• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adab terhadap Air, Sungai, Laut, Tanah, dan Udara

Dalam dokumen Panduan Etika Menuntut Ilmu (Halaman 173-179)

Adab kepada Lingkungan

C. Adab terhadap Air, Sungai, Laut, Tanah, dan Udara

Allah subhanahu wa taala telah menurunkan air dari langit dengan hujan yang kemudian dapat mengairi lahan yang tandus, memberi kehidupan serta berkah bagi manusia, sesuai dengan firman Allah Taala dalam QS. Ibrahim ayat 32 dan QS. Qaf ayat 9-11 berikut ini:

QS. Ibrahim ayat 32

َجَﺮْﺧَﺎَﻓ ًءۤﺎَﻣ ِءۤﺎَﻤ �ﺴﻟا َﻦِﻣ َلَﺰْنَاَو َضْرَ ْﻻاَو ِتٰﻮٰﻤ �ﺴﻟا َﻖَﻠَ� ْيِ ��ا ُ ّٰ�َا َ ْ�ُﻔْﻟا ُ ُﲂَﻟ َﺮ� َﲯَوۚ ْ ُﲂ�ﻟ ﺎًﻗ ْزِر ِتٰﺮَﻤ�ﺜﻟا َﻦِﻣ ٖﻪِﺑ ِﺮْﺤَﺒْﻟا ِﰱ َيِﺮْﺠَﺘِﻟ

َﺮٰ ْﳖَ ْﻻا ُ ُﲂَﻟ َﺮ� َﲯَوۚ ٖﻩِﺮْﻣَ ِ�

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu.”

QS. Qaf ayat 9-11

ِۙﺪْﯿ ِﺼَﺤْﻟا �ﺐَﺣ�و ٍﺖّٰنَﺟ ٖﻪِﺑ ﺎَنْتَﺒْۢﻧَﺎَﻓ ًﰷَ ٰﱪ�ﻣ ًءۤﺎَﻣ ِءۤﺎَﻤ �ﺴﻟا َﻦِﻣ ﺎَﻨْﻟ�ﺰَنَو -

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen.”

ٌۙﺪْﯿ ِﻀ�ﻧ ٌﻊْﻠ َﻃ ﺎَﻬ�ﻟ ٍﺖٰﻘ ِﺴٰ� َﻞْ��ﻨﻟاَو

“Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang

-

bersusun-susun,”

ُج ْو ُﺮُﺨْﻟا َ ِ� ٰﺬَﻛ ۗﺎًﺘْي�ﻣ ًةَ ْ�َﺑ ٖﻪِﺑ ﺎَﻨْﯿَيْﺣَاَو ِۙدﺎَﺒِﻌْﻠِّل ﺎًﻗ ْزِّر

“(sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan

-

dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).”

Berkah dari Allah Taala berupa air ini sudah semestinya digunakan sebaik-baiknya. Air bisa digunakan secara tepat, hemat, dan tidak boros atau berlebihan. Karena sesungguhnya Allah Taala tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, seperti tertulis pada QS.

Al-Maidah ayat 86 berikut:

َﻦ�ِﺪَﺘْﻌُﻤْﻟا �ﺐِ ُﳛ َﻻ َ ّٰ�ا �نِا

“… Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui

-

batas.”

Beberapa hal sederhana berikut bisa kita terapkan untuk menghemat air dalam kehidupan sehari-hari:

a) Segera matikan keran air jika telah selesai digunakan.

Setelah wudu, sikat gigi, atau mencuci piring, sebaiknya segera matikan keran air setelah selesai digunakan.

b) Hindari keran air menetes. Setelah selesai menggunakan keran air, sebaiknya pastikan kita telah menutupnya dengan rapat sehingga tidak ada air yang menetes akibat keran tidak rapat. Jika memang keran tidak bisa ditutup dengan rapat, sebaiknya segera diganti sehingga tidak ada air yang menetes.

c) Tidak mengabaikan pipa air yang bocor. Jika mendapati ada pipa air yang bocor, sebaiknya tidak diabaikan dan segera diperbaiki. Hal ini dimaksudkan biar tidak ada air yang keluar secara mubazir.

d) Hindari mandi berlama-lama. Ketika mandi, sebaiknya menggunakan air secukupnya dan tidak berlama-lama.

Asalkan badan sudah bersih, sebaiknya segera diselesaikan.

Atau jika konteksnya adalah mandi wajib, maka setelah

membasuh seluruh badan dan setelah suci, segera akhiri mandi tanpa perlu berlama-lama di kamar mandi.

e) Tidak mengisi bak mandi hingga meluber. Jika masih ada bak mandi di rumah, pastikan ketika mengisinya ditunggu agar air dari keran tidak berlebihan dan meluber.

f) Hindari mencuci dalam jumlah sedikit. Jika hendak mencuci baju, baiknya tidak setiap hari. Jika memungkinkan, cucilah 3 hari sekali atau seminggu sekali sehingga bisa menghemat air yang digunakan untuk mencuci.

g) Atur jadwal menyiram tanaman dan mencuci kendaraan.

Jika di rumah memelihara beberapa tanaman, jangan lupa untuk rutin menyiramnya dengan membuat jadwal rutin.

Selain tanaman, buatlah juga jadwal mencuci kendaraan pribadi di rumah. Jika kendaraan berupa motor, bisa menggunakan ember untuk menghemat air.

h) Masak air secukupnya. Air yang dimasak untuk keperluan tertentu misal membuat teh, kopi, atau minuman hangat lain sebaiknya air dimasak sesuai dengan porsi yang diperlukan.

i) Adab terhadap sungai dan laut, juga wajib dilakukan oleh manusia dalam rangka menjaga keberadaannya. Tidak sedikit dampak perilaku manusia yang tidak menjaga eksistensi sungai dan lautan dengan pencemaran limbah industri maupun rumah tangga. Untuk itu, kiat-kiat berikut ini dapat mengendalikan perilaku yang tidak beradab menjadi perilaku beradab, yaitu:

1) Tidak membuang sampah di sungai

2) Tidak menimbun tanah atau mempersempit aliran sungai

3) Tidak mencemari sungai dan laut dengan bahan kimia industri maupun rumah tangga.

4) Tidak menangkap ikan di sungai maupun laut dengan bom atau bahan peledak lainnya

5) Menjaga kelestarian ekosistem sungai dan laut 6) Tidak mengeksploitasi air sungai berlebihan

7) Tidak mengeksploitasi harta laut secara berlebihan (ikan, mutiara, terumbu karang, dan sebagainya).

Terkait adab terhadap tanah dan udara, Islam mengajarkan akhlak dengan membuat dan menerapkan hukum pengelolaan lingkungan yang dikenal dengan fiqh al-bi’ah (fiqh lingkungan).

Dalam fiqh al-bi’ah terdapat dua konsep utama yang wajib dilakukan, yaitu ihya’ al-mawat (menghidupkan tanah yang mati) dan hadd al-kifayah (standar kebutuhan yang layak).

Konsep ihya’ al-mawat mengajarkan kepada kita untuk mengelola tanah agar dapat memberikan manfaat, baik dengan menanam, menjaga dan melestarikan atau merapikannya. Meng- hidupkan tanah yang mati berarti mengusahakan agar tanah ter- sebut produktif. Tanah yang subur dan penuh dengan tumbuhan dapat memberi dampak positif bagi manusia. Sebaliknya, tanah yang gersang berpotensi menimbulkan banjir karena tidak memiliki kemampuan menyerap air dan berakibat longsor karena tidak mampu mengikat partikel-partikel tanah.

Konsep hadd al-kifayah mengajarkan kepada kita agar menjaga kelestarian alam secara bijak tanpa melewati batas.

Penambangan pasir, tambang, dan gunung tanpa penjagaan dan pengelolaan yang tepat akan mengakibatkan bencana ekosistem.

Udara juga harus dijaga kelestariannya, dengan tidak mencemarinya dengan polutan asap pabrik/industri besar dan kecil, pembakaran

hutan, atau bahkan pembakaran sampah dalam skala rumah tangga.

Tentunya, ekosistem udara yang baik akan menunjang kesehatan manusia.

Berikut ini adab terhadap tanah dan udara yang secara sederhana dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

a) Berikan kebebasan pada tanah untuk bernafas, hidup, dan bermanfaat. Cara ini mudah dilakukan, yaitu dengan tidak menutup tanah dengan bahan material apapun (aspal, beton, semen, batako, dsb). Bebaskanlah sebagian halaman rumah dengan tanah biasa yang tidak tertutup. Tanami dengan pepohonan, atau fungsikan sebagian tanah/lahan untuk media penyerap air.

b) Tanami dengan aneka tumbuhan agar hijau, asri, dan menyediakan oksigen.

c) Jangan membiarkan tanah/lahan tanpa manfaat. Fungsikan tanah untuk ditanami atau fungsikan tanah sebagai penyerap air (membuat sumur resapan)

d) Menjaga ekosistem udara dengan tidak membakar sampah, lahan, maupun hutan.

e) Merawat kendaraan bermotor (motor ataupun mobil) secara teratur terutama dengan menyervis secara berkala agar emisi gas buang kendaraan bermotor tidak mencemari udara.

f) Menggunakan transportasi umum agar tidak menambah polusi udara dan kemacetan di jalan.

Pengetahuan tentang hadd al-kifayah mengajarkan kita agar membatasi (hadd) menggunakan sumber daya alam sesuai kebutuhan/kecukupan (kifayah). Penggunaan ataupun pemanfaatan secara berlebihan terhadap tanah, air, dan udara akan menimbulkan dampak negatif dan bencana ekologis, sebagaimana firman Allah:

ْﻢُﻬَﻘﯾِﺬُﯿِﻟ ِسﺎ�ﻨﻟا يِﺪْﯾ�أ ْﺖَب َﺴَﻛ ﺎَﻤِﺑ ِﺮْﺤَﺒْﻟاَو ِّ َﱪْﻟا ِﰲ ُدﺎ َﺴَﻔْﻟا َﺮَﻬَﻇ نﻮُﻌِﺟْﺮَ� ْﻢُﻬ�ﻠَﻌَﻟ اﻮُﻠِ َﲻ يِ ��ا َﺾْﻌَﺑ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rûm: 41).

Dalam dokumen Panduan Etika Menuntut Ilmu (Halaman 173-179)

Dokumen terkait