Bab V Kesimpulan dan Saran
IV- 11 1. Pembebasan Lahan
Faktor utama yang menjadi sebab keterlambatan proyek pembangunan jalur KA lintas Makassar-Parepare segmen 3 adalah faktor pembebasan lahan. Kontrak kerja yang disepakati antara PPK dan kontraktor terjadi pada saat kondisi lahan belum bebas, hal ini mengakibatkan kontraktor mulai bekerja pada saat kontrak sudah berjalan selama enam bulan. Selama masa konstruksi proses pembebasan lahan terus berlangsung sehingga rencana kerja kontarktor disesuaikan dengan progress pembebasan lahan yang tidak menentu. Dengan kondisi tersebut progress konstruksi akan mengikuti progress pembebasan lahan selalu terlambat dari waktu yang di targetkan. Berdasarkan kondisi pada proyek pembangunan jalur KA lintas Makassar-Parepare segmen 3 yang terkendala karena masalah pembebasan lahan maka saran untuk proyek selanjutnya adalah proses konstruksi sebaiknya dilaksanakan pada saat lahan sudah bebas atau jika pembebasan lahan berjalan bersamaan dengan proses konstruksi maka target pembebasan lahan harus sesuai agar rencana kerja sesuai target.
Pada pekerjaan pembangunan jalur KA lintas Makassar-Parepare terdapat faktor yang paling berpengaruh terhadap progress konstruksi, faktor tersebut adalah pembebasan lahan. Dimana proses pembebasan lahan masih berlangsung selama masa pelaksanaan konstruksi sehingga rencana kerja kontraktor disesuaikan dengan perkembangan pembebasan lahan. Secara umun progress konstruksi akan berbanding lurus dengan pogress pembebasan lahan. Berikut perbandingan antara progress
IV-12
konstruksi dengan progresss pembebasan lahan pada proyek pembangunan jalur KA lintas Makassar-Parepare segmen 3 di wilayah kabupaten Pangkep selama masa konstruksi yaitu dari bulan Oktober tahun 2019 sampai dengan bulan September 2021.
Gambar 4. 4 Hubungan antara progress rencana dan realisasi proyek jalan KA Maros-Pangkep
Berdasarkan grafik hubungan antara progress konstruksi dan progress lahan diatas terdapat beberapa kondisi yang perlu di jelaskan lebih detail antara lain :
1. Pada bulan Desember tahun 2020 progres konstruksi mengalami penurunan, hal ini dikarenakan terjadi addendum tambah kurang pekerjaan yang mengakibatkan progress konstruksi menurun
2. Pada bulan Oktober 2020 s.d bulan Mei tahun 2021 progres pembebasan lahan tidak mengalami peningktan namun jika melihat
IV-13
pada progres konstruksi mengalami peningkatan, hal ini terjadi karena pada periode waktu tersebut kontraktor focus mengerjakan pekerjaan sipil dan jembatan
Berdasarkan grafik hubungan antara progres konstruksi dan pembebasan lahan dapat disimpulkan bahwa progress konstruksi berbanding lurus sehingga keterlambatan proyek yang terjadi pada pembangunan jalur KA lintas Makassar-Parepare segmen 3 di wilayah Kabupaten Pangkep disebabkan karena pembebasan lahan yang tidak tepat waktu
2. Pemilihan Metode Kerja
Berdsarkan hasil pengamatan pelakasanaan pekerjaan beton bertulang, secara rata-rata produktivitas kontraktor rendah, hal ini dapat terjadi karena beberapa hal yaitu :
a. Metode pekerjaan yang kurang tepat, contoh kasus dalam hal ini adalah pada pelaksanaan pekerjaan abutment jembatan dimana kontraktor Sebagian besar tidak menggunakan sheet pile baja sehingga sering terjadi kelongsoran dan kebocoran yang mengakibatkan pekerjaan sering terhambat
b. Pelaksanaan pekerjaan timbunan badan jalan KA yang dilaksanakan oleh kontraktor Maros-Pangkep menggunkan satu jalan akses dengan area pekerjaan hanya focus di satu tempat. Hal tersebut mengakibatkan mobilisasi material tanah timbunan kurang lancar
IV-14
karena akses masuk dan keluar kendaraan pengangkut material tanah timbunan berada dalam satu jalan akases. Berikut ilustrasi metoda kerja pelaksnaan pekerjaan badan jalan KA yang dilaksanakan oleh kontraktor Maros-Pangkep. Metode kerja kontraktor menggunakan satu jalan akses, arah kerja menuju ke Km.
besar kemudian di lanjutkan kea rah Km. kecil. Area kerja kontraktor hanya focus dalam satu area sehingga pekerjaan di lokasi laian tidak adapat di kerjaan secara bersamaan. Ada alternatif lain yang memungkinkan produktivitas kerja kontraktor, yaitu dengan membuat jalan akses tambahan sehingga mobilisasi material tanah timbunan lebih lancer dan area kerja lebih banyak.
c. Berdasarkan urutan pelaksnaan pekerjaan struktur box culvert yang dilaksanakan oleh kontraktor paket Maros-Pangkep terdapat beberapa Langkah yang kurang efisien, pengecoran struktur box culert dengan tinggi diatas 2 meter memerlukan sekurang-kurangnya 3 kali proses pengecoran. Pihak kontraktor memilih metode seperti ini dengan alasan agar proses penuangan beton segar memiliki tinggi jatuh kurang dari 2 meter. Hal tersebut sebenarnya kurang efisien, karena semua struktur box culvert dapat dikerjakan hanya dengan 2 kali proses pengecoran dengan catatan harus menggunakan pipa sambungan dari concrete pump dengan diameter pipa 3 inchi sehingga tinggi jatuh penuangan beton segar aman secara teknis. Berdasarkan metode yang digunakan oleh
IV-15
kontraktor pelaksanaan pekerjaan struktur box culvert membutuhkan waktu yang lebih lama karena melalui sekurang-kurangnya 3 kali proses pengecoran.
3. Peralatan Kerja dan Sumber Material yang terbatas
Faktor peralatan kerja dan supply material meruapakan saluh satu faktor yang mempengaruhi produktifitas rendah, Adapun bebrapa permasalahan yang terjadi karena faktor tersebut adalah
a. Pada proyek pembangunan jalur KA lintas Makassar-Parepare antara Maros-Pangkep memiliki item pekerjaan jembatan beton prategang, namun berdasarkan survei vendor yang bisa melaksanakan pekerjaaan stressing dan erection girder jembatan beton hanya terdapat satu vendor yang kompeten sehingga pelaksanaan pekerjaan stressing dan erection tidak dapat dilaksanakan secara bersamaan antara paket satu dan paket yang lainnya sehingga produktivitas pekerjaan jembatan rendah
b. Pada struktur jalan KA terdapat material sub-Balas yang merupakan material pasir sungai dengan kadar lumpur maksimal 5%, supply material sub balas didaerah Pangkep dan Maros masih sangat terbatas sehingga sebagai alternatif material sub balas di supply dari luar daerah yang memiliki jarak tempuh cukup jauh dari lokasi kegiatan proyek, hal ini mengakibatkan produktivitas kontraktor rendah.
IV-16
c. Pada struktur jalan KA terdapat material Balas yang merupakan material batu pecah dengan CBR minimal sebsar 95%, supply material balas di daerah Pangkep dan Maros masih sangat terbatas sehingga sebagai alternatif material balas di supply dari luar daerah yang memiliki jarak tempuh cukup jauh dari lokasi kegiatan proyek, hal ini mengakibatkan produktivitas kontraktor rendah.
4. SDM kontraktor yang kurang
Dalam suatu proyek diperlukan organisasi yang bertujuan mempermudah sistem dan pengelolaan proyek karena proyek merupakan sesuatu yang komplek yang terdiri dari beberapa pihak yang meiliki hak dan kewajiban masing-masing. Pada proyek pembangunan jalur KA lintas Makassar-Parepare segmen 3 rata-rata personil kontraktor terdiri dari Project Manager, Site Manager, tenaga administrasi, tenaga logistic, pelaksana dan keuangan. Seluruh personil memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing yang di kontrol langsung oleh project manager. Berikut struktur organisasi kontraktor pada proyek pembengunan jalur KA segmen 3 di wilayah Kabupaten Pangkep
IV-17
Berdasarkan hasil pengamatan terdapat beberapa kekurangan dalam struktur organisasi tersebut, personil professional yang bertanggung jawab menjaga kualitas sangat kurang. Kekurangan personil tersebut seperti tidak adanya tenaga ahli bidang track, tenaga ahli di bidang struktur dan bangunan sipil, tenaga ahli Quality Control dan tenaga ahli Quantity Surveyor. Dalam proyek semua bidang pekerjaaan teknik hanya di kontrol oleh site manager sehingga kulitas pekerjaan dapat dipastikan tidak maksimal. Akibat dari kekurangan tenaga ahli professional yang bekerja mengakibatkan kondisi pekerjaan dilapangan sering terkendala dan permaslahan-permaslahan yang muncul tidak bisa di selesaikan dengan baik, hal ini mengakibatkan produktifitas kerja yang rendah akibat efisiensi yang tidak maksimal. Jumlah tenaga kerja yang kurang, seperti dalam contoh kasus pekerjaan jembatan berdasarkan AHSP kementrian PUPR tahun 2016 koefisien pekerja pada pekerjaan beton adalah 1.65 dan
IV-18
koefisien mandor adalah 0.083, hal ini berarti dalam pekerjaan beton untuk satu tim yang di kontrol oleh seorang mandor memiliki jumlah 19 tenaga pekerja. Sedangkan praktek di lapangan untuk satu tim pekerjaan beton bertulang rata-rata terdiri dari 10 orang saja termasuk mandor.
Berdasarkan kondisi pada proyek pembangunan jalur KA lintas Makassar- Parepare segmen 3 yang terkendala karena masalah SDM maka saran untuk proyek selanjutnya adalah kontraktor harus menyedeiakan tenaga kerja professional sesuai dengan bidang masing-masing sehingga semua pekerjaan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Berikut ini organisasi dalam proyek jalan KA yang ideal :
IV-19
4.3.2. Faktor keterlamabatan Proyek Maros-Pangkep Berdasarkan Kuisioner
1. Prosedur Pengisian Kuisioner
Dalam penelitian ini penulis melakukan Analisa berdasarkan pengamatan dan kuisioner, kuisiner ini berisikan pernyataan pernyataan yang memuat kondisi yang terjadi di lingkungan proyek Maros-Pangkep.
Responden dalam kuisioner tersebut adalah semua pihak yang terlibat dalam lingkungan proyek Maros-Pangkep seperti Kontraktor, Konsultan dan Satker.
Kuisioner terdiri dari empat variable yang berpengaruh terhadap keterlambatan proyek Maros-Pangkep, variable tersebut meliputi pembebasan lahan,pemilihan metode kerja, alat kerja dan supply material yang terbatas, SDM yang kurang. Pada masing-masing variable diberikan pernyataan-pernyatan yang mendunkung gagasan pada variable tersebut.
Ketentuan pengisisan kuisioner tersebut adalah masing-masing tanggapan responden meiliki nilai berdasarkan ketentuan sebagai berikut :
- Pernyataan Sangat Tidak Setuju (STS) memiliki skors 1 - Pernyataan Tidak Setuju (TS) memiliki skors 2
- Pernyataan Kurang Setuju (KS) memiliki skors 3 - Pernyataan Setuju (S) memiliki skors 4
- Pernyataan Sangat Setuju (SS) memiliki skors 5 Form Kuisioner sperti terlampir di bawah ini :
IV-20
IV-21
Gambar 4. 5 Form isian kuisioner keterklambatan proyek jalur KA Maros-Pangkep
2. Analisa Hasil Pengisian Kuisioner
Kuisioner yang ditujukan kepada 25 responden yang terlibat dalam pelaksanaan proyek pembangunan Jalur KA lintas Makassar-Parepare pada paket pekerjaan Maros-Pangkep yang terdiri dari pihak Satker, Konsultan dan Kontraktor dengan hasil terlampir.
Hasil kuisioner tersebut selanjutnya akan di Analisa menggunakan bantuan software SPSS. Prosedur Analisa menggunakan software SPSS sesuai dengan tahapan sebagai berikut :
a. Mendifinisikan variabel yang berpengaruh terhadap keterlambatan proyek Maros-Pangkep
- pembebasan lahan di definisikan sebagai X1 dan point pernyataan pada variable akan di definisikan sebagai X1.1 dst.
- SDM yang kurang di definisikan sebagai X2 dan point pernyataan pada variable akan di definisikan sebagai X2.1 dst.
IV-22
- alat dan supply material terbatas di definisikan sebagai X3 dan point pernyataan pada variable akan di definisikan sebagai X3.1 dst.
- pemilihan metode kerja di definisikan sebagai X4 dan point pernyataan pada variable akan di definisikan sebagai X4.1 dst.
b. Memberikan point penilaian respondent terhadap masing-masing pernyataan variable sesuai dengan hasil pengisian kuisioner, hasil tersebut sesuai dengan table berikut :
IV-23
3. Analisa Pengelompokan Penilaian Responden
Pengelompokan penilain responden ini dimaksudkan untuk mengetahui masing-masing kuisioner tersebut dengan melihat rata-ratanya, kuisioner tersebut dinilai oleh responden dengan kriteria sangat tinggi/sangat baik, tinggi/baok, cukup/sedang, rendah/buruk, atau sangat rendah/sangat buruk.
Cara yang dilakukan adalah sebagai berikut :
- Angka jawaban responden dimulai dari angka 1 hingga 5, sehingga kategarisasi menggunakan ketentuan rentang (r)= 5.00-1.00 = 4
- Jika menggunakan kriteria 5 kotak ( five box method ) (k) =5 dan didaptkan panjang kelas (interval kelas) (p)=r/k=4/5= 0.8
- Rentang tersebut akan di gunakan sebagai dasar untuk menentukan kategorisasi rata-rata penilaian responden terhadap variable-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, seperti yang ditujukan dalam table berikut
IV-24