• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGAMA DAN FUNDAMENTALISME

BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN

G. ISLAM DALAM PANDANGAN BARAT

3. AGAMA DAN FUNDAMENTALISME

Dua keluarga yang terpisah masing-masing di belahan bumi barat dan satu lagi di belahan bumi timurdapatlangsung berbicara sambil bertatap m uka dengan memerlukan waktu tersambung hanya setengah menit saja. Di mana kejadian seperti ini memang masih mustahil dizaman Rasulullah.

secara bersamaan dipergunakan pula Oleh karangan Barat, padahal keduanya mempunyai pengertian yang berbeda dalam melihat istilah yang sama itu. Hal ini banyak menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan dalam kehidupan budaya, politik, dan media massa kontemporer yang padanya perangkat-perangkat

komunikasi mencampuradukkan berbagai istilah yang banyak, yang sama istilahnya, namun berbeda-beda pengertian, latar belakang, dan pengaruhnya.156

Sejarawan Amerika Ira Lapidus memandang Islam fundamentalis seperti yang disampaikannya "Islamic fundamentalism "an umbrella designation for a very wide variety of movements, some intolerant and exclusivist, some pluralistic; some favourable to science, some anti- scientific; some primarily devotional and some primarily political; some democratic, some authoritarian; "me pacific, some violent He distinguishes between mainstream Islamists and Fundamentalists, saying a fundamentalist is "a political individual" in search of a "more original Islam," while the Islamist is pursuing a political agenda".157

Mereka dianggap bermasalah, bagi mereka yang menganggap kepercayaan Islam menghendaki semua kaumnya menjadi fundamentalis seperti paham yang mereka anut.158 Pada bagian lain Bernard Lewis mengatakan bahwa berbeda antara Kristen fundamentalis dengan Islam fundamentalis. Islam beliau pandang lebih modernis dan masih terikat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an yang memang tidak mengajarkan umatnya untuk secara sempit mengartikan isi Al-Qur'an.

"Fundamentalist" is a Christian term. It seems to have come into use in the early years of last century, and denotes certain Protestant churches

156 Primamorista, A (1999). Meluruskan kerancuan Istilah "Fundamentalisme

Islam.Media Homepage, Jakarta. 17 Juli, 1999.

157 Lapidus. I and Burke, E. (1988). Islam, Politics and Social Movements,

(eds). University of California at Berkeley. Bottom of Form

158 Lewis, B. (1993). Islam and the West, New York: Oxford University Press,

and organizations, more particularly those that maintain the literal divine origin and inerrancy of the Bible. In this they oppose the liberal and modernist theologians, who tend to a more critical, historical view of Scripture. Among Muslim theologians there is as yet no such liberal or modernist approach to the Qur'an, and all Muslims, in their attitude to the text ofthe Qur'an, are in principle at leastfundamentalists. Where the so-called Muslimfundamentalists differfrom other Muslims and indeedfrom Christianfundamentalists is in their scholasticism and their legalism. They base themselves not only on the Qur'an, but also on the Traditions ofthe Prophet, and on the corpus oftransmitted theological and legal learning.159

Sedangkan kelompok lain melihatnya sebagai istilah yang digunakan orang luar untuk memberikan aliran yang dianut oleh suatu kelompok dalam Islam.160 Sebagai contoh tokoh fundamentalisme Islam yang juga disebut sebagai penganut Islam adalah Sayyid Qutb dan Abul Ala Mawdudi.161 Beberapa kalangan tidak setuju dengan istilah ini. Ahli ekonomi Eli Berman dan tokoh dunia Joey Kettel mengatakan bahwa Islam radikal adalah nama yang lebih tepat bagi banyak gerakan pasca- 1920-an bermula daripada Ikhwanul Muslimun, kerana gerakan-gerakan ini dilihat mengamalkan "paham yang berlebihan yang sebenarnya tidak pernah terjadi semenjak Islam Iahir di muka bumi ini. Hanya saja mereka mengganggap paham yang mereka anut itu pernah diamalkan sebagaimana yang mereka pahami tersebut.162

159 ibid

160 Hadar, L. T. (1992). Policy Analysis,The Green Peril': Creating the Islamic

Fundamentalist Threat,", Cato Institute, 27 Ogos 1992.

161 Esposito. J. L. (1983). Voice of Resurgent Islam. (editor). Oxford University

Press. Inc. ISBN. 0-9-50333-6

162 Berman. E. (2005). Hamas, Taliban and the Jewish Underground: An

Economist's View of Radical Religious Militias, UC San Diego National Bureau of Economic Research. Aust, 2005.

Kejadian demi kejadian yang terjadi di berbagai belahan bumi yang ditimbulkan kaum fundamentalis cenderung anarkis dan pemaksaan, dan bahkan tak jarang bersifat anarkis. Dalam Islam dalam "kelompok kecil"

memang ada dikenal kaum fundamentalis yang ortodoks yang cenderung memaksakan kehendak dan dogma agama kepada satu kelompok yang mereka anggap dapat dikontrol. Seharusnya masyarakat dunia dapat membedakan bahwa kaum fundamentalis ada pada paham nanapun termasuk dalam agama mana pun di dunia. Tetapi umat Islam bukan semuanya kaum fundamentalis. Inilah yang kadang-kadang menimbulkan persepsi yang salah terhadap Islam bagi mereka yang berpandangan sempit. Mereka yang berpandangan sempit terhadap Islam, melihat bahwa kejadian teroris selalu diidentikkan dengan Islam.

Segera sesudah destruksi Gedung World Trade Center (WTC) di New York pada tanggal I I September 2001, para intelektual dan pemimpin politik tampaknya menjadi kian skeptis saja bahwa fundamentalisme religius dapat menjadi respons yang masuk akal terhadap banyak hal.

Namun demikian, ada satu jalur pemikiran fundamentalis monoteistikyang memberikan perimbangan bagi deformasi khusus sains sekular yang dijelaskan dalam dua bagian uraian di depan.163 Dengan adanya kaum fundamentalis Islam tertentu yang bertanggung jawab atas tindakan teror melawan dunia sekuler sejak 11 September 2001, perhatian terhadap agama-agama monoteistik kian relevan bagi argumen para ilmuwan. Sebagai kontras, dianggap apa yang disebut sebagai fundamentalisme Hindu adalah sebuah pandangan politik spesifik berdasarkan atas satu Citra kemurnian identitas nasional India.

Pandangan di sini adalah bahwa pembedaan antara apa yang bisa disebut sebagai respons fundamentalis dan liberal terhadap tata dunia ilmiah kontemporer secara kasar berkaitan dengan apa yang semula disebut orientasi "antropik" dan "karma" dalam sains dan agama. Tanpa elaborasi yang lebih jauh atas analogi tersebut, mengasosiasikan

163 Armstrong, K. (2010). The Battle for God: Fundamentalism in Judaism,

Christianity and Islam. London: Harpercollins.

fundamentalisme dengan perspektif antropik dan liberalisme dengan perspektif karmik merupakan sesuatu yang jarang dilakukan.164

Sebuah kenyataan kaum fundamentalis memilih jalan bom bunuh diri etuk menyelesaikan masalah dengan cepat atau membuat perhatian yang progresif, sementara kaum liberal secara jelas sangat menghindari jalan yang mempertaruhkan jiwa manusia dalam rangkaian tindak balasan. Lum fundamentalis menentang perluasan hhk-hak asasi manusia untuk mencakup kaum perempuan, menyiksa orang-orang yang memburu gaya yang menyimpang, dan membendung pengembangan sains dan teknologi ærta hal-hal yang justru diperjuangkan dan dijunjung tinggi dalam masyarakat.

Kenyataan kaum fundamentalis memang lebih mudah mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya. Upaya yang mereka lakukan untuk mendesak agar kebangkitan fundamentalisme ditafsirkan sebagai semacam peringatan bagi kaum liberal atas bahaya jangka panjang dari usaha-usaha yang benar tapi dengan alasan-alasan yang keliru, atau malah melulu melupakan alasan-alasan yang benar bagi upaya-upaya yang benar.165

164 Fuller, S. (2002d). "Will sociology find some new concepts before the US

finds Osama bin Laden?" Sociological Research On-Line 6, 4, http://www.

socresonkne.org.uk/6/4/full.er.html

165 ibid

H. REKAYASA GENETIKA DALAM PANDANGAN