• Tidak ada hasil yang ditemukan

ك َ ّٰهلا َر َ

كَذ َو َرِخَ ْ لا َمْوَي ْ

لاَو

“Sudah ada bagimu pada diri Rasulullah teladan yang baik, yakni bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21).

Dalam QS. Al-Ahzab, 21 di atas, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah uswatun hasanah, teladan yang baik. Kisah hidupnya adalah cermin spiritual dan moral bagi seluruh manusia. Kata dan lakunya menebarkan wangi kebajikan. Rasulullah adalah teladan. Rasulullah adalah Maha guru dari semua guru untuk digugu dan ditiru. Ia mengajarkan umat manusia bagaimana bersabar dalam cobaan, menahan hawa amarah, membalas keburukan dengan kasih sayang.

Kala hina dan cela orang-orang Thaif menderanya, Rasulullah justru mengulas senyum dan doa kedamaian. “Ya Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya timpakan gunung itu kepada mereka, demikian “pinta Malaikat penjaga gunung karena geram atas hinaan pada Rasulullah. namun apa jawab Rasulullah SAW “Tidak usah wahai malaikat, mereka hanyalah orang- orang yang belum tahu. Bahkan Rasulpun mendoakan mereka

“Allohummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun” Ya Allah berikanlah petunjuk kepada mereka ya Allah bukakan hati mereka, karena mereka belum mengetahui.

Demikian Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah, betapa Nabi yang Agung itu mengajarkan kepada umatnya kesabaran dan kasih sayang. Sebab, cahaya Islam akan tersingkap dengan laku dan kata yang bijak. Islam akan bercahaya dengan umatnya yang meneladani Manusia Terbaik di muka bumi ini. Kata kotor, tingkah laku yang kasar, caci maki dan benci justru akan menjauhkan manusia dari cahaya Islam.

Kita seyogyanya malu, jika cahaya Islam itu terhalang oleh perilaku kita yang tidak mencontoh akhlak Nabi Muhammad saw.

Muhammad Abduh, ulama Mesir awal abad ke-20, menyindir perilaku umat Islam yang jauh dari teladan Nabi. “Al-islâmu mahjûbun bil muslmîn (Kemegahan dan keindahan Islam terhalang atau tertutupi oleh umat Islam itu sendiri)”.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Nabi kita, Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lagi sesudah beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang mulia dengan syafa’at-Nya pada hari kiamat kelak. Itulah di antara keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim punya kewajiban mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari makhluk lainnya. Inilah landasan pokok iman. Dan itulah yang harus dimiliki setiap muslim yaitu hendaklah Nabinya lebih dia cintai dari makhluk lainnya. Mari kita simak bersama firman Allah Ta’ala dalam surah al-Taubah: 24. ‘Auzubillahi minassyaithonirrojim

ْمُكُتَرْيِشَعَو ْمُكُجاَوْز َ أَو ْم ُ

كُنا َوْخِإ َو ْم ُ كُؤآَنْب َ

أَو ْم ُ

كُؤآَبأ َنا َ ك ْنِإ ْ

ل ُ ق اَهَنْو َضْرَت ُنِكا َسَمَو اَهَدا َس ك َنْو َشْخَت ٌةَراَجِتَو اَهْوُمُتْفَرَتْقا ٌلاَوْمَأَو َ ىّتَح اْو ُصَّبَرَتَف هِلْيِب َس ْيِف ٍداَهِجَو هِلوُسَر َو ِ ّٰهلا َنِم ْم ُ

كْي َ

لِإ َّبَح َ

َنْيِقِساَفْلا َمْوَقْلا يِدْهَي َلا ُ ّٰهلا َو ِهِرْم َ أ

أِب ُ ّٰهلا َيِت ْ أَي

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul- Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Ibnu Katsir mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”

Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasul dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya.

Pertanyaannya kemudian adalah apa tanda cinta kepada nabi kita Nabi MuhammadSAW? Para ulama sepakat bahwa tanda cinta kepada sesuatu atau seseorang itu adalah sering mengingat dan menyebutnya. Maka tanda kita cinta kepada Nabi kita adalah selalu menyebutnya dan senantiasa mengingatnya sebagaimana sebuah kata hikmah menyatakan: هِرْكِذ ْنِمَرَثْكَأ ًأْي َش َّبَحَأ ْنَم (Siapa yang mencintai sesuatu maka ia banyak menyebutnya). Aktualisasi cinta kita kepada Rasulullah tentunya dengan menyebut dan mengungatnya setiap saat yakni dengan menjalankan segala ajaran-ajaran beliau, melaksanakan sunnah-sunnah beliau serta meneladani akhlak beliau.

Setiap orang yang mencintai, hatinya selalu terkenang akan yang dicintainya, lidahnya selalu menyebut nama dan keelokannya disetiap ruang dan waktu, tanpa henti dan tanpa terlewatkan.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Ada beberapa cara untuk melatih kita agar senantiasa mengingat Rasulullah, di antaranya adalah :

Pertama, rajin dalam melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sambil mengenang bahwa apa yang beliau kerjakan sekarang adalah pernah dilaksanakan oleh Rasulullah, atau dalam bahasa yang lebih indahnya adalah ًانِطاَبَواًرِهاَظ ِّيِبَّنلِل ًةَعَباَتُم, mengikut kepada Nabi zhahir dan bathin. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT :

ْمُكَبْوُنُذ ْمُكَلْرِفْغَيَو ُ ّٰهلا ُمُكْبِبْحُي ْيِنْوُعِبَّتاَف َ ّٰهلا َنْوُّبِحُت ْمُتْنُك ْنِإ ْلُق

Katakan wahai Muhammad kepada umatmu: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada dasarnya adalah untuk belajar banyak dari perilaku beliau untuk kita tiru,

turuti, dan ikuti secara konsekuen, bagaimana perkataan dan perbuatan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW sebagaimana hadits Nabi :

اًر ْشَع اَهبِ ِهْي َ

لَع ُ ّٰهلا ى َّ

ل َص ًة َدِحاَو ًةَلا َص َّي َ لَع ى َّ

ل َص ْنَم

Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah akan bershalawat (menurunkan rahmat) kepadanya sepuluh kali.

Membaca shalawat selain merupakan tanda cinta kepada nabi, ia juga menyebabkan turunnya rahmat Allah kepada kita. Semoga dengan rahmat Allah itulah kita nantinya akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga-Nya. Amien Ya Rabbal Alamin

Jamaah Jum’at Rahimakumullah!

Cinta bukanlah hanya klaim semata. Semua cinta harus dengan bukti. Di antara bentuk cinta kita kepada Nabi shallallahu

‘alaihi wa sallam adalah al-ittiba’ (mengikuti), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena ingatlah, ketaatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah buah dari kecintaan. Penyair Arab mengatakan:

عْيِطُم ُّبِحُي ْنَمِل َّبِحُملا َّنِإ * ُهَتْع َط َ لأَ ً

اقِدا َص َكُّبُح َنا َ ك ْو َ

ل

Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau akan mentaatinya Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya

Akhirnya marilah kita selalu berusaha untuk terus meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw dengan memperbaiki akhlak, perilaku, tutur kata, sikap, dan kepribadian kita. Semoga Allah akan melimpahkan rahmat-Nya untuk kita semua amin.

ِهْيِف اَمِب ْمكاَّيِاَو ْيِنع َفَنَو . ِم ْيِظَعلا ِنَاْرُقْلا ىِف ْمُكَلَو ْيِل ُ ّٰهلا َكَراَب

ُهَّنِا ُهَتَو َلات ْمُكْنمَو ْيِّنِم َلَّبَقَتَو . ِمْيِكَحْلا ِر ْ

كِ ّ

Dokumen terkait