Baitul Maqdis, ayahku bertanya lagi apakah anda telah membaca dua kitab (Taurat dan injil). Dia menjawab sudah, lalu ayahku berkata kepadanya. Wahai saudara dari Syam, hafalkan apa yang anda terima dariku dan jangan sekali- kali meriwayatkan dari padaku kecuali yang benar”.
Permulaan Thawaf di Baitullah adalah ketika Allah SWT. berkata kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku menjadikan khalifah di bumi, malaikat berkata: Ya Rabbi apakah khalifah yang bukan dari kami (malaikat). Dia akan membuat kerusakan di bumi, saling menumpahkan darah, saling hasad dan dengki, saling bermusuhan dan saling membenci satu sama lain.
Jadikanlah khalifah itu dari kalangan kami, kami tidak akan membuat kerusakan di bumi, tidak menumpahkan darah, tidak saling hasad, tidak saling membenci, dan tidak saling bermusuhan.
Kami akan mensucikan-Mu, memuji-Mu, memuliakan-Mu, mentaati
Manusia dan Ibadah Haji
perintah-Mu dan tidak berma'siat kepada-Mu”. Allah menjawab perkataan mereka dengan firman-Nya:
لِلَّهِ
إِ دُاَ لْ اَ
اَ لْ دُ اَ لْ اَ اَ اَ
“Sesungguhnya Aku lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak kalian mengetahuinya”.
Malaikat menyangka bahwa apa yang mereka katakan, adalah penolakan atas kehendak Allah, Tuhan mereka Yang Maha Mulia, dan bahwa penolakan mereka itu menjadikan Allah marah kepada mereka. Maka oleh karena itu, mereka datang merendahkan diri di Arasy seraya mengangkat kepala mereka memberi isyarat/memohon dengan anak jari mereka, khusyuk dan tadharru' sambil menangis, penyesalan pada diri karena kemarahan Allah atas mereka. Lalu mereka Thawaf mengelilingi Arasy selama tiga jam (kurun waktu).
Kemudian Allah melihat perbuatan mereka dan merasa kasihan, lalu turunlah rahmat atas mereka dengan membuat rumah di bawah Arasy yang berdiri di atas empat tiang dari permata Zabarzad, dan ditutup dengan permata Yakut berwarna merah dan diberi nama dengan Bait ad- Dhara'ah. Dan Allah memerintahkan malaikat untuk berthawaf di rumah itu dan meninggalkan Arasy.
Lalu malaikat melakukan Thawaf di rumah itu dan meninggalkan Arasy, yang demikian lebih mudah bagi mereka (malaikat) daripada berthawaf di sekeliling Arasy. Rumah itulah Baitul Ma'mur yang disebut oleh Allah SWT., yang dimasuki
oleh tujuh puluh ribu (70.000) malaikat setiap sehari-semalam, hanya satu kali dan tidak akan kembali lagi padanya. Kemudian Allah SWT. mengirim malaikat ke bumi dan memerintahkan- nya untuk membangun sebuah rumah (Baitullah) yang sama dan serupa dengannya dan memerintahkan kepada makhluk ciptaan-Nya di bumi untuk melakukan thawaf di rumah itu sebagaimana makhluk yang ada di langit melakukan thawaf di Baitul Ma'mur.
Orang laki-laki itu lalu berkata: Benar sekali engkau hai anak laki-laki puteri Rasulullah, demikianlah adanya.
Adapun bangunan Baitullah (Ka'bah) yang ada sekarang ini telah melalui sepuluh (10) kali pembangunan, yaitu sebagai berikut:
1. Pembangunan oleh malaikat
2. Pembangunan oleh Nabi Adam a.s.
3. Pembangunan oleh Syith anak Nabi Adam 4. Pembangunan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail 5. Pembangunan oleh Amaliqah
6. Pembangunan oleh Jurhum
7. Pembangunan oleh Qushai bin Kilab 8. Pembangunan oleh Quraisy
9. Pembangunan oleh Abdullah bin Zubair
10.Pembangunan oleh Al-Hajjaj bin Yusuf pada pemerintahan Marwan bin Al-Hakam tahun 73 H hingga sekarang.
Baitullah yang mulia berada di suatu tempat yang paling mulia dan suci di muka bumi. Firman Allah dalam Surat Ali-Imran ayat 96:
Manusia dan Ibadah Haji