BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
2.3 Material Penyusun Beton Normal
2.3.2 Agregat
Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran beton dan mortar. Agregat menempati sebanyak kurang lebih 70% dari volume beton atau mortar. Oleh karena itu sifat-sifat agregat sangan mempengaruhi sifat-sifat beton yang dihasilkan. Agregat adalah sekumpulan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir, atau mineral lainnya baik berupa hasil alam maupun buatan (SNI No 1737-1989-F).
a. Agregat halus
Menurut Antono (1995), pasir sebagai agregat halus merupakan bahan batuan berukuran kecil, ukuran butirnya ≤ 5 mm. pasir dapat berupa pasir alam, sebagai hasil disintegrasi alam dari batuan- batuan,atau berupa pasir pecahan batu.
II-8
Menurut Nugraha dan Antoni (2007) agregat halus yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. bersifat kekal (tidak mudah pecah dan hancur) untuk ketahanan terhadap perubahan lingkungan (panas, dingin),
2. tidak mengandung lumpur lebih dari 5% (bagian yang lolos ayakan 0,063 mm). apabila kadar lumpur melampui 5%, maka harus dicuci,
3. tidak mengandung bahan-bahan organik karena dapat bereaksi dengan senyawa dari semen portland, tidak mengandung pasir laut karena mengakibatkan korosi pada tulangan.
Gambar 2.1 Agregat Halus
Agregat halus merupakan pasir alam sebagai hasil disintegrasi
„alami‟ batuan atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm. (SK SNI 03-2847-2002).
II-9 b. Agregat kasar
Menurut Tjokrodimuljo (1992) agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortal atau beton.
Agregat ini kira- kira menempati sebanyak 70% volume mortal atau beton.
Walaupun hanya sebagai bahan pengisi, akan tetapi agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat mortal atau betonnya, sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan mortal atau beton.
Dalam praktek agregat umumnya digolongkan menjadi 3 kelompok (Tjokrodimuljo, 1992):
1. Batu,untuk besar butiran lebih dari 40 mm.
2. Kerikil untuk butiran 5 mm dan 40 mm.
3. Pasir untuk butiran antara 0,15 mm dan 5 mm.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh agregat kasar menurut spesifikasi bahan bangunan bagian A (SK SNI S-04-1989-F) adalah sebagai berikut:
1. butir keras dan tidak berpori.
2. jumlah butir pipih dan panjang dapat dipakai jika kurang dari 20%
berat keseluruhan.
3. bersifat kekal.
4. tidak mengandung zat-zat alkali.
II-10 5. kandungan lumpur kurang dari 1%.
6. ukuran butir beraneka ragam.
Gambar 2.2 Batu Pecah 2.3.3 Air
Air diperlukan dalam campuran beton untuk bereaksi dengan semen, serta menjadi pelumas antara butir-butir agregat agar dapat mudah dikerjakan dan dipadatkan. Untuk bereaksi dengan semen, air yang diperlukan hanya sekitar 30% berat semen (Tjokrodimulyo, 1992).
Menurut Tjokrodimuljo (1992) dalam pemakaian air untuk beton sebaiknya air memenuhi syarat sebagai berikut:
1. tidak mengandung lumpur (benda melayang lainya) lebih dari 2 gram/liter.
2. tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik, dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter,
3. tidak mengandung khlorida (CI) lebih dari 0,5 gram/liter 4. tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter.
II-11 2.3.4 Cangkang Kemiri
Cangkang kemiri merupakan suatu potensi baru yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan lebih besar lagi. Tentu saja ini dapat meningkatkan nilai ekonomis cangkang kemiri yang selama ini hanya dikenal sebagai bahan buangan dari buah kemiri. Pemanfaatan limbah cangkang kemiri masih belum optimal, namun pada kenyataannya potensial dari cangkang kemiri dapat dimanfaatkan lebih besar lagi.
Adapun komposisi cangkang kemiri yaitu CaO, SiO2, Al2O3, MgO, H2O, Fe2O3. Saat semua bereaksi, akan ada sisa SiO2 yang belum bereaksi akan membentuk reaksi silika turunan dengan gel CSH-2 menghasilkan gel CSH-3 yang lebih padat, sehingga akan meningkatkan pasta semen dan agregat (Goldberd H.D Sinaga,2013). Berdasarkan penjelasan di atas, sangat cocok apabila cangkang kemiri yang selama ini sebagai limbah yang tidak terpakai dapat digunakan sebagai bahan subtitusi pada campuran beton. Penggunaan cangkang kemiri ini dapat diperlakukan sebagai pengganti agregat kasar ataupun halus tergantung pada besar butiran cangkang kemiri yang digunakan, cangkang kemiri memiliki tekstur yang keras dan jika dipecah berbentuk menyudut, kemungkinan dapat digunakan sebagai bahan tambah campuran beton, karena dapat mengisi rongga-rongga pada beton, sehingga akan membuat beton menjadi lebih padat. Keuntungan menggunakan cangkang kemiri akan membuat beton jadi ringan. Semakin banyak cangkang kemiri yang digunakan pada beton maka akan dihasilkan beton dengan berat jenis yang lebih kecil. Namun
II-12
kuat tekan beton yang diperoleh tentunya akan lebih rendah dan hal tersebut harus disesuaikan dengan kegunaanya.
Gambar 2.3 Cangkang Kemiri 2.3 Bahan Tambah
Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton atau mortar (air, semen, dan agregat) yang ditambahkan saat pengadukan dan atau saat pelaksanaan pengecoran (placing). Sedangkan bahan tambah addivtif ditambahkan saat pengadukan dilaksanakan. Tujuannya ialah untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat beton sewaktu pengerasan, menambah encer adukan, menambah kuat tekan, menambah daktilitas (mengurangi sifat getas), mengurangi retak-retak pengerasan, dan sebagainya.
Bahan tambah kimia yang banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja beton mutu tinggi umumnya bersifat memperbaiki kelecakan.
Bahan tambah ini dikelompokan ke dalam high range water reducing admixture. Water reducing admixture adalah bahan tambah yang
II-13
mengurangi air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton atau mortar dengan konsistensi tertentu.
Bahan tambah kimia (Chemical Adimixture) ada bermacam-macam.
Menurut ASTM, bahan tambah kimia itu terbagi menjadi:
1. Tipe A adalah suatu bahan tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran untuk menghasilkan beton sesuai dengan konsistensi yang ditetapkan.
2. Tipe B adalah suatu bahan tambahan yang digunakan untuk memperlambat waktu pengikatan beton.
3. Tipe C adalah suatu bahan tambahan yang digunakan untuk mempercepat waktu pengikatan dan menambah kekuatan awal beton.
4. Tipe D adalah suatu bahan tambahan yang digunakan untuk mengurangi campuran untuk menghasilkan beton sesuai dengan konsistensi yang ditetapkan dan juga untuk memperlambat waktu pengikatan beton.
5. Tipe E adalah suatu bahan tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran untuk menghasilkan beton sesuai dengan konsistensi yang telah diterapkan dan juga untuk mempercepat waktu pengikatan serta menambah kekuatan awal beton.
6. Tipe F adalah suatu bahan tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sebesar 12% atau lebih, untuk
II-14
menghasilkan beton sesuai dengan konsistensi yang telah diterapkan.
7. Tipe G adalah suatu bahan tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sebesar 12% atau lebih, untuk menghasilkan beton sesuai dengan konsistensi yang telah ditetapkan dan juga untuk memperlambat waktu pengikatan beton.