tingkatan memaksa, misalnya: berkumur dan mema- sukkan air ke hidung secara berlebihan di siang hari pada saat berpuasa karena dikhawatirkan air akan masuk ke rongga kerokongan dan tertelan, berada di hadapan massa setelah memakan makanan yang menimbulkan bau yang tidak sedap.
Tuntutan hukum ini untuk meninggalkan suatu perbuatan, tetapi tuntutan itu diungkapkan melalui diksi bahasa isyarat yang tidak bersifat memaksa, karena seseorang dituntut untuk meninggalkan per- buatan semacam ini supaya terhindar dari hukuman.
Akibat dari tuntutan ini disebut juga karanah, missal- nya hadis Nabi:
ُﺪﱠﻤَُﳏ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ﱡﻲِﺼْﻤِْﳊا ٍﺪْﻴَـﺒُﻋ ُﻦْﺑ ُﲑِﺜَﻛ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﻴَـﺒُﻋ ْﻦَﻋ ٍﺪِﻟﺎَﺧ ُﻦْﺑ
َلﺎَﻗ َﺮَﻤُﻋ ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ٍرﺎَﺛِد ِﻦْﺑ ِبِرﺎَُﳏ ْﻦَﻋ ﱢِﰲﺎﱠﺻَﻮْﻟا ِﺪﻴِﻟَﻮْﻟا َلﺎَﻗ
ُق َﻼﱠﻄﻟا ِﻪﱠﻠﻟا َﱃِإ ِل َﻼَْﳊا ُﺾَﻐْـﺑَأ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر )
ﻦﺑإ
ﻪﺟﺎﻣ (
Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Ubaid al Himshi berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalid dari Ubaidullah bin al Walid al Washshafi dari Muharib bin Ditsar dari Abdullah bin Umar ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda:
"Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak."
(HR. Ibn Majah).
Pada umumnya makruh dibagi:
a. Makruh tanzih, yaitu segala perbuatan apabila di- tinggalkan lebih baik daripada dikerjakan, seperti:
meninggalkan untuk mengakhirkan waktu berbuka puasa.
b. Makruh tahrim, yaitu segala perbuatan yang dila- rang, tetapi dalil yang melarangnya itu dhanni, bukan qath’i, misalnya: merokok dan memakan daging ular (menurut madzhab Hanafiyah dan Malikiyah).
5. Tahrim/Haram, secara etimologi berarti yang dilarang. Sedangkan secara terminologi kata haram berarti sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul- Nya apabila orang melanggarnya/mengerjakannya dianggap berdosa, dan orang yang meninggalkannya diberi pahala. Atau sesuatu yang jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala dan jika dilakukan akan mendapatkan siksa. Tuntutan hukum ini adalah untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan tuntutan yang memaksa.
ٍقﻼْﻣِإ ْﻦِﻣ ْﻢُﻛَدﻻْوَأ اﻮُﻠُـﺘْﻘَـﺗ ﻻَو
Jangan kamu membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah. (QS Surah al-An’am:6:151).
Khitab (titah) ayat ini disebut dengan tahrim, dan akibat dari tuntutan ini disebut hurmah, dan perbuatan yang dituntut untuk ditinggalkan, yaitu membunuh jiwa seseorang disebut dengan haram.
H. Abd. Kadir 161 Tuntutan yang seperti ini dapat diketahui melalui lafal nash yang jelas.
ُﺔَﻘِﻨَﺨْﻨُﻤْﻟاَو ِﻪِﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِْﲑَﻐِﻟ ﱠﻞِﻫُأ ﺎَﻣَو ِﺮﻳِﺰْﻨِْﳋا ُﻢَْﳊَو ُمﱠﺪﻟاَو ُﺔَﺘْﻴَﻤْﻟا ُﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْﺖَﻣﱢﺮُﺣ َﺢِﺑُذ ﺎَﻣَو ْﻢُﺘْﻴﱠﻛَذ ﺎَﻣ ﻻِإ ُﻊُﺒﱠﺴﻟا َﻞَﻛَأ ﺎَﻣَو ُﺔَﺤﻴِﻄﱠﻨﻟاَو ُﺔَﻳﱢدَﺮَـﺘُﻤْﻟاَو ُةَذﻮُﻗْﻮَﻤْﻟاَو َـﺘْﺴَﺗ ْنَأَو ِﺐُﺼﱡﻨﻟا ﻰَﻠَﻋ ٌﻖْﺴِﻓ ْﻢُﻜِﻟَذ ِمﻻْزﻷﺎِﺑ اﻮُﻤِﺴْﻘ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. (QS. al-Maidah:5:3).
a. Haram li dzatihi, ialah haram karena perbuatan itu sendiri, atau haram karena zatnya. Hukum keha- raman sesuatu telah ditetapkan tanpa dikaitkan dengan sesuatu yang lain, seperti: zina, mencuri, dan lain-lainnya.
b. Haram li gairihi, ialah haram karena berkaitan de- ngan perbuatan lain, atau haram karena faktor lain yang datang kemudian. Misalnya: memakan daging binatang ternak pada dasarnya halal, tetapi menjadi haram kalau penyembelihannya tidak dilakukan dengan menyebut nama Allah.
E. Hukum Wadl’i
Hukum wadl’i ialah hukum yang berhubungan dengan sebab, syarat atau mani’ (penghalang) untuk dijadikan sebagai faktor terimplementasinya dari sesuatu perintah atau larangan. Hukum wadl’i adalah ketentuan syari’at dalam bentuk penetapan sesuatu sebagai sebab, syarat dan mani’ perintah atau larangan.
1. Macam-Macam Hukum Wadl’i a. Sebab
Sebab menurut bahasa berarti sesuatu yang bisa menyampaikan seseorang kepada sesuatu yang lain atau dengan perkataan lain adalah sesuatu yang bergantung kepadanya suatu hukum.
Secara terminologi sebab: sesuatu yang dijadikan oleh syari’at sebagai tanda bagi adanya hukum, dan tidak adanya sebab sebagai tanda bagi tidak adanya hukum. Oleh karena itu, keberadan sebab dijadikan tanda adanya hukum dan ketiadaan sebab dijadikan tanda tidak adanya hukum, atau sebab sebagai latar belakang untuk melakukan atau meinggalkan tindakan hukum.
Misalnya akad nikah menjadi sebab halalnya hubungan suami isteri; sebab masih usia menjadi sebab tidak wajibnya khitab (titah/perintah agama) padanya.
Dengan lantaran adanya sebab maka timbul akibat hukum. Sebaliknya, ketiadaan sebab menyebabkan ketiadaan akibat hukum. Apabila sesuatu ada/tampak, maka menjadi tanda ada- nya hukum yang berhubungan dengan sebab itu.
H. Abd. Kadir 163 a). Sebab kadang-kadang menjadi sebab pada timbulnya hukum taklifi. Misalnya: sebab meminjam sesutu kepada orang lain, maka wajib barang itu dikembalikan.
b). Kadang-kadang sebab itu menjadi sebab untuk menetapkan kepemilikan, atau sebalik- nya. Seperti jual beli sebagai sebab kepemili- kan sesuatu dan atau kehilangan kepemilikan:
membayar untuk kemerdekaan seorang budak menjadi sebab kepemilikan bagi pembelinya tetapi juga menggugurkan kepemilikan bagi penjualnya.
c). Kadang-kadang sebab itu berupa perbuatan yang mampu dirancang dan dilakukan orang mukallaf, seperti membunuh secara sengaja menjadi sebab kewajiban qishash.
d). Kadang-kadang sebab berupa sesuatu yang kondisi tanpa rekayasa manusia. Sebab dalam kategori ini sebagai sunnatullah fi khalqih/
ketetapan Allah terhadap makhluknya (hu- kum alam). Misalnya, sebab adanya kelahiran anak sebelum shalat id al fitri maka timbul kewajiban mebayar zakat fitrah.
2. Syarat
Syarat menurut bahasa adalah sesuatu yang meng- hendaki adanya sesuatu yang lain atau sebagai tanda. Sedangkan menurut istilah ushul fiqh: syarat adalah sesuatu yang tergantung kepadanya adanya sesuatu yang lain, dan sesuatu yang lain itu berada
di luar dari hakikat sesuatu itu. Dalam kalimat lain syarat ialah sesuatu yang harus ada untuk terlak- sananya hukum syara’ karena terlaksananya hukum syara’ bergantung kepadanya. Adanya yang disya- ratkan menjadikan tuntutan adanya syarat, tetapi adanya syarat belum tentu menjadikan adanya yang disyaratkan, seperti: wudlu’ menjadi syarat bagi sahnya shalat, dan orang yang akan melak- sanakan shalat harus berwudlu’ terlebih dahulu, namun adanya wudlu’ belum pasti adanya shalat, orang berwudlu tidak harus melaksanakan shalat.
a. Syarat syar’i, yaitu syarat yang datang langsung dari syariat sendiri, seperti orang mau melaksa- nakan shalat harus melakukan wudlu’ terlebih dahlu sebagai syaratnya.
ْﻢُﻜَﻫﻮُﺟُو اﻮُﻠِﺴْﻏﺎَﻓ ِةﻼﱠﺼﻟا َﱃِإ ْﻢُﺘْﻤُﻗ اَذِإ اﻮُﻨَﻣآ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ ﺎَﻳ ِْﲔَـﺒْﻌَﻜْﻟا َﱃِإ ْﻢُﻜَﻠُﺟْرَأَو ْﻢُﻜِﺳوُءُﺮِﺑ اﻮُﺤَﺴْﻣاَو ِﻖِﻓاَﺮَﻤْﻟا َﱃِإ ْﻢُﻜَﻳِﺪْﻳَأَو
َﺳ ﻰَﻠَﻋ ْوَأ ﻰَﺿْﺮَﻣ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْنِإَو اوُﺮﱠﻬﱠﻃﺎَﻓ ﺎًﺒُﻨُﺟ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْنِإَو َءﺎَﺟ ْوَأ ٍﺮَﻔ
اﻮُﻤﱠﻤَﻴَـﺘَـﻓ ًءﺎَﻣ اوُﺪَِﲡ ْﻢَﻠَـﻓ َءﺎَﺴﱢﻨﻟا ُﻢُﺘْﺴَﻣﻻ ْوَأ ِﻂِﺋﺎَﻐْﻟا َﻦِﻣ ْﻢُﻜْﻨِﻣ ٌﺪَﺣَأ ُﻪْﻨِﻣ ْﻢُﻜﻳِﺪْﻳَأَو ْﻢُﻜِﻫﻮُﺟُﻮِﺑ اﻮُﺤَﺴْﻣﺎَﻓ ﺎًﺒﱢﻴَﻃ اًﺪﻴِﻌَﺻ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
H. Abd. Kadir 165 buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertaya- mumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS:al Maidah:5:6)
b. Syarat ja’ly, yaitu syarat yang datang dari kemauan orang mukallaf itu sendiri. Atau syarat yang ditetapkan sendiri oleh para mukallaf tan- pa harus ditentukan oleh pihak lain. Orang yang akan melaksanakan perkawinan adalah orang yang menetapkan sendiri maharnya. Kualitas dan kuantitas mahar yang akan dibayarkan keti- ka akad nikah ditetapkan sendiri oleh mempelai.
Atau orang yang akan memerdekan budak me- netapkan sendiri syarat-syaratnya. Syarat-syarat untuk memerdekakan budak ditetapkan sendiri oleh majikannya.
3. Mani’ (penghalang)
Kata mani’ secara etimologi berarti penghalang dari sesuatu. Secara terminologi, kata mani’ berarti sesuatu yang ditetapkan syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum atau penghalang bagi berfung- sinya suatu sebab. Suatu hukum yang sudah jelas ketentuannya bisa menjadi tidak efektif karena adanya penghalang untuk pelaksanannya. Atau
mani’ adalah keberadannya meniadakan hukum atau membatalkan sebab.
Dalam suatu masalah, kadang sebab syara’ sudah jelas dan memenuhi syarat-syaratnya, tetapi dite- mukan adanya mani’ (penghalang) yang mengha- langi konsekuensi hukum atas masalah tersebut.
Halangan disini mempunyai arti sesuatu yang dapat menghalangi konsewensi hukum, yaitu sifat keberadaannya menyebabkan tidak berlakunya hukum, seperti pelaksanaan perintah shalat ter- halang/dicegah karena yang bersangkutan lagi haidl atau nifas. Berpuasa wajib di bulan Ramadlan bisa ditinggalkan bila dalam adanya penghalang yang berupa sakit. Pembunuh tidak mendapatkan wari- san dari yang terbunuh sungguhpun mereka masih kerabat dan masuk ahli waris.
a. Mani’ al-hukm, yaitu sesuatu yang ditetapkan syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum.
Misalnya, keadaan haid bagi wanita ditetapkan Allah sebagai mani’ bagi wanita untuk melaku- kan shalat, dan oleh karena itu shalat tidak wajib dilakukannya ketika haid dan suami dila- rang berkumpul dengan isterinya karena haid.