• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama-agama dalam Dialog dengan Sains

dermawan dan merebut kekuasaan yang nyata, merasa diri berwenang untuk mengabaikan aturan-aturan tertentu, sampai menimbulkan berbagai bentuk kejahatan terorganisasi, perdagangan manusia, perdagangan narkoba, dan kekerasan, yang sangat sulit diberantas. Jika politik tidak mampu mendobrak cara berpikir yang sesat itu, dan tetap terjebak dalam wacana yang tidak konsisten, kita akan terus tidak menanggapi masalah-masalah utama umat manusia.

Sebuah strategi perubahan yang nyata memerlukan pemikiran ulang seluruh proses, karena tidak cukup untuk memasukkan beberapa pertimbangan ekologis yang dangkal sementara kita tidak mempertanyakan cara berpikir yang mendasari budaya saat ini. Sebuah politik yang sehat harus mampu menerima tantangan ini.

198. Politik dan ekonomi cenderung saling mempersalahkan atas kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup. Tapi diharapkan masing-masing akan mengakui kesalahannya sendiri dan menemukan bentuk-bentuk interaksi yang ditujukan demi kesejahteraan umum. Sementara yang satu terobsesi dengan keuntungan ekonomi belaka dan yang lain hanya terobsesi untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuasaannya, apa yang tertinggal bagi kita adalah konflik- konflik, atau kesepakatan-kesepakatan palsu, karena kedua kelompok itu memang kurang berminat untuk melestarikan lingkungan hidup dan melindungi yang terlemah. Di sini pun berlaku prinsip bahwa “persatuan lebih unggul daripada pertentangan.”140

yang ditetapkan oleh metodologinya sendiri. Jika kita berpikir dalam ruang terbatas ilmu empiris itu, hilanglah rasa estetika, puisi, dan bahkan kemampuan akal budi untuk memahami makna dan tujuan segala sesuatu.141 Saya ingin mengingatkan bahwa “naskah-naskah keagamaan klasik dapat memberikan makna bagi segala zaman; memiliki kekuatan menggerakkan yang selalu membuka cakrawala baru [...] Apakah masuk akal dan dapat dimengerti mengesampingkan tulisan-tulisan tertentu semata-mata karena berasal dari konteks keyakinan agama?”142 Sesungguhnya, adalah naif untuk berpikir bahwa prinsip- prinsip etika dapat disajikan dengan cara yang murni abstrak, terlepas dari konteks apa pun. Fakta bahwa prinsip- prinsip itu telah muncul dalam bahasa agama, sama sekali tidak mengurangi nilainya dalam debat publik. Prinsip- prinsip etika yang dapat ditangkap akal budi, selalu dapat muncul kembali dengan cara yang berbeda dan dinyatakan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa agama.

200. Di sisi lain, seluruh solusi teknis apa pun yang diklaim oleh sains, tidak akan mampu memecahkan masalah-masalah serius dunia jika umat manusia kehilangan kompasnya, jika kita melupakan motivasi utama yang memungkinkan kita

141 Bdk. Ensiklik. Lumen Fidei (29 Juni 2013), no 34: AAS 105 (2013), 577; Terang Iman, Jakarta: DokPen KWI, hlm. 32: "Juga terang iman yang berpadu dengan kebenaran kasih, tidaklah berada di luar dunia materiil, sebab kasih senantiasa hidup dalam tubuh dan roh; terang iman adalah terang terjelma, yang memancar dari hidup Yesus yang cemerlang. Terang iman juga menerangi dunia materiil, mempercayai tatanan yang melekat padanya, serta memahami bahwa terang iman itu memanggil kita pada suatu jalan yang senantiasa meluas dalam harmoni dan pengertian. Pandangan ilmu pengetahuan mendapatkan manfaat pula dari iman:

iman mendorong para ilmuwan agar tetap senantiasa terbuka pada realitas dalam segala kekayaannya yang tak terbatas. Iman menumbuhkan kepekaan kritis dengan menghindari penelitian yang hanya cukup puas dengan formulasinya belaka, serta membantunya untuk menyadari bahwa alam senantiasa lebih besar.

Dengan membangkitkan kekaguman di hadapan kedalaman misteri ciptaan, iman memperluas cakrawala akal budi agar memancarkan terang yang lebih besar pada dunia, yang membuka dirinya pada telaah ilmiah”.

142 Seruan Apostolik. Evangelii Gaudium (24 November 2013), no 256 : AAS 105 (2013), 1123; Sukacita Injil, Jakarta: DokPen KWI, 2014, hlm. 140.

untuk hidup bersama, berkorban, berbuat baik. Bagaimana pun juga, orang-orang beriman harus diminta untuk konsisten dengan iman mereka sendiri dan tidak menyangkalnya dengan tindakan mereka. Mereka harus didesak agar lebih membuka diri lagi terhadap kasih karunia Allah dan menimba lebih dalam dari keyakinan pribadi mereka sendiri tentang cinta, keadilan dan perdamaian. Jika pemahaman keliru akan prinsip-prinsip kita sendiri kadang- kadang menyebabkan kita membenarkan perusakan alam, atau tindakan sewenang-wenang manusia atas dunia ciptaan, atau peperangan, ketidakadilan, dan kekerasan, sebagai orang beriman kita harus mengakui bahwa dengan demikian kita telah tidak setia terhadap khazanah kebijaksanaan yang harus kita jaga. Keterbatasan budaya di pelbagai zaman sering mempengaruhi persepsi akan warisan etis dan spiritual ini, namun dengan terus-menerus kembali ke sumber-sumbernya, agama-agama akan mampu untuk menanggapi pelbagai kebutuhan saat ini dengan lebih baik.

201. Mayoritas penduduk planet ini menyatakan dirinya sebagai orang beriman; hal ini harus mendorong agama-agama untuk masuk ke dalam dialog dengan maksud untuk melindungi alam, membela orang miskin, dan membangun jaringan persaudaraan yang saling menghormati. Sebuah dialog di antara pelbagai ilmu sendiri juga diperlukan karena masing- masing cenderung menutup diri dalam batas-batas bahasanya sendiri, dan spesialisasi mengarah ke isolasi dan pemutlakan bidang pengetahuannya sendiri. Hal ini menjadi halangan untuk secara efisien menghadapi masalah lingkungan hidup. Dialog yang terbuka dan saling menghormati juga diperlukan di antara pelbagai gerakan ekologis, di mana konflik ideologis tidak jarang dijumpai.

Parahnya krisis ekologi mengharuskan kita semua untuk memikirkan kesejahteraan umum dan bergerak maju di jalan dialog yang membutuhkan kesabaran, disiplin diri, dan

kemurahan hati, dengan selalu mengingat bahwa “kenyataan lebih besar daripada gagasan.”.143

BAB ENAM

PENDIDIKAN DAN SPIRITUALITAS EKOLOGIS 202. Banyak hal yang harus diarahkan kembali, tapi terutama

umat manusia harus berubah. Yang dibutuhkan ialah kesadaran akan asal kita bersama, akan hal saling memiliki, dan akan suatu masa depan untuk dibagi dengan semua.

Kesadaran mendasar ini akan memungkinkan pengembangan keyakinan, sikap, dan bentuk kehidupan yang baru. Jadi, kita berhadapan dengan suatu tantangan budaya, spiritual dan pendidikan yang besar, yang akan meminta proses-proses pembaruan yang panjang.