• Tidak ada hasil yang ditemukan

1611 Kelompok X ayat 227 Surah asy-Syu'ara (26)

Dalam dokumen Tafsir Al Mishbah Jilid 10 Quraish Shiha (Halaman 167-175)

kalimat indah bersayap di hadapan Nabi saw. ‘Umat Ibn al-Khaththab menegurnya: “W ahai Ibn Rawahah, apakah dalam lingkungan Haram (Ka‘bah dan sekitarnya) dan di hadapan Rasulullah engkau mengucapkan syair?” Rasul saw. bersabda kepada ‘Umar ra.: “Biarkan dia wahai ‘Umar, karena sesungguhnya itu lebih cepat melukai mereka (kaum musyrikin) daripada lemparan panah” (HR. at-Tirmidzi melalui Anas Ibn Malik).

Perlu digarisbawahi bahwa syair yang dibenarkan tidak harus bebas dari kalimat-kalimat yang mengandung imajinasi, atau hanya yang semua kalimatnya serius lagi berisi tuntunan agama dan dzikir. Tidak! Al-Biqa‘i menegaskan bahwa bukanlah syarat bagi dibenarkan syair bahwa ia harus bebas dari canda. Ulama ini menghidangkan dalam tafsirnya sekumpulan dari syair-syair Hasan Ibn Tsabit yang mengandung canda dan dia ucapkan di hadapan Nabi saw. tanpa beliau menegurnya.

Jangan juga menduga bahwa Anda tidak boleh membaca, atau menyampaikan syair-syair atau karya seni non muslim. Tidak! Nabi saw.

pun sering kali meminta untuk diperdengarkan kepada beliau syair-syair non muslim. Suatu ketika beliau bersama asy-Syarid — salah seorang sahabatnya — mengendarai seekor unta. Lalu beliau bertanya kepada Syarid:

Apakah engkau menghapal sesuatu dari syair-syair Umayyah Ibn Abi as- Shalt. Ia menjawab: “Aku menghapal.” Lalu ia mendendangkan satu bait.

Rasul saw. memintanya untuk menambah yang lain. Lalu disampaikannya satu bait lagi. Nabi memerintahkan untuk menyampaikan yang lain, hingga asy-Syarid mendendangkan seratus bait. (HR. Muslim melalui ‘Amr putra asy-Syarid).

Seperti diketahui Umayyah Ibn Abi ash-Shalt bukanlah seorang muslim, tetapi seorang yang memiliki wawasan luas dan ucapan-ucapannya penuh hikmah.

A lh a sil, m en ggu b ah atau m em bacakan sy air-sy a ir bahkan menampilkan seni dalam berbagai bentuk dan sumber, dapat dibenarkan agama selama tidak mengandung kedurhakaan atau mengantar kepada kelengahan akan tanggung jawab. Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia di dorong oleh kecenderungan seniman kepada keindahan. Dorongan itu merupakan naluri manusia. Ia adalah sesuatu yang fitri pada diri manusia. Mustahil bagi Allah yang menciptakan dorongan naluriah itu — mustahil Allah swt. — melarangnya, karena agama yang diturunkan-Nya adalah agama yang sesuai dengan fitrah

Kelompok X ayat 227

Suraf asy-Syu'ara (26)

manusia. Karena itu yang perlu diperliatikan dalam penampilan atau upaya mengekspresikan keindahan adalah sisi dalam manusia, jangan sampai ia kotor atau bejat, sehingga “seni” yang lahir adalah yang kotor dan bejat pula.

Demikian kelompok ayat-ayat ini berbicara tentang al-Qur’an dan membuktikan bahwa kitab suci ini benar-benar bersumber dari Allah swt.

Ia mengandung bukti yang jelas sekaligus peringatan kepada para pembangkang; Demikian bertemu uraian kelompok terakhir ayat-ayatnya dengan kelompok ayat-ayatnya yang pertam a. A khir ayat surah ini menyatakan: Dan orang-orangyang %alim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. Penutup ini merupakan peringatan kepada setiap pendurhaka yang menolak kehadiran al-Qur’an dan menganggapnya syair atau pedukunan. Mereka itulah yang sangat meresahkan Nabi Muhammad saw., sampai-sampai hampir saja beliau wafat karena keprihatinan dan kesedihan akibat penolakan mereka. Demikian sekali lagi bertemu akhir ayat surah ini dengan awalnya, yang menyatakan: Tha’ Sin Mim. Itulah ayat- ayat al-Qur’an yang menjelaskan. Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu, karena mereka bukan orang-orang mukmin. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya, serta amat serasi dan memukau ayat-ayat-Nya dan Maha Benar Rasul saw. dalam semua penyampaiannya, lagi sungguh indah keteladanan dan penampilan beliau. Wa Allah A ‘lam.

Surah an-JVamC

Surah ini terdiri dari 93 ayat,

termasuk golongan surah-surah makkiyyah karena diturunkan di Mekah sebelum Hijrah.

Surah ini dinamakan AN-NAML

yang berarti “Semut”,

yang diambil dari ayat 18 dan 19.

SU RAH A N -N A M L

urah an-Naml adalah salah satu surah Makkiyyah yang semua ayat-ayatnya disepakati turun sebelum Nabi Muhammad saw.

berhijrah ke Madinah. Namanya yang paling populer adalah an- Naml yakni “Semut”. Ada juga yang menamainya surah al-Hud hud. Ini karena kedua binatang itu disebut dalam surah ini. Di samping itu ia dikenal juga dengan nama surah Sulaiman. Boleh jadi karena uraian tentang nabi yang raja itu, diuraikan pada surah ini dengan sedikit lebih rinci dibanding dengan uraian tentang beliau pada surah-surah yang lain.

Thahir Ibn ‘Asyur mengemukakan bahwa yang menonjol dalam surah ini adalah uraian tentang al-Qur’an dan kemukjizatannya sebagaimana diisyaratkan oleh pembuka surah ini yang menggunakan dua huruf yaitu Tba dan Sin. Dalam surah ini diuraikan tentang kerajaan terbesar yang pernah dianugerahkan kepada seorang Nabi yaitu Nabi Sulaiman as. dan diuraikan pula umat bangsa Arab yang terkuat yaitu Tsamud, serta kerajaan Arab yang agung yaitu kerajaan Saba’. Uraian-uraian tersebut — masih menurut Ibn ‘Asyur - memberi isyarat bahwa kenabian Muhammad saw. adalah risalah yang disertai dengan kebijakan memimpin umat, yang disusul dengan kekuasaan dan bahwa melalui syariat Nabi Muhammad saw. akan terbentuk satu kekuasaan yang kuat, sebagaimana terbentuk untuk Bani Isra’il kerajaan yang kuat pada masa kerajaan Nabi Sulaiman as.

Surafi an-!NamC(27)

Thabathaba’i secara singkat berpendapat bahwa tema utama dan tujuan pokok uraian surah ini, adalah peringatan dan berita gembira. Ini menurutnya terlihat dengan jelas pada ayat-ayat yang pertama serta lima ayatnya yang terakhir. Untuk membuktikan kebenaran peringatan dan janji- janji-Nya, surah ini menampilkan sekelumit dari kisah Nabi Musa, Daud dan Sulaiman as., dan ini merupakan contoh berita gembira, serta kisah Nabi Shalih dan Luth as. yang dipaparkan dalam konteks uraian tentang ancaman dan peringatannya. Yang kemudian disusul dengan uraian tentang keesaan Allah dan keniscayaan hari Kiamat.

Sayyid Quthub menegaskan bahwa tema utama surah ini serupa dengan tema utama surah-surah yang turun sebelum hijrah. Yaitu keimanan kepada Allah, pengesaan-Nya, keniscayaan hari Kiamat, serta ganjaran dan balasannya. Demikian juga persoalan wahyu dan gaib bahwa Allah adalah Maha Kuasa lagi Pemberi rezeki yang harus disyukuri. Kisah-kisah yang diuraikan surah ini bertujuan mengukuhkan persoalan-persoalan tersebut.

Namun demikian — masih menurut Sayyid Quthub — penekanan utama pada surah ini adalah tentang ilmu Allah yang mudak, lahir dan batin. Lebih- lebih tentang yang gaib serta ayat-ayat kauniyah yang diungkap-Nya kepada manusia. Ilmu-Nya yang dianugerahkan-Nya kepada Daud dan Sulaiman as., pengajaran-Nya kepada Sulaiman “bahasa burung” dan karena itu dinyatakan pada ayat ke enam bahwa: Sesungguhnya engkau benar-benar dipertemukan dengan al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dan masih banyak lagi ayat lainnya yang berbicara tentang ilmu Allah swt.

Al-Biqa'i yang menjadikan nama surah sebagai petunjuk tentang tema utamanya, berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah uraian tentang al-Qur’an dan betapa kitab suci itu telah cukup untuk menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk. Dia m enjelaskan jalan lebar yang lurus serta membedakannya dengan jalan kesesatan. Sekaligus menjelaskan tentang prinsip-prinsip pokok agama. H al ini dapat terlaksana karena yang m en u ru n k an n ya ad alah D ia Yang M aha M en getah u i segala yang tersembunyi, apalagi yang jelas. Dia yang memberi kabar gembira buat orang- orang mukmin dan peringatan bagi yang kafir. Semua persoalan ini, haruslah berdasarkan pengetahuan yang menyeluruh yang menghasilkan hikmah.

Atas dasar itu, al-Biqa‘i menyimpulkan bahwa tujuan pokok dan tema utama surah ini adalah penonjolan pengetahuan dan hikmah kebijaksanaan Allah swt., sebagaim an a surah sebelum nya m enonjolkan kekuasaan dan

Suraf an-NamC(27)

y p fg

pembalasan-Nya. Pengetahuan tentang, semut, keadaan dan ciri-cirinya, merupakan salah satu yang paling jelas membuktikan tentang hal-hal tersebut. Serangga ini dikenal sangat baik kebijakannya serta memiliki kemampuan luar biasa dalam mengatur kehidupannya, lebih-lebih yang digarisbawahi dalam surah ini menyangkut ketulusannya dalam menetapkan tujuan dan kemampuannya mengekspresikan tujuan itu serta kesesuaiannya dengan kondisi yang mereka hadapi. Demikian al-Biqa‘i. (Penjelasan menyangkut pendapat al-B iqa‘i ini, insya A llah akan terlihat ketika membahas ayat 18-19 surah ini).

Surah ini dari segi urutannya dalam Mushhaf adalah surah yang ke 27, tetapi dari segi perurutan turunnya, ia adalah surah yang ke 48 yang turun sesudah surah asy-Syu‘ara’ dan sebelum surah al-Qashash.

Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 95 ayat menurut perhitungan ulama Madinah dan Mekah, dan sebanyak 94 ayat menurut ulama Bashrah dan Kufah.

‘Thd’ Sin. Itulah ayat-ayat al-Qur’an dan Kitab yang menjelaskan. Petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang mukmin (yaitu) orang-orangyang melaksanakan shalat dan menunaikan %akat dan mereka terhadap akhirat, mereka senantiasa yakin. ”

Akhir ayat-ayat surah yang lalu berbicara tentang al-Qur’an dan menegaskan bahwa kitab suci yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. itu, bersumber dari Allah swt., bukan dari setan. Bukan juga syair gubahan manusia atau atas bantuan jin — sebagaimana tuduhan kaum musyrikin. Nah, di sini, uraian tentang al-Qur’an masih dilanjutkan sambil menjelaskan bahwa di samping ia dibaca melalui hafalan, ia juga ditulis di dalam sebuah kitab. Demikian al-Biqa‘i menghubungkan awal surah ini dengan akhir uraian surah yang lalu.

Surah ini dimulai dengan firman-Nya: Thd’, Sin. Itulah yang sedang engkau baca atau yang terlintas dalam benakmu atau yang kini dan akan turun kepadamu, yang sangat tinggi kedudukannya itulah ayat-ayat al-Qur’an dan ayat-ayat Kitab yang sangat sempurna dan yang menjelaskan segala macam persoalan kebahagiaan hidup manusia, atau itulah dia yang sangat jelas sumbernya yakni dari Allah swt. berdasar mukjizat dan keistimewaan yang dikandungnya. Ayat-ayat itu adalah petunjuk dan berita gembira untuk orang-

170

Dalam dokumen Tafsir Al Mishbah Jilid 10 Quraish Shiha (Halaman 167-175)