• Tidak ada hasil yang ditemukan

تِكۡلٱ َو

Dalam dokumen strategi dakwah islamiyah dalam menumbuhkan (Halaman 31-37)

ۡدَََُ ِر ِخٓ ۡلۡٱ ِم ۡوٌَۡلٱ َو ۦِهِلُس ُر َو ۦِهِبُتُك َو ۦِهِتَكِئََٰٓلَمَو ِ َّللَّٱِب ۡرُفۡكٌَ نَمَو ُِۚلۡبَق نِم َلَزنَأ ٓيِذَّلٱ اًدٌِعَب اََََٰلَض َّلَض

ٖٔٙ

Terjemahannya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.

Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

Menurut Hasan Al-Bana pembahasan aqidah juga meliputi:

a. Ilahiyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan

dengan ilah (tuhan), seperti wujud Allah, nama-nama serta sifat-sifat allah, dan lain-lain.

b. Nubuwwah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan Rasul termasuk mengenai kitab-kitab Allah, mu‟jizat, dan sebagainya.

c. Ruhaniyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang

berhubungan dengan alam metafisik, seperti malaikat, jin, setan, dan ruh.

d. Sam‟iyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui melalui dalil naqli berupa Alqua‟an dan Hadist, seperti alam barzah, akhirat, adzab, dan sebagainya.

Aqidah yang benar merupakan landasan (asas) bagi tegak agama (din) dan diterimanya suatu amal. Allah swt berfirman (Q.S. al-Kahfi:

110)16

ا اَدَحَأ ٓۦِهِّب َر ِةَداَبِعِب ۡك ِر ۡشٌُ َلٗ َو ا احِل ََٰص اََمَع ۡلَمۡعٌَۡلََ ۦِهِّب َر َءٓاَُِل ْاوُج ۡرٌَ َناَك نَمََ

ٔٔٓ

Terjemahannya:

“Maka barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya (di akhirat), maka hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Allah swt juga berfirman, (Q.S. az-Zumar: 65)17

َنِم َّنَنوُكَتَل َو َكُلَمَع َّنَََب ۡحٌََل َت ۡك َر ۡشَأ ۡنِئَل َكِلۡبَق نِم َنٌِذَّلٱ ىَلِإ َو َكٌَۡلِإ ًَ ِحوُأ ۡدََُل َو َنٌ ِرِس ََٰخۡلٱ

ٙ٘

Terjemahannya:

“ Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan

16 Al-Quran suara agung di lengkapi dengan waqaf dan ibtida‟(cet,4;

Jakarta:2016),h.304.

17 Al-Quran suara agung di lengkapi dengan waqaf dan ibtida‟(cet,4;

Jakarta:2016),h.465.

(Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

Mengingat pentingnya kedudukan aqidah di atas, maka para Nabi dan Rasul mendahulukan dakwah dan pengajaran Islam dari aspek aqidah, sebelum aspek yang lainnya. Rasulullah saw berdakwah dan mengajarkan Islam pertama kali di kota Makkah dengan menanamkan nilai-nilai aqidah atau keimanan, dalam rentang waktu yang cukup panjang, yaitu selama kurang lebih tiga belas tahun. Dalam rentang waktu tersebut, kaum muslimin yang merupakan minoritas di Makkah mendapatkan ujian keimanan yang sangat berat. Ujian berat itu kemudian terbukti menjadikan keimanan mereka sangat kuat, sehingga menjadi basis atau landasan yang kokoh bagi perjalanan perjuangan Islam selanjutnya. Sedangkan pengajaran dan penegakan hukum-hukum syariat dilakukan di Madinah, dalam rentang waktu yang lebih singkat, yaitu kurang lebih selama sepuluh tahun. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita mengenai betapa penting dan teramat pokoknya aqidah atau keimanan dalam ajaran Islam.

Aqidah Islam adalah sesuatu yang bersifat tauqifi, artinya suatu ajaran yang hanya dapat ditetapkan dengan adanya dalil dari Allah dan Rasul-Nya. Maka, sumber ajaran aqidah Islam adalah terbatas pada al- Quran dan Sunnah saja. Karena, tidak ada yang lebih tahu tentang Allah kecuali Allah itu sendiri, dan tidak ada yang lebih tahu tentang Allah, setelah Allah sendiri, kecuali Rasulullah saw.

2. .Syari’at

Syari‟at menurut asal katanya berarti jalan menuju mata air, dari asal kata tersebut syari‟at islam berarti jalan yang harus ditempuh seorang muslim. Menurut istilah syari‟at adalah aturan- aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta. “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (Qs, Asy- Syuara:13)18

َنو ُر ََٰه َٰىَلِإ ۡلِس ۡرَأََ ًِناَسِل ُقِلََنٌَ َلٗ َو ي ِر ۡدَص ُقٌ ِضٌَ َو

ٖٔ

Terjemahannya:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang- orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”.

Dari Abu „Abdullah, Jabir bin „Abdullah Al Anshari radhiyallahu anhuma, sungguh ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasululloh

18 Al-Quran suara agung di lengkapi dengan waqaf dan ibtida‟(cet,4;

Jakarta:2016),h.467.

Shallallahu „alaihi wa Sallam : “Bagaimana pendapatmu jika aku melakukan shalat fardhu, puasa pada bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal (melaksanakannya dengan penuh keyakinan), mengharamkan yang haram (menjauhinya) dan aku tidak menambahkan selain itu sedikit pun, apakah aku akan masuk surga?" Rasulullah, “ya” (HR:Muslim) Sahabat yang bertanya kepada Rasulullah ini bernama Nu‟man bin Qauqal Abu „Amr bin Shalah mengatakan bahwa secara zhahir yang dimaksud dengan perkataan “aku mengharamkan yang haram” mencakup dua hal, yaitu meyakini bahwa sesuatu itu benar-benar haram dan tidak melanggarnya. Hal ini berbeda dengan perkataan

“menghalalkan yang halal”, yang mana cukup meyakini bahwa sesuatu benar- benar halal saja. Pengarang kitab Al Mufhim mengatakan secara umum bahwa Rasulullah tidak mengatakan kepada penanya di dalam Hadits ini sesuatu yang bersifat tathawwu‟ (sunnah). Hal ini menunjukkan bahwa secara umum boleh meninggalkan yang sunnah. Akan tetapi, orang yang meninggalkan yang sunnah dan tidak mau melakukannya sedikit pun, maka ia tidak memperoleh keuntungan yang besar dan pahala yang banyak. Akan tetapi, barang siapa terus-menerus meninggalkan hal- hal yang sunnah, berarti telah berkurang bobot agamanya dan berkurang pula nilai kesungguhannya dalam beragama. Barang siapa meninggalkan yang sunnah karena sikap meremehkan atau membencinya, maka hal itu merupakan perbuatan fasik yang patut dicela.

Para ulama kita berpendapat : “Bila penduduk suatu negeri bersepakat meninggalkan hal yang sunnah, maka mereka itu boleh diperangi sampai mereka sadar. Hal ini karena pada masa sahabat dan sesudahnya, mereka sangat tekun melakukan perbuatan-perbuatan sunnah dan perbuatan-perbuatan yang dipandang utama untuk menyempurnakan perbuatan-perbuatan wajib. Mereka tidak membedakan antara yang sunnah dan yang fiqih dalam memperbanyak pahala. Para imam ahli fiqih perlu menjelaskan perbedaan antara sunnah dan wajib hanya untuk menjelaskan konsekuensi hukum antara yang sunnah dan yang wajib jika hal itu ditinggalkan. Nabi Muhammad tidak menjelaskan perbedaan sunnah dan wajib adalah untuk memudahkan dan melapangkan, karena kaum muslim masih baru dengan Islamnya sehingga dikhawatirkan membuat mereka lari dari Islam. Ketika telah diketahui kemantapannya di dalam Islam dan kerelaan hatinya berpegang kepada agama ini, barulah Nabi Muhammad menggalakkan perbuatan- perbuatan sunnah. Demikian juga dengan urusan yang lain. Atau dimaksudkan agar orang tidak beranggapan bahwa amalan tambahan dan amalan utama keduanya merupakan hal yang wajib, sehingga jika meninggalkan konsekuensinya sama. Sebagaimana yang diriwayatkan pada hadits lain, bahwa ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad tentang shalat, kemudian Nabi Muhammad memberitahukan bahwa shalat itu lima waktu, lalu orang itu bertanya lagi : “Apakah ada kewajiban bagiku selain itu?”, Beliau menjawab : “Tidak, kecuali engkau

melakukan (shalat yang lain) dengan kemauan sendiri”. Orang itu kemudian bertanya tentang puasa, haji dan beberapa hukum lain, lalu beliau jawab semuanya, kemudian, di akhir pembicaraan orang itu berkata : “Demi Allah, aku tidak akan menambah atau mengurangi sedikitpun dari semua itu”. Nabi Muhammad bersabda “Dia akan beruntung jika benar”,

“Jika ia berpegang dengan apa yang telah diperintahkan kepadanya, niscaya ia masuk surga”. Artinya, bila ia memelihara hal-hal yang diwajibkan, melaksanakan dan mengerjakan tepat pada waktunya, tanpa mengubahnya, maka dia mendapatkan keselamatan dan keberuntungan yang besar, alangkah baiknya bila kita dapat berbuat seperti itu. Barang siapa dapat mengerjakan yang wajib lalu diiringi dengan yang sunnah, niscaya dia akan mendapatkan keberuntungan yang lebih besar.

Pada garis besarnya hukum Syari‟at terbagi menjadi dua dalam kaidah fiqih:

a. .Ibadah

Para Ulama salaf menetapkan kaidah dalam pengambilan hukum Ibadah dengan menggunakan dalil (Al Qur‟an dan Sunnah) karena pada dasarnya Ibadah itu haram sebelum ada dalil (Al Qur‟an dan Sunnah) yang memerintahkanya

ةدابلإا ًَ لصلۡا

Dalam dokumen strategi dakwah islamiyah dalam menumbuhkan (Halaman 31-37)

Dokumen terkait