)
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari jalur Syu’bah dari ‘ashim bin
‘Ubaidillah,dari Abdillah bin Amir bin Rabi’ah, dari ayahnya bahwasanya seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mahar sepasang sandal.
UJI PUBLIK
Kemudian at-Tirmidzi berkata,”pada bab ini juga diriwayatkan (hadis yang sama) dari ‘Umar, Abi Hurairah,Aisyah dan Abi Hadrad.”Jalur ‘Ashim didha’ifkan karena buruk hafalannya, kemudian hadis ini dihasankan oleh at- Tirmidzy melalui jalur riwayat yang lain.
Kitab-kitab Yang Memuat Hadis Hasan
Para ulama hadis tidak membukukan kitab khusus yang memuat hadis hasan sebagaimana mereka membukukan hadis sahih dalam satu kitab. Akan tetapi terdapat kitab yang sekiranya memuat banyak hadis hasan di dalamnya, di antaranya;
a. Sunan at-Tirmidzy b. Sunan Abu Daud c. Sunan ad-Dar Quthny 3. Hadis Dhaif
Dhoif secara bahasa adalah kebalikan dari kuat yaitu lemah, sedangkan secara istilah yaitu;
اَم
ْ مَل ْ
ْ عَم جَي ْ
ْ ةَف ِص ْ
، ِنَسَح لا ْ
ِْد قَفِب ْ
ِْط رَش ْ
ْ ن ِم ْ
ِْهِط و ر ش ْ
“Apa yang sifat dari hadits hasan tidak tercangkup (terpenuhi) dengan cara hilangnya satu syarat dari syarat-syarat hadits hasan.”
Dengan demikian, jika hilang salah satu kriteria saja, maka hadits itu menjadi tidak shahih atau tidak hasan. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua atau tiga syarat maka hadits tersebut dapat dinyatakan sebagai hadits dhai’if yang sangat lemah. Karena kualitasnya dha’if, maka sebagian ulama tidak menjadikannya sebagai dasar hukum.
Adapun penyebab kedhoifannya karena beberapa hal:
a. Sebab terputusnya sanad secara nyata
1) Mu’allaq adalah apa yang dibuang dari permulaan sanad baik satu rawi atau lebih secara berurutan.
2). Mursal adalah apa yang terputus dari akhir sanadnya yaitu orang sesudah tabi’in (Sahabat).
UJI PUBLIK
148
AL-QUR’AN HADIS KELAS X3). Mughdhal adalah apa yang terputus dari sanadnya 2 atau lebih secara berurutan.
4). Munqoti’ adalah apa yang sanadnya tidak tersambung.
b. Terputus secara khofi (tersembunyi) yaitu:
1) Mudallas adalah menyembunyikan cacat (‘aib) pada sanadnya dan memperbagus untuk dzohir haditsnya.
2) Mursal Khofi adalah meriwayatkan dari orang yang ia bertemu atau sezaman dengannya apa yang ia tidak pernah dengar dengan lafadz yang memungkinkan ia dengar dan yang lainnya seperti qaala.
c. Sebab penyakit pada rawi
Penyakit pada rawi terbagi atas 2 penyakit tentang ketaqwaan yang meliputi :
1). Pendusta 2). Tertuduh dusta 3). Fasiq
4). Bid’ah 5). Kebodohan
Dan penyakit pada dhobit (hafalan ) yang meiputi:
1). Jelek hafalannya 2). Lalai
3). Menyelisihi yang tsiqat 4). Ucapan yang menipu Klasifikasi Hadis Dha’if
a. Dha’if karena tidak bersambung sanadnya.
1). Hadis Munqathi
Hadits yang gugur sanadnya di satu tempat atau lebih, atau pada sanadnya disebutkan nama seseorang yang tidak dikenal.
2). Hadis Mu’allaq
Hadis yang rawinya digugurkan seorang atau lebih dari awal sanadnya secara berturut-turut.
3). Hadis Mursal
UJI PUBLIK
Hadis yang gugur sanadnya setelah tabi’in. Yang dimaksud dengan gugur di sini, ialah nama sanad terakhir tidak disebutkan. Padahal sahabat adalah orang yang pertama menerima hadis dari Rasul saw.
3). Hadis Mu’dhal
Hadits yang gugur rawinya, dua orang atau lebih, berturut-turut, baik sahabat bersama tabi’i, tabi’i bersama tabi’ al-tabi’in maupun dua orang sebelum shahabiy dan tabi’iy.
4). Hadis Mudallas
Hadis yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan bahwa hadits itu tidak terdapat cacat.
b. Dha’if karena tiadanya syarat adil 1). Hadis al-Maudhu’
Hadits yang dibuat-buat oleh seorang (pendusta) yang ciptaannya dinisbatkan kepada Rasulullah secara paksa dan dusta, baik sengaja maupun tidak.
2). Hadis Matruk dan Hadits Munkar
Hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta (terhadap hadits yang diriwayatkannya), atau tampak kefasikannya, baik pada perbuatan ataupun perkataannya, atau orang yang banyak lupa maupun ragu.
c. Dha’if karena tiadanya Dhabit.
1). Hadis Mudraj
Hadis yang menampilkan (redaksi) tambahan, padahal bukan (bagian dari) hadits
2). Hadis Maqlub
Hadis yang lafaz matannya terukur pada salah seorang perawi, atau sanadnya. Kemudian didahulukan pada penyebutannya, yang seharusnya disebutkan belakangan, atau mengakhirkan penyebutan, yang seharusnya didahulukan, atau dengan diletakkannya sesuatu pada tempat yang lain.
UJI PUBLIK
150
AL-QUR’AN HADIS KELAS X 3). Hadis MudhtharibHadis yang diriwayatkan dengan bentuk yang berbeda padahal dari satu perawi dua atau lebih, atau dari dua perawi atau lebih yang berdekatan tidak bisa ditarjih.
4). Hadis Mushahhaf dan Muharraf
Hadis Mushahhaf yaitu hadits yang perbedaannya dengan hadits riwayat lain terjadi karena perubahan titik kata, sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah. Hadits Muharraf yaitu hadits yang perbedaannya terjadi disebabkan karena perubahan syakal kata sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah.
d. Dha’if karena Kejanggalan dan kecacatan 1). Hadis Syadz
Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang maqbul, akan tetapi bertentangan (matannya) dengan periwayatan dari orang yang kualitasnya lebih utama.
2). Hadis Mu’allal
Hadis yang diketahui ‘Illatnya setelah dilakukan penelitian dan penyelidikan meskipun pada lahirnya tampak selamat dari cacat
e. Dha’if dari segi matan 1). Hadits Mauquf
Hadis yang diriwayatkan dari para sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan, atau taqrirnya. Periwayatannya, baik sanadnya bersambung maupun terputus.
2). Hadits Maqthu
Hadis yang diriwayatkan dari tabi’in dan disandarkan kepadanya, baik perkataan maupun perbuatannya. Dengan kata lain, hadits maqthu adalah perkataaan atau perbuatan tabi’in.
Kehujahan Hadits Dhoif
Khusus hadits dhaif, maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan, dengan beberapa syarat:
UJI PUBLIK
1. Level Kedhaifannya Tidak Parah
Hadis dhaif sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan.
Maka menurut para ulama, masih ada di antara hadis dhaif yang bisa dijadikan hujjah, asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram).
Hadis yang level kedhaifannya tidak terlalu parah, boleh digunakan untuk perkara fadahilul a’mal (keutamaan amal).
2. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih
Maksudnya hadis yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a’mal, harus didampingi dengan hadits lainnya. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih.
3. Ketika Mengamalkannya, Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabit-annya
Maksudnya, ketika kita mengamalkan hadis dhaif itu, kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW.
PERILAKU YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS SHAHIH Sebagai seorang Muslim yang berpegang teguh kepada hadis shahih, kita hendaknya tidak menggampangkan persoalan-persoalan yang sudah termaktub di dalam hadis-hadis shohih baik berupa perintah maupun larangan.
Perintah-perintah yang termaktub di dalam hadis shahih antara lain adalah perintah untuk mengimani rukun iman. Kita tidak boleh sekehendaknya menambah atau mengurangi rukun iman yang sesuai ajaran hadis: